Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Friday, May 8, 2020

Minggu Paskah V th. A-10 Mei 2020 (Yoh 14:1-12)

diambil dari https://unio-indonesia.org/2020/05/06; ilustrasi dari koleksi Blog Domus


Rekan-rekan yang baik!
Seperti tertulis dalam Yoh 14:1-12 (Injil Minggu Paskah V tahun A), Yesus menghibur para murid, “Janganlah gelisah hatimu…!” (ay. 1). Tidak selalu mudah mengerti arah perkataan ini. Beberapa kali Yesus diceritakan dalam Injil Yohanes mengalami perasaan gundah. Perasaannya campur aduk ketika melihat Maria menangisi kematian Lazarus (11:33), ia gelisah ketika menyadari bakal mengalami kematian di salib (12:27), dan dengan berat hati ia menyebutkan bahwa salah satu di antara mereka akan berkhianat (13:21). Mengapa kini ia menghibur murid-muridnya?

PERLINDUNGAN
Di dalam kesadaran orang pada zaman itu, pengalaman paling menyeramkan ialah merasa “tertinggal” di luar, tak ada yang mengurus. Dalam keadaan ini orang merasa seperti berada di luar pintu kota pada malam hari, sewaktu-waktu bisa dimangsa oleh penyamun dan serigala. Dengan latar inilah Injil Yohanes berbicara mengenai tempat yang paling memberi rasa aman. Tempat itu ialah kediaman Bapa sendiri. Di situ Yang Maha Tinggi berkuasa. Tak ada yang dapat mengganggu gugat mereka yang berdiam di dekatnya.

Dikatakan dalam Yoh 14:2 bahwa di sana ada banyak “tempat tinggal”. Ini cara untuk mengatakan bahwa siapa saja boleh dan bisa menemukan ketenteraman dan perlindungan di dekat Yang Mahakuasa. Tidak lagi akan ada yang bakal merasa ditinggalkan. Tidak usah berebut dan waswas bakal tidak mendapat tempat…. Yesus datang memberitahukan hal itu. Seperti ditegaskannya dalam ay. 2, dia sendiri akan menyiapkan tempat itu, dan bila sudah selesai, ia akan kembali dan membawa murid-murid ke tempat yang aman itu tadi. Dan mereka takkan berpisah lagi dengannya. Murid-murid dikuatkan agar mantap hatinya. Itulah arti ajakan untuk mempercayai Bapa dan mempercayai Yesus dalam ay. 1.

JALAN, KEBENARAN, DAN KEHIDUPAN
Yesus memperhatikan keadaan murid-muridnya. Ia dapat dibayangkan sebagai “gembala yang baik”. Ia juga berlaku sebagai “pintu”. Begitulah petikan yang dibicarakan bagi Injil hari Minggu lalu. Kali ini ada kiasan lain untuk memperkenalkan siapa Yesus itu. Dipakai gagasan “jalan”. Jalan ialah arah yang perlu dilalui, ditempuh agar sampai ke tujuan. Ada tumpang-tindih dengan kiasan “pintu”. Kedua-duanya perlu dilalui agar sampai ke tujuan. Pintu titik awal dan di luar itu ada jalan yang perlu ditempuh. Di luar pintu banyak bahaya. Pada jalan yang benar ada jaminan akan sampai ke tujuan. Jalan yang sejati itu bukan barang yang berhenti, yang tinggal diam, melainkan jalan yang betul-betul bisa membawa ke tujuan. Jalan itu jalan yang hidup.

Tiga kiasan, yakni “jalan”, “kebenaran”, “hidup”, diterapkan pada diri Yesus yang telah berjanji akan datang kembali untuk membawa murid-murid ke tempat mereka nanti dapat sungguh-sungguh berbagi kehidupan dengan Yang Mahakuasa sendiri. Ketiga kiasan itu ditampilkan untuk menjawab Tomas yang mengeluh bahwa murid-murid tidak tahu ke mana Yesus pergi (ay. 5). Murid-murid memang belum melihat jelas arah yang sedang dijalani Yesus. Bagaimana murid-murid bisa terus mengikutinya bila arah yang ditempuh Yesus tidak jelas bagi mereka? Itulah pertanyaan para pengikut Yesus, juga hingga hari ini.

Keinginan mencapai hidup abadi dan bahagia memang menjadi dasar kehidupan ini. Namun demikian, sering jalan ke sana tidak pasti. Oleh karena itu banyak macam usaha. Dan “agama” ialah upaya menjawab kebutuhan akan jalan yang pasti itu. Dalam menjalani agama, orang yang percaya semakin mendekat kepada yang dituju. Perlahan-lahan orang terbawa ke sana. Dan nanti pada satu saat akan tercapai. Jadi tujuan menjadi makin nyata justru dalam berupaya menempuh jalan itu sendiri. Tujuan yang dimaksud bukanlah tempat yang ada di “sana”, hanya tinggal diarah saja. Sebenarnya dapat dikatakan, tujuan itu sendiri makin ke-“sini”. Inilah kiranya yang hendak diajarkan Yesus kepada Tomas.

FILIPUS DAN KENDALA KEPERCAYAAN
Dalam Yoh 14:9-14 ada penjelasan bagi Filipus yang mohon agar Yesus “menunjukkan Bapa”. Seperti kebanyakan murid lain dan para pengikut Yesus sepanjang zaman, Filipus berharap bisa melihat dengan mata kepala sendiri tujuan yang mau dicapai tadi. Orang ingin mendapat pengalaman yang membuat tunduk dan mantap percaya. Inilah yang dimaksud Filipus ketika berkata, “itu sudah cukup bagi kami”. Tapi ada kendala yang mengganjal.

Boleh dikata, agar percaya dibutuhkan kemantapan. Ini kendala yang bisa mengurung orang dalam lingkaran setan. Pemecahan yang terpikir biasanya seperti diusulkan Filipus tadi: biarkan kami melihat Bapa, dan kami akan mudah percaya. Tapi Filipus tidak sadar bahwa bila sudah melihat Bapa maka “percaya” sebetulnya tidak ada banyak artinya lagi. Justru percaya itu hidup dengan sisi-sisi yang tidak pasti bagi yang bersangkutan. Menerima ketidakpastian itu dengan ikhlas, membuat orang menjadi “percaya”.

Jawaban bagi kendala yang dialami Filipus tadi diberikan dalam ay. 9-14. Dikatakan, hendaknya cara berpikir seperti Filipus tadi tidak dijadikan cara untuk sampai kepada sikap percaya. Akan macet dan akan menuai kekecewaan. Malah orang akan kehilangan pegangan satu-satunya yang sudah ada, yakni Yesus sendiri yang akan membawa murid-murid kepada Bapa dan membawakan Bapa kepada mereka! Dia itu kan “jalan”, ia itu kan “kebenaran”, dan ia “hidup”! Pembaca yang jeli akan menangkap gema kata-kata Yesus kepada Tomas sebelumnya.

Uraian kepada Filipus itu bukan semata-mata ajaran di seputar kesatuan antara Yesus dan Bapanya, melainkan jawaban bagi masalah kepercayaan yang paling dalam dan paling sulit. Pada dasarnya jawaban itu seperti berikut. Bila mau percaya, hendaklah mulai dengan menjauhi kepercayaan yang dibuat sendiri, seperti halnya keinginan untuk melihat Tuhan dan menggapai-Nya! Ini gagasan semu dan akan membuat orang menangkap kekosongan. Tak bakal sampai. Mulailah dengan yang sudah ada di dekat tetapi yang bukan hasil buatan dan idam-idaman sendiri. Itulah kehadiran Yesus dalam hidup murid-murid. Kehadiran ini membukakan macam-macam dimensi dalam hidup ini. Dia itulah yang membuat tujuan yang rasanya mengawang tadi menjadi dekat, menjadi bagian dalam hidup. Yang juga muncul dalam keseharian.

PEKERJAAN-PEKERJAAN BESAR?
Ay. 12 menyebutkan bahwa siapa yang percaya kepada Yesus akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukannya, bahkan yang lebih besar daripada itu. Yang dimaksud bukanlah mengerjakan mukjizat, penyembuhan, membuat tanda-tanda yang membuat orang takluk. Dengan “pekerjaan-pekerjaan” di situ dimaksud hidup pribadi yang dapat mempersaksikan kepercayaan kepada Bapa yang hadir di dalam Yesus itu. Praktisnya, hidup mengGereja, hidup sebagai kumpulan orang yang percaya, yang merasa terpanggil untuk meluangkan tempat bagi kenyataan ilahi di dalam hidup ini dan mengakuinya di hadapan orang banyak. Itulah Gereja dalam arti yang paling apa adanya.

Gereja dapat melakukan hal-hal yang tak terpikirkan dan tak terbayangkan sebelumnya, yakni membawakan keilahian ke dunia ini. Keprihatinan utama bukan lagi untuk menggapai dan mencapai Yang Ilahi yang di “sana”, melainkan membawakanNya ke “sini”. Itulah yang dimaksud dengan “pekerjaaan-pekerjaan besar”. Dan hingga hari ini Gereja tetap dipanggil untuk menjalankan pekerjaan-pekerjaan besar ini.
KOMITMEN SOSIAL GEREJA DAN KEHADIRAN SABDA
Dalam bacaan pertama (Kis 6:1-7) dikisahkan bagaimana komunitas para pengikut Yesus mulai berkembang. Dengan jumlah yang besar maka keragaman serta perbedaan kebutuhan makin terasa. Dan inilah yang terjadi. Ada sebagian yang merasa kurang mendapat perhatian para pemimpin yang karena keterbatasan manusiawi tidak begitu melihat kebutuhan mereka. Jalan keluarnya menarik. Dua cara ditempuh sekaligus. Yang pertama ialah mengatur, mengorganisir, membuat manajemen yang memadai kebutuhan. Kini tidak lagi pemimpin mengurus segala-galanya melainkan dibantu ketujuh diakon umat, yakni orang-orang yang  bertugas melayani anggota yang kurang terjangkau. Yang kedua, ialah mengusahakan agar para rasul, para pemimpin, lebih memusatkan perhatian pada doa dan pelayanan sabda., semakin merohanikan peran mereka. Begitulah dua cara ini, manajemen yang memadai dan pemantapan peran kerohanian para pemimpin berangsur-angsur memberi bentuk pada komunitas gerejawi yang semakin bertumbuh itu. Inilah sebabnya mengapa sejak awal gereja hingga kini ditandai dengan komitmen sosial yang penuh tetapi sekaligus juga menjadi penghadir kenyataan Sabda. Keduanya bahkan menjadi ukuran ketepercayaan gereja. Bila hanya ada salah satu maka sulit dikatakan gereja sungguh memungkinkan komunitas para pengikut Kristus hidup dan berkembang seperti dikehendakinya, yakni menghadirkan kemurahan Yang Maha Kuasa dan sekaligus mempercayai dia yang amat dekat dengan Yang Maha Kuasa yang diperkenalkannya sebagai Bapa.
MENEMUKAN JALAN YANG BENAR DAN YANG HIDUP
Di zaman kita ini makin tumbuh kesadaran bahwa ada pelbagai jalan yang mengarah ke tujuan yang sama. Lalu apakah praktisnya bisa dikatakan “banyak agama, tujuan sama”? Luruskah amatan ini? Pluralitas kepercayaan menjadi titik tolak? Perkara sensitif. Dan makin peka bila berkaitan dengan ajaran agama. Tetapi sering kita terpaksa mengakui seperti Tomas tidak tahu mana arah yang sesungguhnya. Syukurlah Tomas, dan siapa saya yang seperti Tomas, diajak melihat bahwa ada jalan, ada kebenaran, dan ada yang membawakan kehidupan.
Tersirat adanya pembedaan antara “jalan, kebenaran, dan hidup” dengan mereka yang menempuhnya. Orang-orang yang menempuh jalan mau tak mau akhirnya akan menemukan jalan yang satu-satunya bagi dia dan tidak merasa butuh berpindah-pindah lagi. Kebenaran justru akan makin ditemukan di dalam menempuh arah yang ditekuni itu. Dalam arti ini dapatlah dikatakan ia menemukan “jalan, kebenaran, dan hidup”. Namun demikian, dalam menjalaninya akan berkembang juga keragaman, justru karena jalan itu jalan yang hidup, bukan jalan yang sudah selesai dan tinggal dilalui dan habis perkara. Bahkan yang dituju sendiri itu hidup, yakni Yang Ilahi sendiri. Apa yang paling berharga di dalam tiap tindakan menempuh jalan ini? Dalam bahasa sekarang, komitmen yang dijalani dengan tulus serta bertanggungjawab Itulah sikap keagamaan yang diajarkan kepada Tomas dan kepada Filipus dalam petikan Injil Yohanes yang dibacakan hari ini. Itu juga sikap yang diajarkan kepada pengikut Kristus. Dan kiranya masuk akal juga bila kumpulan orang dipanggil untuk percaya menawarkan sikap ini kepada semua orang yang berkemauan baik.

Salam hangat,
A. Gianto

Komentar

Suatu kali Kadir lagi menyeterika bajunya.Kasir: “Kalau nyeterika tidak begitu….tapi begini….”
Setiap gerakan menyeterika Kadir selalu dikomentari Kasir.
Suatu hari Kasir mau memasang gantungan baju. Ia membawa palu dan paku.
Kadir: “Kalau memaku tidak begitu, nanti tanganmu kena pakunya.”
Kasir: “Akh brisik kamu, orang memaku saja dikomentari.”
Kadir: “Ya sudah kalau gak percaya.”
Kadir pun pergi meninggalkan Kasir. Tidak seberapa jauh ia mendengar teriakan, “Aduuuuuuhh…..!”
Kadir tersenyum geli sendiri. Ia pun berguman agak keras, “Rasaiiiinnn…..”
Kasir, “Kadiiiiiiiiiiirrr…….!!”

Sering kita mudah mengomentari orang, namun sering kita tidak mudah mendengarkan komentar orang. Tahan berkomentar bila tidak mau dikomentari.

Lamunan Pekan Paskah IV

Sabtu, 9 Mei 2020

Yohanes 14:7-14                           

14:7 Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia."
14:8 Kata Filipus kepada-Nya: "Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami."
14:9 Kata Yesus kepadanya: "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.
14:10 Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.
14:11 Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.
14:12. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa;
14:13 dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak.
14:14 Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa beriman itu percaya bahwa Tuhan itu ada. Dengan beriman orang tahu bahwa Tuhan menciptakan segala-galanya termasuk dirinya.
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa untuk beriman orang memeluk agama. Dia menjalani apapun yang diperintahkan agama sebagai perintah Tuhan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun percaya Tuhan itu ada dan rajin menjalani agama, orang baru sungguh beriman kalau segala perilakunya dijiwai oleh tindakan ilahi yang selalu demi kebaikan umum. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan mempercayakan diri pada nurani sehingga selalu mengalami dan ikut menjalani berbagai karya-karya-Nya.
Ah, beriman itu ya mengucapkan syahadat yang ada dalam agamanya.

Kokehan

Oleh: Rm. Agoeng

Kadir asyik di samping rumahnya. Ia mengamati kolam dan bibit lele yang dibelinya beberapa hari
yang lalu. Kasir mendekat. Ia pun turut senang melihat lele segar makan makanan yang diberikan Kadir.
Dua jam setelah itu, Kasir ke kolam lagi. Dua jam berikutnya ia ke kolam lagi. Setiap kali ke kolam ia memberi makan lele-lele tersebut.
Kadir, “Ngapain kamu Sir?”
Kasir, “Ini lelenya menyenangkan.”
Kadir, “Kamu ngepyuri apa itu?”
Kasir, “Kasih makan, lahap je. Menyenangkan.”
Kadir, “Sudah, jangan kasih makan lagi. Yen kokehan malah mati.”
Kasir, “Kasih makan saja kok tidak boleh. Biarin ta.”
Sehari setelahnya Kasir berteriak-teriak, “Dirrrrr..... Dirrr!”
Kadir, “Ada apa ta kok teriak-teriak?”
Kasir, “Lelene pada matiiiii!”
Kadir, “Nah bener kan.... kewaregen mereka.”
Kasir, “Masaaaaa?”
Kadir, “Lihat perut-perutnya!”
Kasir, “Ehmmmm apa iya ya?!”

*Setiap orang mempunyai batas kapasitas untuk menerima rejeki. Tindakan berlebihan akanmenghadirkankematiannya*

Mambu Apa Mlayu



 Suatu malam Kadir, Kasir dan teman-temannya sedang duduk di teras rumahnya. Kasir duduk di barisan paling pinggir, berbatasan dengan kegelapan. Pandangan matanya selalu mengarah ke teman-temannya karena takut dengan kegelapan di sampingnya dan watir ditinggal teman-temannya. Tiba-tiba Kadir yang duduk di sebelah kirinya memiringkan pantat dan terdengarlah, “Broooooot.” Kadir mengeluarkan bomnya sambil ngakak-ngakak. Kasir berteriak-teriak dan hendak lari ke kanan, ke arah ke gelapan.
Kadir,”Berani pa lari ke sana?”
Kasir sadar di situ gelap. Ia ragu.
Kadir, “ Pilih mambu apa mlayu?
Kasir pun terdiam duduk di tempat sambil menutup hidungnya dengan kaosnya. Ia terpaksa menikmati bau kentut itu.

#kadang dalam hidup kita harus memilih yang terbaik dari hal-hal buruk yang ada#

Santo Amatus Ronconi

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 1961 Diterbitkan: 30 Januari 2018 Diperbaharui: 01 Februari 2018

  • Perayaan
    08 Mei
  •  
  • Lahir
    Sekitar tahun 1225
  •  
  • Kota asal
    Rimini Italia utara
  •  
  • Wafat
    8 Mei 1292 di Biara Benediktin San Giuliano Rimini Italia
    Sebab alamiah
  •  
  • Venerasi
    -
  •  
  • Beatifikasi
    17 April 1776 oleh Paus Pius VI
  •  
  • Kanonisasi
    23 November 2014 oleh Paus Fransiskus

Santo Amatus Ronconi (San Amato Ronconi ) lahir pada tahun 1225 di Rimini Italia dalam keluarga bangsawan yang kaya-raya. Amatus telah menjadi yatim piatu sejak masil kecil. Ia lalu dirawat oleh kakaknya yang bernama Giacomo. Ia menghabiskan masa kecil dan masa remajanya di rumah Giacomo.
Setelah Amatus dewasa, Lansberga, kakak iparnya, berupaya menjodohkan Amatus  dengan adik perempuannya demi menjaga tanah warisan mereka agar tidak berpindah ke tangan orang luar. Amatus menolak perjodohan ini karena ia ingin melayani Tuhan sebagai seorang pertapa. Giacomo juga turut membujuknya, namun Amatus tetap kokoh mempertahankan panggilannya. Hal ini membuat Lansberga marah dan mulai memperlakukan Amatus dengan buruk.
Demi menenangkan isterinya, Giacomo lalu memberikan sebidang tanah kepada Amatus dan memintanya untuk tinggal di situ. Amatus pun pindah ke lahan tersebut. Namun beberapa waktu kemudian, Amatus menjual bidang tanah tersebut beserta segala harta miliknya, lalu membagi-bagikan uangnya kepada para fakir miskin. Kini ia telah siap memenuhi panggilan Tuhan yang telah lama bergema didalam hatinya.
Ia bergabung menjadi anggota Ordo Fransiskan Sekuler dan hidup sebagai seorang pertapa selama bertahun-tahun seturut teladan Santo Fransiskus dari Asisi. Beberapa tahun kemudian Amatus keluar dari pertapaannya dan mulai berkarya membangun kapela-kapela dan tempat penampungan bagi para peziarah. Beberapa bangunan buah karyanya masih berdiri sampai saat ini, termasuk sebuah rumah sakit untuk orang miskin di kota Rimini.
Sepanjang hidupnya, Amatus tercatat empat kali melakukan perjalanan ziarah dari Italia ke Spanyol, melalui rute Camino de Santiago (Way of Saint James) yang berakhir di Katedral Santiago de Compostela tempat dimana Rasul Yakobus Tua dimakamkan. Empat perziarahan yang berat ini dijalaninya dengan sepenuh hati demi menggapai kesucian hidup Kristiani.
Pada tahun 1921 Amatus berupaya melakukan perjalanan ziarah yang kelima ke Santiago de Compostela namun ia tidak berhasil sampai ke Spanyol. Di tengah perjalanan, seorang malaikat menampakkan diri kepadanya dan menyampaikan bahwa perjalanan hidupnya didunia ini akan segera berakhir dan ia harus kembali ke rumahnya. Amatus bergegas kembali ke Italia dan tiba di Rumini pada bulan Januari 1292. Ia lalu beristirahat di sebuah biara Benediktin dan tetap tinggal di biara tersebut sampai saat Tuhan memanggilnya kembali ke surga pada tanggal 8 Mei 1292.
Lima abad kemudian, tepatnya pada tanggal 17 April 1776, Amatus Ronconi dibeatifikasi oleh Paus Pius VI. Beatifikasi ini terjadi setelah dua mujizat penyembuhan yang terjadi melalui perantaraannya diselidiki dengan seksama dan dinyatakan benar. Selanjutnya pada tanggal tanggal 23 November 2014, Beato Amatus  Ronconi di Kanonisasi oleh Paus Fransiskus di Basilika Santo Petrus Roma (qq).

Thursday, May 7, 2020

Lamunan Pekan Paskah IV

Jumat, 8 Mei 2020

Yohanes 14:1-6                             

14:1. "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.
14:2 Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.
14:3 Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.
14:4. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ."
14:5 Kata Tomas kepada-Nya: "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?"
14:6 Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, berbicara tentang tempat tinggal, hal ini dapat berarti perumahan. Bersama dengan sandang dan pangan, sejak dulu tempat tinggal sudah masuk kebutuhan dasar hidup manusia.
  • Tampaknya, berbicara tentang tempat, hal ini juga dapat berarti ruang gerak untuk berperan aktif dalam hidup bersama. Orang dapat merasa frustrasi kalau tak memiliki peran karena ini dapat berarti tidak diakui keberadaannya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun tak punya rumah sebagai milik sendiri dan peran apapun dalam kebersamaan, asal hidupnya berada dalam naungan aura nurani orang akan selalu memiliki tempat dalam kehidupan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan selalu menemukan ruang amat luas untuk ikut berperan demi kebaikan umum.
Ah, asal mampu meraih status tinggi dalam masyarakat orang akan mendapatkan tempat dimanapun saja.