Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Friday, April 28, 2017

Antara Yerusalem Dan Emaus

diambil dari http://www.mirifica.net by A. Gianto on Jendela Alkitab, Minggu
 

Rekan-rekan yang baik!

INJIL Hari Minggu Paskah III/A ini, Luk 24:13-35, mengisahkan perjalanan dua orang murid ke Emaus meninggalkan kota Yerusalem berikut peristiwa-peristiwa yang membuat angan-angan mereka tentang Yesus pudar. Namun selama perjalanan itu juga mereka memperoleh penjernihan dari orang yang tak dikenal yang tiba-tiba saja menyertai mereka. Baru pada akhir perjalanan itu mereka mengenali siapa sesungguhnya dia. Tetapi saat itu juga ia lenyap dari pandangan mereka. Pengalaman berjumpa dengan dia telah memperkaya mereka. Dan mereka pun bergegas kembali ke Yerusalem mengabarkan pengalaman mereka kepada para murid yang masih berkumpul di sana.

Pentingkah Lokasi Emaus?

Emaus disebut sebagai “dusun” yang letaknya kira-kira 11 km dari Yerusalem. Kerap lokasinya disamakan dengan Emaus yang disebut-sebut dalam 1 Mak 3:40-57; 4:3; 9:50. Di situ pada tahun 166 seb. Masehi terjadi kemenangan perlawanan Yudas Makabe terhadap kekuasaan asing. Peristiwa ini makin menyuburkan perkembangan harapan akan seorang Mesias yang akan membangun kembali kejayaan di masa lampau, semacam gagasan mesianisme politik. Harapan ini bahkan makin tebal ketika gerakan keluarga Makabe dan penerusnya mulai mundur dan tertumpas. Angan-angan seperti itu masih tetap subur pada zaman Yesus. Banyak orang mengira Yesus itu Mesias dalam artian itu. Bahkan banyak di antara murid-murid yang paling terdekat berpendapat demikian. Memang Yesus resminya dihukum mati sebagai pemimpin gerakan politik.

Akan tetapi Emaus yang dibicarakan dalam Kitab Makabe itu letaknya sekitar 30 km sebelah barat laut Yerusalem. Terlalu jauh bagi perjalanan pulang balik dalam satu sore dan malam. Lukas juga menyebut tempat itu jaraknya hanya sekitar 11 km dari Yerusalem. Jadi jelas yang dimaksud bukan Emaus tempat kemenangan gerakan Yudas Makabe dua abad sebelumnya itu. Beberapa tempat lain pernah diduga sebagai Emaus-nya kedua murid tadi. Tetapi tak satu pun bisa dipastikan. Lukas kiranya memang tidak hendak berbicara mengenai lokasi geografis. Boleh diperkirakan ia memakai nama Emaus guna memunculkan asosiasi antara tempat mulai suburnya mesianisme politik dan kenyataan sekarang bahwa tumpuan harapan itu tidak ada lagi karena sudah dihukum mati dan disalibkan (ay. 19-21). Ketimpangan informasi mengenai jarak Yerusalem – Emaus dalam kisah ini (sekitar 11 km) dengan jarak antara Yerusalem – Emaus zaman Makabe dulu (sekitar 30 km) rupa-rupanya sengaja ditampilkan agar pembaca memahami tempat itu bukan dalam artian geografis. Dengan demikian pembaca bisa memahami perjalanan ke Emaus sebagai perjalanan batin menyadari pelbagai distorsi dalam benak masing-masing mengenai siapa Yesus itu. Yesus yang telah bangkit itu menjumpai murid-muridnya dan meluruskan gagasan mereka mengenai dirinya. Angan-angan keliru tentangnya hanya membuat hidup suram.

Dua Orang Murid

Hanya satu dari kedua orang murid disebutkan namanya, yakni Kleopas (Luk 24:18). Mengapa? Ini cara Lukas untuk membuat pembaca ikut serta di dalam kisahnya. Pembaca seakan-akan diajak menjadi murid yang tak disebut namanya itu. Dengan demikian pembaca bisa merasa ikut disapa oleh musafir yang tiba-tiba menyertai perjalanan mereka ke Emaus (ay. 17), “Apa yang sedang kalian percakapkan?” Ditanya demikian, kedua murid itu terhenyak dan menyadari bahwa hingga kini mereka berjalan menuju “cita-cita yang berakhir dengan kekecewaan” itu. Dan muka mereka pun menjadi muram. Kleopas balik bertanya (ay. 18) apa orang itu satu-satunya peziarah di Yerusalem yang tak tahu apa yang terjadi hari-hari itu. Pembaca yang mengidentifikasikan diri dengan murid yang lain yang tak disebut namanya itu dapat ikut serta di dalam pembicaraan tadi. Mungkin reaksinya tak sama dengan yang dikatakan Kleopas. Boleh jadi juga akan hanya diam dan menggagas siapa gerangan orang ini. Dan musafir itu malah bertanya lebih lanjut mengenai apa yang terjadi. Maka mereka pun mulai bercerita mengenai Yesus orang Nazaret.

Dengan cara ini Lukas makin mengikutsertakan kesadaran pembacanya dalam pembicaraan mengenai siapa Yesus dari Nazaret itu. Injilnya mempertemukan pembaca dengan sang musafir itu sendiri. Ada baiknya pembaca zaman sekarang juga mengikuti perjalanan itu hingga akhir dan tidak tergesa-gesa memoralisir peristiwa ini. Sebuah kesempatan langka orang dapat mengikuti peristiwa ini dari dalam. Sayang bila segera digantikan dengan pesan-pesan seluhur apapun, dengan maksud saleh manapun.

Bagaimana penerapannya? Kita masing-masing diajak untuk menceritakan pengalaman kita hingga kini mengenai Yesus kepadanya sendiri. Ia menyertai perjalanan kita. Juga perjalanan dalam macam-macam kekecewaan batin yang sebenarnya berasal dari gambaran keliru kita mengenai apa dan siapa tumpuan harapan hidup kita. Juga sikap kurang percaya kita akan didengarkannya seperti ketika ia mendengarkan kecurigaan dua murid itu terhadap kesaksian para perempuan mengenai Yesus (ay. 22-24).

Dikawani Dia Yang Telah Bangkit

Musafir itu menanggapi kisah kedua murid itu dengan berkata (Luk 24:25), “Hai kamu orang bodoh dan lamban pikiran!” Dalam bahasa kita kata-kata ini terasa sebagai celaan. Tapi dalam cara berdiskusi para cendekia di zaman itu, kata-kata seperti itu dimaksud sebagai ajakan untuk bersama-sama memikirkan kembali perkaranya guna menemukan penjelasan yang lebih memuaskan. Pemikiran mana yang hendak ditampilkan di sini?

Dengan merujuk pada nubuat mengenai penderitaan Mesias sebagai jalan ke kemuliaannya Injil hendak mengingatkan pembaca pada pemberitaan sengsara yang pernah sampai tiga kali disampaikan Yesus sendiri kepada para murid (Luk 9:22, 9:33-45; 18:31-34), yakni bahwa ia bakal dimusuhi, menderita dan dibunuh, tetapi akan dibangkitkan pada hari ketiga. Memang tiap kali para murid tak bisa memahami. Tak tecerna oleh mereka mengapa sang Mesias sampai perlu menderita dan bahkan dibunuh, agar mencapai kemuliaannya. Perjalanan dari Yerusalem ke Emaus ditampilkan sebagai penjernihan gagasan para murid – gagasan kita masing-masing – mengenai Yesus. Caranya sederhana. Kedua murid itu diminta mengingat-ingat kembali semua yang sudah pernah didengar tentangnya. Tapi kali ini mereka diajak membaca kembali pengalaman itu dengan pikiran yang merdeka yang tidak dikuasai agenda tersembunyi yang ini atau yang itu. Mereka dihadapkan kepada sumber-sumber kepercayaan yang sejati (ay. 27: “mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi”). Seperti mereka, kita juga diajak agar bersedia berdialog dengan sabda Tuhan sendiri dan membiarkan diri diperkaya oleh-Nya.

Seperti disebutkan nanti dalam ay. 32, mereka berkata satu sama lain “hati kita berkobar-kobar”. Yang “berkobar-kobar” biasanya api yang menerangi dan memiliki daya memurnikan logam campuran. Jadi pikiran (“hati”) mereka yang tadinya gelap kini terang menyala-nyala dan yang tadinya bercampur baur kini dimurnikan. Murid-murid “terbuka matanya” (Luk 24:31) dan mengerti bahwa Yesus menyertai mereka. Mereka segera berangkat kembali dan membagikan pengalaman mereka kepada murid-murid lain di sana yang belum ikut mengalami kebangkitan Yesus.

Mengenalinya

Di Emaus “ketika Ia memecah-mecah roti” barulah kedua murid itu mengenali siapa sesungguhnya orang yang menyertai mereka tadi. Baru pada saat itulah mereka menyadari sepenuhnya bahwa orang itu sama dengan dia yang dalam Perjamuan Malam (Luk 22:16 dan 18) mengatakan tidak akan makan dan minum lagi sampai Kerajaan Allah betul-betul datang. Mereka berdua mengalami bahwa kini Yang Ilahi bisa benar-benar hadir di tengah-tengah manusia. Artinya, mereka yang percaya bahwa Yesus telah bangkit juga akan mempercayai kehadirannya di dalam kehidupan mereka. Dan kehadirannya inilah yang memberi harapan yang baru dan wajah yang baru bagi kemanusiaan. Yang diminta dari kita ialah membiarkan kehadirannya makin tampak dan makin biasa dirasakan orang banyak, makin memberi harapan.

Pada saat kedua murid tadi menyadari siapa orang yang mereka ajak datang ke rumah mereka di Emaus – ke dalam kehidupan mereka – saat itu juga Yesus lenyap. Kehadirannya tak dapat mereka kukuhi bagi mereka sendiri. Namun demikian, ada yang tinggal, yakni kebijaksanaan serta kekuatan baru untuk meniti jalan kembali ke Yerusalem dalam terang kobaran “hati” (= pikiran) mereka dan membawakan kabar gembira kepada rekan-rekan mereka yang sedang berkumpul di tempat yang butuh kesadaran baru. Perjumpaan dengan dia yang bangkit bukanlah pengalaman yang menggumpal ke dalam dan tinggal diam. Perjumpaan ini sumber kekuatan yang merebak ke luar dan menyentuh banyak orang.

Bacaan pertama dari Kis 2:14.22-33 menyampaikan kotbah Petrus pada hari Pentakosta kepada semua orang Yahudi dan siapa saja yang berada di Yerusalem. Pada intinya Petrus menegaskan bahwa Yang Mahakuasa telah membangkitkan Yesus orang Nazaret dan dengan demikian ia menjadi Kristus. Maut tidak berkuasa mencengkeramnya. Petrus menandaskan pula bahwa hal ini sudah disadari oleh Daud jauh-jauh hari sebelumnya. Begitulah maka kebangkitan Kristus bukan gagasan para murid Yesus belaka. Kristus kini berbagi daya hidup ilahi – Roh Kudus – dengan mereka yang mengikutinya. Inilah sumber kekuatan mereka. Apa relevansi peristiwa ini bagi orang sekarang? Kebangkitan Kristus telah mengubah hidup umat manusia dari yang dikuasai maut hingga menjadi kehidupan yang dimerdekakan. Dalam keadaan ini besarlah peran orang-orang yang percaya dan mempersaksikan kenyataan iman ini dengan pelbagai cara. Ada yang mewartakannya dengan kata-kata yang menguatkan. Ada yang mempersaksikan dengan perbuatan mengangkat kemanusiaan. Inilah daya Roh Kudus.

Salam hangat,

Kredit Foto: Jesus on the road to Emmaus

Sabda Hidup



Sabtu, 29 April 2017
Peringatan Wajib St. Katarina dr Siena
warna liturgi Putih 
Bacaan
Kis. 6:1-7; Mzm. 33:1-2,4-5,18-19; Yoh. 6:16-21. BcO Why 5:1-14

Yohanes 6:16-21:
16Dan ketika hari sudah mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu 17dan menyeberang ke Kapernaum. Ketika hari sudah gelap Yesus belum juga datang mendapatkan mereka, 18sedang laut bergelora karena angin kencang. 19Sesudah mereka mendayung kira-kira dua tiga mil jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu. Maka ketakutanlah mereka. 20Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Aku ini, jangan takut!" 21Mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tujui.

Renungan:
Sesuatu yang spektakuler seringkali mengejutkan kita. Beberapa hari terakhir kita pun dikejutkan oleh ribuan rangkaian ucapan terima kasih untuk pemimpin yang kalah dalam pilkada. Belum pernah hal seperti itu terjadi di negeri ini bahkan mungkin di dunia. Mereka yang kagum pun terpesona namun mereka yang tidak suka akan nyinyir. Namun pasti hal tersebut menggetarkan yang menerima.
Yesus berjalan di atas air. Ia mendatangi para murid yang sedang berada di dalam perahu. Para murid pun terkejut dan takut dengan peristiwa mengagumkan tersebut. Namun Yesus menguatkan hati mereka untuk tidak takut (lihYoh 6:20). Mereka pun diherankan kembali kala mereka mau menaikkan Yesus ke perahu seketika itu juga perahu sampai ke tempat yang mereka tuju.
Ada banyak hal mengagumkan di sekitar kita. Ketika kita membuka hati dan pikiran kita kita akan menemukan banyak hal mengagumkan. Namun ketika kita nyinyir maka banyak hal yang mengagumkan tidak bisa kita lihat atau bahkan kita anggap sebagai tindakan cari pesona. Mari kita temukan hal-hal mengagumkan di sekitar kita. Jangan takut.

Kontemplasi:
Bayangkan kisah dalam injilYoh 6:16-21. Bandingkan dengan pengalamanmu.

Refleksi:
Bagaimana menyikapi hal-hal yang mengagumkan?

Doa:
Tuhan semoga aku bisa menangkap karya-karya-Mu yang mengagumkan. Semoga aku mampu mengakui keagungan-Mu. Amin

Perutusan:
Aku akan mengagumi karya Tuhan yang agung. -nasp-

#saksikan bagian pertama film “Di Mataku” di TVRI Jogja antara jam 15an WIB hari Minggu, 30 April 2017#

Lamunan Pesta Wajib

Santa Katarina Siena, Perawan dan Pujangga Gereja
Sabtu, 29 April 2017

Yohanes 6:16-21

6:16 Dan ketika hari sudah mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu
6:17 dan menyeberang ke Kapernaum. Ketika hari sudah gelap Yesus belum juga datang mendapatkan mereka,
6:18 sedang laut bergelora karena angin kencang.
6:19 Sesudah mereka mendayung kira-kira dua tiga mil jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu. Maka ketakutanlah mereka.
6:20 Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Aku ini, jangan takut!"
6:21 Mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tujui.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, gambaran bahwa hidup adalah perjuangan memang selalu nyata. Orang tidak bisa hanya enak-enakan tetapi harus menempuh kehidupan dengan segala daya usaha.
  • Tampaknya, gambaran perjuangan juga berkaitan dengan kenyataan hidup yang sering juga berhadapan dengan tantangan. Bahkan ancaman-ancaman yang menakutkan juga ada dalam pengalaman hidup.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, sebesar apapun tantangan dan semenakutkan apapun ancamannya, kalau mau mendengarkan kata-kata yang muncul dalam lubuk nurani dan menyertakannya dalam perilaku harian orang akan mengalami ketenangan cipta, rasa, dan karsa. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan mempertahankan ikatan dengan nurani dalam goncangan hidup apapun.
Ah, dalam hidup ini orang memang harus kompromi kalau ada yang mengancam.

Thursday, April 27, 2017

Lamunan Pekan Paskah II

Jumat, 28 April 2017

Yohanes 6:1-15

6:1. Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang danau Galilea, yaitu danau Tiberias.
6:2 Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mujizat-mujizat penyembuhan, yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit.
6:3 Dan Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya.
6:4 Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat.
6:5 Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: "Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?"
6:6 Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya.
6:7 Jawab Filipus kepada-Nya: "Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja."
6:8 Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya:
6:9 "Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?"
6:10 Kata Yesus: "Suruhlah orang-orang itu duduk." Adapun di tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya.
6:11 Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki.
6:12 Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang."
6:13 Maka merekapun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan.
6:14 Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: "Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia."
6:15. Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, biasanya yang disebut donator adalah orang kaya. Dia memiliki kelimpahan harta.
  • Tampaknya, biasanya yang disebut donator adalah orang kaya yang mau memenuhi permintaan dana. Dia akan memberikan bantuan yang biasanya berujud uang.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, seseorang akan menjadi donator sejati bukan didasarkan oleh kebiasaan memberikan bantuan dana tetapi oleh rasa syukur dalam kalbunya atas realita yang ada sehingga sekecil apapun bantuan diberikan akan menjadi sumber berkelimpahan bagi amat banyak orang lain. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan mengalami banyak keluarbiasaan dari yang kecil dan sedikit.
Ah, mana biasa dana kecil untuk kebutuhan banyak orang?

Sabda Hidup


Jumat, 28 April 2017
Petrus Chanel, Ludovikus Maria GrigniondeMontfort, Lukhesius
warna liturgi Putih
Bacaan
Kis. 5:34-42; Mzm. 27:1,4,13-14; Yoh. 6:1-15. BcO Why 4:1-11

Yohanes 6:1-15:
1Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang danauGalilea, yaitu danau Tiberias. 2Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mujizat-mujizat penyembuhan, yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. 3Dan Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. 4Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. 5Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: "Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?" 6Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya. 7Jawab Filipus kepada-Nya: "Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja." 8Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya: 9"Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?" 10Kata Yesus: "Suruhlah orang-orang itu duduk." Adapun di tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. 11Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. 12Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang." 13Maka merekapun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. 14Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: "Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia." 15Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri.

Renungan:
Suatu kali sebuah keluarga mengadakan hajatan. Tamu yang hadir banyak sekali. Salah seorang anak dari luar kota resah apakah hidangan yang disediakan cukup. Keresahannya sempat membuat resah yang lain pula. Namun kemudian ada yang menenangkan. Ia mengatakan bahwa tidak perlu khawatir semua bisa diatasi. Dan ternyata semua tamu mendapatkan hidangan dan bisa makan sampai puas.
Banyak orang mengikuti pengajaran Yesus. Mereka begitu setia mendengarkan pengajaran-Nya. Melihat itu Yesus tahu kalau mereka membutuhkan makanan. Maka Ia meminta para murid mencari dan menyediakan makanan itu untuk mereka. Para murid pun bingung bagaimana mesti menjalankan tugas tersebut. Namun Yesus telah punya jawaban atas pertanyaan mereka. Ia memberi mereka makan sampai puas.
Kadang kita pun perlu memberikan ketenangan kepada mereka yang sedang panik. Pada saat-saat seperti itu dibutuhkan pikiran jernih dan tindakan cepat dan tepat. Maka rasanya kita pun perlu terus belajar untuk menghadirkan ketenangan pada lingkungan sekitar kita yang sedang panik.

Kontemplasi:
Bayangkan dirimu berada dalam komunitas yang sedang panik. Hadirkan ketenangan kepada mereka.

Refleksi:
Bagaimana memberikan ketenangan pada mereka yang sedang panik?

Doa:
Tuhan semoga aku bisa menghadirkan ketenangan-Mu pada mereka yang sedang mengalami kepanikan. Semoga kehadiranku memberikan ketenangan dan solusi. Amin.

Perutusan:
Aku akan berusaha menghadirkan ketenangan dan solusi. -nasp-

Wednesday, April 26, 2017

Mendampingi Sarasehan Umat Bakung


Pada saat sedang mendampingi program Jagongan Iman untuk kelompok Gondang pada 3 Maret 2017 di Dusun Bakung, di tengah istirahat seorang pemuda menemui Rm. Bambang. Ternyata pemuda itu bernama Andre. Dia menjadi salah satu tim yang mengkoordinasi salah satu program Lingkungan Bernadeta Bakung, Paroki Gondang. Program, yang panitianya terdiri dari kaum muda, yang akan dijalankan adalah kunjungan ke para rama tua di Domus Pacis. Dalam kesempatan singkat ini terjadi kesepakatan bahwa kunjungan ke Domus akan terjadi pada hari Senin tanggal 24 April 2017. Mas Andre berkata kepada Rm. Bambang bahwa dalam kunjungan itu umat Lingkungan Bakung minta acara sarasehan. Berkaitan dengan konsumsi Rm. Bambang menawarkan kemungkinan disediakan oleh para relawan Domus Pacis dengan pilihan tarif yang dipandang tak terlalu tinggi. Jumlah pesanan selalu ditambah dengan jumlah penghuni Domus Pacis baik rama maupun karyawan. Pembicaraan antara Mas Andre dan Rm. Bambang terjadi lagi di Domus Pacis. Mas Andre datang bersama teman mudanya yang ternyata menjadi ketua panitia. Dalam pembicaraan di Domus pihak Lingkungan Bakung minta disediakan konsumsi dengan pilihan tarifnya. Selain itu mereka juga minta duduk lesehan dengan tikar.

Rencana kunjungan umat Lingkungan Bernadeta Bakung sungguh terjadi pada hari Senin 24 April 2017. Hari ini memang hari libur nasional peringatan Isra Mi'raj. Ada 50an orang ikut hadir termasuk beberapa anak kecil. Mereka datang menjelang jam 09.00 pagi. Bu Rini dan Bu Mumun, relawan Domus Pacis, langsung mempersilakan mereka untuk menikmati teh dan snak disamping air mineral yang juga disediakan. Sesudah itu acara di dalam ruang pertemuan dalam dimulai. Proses acara adalah sebagai berikut:
  1. Pembukaan dengan doa.
  2. Perkenalan dari pihak rama-rama Domus Pacis dan kemudian dari para tamu yang ternyata yang diperkenalkan adalah para anggota panitia.
  3. Sarasehan sesi 1. Di sini dibuka kesempatan bagi para tamu untuk mengungkapkan hal-hal yang dirasakan dalam penghayatan kekatolikan. Ada beberapa soal muncul seperti penghayatan ikut misa dan pemahaman akan ayat-ayat. Sesi ini berlangsung hampir 90 menit. Kemudian ada istirahat selama 15 menit.
  4. Saresehan sesi 2. Dalam sesi ini dibuka pertanyaan tentang Domus Pacis. Yang ditanyakan ada beberapa hal seperti apakah Domus hanya untuk rama praja dan apa saja yang sehari-hari dikerjakan. Dalam sesi 2 ini Rm. Yadi dan Rm. Tri Hartono tidak ikut karena harus beristirahat di kamarnya.
  5. Penutup terjadi pada jam 11.50 yang diisi dengan makan siang bersama yang disediakan oleh Bu Tatik ang juga menjadi relawan Domus.
Sarasehan itu dipandu oleh Rm. Bambang. Rm. Yadi, Rm. Gito, Rm. Harto, dan Rm. Tri Hartono ikut duduk dengan kursi rodanya. Sementara itu Rm. Tri Wahyono berada di luar ruangan. Rm. Bambang selalu memberi kesempatan pada rama-rama yang duduk menghadapi para tamu untuk memberikan tanggapan terhadap setiap masalah yang muncul. Kemudian Rm. Bambang selalu memberi rangkuman dan perluasan cakrawala dengan pertimbangan terang ajaran Gereja dan atau Kitab Suci.

Sabda Hidup



Kamis, 27 April 2017
Petrus Kanisius
warna liturgi Putih 
Bacaan
Kis. 5:27-33; Mzm. 34:2,9,17-18,19-20; Yoh. 3:31-36. BcO Why 3:1-22

Yohanes 3:31-36:
31Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi. Siapa yang datang darisorga adalah di atas semuanya. 32Ia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tak seorangpun yang menerima kesaksian-Nya itu. 33Siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku, bahwa Allah adalah benar. 34Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas. 35Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. 36Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya."

Renungan:
Bahasa menentukan keterlibatan pendengarnya. Bahasa yang pas akan sangat kena pada audien. Suatu kali saya pun merasa kesulitan berbicara dengan seorang anak kecil. Tapi saat anak itu bicara dengan kakaknya mereka bisa ngobrol gayeng dan penuh canda. Saya mengamati cara sang kakak berbicara dan mempraktekkan. Saya pun jadi bisa bercanda dengan anak tersebut.
Saya merasakan di awal-awal kisah Injil Yohanes bahasa Yesus tidak mudah ditangkap oleh para pendengar-Nya. Maka tidak mengherankan kalau, “Ia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tak seorangpun yang menerima kesaksian-Nya itu” (Yoh 3:32). Yesus pun mengubah cara berbahasa-Nya. Dan perubahan bahasa menghantar banyak orang mengikuti-Nya.
Kita memang perlu menemukan bahasa-bahasa yang tepat agar apa yang kita sampaikan bisa diterima. Setiap segmen mempunyai bahasa sendiri. Maka kalau kita ingin agar apa yang kita sampaikan diterima dengan baik kita perlu terus menerus mengenali pendengar kita.

Kontemplasi:
Bayangkan dirimu dipanggil untuk mengisi acara di hadapan orang yang sama sekali baru kamu hadapi.

Refkeksi:
Apa yang perlu kita lakukan agar materi kita diterima pendengar kita?

Doa:
Tuhan berikanlah kemampuan padaku agar aku bisa menyampaikan gagasan-gagasanku dan diterima para pendengarku. Amin

Perutusan:
Aku akan mempelajari pendengarku dan bahasanya. -nasp-