Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Thursday, September 3, 2020

Santo Paus Gregorius Agung

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 21316 Diterbitkan: 16 Agustus 2013 Diperbaharui: 19 Oktober 2019

  • Perayaan
    03 September
  •  
  • Lahir
    Tahun 540
  •  
  • Kota asal
    Roma - Italia
  •  
  • Wafat
    12 Maret 604 | Oleh sebab alamiah
  •  
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation


St. Gregorius dilahirkan pada tahun 540 di Roma dalam keluarga bangsawan Kristiani yang saleh.  Ayahnya Gordianus, adalah seorang anggota Majelis Tinggi Roma dan ibunya adalah St. Silvia dari Roma.  Dua orang saudari ibunya juga adalah orang Kudus, yaitu St. Emiliana dan St. Tarsilla. Leluhurnya adalah Paus St. Felix III

Sebagai seorang anak keluarga bangsawan; Gregorius mendapatkan pendidikan dari guru-guru terbaik di kota Roma. Ia adalah seorang pelajar yang sangat cerdas dan berprestasi. Bahkan dalam usia yang masih amat muda ia telah diangkat menjadi Prefektur (Walikota) kota Roma. Sepertinya ia akan mengikuti jejak ayahnya menjadi seorang politisi Romawii yang handal. Namun Tuhan rupanya memiliki rencana lain untuk Gregorius.

Ketika ayahnya meninggal, Gregorius menjadi sangat sedih. Melihat Jasad ayah yang dicintainya terbujur kaku menyadarkan Gregorius akan kefanaan duniawi. Gregorius lalu memutuskan untuk menjalani hidup religius. Ia mengundurkan diri dari jabatan politiknya, lalu merombak rumahnya yang besar menjadi sebuah biara Benediktin. Selama beberapa tahun ia hidup sebagai seorang biarawan Benediktin yang saleh dan kudus. Kekudusannya membuat Bapa Paus Pelagius kemudian mengangkatnya menjadi salah seorang dari tujuh diakon untuk kota Roma.

Ketika Paus wafat, diakon Gregorius dipilih untuk menggantikannya. Gregorius sama sekali tidak menginginkan kehormatan seperti itu. Ia lebih senang hidup dalam keheningan di biaranya. Ia berusaha menolak; namun semua orang hanya menginginkan Gregorius untuk menjadi paus. Semua orang tahu bahwa ia akan menjadi seorang paus yang baik dan mereka menaruh harapan padanya. Gregorius lalu berusaha menghindar dengan menyamar dan menyembunyikan diri dalam sebuah gua, tetapi akhirnya umat dapat menemukannya.  Mereka membawanya kembali ke Roma. Gregorius tidak bisa menolak lagi. Ia pasrah saja saat dilantik menjadi paus.

Dan pilihan umat di Roma memang tidak salah. Selama empatbelas tahun kemudian, Gregorius mampu memimpin Gereja dengan gemilang. Walau kesehatannya tidak selalu prima; namun Gregorius merupakan salah seorang paus terbesar dalam sejarah Gereja.  Ia menulis banyak buku dan juga merupakan seorang pengkhotbah yang ulung. Ia menggubah, mengumpulkan dan membukukan lagu-lagu Liturgi hingga sampai saat ini nyanyian liturgi tersebut masih tetap diasosiasikan dengan dirinya (Lagu-lagu Gregorian).

Ia mencurahkan perhatiannya kepada segenap umat manusia. Malah sesungguhnya, ia menganggap dirinya sebagai pelayan bagi semua orang.  Ia adalah paus pertama yang menggelari dirinya sebagai “hamba dari para hamba Allah” (Servus Servorum Dei). Bagi Gregorius ini bukan hanya sekedar gelar; karena ia sangat menjiwai dan menjalaninya dalam setiap pelayanannya. Gelar ini  masih terus dipakai oleh para paus sampai hari ini.

St. Gregorius memberikan perhatian serta cinta kasih istimewa kepada orang-orang miskin serta orang-orang asing. Setiap hari ia biasa menjamu mereka dengan makanan yang enak. Ia juga amat peka terhadap penderitaan orang banyak yang disebabkan oleh ketidakadilan. Suatu ketika, semasa ia masih seorang biarawan, ia melihat banyak anak-anak diperjual belikan sebagai budak. Ia bertanya dari mana anak-anak itu berasal dan diberitahu bahwa mereka berasal dari Inggris. St. Gregorius merasakan suatu keinginan yang kuat untuk pergi ke Inggris untuk mewartakan kasih Yesus kepada orang-orang yang belum mengenal Tuhan itu. Setelah ia menjadi paus, salah satu hal pertama yang dilakukannya adalah mengirimkan biarawan-biarawan terbaiknya (St. Agustinus dari Centerbury bersama 40 rekan biarawan) untuk memperkenalkan Kristus kepada rakyat Inggris. Paus Gregorius juga mengirimkan para biarawan untuk menyebarkan iman Kristiani ke Perancis, Spanyol dan Afrika.

Tahun-tahun terakhir hidupnya dipenuhi oleh banyak penderitaan, namun demikian ia tetap bekerja untuk Gerejanya yang tercinta hingga akhir hayatnya. St. Gregorius wafat pada tanggal 12 Maret 604.

Wednesday, September 2, 2020

Rm. Hartanta Direktur Domus


Pada hari Selasa pagi 1 September 2020 Rm. Sapto, Pastor Paroki Pringwulung yang juga anggota pengurus Domus Pacis Puren, datang di Domus. Saya tahu kehadirannya karena suara khasnya terdengar ketika saya sedang berbaring tiduran sambil melihat TV. Beliau berbicara meriah dengan para karyawan. Tiba-tiba “Ramaaa”, suaranya, masuk di kamar saya. Saya terbagun dan langsung dengan kursi roda menyongsongnya. Ternyata beliau datang bersama Rm. Hartanta. Beliau adalah direktur yang diangkat oleh BapakUskup untuk tinggal bersama para rama tua di Domus Pacis Santo Petrus, Kentungan. Sesudah omong-omong sesaat Rm. Hartanto mendatangi para rama Domus satu per satu di kamarnya. Yang tercatat dalam benak dan hati saya adalah kata-kata Rm. Hartanta “Kula mangké sedinten wonten ngriki. Kula mrika-mriki Kentungan lan Puren” (Saya nanti sehari di sini. Saya akan bergantian berada di Kentungan dan Puren). Ketika saya bertanya “Yèn ngaten ugi mawi saré ngriki?” (Kalau begitiu juga akan tidur di sini), beliau mengiyakan.

 

Ketika Rm. Hartanta sedang berkeliling ke kamar-kamar rama dan dilanjutkan menemui Rm. Wito di Komsos, saya meminta Pak Tukiran menyiapkan kamar untuk Rm. Hartanta. Ketika tiba makan siang beliau juga bergabung dengan para rama Domus Pacis Puren. Dari omong-omong sambil makan saya mendapatkan kepastian bahwa  Domus Pacis Santo Petrus besuk akan berada dalam reksa Rektor dan Minister Seminari Tinggi Kentungan. Dalam hal makan juga akan diurus oleh Seminari Tinggi. Rm. Hartanto juga berkata bahwa menurut Rm. Agoeng penyelesaian bangunan mencapai 78.82%. Kemungkinan pindahan ke Kentungan akan terjadi Oktober atau November 2020. (Ketika berbicara dengan saya, Rm. Agoeng bilang kepeindahan kira-kira akan terjadi padaNovember 2020). Besok Rm. Bagyo dan Rm. Sugiyono dari Domus Pacis Albertus Semarang akan juga jadi penghuni Kentungan. Rm. Budyapranoto dari Paroki Sambirata dan Rm. Joko Sistiyanto yang sekarang tinggal di Pastoran Pringwulung termasuk calon penghuni. Bahkan Mgr. Blasius Pujaraharja juga bersedia tinggal di Domus Pacis Santo Petrus. Sesudah makan ternyata Rm. Hartanta datang ke kamar saya. Ada kata-kata merendah dari beliau “Kula takajar rumiyin” (Saya akan belajar dulu) sambil mengambil buku tulisan saya Domus Pacis Puren di Mata Hatiku 2013-2019. Dan Rm. Hartanta memang tampak memiliki kesungguhan mengurus para rama tua. Beliau ingin mengalami kebersamaan. Pada Rabu 2 September 2020 Rm. Hartanta mulai tidur di Domus Pacis Puren dan bahkan ikut misa harian di sore hari. Ketika Rm. Bambang menawari untuk ikut bergilir memimpin, beliau berkata "Kula tak ndherek mawon" (Saya ikut jadi peserta saja). 

Lamunan Peringatan Wajib

Santo Gregorius Agung, Paus dan Pujangga Gereja

Kamis, 3 September 2020

Lukas 5:1-11

1. Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. 2 Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya.  3 Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. 4 Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." 5 Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." 6 Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. 7 Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. 8 Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa." 9 Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; 10 demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: "Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia." 11 Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, merekapun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, orang dapat dipandang tuntas dalam ilmunya karena raihan dari studinya. Dia adalah profesor doktor dengan wawasan yang holistik.
  • Tampaknya, orang dapat dipandang berketrampilan mumpuni. Kehandalannya dilandaskan dari pengalaman kerjanya yang sudah terbiasa dijalani sejak kecil hingga dewasa tua.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun bertitel amat tinggi dan sudah menjadi pekerjaan sejak kecil, orang dapat mengalami keterpurukan bila tidak menyempatkan diri untuk mendalaminya. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan makin mumpuni kalau memiliki kesadaran ada saat gagal dan bersedia mendalami untuk menemukan kemungkinan alternatif.

Ah, orang yang sungguh ahli itu sudah menjadi pengajar handal dan hanya menjadi tempat bertanya.

Santo Brocardus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 2942 Diterbitkan: 02 April 2017 Diperbaharui: 16 April 2017

  • Perayaan
    2 September
  •  
  • Lahir
    Hidup pada akhir abad ke-12
  •  
  • Kota asal
    Tidak ada catatan, kemungkinan berasal dari Perancis
  •  
  • Wilayah karya
    Yerusalem - Israel
  •  
  • Wafat
    Tahun 1231 di Gunung Karmel Israel
    Sebab alamiah
  •  
  • Beatifikasi
    -
  •  
  • Kanonisasi
    Bila anda memiliki informasi tentang Kanonisasi Santo Brocardus; dimohon menghubungi admin; Terimakasih.


Santo Brocardus (Brocard) adalah seorang pertapa di gunung karmel yang hidup pada akhir abad ke-12. Bersama Santo Barthold de Malifaye dan sekelompok pertapa Eremit, mereka membentuk sebuah komunitas monastik dan menetap di puncak Gunung Karmel. Berthold de Malifaye, mantan Perwira Tentara Salib (Crusaders) yang meninggalkan kemiliteran demi mengejar kesucian hidup, terpilih sebagai pemimpin (abbas) mereka yang pertama. Komunitas pertapa inilah yang dikemudian hari dikukuhkan menjadi sebuah Ordo Religius, yaitu Ordo Fratrum Beatissimæ Virginis Mariæ de Monte Carmelo (Latin), atau The Order of the Brothers of the Blessed Virgin Mary of Mount Carmel (Inggris), yang secara singkat disebut Ordo Karmel atau Karmelit.

Setelah wafatnya Santo Berthold de Malifaye pada tahun 1195, para karmelit perdana dengan suara bulat memilih Brocardus sebagai abbas yang baru. Pada tahun 1207, Abbas Brocardus meminta Patriark Yerusalem, Santo Albertus dari Yerusalem, untuk menyusun sebuah aturan hidup membiara bagi para pertapa Karmel.  Aturan hidup yang disebut Regula Karmel atau Regula Santo Albertus ini selesai ditulis pada tahun 1210 dan disahkan oleh Paus Honorius III pada tahun 1226.  

Tradisi mengatakan bahwa Santo Brocardus memiliki pemahaman yang mendalam tentang Kitab Suci. Karena itu Santo Albertus, sebagai Patriark Yerusalem, berencana membawa pertapa Karmel tersebut mengikuti Konsili Lateran IV di Roma. Namun sebelum mereka berangkat ke Italia, Patriark Albertus tewas terbunuh saat sedang memimpin misa di Gereja Santo Yohanes di Acre pada tanggal 14 september 1214.   

Santo Brocardus memimpin komunitas Karmelit perdana selama 35 tahun. Ia tutup usia sekitar tahun 1231.(qq)

Tuesday, September 1, 2020

Lamunan Pekan Biasa XXII

Rabu, 2 September 2020

Lukas 4:38-44

38 Kemudian Ia meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. 39 Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itupun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka. 40 Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Iapun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. 41 Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: "Engkau adalah Anak Allah." Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias. 42 Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. 43 Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus." 44 Dan Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea.

Butir-butir Permenungan

  • Katanya, di era global apalagi milenial orang harus dapat tampil berebut kualitas pasar. Untuk menjadi pemenang orang harus bisa merebut jaringan berbagai sambungan terutama lewat media sosial.
  • Katanya, orang akan dapat memiliki keunggulan kalau menguasai berbagai berita informatif. Makin banyak pendukung dan pemberitanya makin kuat kedudukan pasarnya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, walau banyak yang mengenal, orang sadar bahwa makin mendalam orang lain mengenalnya makin besar kemungkinannya berhadapan dengan yang membahayakan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan menyadari bahwa pihak lain yang amat mengenal juga termasuk musuh yang selalu ingin menjatuhkannya.

Ah, pokoknya makin banyak yang mengenal ya pasti makin banyak yang menyayanginya.

Beato Ghebre-Michael

diambil dari katakombe.org/orang-kudus Hits: 4740 Diterbitkan: 30 Agustus 2014 Diperbaharui: 13 Agustus 2016

  • Perayaan
    1 September
  •  
  • Lahir
    Sekitar tahun 1790
  •  
  • Kota asal
    Ethiopia
  •  
  • Wafat
    Martir - meninggal tanggal 30 Juli 1855 dalam penjara karena disesah dan dianiaya, serta tidak diobati saat terjangkit wabah Kolera.
  •  
  • Venerasi
    22 Mei 1926 oleh paus Pius XI (decree of martyrdom)
  •  
  • Beatifikasi
    3 Oktober 1926 oleh paus Pius XI

Ghebre-Michael adalah seorang biarawan dari Gereja Orthodox Ethiopia (Gereja ini adalah bagian dari Gereja Ortodhox Oriental dan tidak berada dalam persekutuan dengan  Gereja Katholik Roma)  yang menjadi martir karena menerima iman Katholik.  Ia lahir di Ethiopia pada sekitar tahun 1790. Pada usia kanak-kanak ia telah kehilangan satu bola matanya dalam sebuah kecelakaan.  Walaupun cacat, namun Ghebre-Michael tidak kehilangan cita-citanya untuk menjadi seorang biarawan. Karena itu setelah menyelesaikan sekolah menengah,  ia  masuk biara Mertulai-Miryam di Ethiopia. Dalam biara, Ghebre-Michael segera  menunjukkan dirinya sebagai seorang biarawan pintar dan saleh.   

Ia memiliki minat yang besar dalam sejarah kehidupan monastik (kehidupan membiara).  Dia melihat, dari pengalamannya sendiri,  bahwa ada penurunan nilai kehidupan rohani yang sangat besar dalam biara–biara Gereja Orthodox  di Ethiopia;  dan  ia ingin melakukan penelitian lebih lanjut tentang hal ini.  Atasannya dalam biara mendukung niatnya ini, lalu menugaskannya untuk melakukan perjalanan ke seluruh negeri dan mengunjungi berbagai biara demi mempelajari teologi dan melihat langsung cara hidup para biarawan.

Dalam penelitian dan usahanya mencari kebenaran teologis,  Ghebre-Michael menemukan bahwa banyak rekan-rekan biarawan dan para imam Orthodox yang membencinya,  bahkan memusuhinya. Pada pertengahan tahun 1843,  Abuna (Abuna adalah sebutan bagi pemimpin Gereja Orthodox Ethiopia) Salama III melihat bahwa kegiatan penelitiannya dapat membawa akibat buruk bagi Gereja Orthodox Ethiopia, karena itu pada suatu kesempatan beberapa pengikut Abuna Salama III mencoba meracuni  Ghebre-Michael.  Rencana ini gagal karena Ghebre-Michael yang sudah mendapat firasat akan rencana jahat mereka selalu membawa obat penawar racun didalam saku jubahnya.  

Percobaan pembunuhan atas dirinya ini tidak membuat Ghebre-Michael mundur, ia tetap kokoh pada pencarian spritualnya dan tetap melanjutkan penelitiannya sambil  terus berdoa memohon penerangan ilahi agar dapat menemukan kebenaran sejati mengenai Yesus Kristus.  Sebahagian besar waktu dalam hidupnya  hingga berusia 50 tahun ia curahkan bagi usaha pencarian yang terus menerus akan kebenaran sejati.

Pada bulan September 1843 Ghebre-Michael bertemu dengan Santo Yustinus de Yakobis,  seorang imam Kongregasi Misi (Vincentian),  Vikaris Apostolik wilayah Ethiopia dan juga Uskup Nilopolis (di wilayah Mesir).  Dalam pertemuan ini Michael dengan tegas menyatakan keinginannya untuk menjadi seorang Katolik.  Bapa Uskup Yustinus de Yakobis tidak begitu saja menerima biarawan Gereja Orthodox Ethiopia itu ke dalam Gereja Katholik; beliau menunggu sampai beberapa bulan lamanya demi melihat kesungguhan Ghebre-Michael,  baru kemudian menerimanya menjadi anggota keluarga Gereja Katholik  pada tahun 1844.   Dalam tahun itu juga,  terdapat tiga puluh tujuh orang  awam Ethiopia yang  telah diterima ke dalam Gereja Katolik dan enam orang biarawan Gereja Orthodox Ethiopia yang mengikuti jejak Ghebre-Michael dan meminta agar diterima menjadi anggota keluarga Gereja Katholik.  Tujuh tahun kemudian (1851), Uskup Yustinus mentahiskan Ghebre-Michael  menjadi seorang imam dari Tarekat Konggregasi  Misi;  sebuah Konggregasi Imam yang didirikan oleh santo Vincentius de Paulo.

Bersama Uskup Yustinus,  Ghebre-Michael giat mengajar agama dan membangun sebuah kolose untuk mendidik anak-anak Ethiopia.  Atas restu Uskup Yustinus pula ia dapat mendirikan sebuah seminari untuk mendidik calon-calon imam pribumi Etiopia.

Semua kegiatan ini membuat Abuna Salama III meradang.  Atas hasutannya, raja Ethiopia saat itu, Tewodros II, melancarkan penganiayaan besar-besaran atas semua orang lain yang  bukan anggota Gereja Orthodox Ethiopia.  Pater Ghebre-Michael adalah sasaran utama mereka.  Ia bersama beberapa orang katholik pengikutnya ditangkap dan dianiaya dengan sangat mengerikan. Ia dipenjarakan di dalam sebuah kandang ternak yang sangat kotor dan hampir setiap hari  disesah dan dianiaya.

Setiap kali mengalami penderitaan, ia dengan tenang dan tegas menjawab: “Karena imanku aku akan tetap melawan kamu, namun demi cinta kasih Kristiani aku akan terus berbuat baik kepada kamu.” Akhirnya setelah mengalami penganiayaan dan penderitaan yang berkepanjangan, dan karena serangan penyakit kolera, Pater Ghebre-Michael meninggal dunia pada tanggal 28 Agustus 1855.

Setiap Martir Adalah Persembahan Bagi Gereja

Beato Yohanes du Lau

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 3289 Diterbitkan: 16 Agustus 2013 Diperbaharui: 29 Agustus 2016

  • Perayaan
    02 September
  •  
  • Lahir
    30 Oktober 1738
  •  
  • Kota asal
    Biras - Perancis
  •  
  • Wafat
    Tanggal 02 September 1792 | Martir. Dibantai dalam huru-hara Revolusi Perancis.
  •  
  • Venerasi
    1 Oktober 1926 oleh Paus Pius XI
  •  
  • Beatifikasi
    17 Oktober 1926 oleh Paus Pius XI



Beato Yohanes adalah Uskup Agung Arles, Perancis. Ia dan rekan-rekan biarawan  beserta ribuan rakyat Perancis wafat sebagai martir yang gagah berani dalam masa Revolusi Perancis. Konstitusi baru Perancis pada tahun 1790 sangat menentang Gereja. Rakyat dipaksa menandatangani perjanjian dengan sumpah. Jika menolak, mereka akan dihukum. Pada tahun 1792, hukuman mati diberlakukan bagi semua orang yang menolak menandatangani pernyataan mendukung Revolusi.

Walau dibawah ancaman hukuman mati; banyak uskup, imam, kaum religius dan awam tak hendak menandatangani sumpah untuk mendukung konstitusi Perancis. Mereka tahu bahwa mereka akan mengkhianati Allah dan Gereja-Nya. Sungguh masa itu adalah yang amat memilukan bagi rakyat Perancis.

Pada tanggal 2 September 1792, ratusan orang mengadakan huru-hara dan menyerbu sebuah bangunan bekas biara. Bangunan itu telah difungsikan sebagai penjara bagi para imam dan kaum religius. Para perusuh yang beringas itu mendatangi para imam dan memaksa mereka menandatangani pernyataan yang mendukung revolusi. Semua imam itu menolak mentah-mentah; dan saat itu juga mereka langsung dibantai ditempat.  Sungguh memilukan karena biara tempat tinggal para rahib religius kini telah menjadi tempat pembantaian. Di antara para martir yang tewas disitu terdapat Beato Alexander Lenfant, seorang Yesuit. Hanya beberapa menit sebelum wafat dimartir, ia masih melayani Sakramen Tobat pada seorang rekan imam. Keduanya tewas beberapa saat kemudian.

Para perusuh juga mendatangi Gereja Karmelit yang juga telah dialihfungsikan sebagai penjara. Beato Yohanes, Uskup Agung Arles, dan para uskup serta para imam lainnya ditahan di sana. Semua mereka menolak mengucapkan sumpah dan semuanya tewas dibantai. Pada tanggal 3 September, para perusuh yang sama menuju ke Seminari Lazaris. Seminari ini juga telah menjadi penjara sementara dengan sembilan puluh imam dan kaum religius di dalamnya. Hampir semua dari mereka tewas dibantai. Hanya empat orang yang lolos dari maut.

Pada waktu Revolusi yang mengerikan ini berakhir, 1500 umat Katolik tewas dibantai. Termasuk di antara mereka adalah para uskup, imam dan kaum religius. Para martir yang kita rayakan pestanya pada hari ini berjumlah 191 orang. Mereka dimaklumkan “beato” pada tahun 1926 oleh Paus Pius XI.