Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Friday, April 3, 2015

TAHUN HIDUP BAKTI (6): TRIHARI SUCI

Beberapa rama Domus Pacis membuat refleksi mini sekitar PEGALAMAN IMAMATnya.
Hal ini dilakukan dalam rangka refleksi untuk mengisi Tahun Hidup Bakti.
EDISI TRIHARI SUCI

Rama Yadi:
Pada Jumat Agung harus tampil dalam pasio, namun batuk saya sangat mengganggu. Semoga Tuhan menolong, saya sangat khawatir.

Rama Harto:
Dengan kebangkitan Kristus kita diundang untuk mendalami semangat panggilan kita saling melayani dan bekerja sama demi perkembangan Gereja.


Rama Bambang:
Paskah adalah hadirnya kebaruan sehingga anak mengalami kebaruan anak, remaja kebaruan remaja, kaum muda kebaruan kaum muda, tua kebaruan tua, dan lansia kebaruan lansia.
 
Rama Agoeng:
Bebaskan diri dari dengki dan rakus maka kebangkitan Kristus hidup dan menghidupi.


Komunitas Rama Domus Pacis mengucapkan
S E L A M A T    P A S K A H    2 0 1 5 

Thursday, April 2, 2015

Kisah Sengsara Menurut Yohanes, Jumat Agung 3 April 2015





Rekan-rekan yang baik!

Tiga pokok dalam Kisah Sengsara yang dibacakan Jumat Agung ini (Yoh 18:1-19:42) saya bicarakan dengan sang empunya kisah itu. Surat menyurat kami berkisar pada hubungan antara kata-kata terakhir Yesus di salib, yakni “sudah selesai” (Yoh 19:30, Yunaninya “tetelestai”) dan catatan Yohanes mengenai mengasihi “sampai pada kesudahannya” (Yoh 13:1, “eis telos”). Sempat juga saya minta penjelasan mengenai jubah Yesus yang diundi para serdadu (Yoh 19:23-24). Pokok ketiga bincang-bincang ini menyangkut arti “darah dan air” yang keluar dari lambung Yesus (Yoh 19:34). Beliau tak berkeberatan surat-menyurat ini diteruskan ke milis ini. Malah senang, begitulah pesannya pagi ini.

Salam,
A. Gianto
———————

Oom Hans yang baik!

Di sini saya sedang menyiapkan ulasan mengenai Kisah Sengsara yang dibacakan pada hari Jumat Agung. Terpikir kata-kata Yesus “Sudah selesai!” (Yoh 19:30). Seorang rekan memahaminya sebagai ungkapan rasa lega, penderitaan sudah lewat, rampung karya keselamatannya. Tapi saya kok malah tidak merasa cocok dengan tafsir ini. Kok seperti tonil, layar turun, tamat, selesai, kukut, bubar. Aslinya di situ kan tertulis “tetelestai”, dari kata “telos”, yakni akhir yang merangkum sebuah perjalanan dari awal, yang memberi arti pada semua yang telah dijalani.

Rasa-rasanya Yesus hendak mengatakan kini sudah terlaksana sampai utuh.
Kayak versi Latin yang cespleng “consummatum est” dengan dua m itu. Kan consummatum itu dari consummare, con + summa, “merangkum semua jadi utuh”, dan bukan dari consumere satu m, “menghabiskan” (makanan, waktu, duit) yang ada hubungannya dengan konsumsi. Orang Jakarta bilang udah kecapai, kalau di Jawa ya wis klakon. Oom gimana?

Ada lagi soal lain. Kalau ndak salah, Oom seperti hendak menggarisbawahi gagasan bahwa Yesus itu kurban Paskah yang diterima Yang Di Atas sana sehingga benar-benar menjadi silih dosanya umat manusia. Karena itu Oom memberi kronologi lain, yaitu penyaliban terjadi sebelum Paskah, ndak seperti Mark dll. yang menaruh Paskah pada perjamuan malam terakhir. Iya kan? Saya sudah pernah katakan di sebuah milis bahwa perjamuan terakhir di mana Yesus membasuh kaki murid-murid itu bukan perjamuan Paskah, melainkan sebelumnya.

Pada awal perjamuan itu disebutkan bahwa Yesus mengasihi orang-orangnya yang di dunia ini dan betul mengasihi “eis telos”, sampai pada kesudahannya, sampai tuntas (Yoh 13:1). Apa ini semacam antisipasi atau padanan bagi kata-kata Yesus “tetelestai”, sudah terlaksana, yang diucapkannya pada saat terakhir di salib? Bila begitu kedua ayat itu memang saling menjelaskan. Yesus mengasihi orang-orangnya sampai terlaksana sesuatu yang mengubah arah hidup mereka, dan hidupnya sendiri, begitu kan?

Ada yang tanya nomer hapenya Oom, ingin kirim SMS buat Oma Miryam seperti ini 2UBOK4ever, + :-)). Kawan-kawan itu sekarang genggamannya henpon sih, dan bukan lagi rosario, Gus
———————

Dear Gus, Peace!

You are absolutely right. The truth is, when he uttered “tetelestai” (Yoh 19:30), Jesus was actually addressing his Heavenly Father, “Here I am, I’ve done everything to the end, now take it all!” The Indonesian version “Sudah selesai!” – “It’s over!” – doesn’t sound quite right, I agree. Why not try “Sudah terlaksana!” or something to that effect? As I said, the word “tetelestai” was spoken by Jesus to his Father. But we overheard it. It teaches a lot about him, about God, about what love means, the thing he dwelt on during the last supper. At first I thought he was just being odd. But then this “consummatum est” is the key to all that.

Glad to hear you see the connection between “tetelestai” (your “sudah terlaksana”) here and “eis telos” (your “sampai tuntas”) said about his act during that supper (Yoh 13:1). Yes, his death on the cross gives a fuller sense to what “loving one’s own who are in the world (=still under the threat of darkness, evil power)” means. He accompanies them, and us, in our darkest paths. We can be sure now that we won’t be abandoned by the one sent by the Father to bring us back to Him, the Source of Light.

As for your second question, quite, Jesus is the true Paschal lamb. Not that the Almighty likes blood gushing out of this man, by no means! The point is, his blood acts like the lamb’s blood in Exodus 12:13 (to guarantee that the owner of the house will be spared from the plague – saved from death). Thus when Jesus died on the cross in that sense, the Almighty took him and cast out the power of darkness for good. That’s the Light of His Word. Did you get it? You’re the exegete.

By the way, don’t try to reconcile my chronology of the passion with Mark’s story. The washing of the feet, about which he and the other two young men know nothing, is the preface to the true Passover meal, the sacrifice of the Lamb of God on the cross, not to the last supper. I read your note on the washing of the feet. Yes, Jesus wants to share his origin and destiny so that all of us can become sons and daughters of the Almighty.

Ma Miryam is okay. She was amused by the SMS. A young seraph taught her to read the emoticons. She dictated her response: Thanx >:), ;-*. But let’s not talk gibberish.

As ever,
Hans
——————–

Dear Oom Hans!

Terima kasih buat penjelasan dalam surat barusan. Ada soal lain. Mark, Matt, Luc cerita bahwa serdadu yang berjaga di tempat penyaliban mengundi pakaian Yesus di antara mereka. Oom juga ke arah itu, tapi lebih mendetail. Ada catatan bahwa selain membagi-bagi pakaian, empat serdadu di situ mengundi jubah Yesus yang terbuat dari satu tenunan kain utuh tanpa jahitan sehingga tetap utuh. Dan dalam Yoh 19:24 bahkan ada kutipan dari Mazmur 22:19 “mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka dan membuang undi atas jubahku.”

Apa ada penjelasannya? Mohon pencerahan. Apa dengar semua ini dari Oma Mir, Bu Mary Kleopas dan Tante Lena yang katanya ada di kaki salib waktu itu?

Sampai lain kali,
Gus
———————

Dear Gus,

I’ve seen everything myself, I’ve heard everything Semuanya kulihat dan kudengar sendiri. Kalau mau, tanyakan kepada ibu-ibu yang juga ada di situ. Semua ini kuceritakan pada kalian supaya kalian bisa ikut serta dalam peristiwa itu. Kami ini mata dan telinga kalian bagi peristiwa itu.
Mengapa diingat Mazmur 22:19 “mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka dan membuang undi atas jubahku”? Ah, kami waktu itu baru sadar bahwa yang terjadi pada Yesus sesungguhnya sudah sejak lama diketahui orang bijak dari zaman dulu. Yesus memang sedang dikepung lawan-lawannya. Ia tidak dianggap bermartabat manusia lagi, kecuali oleh kami yang mengikutinya. Bahkan pakaiannya pun dijarah. Kalian kan tahu, bagi kami orang Semit zaman dulu, pakaian itu membuat orang yang memakainya kelihatan, membuat kentara siapa orangnya. Pakaian itu seperti badan, apalagi jubah yang utuh dari atas ke bawah itu. Semuanya ditanggalkan dari diri Yesus sehingga sulit kelihatan lagi bahwa ia juga ada harganya sebagai manusia. Tak perlu kalian cari-cari tafsiran apa ini jubah imam menurut praktek liturgi Yahudi juga terbuat dari tenunan utuh. Memang ada kemiripannya, tapi bukan ke arah itulah pembicaraan itu waktu. Hanya mau kutegaskan bahwa kini kemungkinannya untuk masih sedikit tampak sebagai manusia sudah dijarah habis-habisan sampai tak bersisa. Yang tinggal hanya penderitaan yang sulit diterima akal. Bahkan juga oleh kami yang dekat dengannya.

Ingat kan, Pilatus sendiri mencoba menunjukkan dalam 19:5 “Lihatlah orang itu!”, tapi orang banyak di alun-alun itu sudah jadi lupa daratan dan tak mampu lagi berpikir jernih untuk mengenalinya. Apalagi ketika ia ada di salib. Pakaian yang bakal menunjukkan ia masih bisa dianggap orang juga sudah dibagi-bagikan. Habis. Ini kami saksikan sendiri. Dan Mazmur keramat tadi membantu. Seperti pengarang Mazmur itu, kami juga percaya akan datang pertolongan dari atas. Yang Maha Kuasa sendiri nanti akan memberinya “pakaian” yang tak bisa ditanggalkan orang lagi. Malah nanti Dia akan menjadi pakaiannya. Yesus akan semakin dikenal sebagai yang sedemikian dekat dengan Yang Ilahi sendiri.

Jangan berhenti mencari hal-hal baru dalam peristiwa yang dikisahkan mengenai Yesus itu. Penulis Injil hanya memberi kesaksian. Kalau kauterima kesaksian itu maka kalian sendiri akan ikut memasuki peristiwa itu dan menemukan makna-makna baru. Bukankah demikian kehidupan yang lahir kembali dari atas, seperti yang pernah dikatakan kepada Nikodemus dulu (Yoh 3:3 dan 7)? Dan dalam peristiwa kali ini ia juga datang – tengok Yoh 19:39 – ia membawa minyak mur dan minyak gaharu, dan tidak sedikit, sekitar 50 kati. Ini penghargaan bagi seorang Raja yang berangkat ke perjalanan jauh – ke atas sana!

Salam teguh,
Hans
——————

Oom Hans yang baik!

Terima kasih banyak. Tak pernah saya duga kaitannya dengan Nikodemus!

Masih ada pertanyaan lagi, maaf kalau terasa kelewat ingin tahu. Ketika lembing ditusukkan, yang keluar dari lambung Yesus ialah darah dan air (Yoh 19:34). Apa sih maksudnya? Mark dkk. tidak tahu-menahu tentang perkara itu. Kemarin saya konsultasi perkara itu dengan Luc ketika ngobrol lewat Skype. Dia malah kasih komentar, ah, Oom Hans kita itu aneh-aneh, paranormal sih.

Salam hangat buat Oma Miryam begini 4U.
Gus
——————–

Dear Gus,

Menjawab soal darah dan air yang keluar dari lambung Yesus. Begini.

Seperti para leluhur kami dahulu, kami membayangkan darah sebagai tempatnya kehidupan dan air sebagai kekuatan yang menopang dan melangsungkan kehidupan. Ketika Yesus meninggal di kayu salib, yang mengalir keluar dari dirinya ialah kehidupan dan kekuatan penopangnya.
Itulah yang hendak kusampaikan.

Memang aku bukan ahli anatomi, tapi aku melihat lebih jauh. Kan sudah kukatakan dalam bab 19 bahwa aku menyaksikan semua ini. Juga sekarang ini masih tetap aku ingin berbagi pengalaman dan kesaksian itu dengan kalian.Eh, sudah jam dua malam nih!

:-o B4N!
Hans

Sabda Hidup

Jumat, 03 April  2015
JUMAT AGUNG
PANTANG & PUASA
warna liturgi Merah
Bacaan:
Yes. 52:13 - 53:12; Mzm. 31:2,6,12-13,15-16,17,25; Ibr. 4:14-16; 5:7-9; Yoh. 18:1-19:42. BcO Ibr. 9:11-28

Yohanes 18:1-19:42:
Yoh 18:1Setelah Yesus mengatakan semuanya itu keluarlah Ia dari situ bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan mereka pergi ke seberang sungai Kidron. Di situ ada suatu taman dan Ia masuk ke taman itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya.
Yoh 18:2Yudas, yang mengkhianati Yesus, tahu juga tempat itu, karena Yesus sering berkumpul di situ dengan murid-murid-Nya.
Yoh 18:3Maka datanglah Yudas juga ke situ dengan sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi lengkap dengan lentera, suluh dan senjata.
Yoh 18:4Maka Yesus, yang tahu semua yang akan menimpa diri-Nya, maju ke depan dan berkata kepada mereka: "Siapakah yang kamu cari?"
Yoh 18:5Jawab mereka: "Yesus dari Nazaret." Kata-Nya kepada mereka: "Akulah Dia." Yudas yang mengkhianati Dia berdiri juga di situ bersama-sama mereka.
Yoh 18:6Ketika Ia berkata kepada mereka: "Akulah Dia," mundurlah mereka dan jatuh ke tanah.
Yoh 18:7Maka Ia bertanya pula: "Siapakah yang kamu cari?" Kata mereka: "Yesus dari Nazaret."
Yoh 18:8Jawab Yesus: "Telah Kukatakan kepadamu, Akulah Dia. Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi."
Yoh 18:9Demikian hendaknya supaya genaplah firman yang telah dikatakan-Nya: "Dari mereka yang Engkau serahkan kepada-Ku, tidak seorangpun yang Kubiarkan binasa."
Yoh 18:10Lalu Simon Petrus, yang membawa pedang, menghunus pedang itu, menetakkannya kepada hamba Imam Besar dan memutuskan telinga kanannya. Nama hamba itu Malkhus.
Yoh 18:11Kata Yesus kepada Petrus: "Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?"
Yoh 18:12Maka pasukan prajurit serta perwiranya dan penjaga-penjaga yang disuruh orang Yahudi itu menangkap Yesus dan membelenggu Dia.
Yoh 18:13Lalu mereka membawa-Nya mula-mula kepada Hanas, karena Hanas adalah mertua Kayafas, yang pada tahun itu menjadi Imam Besar;
Yoh 18:14dan Kayafaslah yang telah menasihatkan orang-orang Yahudi: "Adalah lebih berguna jika satu orang mati untuk seluruh bangsa."
Yoh 18:15Simon Petrus dan seorang murid lain mengikuti Yesus. Murid itu mengenal Imam Besar dan ia masuk bersama-sama dengan Yesus ke halaman istana Imam Besar,
Yoh 18:16tetapi Petrus tinggal di luar dekat pintu. Maka murid lain tadi, yang mengenal Imam Besar, kembali ke luar, bercakap-cakap dengan perempuan penjaga pintu lalu membawa Petrus masuk.
Yoh 18:17Maka kata hamba perempuan penjaga pintu kepada Petrus: "Bukankah engkau juga murid orang itu?" Jawab Petrus: "Bukan!"
Yoh 18:18Sementara itu hamba-hamba dan penjaga-penjaga Bait Allah telah memasang api arang, sebab hawa dingin waktu itu, dan mereka berdiri berdiang di situ. Juga Petrus berdiri berdiang bersama-sama dengan mereka.
Yoh 18:19Maka mulailah Imam Besar menanyai Yesus tentang murid-murid-Nya dan tentang ajaran-Nya.
Yoh 18:20Jawab Yesus kepadanya: "Aku berbicara terus terang kepada dunia: Aku selalu mengajar di rumah-rumah ibadat dan di Bait Allah, tempat semua orang Yahudi berkumpul; Aku tidak pernah berbicara sembunyi-sembunyi.
Yoh 18:21Mengapakah engkau menanyai Aku? Tanyailah mereka, yang telah mendengar apa yang Kukatakan kepada mereka; sungguh, mereka tahu apa yang telah Kukatakan."
Yoh 18:22Ketika Ia mengatakan hal itu, seorang penjaga yang berdiri di situ, menampar muka-Nya sambil berkata: "Begitukah jawab-Mu kepada Imam Besar?"
Yoh 18:23Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau kata-Ku itu salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau kata-Ku itu benar, mengapakah engkau menampar Aku?"
Yoh 18:24Maka Hanas mengirim Dia terbelenggu kepada Kayafas, Imam Besar itu.
Yoh 18:25Simon Petrus masih berdiri berdiang. Kata orang-orang di situ kepadanya: "Bukankah engkau juga seorang murid-Nya?"
Yoh 18:26Ia menyangkalnya, katanya: "Bukan." Kata seorang hamba Imam Besar, seorang keluarga dari hamba yang telinganya dipotong Petrus: "Bukankah engkau kulihat di taman itu bersama-sama dengan Dia?"
Yoh 18:27Maka Petrus menyangkalnya pula dan ketika itu berkokoklah ayam.
Yoh 18:28Maka mereka membawa Yesus dari Kayafas ke gedung pengadilan. Ketika itu hari masih pagi. Mereka sendiri tidak masuk ke gedung pengadilan itu, supaya jangan menajiskan diri, sebab mereka hendak makan Paskah.
Yoh 18:29Sebab itu Pilatus keluar mendapatkan mereka dan berkata: "Apakah tuduhan kamu terhadap orang ini?"
Yoh 18:30Jawab mereka kepadanya: "Jikalau Ia bukan seorang penjahat, kami tidak menyerahkan-Nya kepadamu!"
Yoh 18:31Kata Pilatus kepada mereka: "Ambillah Dia dan hakimilah Dia menurut hukum Tauratmu." Kata orang-orang Yahudi itu: "Kami tidak diperbolehkan membunuh seseorang."
Yoh 18:32Demikian hendaknya supaya genaplah firman Yesus, yang dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati.
Yoh 18:33Maka kembalilah Pilatus ke dalam gedung pengadilan, lalu memanggil Yesus dan bertanya kepada-Nya: "Engkau inikah raja orang Yahudi?"
Yoh 18:34Jawab Yesus: "Apakah engkau katakan hal itu dari hatimu sendiri, atau adakah orang lain yang mengatakannya kepadamu tentang Aku?"
Yoh 18:35Kata Pilatus: "Apakah aku seorang Yahudi? Bangsa-Mu sendiri dan imam-imam kepala yang telah menyerahkan Engkau kepadaku; apakah yang telah Engkau perbuat?"
Yoh 18:36Jawab Yesus: "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini."
Yoh 18:37Maka kata Pilatus kepada-Nya: "Jadi Engkau adalah raja?" Jawab Yesus: "Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku."
Yoh 18:38Kata Pilatus kepada-Nya: "Apakah kebenaran itu?" (18-38b) Sesudah mengatakan demikian, keluarlah Pilatus lagi mendapatkan orang-orang Yahudi dan berkata kepada mereka: "Aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya.
Yoh 18:39Tetapi pada kamu ada kebiasaan, bahwa pada Paskah aku membebaskan seorang bagimu. Maukah kamu, supaya aku membebaskan raja orang Yahudi bagimu?"
Yoh 18:40Mereka berteriak pula: "Jangan Dia, melainkan Barabas!" Barabas adalah seorang penyamun.
Yoh 19:1Lalu Pilatus mengambil Yesus dan menyuruh orang menyesah Dia.
Yoh 19:2Prajurit-prajurit menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya. Mereka memakaikan Dia jubah ungu,
Yoh 19:3dan sambil maju ke depan mereka berkata: "Salam, hai raja orang Yahudi!" Lalu mereka menampar muka-Nya.
Yoh 19:4Pilatus keluar lagi dan berkata kepada mereka: "Lihatlah, aku membawa Dia ke luar kepada kamu, supaya kamu tahu, bahwa aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya."
Yoh 19:5Lalu Yesus keluar, bermahkota duri dan berjubah ungu. Maka kata Pilatus kepada mereka: "Lihatlah manusia itu!"
Yoh 19:6Ketika imam-imam kepala dan penjaga-penjaga itu melihat Dia, berteriaklah mereka: "Salibkan Dia, salibkan Dia!" Kata Pilatus kepada mereka: "Ambil Dia dan salibkan Dia; sebab aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya."
Yoh 19:7Jawab orang-orang Yahudi itu kepadanya: "Kami mempunyai hukum dan menurut hukum itu Ia harus mati, sebab Ia menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah."
Yoh 19:8Ketika Pilatus mendengar perkataan itu bertambah takutlah ia,
Yoh 19:9lalu ia masuk pula ke dalam gedung pengadilan dan berkata kepada Yesus: "Dari manakah asal-Mu?" Tetapi Yesus tidak memberi jawab kepadanya.
Yoh 19:10Maka kata Pilatus kepada-Nya: "Tidakkah Engkau mau bicara dengan aku? Tidakkah Engkau tahu, bahwa aku berkuasa untuk membebaskan Engkau, dan berkuasa juga untuk menyalibkan Engkau?"
Yoh 19:11Yesus menjawab: "Engkau tidak mempunyai kuasa apapun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas. Sebab itu: dia, yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya."
Yoh 19:12Sejak itu Pilatus berusaha untuk membebaskan Dia, tetapi orang-orang Yahudi berteriak: "Jikalau engkau membebaskan Dia, engkau bukanlah sahabat Kaisar. Setiap orang yang menganggap dirinya sebagai raja, ia melawan Kaisar."
Yoh 19:13Ketika Pilatus mendengar perkataan itu, ia menyuruh membawa Yesus ke luar, dan ia duduk di kursi pengadilan, di tempat yang bernama Litostrotos, dalam bahasa Ibrani Gabata.
Yoh 19:14Hari itu ialah hari persiapan Paskah, kira-kira jam dua belas. Kata Pilatus kepada orang-orang Yahudi itu: "Inilah rajamu!"
Yoh 19:15Maka berteriaklah mereka: "Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!" Kata Pilatus kepada mereka: "Haruskah aku menyalibkan rajamu?" Jawab imam-imam kepala: "Kami tidak mempunyai raja selain dari pada Kaisar!"
Yoh 19:16Akhirnya Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan. (19-16b) Mereka menerima Yesus.
Yoh 19:17Sambil memikul salib-Nya Ia pergi ke luar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota.
Yoh 19:18Dan di situ Ia disalibkan mereka dan bersama-sama dengan Dia disalibkan juga dua orang lain, sebelah-menyebelah, Yesus di tengah-tengah.
Yoh 19:19Dan Pilatus menyuruh memasang juga tulisan di atas kayu salib itu, bunyinya: "Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi."
Yoh 19:20Banyak orang Yahudi yang membaca tulisan itu, sebab tempat di mana Yesus disalibkan letaknya dekat kota dan kata-kata itu tertulis dalam bahasa Ibrani, bahasa Latin dan bahasa Yunani.
Yoh 19:21Maka kata imam-imam kepala orang Yahudi kepada Pilatus: "Jangan engkau menulis: Raja orang Yahudi, tetapi bahwa Ia mengatakan: Aku adalah Raja orang Yahudi."
Yoh 19:22Jawab Pilatus: "Apa yang kutulis, tetap tertulis."
Yoh 19:23Sesudah prajurit-prajurit itu menyalibkan Yesus, mereka mengambil pakaian-Nya lalu membaginya menjadi empat bagian untuk tiap-tiap prajurit satu bagian?dan jubah-Nya juga mereka ambil. Jubah itu tidak berjahit, dari atas ke bawah hanya satu tenunan saja.
Yoh 19:24Karena itu mereka berkata seorang kepada yang lain: "Janganlah kita membaginya menjadi beberapa potong, tetapi baiklah kita membuang undi untuk menentukan siapa yang mendapatnya." Demikianlah hendaknya supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci: "Mereka membagi-bagi pakaian-Ku di antara mereka dan mereka membuang undi atas jubah-Ku." Hal itu telah dilakukan prajurit-prajurit itu.
Yoh 19:25Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena.
Yoh 19:26Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!"
Yoh 19:27Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.
Yoh 19:28Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia?supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci?:"Aku haus!"
Yoh 19:29Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus.
Yoh 19:30Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.
Yoh 19:31Karena hari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib?sebab Sabat itu adalah hari yang besar?maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan.
Yoh 19:32Maka datanglah prajurit-prajurit lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus;
Yoh 19:33tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya,
Yoh 19:34tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.
Yoh 19:35Dan orang yang melihat hal itu sendiri yang memberikan kesaksian ini dan kesaksiannya benar, dan ia tahu, bahwa ia mengatakan kebenaran, supaya kamu juga percaya.
Yoh 19:36Sebab hal itu terjadi, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci: "Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan."
Yoh 19:37Dan ada pula nas yang mengatakan: "Mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam."
Yoh 19:38Sesudah itu Yusuf dari Arimatea?ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi?meminta kepada Pilatus, supaya ia diperbolehkan menurunkan mayat Yesus. Dan Pilatus meluluskan permintaannya itu. Lalu datanglah ia dan menurunkan mayat itu.
Yoh 19:39Juga Nikodemus datang ke situ. Dialah yang mula-mula datang waktu malam kepada Yesus. Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira lima puluh kati beratnya.
Yoh 19:40Mereka mengambil mayat Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat.
Yoh 19:41Dekat tempat di mana Yesus disalibkan ada suatu taman dan dalam taman itu ada suatu kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang.
Yoh 19:42Karena hari itu hari persiapan orang Yahudi, sedang kubur itu tidak jauh letaknya, maka mereka meletakkan mayat Yesus ke situ.

Renungan:
Jumat Agung. Pada hari ini kita merenungkan dan menghadirkan kembali peristiwa Yesus disalib. Yesus disalib bukan karena perbuatanNya namun karena kedengkian tua-tua dan imam-imam kepala atas sepak terjangNya yang membuat banyak orang percaya kepadaNya. Mereka yang dengki pun akhirnya membuat aneka macam alasan bahwa Yesus menghujat Allah dan memutuskan bahwa Yesus harus disingkirkan. Selain itu ada juga peran salah satu murid yang menjualNya yaitu Yudas. Yudas menjual Yesus pada imam-imam kepala dan menyerahkan Dia kepada mereka. Kedengkian dan kerakusan akan uang ini membawa kematian Yesus di salib.
Tri Hari Suci menjadi kesempatan bagi kita semua untuk meluruskan diri dari rasa dengki dan rakus. Rasa dengki dan rakus hanya akan menghantar pada kematian bahkan kematian tragis. Rasa dengki mesti diganti dengan sikap menghargai dan meneguhkan. Sikap rakus diganti dengan semangat berbagi. Kekuatan penghargaan dan peneguhan serta semangat Yesus mesti tetap hidup dan menghidupi setiap pribadi. Yesus yang bersengsara dan bangkit menjadi cermin kita dalam melangkahkan sejarah hidup ini. Jerat godaan tetap ada, namun sarana untuk terhindar dari jeratan itu telah dianugerahkan secara berlimpah.

Kontemplasi: 
Hadirlah dalam peristiwa yang dikisahkan oleh Injil Yoh. 18:1-19:42.

Refleksi:
Apa arti sengsara dan kematian Tuhan Yesus bagimu?

Doa:
Ya Tuhan semoga dengan sengsara dan wafat PuteraMu dikubur pula rasa dengki dan kerakusan dunia. Kuatkanlah kami untuk bangkit. Amin.

Perutusan:
Aku akan mengubur rasa dengki dan kerakusanku. -nasp-

Lamunan Pekan Suci

Hari Jumat Agung
Jumat 3, April 2015

Ibrani 4:14-16; 5:7-9 (bdk Injil: Kisah Sengsara Yohanes 18:1-19:42)

4:14 Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita.
4:15 Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.
4:16 Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.
5:7 Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.
5:8 Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya,
5:9 dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya,

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, penderitaan adalah hal yang amat tak diinginkan oleh manusia. Sakit sedikit saja orang sudah berusaha untuk mendapatkan kesembuhan.
  • Tampaknya, orang akan berusaha membebaskan diri dari derita akibat perlakukan yang tidak adil. Di dalam pengadilan pun orang dapat berjuang untuk naik banding agar terbebas dari putusan yang tidak benar.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa seberat apapun segala derita yang muncul sebagai risiko upaya dan atau perjuangan demi kebaikan justru menjadi jalan untuk mempertajam kesetiaan orang terhadap aura nurani di kedalaman batin. Dalam yang ilahi orang akan memperdalam dan mengembangkan kesetiaan batin terhadap kebaikan justru lewat duka lara yang menyertai hidupnya.
Ah, kalau punya kekuatan orang harus melawan perlakukan busuk.

Wednesday, April 1, 2015

Ulasan Injil: Kamis Putih (Yoh 13:1-15)



By dalam

HANYA Injil Yohanes sajalah yang menyampaikan kisah pembasuhan kaki para murid (Yoh 13:1-15) Petikan ini dibacakan pada Pesta Perjamuan Tuhan pada hari Kamis dalam Pekan Suci. Memang dahulu lazim orang membasuh kaki sendiri sebelum masuk ke ruang perjamuan agar masuk dengan kaki bersih. Hanya tamu yang amat dihormati sajalah, misalnya seorang guru atau orang yang dituakan, akan dibasuh kakinya. Tapi ini dilakukan sebelum perjamuan mulai.

Dalam Injil Yohanes peran-peran tadi dibalik. Yesus sang guru kini membasuh kaki para muridnya. Lagi pula pembasuhan ini terjadi selama perjamuan sendiri, bukan sebelumnya seperti biasa dilakukan orang waktu itu. Kiranya hendak disampaikan hal yang tidak biasa. Pembasuhan kaki di sini tidak ditampilkan semata-mata sebagai tanda memasuki perjamuan dengan bersih, tetapi untuk menandai hal lain. Apa itu? Baiklah didekati kekhususan Yohanes dalam menyampaikan kejadian-kejadian terakhir dalam hidup Yesus.

Kaitan dengan Bacaan Pertama Kel 12:1-8; 11-14

Yohanes menyampaikan kejadian pada hari-hari terakhir Yesus dengan cara yang agak berbeda dengan ketiga Injil lainnya. Dalam Injil Markus, Matius dan Lukas, kedatangan Yesus ke Yerusalem mengawali peristiwa-peristiwa yang mengantar masuk ke dalam penderitaan, kematian serta kebangkitannya nanti, termasuk juga perjamuan Paskah. Yohanes lain.

Dalam Injil Yohanes kedatangan Yesus ke Yerusalem dan pembersihan Bait Allah dipisahkan dari peristiwa salib dan kebangkitan. Bagi Yohanes, serangkaian kejadian yang berakhir dengan kebangkitan itu justru berawal pada perjamuan malam terakhir. Berbeda juga dengan ketiga Injil lainnya, perjamuan ini bukan perjamuan Paskah, melainkan perjamuan malam yang diadakannya sebelum Paskah. Bagi Yohanes, Paskah yang sejati terjadi dalam pengorbanan Yesus di salib.

Dengan demikian Injil Yohanes membaca kembali pengorbanan Yesus di salib sebagai perayaan Paskah yang dahulu mulai sebagai ingatan akan saat Tuhan memimpin umatNya keluar dari tanah Mesir dengan kuasa besar sebagaimana dibacakan dari Kel 12:1-8; 11-14.  Darah domba kurban Paskah yang dahulu dioleskan pada bingkai pintu rumah (Kel 12:8) menandai darah yang terpoles pada kayu salib. Salib menjadi ambang memasuki hidup baru bersama Yang Ilahi.  Bingkai pintu yang terpoles darah domba itu juga menjadi tanda bahwa di rumah itu tinggal umat yang akan dipimpin keluar dari tanah Mesir dan penghuninya tidak kena bencana dan hukuman (Kel 12:12-13). Salib yang menandai darah pengorbanan Yesus menjadi tanda bahwa yang berada di balik salib itu ialah orang-orang yang diselamatkan. Namun dalam peristiwa perjamuan yang dikisahkan Yohanes, semua ini baru terjadi nanti pada saat Yesus disalibkan, wafat, dan kurbannya menjadi tanda keselamatan siapa saja yang ada bersamanya.

Sekarang, dalam perayaan perjamuan malam sebelum Paskah hendak disampaikan bagaimana semua ini bisa terjadi, bagaimana pengorbanan ini memang menurut kemauan Yang Maha Kuasa dan utusannya, yakni Yesus, kini siap menjalankannya. Pengorbanan ini dijalaninya karena mengasihi “sampai pada kesudahannya” yang diungkapkan Yohanes pada awal perjamuan ini (Yoh 13:1). Marilah kita simak dari dekat peristiwa perjamuan ini

Membasuh Kaki Para Murid

Yohanes juga menekankan, Yesus sadar bahwa dirinya “datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah” (ay. 3). Karena itu mereka yang mengenalnya akan mengenali Yang Ilahi dari dekat. Ini semua diajarkan Yesus kepada para murid terdekat pada perjamuan malam terakhir itu dengan membasuh kaki mereka. Dia yang sadar berasal dari Allah dan sedang kembali menuju kepadaNya ingin menunjukkan bahwa orang-orang terdekat itu sedemikian berharga, sedemikian terhormat.
Lebih dari itu, ia ingin berbagi “sangkan paran” – dari siapa dan menuju ke siapa –  dengan mereka. Inilah yang dimaksud dengan mengasihi sepenuhnya (ay. 1, Yunaninya “eis telos”). Tidak setengah-setengah melainkan hingga tujuan kedatangannya terlaksana, yakni membawa manusia ke dekat Allah, asal terang dan kehidupan.

Petrus terheran-heran dan tak bisa menerima gurunya membasuh kakinya. Yesus mengatakan bahwa kelak ia akan mengerti walaupun kini belum menangkapnya (ay. 6-7). Tetapi Petrus belum puas dan bersikeras menolak dibasuh kakinya oleh gurunya itu. Pada saat inilah Yesus menjelaskan, ” Jikalau aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam aku.” (ay. 8). Dia yang “sangkan paran”-nya ialah Allah sendiri mau berbagi kehidupan dengan para murid. Dan berbagi asal dan tujuan kehidupan inilah jalan keselamatan bagi manusia.

Bila asal dan akhir itu Allah sendiri, tentunya yang di maksud ialah Allah sumber terang, sumber kehidupan. Utusannya itu datang ke dunia yang masih berada dalam ancaman kuasa gelap untuk membawa kembali orang-orang yang dekat padanya kembali ke sumber terang, kepada Allah, ke sumber kehidupan sendiri. Itulah “sangkan paran” yang diungkapkan di dalam perjamuan ini.

Berbekal teladan

Pada kesempatan itu Yesus juga mengatakan bahwa pembasuhan kaki itu disampaikan sebagai teladan bagi para murid, agar mereka berbuat seperti itu satu sama lain (ay. 15). Teladan ini kemudian menjadi bekal kehidupan orang-orang yang percaya bahwa Yesus itu datang dari Allah dan pulang kepadaNya setelah berhasil memperkenalkan siapa Allah itu sesungguhnya.

Boleh dikatakan saat itulah lahir kumpulan orang yang hidup berbekal sikap Yesus yang menganggap sesama sedemikian berharga sehingga pantas dilayani dan dihormati. Inilah Gereja dalam ujudnya yang paling rohani, paling spiritual. Dalam arti inilah Gereja berbagi “sangkan paran” dengan Yesus sendiri. Hidup meng-Gereja yang berpusat pada ekaristi baru bisa utuh bila dijalani dengan bekal yang diberikan Yesus tadi. Hanya dengan cara itu Gereja akan tetap memiliki integritas. Memang masih berada di dunia, masih berada dalam kancah pergulatan dengan kekuatan-kekuatan gelap, tetapi arahnya jelas, ke asal dan tujuan tadi: ke Sumber Terang sendiri bersama dengan dia yang diutus olehNya.

Karena itu tak perlu heran bila para murid – dan Gereja – tidak semuanya bersih. Yesus berkata dalam ay. 11 “Tidak semua kamu bersih.” Kata-kata itu bukan mencela melainkan mengakui kenyataan bahwa ada kekuatan-kekuatan gelap. Nanti pada saat ia kembali kepada Allah, kekuatan ilahi akan tampil dengan kebesarannya dan saat itu jelas kekuatan-kekuatan gelap tidak lagi menguasai meskipun tetap dapat menyakitkan. Penderitaan ini tidak akan memporakperandakan kumpulan orang-orang yang percaya kepadanya. Malah menguatkan harapan.

Salam hangat,
A. Gianto

Lamunan Pekan Suci

Hari Kamis Putih
Kamis, 2 April 2015

Yohanes 13:1-15

13:1. Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.
13:2 Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia.
13:3 Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah.
13:4 Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya,
13:5 kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu.
13:6 Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: "Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?"
13:7 Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak."
13:8 Kata Petrus kepada-Nya: "Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya." Jawab Yesus: "Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku."
13:9 Kata Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!"
13:10 Kata Yesus kepadanya: "Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua."
13:11 Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: "Tidak semua kamu bersih."
13:12 Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu?
13:13 Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.
13:14 Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu;
13:15 sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, dalam menjalani tugas seseorang tidak hanya memanfaatkan kekuatan dan peluang yang ada demi kesuksesannya. Dia juga harus memperhitungkan kemungkinan adanya ancaman yang dapat menghambat.
  • Tampaknya, bila berhadapan dengan ancaman dalam menjalani tugas orang akan berjuang menangkal. Orang tidak akan membiarkan penghambat menjalankan aksinya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa kesungguhan menjalani tugas membuat orang tidak akan menghindari berbagai ancaman dan akan mengubahnya menjadi tantangan yang memurnikan pelaksanaan tugas makin menjadi penghayatan pelayanan dan keteladan bagi orang lain. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan menghayati status sosialnya menjadi kesempatan menghadirkan kesegaran dalam hidup bersama terutama dalam menghadapi ancaman.
Ah, jaman sekarang kegiatan apapun harus menghasilkan uang.

Sabda Hidup

Kamis, 02 April  2015
KAMIS PUTIH
warna liturgi putih
Bacaan:
Kel. 12:1-8,11-14; Mzm. 116:12-13,15-16bc,17-18; 1Kor. 11:23-26; Yoh. 13:1-15; BcO Yer. 20:7-18.

Yohanes 13:1-15:
1 Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya. 2 Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia. 3 Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah. 4 Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, 5 kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. 6 Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: "Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?" 7 Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak." 8 Kata Petrus kepada-Nya: "Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya." Jawab Yesus: "Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku." 9 Kata Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!" 10 Kata Yesus kepadanya: "Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua." 11 Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: "Tidak semua kamu bersih." 12 Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? 13 Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. 14 Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; 15 sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.

Renungan:
Hari ini umat Katolik merayakan hari raya Kamis Putih. Kamis Putih menjadi hari yang mengawali Tri Hari Suci. Di sana Yesus bersama para rasul mengadakan perjamuan malam. Di tengah perjamuan tersebut Yesus membasuh kaki para rasul.  Sang Guru mengambil posisi dan membasuh kaki para muridNya (Yoh 13: 4-5).
Mungkin kita mengira hal tersebut tindakan biasa. Namun sebenarnya tindakan membasuh kaki biasanya dilakukan oleh pelayan, budak. Maka layaklah Petrus menolak (Yoh 13:8). Namun bagi Yesus tindakan membasuh kaki para murid ini menjadi lambang mempersatukan mereka dengan diriNya (Yoh 13:9). Mereka yang tidak mau dibasuh tidak mendapat bagian dalam Dia. Mereka yang dibasuh ikut ambil bagian dalam perutusanNya, melayani.
Kamis Putih ini menjadi salah satu kesempatan bagi kita untuk merenungkan sikap kita dalam melayani. Siapapun dari kita dipanggil untuk melayani. Semakin tinggi posisi kita semakin besar tugas pelayanan yang kita emban. Jabatan tinggi bukanlah ruang untuk menguasai sesama, tetapi sebagai media untuk melayani sesama. Mereka yang menjabat dipanggil untuk melayani.

Kontemplasi: 
Bayangkan kisah dalam Injil Yoh. 13:1-15. Jadah salah satu pemerannya.

Refleksi:
Bagaimana sikap pelayanan dalam jabatan yang sekarang kauemban?

Doa:
Ya Tuhan semoga aku layak sebagai bagianMu. Semoga jiwa pelayanan makin hidup dalam diriku. Amin.

Perutusan:
Aku akan menumbuhkan semangat pelayananku. -nasp-