Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Thursday, October 3, 2019

Mukjizat Buah Komitmen Pada Yang Nyata




Pada hari Selasa pagi 1 Oktober 2019 saya mendapatkan kunjungan Maria Paramastri Hayuning Adi yang biasa dipanggil Astrid. Kini nama lengkapnya dalam undangan perkawinan sudah bertambah dengan gelar SE dan M.Sc. “Sekarang apa saja acara rama?” tanya Astrid yang saya jawab “Sangangpuluh persen luwih neng kamar. Ketemu rama saomah mung pas misa Komunitas karo neng kamar makan sedina ping telu. Sok-sok diundang misa. Biasane misa arwah” (Berada di kamar lebih dari 90%. Berjumpa dengan rama serumah hanya pada saat misa komunitas dan tiga kali di kamar makan. Kadang-kadang ada yang minta pelayanan misa. Biasanya misa arwah). Tampaknya dia ingin berbicara masa lalu ketika masih aktif ikut gerakan kegiatan di Museum Misi Muntilan Pusat Animasi Misioner (MMM PAM). Maklumlah Astrid termasuk anggota tim remaja sejak SMP dan SMA dan dulu bersama keluarganya termasuk dekat dengan saya. Tetapi saya berkata “Nek omong urip ki sing saiki wae. Sing biyen ki wis kliwat. Kuwi nggo sinau” (Yang dibicarakan yang sekarang saja. Yang dulu sudah lewat. Itu untuk pembelajaran).


Belajar Mati untuk Meraih Kehidupan

Sebenarnya kata-kataku yang menekankan omongan untuk yang riil kini dan disini saya sengaja untuk masuk dalam ikut menyiapkan Astrid meninggalkan orangtuanya demi bersama suaminya berada di kota lain. Saya kemudian men-sharing-kan pengalaman saya masuk rumah tua para rama di Domus Pacis Puren. Berpisah dengan “hidup harian” masa lalu memang membutuhkan proses. Pada saat meninggalkan kehidupan harian ketika masih dinas dengan pusat MMM PAM dan kemudian tinggal di Domus, saya bertindak ekstrim. Kecuali untuk melayani permintaan pelayanan misa, yang pada bulan Juli-Agustus 2010 hanya amat kadang-kadang, saya sengaja ngendon di kamar. Dalam hati terpatri kata-kata “Sebelum merasa kerasan di kamar ini, saya tidak akan pergi-pergi apalagi hanya untuk dolan”. Dari catatan yang saya miliki, saya memerlukan 59 hari untuk menyadari mengapa hati diwarnai kegelisahan. Hal itu terjadi ketika saya mengendarai sepeda motor roda tiga di tengah hujan menuju tempat misa yang harus saya layani. Karena terjadi pada sekitar jam 18.30, peristiwa itu sungguh membuat saya menderita. Bila kaca helm ditutup, saya akan mengalami pandangan gelap. Bila dibuka, derasnya hujan membuat pipi terasa disayat-sayat. Saya hanya mengeluh dalam hati kepada Tuhan. Tiba-tiba terasa seperti ada sentakan yang mengatakan “Itulah sekarang kinimu. Kamu sudah bukan pimpinan lembaga yang memiliki fasilitas mobil. Kamu sudah tidak memiliki tim kerja yang biasa mengiringipun dalam pelayanan”.

Karena suara sentakan itu muncul dalam doa batin sembari bermotor menempuh kelebatan hujan, dalam renungan-renungan sesudahnya saya menyadarinya sebagai cahaya terang ilahi. Kesadaran itu saya yakini karena saya tidak tersinggung akan kata-kata itu. Justru karena kata-kata itulah yang membuat saya seperti mengalami kebangkitan jiwa. Hati menjadi tenang. Dan selanjutnya situasi dan kondisi Domus Pacis Puren menjadi kehidupan baru. Saya teringat ungkapan bahasa Perancis yang kalau tidak keliru berbunyi partir c’est murir en peau (perpisahan itu adalah kematian kecil). Segala karya MMM PAM sudah lalu, sudah mati. Tetapi dengan ikhlas menghayati kematian itu, saya menemukan kehidupan baru yang tak kalah terasa indah dan membahagiakan. Tentu saja semua ini saya katakan kepada Astrid sebagai sharing untuk ikut mengantarnya meninggal ibu dan bapaknya karena akan menghayati kehidupan baru bersama suaminya.


Èh, Malah Sadar Mukjizat

Ketika Astrid sudah pulang dan dalam kesendirian di kamar, ternyata saya terus digerayangi oleh kekinian saya. “Kini dan di sini” saya adalah Domus Pacis Puren.

Kondisi dalam keterbatasan

Sebagaimana rama-rama lain yang tinggal di Domus, hidup saya didominasi oleh kangkangan kamar. Saya memang menjadi yang paling tampak segar dibandingkan dengan para rama lain. Saya masih bisa pergi baik dengan motor roda tiga maupun mobil matik Ayla. Dalam mobilitas saya memang bisa menggunakan kruk atau tongkat penyangga. Tetapi karena pernah dua kali terpeleset dan harus terbaring di RS Panti Rapih karena patah tulang, saya merasa lebih aman dengan kursi roda. Saya memang menjadi sosok Domus yang paling banyak pergi untuk pelayanan misa (mayoritas misa arwah) dan pendampingan penyegaran ajaran agama untuk kelompok lansia. Meskipun demikian, sekalipun tampaknya paling sibuk, 92,77% hidup saya berada di rumah induk Domus Pacis Puren. Inilah yang membuat saya berani mengatakan bahwa 90,00% saya lebih berada dalam kamar. Perjumpaan dengan rama-rama hanya pada waktu misa komunitas dan tiga kali makan sehari. Dalam mobilitas saya banyak berkursi roda. Kalau pergi harus lebih membutuhkan bantuan orang lain untuk memasukkan dan mengeluarkan kursi roda serta mengandalkan bantuan orang lain lebih-lebih kalau berhadapan dengan jalan tak rata bahkan dengan tangga.

Kondisi seperti itu tentu membuat cakupan aktivitas saya amat terbatas. Saya hanya melayani misa ujub keluarga, 5 kelompok pendalaman ajaran agama untuk lansia lima kali sebulan, dan Novena Seminar untuk lansia setiap Minggu Pertama 9 kali dalam setahun. Selain kondisi seperti itu, saya juga harus memperhatikan kondisi tubuh. Saya harus menjaga diri dalam hal menu yang saya santap. Ada penyakit-penyakit yang menggerayangi tubuh: hipertensi, asam urat, kolesterol, trigliserid, dan diabetes. Dalam hal kondisi tubuh, saya juga tidak mudah untuk menerima acara luar yang harus terjadi pada waktu pagi hingga sekitar jam 09.30. Kalau harus menerima, saya sudah harus santap pagi pada antara jam 03.00-04.00. Hal ini disebabkan keadaan saya yang akan mudah berak sewaktu-waktu walau sudah berak sebelumnya sesudah makan pagi.

Penyelenggara kepentingan tidak kecil

Dengan keterbatasan yang ada, ada beberapa hal yang menurut saya cukup besar.



1.     Novena Ekaristi Seminar. Ini adalah program untuk kaum lanjut usia yang dirintis pada tahun 2012. Kemudian mulai tahun 2013 hingga kini terjadi 9 kali berturut-turut dari Maret hingga November pada setiap Minggu Pertama jam 09.00-12.00. Dengan program ini para peserta diharapkan mendapatkan wawasan realitas dunia kelansiaan. Setiap akhir pembicaraan memang ada pegangan Injili yang diharapkan dapat menjadi landasan untuk menghayati iman sesuai dengan situasi hidup yang dihadapi. Sesudah pembicaraan pada bagian seminar, ada misa kudus. Dalam program ini ketika datang para peserta selalu mendapatkan minuman teh dan snak sederhana. Sesudah misa makan siang pun disajikan untuk semua. Jumlah pendaftar biasa menembus angka 300. Ini adalah program yang melibatkan tidak sedikit orang untuk berbagi. Para pembicara, yang sungguh ahli dalam bidang masing-masing, datang berbagi wawasan tanpa honorarium. Ibu Tatik Santo menjadi sosok berbagi tenaga untuk menyiapkan santap siang dengan beaya yang amat rendah. Bu Rini menjadi penyedia snak juga dengan harga murah. Mas Handoko mengurus perlengkapan seperti tata kursi dan soundsystem. Bu Sri Handoko, Bu Sri dari Ambarrukmo, Bu Mumun, Bu Mardi, Bu Mardanu, Bu Dini, Bu Titik Waluyanti biasa datang untuk membantu Bu Tatik dan Bu Rini. Bu Titik dari Puren mengurus altar, hosti, anggur, dan buku misa. Semua datang berbagi tenaga juga tanpa honorarium. Untuk program ini yang membutuhkan beaya hanya konsumsi. Uang diperoleh dari kolekte para peserta. Kadang-kadang ada peserta yang memberikan tambahan sumbangan. Maka para peserta mendapatkan kesempatan berbagi harta. Dalam hal berkolekte, hal ini sungguh bersifat suka rela dan bukan keharusan. Hasil kolekte dipakai untuk pembeayaan konsumsi bulan selanjutnya.
2.      Hajatan. Domus Pacis Puren biasa mengadakan hajatan terutama ulang tahun tahbisan. Tetapi kini yang jadi hajatan besar adalah ulang tahun imamat ke 40 atau dimungkinkan ke 50. Secara praktis itu memang saya yang bertanggungjawab. Selain hajatan untuk kepentingan rama penghuni, ada juga hajatan besar yang berkaitan dengan keperluan saya pribadi seperti pertemuan trah dan peringatan arwah ibu saya. Untuk hajatan Mas Handoko akan secara ekstra mengurus perlengkapan dan apapun yang dibutuhkan selain konsumsi. Bu Titik Waluyanti dan Bu Rini akan sibuk mengurus konsumsi. Tentu saja beberapa ibu yang ikut membantu program Novena juga ikut terlibat dalam hari pelaksanaan.
3.      Rumah Tangga Domus Pacis Puren. Saya memang sudah terbiasa membantu mengurus kebutuhan Domus. Tetapi secara resmi diserahi tanggungjawab memang baru terjadi mulai Agustus 2018. Domus memang memiliki karyawan dan tenaga pramurukti yang berasal dari RS Panti Rini. Untuk kebutuhan-kebutuhan khusus internal Domus ada beberapa orang yang setiap saat siap membantu: Bu Rini, Mas Handoko, dan suami-istri Pak Naryo – Bu Ninik. Orang-orang ini sungguh meringankan saya dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan Domus. Mereka berperan dalam mendapatkan bantuan-bantuan in natura (berupa barang) atau paling tidak mendapatkan barang kebutuhan dengan harga ekstra murah. Bu Ninik dan Bu Rini bersama 6 orang ibu lain (Bu Tatik, Bu Wulan, Bu Mardi, Bu Riwi, Bu Vero, dan Bu Mumun) dapat menghimpun 89 orang untuk pengadaan lauk pauk sehari 3 kali yang diantar ke Domus Pacis Puren. Delapan puluh sembilan orang ini menyumbang tambahan beaya untuk pengadaan masakan. Dalam pengamatan saya rata-rata per orang menyumbang sebesar Rp. 50.000,00. Memang, saya secara pribadi sering mendapatkan bantuan berupa uang dari donator. Sumbangan ini tentu amat bermanfaat menutup kekurangan finasial yang saya terima per bulan. Dana Keuskupan yang saya minta lewat Rm. Sapta Nugraha paling banyak menutup kebutuhan finansial sebesar 75,00%. Apalagi kalau bantuan barang seperti beras, pempers, dan tambahan untuk makan dihitung uang, dana-dana ini untuk Domus mendukung kekurangan minim 39,15%.

Mukjizat penyertaan Tuhan

Dari permenungan ini saya sungguh menyadari diri saya yang terbatas. Keterbatasan disabilitas kaki membuat saya baru sekali masuk rumah Pak Naryo – Bu Ninik. Di rumah Bu Rini, yang paling banyak berada di Domus Pacis Puren, saya hanya bisa masuk di ruang bawah yang tidak biasa untuk menerima tamu. Itupun belum sampai sepuluh kali. Biasanya saya hanya berada di halaman rumahnya dan itupun berada di dalam mobil. Untuk sungguh masuk ruang penerimaan tamu orang harus naik lewat jalan bertangga-tangga banyak. Apalagi di tempat tinggal Mas Handoko. Untuk naik ke tingkat 5 rumah susun sungguh di luar kemungkinan.

Untuk kontak dengan semua relawan-relawati baik yang siap secara harian, dalam acara-acara khusus, maupun yang menyediakan diri menyiapkan masakan, saya hanya biasa lewat SMS, WA, dan telepon. Tetapi kehadiran mereka selalu bersifat fisik face to face. Kontak saya banyak diwarnai model non lahiriah tetapi yang terjadi adalah lahiriah sesuai kebutuhan kongkret baik yang diharapkan maupun yang di luar harapan tetapi amat baik jadinya. Entah bagaimana saya merasa bahwa apa yang saya kontakkan dengan alat komunikasi adalah seperti sebuah doa yang relasinya bercorak batiniah. Dan dari “doa” itu datanglah mereka dengan segala karyanya. Dalam hal ini saya berkeyakinan bahwa kehadiran mereka adalah kehadiran kasih berkepedulian. Padahal kasih berkepedulian adalah karya ilahi. Maka semua relawan-relawati adalah ujud-ujud bagian raga ilahi. Yang terjadi adalah mukjizat dalam hidup para penghuni atau komunitas Domus Pacis Puren. Dengan ini saya sungguh disadarkan bahwa, dengan kesungguhan hidup “kini dan di sini” dalam perjalanan sehari-hari, sadar atau tidak sadar saya boleh mengalami mukjizat yang sungguh nyata.


3 Oktober 2019

Lamunan Peringatan Wajib

Santo Fransiskus Assisi
Jumat, 4 Oktober 2019

Lukas 10:13-16

10:13 "Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung.
10:14 Akan tetapi pada waktu penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu.
10:15 Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati!
10:16 Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, orang dapat merasa selalu beruntung kalau banyak menerima anugrah. Dia dapat mengalami banyak hal menyenangkan yang datang tanpa diduga.
  • Tampaknya, orang dapat merasa selalu beruntung kalau doanya terkabul. Apapun yang dimohon selalu terpenuhi.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun banyak mengalami anugrah dan kalau berdoa selalu terkabul, orang belum tentu sungguh mengalami kemujuran hidup kalau hidupnya tidak dilandasi oleh dengung nurani. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang menyadari bahwa keberuntungan sejati bukan terutama karena mendapatkan apapun yang dibutuhkan dan diinginkan tetapi karena hidup taat pada suara batin.
Ah, kalau kebutuhan tak terpenuhi ya celaka dong.

Santo Ewald the Black

diambil darikatakombe.org/para-kudus Hits: 2907 Diterbitkan: 02 Oktober 2014 Diperbaharui: 30 September 2016
ilustrasi dari koleksi Blog Domus

  • Perayaan
    3 Oktober
  •  
  • Lahir
    Hidup pada abad ke-7 (tanggal dan tahun lahir tidak diketahui)
  •  
  • Kota asal
    Northumbria, Inggris
  •  
  • Wilayah karya
    Westphalia - Jerman
  •  
  • Wafat
    Martir - Disiksa sampai mati di Wesphalia Jerman pada tahun 690
  •  
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation
    Tahun 1121 Relikwi dipindahkan ke biara Premonstratensian di Namur oleh Santo Nobertus
    Tahun 1534 biara ini diserbu oleh kaum Anabaptis dan Relikwi martir ini dihancurkan Sumber : Katakombe.Org

Orang kudus ini disebut Ewald the Black karena ia memiliki rambut berwarna hitam dan untuk membedakannya dengan seorang rekannya yang juga bernama Ewald yang berambut pirang (Ewald the Fair). Sebagian tradisi menyebutkan bahwa dua orang kudus bernama Ewald ini bersaudara, namun tidak terdapat catatan yang mendukung pernyataan tersebut.
Dua orang kudus bernama Ewald ini berasal dari daerah yang sama yaitu Northumbria, Inggris. Mereka berdua bersama-sama melanjutkan studi di Irlandia sampai ditahbiskan menjadi imam. Bersama Santo Willibrodus, keduanya berkarya sebagai misionaris. Mula-mula mereka berkarya di Antwerpen, Belgia. Dari sana mereka melancarkan pewartaan Injil kepada suku-suku bangsa yang masih kafir di wilayah-wilayah sekitar. Semangat mereka untuk mempertobatkan bangsa-bangsa kafir mendesak keduanya mewartakan Injil diantara orang-orang Saxon yang masih kafir.
Pada tahun 690 dua Ewald ini tiba di wilayah bangsa Saxon di Westpalia. Kedatangan mereka diterima baik oleh kepala suku disitu dengan penuh tanda tanya. Seluruh penduduk memandang mereka dengan penuh kecemasan dan kecurigaan. Mereka dicurigai sebagai orang-orang jahat yang membahayakan kemerdekaan bangsa Saxon. Oleh karena itu, keduanya diserang dan dipukuli dengan gada. Ewald si pirang mati seketika itu juga; sedangkan Ewald berambut hitam tidak mau menyerah begitu saja. Ia masih berbicara untuk menerangkan maksud utama kedatangan mereka. Namun usahanya ini sia-sia. Ia bahkan disiksa dengan lebih mengerikan sampai tewas mengenaskan.
Tubuh kedua orang martir ini lalu dilemparkan ke Sungai Rhine, tetapi secara ajaib kedua jasad tersebut dipindahkan 40 km sebelah hulu ke tempat di mana teman-temannya sedang berkemah. Keduanya lalu dimakamkan di tempat pemakaman yang sama.
Pada tahun 1121 Relikwi Santo Ewald the Black dan Santo Ewald the Fair dipindahkan ke biara Premonstratensian di Namur oleh Santo Nobertus. Tahun 1534 biara ini diserbu oleh kaum Anabaptis dan relikwi kedua orang martir ini dihancurkan.
Gereja menghormati kedua orang kudus ini sebagai misionaris dan martir yang mati terbunuh dalam karya pewartaannya di kalangan orang-orang kafir.
 Sumber : Katakombe.Org

Wednesday, October 2, 2019

Percikan Nas Kamis, 03 Oktober 2019

Maria Guadalupe Ricart Olmos
warna liturgi Hijau

Bacaan-bacaan:
Neh. 8:1- 4a,5-6,7b-12; Mzm. 19:8,9,10,11; Luk. 10:1-12.
BcO 2Taw. 29:1-2; 30:1-16a.

Bacaan Injil:
1 Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. 2 Kata-Nya kepada mereka: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. 3 Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. 4 Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapapun selama dalam perjalanan. 5 Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. 6 Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. 7 Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. 8 Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, 9 dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu. 10 Tetapi jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah: 11 Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat. 12 Aku berkata kepadamu: pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu."

Memetik Inspirasi:
Saat ini Seminari Mertoyudan dan seminari-seminari yang lain telah membuka pendaftaran siswa baru. Tentu ini butuh perhatian dan keterlibatan kita semua. Di Keuskupan Agung Semarang ada 100 paroki lebih. Imam prajanya ada 221. Ada pula imam biarawan. Umatnya sekitar 380an ribu jiwa. Tentu masih dibutuhkan banyak lagi yang terpanggil menjadi imam.
Tuhan pun pernah mengatakan, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (Luk 10:2). Tuaian banyak tapi pekerja sedikit. Tuhan mengajak kita untuk minta pada Tuan yang mempunyai tuaian agar mengirim pekerja.
Kita pun perlu meluangkan sejenak hati kita untuk memohon kepada Tuhan untuk mengirimkan pekerja. Kita juga perlu mempunyai keiklasan bila ada dari keluarga kita yang terpanggil. Pekerja itu akan ada kala kita mau berpartner secara aktif dengan Tuhan. Doa, kerelaan dan dukungan kita sangat berarti untuk membantu Tuhan memanen tuaian-Nya.

Refleksi: 
Apa sumbanganmu untuk menghadirkan pekerja tuaian Tuhan?

Doa:
Ya Tuhan utuslah para pekerja-Mu. Semoga dari lingkungan sekitar kami ada yang terpanggil. Semoga kami pun ikhlas bila yang Kaupanggil salah satu anggota keluarga kami. Amin.

Pekerja Tuaian-Nya
MoGoeng
Wates

Lamunan Pekan Biasa XXVI

Kamis, 3 Oktober 2019

Lukas 10:1-12

10:1. Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya.
10:2 Kata-Nya kepada mereka: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.
10:3 Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.
10:4 Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapapun selama dalam perjalanan.
10:5 Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini.
10:6 Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu.
10:7 Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah.
10:8 Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu,
10:9 dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu.
10:10 Tetapi jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah:
10:11 Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat.
10:12 Aku berkata kepadamu: pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, bekerja adalah penghayatan kesejatian hidup manusia. Orang bekerja untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup.
  • Tampaknya, banyak orang mendaftarkan diri apabila dibuka lowongan pekerjaan. Banyak lulusan sekolah bahkan yang bertitel sarjana menjadi penganggur karena terbatasnya lapangan kerja.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun banyak orang mengatakan jumlah lapangan kerja tidak banyak sehingga banyak penganggur, pekerja sejati akan menyadari bahwa dalam kehidupan ini berlimpah hal yang membutuhkan penanganan sehingga selalu kurang tenaga. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan menyadari bahwa kerja adalah wujud mengembangkan talenta dan kompetensi untuk mengolah apapun yang dibutuhkan orang lain.
Ah, bekerja itu yang menjadi tenaga yang menjamin pensiun hari tua.

Santo Warren

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 2992 Diterbitkan: 14 Februari 2014 Diperbaharui: 30 September 2016
ilustrasi dari koleksi Blog Domus

  • Perayaan
    02 Oktober
  •  
  • Lahir
    Sekitar Tahun 630
  •  
  • Kota asal
    Autun - Burgundy - Perancis
  •  
  • Wafat
    Martir - Dirajam sampai mati pada Tahun 677
  •  
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation Sumber : Katakombe.Org

St. Warren lahir di Autun,  Burgundy (sekarang wilayah Perancis). Dia berasal dari keluarga bangsawan Kristen yang saleh. Ibunya juga seorang kudus; yaitu Santa Sigrada. Seorang saudaranya; Leodegarius menjadi uskup di kota mereka. Di kemudian hari Leodegarius juga menjadi seorang santo dan martir Kristus. Sebagai seorang bangsawan St. Warren dan saudaranya menghabiskan masa kecil mereka di istana Clotaire II.
Tidak banyak lagi catatan yang bisa kita temukan tentang orang kudus ini,  selain bahwa ia menjadi martir setelah dirajam sampai mati atas perintah seorang Walikota bernama Ebroin.  
Sekitar tahun 675 Ebroin bersama para sekutunya menyerang  kota Autun. St. Warren dan saudaranya Uskup Leodegarius jatuh ke tangan mereka.  Ebroin kemudian menyiksa St. Leodegarius dengan sangat mengerikan. Kedua matanya dicungkil dan lidahnya dipotong. Ebroin dengan keji membiarkan Santo Loedegarius hidup dalam penderitaan sebagai seorang buta dan bisu selama 2 tahun sebelum kemudian membunuhnya di pinggir hutan.
Menyusul kemartiran saudaranya; pada tahun 677  St. Warren dirajam sampai mati oleh para kaki tangan Eborius. 

Setiap Martir Adalah Persembahan Bagi Gereja

Tuesday, October 1, 2019

Percikan Nas Rabu, 02 Oktober 2019

Peringatan Wajib
Para Malaikat Pelindung
warna liturgi Putih

Bacaan-bacaan:
Kel. 23:20-23a; Mzm. 91:1-2,3-4,5-6,10-11; Mat. 18:1-5,10;
BcO Ydt. 10:1-5,11-17; 11:1-8,20-23

Bacaan Injil:
1 Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?" 2 Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka 3 lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 4 Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. 5 Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku." 10 Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga.

Memetik Inspirasi: 
Beberapa hari terakhir ini ada demo di mana-mana. Demo itu menyuarakan penangguhan penetapan beberapa rancangan undang-undang menjadi undang-undang. Awalnya demo itu berlangsung damai, namun memasuki senja jadi rusuh. Tidak sedikit anak-anak dilibatkan dalam demo tersebut. Bahkan ada pula pelajar yang tertangkap karena kerusuhan telah menggunakan narkoba sebelumnya. Anak-anak dijadikan sebagai “bahan" perusuh.
Dalam iman kita anak-anak adalah simbol Kerajaan Allah, damai sejahtera. Tuhan mengambil anak sebagai simbol kerajaan Allah. Bahkan Tuhan mengatakan, “Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga” (Mat 18:10).
Di hari peringatan wajib Malaikat Pelindung ini marilah kita kembali menempatkan anak-anak sebagai simbol kedamaian Tuhan. Mereka adalah pelita dalam keluarga dan bangsa. Jangan jadikan anak hanya sebagai “bahan" jahat kepentingan dan nafsu berkuasa.

Refleksi:
Apa arti anak bagimu?

Doa:
Tuhan bantulah para orang tua untuk menjaga anak-anaknya. Engkau pun menjaga mereka dengan para malaikat-Mu. Jadikanlah anak-anak sebagai pelita hidup. Amin.

Pelita hidup
MoGoeng
Wates