Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Friday, June 27, 2014

Lamunan Pesta Wajib



Hati Tersuci Santa Perawan Maria
Sabtu, 28 Juni 2014

Yohanes 21:15-19

21:15 Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."
21:16 Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."
21:17 Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.
21:18 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki."
21:19 Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, tidak sedikit orang yang menggambarkan kesucian sebagai ketaatan kepada segala hal yang datang dari agama. Ajaran dan tata aturan serta tata upacara dipandang sebagai kunci kesucian.
  • Tampaknya, tidak sedikit orang yang menggambarkan bahwa pegangan kesucian dalam agama berlaku sama untuk segala usia. Anak, remaja, kaum muda, kaum tua, dan bahkan kaum lanjut usia harus berjuang menjalani hal yang sama dalam agama untuk menggapai kesucian.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa agama adalah penyadaran bagi seseorang agar menjadi suci atau luhur dan bermartabat sehingga hidupnya menjadi bermakna dan bermanfaat bagi orang lain sesuai dengan perkembangan usianya. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan mengikuti bisikan kedalaman batin sehingga dapat bertanggungjawab dalam segala urusannya.
Ah, bagaimanapun agama adalah lingkungan suci dan dunia lingkungan berbahaya.

Thursday, June 26, 2014

DUNIA BERUBAH SECARA REVOLUSIONER BERKAT INTERNET


Oleh Retno Wulandari, 25 Juni 2014

Internet telah menyebabkan banyak perubahan dalam kehidupan manusia. Tak tanggung-tanggung, perubahan ini bahkan sifatnya revolusioner.

“Semua berawal sejak manusia menemukan apa yang disebut www (word wide web) pada tahun 1991 dan http (Hypertecht transfer protocol),” ujar CEO Grup Suara Surabaya Media, Errol Jonathans dalam seminar bertajuk Komunikasi: Budaya Perjumpaan yang Sejati” di Sumba, awal Juni lalu.

Menurut Errol, jauh sebelum ini, pakar komunikasi dari Amerika Serikat, Marshal Mc Luhan yang pada tahun 1960-an telah menulis buku berjudul “Understanding Media: The Extensions of Man” menyebutkan bahwa dunia ini sebagai ‘Global Vilage’ atau sebuah kampung dunia.

Disebut demikian, kata Errol, karena dalam dunia yang sangat besar ini ternyata relasi antarmanusia menjadi sangat dekat seperti relasi dalam sebuah kampung.

Faktanya, sekarang ini memang sudah tidak ada batas waktu dan tempat. Kita bisa berkomunikasi dengan teman kita yang jauh, di mana saja dan kapan saja. Semua menjadi sangat dekat.

“Informasi akan berpindah sangat cepat. Dan ini membuat kita sering kali tidak sadar dan dengan mudahnya menyeberangkan informasi kepada orang lain namun tidak memikirkan dampaknya bagi manusia,” ujar Errol.

Keberadaan internet membuat manusia menjadi sangat tergantung pada teknologi, karena internet telah menjadi teknologi utama dalam informasi dan komunikasi.

“Hanya sayang di Sumba problemnya adalah masih di infrastruktur” keluh Errol Jonathans.
Masih mengutip McLuhan, Errol menyebutkan bahwa infomasi dan komunikasi zaman sekarang ini sangat terbuka sehingga tidak ada yang bisa ditutup-tutupi.

Contohnya, kasus penyerangan yang dilakukan oleh kelompok massa di Yogyakarta terhadap umat yang sedang doa rosario beberapa waktu lalu. Dalam tempo menit, foto dan peristiwa itu dengan cepatnya beredar di internet. Kemudian hampir semua media massa nasional memuat berita tentang penyerangan kelompok masa tersebut.

“Media massa pada akhirnya menjadi transformer sebuah pesan”, tegas Errol.
Artinya, meski kita memiliki semua gadget yang canggih tetapi pada akhirnya media massa, bukan media personal itulah yang memediasi sehingga pesan yang disampaikan menjadi berkembang lebih besar.

Sabda Hidup

Jumat, 27 Juni 2014
HARI RAYA HATI YESUS YANG MAHAKUDUS
warna liturgi Putih
Bacaan:
Ul. 7:6-11; Mzm. 103:1-2,3-4,6-7,8,10; 1Yoh. 4:7-16; Mat. 11:25-30

Matius 11:25-30:
11:25 Pada waktu itu berkatalah Yesus: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.
11:26 Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.
11:27 Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.
11:28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
11:29 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.
11:30 Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan."

Renungan:
Lelah. Semua orang bisa mengalami lelah. Lelah karena pekerjaan. Lelah karena pikiran. Dan aneka macam penyebab lain yang bisa membuat lelah. Pada saat lelah seperti itu kita perlu istirahat, mengendorkan otot dan syarafsyaraf yang tegang.
Yesus menawarkan kelegaan pada mereka yang lelah. "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan" (Mat 7:28-30).
Marilah kita datang pada Yesus Sang Pemberi kelegaan. Walau beban kita tetap ada namun Ia akan meringankan.
 
Kontemplasi:
Pejamkan matamu sejenak. Hadirlah dan bawalah semua kelelahanmu kepada Tuhan Yesus.

Refleksi:
Tulislah kelegaan yang kaualami kala datang kepada Tuhan Yesus.

Doa:
Ya Yesus kuatkanlah aku menanggung segala bebanku dan sudilah memberikan kelegaannya. Amin.

Perutusan:
Aku akan datang pada Yesus kala lagi lelah, Dialah harapanku

Wednesday, June 25, 2014

JAGONGAN: SEBUAH FORMATIO IMAN KAUM TUA


Pengembangan iman untuk kaum tua yang diselenggarakan oleh Domus Pacis untuk tahun 2014 mencoba sebuah program yang diberi nama JAGONGAN MENJADI KAUM TUA PEWARTA. Terhadap program ini tenyata Wilayah Ngireng-ireng, Paroki Ganjuran, memberikan tanggapan cukup serius. Sebenarnya Mbak Kartini, yang menjadi promotor, mengharapkan agar penyelenggaraan dilakukan di kapel sehingga umat umum dapat ikut. Tetapi Rama Bambang mengatakan bahwa setiap penyelenggaraan hanya untuk kelompok yang tidak bercorak massal. Tempat penyelenggaraan pun ada di rumah-rumah peserta secara bergiliran. Dalam setiap pertemuan selalu ada omong-omong pengalaman dan atau pengertian atas pokok pembicaraan. Yang menjadi pembicaraan berasal dari butir-butir "Aku Percaya" atau Syahadat Para Rasul. Buku Katekismus Gereja Katolik menjadi pegangan untuk pendalaman.

Hingga Juni 2014, dari rencana 12 kali pertemuan, sudah terjadi 5 kali. Karena peserta datang secara perorangan (bukan perwakilan) dari semua Lingkungan, maka tempat pertemuan diadakan bergantian dari Lingkungan-lingkungan di rumah salah satu peserta. Jumlah peserta selalu di atas 20 orang. Biasanya jumlah bertambah dengan beberapa warga Katolik dari Lingkungan tempat pertemuan. Sedang peristiwa khusus seperti kematian dan acara kampung (nyadran) akan mengurangi jumlah yang hadir. Enam Lingkungan itu adalah Lingkungan Turi, Lingkungan Warung Pring, Lingkungan Ngireng-ireng, Lingkungan Cangkring, Lingkungan Kepuh, dan Lingkungan Tempel. Tempat pertemuan dalam 5 kali pertemuan adalah :
  1. Rumah Ibu Darman (Lingkungan Kepuh) pada 26 Februari 2014 diikuti 16 peserta perempuan dan 12 peserta laki-laki;
  2. Rumah Bapak Jono (Lingkungan Turi) pada 26 Maret 2014 diikuti 25 peserta perempuan dan 21 peserta laki-laki;
  3. Rumah Ibu Tris (Lingkungan Tempel) pada 30 April 2014 diikuti 18 peserta perempuan dan 8 peserta laki-laki;
  4. Rumah Ibu Marsito (Lingkungan Cangkring) pada 22 Mei 2014 diikuti 22 peserta perempuan dan 10 peserta laki-laki;
  5. Rumah Ibu Rus (Lingkungan Warung Pring) pada 18 Juni 2014 diikuti 13 peserta perempuan dan 11 peserta laki-laki.

Lamunan Pekan Biasa XII



Kamis, 26 Juni 2014

Matius 7:21-29

7:21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
7:22 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
7:23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"
7:24 "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.
7:25 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.
7:26 Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.
7:27 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya."
7:28 Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya,
7:29 sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, tidak sedikit orang yang yakin bahwa dengan aktif mengikuti program dan kegiatan agama akan mendapatkan ketentraman hidup baik di dunia maupun di alam kekal. Agama dengan ajaran dan tatanannya dianggap sebagai kunci hidup luhur yang membuahkan kebahagiaan.
  • Tampaknya, tidak sedikit orang yang yakin bahwa ketaatan dan ketekunan mengikuti ritus atau upacara keagamaan membawa orang pada keselamatan. Agama dengan segala tata upacaranya dianggap sebagai pintu segala kelegaan lahir dan batin.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa keselamatan, kebahagian, kelegaan lahir-batin tidak datang dari hanya mendengar dan mengikuti tata upacara agama karena yang menjadi kunci adalah komitmen menjalani keluhuran nurani yang didengar dalam agama. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan menjalani bisikan kedalaman batin sehingga teguh dalam menghadapi tantangan dan derita hidup.
Ah, beragama ya untuk menyingkiri segala derita.

Tuesday, June 24, 2014

MENGAPA SAYA MENGENAKAN KERUDUNG MISA


Oleh Anne dalam luxveritatis7.wordpress.com 15 Mei 2014
 
Saya telah setia dengan kerudung Misa* selama kurang-lebih tiga tahun. Kebanyakan orang tidak berkomentar, tetapi mereka yang didorong oleh rasa keingintahuan yang positif kemudian bertanya: “Mengapa?”

Ya, mengapa saya akhirnya memutuskan untuk mengenakan kerudung Misa? Bukankah itu praktek yang sudah tua, sudah ketinggalan zaman, dan tidak diharuskan lagi setelah disahkannya Hukum Kanonik tahun 1983?

Di sini saya tidak akan membahas kontroversi mengenai harus atau tidaknya mengenakan kerudung Misa pada masa ini. Bagi saya, tidak diwajibkannya kerudung Misa justru memperkuat alasan kita untuk mengenakannya atas dasar kasih kepada Yesus dalam Sakramen Mahakudus. Kasih lahir dari kehendak bebas, dan kini banyak wanita yang dengan bebas memilih untuk berkerudung Misa.

Alasan mengapa saya berkomitmen mengenakan kerudung Misa berkembang seiring bertambahnya pengetahuan teologis saya, dan juga tidak lepas dari awal mula saya berkenalan dengan sepotong kain ini.
Waktu itu tahun 2009, saya mendapat sebuah undangan dari forum dunia maya untuk menghadiri Misa Forma Ekstraordinaria (Misa Latin Tradisional). Undangan tersebut secara eksplisit menghimbau agar para wanita mengenakan kerudung.

Pada saat itu saya masih menganggap kerudung Misa hanya sebagai sebuah “kostum” khusus untuk Misa FE saja. Praktek yang manis, namun sudah tua dan sudah tidak relevan, dan rasanya sudah tidak cocok untuk wanita modern abad ke-21.

Namun, petualangan lebih lanjut di internet membawa saya pada sebuah kesimpulan yang menarik: kerudung Misa rupanya telah kembali, dan banyak wanita muda kini telah mengadopsi kembali praktek kuno ini.

Di dalam hati saya mulai muncul sebersit ketertarikan untuk ikut berkerudung. Tetapi dari awal saya sadar bahwa kerudung Misa tidak main-main; ia adalah sebuah devosi yang serius dan memerlukan komitmen serta iman yang matang. Apalagi, devosi ini melibatkan sebuah tanda eksternal yang jelas terlihat, sama halnya dengan orang yang mengenakan skapular, atau biarawan yang berjubah.

Saya memerlukan waktu discernment selama kurang lebih dua tahun, disertai dengan beberapa peristiwa yang mengawali pertobatan pribadi saya, sebelum akhirnya memutuskan untuk konsisten berkerudung kapanpun saya berada di hadapan Sakramen Mahakudus.

Kerudung Misa, Kerudung Pengantin Kristus

Satu permenungan yang amat menyentuh saya secara spesial adalah bahwa kerudung Misa (terutama mantilla) membuat saya merasa bagaikan seorang pengantin! Saya berpikir seperti ini: “Jika banyak wanita menunggu-nunggu hari besarnya di mana ia akan berkerudung saat menghampiri calon suaminya, mengapa kita enggan berkerudung saat menyambut Kekasih Surgawi kita? Bukankah Kurban Kalvari, yang senantiasa dihadirkan kembali di dalam Misa, adalah tanda perkawinan antara Kristus dengan Gereja-Nya, Kristus dengan saya? Jikalau demikian, tidakkah semestinya kita mengenakan bukan saja pakaian yang terbaik, melainkan juga pakaian yang spesial, yang sedikit berbeda dari hari-hari biasa? Betapa beruntungnya para biarawati yang seumur hidup mengenakan gaun beserta kerudung pengantin mereka!”

Permenungan tersebut kemudian menjadi alasan utama saya memutuskan mengenakan kerudung Misa. Tanpa disadari, kerudung Misa meningkatkan sensitivitas saya terhadap benda-benda kudus dan atmosfer suci di dalam gereja. Saya memperhatikan bahwa setiap gerakan doa dan pujian saya lebih teratur, tenang, dan bertujuan; disposisi batin saya pun lebih terarah kepada Dia yang pantas mendapatkan seluruh perhatian saya.

Selembar kain yang tampak remeh ini rupanya sanggup menjadi semacam bentuk disiplin bagi daging saya yang lemah ini, serta sebuah pengingat bahwa saya adalah kekasih Kristus, pengantin Tuhan, dan dengan demikian saya harus bersikap selayaknya seorang pengantin, bukan pelacur. Betul bahwa hal tersebut membutuhkan pengorbanan dalam bentuk ketundukan (submission); namun apa artinya kasih tanpa pengorbanan?

Tubuh Mempengaruhi Roh, Roh Mempengaruhi Tubuh

Aneh tapi nyata, lambat laun perubahan secara fisik pun juga terjadi, yaitu perubahan isi lemari pakaian saya. Perlu dicatat bahwa sebelumnya saya agak anti dengan rok dan hal-hal yang “cewek banget”. Saya menganggap hal-hal feminin itu lemah dan kurang praktis. Padanan baju saya pun sebagian besar berupa kaus atau kemeja dan celana jins panjang maupun pendek (jangan ditanya seberapa pendek).

Namun setelah beberapa lama berkerudung Misa, saya mulai mengevaluasi kembali pakaian dan penampilan saya. Pertama, dari segi kecocokan, saya merasa bahwa kerudung Misa sesungguhnya memang paling cocok jika disandingkan dengan gaun atau rok yang sopan, jadi saya mulai secara eksklusif mengenakan rok untuk ke gereja. Kedua, bagaimana mungkin seorang wanita yang menudungi kepalanya tidak melindungi tubuhnya juga? Demikianlah kini saya menjadi lebih modest, tidak hanya dalam berbusana, melainkan juga dalam tindak-tanduk, perkataan, dan cara berpikir.

Identitas dan Misteri Perempuan

Bisa dibilang, memang, bahwa praktek berkerudung mengubah pribadi saya menjadi lebih feminin. Di masa modern ini, terutama di kehidupan perkotaan yang banyak terpengaruh budaya barat, menjadi feminin merupakan bahan cemoohan. Diri saya beberapa tahun yang lalu juga pasti akan mencemooh saya yang sekarang.

Tetapi jika dipikirkan, mengapa wanita takut menjadi feminin? “Feminin” berasal dari kata “female”, perempuan, sehingga feminin berarti hal-hal yang berkaitan dengan perempuan. Menjadi feminin sesungguhnya mengukuhkan identitas seorang perempuan, yang sejajar dengan pria namun tetap berbeda, salah satunya berbeda dalam hal kehormatan menjadi bejana sakral pembawa kehidupan baru. Tabernakel dan piala yang berisikan Tubuh dan Darah Tuhan — Sang Kehidupan itu sendiri — juga dikerudungi, mengapa wanita tidak? Padahal, di dalam tubuh wanitalah terjadi misteri cinta yang melahirkan kehidupan! Kerudung Misa menegaskan realita ini dan mengangkatnya ke dalam makna teologis yang tinggi dan mendalam.

Mungkin, itulah mengapa pudarnya praktek berkerudung Misa berbarengan dengan meluasnya gerakan revolusi seksual dan ideologi feminisme radikal pada tahun 1960-an, yang kemudian melahirkan aborsi dan kontrasepsi. Gerakan revolusi seksual berusaha meyakinkan para perempuan bahwa mereka sama dengan laki-laki, harus meniru laki-laki dalam segala hal, dan bahwa hal-hal yang feminin — termasuk peran sebagai istri dan ibu — hanya akan menjadi penghambat kebebasan dan prestasi. Kerudung Misa, beserta segenap nilai-nilai kesederhanaan dan keteraturan tradisional yang diwakilinya, merupakan tamparan keras di wajah sang feminis karena ia mengusung martabat perempuan sebagai makhluk yang unik, yang istimewa dalam feminitasnya, yang setara dengan, namun tidak sama dan tidak akan pernah sama dengan, laki-laki.

Holier-than-thou?

Tentunya, saya tidak menganggap bahwa wanita dengan kerudung Misa itu lebih suci dibanding wanita yang tidak berkerudung. Justru, karena saya belum sucilah, saya membutuhkan devosi ini untuk membantu mendisiplinkan kedagingan saya dan mengarahkan saya kepada Kehadiran Allah.
Saya juga mengakui, perubahan-perubahan yang saya jabarkan di atas berlangsung sedemikian halus (subtle), dan banyak yang lebih berkaitan dengan suasana internal jiwa saya, sehingga sulit rasanya jika harus dijelaskan melalui tulisan. Anda yang membaca ini pun mungkin susah membayangkannya, apalagi mempercayainya. Maka, bisa dipahami apabila anda masih merasa skeptis. Akan tetapi saya berani meyakinkan anda bahwa sungguh inilah yang terjadi: kerudung Misa mendorong pertobatan saya secara fisik dan membuat saya lebih memahami konsep kesederhanaan (modesty), kemurnian (chastity), dan keindahan (beauty) menurut Iman Katolik.

Kerudung Misa mungkin hanya terlihat sebagai sepotong kain yang cantik belaka, tetapi percayalah, sebagai sebuah bentuk devosi, kerudung Misa amat powerful dan dengan rahmat Allah, ia akan membantu anda lebih mudah tunduk kepada Sang Mempelai yang Tersalib.

***
Catatan:
 Dalam artikel ini, saya menggunakan istilah “kerudung Misa” (chapel veil), bukan “mantilla”, karena sesungguhnya mantilla adalah satu jenis khusus dari kerudung Misa, yaitu kerudung dari bahan lace (brokat atau renda). Sebenarnya, lebih akurat lagi jika saya menggunakan istilah “tudung kepala” (headcovering), mengingat praktek “menudungi kepala” bagi wanita Kristen tidak terbatas pada kerudung sungguhan, melainkan juga syal atau skarf, bandana besar, serta topi-topi resmi seperti yang rutin dikenakan oleh wanita-wanita Inggris hingga saat ini.

Sabda Hidup

Rabu, 25 Juni 2014
Hari Biasa
warna liturgi Hijau
Bacaan:
2Raj. 22:8-13; 23:1-3; Mzm. 119:33,34,35,36,37,40;
Mat. 7:15-20

Matius 7:15-20:
7:15 "Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.
7:16 Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?
7:17 Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.
7:18 Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.
7:19 Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.
7:20 Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.


Renungan:
Beberapa minggu yang lalu saya bersama beberapa teman berkunjung ke perkebunan buah mulik Pak Budi di Gunung Pati. Ada aneka macam buah yang dikembangkan di sana. Dan semua produknya berkualitas. Dalam ceritanya, kalau ingin menanam buah mesti memilih bibit yang baik, ditanam di tanah yang tepat dan baik. Bila prasyarat itu dipenuhi ditambah ketekunan merawat maka buah yang dihasilkan pun akan baik dan memiliki nilai jual yang tinggi. "tiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik" (Mat 7:17). Setiap pohon buah akan menghasilkan buahnya yang khas. Pohon durian akan menghasilkan durian. Pohon durian tidak mungkin menghasilkan kelapa (bdk Mat 7:17).
Kadang muncul dalam anganku mungkinkah bibit yang kurang baik bisa menghasilkan buah yang baik? Apakah perawatan yang baik tidak bisa mengubah pohon itu menghasilkan yang baik? Mungkin bisa mungkin juga tidak. Namun aku percaya bahwa pada dasarnya yang diciptakan Tuhan itu baik adanya. Maka walau kesannya bibitnya kurang baik, tetapi kalau dirawat dengan sungguh-sungguh maka akan menghasilkan buah yang baik.
Beberapa bulan yang lalu saya meminta bibit pisang yang kurang baik pada pak tukang yang kami minta menanam pisang di Domus. Empat buah bibit itu kutanam di bus beton. Kuberi pupuk. Di awal-awal sering kusiram. Dan ternyata hasilnya tidak mengecewakan. Keempat-empatnya berbuah dan sudah laku dijual Rm Bambang hehehe. Maka mari kita merawat dengan baik apa yang ada. Pada saatnya akan menghadirkan buah yang baik dan memiliki "nilai jual."

Kontemplasi:
Bayangkan dirimu dan segala potensimu. Apakah selama ini kau merawatnya dengan baik?

Refleksi:
Catatlah hal-hal yang harus kaulakukan untuk menghasilkan buah-buah yang baik dalam hidupmu.

Doa:
Tuhan Engkau menciptakanku baik adanya. Semoga aku pun setia memeliharanya agar pada saatnya menghasilkan buah yang baik. Amin.

Perutusan:
Aku akan merawat hidupku dengan baik sejak sekarang.