Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Saturday, February 2, 2019

Santo Jean-Théophane Vénard, MEP

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 3841 Diterbitkan: 09 Agustus 2013 Diperbaharui: 28 Juli 2017


  • Perayaan
    02 Februari - 24 November (sebagai salah satu dari para Martir Vietnam)
  • Lahir
    21 November 1829
  • Kota asal
    Saint-Loup, Poitiers, Perancis
  • Wilayah karya
    Vietnam
  • Wafat
    02 February 1861 di Hanoi Vietnam | Martir
    Dipenggal kepala; lalu kepalanya dipasang pada tiang sebagai peringatan kepada orang Kristen yang lain.
    Potongan kepalanya kemudian dapat diselamatkan lalu bersama tubuhnya dikirim ke Paris.
    Dimakamkan di makam Biara Mission Etrangères de Paris (MEP)
  • Beatifikasi
    02 Mei 1909 oleh Paus Santo Pius X
  • Kanonisasi
    19 Juni 1988 oleh Paus Beato Yohanes Paulus II Sumber : Katakombe.Org

Imam Perancis yang kudus ini telah berangan-angan untuk menjadi seorang martir semenjak ia masih kecil. Ia bersekolah untuk menjadi seorang imam. Kemudian ia masuk seminari untuk para misionaris di Paris, Perancis. Keluarganya, yang sangat ia kasihi, teramat sedih memikirkan bahwa kelak, setelah menjadi imam, ia akan meninggalkan mereka. Pada masa itu perjalanan tidaklah semudah seperti sekarang ini. Theophane sadar bahwa perjalanannya menyeberangi samudera luas ke Timur hampir dapat dipastikan akan memisahkannya dari keluarganya sepanjang hidupnya.
“Saudariku tersayang,” demikian tulisnya dalam salah satu suratnya, “betapa aku menangis ketika membaca suratmu. Ya, aku sadar sepenuhnya akan penderitaan besar yang aku timbulkan bagi keluarga kita. Aku pikir, terlebih-lebih lagi betapa dahsyat penderitaan itu bagimu, adikku terkasih. Tetapi, tidakkah kamu berpikir bahwa aku mencucurkan banyak air mata juga? Dengan mengambil keputusan demikian, aku sadar bahwa aku akan menyebabkan penderitaan teramat besar bagi kalian semua. Siapakah yang mencintai keluarganya lebih daripada aku? Seluruh kebahagiaanku di dunia ini berasal dari sana. Tetapi Tuhan, yang telah mempersatukan kita semua dalam ikatan cinta kasih mesra, ingin menarikku dari sana.”
Setelah ditahbiskan menjadi imam, Theophane berangkat ke Hongkong. Ia mulai berlayar pada bulan September 1852. Ia belajar beberapa bahasa asing selama lebih dari setahun di sana. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya ke Tonkin (Vietnam).  Pada masa itu di Vietnam umat Kristen  sedang dianiaya atas perintah penguasa Minh-Menh yang sangat anti-Kristen.  Penganiayaan hebat ini  telah memaksa para imam dan uskup untuk bersembunyi di hutan-hutan dan gua-gua. Pastor Venard, yang kesehatannya tidak pernah baik, sangat menderita oleh keadaan ini namun ia dengan gigih tetap melayani umatnya secara sembunyi-sembunyi pada malam hari.  Suatu ketika ia bisa menemukan sebuah lokasi yang aman, dan ia lalu bertahan dilokasi tersebut  sambil tetap melayani umat di Tonkin selama hampir empat tahun. 
Sayangnya Pastor Vernard kemudian dikhianati oleh seorang umatnya. Ia ditangkap pada tanggal 30 November 1860. Dia diadili karena kejahatan menjadi seorang Kristen, dan diberi banyak kesempatan untuk menyelamatkan dirinya sendiri dengan menyangkal imannya akan Kristus.  Dengan tegas ia menolak.  Ia lalu dirantai dan dimasukkan dalam kurungan selama dua bulan.
Sikapnya yang lemah lembut meluluhkan hati semua orang, bahkan para sipir penjara. Ia berhasil menulis sepucuk surat kepada keluarganya di mana ia menulis, “Semua orang di sekitarku adalah orang yang beradab serta sopan. Banyak dari antara mereka yang mengasihiku. Dari pejabat tinggi hingga prajurit yang terendah sekali pun, semua menyesalkan bahwa hukum negara menjatuhkan hukuman mati. Aku tidaklah mereka siksa seperti saudara-saudaraku yang lain.”
Namun demikian, simpati mereka tidaklah dapat menyelamatkan nyawanya. St. Theophane wafat sebagai martir dengan cara dipenggal kepalanya pada tanggal 2 Februari 1861.  Saat hukuman mati telah dilaksanakan dan para algojo telah pergi, kerumunan umat berebut mencelupkan saputangan mereka pada darahnya (sebagai relikwi).
Pastor Venard dinyatakan kudus oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 19 Juni 1988. Ia adalah salah seorang dari Para Martir Vietnam yang pestanya dirayakan pada tanggal 24 November.

Setiap Martir Adalah Persembahan Bagi Gereja

 Sumber : Katakombe.Org

Friday, February 1, 2019

Ikut Berdana Pembangunan Rumah Tua


Ini adalah kejadian pada Jumat 1 Februari 2019. Seperti biasa sejak bulan September 2018, Setiap permulaan bulan Rm. Bambang membawa kuitansi ketika waktu makan pagi. Dia mendatangi Rm. Ria, Rm. Tri Hartono, Rm. Harto, dan Rm. Yadi satu per satu di tempat duduk masing-masing. Tetapi untuk hari itu ada perbedaan. Biasanya Rm. Bambang menyerahkan satu amplop berisi uang ke masing-masing lalu sang penerima menghitungnya dan kemudian menandatangani kuitansi. Pada hari itu semua uang berada dalam satu amplop tetapi sudah dikemas untuk masing-masing rama. Dan sebelum menyerahkan ke masing-masing, Rm. Bambang berkata "Uang saku Pebruari iki arep takdum wae. Engko sing sida arep nyumbang, serahke wae terserah pira" (Uang saku untuk Februari akan saya bagi saja. Nanti yang akan menyumbang, serahkan saja berapa). Uang pun dibagikan dan kemudian para rama bergantian menandatangani.

Di tengah-tengah makan pagi itu, Rm. Tri Hartono mengulurkan tangan yang jari-jarinya memegang jatah uang sakunya. Seorang karyawan membantu menerima uang itu dan menyerahkan kepada Rm. Bambang. Rm. Yadi yang tempat duduknya di sebelah kiri Rm. Bambang juga menyodorkan uang jatahnya. "Wau Rama Harto kula takeni kok mboten nyerahke. Jawabanipun 'Engko'" (Tadi saya bertanya ke Rm. Harto mengapa tidak menyerahkan. Beliau menjawab 'Nanti') kata Mas Abas ketika berjumpa dengan Rm. Bambang. Rm. Bambangpun memintanya untuk memberi tahu Rm. Harto "Pun mboten sah nyerahke" (Tak usah menyerahkan saja). Peristiwa itu sebenarnya berawal pada pembicaraan pada bulan Januari 2019. Pada waktu itu ada surat dari panitia pembangunan rumah tua untuk rama-rama praja Keuskupan Agung Semarang di Kentungan yang ditandatangani oleh Rm. Dodit. Itu adalah surat pengumpulan dana. Para rama Domus yang biasa makan bersama menanggapi dengan keputusan menyerahkan uang saku Februari untuk ikut berdana.

Percikan Nas Sabtu, 02 Februari 2019

Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah
warna liturgi Putih

Bacaan-bacaan: 
Mal. 3:1-4 atau Ibr. 2:14-18; Mzm. 24:7,8,9,10; Luk. 2:22-40 (Luk. 2:22-32). BcO Kel. 13:1-3a,11-16.

Nas Injil: 
22 Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, 23 seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah", 24 dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. 25 Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, 26 dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. 27 Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, 28 ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: 29 "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, 30 sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, 31 yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, 32 yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel."

Percikan Nas:
Salah satu peristiwa yang mengesan dalam hidup saya adalah kala terima komuni pertama. Memang saat itu aku tidak mempunyai baju bagus seperti teman-temanku. Namun setelah terima komuni pertama kedua orang tuaku mengajak makan di restoran yang tak terbayang kumasuki sebelumnya. Kami kala itu jarang sekali jajan, apalagi makan di restoran seperti itu. Kata orang tua hal itu sebagai syukur karena saya telah ada dalam kesatuan dengan Kristus dan Gereja.
Hari ini adalah pesta Yesus dipersembahkan di Bait Allah. Orang tua Yesus juga bersyukur atas kehadiran bayi Yesus. Syukur mereka pun diungkapkan dengan mempersembahkan Yesus ke Bait Allah. Dalam imaginasiku Maria dan Yusup pun mengadakan pesta untuk Yesus sesudahnya. Mereka bersyukur karena anaknya telah disatukan dengan Allah.
Momen baptis, komuni dan krisma adalah momen-momen istimewa kita sebagai orang Katolik. Di sana kita mengalami berkat persatuan dengan Yesus dan Gereja. Layaklah di momen-momen ini ada ungkapan syukur keluarga. Momen-momen itu pun semakin dilengkapi dan disempurnakan dalam Ekaristi. Marilah kita syukuri momen-momen tersebut dan kita persiapkan sungguh putra-putri kita untuk menyambutnya. Tuhan memberkati mereka yang sungguh-sungguh menyambut-Nya.

Doa:
Tuhan terima kasih Engkau telah memberikan orang tua yang mesyukuri momen-momen istimewa iman kami. Semoga banyak keluarga sungguh mempersiapkan anak-anaknya untuk bersatu dengan-Mu. Amin.

Momen istimewa.
(goeng).

Injil Minggu IV tahun C tgl. 3 Feb 2109 (Luk 4:21-30)

diambil dari https://unio-indonesia.org/2019/01/29 
ilustrasi dari album Blog Domus 


Rekan-rekan yang baik!
Injil Minggu Biasa IV tahun C, yakni Luk 4:21-30, amat erat hubungannya dengan petikan yang dibacakan Minggu lalu, yakni pengajaran Yesus di sebuah rumah ibadat di Nazaret. Orang-orang terpesona oleh pengajarannya tetapi mereka juga menginginkan dia berbuat mukjizat di situ seperti di tempat lain. Yesus tidak menuruti keinginan mereka. Ia mengatakan bahwa Yang Mahakuasa mengutus nabi Elia untuk menolong seorang janda di tanah Sidon. Juga banyak orang kusta di Israel pada zaman Elisya, tapi hanya Naaman orang Siria disembuhkan. Mendengar ini semua marahlah orang-orang yang tadinya mengaguminya. Bahkan mereka menyeretnya keluar kota dan mau menjatuhkannya ke dalam tebing… Apa arti kejadian ini?
DISKUSI
ANI: Belum jelas Injil hari ini. Konteksnya kan Luk 4:21 seperti dibacakan hari Minggu yang lalu. Di situ ada dikatakan “orang-orang membenarkan dia dan heran akan kata-kata yang indah yang diucapkannya…” Lalu mereka mulai kurang percaya dan berkata, “Bukankah ia ini anak Yusuf?”
LEX: Nanti dulu! Ungkapan “Bukankah ia ini anak Yusuf” jangan ditafsirkan sebagai ungkapan keraguan begitu saja. Lain sama sekali dari ungkapan mencibir seperti “Lha itu kan anaknya Minto Areng itu ta?” yang diucapkan orang di pasar ketika melihat Slamet anak Pak Minto penjual arang itu kini maju dalam pilkada.
ANI: Habis artinya apa?
LEX: Orang-orang di Nazaret sudah tahu betapa kondangnya Yesus. Mereka juga menyaksikan sendiri penampilannya di sinagoga mereka. Lalu mereka mbatin, lho, orang kita ini bikin macam-macam hal hebat di lain tempat. Kok tidak di sini lebih dulu. Dia itu kan anak Yusuf yang kita kenal itu. Masakan tidak ingat orang sekampung, mentang-mentang sudah jadi orang besar.
ANI: Apa ini juga menjelaskan perkataan Yesus selanjutnya?
LEX: Ia tahu orang-orang itu mengharapkan supaya ia membuat mukjizat di Nazaret. Mereka iri Yesus mulai di tempat lain, kok tidak di kotanya sendiri.
ANI: Ah sekarang jadi jelas mengapa Yesus kemudian juga berbicara mengenai Elia dan Elisya. Ia mau mengatakan, kalian ingat, nabi-nabi sakti zaman dulu pun tidak mengerjakan hal-hal besar di kampungnya sendiri, melainkan di wilayah lain dan bagi orang-orang luar. Tapi ini justru perkara yang membuatku heran. Kenapa ia tidak mulai di Nazaret?
LEX: Mereka mengharapkan yang tidak-tidak. Mereka mau melihat yang menakjubkan tok.
ANI: Maksudnya mereka menginginkan mukjizat?
LEX: Demam mukjizat memang penyakit kronik hidup beragama. Dan tuh, orang-orang Nazaret murka bagai kesurupan dan menyeret Yesus ke tebing mau menghempaskannya ke bawah.
ANI: Wah, wah, serem. Tadinya mengagumi kok sekarang malah mau bikin celaka ya?
LEX: Eh, kita jangan cuma kasih gong moral pada Injil! Mesti ditafsirkan dulu!
ANI: Lha gimana, wong saya tahunya cuma ini. Lupa-lupa ingat kuliah di Seminari dulu. Eh, mungkin orang-orang itu bukan mau membantingnya ke dasar tebing sampai lumat…boleh jadi mereka bermaksud memaksa Yesus membuat mukjizat bagi dirinya sendiri: dilempar ke jurang tapi kakinya tak terantuk ke batu!
LEX: Bingo! Itulah maksud orang-orang itu! Mereka bertindak seperti Iblis yang mendorong-dorong Yesus supaya menerjunkan diri dari wuwungan Bait Allah untuk memaksa Allah menyelamatkan dia.
ANI: Karena mereka tidak melihat mukjizat di Nazaret lalu mereka berpikir satu-satunya cara ialah mendorongnya jatuh dan supaya ia terpaksa bermukjizat bagi dirinya sendiri. Kagak abis ngerti nih!
ANDAIKATA SAJA….
Seandainya orang-orang Nazaret itu menyadari apa yang sedang terjadi, mereka akan merasa sebagai orang-orang yang paling berbahagia di muka bumi ini. Tapi mereka tak puas, jadi berang dan bermaksud memaksa Yesus membuat mukjizat. Ironi. Yang mereka peroleh sebetulnya jauh lebih besar dan lebih khusus dari segala perbuatan yang mengherankan yang terjadi di tempat lain. Tapi mereka tak menangkap. Kepada mereka ditegaskan bahwa nubuat Yesaya (Luk 4:18-19=Yes 61:1-2, Injil Minggu lalu) menjadi kenyataan. Di tengah-tengah mereka – “hari ini” – hadir Mesias yang dikabarkan kedatangannya oleh nabi-nabi dan dinanti-nantikan orang selama berabad-abad. Ia datang membawakan keleluasaan batin dan kemerdekaan berpikir. Namun demikian, mereka menginginkan hal-hal yang lebih spektakuler. Mereka menolak kehadiran Yang Ilahi demi keinginan melihat mukjizat.
Kita tidak tahu persis bagaimana cara Yesus meloloskan diri dari keberingasan massa itu. Tapi hal ini bukan hal pokok yang hendak disampaikan Lukas. Memang ada yang mengatakan bahwa perbawa Yesus sedemikian besar sehingga massa dapat diredamnya dan ia pergi dengan tak kurang suatu apa. Tetapi kalau betul begitu mengapa tadi mereka berani menyeretnya ke pinggir tebing? Orang-orang di Nazaret itu bukan Iblis yang bisa dibentak pergi dengan mengutip Ul 6:16 seperti terjadi dalam Luk 4:12. Amat boleh jadi orang-orang itu akhirnya tidak jadi menghempaskan Yesus ke jurang karena melihat Yesus tak mau bermukjizat seperti mereka kehendaki. Boleh jadi ada salah satu dari mereka yang mencegah. Imaginasi kita boleh bermacam-macam dan memang Lukas membiarkan orang membaca Injilnya secara kreatif. Lukas hanya memberitahukan bahwa Yesus “lewat dari tengah-tengah mereka dan pergi”. Yang penting dalam seluruh episode ini bukan bagaimana Yesus meloloskan diri, melainkan apa yang terjadi dengan orang-orang Nazaret itu. Tingkah mereka membuat kehadiran Yesus lepas dari tengah-tengah mereka. Mereka kehilangan dia.
Dengan kisah ini Lukas hendak mengajak orang mewaspadai sikap beragama dan perilakunya. Demam mukjizat bisa berakhir dengan hilangnya sumber mukjizat sendiri seperti yang terjadi di Nazaret. Dan memang setelah peristiwa ini, dusun Nazaret yang berperan besar dalam bab-bab sebelumnya tidak terucap lagi dan dilupakan orang. Perannya telah selesai. Nama dusun ini selanjutnya hanya diingat dalam sebutan “Yesus dari Nazaret”, yang kehadirannya justru tidak diterima dengan baik oleh orang-orang Nazaret sendiri.
PENYAKIT KRONIK HIDUP BATIN
Agama mengajarkan agar orang mengimani Yang Ilahi, pasrah kepada kekuatan-kekuatanNya. Namun, sikap pasrah yang asal saja sering malah menggiring orang ke tujuan lain. Beberapa kenyataan dalam penghayatan agama menunjukkan hal ini. Iman yang unsur pokoknya adalah keteguhan dapat menjadi sikap fanatik dan intoleran. Tata upacara atau ritus yang tujuannya membantu orang merasakan batas-batas antara yang duniawi dengan Yang Ilahi bisa menjadi serangkai tindakan magi yang justru mengaburkan batas-batas tadi. Akibatnya barang-barang yang berhubungan dengan tata upacara beralih peran menjadi jimat dan guna-guna. Doa beralih fungsi menjadi jampi-jampi mendatangkan roh. Hukum agama yang menata hidup beragama bisa menjadi aturan-aturan yang mencekik kerohanian dengan rasa takut yang bisa dimanipulasi demi tujuan-tujuan tertentu. Spiritualitas yang muncul dari pengalaman akan kehadiran yang ilahi bisa menjadi praktek ulah batin yang kurang sehat bila tak terolah terus.
Penyakit kronik dalam hidup batin ini juga dikenali oleh Paulus. Dalam 1Kor 12:31-13:13 ia mengatakan bahwa macam-macam karunia khusus bila tak disertai perhatian kepada sesama dalam kasih, Yunaninya “agape”, akan tidak bermakna. Kemampuan berbicara bahasa malaikat dan manusia, bernubuat, menguasai ilmu gaib, iman sempurna, sikap mau berkorban bisa jadi satu saat tak lagi dibutuhkan, akan tetapi, menurut Paulus, kasih tidak ada habisnya. Ia menggambarkan pelbagai kenyataan yang menunjukkan adanya kasih: sikap sabar, baik hati, tak cemburu, tak besar kepala dan sombong, jauh dari sikap tak sopan dan egoist, bukan pemarah, bukan pendendam, memihak kebenaran dan menjauhi ketakadilan, telaten, bisa mempercayai, penuh harap, tahan uji. Daftar ini tentu dapat diperpanjang. Namun, semuanya sama-sama mencerminkan sikap apa adanya, tidak mengada-ada. Dalam bahasa orang sekarang: integritas, bersikap apa adanya. Itulah penerapan kasih bagi zaman ini. Agama dapat membawakan keleluasaan batin bila dihayati secara apa adanya. Bila tidak, akan gampang kena penyakit kronik demam mukjizat yang mengaburkan kehadiran Yang Ilahi di tengah-tengah manusia. Paulus mengajak orang-orang di Korintus dan kita semua agar waspada dan jangan sampai mabuk roh.
Salam hangat,
A. Gianto

Lamunan Pesta

Yesus Dipersembahkan di Kanisah
Sabtu, 2 Februari 2019

Lukas 2:22-40

2:22 Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan,
2:23 seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah",
2:24 dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.
2:25. Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya,
2:26 dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan.
2:27 Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat,
2:28 ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya:
2:29 "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu,
2:30 sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu,
2:31 yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa,
2:32 yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel."
2:33 Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia.
2:34 Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan
2:35 --dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri--,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."
2:36 Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya,
2:37 dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa.
2:38 Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.
2:39 Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea.
2:40 Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, kaum lansia sungguh merasa diwongké (dihargai sebagai manusia) kalau selalu mendapatkan perhatian dari anak dan cucu serta siapapun. Dia tak pernah dibiarkan dalam kesendirian sehingga selalu ada yang menemani.
  • Tampaknya, kaum lansia pada umumnya pada zaman kini kerap berada dalam kesendirian karena kebanyakan orang berada dalam jaringan kesibukan masing-masing. Sekalipun hidup serumah dengan anak dan atau cucu tetapi kerap sulit untuk duduk-duduk bersama.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, sekalipun kondisi era global membuat banyak orang harus kerja dan terikat dengan jejaring sendiri sehingga kaum lansia banyak berada dalam kondisi kesendirian, lansia sejati tetap bahagia karena kesejatiannya memang kesiagaan berpisah. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati seorang lanjut usia selalu sadar bahwa perkembangan sejati hidupnya adalah proses perpisahan dengan segala yang fana duniawi.
Ah, lansia sejati akan selalu inspiratif sehingga selalu dirubung oleh banyak orang.

Santa Brigitta dari Irlandia

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 8995 Diterbitkan: 25 Juli 2013 Diperbaharui: 29 Januari 2017

  • Perayaan
    01 Februari
  • Lahir
    Tahun 453
  • Kota asal
    Faughart, County Louth, Irlandia
  • Wafat
    1 February 523 di Kildare, Irlandia | Oleh sebab alamiah
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation Sumber : Katakombe.Org

Santa Brigita dilahirkan beberapa tahun sesudah Irlandia dikristenkan oleh kedatangan St Patrick. Ayahnya seorang bangsawan Irlandia bernama Dubthac dan ibunya bernama Brocca.  Semakin kanak-kanak ini bertambah besar, semakin besar pula kasihnya kepada Yesus. Ia mencari Yesus dalam diri orang-orang miskin dan seringkali membawakan makanan dan pakaian bagi mereka. Konon suatu hari ia membagi-bagikan segentong penuh susu. Lalu, ia mulai cemas akan apa yang akan dikatakan ibunya. Ia berdoa kepada Tuhan untuk mengganti apa yang telah dibagi-bagikannya. Ketika tiba di rumah, gentong telah penuh kembali dengan susu!
Ayahnya beranggapan bahwa sudah tiba waktunya bagi Brigita untuk menikah. Akan tetapi, Brigita telah berbulat hati untuk mempersembahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Ia tak hendak menikah dengan siapapun. Ketika mengetahui bahwa para pemuda tertarik kepadanya sebab kecantikannya, ia memanjatkan suatu permohonan yang aneh kepada Tuhan. Ia mohon agar kecantikan wajahnya diambil darinya. Tuhan mengabulkan permohonannya.
Melihat bahwa puterinya tak lagi cantik, dengan rela hati ayahnya menyetujui ketika Brigita minta diijinkan menjadi seorang biarawati. Sang gadis mengikuti panggilan hidup religiusnya. Ia bahkan memulai suatu biara agar para gadis yang lain dapat menjadi biarawati juga. Setelah ia mengkonsekrasikan hidupnya kepada Tuhan dalam biara, suatu mukjizat kemudian terjadi. Suster Brigita menjadi cantik kembali! Ia mengingatkan orang akan Santa Perawan Maria sebab ia begitu lemah lembut dan baik hati. Sebagian orang menyebutnya “Maria dari Irlandia”.
Banyak mujizat yang dikerjakan Tuhan melalui perantaraan Suster Brigitta. Beberapa yang sering dikisahkan adalah penyembuhan seorang kusta dengan secangkir air berkat dan penyembuhan luka dua orang wanita yang terjatuh saat berkuda dengan air yang terlebih dahulu didoakannya dalam nama Tuhan.  Salah satu Mukjizat Santa Brigitta yang paling terkenal adalah mukjizat yang terjadi saat ia menghadap Raja.
Dikisahkan St. Brigitta pergi menghadap Raja Leinster untuk meminta tanah untuk membangun sebuah biara. Dia mengatakan kepada raja bahwa tempat ia berdiri adalah tempat yang sempurna untuk biara. Itu adalah di samping hutan di mana nanti para biarawati bisa mengumpulkan kayu bakar dan buah. Ada juga sebuah danau di dekatnya yang akan menyediakan air dan tanah yang subur bagi Biara nanti. Raja tertawa dan dengan tegas menolak untuk memberikan tanah sejengkalpun padanya. Brigid berdoa kepada Tuhan dan memintanya untuk melunakkan hati raja. Lalu ia tersenyum pada raja dan berkata "Dapatkah paduka memberi saya tanah selebar yang dapat ditutupi mantel yang saya pakai ini ?" 
Raja tertawa dan berpikir bahwa suster Brigitta sedang bercanda karena mantel yang dipakainya itu begitu kecil. Raja setuju dan santa Brigitta kemudian meletakkan mantelnya di tanah. Dia meminta empat suster yang menyertainya untuk memegang masing-masing pada empat sudut mantelnya lalu berjalan ke arah yang berlawanan.  Keempat suster itu lalu berjalan ke arah utara, selatan, timur dan barat. Secara ajaib mantel itu bertambah besar ketika ditarik dan mulai menutupi tanah sampai seluas berhektar-hektar. Raja heran terkesima dan ia menyadari bahwa Brigitta adalah seorang diberkati oleh Tuhan. Raja jatuh ke tanah dan berlutut di depan Santa Brigitta dan berjanji akan memberikan tanah dan menyediakan semua yang dibutuhkan oleh Brigitta dan para biarawati termasuk uang dan persediaan makanan.  Segera setelah itu, raja menjadi seorang Kristen yang saleh dan mulai memberi perhatian membantu orang-orang miskin. Raja bahkan ikut mengawasi pembangunan biara.  
Santa Brigita wafat dengan tenang pada tahun 523. Pestanya kita rayakan setiap tanggal 1 Februari.
 Sumber : Katakombe.Org

Percikan Nas Jumat, 01 Februari 2019

Kandelaria dari St. Yosep, Marie Anna Vailot, Odilia Baumgarten
warna liturgi Hijau

Bacaan-bacaan: 
Ibr. 10:32-39; Mzm. 37:3-4,5-6,23-24,39-40; Mrk. 4:26-34. BcO Rm. 11:1-12.

Nas Injil: 
26 Lalu kata Yesus: "Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, 27 lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. 28 Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. 29 Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba." 30 Kata-Nya lagi: "Dengan apa hendak kita membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah hendaknya kita menggambarkannya? 31 Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi. 32 Tetapi apabila ia ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya." 33 Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian mereka, 34 dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri.

Percikan Nas:
Suatu kali ada seseorang datang kepada temannya. Teman ini sudah hidup dengan nyaman. Usahanya berkembang dengan baik. Baginya hidup sang teman itu sudah enak adanya. Ia pun memuji-muji temannya itu. Ketika selesai pujian itu diberikan, sang teman itu pun menjawab, “Semua ini berangkat dari sesuatu yang sangat kecil, jangan hanya dilihat akhirnya.”
Tuhan mengumpamakan Kerajaan Allah dengan biji yang bertumbuh. Biji itu kecil. Ketika biji itu bertumbuh, ia menjadi pohon yang besar dan memberikan keteduhan dan perlindungan. Untuk bertumbuh sang biji mematikan diri dan membiarkan tunas pohon pun hidup.
Memang keberhasilan membuat orang terkagum-kagum. Yang pantas kita ingat bagaimana keberhasilan itu diraih. Keberhasilan itu tidak serta merta datang. Ia membutuhkan komitmen perjuangan. Sangat mungkin dari hal yang sangat kecil. Malah umumnya yang langsung mau besar malah gagal. Komitmen untuk menghidupi yang kecil meningkatkan kapasitas kita untuk mengerjakan yang besar.

Doa:
Tuhan sudilah Engkau menjaga semangat kami berjuang. Semoga hal kecil yang kami lakukan sekarang ini bisa bertumbuh dan menjadi perlindungan hidup kami. Dalam nama-Mu kami percaya. Amin.

Dari kecil
(goeng).