Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Monday, May 11, 2020

Santo Ignasius dari Laconi

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 3508 Diterbitkan: 16 Agustus 2013 Diperbaharui: 31 Mei 2014

  • Perayaan
    11 Mei
  •  
  • Lahir
    17 Desember 1701
  •  
  • Kota asal
    Laconi, Italia
  •  
  • Wafat
    11 May 1781 di Cagliari, Italy | Oleh sebab alamiah
  •  
  • Venerasi
    26 Mei 1869 oleh Paus Pius IX
  •  
  • Beatifikasi
    16 Juni 1940 oleh Paus Pius XII
  •  
  • Kanonisasi
    21 Oktober 1951 oleh Paus Pius XII

Ignasius adalah putera seorang petani miskin di Laconi, Italia. Ia dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1701. Ketika usianya sekitar tujuh belas tahun, ia sakit parah. Ia berjanji, apabila ia sembuh kembali, ia akan menjadi seorang Biarawan Fransiskan.
Tetapi, ketika ia sungguh sembuh dari sakitnya, ayahnya meyakinkannya untuk menunda janjinya itu. Beberapa tahun kemudian, Ignasius nyaris tewas ketika ia kehilangan kendali atas kudanya. Namun, sekonyong-konyong, kuda itu berhenti berlari dan berderap dengan tenang. Ignasius yakin bahwa Tuhan telah menyelamatkan nyawanya. Ia bertekad untuk segera mengikuti panggilan hidup religiusnya.  Ignasius kemudian masuk biara Kapusin sebagai seorang Brouder dan mengucapkan kaulnya pada tahun 1722.

Broeder Ignasius tidak pernah menduduki jabatan penting dalam Ordo Fransiskan. Selama lima belas tahun ia bekerja di bangsal anyaman. Kemudian, selama empat puluh tahun lamanya, ia termasuk dalam kelompok biarawan yang pergi meminta sedekah dari satu rumah ke rumah lainnya. Mereka menerima makanan dan derma demi kepentingan biara. Ignasius mengunjungi keluarga-keluarga serta menerima derma mereka. Orang banyak segera menyadari bahwa mereka menerima berkah berlimpah setiap kali memberi derma pada biarawan yang rendah hati ini.
Broeder Ignasius menghibur mereka yang sakit dan menggembirakan hati mereka yang kesepian. Ia mendamaikan orang-orang yang bermusuhan, mempertobatkan mereka yang keras hati karena dosa, dan juga memberikan nasehat bagi mereka yang ditimpa masalah. Orang banyak mulai menanti-nantikan kunjungannya.
Namun demikian, Broeder Ignasius sering juga mengalami saat-saat sulit. Kadang-kadang pintu dibanting di mukanya, juga seringkali cuaca buruk menghambat langkahnya. Selalu, bermil-mil jauhnya jarak yang harus ditempuhnya dengan berjalan kaki. Tetapi, Igansius seorang yang penuh pengabdian.
Orang mulai memperhatikan bahwa Ignasius biasa melewatkan suatu rumah tertentu. Pemilik rumah itu adalah seorang lintah darat yang kaya. Ia mengumpulkan hartanya dengan memaksa orang-orang miskin membayar hutangnya jauh melebihi kemampuan mereka. Lintah darat ini merasa terhina karena Ignasius tidak pernah mengunjungi rumahnya untuk meminta sedekah. Ia melaporkan Broeder Ignatius kepada pemimpin biara. Bapa Prior, yang tidak mengetahui masalah ini, mengutus Ignasius ke rumahnya. Ignasius tidak mengatakan sesuatu pun; ia melakukan seperti yang diperintahkan kepadanya dan kembali dengan satu karung besar makanan. Pada saat itulah Tuhan mengadakan mukjizat. Ketika karung itu dibongkar, darah mulai menetes. “Inilah darah kaum miskin,” kata Ignatius perlahan, “Oleh sebab itulah saya tidak pernah meminta sedekah dari rumah itu.” Kemudian, para rahib pun mulai berdoa demi bertobatnya sang lintah darat.

Broeder Ignatius wafat dalam usia delapan puluh tahun pada tanggal 11 Mei 1781. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Pius XII pada tahun 1951

Rm. Yadi Opname


Pada Senin 11 Mei 2020 jam 14.21 Mgr. Rubi menulis dala, WAG UNIO KAS NEWS "Para Romo.
Mohon doa untuk Rm. Yoakim Suyadi Pr yang harus opname di RSPR. Semoga lekas sembuh dan sehat kembali. Nuwun dan berkah Dalem.".  Informasi Bapak Uskup berkaitan dengan WA japri Rm. Bambang pada jam 11.53 "Monsinyur, kala wau Rm. Yadi menggigil. Tensi 150/122. Lajeng radi kula peksa ke p rapih. Kabar saking ingkang ngantar kedah opname. Nengga kamar" (Monsinyur, tadi Rm. Yadi menggigil. Tensi 150/22. Kemudian setengah sayapaksa diantar ke Panti Rapih. Pengantar memberi kabar bahwa beliau harusopname. Kini menunggu kamar). Pada jam 12.32 Mgr. Rubi menjawab "Waduh... demam nggih. Mugi enggal dhangan" (Aduh ..... demim ya. Semoga cepat sehat). Informasi terakhir mengatakan bahwa Rm.Yadi berada di Ruang Carolus 509.

Sunday, May 10, 2020

Lamunan Pekan Paskah V

Senin, 11 Mei 2020

Yohanes 14:21-26                         

14:21 Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya."
14:22 Yudas, yang bukan Iskariot, berkata kepada-Nya: "Tuhan, apakah sebabnya maka Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?"
14:23 Jawab Yesus: "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.
14:24 Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku.
14:25. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu;
14:26 tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, pada umumnya kehidupan yang sudah lewat selalu menghadirkan pelajaran hidup. Maka ada kata jasmerah, yang merupakan kepanjangan jangan sekali-kali melupakan sejarah.
  • Tampaknya, di dalam kehidupan masyarakat juga ada dokumen-dokumen peninggalan masa lalu yang menghadirkan nilai-nilai kehidupan. Maka muncul ahli-ahli yang dapat menjelaskan isinya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun mampu mengetahui hal-hal masa lalu dan warisan bernilai, tanpa hidup dengan cahaya nurani orang tak akan mendapatkan tuntunan sejati. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan selalu memperoleh berbagai pencerahan nilai-nilai hidup dari apapun apapun yang pernah terjadi di masa lalu.
Ah, yang lalu biarkan saja lewat dan yang penting mencari enak masa kini.

Santo Yohanes dari Ávila

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 2131 Diterbitkan: 18 April 2017 Diperbaharui: 22 November 2017

  • Perayaan
    10 Mei
  •  
  • Lahir
    6 Januari 1499
  •  
  • Kota asal
    Almodóvar del Campo, di Provinsi Ciudad Real Andalusia (sekarang wilayah Spanyol).
  •  
  • Wafat
    10 Mei 1569 di Montilla, Spanyol
    Sebab alamiah
  •  
  • Venerasi
    8 February 1759 oleh Paus Klement XIII (decree of heroic virtues)
  •  
  • Beatifikasi
    4 April 1894 oleh Paus Leo XIII
  •  
  • Kanonisasi
    31 Mei 1970 oleh Paus Paulus VI

Santo Yohanes dari Ávila dikenal juga sebagai Santo Yohanes Almodóvar, San Juan de Ávila, San Juan de Ávila Jijón dan Saint John of Aldomóvar.  Ia lahir pada tanggal 6 Januari 1499 di Almodóvar del Campo, di Provinsi Ciudad Real Andalusia (sekarang wilayah Spanyol). Kedua orang tuanya terkenal sebagai orang Katolik yang saleh; meskipun ayahnya, Alfonso de Ávila, adalah seorang "Marrano" atau "Converso" Yahudi. Demikian juga ibunya yang bernama Catalina Xixón (atau Gijón).
Pada tahun 1513, Yohanes dikirim ke Universitas Salamanca untuk belajar ilmu hukum. Namun ia mengundurkan diri pada tahun 1517 dan kembali ke Almodóvar Ciudad Real sebelum mendapatkan gelar sarjana. Ia menghabiskan tiga tahun berikutnya dengan aktif dalam kegiatan rohani dan mulai berjuang menggapai kesucian dengan mempraktekkan kehidupan doa yang ketat dan penuh disiplin. Kehidupan doa-nya membuat terkesan seorang rahib Fransiskan yang sedang dalam perjalanan melewati Almodóvar. Sang rahib kemudian menyarankan Yohanes untuk belajar Filsafat dan Teologi, agar bisa ditahbiskan menjadi imam. Yohanes patuh pada rahib tersebut dan melanjutkan studinya ke Universitas Alcalá de Henares. Ia beruntung dapat belajar Filsafat dan Teologi dibawah bimbingan pater Domingo de Soto, OP, seorang biarawan Dominikan yang saleh.
Kedua orang tuanya meninggal dunia ketika Yohanes masih menjadi mahasiswa di Alcalá. Setelah ia ditahbiskan pada musim semi tahun 1526, misa pertamanya dirayakan di gereja di dekat pemakaman kedua orangtuanya. Imam muda Yohanes kemudian menjual semua harta warisannya lalu membagi-bagikan hasilnya kepada para fakir miskin. Setelah itu ia mulai mempersiapkan dirinya untuk menjadi misionaris ke tanah misi di Mexico.
Ia berangkat ke kota pelabuhan Seville sambil menanti jadwal keberangkatan ke Mexico pada bulan Januari 1527. Rencananya ia akan berangkat bersama Julián Garcés,OP, seorang biarawan Dominikan yang telah ditunjuk menjadi Uskup Tlaxcala Mexico yang pertama. Selama menunggu di Seville, kesalehan hidup, kemampuannya dalam katekese, dan kepiawaiannya dalam berkhotbah, menarik perhatian Hernando de Contreras, pastor paroki setempat. Contreras kemudian memperkenalkan Yohanes kepada Uskup Agung Seville dan Inkuisitor Agung, Alonso Manrique de Lara. Bapa Uskup dapat melihat dalam diri imam muda Yohanes, kesucian dan keteguhan yang dibutuhkan untuk membangkitkan kembali iman umat di Andalusia. Setelah berulang kali dibujuk, Yohanes akhirnya berhasil diyakinkan untuk membatalkan perjalanannya ke Amerika dan berkarya di Andalusia.
Di Seville, Yohanes tinggal di paroki bersama pater Hernando de Contreras.  Disini ia mulai menulis Audi, filia (Dengar, Putri), sebuah karya yang terus ia kembangkan dan perbaiki hingga saat kematiannya. Selama sembilan tahun berkarya di Andalusia, Yohanes dikenal umat sebagai seorang imam yang baik hati terhadap para orang miskin namun tegas terhadap para bangsawan yang angkuh. Khotbah perdananya pada tanggal 22 Juli 1529, begitu fenomenal dan segera membuatnya terkenal. Umat akan memadati gereja bila ia mempersembahkan misa kudus, dan rela berdiri berdesak-desakkan demi mendengarkan khotbah-khotbahnya.
Namun seruan kerasnya akan reformasi iman dan kecamannya terhadap prilaku para bangsawan Andalusia yang materialistik, membuatnya diadukan ke kantor Inkuisisi di Seville pada tahun 1531. Ia lalu dipenjarakan selama musim panas tahun 1532 dengan tuduhan telah melebih-lebihkan pengajaran tentang bahaya “harta kekayaan”. Ia juga dituduh telah menyatakan bahwa “gerbang surga tertutup bagi orang kaya”. Tuduhan-tuduhan tersebut mampu ia patahkan dalam sidang Inkuisisi. Ia kemudian dinyatakan tidak bersalah dan dibebaskan pada tahun 1533.
Keluar dari penjara, Yohanes pindah ke Keuskupan Córdoba diawal tahun 1534. Kota ini kemudian menjadi basis karya kerasulannya di seluruh Andalusia. Bersama para muridnya ia berkeliling dan berkhotbah. Ia mendirikan sekolah-sekolah dan perguruan tinggi di kota-kota di sekitarnya seperti di Granada, Baeza, Montilla dan Zafra. Pada masa inilah ia menerima gelar Master of Sacred Theology, kemungkinan di Granada pada tahun 1538. 
Karya istimewa dari Santo Yohanes dari Ávila adalah Universitas Baeza, yang ia didirikan pada tahun 1538 berdasarkan bulla kepausan dari Paus Paulus III. Ia ditunjuk menjadi rektor pertama Universitas tersebut. Universitas ini dikemudian hari menjadi sebuah model bagi seminari-seminari dan sekolah-sekolah Serikat Jesus di Andalusia.
Yohanes senantiasa tinggal bersama sekitar 20 orang murid-muridnya. Ia telah berencana untuk membangun sebuah konggregasi religius untuk imam-imam apostolik. Namun berdirinya Serikat Jesus di Montmarte Perancis pada tahun 1534, dan pesatnya perkembangan Serikat ini membuat Yohanes mengurungkan rencananya. Di tahun-tahun terakhir hidupnya, Yohanes mulai mengarahkan murid-muridnya untuk bergabung dengan Serikat Jesus. Diketahui ada sekitar 30 orang murid Yohanes dari Ávila yang kemudian menjadi biarawan Serikat Jesus.
Santo Yohanes dari Ávila tutup usia pada tanggal 10 Mei 1569 di kota Montilla, Córdoba. Ia dimakamkan di kota itu, di dalam Gereja Inkarnasi di Córdoba Spanyol. Kekudusannya di akui Gereja saat ia di Beatifikasi pada tanggal 12 November 1893 oleh Paus Leo XIII. Seabad kemudian ia dikanonisasi oleh Paus Paulus VI pada tanggal 31 Mei 1970.
Menjelang Proses Kanonisasinya di tahun 1970, kumpulan tulisan Santo Yohanes dari Ávila diterbitkan menjadi sebuah buku. Buku ini terdiri atas Audi filia, 82 kumpulan khotbah, beberapa komentar alkitab, 257 surat (sejak tahun 1538 hingga wafatnya), dan pembahasan mengenai reformasi.  Dalam buku ini diketahui bahwa Yohanes banyak menulis surat kepada pejabat-pejabat gereja yang berkonsultasi dengannya, seperti Pedro Guerrero, Uskup Agung Granada, dan dua Uskup Agung Valencia yang di kemudian hari juga dikanonisasi, yaitu Santo Juan de Ribera dan Santo Thomas of Villanova. Ia juga menulis surat kepada Santo Ignatius de Loyola, Santo Yohanes de Deo dan Santa Teresa dari Ávila.
Pada tanggal 7 Oktober 2012, Paus Benediktus XVI  mengumumkan Santo Yohanes dari Ávila dan Santa Hildegardis dari Bingen sebagai dua Doktor Gereja yang baru.  Di hadapan puluhan ribu umat di Lapangan Basilika Santo Petrus, bapa suci dalam homilinya mengatakan : 
(qq)

Saturday, May 9, 2020

Lamunan Pekan Paskah V

Minggu, 10 Mei 2020

Yohanes 14:1-12                           

14:1. "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.
14:2 Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.
14:3 Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.
14:4. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ."
14:5 Kata Tomas kepada-Nya: "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?"
14:6 Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.
14:7 Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia."
14:8 Kata Filipus kepada-Nya: "Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami."
14:9 Kata Yesus kepadanya: "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.
14:10 Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.
14:11 Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.
14:12. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa;

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, adalah wajar kalau orang gelisah menghadapi masalah besar. Apalagi kalau masalah itu mengancam hidup.
  • Tampaknya, adalah wajar kalau orang gelisah tahu kenyamanannya terancam hilang. Orang tahu bahwa akan berhadapan dengan situasi kondisi yang tidak dikehendaki.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun berhadapan dengan berbagai hal yang mengancam hidup dan kenyamannya, orang akan tetap berada dalam ketenangan kalau dalam hidupnya mempercayakan diri pada yang ilahi dan getar-Nya dalam nurani. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan dibebaskan dari berbagai kegelisahan sehingga berbagai masalah yang dihadapi menjadi jalan adanya berbagai kesegaran baru.
Ah, bagaimanapun juga berhadapan dengan ancaman orang akan dapat dilanda ketakutan.

Kreatif


Kasir, “Dir, ngapain sih kamu, dari tadi kok umyek saja!?”
Kadir, “Isi waktu Sir.”
Kasir, “Kayak kurang kerjaan saja telur kok diisik-isik.”
Kadir, “Ya memang gak ada kerjaan, wong PSBB.”
Kasir, “Emang untuk apa itu?”
Kadir, “Mau bikin telur asin. Terus dijual. Untuk tambah-tambah penghasilan.”
Kasir, “Oooo bener ya…. Iso gitu ya?!”
Kasir lalu memegang telponnya.
Kadir, “Mbok membantu, malah mainan hape!”
Kasir, “Weeee iki juga membantumu je!”
Kadir, “Membantu kok malah mainan HP!?”
Kasir, “Kamu itu kuper dech, dengan HP ini kupasarkan telur-telurmu. Nih sudah ada yang pesen.”
Kadir, “O bisa gitu ya….?”

*Masa ini menantang kita untuk kreatif menemukan cara untuk bertahan hidup. Masa ini bukan masa untuk meratap dan menangis. Ada banyak kemungkinan yang bisa kita lakukan. Temukan!*

Beato Nicholas Albergati

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 3747 Diterbitkan: 15 Agustus 2013 Diperbaharui: 03 Mei 2016

  • Perayaan
    09 Mei
  •  
  • Lahir
    Tahun 1373
  •  
  • Kota asal
    Bologna - Italia
  •  
  • Wafat
    9 Mei 1443 di Siena, Itali | sebab alamiah. Dimakamkan di Biara Carthusian di Florence, Italia
  •  
  • Beatifikasi
    25 September 1744 oleh Paus Benediktus XIV

Santo Nicholas Albergati dilahirkan pada tahun 1373 di Bologna. Keluarga Albergati adalah keluarga yang kaya-raya hingga mampu menyekolahkan Nicholas ke universitas ternama untuk belajar ilmu hukum.  Tetapi, setelah beberapa tahun belajar hukum, Nicholas mengundurkan diri dan memutuskan untuk menjalani hidup religius.
Di usianya yang keduapuluh, ia menggabungkan diri dengan Ordo Carthusian. Pada tahun 1417, biarawan Carthusian ini dipilih menjadi uskup di keuskupan asalnya. Nicholas sama sekali tidak mengharapkan hal ini. Ia bahkan tak dapat percaya bahwa itu adalah kehendak Allah. Tetapi, para superior berhasil meyakinkannya.

Umat menyayangi Uskup Nikolaus. Ia tinggal di sebuah rumah kecil yang sederhana. Ia sendiri pun hidup bersahaja. Ia mulai mengunjungi umat di keuskupannya. Pertama-tama, ia pergi kepada keluarga-keluarga yang paling miskin. Ia berbincang dengan mereka dan membantu mereka dalam kebutuhan-kebutuhan mereka. Ia memberkati rumah-rumah mereka. Umat amat bersyukur dan berterimakasih.

Pada tahun 1426, Uskup Nikolaus diangkat menjadi kardinal. Ia dikenal bijaksana dan memiliki kehidupan rohani yang mendalam. Dua orang paus, Paus Martinus V dan Paus Egenius IV, meminta nasehatnya mengenai masalah-masalah penting Gereja. Beato Nicholas juga mendorong umat untuk selalu belajar. Ia sendiri menulis beberapa buah buku teologi.
Kardinal Nikolaus wafat secara mendadak pada tahun 1443 saat ia dalam suatu kunjungan ke kota Siena. Paus Egenius IV kemudian menginstruksikan agar jenazahnya dibawa kembali ke Bologna. Bapa Suci sendiri ikut ambil bagian dalam Misa Pemakaman dan menghantarnya ke liang lahat.