Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Friday, February 3, 2017

Sabda Hidup



Sabtu, 04 Februari 2017
Yohanes deBritto, RudolfoAequaviva, Fransiskus Pacheco, Katarina dr Ricci, Yosef dari Leonisa
warna liturgi Hijau 
Bacaan
30 Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. 31 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat. 32 Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. 33 Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.

Renungan:
Pulang ke rumah setelah seharian bekerja kiranya menjadi kerinduan setiap orang. Sesampai di rumah ia bisa beristirahat, santai-santai bersama keluarga dan melepaskan diri dari aneka maca tuntutan kerja. Rumah menjadi daya yang mengembalikan energi seseorang.
Setelah diutus para murid pun kembali kepada Yesus. Mereka menceritakan pengalamannya. Yesus pun mengajak mereka untuk beristirahat dan masuk dalam keheningan. “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika” (Mrk 6:31).
Rumah adalah tempat kita untuk beristirahat dan hening. Maka kiranya kita pun perlu menata rumah kita sedemikian rupa agar setiap kali pulang kita merasakan kedamaian dan keheningan sehingga kita bisa beristirahat seketika dan mengembalikan daya energi kita. Rumah yang bersih dan nyaman akan melegakan siapapun yang bersinggah. Bersama Tuhan kita beristirahat di rumah kita.

Kontemplasi:
Bayangkan dirimu pulang ke rumah setelah seharian bekerja. Rumah yang bersih dan nyaman menyambutmu dan memulihkan energimu.

Refleksi:
Bagaimana menata rumah kita agar kita menemukan ketenangan dan energi baru di sana?

Doa:
Tuhan berkatilah rumah dan keluargaku. Semoga kerinduanku untuk selalu kembali ke mereka terjaga dan aku menemukan energi baru di sana. Amin.

Perutusan:
Aku akan menjadikan rumahku sebagai tempat untuk merasakan keheningan dan menimba energi. -nasp-

Thursday, February 2, 2017

Gairah Ultah Imamat


Sebetulnya sebagai acara, peristiwa 31 Januari 2017 di Domus Pacis adalah hal rutin. Ini adalah acara yang selalu terjadi setahun empat kali yang dimulai pada Desemebr 2011: Januari, Juli, Agustus, dan Desember. Yang terjadi adalah ulang tahun imamat. Untuk Januari 2017 yang dirayakan adalah ulang tahun imamat Rm. Harto yang ke 33 dan Rm. Bambang yang ke 36. Berkaitan dengan besar anggaran yang disediakan, sebenarnya setiap rama yang dirayakan mendapat jatah 25 orang untuk diundang. Tetapi sekitar pertengahan Januari 2017 Rm. Bambang bertanya kepada Rm. Harto "Njenengan ngersakke ngundang pinten?"(Anda ingin mengundang berapa orang?) yang mendapat jawaban "Seket" (50 orang). Inilah yang menyebabkan Rm. Bambang tidak mengundang seorang pun dari sanak keluarganya. Hal ini dilandasi oleh pertimbangan sudang banyak yang diundang. Yang masuk dalam undangan adalah umat Lingkungan Fransiskus Asisi Puren, para relawan Domus yang kebanyakan membantu penyediaan masakan harian Komunitas, keluarga rama yang dirayakan, kelompok kor, dan salah satu Lingkungan pilihan. Dalam Misa Ulang Tahun Imamat hari itu kor yang datang adalah kelompok The Blero Choir, dan lingkungan pilihan adalah Lingkungan Santa Yohana Sleman Timur.

Para tamu yang hadir berjumlah lebih dari 200 orang. Dari kursi plastik sebanyak 225 hanya ada beberapa yang tak diduduki. Padahal disamping 8 orang rama Domus ada rama-rama tamu, yaitu Rm. FX Sukendar (Administrator Keuskupan), Rm. Purwatmo (Rektor Domus yang tinggal di Seminari Tinggi Kentungan), Rm. Subiyanto (dari Pastoran Pringwulung), Rm. Kirjito (dari PPSM Muntilan), dan Rm. Jayasewaya (dari Wisma Petrus Kentungan). Acara ultah imamat ini dibuka oleh Rm. Agoeng sebagai pengacara. Sambutan disampaikan oleh Rm. C Hadiyanta sebagai Minister Domus Pacis. Rm. Hadi, yang tinggal di Pastoran Pringwulung, adalah minister baru yang menggantikan Rm. Toto yang pindah ke Paroki Bantul. Sesudah sambutan Misa dilaksanakan dengan Rm. Sukendar sebagai selebran utama. Selebran lainnya adalah Rm. Harto, Rm. Bambang, Rm. Purwatmo, Rm. Rm. Gito, dan Rm. Hadiyanta. Misa saat itu sungguh terasa amat menggembirakan. The Blero Choir sungguh tampil amat bagus dengan lagu-lagu yang diiringi musik nada kroncong oleh Pak Loly yang menjadi koordinator sekaligus pelatih. Seragam merah kor memberikan nuansa Imlek yang baru 3 hari telewati. Rm. Kendar memimpin dengan suara dan tampilan yang terasa mengungkapkan perhatian dan sukacita relung hati.

Ketika sampai bagian pada homili, Rm. Kendar meminta Rm. Harto dan Rm. Bambang menyampaikan sharing pengalaman imamatnya. Sharing kedua rama ini menghadirkan suasana segar dan membuat semua yang hadir tertawa terpingkal-pingkal.
  • Rm. Harto lebih menekankan pengalaman di masa kanak-kanak hingga ada tawaran masuk seminari dari almarhum Rm. Natasusila "Suk kowe dadi rama, ya?" (Besok jadi rama, ya?). "Mboten" (Tidak) jawab Rm. Harto yang membuat semua tertawa. Karena menekankan pengalaman masa kanak-kanak, cukup banyak mantan teman Rm. Harto di SD Tarakanita mendapatkan undangan. Ketika Rm. Kendar meminta mereka berdiri, Rm. Bambang berkomentar "Akeh wedoke" (Banyak perempuanna). Kisah kanak-kanak Rm. Harto ternyata banyak yang lucu termasuk ketika beliau menunggu adik di tempat tidur sambil mendoakannya. Tiba-tiba adiknya terjatuh dan tidak bernafas lagi. Baru kemudian datang seorang tetangga tua dan menolong doa dan adiknya bernafas lagi.. 
  • Rm. Bambang memanfaatkan kisah  Rm. Bambang ketika mulai bersharing membuka dengan memanfaatkan kisah itu "Aja njaluk sembahyang Rm. Harto. Ndhak mati" (Jangan minta doa Rm. Harto. Nanti dapat mati). Rm. Bambang dalam sharing menekankan salah satu cap yang disandang dalam berkarya, yaitu "ngawur" sehingga ketika bingung tentang tugas membangun Museum yang Hidup, Mgr. Haryo mengatakan "Njenengan pun kulina ngawur, ta. Tandangi mawon. Yes sae kula melu seneng, yen awon kula apunten" (Jalankan saja. Kalau baik saya ikut senang, kalau keliru saya ampuni). Rm. Bambang juga berceritera tentang bagaimana menjalani proses ikut menggerakkan acara Temu Pastoral yang mulai mewajibkan hadirnya para rama paroki. Terhadap sharing Rm. Harto dan Rm. Bambang, Rm. Administrator menyimpulkan bahwa ada kekayaan rohani dan pola pastoral yang ada dalam Gereja.

Sehabis misa ternyata ada pemotongan kue tart yang disediakan oleh para tamu dari Lingkungan SlemanTimur. Ketika Rm. Agoeng selesai memimpin doa pembuka makan dan meminta para tamu menuju kedalam bangunan induk Domus Pacis, kebanyakan tamu malah menyerbu Rm. Harto dan Rm. Bambang untuk memberikan salam. Tidak sedikit tamu yang meminta berfoto baik perorangan maupun bersama. Para rama seperti mengalami reuni kecil antar rama dengan makan bersama di refter Domus. Tetapi beberapa rama kemudian menghampiri kerumunan umat yang menikmati santap malam secara prasmanan dari catering Bu Iskak yang biasa membantu dengan memberi diskon khusus untuk Komunitas Rama Domus Pacis. Dalam makan bersama ini juga terjadi foto-foto bersama. Beberapa relawan membagikan dos snak untuk para tamu yang meninggalkan Domus. Para relawan termasuk Bu Iskak tampak puas menyaksikan persediaan konsumsi tinggal sedikit dan menerima ucapan "Matur nuwun nggih. Eco sanget dhaharanipun" (Terima kasih. Masakannya enak sekali).

Sabda Hidup


Jumat, 03 Februari 2017
Blasius, Ansgarius
warna liturgi Hijau 
Bacaan
14 Raja Herodes juga mendengar tentang Yesus, sebab nama-Nya sudah terkenal dan orang mengatakan: "Yohanes Pembaptis sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam Dia." 15 Yang lain mengatakan: "Dia itu Elia!" Yang lain lagi mengatakan: "Dia itu seorang nabi sama seperti nabi-nabi yang dahulu." 16 Waktu Herodes mendengar hal itu, ia berkata: "Bukan, dia itu Yohanes yang sudah kupenggal kepalanya, dan yang bangkit lagi." 17 Sebab memang Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai isteri. 18 Karena Yohanes pernah menegor Herodes: "Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!" 19 Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untukmembunuh dia, tetapi tidak dapat, 20 sebab Herodes segan akan Yohanes karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Tetapi apabila ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia. 21 Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada hari ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarny perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka di Galilea. 22 Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyukakan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu: "Minta dari padaku apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!", 23 lalu bersumpah kepadanya: "Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!" 24 Anak itu pergi dan menanyakan ibunya: "Apa yang harus kuminta?" Jawabnya: "Kepala Yohanes Pembaptis!" 25 Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: "Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam!" 26 Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya. 27 Raja segera menyuruh seorang pengawal dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes. Orang itu pergi dan memenggal kepala Yohanes di penjara. 28 Ia membawa kepala itu di sebuah talam dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya. 29 Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan.

Renungan:
Orang yang bingung bisa terpancing untuk melakukan tindakan yang tak terkendali. Mereka khawatir apa yang disembunyikan, yang ditutupi akan terbuka, mereka takut akan diturunkan dan tidak mendapatkan kuasa lagi maka mereka akan berusaha menyingkirkan orang yang akan membongkar kedoknya dan mengganggu kekuasaannya.
Herodes kebingungan dengan kehadiran Yesus. Ia menduga Yesus adalah Yohanes yang ia kagumi sekaligus ia benci. Yohanes yang telah ia penggal kepalanya. Ia resah “Yohanes yang bangkit” itu akan membuka kedoknya dan membalas dendam. Ia pun ingin menyingkirkannya.
Kuasa memang memungkinkan seseorang berbuat macam-macam. Kala kuasa itu mulai menghilang maka ia akan mencari cara agar keburukannya selama berkuasa tak tercium. Aneka benteng akan dibangun. Aneka usaha untuk menghalangi yang berkuasa akan dibuat. Seringkali tindakan yang dilandasi kebingungan akan ngawur. Maka rasanya ketika berkuasa gunakan kekuasaan bukan untuk kepentingan sendiri. Gunakan kekuasaan untum kesejahteraan rakyat.

Kontemplasi:
Pejamkan matamu sejenak. Lihatlah para mantan penguasa di negeri ini.

Refleksi:
Tulislah bagaimana menjaga amanah kekuasaan yang diberikan kepada kita.

Doa:
Tuhan jagailah para pemimpin kami supaya mereka sungguh mempertanggungjawabkan kekuasaannya untuk kebaikan rakyat. Buatlah para mantan pemimpin legawa membiarkan penggantinya berkuasa. Amin.

Perutusan:
Aku akan mempertanggungjawabkan kekuasaan yang diberikan padaku untuk kebaikan bersama. -nasp-

Lamunan Pekan Biasa IV

Jumat, 3 Februari 2017

Markus 6:14-29

6:14. Raja Herodes juga mendengar tentang Yesus, sebab nama-Nya sudah terkenal dan orang mengatakan: "Yohanes Pembaptis sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam Dia."
6:15 Yang lain mengatakan: "Dia itu Elia!" Yang lain lagi mengatakan: "Dia itu seorang nabi sama seperti nabi-nabi yang dahulu."
6:16 Waktu Herodes mendengar hal itu, ia berkata: "Bukan, dia itu Yohanes yang sudah kupenggal kepalanya, dan yang bangkit lagi."
6:17 Sebab memang Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai isteri.
6:18 Karena Yohanes pernah menegor Herodes: "Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!"
6:19 Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat,
6:20 sebab Herodes segan akan Yohanes karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Tetapi apabila ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia.
6:21 Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada hari ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarny perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka di Galilea.
6:22 Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyukakan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu: "Minta dari padaku apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!",
6:23 lalu bersumpah kepadanya: "Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!"
6:24 Anak itu pergi dan menanyakan ibunya: "Apa yang harus kuminta?" Jawabnya: "Kepala Yohanes Pembaptis!"
6:25 Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: "Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam!"
6:26 Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya.
6:27 Raja segera menyuruh seorang pengawal dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes. Orang itu pergi dan memenggal kepala Yohanes di penjara.
6:28 Ia membawa kepala itu di sebuah talam dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya.
6:29 Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa penjahat adalah orang yang sudah tak berperasaan. Absennya kekuatan rasa ini membuatnya kejam.
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa penjahat adalah orang yang tak memiliki kepekaan. Paling tidak dia sudah tidak mudah tersentuh pada kejadian yang tidak memberikan kenyamanan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul dekat dengan kedalaman batin, orang jahat bukanlah sosok yang tak berperasaan dan tumpul kepekaannya, tetapi makin mendalam kejahatannya dia sebenarnya makin sensitif terutama pada hal-hal yang menyinggung kepentingannya dan inilah yang menjadi minyak pengobar api kekejaman. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan mewaspadai diri terhadap perasaan tidak enak yang bertentangan dengan kemauannya.
Ah, yang mengganggu kepentingan itulah yang jahat.

Wednesday, February 1, 2017

Lingkungan Gergunung


"Wonten tamu saking Klaten badhe kepanggih Rama Bambang" (Ada tamu dari Klaten akan bertemu dengan Rm. Bambang) kata Pak Tukiran kepada Rm. Bambang yang sedang mengetik pada Jumat 27 Januari 2017 sekitar jam 14.00. Rm. Bambang berkata "Nggih, diaturi mriki" (Ya, dipersilahkan kesini) dan Pak Tukiran langsung menuju ruang tamu. Rm. Bambang menyiapkan diri di depan pintu kamarnya. Ketika para tamu masuk, begitu melihat Rm. Bambang beberapa langsung berjalan cepat menghampiri dan bergantian menjabat erat tangannya. Pak Tukiran segera mengambil beberapa kursi untuk para tamu yang berjumlah 13 orang. Mereka ditemui oleh Rm. Bambang di teras depan kamarnya sambil melihat pembangunan kapel.

"Niki pun rencana dangu je. Kangge ulang tahun Lingkungan, umat gadhah rencana tuwi rama" (Ini adalah rencana yang sudah lama dibuat. Untuk acara ulang tahun Lingkungan, umat berencana mengunjungi rama) salah satu tamu berbicara yang disahut oleh pertanyaan Rm. Bambang "Lingkungan ngendi?" (Lingkungan mana). Kemudian terjadi omongan antara para tamu dan Rm. Bambang "Lingkungan Santo Antonius" ... "Daerah ngendi?" (Daerah mana?) ... "Gergunung. Rumiyin jaman Rm.Bambang bagian saking Bramen" (Itu daerah Gergunung. Pada jaman Rm. Bambang, itu termasuk Bramen). Mereka juga berceritera bahwa di dalam rencana umat akan datang dengan bus besar. Tetapi ada informasi bus besar tak dapat sampai di Domus Pacis. Maka kini yang datang hanya perwakilan umat. Rm. Bambang memang pernah berkarya di Paroki Maria Assumpta Klaten pada tahun 1981-1982. Di Domus ada 2 rama lain yang juga pernah di Klaten, yaitu Rm. Joko dan Rm. Gito. Salah satu tamu kemudian berhasil membangunkan Rm. Gito yang kemudian bergabung. "Saiki aku dadi kanca meneh karo Rama Bambang" (Kini aku dapat berteman lagi serumah dengan Rm. Bambang) kata Rm. Gito yang selama di Klaten Rm. Bambang menjadi pastor pembantu beliau.


Lamunan Pesta

Yesus Dipersembahkan di Kenisah
Kamis, 2 Februari 2017

Lukas 2: 22-40

2:22 Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan,
2:23 seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah",
2:24 dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.
2:25. Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya,
2:26 dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan.
2:27 Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat,
2:28 ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya:
2:29 "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu,
2:30 sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu,
2:31 yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa,
2:32 yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel."
2:33 Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia.
2:34 Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan
2:35 --dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri--,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."
2:36 Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya,
2:37 dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa.
2:38 Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.
2:39 Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea.
2:40 Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, di dalam agama ada persembahan yang wajib dilakukan oleh para pengikut. Orang dalam agama harus melepas bagian kepemilikannya untuk diserahkan untuk kepentingan beragama.
  • Tampaknya, persembahan itu juga sering disebut korban. Di situ sedikit atau banyak orang merasakan ketidakenakan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, setidak enak apapun kewajiban persembahan di dalam hidup beragama, hal itu tidak akan merugikan karena pada dasarnya kesejatian persembahan adalah pupuk penumbuhkembangan kehidupan agar orang menikmati kepenuhan kebijakan dan anugerah ilahi. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan selalu membuka diri akan penyelenggaraan-Nya dengan melakukan kewajiban beragama.
Ah, susahnya beragama karena harus pakai setor dana segala.

Sabda Hidup

Kamis, 02 Februari 2017
Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah
warna liturgi Puti
Bacaan
Mal. 3:1-4 atau Ibr. 2:14-18; Mzm. 24:7,8,9,10; Luk. 2:22-40. BcO Kel 13:1-3a, 11-16

Lukas 2:22-40:
22 Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, 23 seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah", 24 dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. 25 Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, 26 dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. 27 Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, 28 ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: 29 "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, 30 sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, 31 yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, 32 yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel." 33 Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia. 34 Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan 35 dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri?,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang." 36 Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, 37 dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. 38 Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem. 39 Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. 40 Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya. 

Renungan:
Seorang pemandu bakat bisa mengenali siapa orang yang akan bersinar pada saatnya. Ia tahu anak tertentu akan menjadi pemain bola yang hebat. Maka walau masih anak-anak dia pun berani mengontrak anak tersebut. Ada semacam kepekaan para pemandu untuk menangkap signal yang dia butuhkan.
Simeon menantikan kehadiran Mesias. Ia pasti mempelajari ciri-ciri Mesias tersebut. Bertahun-tahun ia menantikan kedatangan-Nya. Ketika ia bertemu dengan Yesus yang dipersembahkan ia langsung mengenali bahwa yang ditemuinya adalah Mesias. Masa penantian dan pembelajarannya membuatnya peka menangkap kehadiran Mesias.
Sering kita pun menantikan sesuatu. Sering juga ketika yang kita nantikan datang kita tidak menyadarinya. Menanti tidak cukup hanya dengan menunggu. Supaya kita tidak kehilangan momen untuk mengenali yang kita nanti kita pun perlu mengisi penantian kita dengan mempelajari yang kita nanti. Pembelajaran itu mengolah kepekaan kita untuk mengenali yang kita nanti.

Kontemplasi:
Bayangkan dirimu lagi menantikan sesuatu. Ketika ia datang apakah anda menyadarinya.

Refleksi:
Tulislah apa yang anda lakukan ketika menantikan sesuatu.

Doa:
Tuhan semoga aku tidak lengah melihat kehadiran yang aku nanti. Semoga aku memiliki kepekaan Simeon. Amin.

Perutusan:
Aku akan mengisi penantianku dengan aneka pembelajaran yang mendukung. -nasp-