Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Tuesday, April 2, 2019

Lamunan Pekan IV Prapaskah

Rabu, 3 April 2019

Yohanes 5:17-30

5:17. Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga."
5:18 Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah.
5:19 Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.
5:20 Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri, bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi dari pada pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga kamu menjadi heran.
5:21 Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya.
5:22 Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak,
5:23 supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia.
5:24 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.
5:25 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup.
5:26 Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri.
5:27 Dan Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia.
5:28 Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya,
5:29 dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.
5:30 Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, tak sedikit orang beragama yakin bahwa kebaikan terjadi kalau dalam hidup berpegang teguh pada perintah-perintah agama. Dia akan taat menjalani perintah-perintah agama.
  • Tampaknya, tak sedikit orang beragama juga yakin bahwa dia akan sungguh ber-Tuhan kalau dalam segala pekerjaannya melandaskan diri pada tatanan yang ada dalam agama. Segala yang dilakukan menjadi ungkapan dan wujud keagamaannya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, setaat apapun seseorang pada rumus-rumus dan segala tatanan dalam agama, kalau dalam segala ucap dan perilaku tidak melandaskan diri pada ikatan personal dengan yang ada dalam nurani, orang bisa jauh dari Tuhan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan menghayati hidup keagamaan sebagai sarana mengungkapkan dan mewujudkan hubungan mesra dengan Tuhan dan keterbukaannya dengan siapapun dan apapun.
Ah, ber-Tuhan itu ya beragama.

Ternyata Pempers Juga Kebutuhan Pokok


Sore itu, Rabu 27 Maret 2019, para relawan yang biasa memperhatikan keseharian Domus Pacis secara kebetulan datang dan jumpa bersama. Mereka adalah Bu Rini, Mas Handoko, dan suami istri Pak Naryo - Bu Ninik. Bu Rini sibuk menggoreng tempe dan tahu pemberian kelompok Jagongan Iman Gondang. Mas Handoko duduk-duduk bersama dengan beberapa karyawan. Sedang Bu Ninik dan Pak Naryo langsung masuk kamar Rm. Bambang. Bu Rini memang pulang lebih dahulu karena di keesokan harinya ada tugas sekolah yang harus dilakukan secara awal. Kemudian Pak Naryo, Bu Naryo dan Mas Handoko di dalam kamar Rm. Bambang asyik membicarakan beban listrik yang di Domus kini meningkat karena semua kamar nyaris penuh dihuni. Bu Ninik kemudian menelpon Mas Buntoro seorang teman yang menjadi pimpinan PLN di salah satu wilayah Kalimantan. Bu Ninik minta pertimbangan harus menambah kekuatan berapa dan berapa beayanya.

Dalam pembicaraan itu ternyata kemudian masuk hal yang kini juga menjadi amat penting untuk  Pacis. Hal ini bermula dari WA Senin 25 Maret 2019 dari Rm. Bambang kepada Bu Ninik "Bu Niiiiik, apa masih ada simpanan uang untuk Domus? Kami butuh pempers XL. Tinggal satu dos. Tambah rama, rada boros ha ha ha". Bu Ninik memang ikut menyimpan beberapa dana untuk jaga-jaga kebutuhan Domus yang dapat dilayani dari tokonya. Sore itu beliau membawa beberapa dos berisi pempers.

Pembicaraan tentang pempers ternyata menjadi amat serius. Mas Handoko pada waktu duduk-duduk bersama karyawan ternyata meminta mereka menghitung kebutuhan pempers masing-masing rama per hari. Untuk Rm. Tri Hartono, Rm. Jaya, dan Rm. Bambang memang hanya perlu masing-masing 1 dos sebulan untuk jaga-jaga kalau ada acara bepergian. Yang setiap hari harus memakai adalah Rm. Harto, Rm. Tri Wahyono, Rm. Yadi, Rm. Ria, Rm. Djono, dan Rm. Gito. Kebutuhan pempers per hari di antara mereka adalah sekitar 2 sampai 4 buah. Kalau dihitung rata-rata per orang membutuhkan 3 pempers per hari, maka setiap bulan untuk 7 rama membutuhkan 630 buah pempers. Karena 1 dos berisi 6 pempers, maka untuk 7 rama butuh 105 dos ditambah 2 dos (untuk Rm. Tri Hartono dan Rm. Jaya). Dalam halini para rama sudah merasa nyaman dengan dan ada yang memang harus dengan pempers celana. Memang, kadang kala ada sumbangan pempers dari kelompok-kelompok pengunjung. Meskipun demikian, Domus Pacis harus memiliki pos dana untuk pempers. Pempers merek "TOP" setiap dos besar berisi 6 kemasan yang masing-masing berisi 12 pempers. Dengan demikian 1 dos besar berisi 72 pempers. Ini berarti setiap bulan membutuhkan lebih dari 8 dos besar. Kalau satu dos besar berharga Rp. 400.000an, maka Domus Pacis harus menyediakan dana jaga-jaga untuk pempers sebesar Rp.3.500.000an per bulan.

Disembuhkanlah Seketika Orang Lumpuh Itu

Disembuhkanlah Seketika Orang Lumpuh Itu, Apa Inspirasi dan Motivasinya?


Aloys Budi Purnomo Pr


Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Hidup dalam keadaan lumpuh itu pasti tidak mengenakkan. Segalanya berlangsung terbatas. Lalu bagaimana inspirasi dan motivasi ketika seorang lumpuh ini disembuhkan seketika?
Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr
Jawabannya ada dalam Bacaan Liturgi 02 April 2019 Hari Biasa Pekan Prapaskah IV Bacaan Injil Yohanes 5:1-16. Mari kita baca dan renungkan.
Pada hari raya orang Yahudi, Yesus berangkat ke Yerusalem. Di Yerusalem, dekat Pintu Gerbang Domba, ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; serambinya ada lima, dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit.
Ada di situ seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di sana, dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya, "Maukah engkau sembuh?" Jawab orang sakit itu kepada-Nya, "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu, apabila airnya mulai goncang; dan sementara aku sendiri menuju kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku." Kata Yesus kepadanya, "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah." Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu, lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan.
Tetapi hari itu hari Sabat. Karena itu orang-orang Yahudi berkata kepada orang yang baru sembuh itu, "Hari ini hari Sabat, dan tidak boleh engkau memikul tilammu." Akan tetapi ia menjawab mereka, "Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: Angkatlah tilammu dan berjalanlah." Mereka bertanya kepadanya, "Siapakah orang itu yang berkata kepadamu: Angkatlah tilammu dan berjalanlah?" Tetapi orang yang baru sembuh itu tidak tahu siapa orang itu, sebab Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak di tempat itu.
Kemudian ketika bertemu dengan dia dalam Bait Allah, Yesus berkata kepadanya, "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk." Orang itu keluar, lalu menceriterakan kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesuslah yang telah menyembuhkan dia. Dan karena itu orang-orang Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat. (Yohanes 5:1-16).
Pria dalam Injil ini sudah sakit lumpuh selama 38 tahun. Namun, bahkan penyakit yang bertahan selama 38 tahun itu dapat disembuhkan Yesus. Kekuatan Kristus masih lebih kuat dari kuasa sakit penyakit. 
Inspirasinya, tidak ada penyakit terlalu besar untuk disembuhkan Yesus. Yang diperlukan hanyalah, kita berpaling kepada-Nya dengan rendah hati dan menyesal, “Ya Tuhan, aku tidak layak, tetapi bersabdalah sepatah kata saja maka saya akan sembuh.”
Pria yang sakit mengakui kelemahan dan keinginannya untuk terjun ke kolam namun mustahil. Hal itulah yang menggerakkan Yesus untuk berbelas kasih kepadanya. Inilah obat untuk semua penyakit kita yakni mempersembahkan diri kita kepada Yesus Kristus sebagaimana kita adanya, dengan semua kelemahan kita, dan dengan demikian menggerakkan Dia untuk berbelas kasih kepada kita dan memulihkan kita.
Bagaimana menurut UCers Sahabat Peradaban Kasih? Semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

Johart Wurlirang, 1/4/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi Yohanes 5:1-16

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶
Aloys budi purnomo Pr

Sent from my heart of abudhenkpr
"abdi Dalem palawija"
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan; Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang;
Andalan Kerohanian Katolik Pramuka Kwarda Jateng.

Monday, April 1, 2019

Percikan Nas Selasa, 02 April 2019

Fransiskus dari Paola
warna liturgi Putih

Bacaan-bacaan:
Yeh. 47:1-9,12; Mzm. 46:2-3,5-6,8-9; Yoh. 5:1-16. BcO Ibr. 8:1-13.

Bacaan Injil:
1 Sesudah itu ada hari raya orang Yahudi, dan Yesus berangkat ke Yerusalem. 2 Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya 3 dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu. 4 Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apapun juga penyakitnya. 5 Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. 6 Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: "Maukah engkau sembuh?" 7 Jawab orang sakit itu kepada-Nya: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku." 8 Kata Yesus kepadanya: "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah." 9 Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Tetapi hari itu hari Sabat. 10 Karena itu orang-orang Yahudi berkata kepada orang yang baru sembuh itu: "Hari ini hari Sabat dan tidak boleh engkau memikul tilammu." 11 Akan tetapi ia menjawab mereka: "Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: Angkatlah tilammu dan berjalanlah." 12 Mereka bertanya kepadanya: "Siapakah orang itu yang berkata kepadamu: Angkatlah tilammu dan berjalanlah?" 13 Tetapi orang yang baru sembuh itu tidak tahu siapa orang itu, sebab Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak di tempat itu. 14 Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk." 15 Orang itu keluar, lalu menceriterakan kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesuslah yang telah menyembuhkan dia. 16 Dan karena itu orang-orang Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat.

Memetik Inspirasi:
Suatu kali saya bertemu dengan orang yang mengucapkan terima kasih. Ia pun menyampaikan ucapan itu dengan mata berkaca-kaca. Ternyata dia adalah salah satu korban gempa yang rumahnya dibangun oleh Karina KAS, dan kebetulan saya yang waktu itu mengurusi. Saya sendiri jarang bertemu kala proses pembangunan. Ia hanya tahu nama saya. Banyak yang lain juga berterima kasih karena sekolah atau rumahnya kami bangun.
Kisah saya itu berbeda dengan yang dialami Yesus. Orang yang disembuhkan-Nya tidak tahu Yesus yang menyembuhkannya. Hanya kala ketemu lagi dengan Yesus dan Yesus memberikan petuah padanya ia baru tahu Yesuslah yang menyembuhkan (bdk. Yoh 5:13-15).
Layaklah kiranya kita tahu siapa yang telah berbaik hati kepada kita. Jangan sampai hanya orang yang berbuat salah yang mudah kita ingat, yang berbaik hati malah dilupakan. Mengenang mereka yang berbaik hati membantu kita gampang untuk bersyukur dan memuji Tuhan. Maka mari kita doakan mereka yang telah berbaik hati dan menolong kita.

Refleksi:
Sudahkah aku mendoakan mereka yang telah berbaik hati padaku?

Doa:
Tuhan berkatilah mereka yang telah berbaik hati kepada kami. Karena pertolongan-pertolongan mereka kami dapat menjalani hidup ini dengan baik. Berkatilah dan lindungilah mereka. Amin

Mendoakan penolong
MoGoeng
Wates

Santo Fransiskus de Paola

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 3750 Diterbitkan: 05 Agustus 2013 Diperbaharui: 01 April 2016

  • Perayaan
    02 April
  • Lahir
    Tahun 1416
  • Kota asal
    Paola - Italia
  • Wilayah karya
    Italia, Perancis
  • Wafat
    2 April 1507 di Plessis, Perancis | Oleh sebab alamiah
    Pada Tahun 1562 kaum Protestan Huguenots membuka makam orang suci ini dan menemukan jasadnya yang tetap utuh; lalu membakarnya.
  • Kanonisasi
    Tahun 1519 oleh Paus Leo X Sumber : Katakombe.Org

Orang suci ini dilahirkan di sebuah dusun kecil di Paola, Italia sekitar tahun 1416. Orang tuanya miskin, tetapi bersahaja dan kudus. Mereka mohon bantuan doa St. Fransiskus dari Asisi agar dikaruniai seorang putera. Ketika ia akhirnya dilahirkan, ia diberi nama Fransiskus. Anak itu tumbuh besar dan pergi ke sekolah di mana para pengajarnya adalah imam-imam Fransiskan. Di sanalah Fransiskus belajar membaca. Ketika berusia limabelas tahun, seijin orangtuanya, Fransiskus tinggal di sebuah gua. Ia ingin menjadi seorang pertapa dan melewatkan hidupnya hanya bersama Tuhan saja.

Ketika usianya duapuluh tahun, pemuda-pemuda lain ikut bergabung dengannya. St. Fransiskus meninggalkan gua kediamannya. Penduduk kota Paola membangun sebuah gereja dan juga biara untuk Fransiskus dan para pengikutnya. Ia menyebut ordo religiusnya yang baru dengan nama “Minims”. “Minims” artinya “yang terkecil dari semuanya.”

Semua orang mengasihi St. Fransiskus. Ia berdoa bagi mereka dan melakukan banyak mukjizat. Ia terkenal dapat membaca pikiran orang lain. Salah satu mujizatnya yang paling terkenal terjadi pada tahun 1464. Saat itu Santo Fransiskus dan para pengikutnya ingin menyeberangi Selat Messina menuju Sisilia, tapi tukang perahu yang menolak untuk membawa mereka. Santo Fransiskus meletakkan jubahnya di atas air, diikat salah satu ujungnya ke tongkatnya untuk dapat membuat berlayar. Ia dan para pengikutnya kemudian berlayar menyeberangi selat itu diatas jubah. Komponis Franz Liszt menulis sebuah komposisi musik yang indah terinspirasi oleh mujizat yang dibuat oleh Santo pelindungnya itu.
Ia menasehati para pengikutnya agar senantiasa lemah lembut dan rendah hati, serta melakukan banyak matiraga. Ia sendiri merupakan teladan terbaik dari segala keutamaan yang diajarkannya. Suatu ketika, seorang yang mengunjungi Fransiskus menghinanya. Ketika orang itu selesai berbicara, Fransiskus melakukan sesuatu yang aneh. Dengan tenang diambilnya batu bara panas dari tempat perapian dan digenggamnya dengan erat dalam tangannya. Namun demikian, tangannya tidak terbakar sedikit pun.
“Mari, hangatkanlah dirimu” katanya dengan lembut sambil menyerahkan batu yang merah membara tersebut pada pendakwanya.
“Engkau gemetar oleh sebab engkau membutuhkan sedikit belas kasihan.”
Dengan gemetar si pendakwa menolak menerima batu yang membara itu dari tangan Fransiskus. Mujizat ini kemudian merubah pandangannya terhadap Fransiskus. Sejak saat itu, ia amat mengagumi St. Fransiskus.

Raja Louis XI dari Perancis tidak hidup dengan baik. Ketika raja sedang sekarat, ia meminta St. Fransiskus datang kepadanya. Pikiran akan segera menemui ajalnya telah membuat raja gemetar ketakutan. Ia menghendaki agar Fransiskus melakukan mukjizat dan menyembuhkannya. Sebaliknya, yang dilakukan orang kudus tersebut adalah dengan lemah lembut membantu raja yang ketakutan itu mempersiapkan diri sebaik-baiknya agar dapat meninggal dengan kudus. Hati raja berubah. Ia menerima kehendak Tuhan dan wafat dengan tenang dalam pelukan Fransiskus.

St. Fransiskus menikmati umur panjang untuk memuliakan serta mengasihi Tuhan. Ia wafat pada hari Jumat Agung pada tahun 1507, dalam usia sembilan puluh satu tahun.

Mengalami Mukjizat Tuhan dalam Hidup Harian

Inspirasi dan Motivasi Mengalami Mukjizat Tuhan dalam Hidup Harian, Bagaimanakah?

Aloys Budi Purnomo Pr

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Inilah inspirasi dan motivasi mengalami mukjizat Tuhan dalam hidup hatian. Bagaimanakah?
Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr
Jawabannya ada dalam Bacaan Liturgi 01 April 2019 Hari Biasa Pekan Prapaskah IV Bacaan Injil Yohanes 4:43-54. Mari kita.baca dan renungkan dengan cinta.
Sekali peristiwa Yesus berangkat dari Samaria dan pergi ke Galilea. Sebab Ia sendiri telah bersaksi, bahwa seorang nabi tidak dihormati di negerinya sendiri. Setelah Yesus tiba di Galilea, orang-orang Galilea pun menyambut Dia, karena mereka telah melihat segala sesuatu yang dikerjakan Yesus di Yerusalem pada pesta itu, sebab mereka sendiri pun turut ke pesta itu. Maka Yesus kembali lagi ke Kana di Galilea, di mana Ia membuat air menjadi anggur. Dan di Kapernaum ada seorang pegawai istana, yang anaknya sedang sakit.
Ketika pegawai itu mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya, lalu meminta supaya Yesus datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati.
Maka kata Yesus kepadanya, "Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya." Pegawai istana itu berkata kepada-Nya, "Tuhan, datanglah sebelum anakku mati." Kata Yesus kepadanya, "Pergilah, anakmu hidup!" Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi.
Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa anaknya hidup. Ia bertanya kepada mereka pukul berapa anak itu mulai sembuh. Jawab mereka, "Kemarin siang pukul satu demamnya hilang." Maka teringatlah ayah itu, bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya, "Anakmu hidup." Lalu ia pun percaya, ia dan seluruh keluarganya. Dan itulah tanda kedua yang dibuat Yesus ketika Ia pulang dari Yudea ke Galilea. (Yohanes 4:43-54)
Yesus membuat mukjizat, tetapi bukan tanpa mengingatkan semua orang bahwa iman yang sejati tidak bisa hanya didasarkan pada "tanda-tanda dan keajaiban" mukjizati. Mengapa? Yang dikritik Yesus adalah pandangan keagamaan yang letih yang dapat mengalami kehadiran ilahi hanya dalam cara yang spektakuler, sementara gagal mempersepsikannya dengan cara yang sederhana dan kecil bahwa Allah membuat kehadiran-Nya diketahui dan dialami dalam setiap peristiwa hidup sehari-hari. 
Sungguh benar, dengan iman yang lebih medalam, kita dapat melihat Tuhan di sekitar kita. Matahari terbenam yang indah itu - bukankah itu mahakarya kekuatan kreatif Allah yang dihidangkan bagi kita? Permintaan maaf yang tidak terduga - bukankah itu merupakan anugerah? Tangan penolong yang diulurkan kepada kita tepat ketika kita membutuhkannya - bukankah itu tanda kehadiran Tuhan di tengah-tengah kita? Orang yang imannya tidak membutuhkan "tanda dan keajaiban" justru orang yang melihat lebih banyak tanda dan keajaiban - setiap hari, kehadiran Tuhan yang penuh kasih dalam keseharian hidup.
Bagaimana menurut UCers Sahabat Peradaban Kasih? Semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.

JoharT Wurlirang, 1/4/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi Yohanes 4:43-54

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶
Aloys budi purnomo Pr

Sent from my heart of abudhenkpr
"abdi Dalem palawija"
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan; Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang;
Andalan Kerohanian Katolik Pramuka Kwarda Jateng.

Lamunan Pekan IV Prapaskah

Selasa, 2 April 2019

Yohanes 5:1-16

5:1. Sesudah itu ada hari raya orang Yahudi, dan Yesus berangkat ke Yerusalem.
5:2 Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya
5:3 dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu.
5:4 Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apapun juga penyakitnya.
5:5 Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit.
5:6 Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: "Maukah engkau sembuh?"
5:7 Jawab orang sakit itu kepada-Nya: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku."
5:8 Kata Yesus kepadanya: "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah."
5:9 Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Tetapi hari itu hari Sabat.
5:10 Karena itu orang-orang Yahudi berkata kepada orang yang baru sembuh itu: "Hari ini hari Sabat dan tidak boleh engkau memikul tilammu."
5:11 Akan tetapi ia menjawab mereka: "Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: Angkatlah tilammu dan berjalanlah."
5:12 Mereka bertanya kepadanya: "Siapakah orang itu yang berkata kepadamu: Angkatlah tilammu dan berjalanlah?"
5:13 Tetapi orang yang baru sembuh itu tidak tahu siapa orang itu, sebab Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak di tempat itu.
5:14 Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk."
5:15 Orang itu keluar, lalu menceriterakan kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesuslah yang telah menyembuhkan dia.
5:16 Dan karena itu orang-orang Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, setiap kebersamaan selalu ada kode etik sebagai pegangan kebaikan. Makin banyak anggotanya kebersamaan akan bersifat institusional dan pedoman-pedoman menjadi hukum yang mengatur hidup bersama.
  • Tampaknya, pada umumnya orang yakin bahwa pedoman dan tata hukum adalah untuk menjaga hidup baik. Para penegak hukum akan mengawasi agar orang tetap dalam perilaku baik dengan taat menjalani tatanan yang ada.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, setaat apapun orang pada aturan dan secermat apapun dalam menjaga pelaksanaannya, kalau tidak meletakkannya dalam kerangka kemanusiaan dia justru bisa memandang jahat orang lain yang menjadi pejuang kebaikan umum. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan sadar risiko perjuangan demi kemanusiaan ketika berhadapan dengan keadaan yang amat legalistik.
Ah, asal mengikuti rumus-rumus aturan orang pasti jadi baik.