Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Sunday, April 28, 2019

Santa Katarina dari Siena

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 14776 Diterbitkan: 11 Agustus 2013 Diperbaharui: 31 Mei 2014

  • Perayaan
    29 April
  • Lahir
    25 March 1347
  • Kota asal
    Siena, Tuscany, Italy
  • Wafat
    29 April 1380 di Roma, Italia | karena penyakit misterius
    Dimakamkan di Gereja Santa Maria Sopra Minerva di Roma Italia
  • Kanonisasi
    Juli 1461 oleh Paus Pius II Sumber : Katakombe.Org

Katarina dilahirkan pada tahun 1347. Santa yang termashyur ini adalah pelindung Italia, tanah airnya. Katarina adalah anak bungsu dalam keluarga yang dikaruniai dua puluh lima anak. Ayah dan ibunya menghendaki agar ia menikah dan hidup bahagia. Tetapi, Katarina hanya ingin menjadi seorang biarawati. Untuk menyatakan tekadnya, ia memotong rambutnya yang panjang dan indah. Ia ingin menjadikan dirinya tidak menarik. Orangtuanya amat jengkel dan seringkali memarahinya. Mereka juga menghukumnya dengan memberinya pekerjaan rumah tangga yang paling berat. Tetapi Katarina pantang menyerah. Pada akhirnya, orangtuanya berhenti menentangnya.
Engkau bagaikan misteri yang dalam sedalam lautan; semakin aku mencari, semakin aku menemukan, dan semakin aku menemukan, semakin aku mencari Engkau. Tetapi, aku tidak akan pernah merasa puas; apa yang aku terima menjadikanku semakin merindukannya. Apabila Engkau mengisi jiwaku, rasa laparku semakin bertambah, menjadikanku semakin kelaparan akan terang-Mu. ~ St. Katarina dari Siena.

St. Katarina seorang yang amat jujur dan terus terang di hadapan Yesus. Suatu ketika ia bertanya kepada-Nya, “Di manakah Engkau, Tuhan, ketika aku mengalami cobaan yang begitu mengerikan?” Yesus menjawab, “Puteri-Ku, Aku ada dalam hatimu. Aku membuatmu menang dengan rahmat-Ku.”
Suatu malam, sebagian besar penduduk Siena ke luar ke jalan-jalan untuk suatu perayaan. Yesus menampakkan diri kepada Katarina yang sedang berdoa seorang diri dalam kamarnya. Bersama Yesus, datang juga Bunda Maria. Bunda Maria memegang tangan Katarina lalu memberikannya kepada Putra-nya. Yesus menyematkan sebentuk cincin di jari tangan Katarina dan ia menjadi pengantin-Nya. Sejak saat itu Katarina mulai menerima penglihatan tentang neraka, api pencucian, dan surga.

Pada masa itu, Gereja mengalami banyak sekali masalah. Banyak pertikaian terjadi di seluruh Italia. Katarina menulis surat-surat kepada para raja dan ratu. Ia bahkan datang menghadap para penguasa agar berdamai dengan paus dan mencegah peperangan. Katarina meminta paus untuk meninggalkan Avignon, Perancis dan kembali ke Roma untuk memimpin Gereja. Ia mengatakan bahwa itulah yang dikehendaki Allah. Bapa Suci mendengarkan nasehat St. Katarina serta melakukan apa yang dikatakannya.

Katarina tidak pernah lupa bahwa Yesus ada dalam hatinya. Melalui dia, Yesus memelihara orang-orang sakit yang dirawatnya. Melalui dia, Yesus menghibur para tahanan yang dikunjunginya di penjara. Santa besar ini wafat di Roma pada tahun 1380. Usianya baru tiga puluh tiga tahun. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Pius II pada tahun 1461. Pada tahun 1970, Paus Paulus VI mengangkatnya sebagai Pujangga Gereja. St. Katarina menerima kehormatan besar ini karena ia melayani Gereja Kristus dengan gagah berani sepanjang masa hidupnya yang singkat.
 Sumber : Katakombe.Org

Lamunan Peringatan Wajib

Santa Katarina dari Siena, Perawan dan Pujangga Gereja
Senin, 29 April 2019

Yohanes 3:1-8

3:1. Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi.
3:2 Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya."
3:3 Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah."
3:4 Kata Nikodemus kepada-Nya: "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?"
3:5 Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.
3:6 Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.
3:7 Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali.
3:8 Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, pada umumnya orang menggambarkan yang ilahi dalam kaitan dengan keabadian. Dan keabadian itu tidak seperti pengalaman kefanaan dalam hidup manusia.
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa keabadian ilahi berlawanan dengan dunia fana yang selalu mengalami perubahan dan pembaruan. Dalam keabadian yang ilahi tak berubah dari dulu, kini, dan selama-lamanya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun yang ilahi amat terkait dengan alam keabadian, bagi yang terbuka kepada Tuhan kesejatian-Nya justru menuntut dinamika hidup pada segala yang baru dan diperbarui. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan menjadi dinamis sehingga mampu mengikuti-Nya dalam perkembangan situasi hidup dan budayanya. 
Ah, yang sungguh baik tak akan mudah berubah-ubah.

Percikan Nas Minggu, 28 April 2019

HARI MINGGU PASKAH II,
Hari Minggu Kerahiman Ilahi
warna liturgi Putih

Bacaan-bacaan:
Kis. 5:12-16; Mzm. 118:2-4,22-24,25-27a; Why. 1:9-11a,12-13,17-19; Yoh. 20:19-31. BcO Kol. 3:1-17.

Bacaan Injil: 
19 Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!" 20 Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. 21 Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu." 22 Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: "Terimalah Roh Kudus. 23 Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada." 24 Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. 25 Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." 26 Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!" 27 Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." 28 Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!" 29 Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." 30 Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, 31 tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.

Memetik Inspirasi:
Dalam banyak kesempatan saya bertemu dengan orang-orang yang selalu memanjatkan syukur atas kerahiman Tuhan. Mereka adalah para donatur (waktu, uang dan tenaga) dalam kehidupan menggereja. Bagi mereka bantuan yang diberikan pada Gereja selalu mendapatkan balasan yang jauh lebih besar dari Tuhan. Maka mereka pun ikhlas sungguh menyumbangkan miliknya.
Hari ini adalah minggu kedua paskah, hari kerahiman Ilahi. Kita diajak oleh Gereja untuk merenungkan dan membatinkan kasih Tuhan. Di Paroki kami hari kerahiman ini dirayakan di wilayah Temon, dekat bandara YIA. Kami juga ingin merasakan kasih Tuhan yang disampaikan melalui St. Faustina kepada umat manusia.
Kerahiman Tuhan juga tampak dalam kehadiran Tuhan yang telah bangkit kepada para murid. Kehadiran-Nya menguatkan kepercayaan para murid.
Maka marilah kita mensyukuri kerahiman Tuhan. Ada banyak rahmat Tuhan dalam hidup kita. Rahmat itu memang diberikan kepada kita, namun kita pun diundang untuk mau berbagi. Semakin kita murah hati, Tuhan pun akan semakin murah hati kepada kita. Salam kerahiman Tuhan.

Refleksi:
Apa efek kerahiman Tuhan bagi hidupmu?

Doa:
Pada hari ini kami hanya bisa memanjatkan syukur kepada-Mu. Engkau yang berkenan hadir pada para rasul, berkenan hadir pula dalam hidup kami. Engkau Maharahim. Semoga kami pun murah hati. Amin.

Maharahim
MoGoeng
Wates

Saturday, April 27, 2019

Lamunan Pekan Paskah II

Minggu Kerahiman Ilahi
Minggu, 28 April 2019

Yohanes 20:19-31

20:19. Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"
20:20 Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.
20:21 Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu."
20:22 Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: "Terimalah Roh Kudus.
20:23 Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada."
20:24 Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ.
20:25 Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya."
20:26. Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"
20:27 Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah."
20:28 Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!"
20:29 Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."
20:30 Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini,
20:31 tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa orang yang sungguh baik akan serius olah rohani. Tanda keseriusan olah rohani akan tampak dalam hidup keagamaannya.
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa makin serius olah rohaninya, orang akan makin serius keagamaannya. Dia makin tertib dan rajin memperhatikan dan menjalani apapun yang berasal dari agama.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun amat taat menjalani segala hal dari agama, hal itu belum tentu menjadi tanda kemendalaman hidup rohani kalau dalam segala sikap dan perilakunya tidak menampakkan jiwa pengampun. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang pertama-tama akan menjadi sosok pengampun.
Ah, kerohanian itu ya jelas identik dengan keagamaan.

Percikan Nas Sabtu, 27 April 2019

HARI SABTU dalam OKTAF PASKAH
warna liturgi Putih

Bacaan-bacaan:
Kis. 4:13-21; Mzm. 118:1,14-15,16ab-18,19-21; Mrk. 16:9-15. BcO 1Ptr. 4:12-5:14.

Bacaan Injil: 
9 Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan. 10 Lalu perempuan itu pergi memberitahukannya kepada mereka yang selalu mengiringi Yesus, dan yang pada waktu itu sedang berkabung dan menangis. 11 Tetapi ketika mereka mendengar, bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya. 12 Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota. 13 Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi kepada merekapun teman-teman itu tidak percaya. 14 Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya. 15 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.

Memetik Inspirasi:
Kadang kita menemui fakta bahwa orang hanya mau mendengarkan kala kita sendiri yang mengatakan. Utusan-utusan yang kita kirim pun tidak didengarkan. Orang lain yang berbicara apa lagi. Mereka hanya mau ketemu langsung dengan yang bersangkutan.
Maria Magdalena dan dua orang murid Emaus yang memberitakan kebangkitan Yesus tidak dipercaya oleh para rasul. Akhirnya Yesus pun datang sendiri, “Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya” (Mrk 16:14).
Ada banyak orang yang menjadi utusan Tuhan ada di sekitar kita. Mereka menyampaikan kabar dan perintah Tuhan ketika mengingatkan kita. Memang mungkin hati kita sering berat menerimanya. Namun rasanya kita jangan mengabaikannya. Jangan sampai hati kita jadi degil dan tidak percaya. Tuhan tidak menyukai mereka yang degil hatinya. Maka mari kita buka hati kita. Kita melihat dengan baik warta yang kita terima. Berani percaya walau pembawa berita (maaf) lebih rendah statusnya daripada kita.

Refleksi:
Bagaimana anda menyikapi warta yang mungkin berat untuk diterima?

Doa:
Tuhan semoga kami mampu untuk percaya. Semoga hati kami tidak degil. Amin.

Degil
MoGoeng
Wates

Santa Gianna Beretta Molla

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 5072 Diterbitkan: 25 Februari 2017 Diperbaharui: 16 April 2017

  • Perayaan
    28 April
  • Lahir
    4 Oktober 1922
  • Kota asal
    Magenta, Milan, Italia
  • Wafat
    28 April 1962 di Rumah Sakit Bersalin Monza, Italia
    Meninggal seminggu setelah melahirkan akibat komplikasi karena menjalani kehamilan beresiko tinggi
  • Venerasi
    6 Juli 1991 oleh Paus Yohanes Paulus II
  • Beatifikasi
    24 April 1994 oleh Paus Yohanes Paulus II
  • Kanonisasi
    16 May 2004 oleh Paus Yohanes Paulus II Sumber : Katakombe.Org

Gianna Francesca Beretta  dilahirkan di Magenta, Milan, Italia pada tanggal 4 Oktober 1922. Ia adalah  anak kesepuluh dari tigabelas bersaudara, putera-puteri pasangan Alberto dan Maria Beretta. Ayah dan ibunya adalah orang katolik yang saleh  dan menjadi anggota Ordo Ketiga Fransiskan (para awam Fransiskan) yang taat. 
Oleh karena latar belakang keluarga serta bimbingan agama yang seksama dari kedua orang tuanya, Gianna telah diperkenankan menerima Komuni  Pertama pada usia lima setengah tahun. Setelah itu ia tidak pernah absen dalam Misa dan menyambut Komuni Kudus  setiap hari.  Dua tahun kemudian ia diperkenankan menerima Sakramen Krisma.
Gianna tidak terlalu cemerlang dalam belajar. Ia harus belajar keras di rumah demi memperbaiki nilai-nilainya yang buruk.  Ia mengalami masa-masa yang sulit di sekolah, tetapi pada akhirnya ia dapat mengatasi kesulitan belajar dengan ketekunannya. Salah seorang guru mengenangnya sebagai : 
Pada tahun  1942, ditengah berkecamuknya perang Dunia ke II, Gianna masuk sekolah kedokteran di Milan.  Namun ia tidak bisa kuliah karena perang telah sampai ke kota Milan.  Bom-bom berjatuhan meratakan segala yang ada dan orang meninggalkan kota itu menuju tempat yang lebih aman. Di masa ini pula ia kehilangan kedua orang tuanya. Ibunya meninggal dunia pada bulan Mei 1942 karena serangan jantung, dan ayahnya ikut meninggal dunia empat bulan kemudian.  Sementara hidup terasa berat dan nyaris tak tertahankan, Gianna selalu mengatasinya dengan cara membenamkan diri dalam doa dan meditasi, serta mencurahkan isi hatinya kepada Yesus.
Saat perang berakhir, ia melanjutkan kuliah di Pavia bersama saudarinya yang bernama Virginia. Kelak Virginia menjadi seorang Dokter dan seorang biarawati Cannosian yang berkarya di India.  Pada tanggal 30 November 1949 Gianna menerima gelar dalam ilmu kedokteran dan bedah dengan nilai mengagumkan.   Dua tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 7 Juli 1952,  ia meraih gelar dokter spesialis anak-anak. Gianna kemudian menggabungkan diri dengan seorang kakaknya, dokter Ferdinando, di sebuah klinik kesehatan pribadi di  Mesero, dekat  kota kelahirannya Magenta.  
Sejak masa kanak-kanak, Gianna menyimpan kekaguman dan kecintaan pada karya misionaris gereja.  Setelah menjadi dokter, ia sangat berharap dapat membantu kakaknya Alberto, seorang imam Capuchin yang  menjadi misionaris di Brasil.  Ia ingin mengamalkan keahlian medisnya dalam pelayanan kesehatan yang amat dibutuhkan di sana.  Namun karena kesehatannya sendiri yang kurang baik;  keinginan dokter Gianna untuk menjadi dokter missionaris  tak bisa terkabulkan.  Ia lalu melanjutkan karya missionarisnya dengan berpraktek di Italia.
Pada tanggal 24 September 1955, Gianna menikah dengan Pietro Molla, seorang insinyur yang bekerja sebagai direktur teknik. Upacara pemberkatan nikah dilangsungkan di Basilika San Martino di Magenta dan dipimpin oleh kakak  Gianna sendiri,  pater Guiseppe Beretta.  Setahun setelah perkawinannya,  Pietro dan Gianna diberkati dengan kelahiran putera pertama mereka, Pierluigi yang lahir pada tanggal 19 November 1956 dan dibaptis beberapa hari sesudahnya oleh pamannya  pater Giuseppe.  Anak kedua mereka lahir pada tanggal 11 Desember 1957, dan dibabtis dengan nama Maria Zita (Mariolina) oleh pater Giuseppe.  Selanjutnya pada tanggal 15 Juli 1959,  Laura, anak mereka yang ketiga dilahirkan. Sebagai ucapan syukur kepada Tuhan, sesudah kelahiran masing-masing anak, Gianna akan mengambil sejumlah besar uang dari tabungannya untuk disumbangkan kepada karya-karya misi.
Pada bulan Juli 1961 Gianna mengandung anaknya yang keempat. Namun di akhir bulan kedua kehamilannya,  ia didiagnosa dokter memiliki fibroma (tumor) di rahimnya. Tumor ini cukup besar hingga mengancam kelangsungan kehamilan dengan menghimpit janin. Ada tiga pilihan dalam kasusnya :
  • Pengangkatan rahim (hysterectomy) guna menyingkirkan tumor. Resikonya rendah; tetapi, berdampak pada kematian janin dan meniadakan kemungkinan kehamilan di masa mendatang. Seturut moralitas Katolik, dalam kasus ini hysterectomy bertujuan menyelamatkan nyawa ibu dengan mengangkat rahim yang terjangkit kanker (dengan dampak yang tak diinginkan kematian bayi yang belum dilahirkan).
  • Menyingkirkan tumor sekaligus mengakhiri kehamilan, sehingga memungkinkan kehamilan di masa mendatang. Pilihan ini, yang menyangkut aborsi langsung, secara moral Katolik tidak dapat diterima.
  • Mengabaikan tumor dan melanjutkan kehamilan dengan penuh resiko.
Gianna tidak pernah memikirkan kemungkinan aborsi. Ia memilih, dengan sukarela dan kemurahan hati yang besar dari pihaknya, untuk melanjutkan kehamilan penuh resiko demi kelangsungan hidup bayinya. Kegagahan yang dilakukan Gianna adalah ia lebih memilih nyawa anaknya walau dalam situasi yang sulit dan tanpa kepastian, pun tanpa peduli resiko bagi dirinya sendiri. (Dengan ultrasonik dan teknologi kedokteran saat ini, lebih banyak informasi dapat diperoleh para dokter dalam bedah modern, tetapi tidak di awal tahun 1960-an).
Sebagai seorang dokter, Gianna tahu benar tingginya resiko yang harus ia hadapi. Kendati ditentang oleh para dokter dan banyak orang,  Gianna berkeras pada pilihannya. Ia mengatakan, “Dokter tidak seharusnya ikut campur. Hak hidup anak sama dengan hak hidup ibu. Dokter tidak dapat memutuskan; adalah dosa membunuh bayi dalam rahim.” 
Kepada suaminya Pietro, Gianna memohon dengan suara tegas;  “Jika engkau harus memilih antara aku dan sang bayi, janganlah ragu; aku mendesak, selamatkan si bayi.” Gianna mempercayakan keselamatan dirinya pada doa dan penyelenggaraan ilahi, “Dengan iman dan pengharapan aku mempercayakan diriku pada Tuhan.... Aku percaya pada Tuhan, ya; tetapi sekarang tergantung padaku untuk menunaikan kewajibanku sebagai seorang ibu. Aku memperbaharui persembahan diriku kepada Tuhan. Aku siap untuk segalanya, demi menyelamatkan bayiku.”
Gianna melewatkan tujuh bulan selanjutnya hingga kelahiran sang bayi dalam kekuatan semangat yang tak tertandingi. Selama itu, ia mohon kepada Tuhan untuk menjaga bayi dalam rahimnya agar tak mengalami kesakitan. Pada hari Jumat Agung tahun 1962, Gianna dibawa masuk RS Bersalin Monza. Keesokan harinya, 21 April 1962, ia melahirkan seorang bayi perempuan melalui operasi caesar. Anak keempatnya ini beberapa hari kemudian dibabtis dengan nama Gianna Emanuella.
Kondisi Gianna semakin memburuk segera sesudah melahirkan. Ia memohon bantuan ibunya untuk tinggal dekatnya dan menolongnya, sebab ia tak dapat menahan rasa sakitnya lagi.  Penderitaannya tampak bagai suatu kurban yang dramatis dan perlahan, yang menyertai kurban Kristus di salib.  Menjelang ajal, ia masih sempat berkata kepada saudarinya,  “Andai saja engkau tahu bagaimana hal-hal dinilai secara berbeda di saat ajal! ... Betapa sia-sia tampaknya hal-hal yang di dunia ini begitu kita pentingkan!”.  Gianna Beretta Molla wafat pada tanggal 28 April 1962 dalam usia 39 tahun. Wajahnya tampak damai tenang, segala tanda kesakitan sama sekali sirna dan ia tampak dipenuhi kebahagiaan.
Pada tanggal 24 April 1994, dalam tahun yang dicanangkan sebagai Tahun Keluarga, Gianna Beretta Molla dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II.  Dalam Misa beatifikasi yang dihadiri oleh suami, saudara-saudari beserta putera-puteri  Gianna ini.  Bapa Suci mengatakan bahwa Gianna adalah teladan segenap ibu,  “Seorang perempuan dengan kasih yang luar biasa, seorang istri dan ibu yang mengagumkan, ia memberi kesaksian dalam hidup sehari-hari akan nilai-nilai Injil. Dengan berpegang pada wanita ini sebagai teladan kesempurnaan Kristiani, kita hendak memuji segenap para ibu keluarga yang penuh semangat, yang memberikan diri sepenuhnya kepada keluarga, yang menanggung derita dalam melahirkan, yang siap sedia bagi segala karya dan segala rupa kurban, agar yang terbaik dari mereka dapat dibagikan kepada sesama.”
Gianna Emanuela yang  saat itu telah menjadi seorang dokter dan pejuang Gerakan Pencinta Kehidupan, menyampaikan kesaksiannya;
Gianna Beretta Molla dikanonisasi oleh paus yang sama pada tanggal 16 Mei 2004. Pestanya dirayakan pada tanggal 28 April.(qq)

Santa Zita

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 4456 Diterbitkan: 11 Agustus 2013 Diperbaharui: 31 Mei 2014

  • Perayaan
    27 April
  • Lahir
    Tahun 1218
  • Kota asal
    Bozzanello, Monte Sagrate, Tuscany, Italy
  • Wafat
    27 April 1272 di Lucca, Italy | Sebab alamiah
  • Beatifikasi
    Tahun 1652 oleh Paus Innosensius X
  • Kanonisasi
    5 September 1696 oleh Paus Innosesius XII Sumber : Katakombe.Org

St. Zita dilahirkan di dusun Monte Sagrati, Italia, pada tahun 1218. Walau berasal dari keluarga yang sangat bersahaja namun kedua orangtuanya sangat saleh dan membesarkan Zita dengan cinta kasih Kristiani.
Merupakan tradisi pada waktu itu bahwa keluarga-keluarga miskin akan mengirimkan anak-anak gadis mereka kepada keluarga-keluarga yang terpercaya, yang mampu mempekerjakan mereka. Para gadis itu akan tinggal dalam keluarga tersebut untuk beberapa waktu lamanya dan dipekerjakan untuk melakukan tugas-tugas rumah tangga. Zita pergi bekerja di rumah keluarga Fatinelli di Lucca ketika usianya dua belas tahun.

Bapak dan Ibu Fatinelli adalah orang yang baik, mereka memiliki beberapa pekerja. Zita senang dapat bekerja dan mengirimkan upahnya kepada orangtuanya. Ia berusaha hidup penuh tanggung jawab. Ia membiasakan diri untuk berdoa di luar jadwal kerjanya. Setiap pagi ia bangun pagi-pagi benar agar dapat ambil bagian dalam perayaan Misa.

Zita seorang pekerja yang rajin. Ia merasa bahwa bekerja adalah bagian dari hidupnya. Tetapi pekerja-pekerja lain iri hati kepadanya. Sedapat mungkin mereka bekerja sedikit saja. Mereka mulai mencari-cari kesalahan Zita serta memusuhinya tanpa sepengetahuan majikan mereka. Zita merasa sedih, tetapi ia berdoa mohon kesabaran. Ia tidak pernah melaporkan mereka. Ia tetap melakukan tugas-tugasnnya sebaik mungkin tanpa peduli pendapat mereka.
Santa Zita selalu berusaha siapa saja yang membutuhkannya semampu yang bisa ia berikan.  Upahnya selama bekerja sebagai pembantu rumah tangga ia habiskan untuk membeli makanan untuk para pengemis dan tuna wisma.  
Seluruh hidupnya ia habiskan dengan bekerja untuk keluarga Fatinelli. Sementara para pekerja lainnya datang dan pergi, ia tetap setia. Ia melayani majikannya dengan cinta kasih. Ia mengasihi mereka seperti ia mengasihi keluarganya sendiri. Dengan teladannya, Zita membantu orang menyadari bahwa bekerja itu menyenangkan apabila dilakukan dengan semangat cinta kasih Kristiani. Zita wafat dengan tenang pada tanggal 27 April 1278 dalam usia enam puluh tahun.
Tubuh St. Zita ditemukan terawetkan pada tahun 1580 dan saat ini disemayamkan di gereja St. Frediano di Lucca, Italia, persis disamping rumah keluarga Fatinelli.
 Sumber : Katakombe.Org