Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Thursday, March 28, 2019

Percikan Nas Jumat, 29 Maret 2019

Hari biasa Pekan III Prapaskah
warna liturgi Ungu

Bacaan-bacaan:
Hos. 14:2-10; Mzm. 81:6c-8a,8bc-9,10-11ab,14,17; Mrk. 12:28b-34. BcO Ibr. 5:11-6:8.

Bacaan Injil:
28 Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: "Hukum manakah yang paling utama?" 29 Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. 30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. 31 Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini." 32 Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: "Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. 33 Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan." 34 Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.

Memetik Inspirasi:
Kalau melihat sikap politik seseorang atau partai kadang kita heran. Mereka yang dulu kawan jadi lawan. Yang dulu lawan malah jadi kawan. Yang dulu tanda tangan memecat seseorang malah sekarang menjadi pendukung yang dipecat. Kita melihat inkonsistensi sikap. Tampaknya secara sinis bisa katakan bahwa kepentingan kekuasaan membuat hal ini terjadi. Mereka yang dirasa akan menguntungkan diikuti, yang tidak menguntungkan ditinggal.
Orang Saduki dan ahli Taurat tampaknya berseberangan. Mereka saling berbeda pendapat dan berebut pengaruh. Ketika Yesus bersoal jawab dengan orang Saduki, ahli Taurat melihat jawaban Yesus menguntungkan mereka. Maka mereka pun, yang biasanya berselisih dengan Yesus, langsung menyetujui dan mendukung pendapat Yesus.
Tampaknya dunia kita ini penuh dengan perebutan kepentingan. Orang saling berebut dan saling bersahabat karena kepentingan. Oke bila kepentingan itu demi kebaikan bersama, sebagaimana Yesus lalu memuji si ahli Taurat, layak kita ambil. Namun kalau kepentingan itu hanya untuk mencari kuasa wajib kita waspadai. Jangan sampai kita terjebak pada kepentingan orang-orang yang hanya ingin berkuasa, apalagi ingin berkuasa dan mencuri harta rakyat.

Refleksi:
Siapakah sahabatmu dan apa yang kalian perjuangkan?

Doa:
Tuhan bantulah kami agar peka menangkap tanda-tanda. Semoga kami pun berani mengambil pilihan untuk bersahabat. Dan semoga persahabatan kami berdaya bagi kehidupan bersama. Amin

Persahabatan yang berdaya
MoGoeng
Wates

Kasihilah Tuhan dan Sesama

Kasihilah Tuhan dan Sesama Dengan Segenap Jiwamu, Mengapa dan Bagaimana?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Bagaimana dan mengapa kita harus mengasihi Tuhan dan sesama? Inilah jawabannya. Semua tercatat dalam Bacaan Liturgi 29 Maret 2019 Hari Biasa Pekan Prapaskah III Bacaan Injil Markus 12:28b-34. Mari kita baca dan renungkan.
Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr
Sekali peristiwa datanglah seorang ahli Taurat kepada Yesus dan bertanya kepada-Nya, "Perintah manakah yang paling utama?" Jawab Yesus, "Perintah yang paling utama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita itu Tuhan yang esa. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatanmu. Dan perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini."
Berkatalah ahli Taurat itu kepada Yesus, "Guru, tepat sekali apa yang Kaukatakan, bahwa Dia itu esa, dan bahwa tidak ada allah lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati, dengan segenap pengertian, dan dengan segenap kekuatan, serta mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama dari pada semua kurban bakar dan persembahan."
Yesus melihat betapa bijaksana jawaban orang itu. Maka Ia berkata kepadanya, "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" Dan tak seorang pun berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. (Markus 12:28b-34.)
Referensi pihak ketiga
Mengapa dan bagaimana bisa mengasihi Tuhan dan sesama? Kasih adalah jantung dari kesempurnaan kita, dan ketika kita memegang hukum terbesar ini yakni mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, pikiran, dan kekuatan kita, maka semua hal yang lebih kecil dalam hidup akan jatuh ke tempatnya. Kasih bagi Tuhan dan sesama memberikan semua pengorbanan, cobaan, dan perbuatan baik kita.
Mari kita renungkan beberapa inspirasi pertanyaan reflektif ini. Apakah upaya saya semakin mengasihi Tuhan menjadi prioritas terbesar saya? Apa yang harus saya lakukan untuk bisa mengasihi Tuhan dan sesama? Sudahkah saya dengan rendah hati, percaya diri, dan dengan sungguh-sungguh meminta kepada Tuhan kita rahmat untuk membantu saya agar bisa mengasihi Tuhan dan sesama? Apakah saya menyadari dan berterima kasih kepada Tuhan atas kasih-Nya kepada kita?
Referensi pihak ketiga
Bagaimana menurut UCers Sahabat Peradaban Kasih? Semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.

JoharT Wurlirang, 28/3/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi Markus 12:28b-34.)

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶
Aloys budi purnomo Pr

Sent from my heart of abudhenkpr
"abdi Dalem palawija"
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan; Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang;
Andalan Kerohanian Katolik Pramuka Kwarda Jateng.

Lamunan Pekan III Prapaskah

Jumat, 29 Maret 2019

Markus 12:28b-34

12:28b. Lalu seorang ahli Taurat ..... datang kepada-Nya dan bertanya: "Hukum manakah yang paling utama?"
12:29 Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.
12:30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.
12:31 Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini."
12:32 Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: "Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia.
12:33 Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan."
12:34 Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, untuk selamat dimanapun orang harus memperhatikan tata aturan. Ini semua adalah demi penjagaan diri.
  • Tampaknya, baik dalam kehidupan sipil maupun agama ada tata hukumnya. Agar hidup benar orang harus mentaati segala perintah dan menghindari segala yang dilarang.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun teliti untuk memahami dan menjalani segala tata aturan dimanapun berada, orang dapat merasa ribet dan tak memperoleh kedamaian kalau tidak meletakkan semuanya dalam jiwa peduli kasih. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan selalu berkubang dalam alunan hidup kasih sehingga secara alami akan menjalani dengan enak segala tatanan dimanapun berada.
Ah, untuk bebas aturan orang dapat membeayai orang lain untuk menjalaninya.

Bersama Lingkungan Jombor


Misa Domus Pacis Puren biasa terjadi pada jam 18.00 atau 06.00 sore. Tetapi pada Kamis 21 Maret 2019 diundur satu jam. Para rama dapat menyantap menu malam pada jam 17.30. Dan pada jam 18.15 mulai ada beberapa orang datang. Rm. Bambang mengamati kedatangan beberapa orang itu lewat monitor CCTV Domus. Mereka mengendarai beberapa motor. Beberapa saat kemudian tampak sebuah bus parkir di depan pintu regol Domus di sebelah selatan. Orang-orang pun keluar dari bus. Di depan pintu kamar tamu tampak Mas Handoko memberi aba-aba masuk baik kepada orang-orang yang datang terdahulu maupun yang berjalan kaki dari bus. Kemudian masih ada mobil yang oleh Mas Handoko diberi kode agar masuk kompleks Domus yang memang kemudian parkir di lokasi serbaguna. Gambar di CCTV menunjukkan bahwa orang-orang itu kemudian masuk gedung induk Domus Pacis. Dan ketika meninggalkan layar monitor CCTV, Rm. Bambang melihat mereka sudah masuk Kapel Santo Barnabas yang bagian tabernakelnya baru saja direnovasi atas inisiatif Pak Naryo dan Bu Ninik, suami-istri relawan Domus. Tabernakelnya baru saja dibersihkan secara profesional dan diganti ornamen dalamnya. Bahkan Lampu Tuhan juga menjadi baru.

Orang-orang yang datang itu adalah umat Lingkungan Jombor, Paroki Mlati. Mereka datang untuk memperingati dua tahun wafat Ibu Maria Magdalena Rubinem, ibunda Rm. Bambang. Bu Rubinem cukup lama memang menjadi warga Lingkungan itu selama jualan gudeg. Misa Peringatan Arwah ini juga didukung oleh Paduan Suara Siluet dari Kraguman, Paroki Mlati. Bersama penghuni Domus dan relawan yang biasa siaga di Domus, misa ini diikuti oleh sekitar 70 orang. Rm. Bambang bersama Rm. Yadi dan Rm. Ria bersama-sama di altar menjadi selebran memimpin misa. Rm. Jaya, Rm. Tri Hartono, dan Rm. Harto ikut menjadi peserta. Sesudah misa selesai semua menikmati santap malam yang disediakan oleh Mbak Tatik dari Ambarrukmo. Setiap orang mendapatkan dos berisi snak ketika akan meninggalkan Domus Pacis Puren. Snak itu disediakan oleh Bu Mini dan Pak Kamto dari Plered yang isinya ada tambahan dari Bu Ratmi Madi dari Pringwulung.

Pak Jo, suami Ibu Ketua Lingkungan Jombor, pada saat misa selesai mendekati Rm. Bambang dan berkata "Rama, kados pundi benjang yen nyewu nyanyianipun mawi gangsa?" (Rama, bagaimana kalau besok peringatan 1000 hari untuk lagu-lagu memakai iringan gamelan?). Di samping Pak Jo berdiri seorang bapak yang ternyata Kepala Dukuh Bolawen, Paroki Warak. Bapak inilah yang menjadi pemilik gamelan yang siap menyediakannya untuk peringatan 1000 hari Bu Rubinem. Maka disepakati bahwa peringatan 1000 hari akan terjadi pada Minggu sore tanggal 5 Januari 2020 dan misa akan memakai bahasa Jawa.

Santo Tutilo

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 2758 Diterbitkan: 05 Agustus 2013 Diperbaharui: 31 Mei 2014

  • Perayaan
    28 Maret
  • Lahir
    Hidup pada Abad ke-9
  • Kota asal
    Swiss
  • Wafat
    Tahun 915 di Biara Saint Gall Switzerland | Oleh sebab alamiah
  • Kanonisasi
    Pre-Congregatio Sumber : Katakombe.Org

Tutilo hidup di akhir abad kesembilan dan awal abad kesepuluh. Ia mendapatkan pendidikan di Biara Benediktine Saint-Gall. Dua teman sekelasnya telah digeari “beato”. Ketiga orang ini menjadi biarawan di biara di mana mereka mengenyam pendidikan.

St. Tutilo adalah seorang dengan banyak bakat. Ia seorang penyair, pelukis potret, pematung, orator dan arsitek. Ia juga seorang ahli mesin. Bakatnya yang terutama adalah musik. Ia dapat memainkan semua alat musik yang dipergunakan para biarawan untuk liturgi mereka. Ia dan temannya, Beato Notker, menggubah lagu-lagu tanggapan liturgi. Hanya tiga puisi dan satu nyanyian tersisa dari seluruh karya Tutilo. Tetapi lukisan dan patung-patungnya masih dapat ditemukan sekarang di beberapa kota di Eropa. Lukisan-lukisan dan patung-patungnya diidentifikasikan sebagai karyanya karena ia senantiasa menandai karyanya dengan sebuah motto.

Akan tetapi, Tutilo tidak dimaklumkan sebagai seorang kudus karena bakat-bakatnya yang banyak itu. Ia seorang rendah hati yang ingin hidup hanya untuk Tuhan. Ia memuliakan Tuhan dengan cara-cara yang ia tahu: dengan melukis, membuat patung dan menggubah musik.
Tutilo dimaklumkan sebagai seorang kudus sebab ia melewatkan hidupnya dengan memuji dan mengasihi Allah. St. Tutilo wafat pada tahun 915. Sumber : Katakombe.Org

Wednesday, March 27, 2019

Ia Melawan Aku, Apa Maknanya?

Inspirasi dan Motivasi Sabda Siapa Tidak Bersama Aku, Ia Melawan Aku, Apa Maknanya? Inilah!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Kita sering berada dalam kubu tertentu dan seiring dengan itu berlawanan dengan pihak yang lain. Nah, dalam hal kebaikan dan kebenaran, kita berada di pihak mana dan siapa? Lalu bagaimana?
Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr
Inilah yang ditawarkan dalam Bacaan Liturgi 28 Maret 2019 Hari Biasa Pekan Prapaskah III Bacaan Injil Lukas 11:14-23. Yesus bersabda, "Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku." Apa arti dan makna yang bisa memberi inspirasi dan motivasi kepada kita? Namun baiklah kita baca terlebih dahulu kisah selengkapnya.
Sekali peristiwa Yesus mengusir dari seorang suatu setan yang membisukan. Ketika setan itu keluar, orang bisu itu dapat berkata-kata. Maka heranlah orang banyak. Tetapi ada di antara mereka yang berkata, "Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan."Ada pula yang meminta suatu tanda dari surga kepada Yesus untuk mencobai Dia.
Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata, "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. Jikalau Iblis itu terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata, bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul.
Jadi, jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Nah, merekalah yang akan menjadi hakimmu! Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Apabila seorang yang kuat dan yang bersenjata lengkap menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya. Tetapi jika seorang yang lebih kuat dari padanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya. Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku,dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, Ia mencerai-beraikan." (Lukas 11:14-23)
Pertama, mau pilih bersama Kebenaran atau kebohongan: Musuh-musuh Yesus tidak dapat menyangkal mukjizat yang baru saja Ia kerjakan, tetapi alih-alih menerima kuasa untuk mengusir roh jahat, mereka datang dengan tuduhan bahwa Beelzebub-lah yang menyebabkan mukjizat itu.
Kedua, Yesus melawan alasan yang diliputi iri dengan logika yang sederhana dan langsung: "Setiap kerajaan yang terbelah melawannya akan dihancurkan dan rumah akan runtuh melawan rumah." Tidak mungkin dengan kekuatan Beelzebul bahwa ia mengusir setan karena itu berarti Beelzebul mengusirnya setan sendiri. Logika sederhana menunjukkan bahwa ini tidak benar. Apakah iman saya membantu saya membedakan antara kebohongan yang saya dengar dan kebenaran?
Ketiga, Yesus menantang siapa saja untuk melawan kebohongan. Dia membersihkan jubahNya dari kejahatan, kebencian, kemarahan, nafsu, dan egoisme. Dia menebus umat manusia dari cengkeraman si jahat. Dapatkah saya benar-benar mengatakan bahwa saya menetapkan iman saya kepada Allah dan bahwa ia benar-benar membawa kebaikan terlepas dari malapetaka alami atau niat buruk dan tindakan orang lain, termasuk iblis itu sendiri?
Bagaimana menurut UCers Sahabat Peradaban Kasih? Semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

Goa Maria Mawar Musuk, Boyolali, 27/3/2019 »̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi Lukas 11:14-23)

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶
Aloys budi purnomo Pr

Sent from my heart of abudhenkpr
"abdi Dalem palawija"
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan; Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang;
Andalan Kerohanian Katolik Pramuka Kwarda Jateng.

Percikan Nas Kamis, 28 Maret 2019

Hari biasa Pekan III Prapaskah
warna liturgi Ungu

Bacaan-bacaan:
Yer. 7:23-28; Mzm. 95:1-2,6-7.8-9; Luk. 11:14-23. BcO Ibr. 4:14-5:10.

Bacaan Injil:
14 Pada suatu kali Yesus mengusir dari seorang suatu setan yang membisukan. Ketika setan itu keluar, orang bisu itu dapat berkata-kata. Maka heranlah orang banyak. 15 Tetapi ada di antara mereka yang berkata: "Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan." 16 Ada pula yang meminta suatu tanda dari sorga kepada-Nya, untuk mencobai Dia. 17 Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. 18 Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata, bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. 19 Jadi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Sebab itu merekalah yang akan menjadi hakimmu. 20 Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. 21 Apabila seorang yang kuat dan yang lengkap bersenjata menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya. 22 Tetapi jika seorang yang lebih kuat dari padanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata, yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya. 23 Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan."

Memetik Inspirasi:
Cabang olah raga beladiri selalu membuat kelas-kelas yang didasarkan salah satunya pada berat badan. Mereka yang berbadan besar satu kelas dengan yang berbadan besar. Tidak akan mereka yang berberatan 50an kg dilawankan dengan yang berberat 90an kg. Tentu hal ini untuk menjaga keseimbangan tanding.
Ketika kita mempunyai persenjataan yang memadai maka kita pun merasa aman dan siap menghadapi lawan. Namun kala lawan memiliki persenjataan yang lebih lengkap dan kuat kita perlu berpikir banget untuk menghadapinya (bdk. 11:21-22). Ketika gegabah dan hanya modal nekat resiko besar mengancam kita.
Hidup itu memang mengalir dari hari ke hari. Bila kita tidak waspada kita akan terbuai dengan nyamannya aliran tersebut. Maka hidup itu juga memerlukan strategi penataan yang baik dan tepat. Ada langkah-langkah yang perlu disiapkan sehingga kala berjalan mulus atau ada tantangan besar kita tetap bisa melaju selaras dengan target-target yang kita rancang. Tanpa perhitungan matang kita akan mudah mengalami kesulitan dalam kondisi aman sekalipun, apalagi dalam kondisi berat. Mari bersama Tuhan kita tata hidup kita dan kita singkirkan roh kemalasan.

Refleksi:
Bagaimana anda menata hidup?

Doa:
Tuhan kadang kami sering terlena dengan kemudahan yang Kauberikan. Kami merasa nyaman dan tidak menyiapkan diri untuk menghadapi situasi berat. Karenanya kami sering mengalami kesulitan. Bantulah kami untuk menata hidup kami. Semoga kami selalu siap dan mampu melangkah dalam kondisi apapun. Amin

Menata hidup
MoGoeng
Wates