Peringatan Wajib St. Yohanes Bosko
warna liturgi Putih
Bacaan-bacaan:
Ibr. 10:19-25; Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6: Mrk. 4:21-25; BcO Rm. 10:1-21.
Nas Injil:
21 Lalu Yesus berkata kepada mereka: "Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian. 22 Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap. 23 Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!" 24 Lalu Ia berkata lagi: "Camkanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu. 25 Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya."
Percikan Nas:
Setiap pribadi pasti mempunyai sesuatu yang bisa menjamin hidupnya. Ada yang mempunyai ketrampilan motorik, kognitif, auditif dll. Masing-masing kemampuan itu kala digali dan dikembangkan dengan tekun akan sangat berdaya bagi pejiarahan hidupnya.
Sejak awal Yohanes Bosco senang dengan pendampingan orang muda. Maka kala ditahbiskan menjadi imam ia memfokuskan diri bagi pendampingan orang muda. Ia melakukan apa yang dikatakan Yesus, “Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian” (Mrk 4:21). Ia memasang kemampuannya pada tempatnya maka karyanya pun bersinar.
Tuhan telah memberi anugerah kemampuan kepada kita masing-masing secara khas. Ia pun meminta kita untuk mengembangkan dan memancarkan sinar kemampuan tersebut. Kiranya kita tidak perlu menyembunyikannya di bawah kolong, tapi menaruhnya di atas kaki dian agar menerangi lingkungan sekitar. Semakin kita berani memancarkan sinar kita, kita tidak akan kehilangan cahaya kita.
Doa:
Tuhan sudilah Engkau menghapus rasa malas kami untuk menggali rahmat-Mu dan rasa malu kami untuk memancarkan. Kami percaya dalam penyertaan-Mu kami bisa menerangi sesama kami. Amin.
Memancarkan
(goeng).
Wednesday, January 30, 2019
Lamunan Peringatan Wajib
Santo Yohanes
Bosko, Imam
Kamis, 31
Januari 2019
Markus 4:21-25
4:21.
Lalu Yesus berkata kepada mereka: "Orang membawa pelita bukan supaya
ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya
ditaruh di atas kaki dian.
4:22
Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak
ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap.
4:23
Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!"
4:24
Lalu Ia berkata lagi: "Camkanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu
pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah
lagi kepadamu.
4:25 Karena siapa yang
mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun
juga yang ada padanya akan diambil dari padanya."
Butir-butir Permenungan
- Tampaknya, orang dalam berkarier bisa selalu membandingkan diri dengan orang lain. Dia dapat berpikir kalah atau menang lewat prestasi diri berhadapan dengan prestasi orang lain.
- Tampaknya, kalau tak punya nyali bersaing dengan orang lain orang dapat saja menjadi minder. Dia dapat menganggap diri kurang atau tak punya modal atau kemampuan.
- Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun merasa hebat karena mampu mengalahkan banyak orang dalam berprestasi, orang belum tentu menang terhadap yang punya hasil kecil karena ukuran sejati adalah optimalisasi daya nyata yang ada dalam diri masing-masing orang. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan mengalami kesejahteraan dan kedamaian kalau dia mau berproses mengolah dan mengembangkan bekal kemampuan sekecil apapun yang ada dalam dirinya.
Ah, orang akan mampu maju dan berkembang kalau punya
modal besar.
Santa Martina
diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 2544 Diterbitkan: 09 Maret 2017 Diperbaharui: 16 April 2017
- Sumber : Katakombe.Org
- Perayaan30 Januari
20 Januari (sebelumnya) - LahirHidup pada awal abad ke-3
- Kota asalRoma Italia
- WafatTahun 228 di kota Roma | Martir
- Beatifikasi-
- KanonisasiPre-Congregation Sumber : Katakombe.Org
Santa Martina adalah putri seorang konsul Romawi yang kaya raya. Tidak banyak yang diketahui tentang dirinya sebelum masa kemartirannya. Hanya disebutkan bahwa ia adalah seorang wanita dermawan yang kerap membagi-bagikan harta warisan orang tuanya kepada para fakir miskin.
Kemartirannya diperkirakan terjadi pada tahun 226 M atau tahun 228 M di masa pemerintahan kaisar Alexander Saverus (222-235). Ia ditangkap karena imannya akan Yesus Kristus, dan dipaksa untuk murtad dengan cara membawakan kurban persembahan bagi dewa-dewi pagan Romawi. Namun, biarpun dipaksa dan diancam dengan berbagai macam cara, Martina tetap menolak melakukan kekejian tersebut. Karena itu ia lalu dianiaya dan disiksa dengan keji. Ada beberapa versi tentang kisah kemartiran Santa Martina. Salah satu yang paling populer adalah : Santa Martina dihukum cambuk, namun cambuk Romawi bercabang tiga tersebut tidak bisa melukainya. Ia lalu dibuang ke kandang binatang buas, tetapi binatang-binatang tersebut malah menjadi jinak dihadapannya. Para algojo kemudian melemparkannya di dalam tungku pembakaran, namun sampai api padam ia sama sekali tidak terbakar. Santa Matina baru dapat mengenakan mahkota kemartirannya setelah seorang algojo menghunus pedang dan memenggal kepalanya.
Setelah masa penganiayaan berlalu, banyak mujizat terjadi dan dihubungkan dengan Santa Martina. Pada abad ketujuh didirikan sebuah gereja kecil untuk menghormatinya. Makam dan relikwi Santa Martina ditemukan kembali pada tanggal 25 Oktober 1634 oleh pelukis Pietro da Cortona. Sebuah Gereja kemudian dibangun di situs tersebut oleh Paus Urbanus VIII. Gereja tersebut kini dikenal dengan nama Gereja Santi Luca e Martina dimana relikwi Santa Martina kini disemayamkan.(qq)
Sumber : Katakombe.Org
Tuesday, January 29, 2019
Rencana Idul Fitrian di Domus


Minggu itu, 20 Januari 2019, Rm. Bambang mengundang beberapa orang untuk mengadakan sebuah pertemuan. Mereka yang diundang adalah adik bungsu ibu dan sepupu-sepupu dari keluarga ibu. Pak Rasa, si om, datang pertama kali sekitar jam 09.30. Ketika baru duduk-duduk berdua, Mas Abas datang dan berkata "Wonten rombongan saking Sala" (Ada rombongan tamu dari Sala) yang langsung ditanggapi oleh Rm. Bambang "Rama Yadi diaturi" (Rm. Yadi dimohon menyambut). Sebetulnya rombongan ini datang tanpa memberi informasi lebih dahulu. Mereka kemudian diminta masuk Kapel. Rm. Harto, Rm. Ria, dan Rm. Yadi ikut masuk Kapel. Rm. Bambang mengucapkan selamat datang. Kemudian terjadi omong-omong tanya jawab dalam suasana penuh humor. Rm. Bambang banyak melempar ke Rm. Yadi karena beliau pernah cukup lama di Sala. Tetapi ini hanya kunjungan singkat. Jadi semacam mampir. Mereka berjumlah 25 orang yang merupakan Warga Lingkungan Santo Yoseph Ngronggah, Mantung, Paroki Santo Petrus Purwosari.
Ketika keluar dari Kapel, Rm. Bambang langsung berjumpa dengan sanak keluarganya. Di dalam ruang pertemuan dalam, mereka langsung minum minuman yang disediakan termasuk beberapa macam snak. Pada saat Rm. Bambang memulai pembicaraan ada yang bertanya "Ora dibukak dhisik?" ( Pakai pembukaan tidak?) tetapi langsung ada yang menanggapi "Biasane terus ra ditutup" (Biasanya terus tidak ada penutup). Semua tertawa. Pembicaraan pun berlangsung lancar. Pertemuan Trah Rm. Bambang akan terjadi pada hari Jumat, 7 Juni 2019. Di situ ada kesempakatan bahwa yang akan sholat Jumat akan dipandu oleh Mas Handoko menuju Masjid Puren yang jauhnya hanya 100M perjalanan. Ternyata Mas Handoko juga sudah berkoordinasi dengan Takmir Masjid. Sedang ruang pertemuan dalam akan disediakan untuk sholat dhuhur. Rapat juga menyetujui beberapa sambutan dan hiburan.
Percikan Nas Rabu, 30 Januari 2019
Yasinta Mareskoti, Bronislaus Markiewicz
warna liturgi Hijau
Bacaan-bacaan:
Ibr. 10: 11-18; Mzm. 110:1,2,3,4; Mrk. 4:1-20. BcO Rm. 9:19-33.
Nas Injil:
1 Pada suatu kali Yesus mulai pula mengajar di tepi danau. Maka datanglah orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh lalu duduk di situ, sedangkan semua orang banyak itu di darat, di tepi danau itu. 2 Dan Ia mengajarkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Dalam ajaran-Nya itu Ia berkata kepada mereka: 3 "Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. 4 Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. 5 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. 6 Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. 7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah. 8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat." 9 Dan kata-Nya: "Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!" 10 Ketika Ia sendirian, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid itu menanyakan Dia tentang perumpamaan itu. 11 Jawab-Nya: "Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, 12 supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun." 13 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain? 14 Penabur itu menaburkan firman. 15 Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka. 16 Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, 17 tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad. 18 Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, 19 lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. 20 Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat."
Percikan Nas:
Beberapa hari yang lalu sepulang dari bepergian saya melihat pohon belimbing di pot daunnya bewarna kuning-kuning. Saya segera melihat tanah di pot. Tanahnya kering sekali. Saya menduga sudah beberapa hari tidak disiram. Ia kekeringan dan daunnya pun menguning. Air menjadi salah satu kebutuhan utama tanaman di pot.
Hari ini Tuhan Yesus menampilkan perumpamaan tentang benih yang ditabur. Ada berbagai media yang menerima benih tersebut. Benih pun tumbuh dan berbuah banyak kala ditabur di tanah yang subur. Ada yang berbuah 30x, 60x dan 100x lipat.
Tuhan mengibaratkan sabda itu seperti benih yang ditabur, bisa juga tanaman yang ditanam. Ketika ia mendapat tempat yang subur dan dirawat dengan baik maka ia pun akan tumbuh dan berbuah. Berapa banyak sabda Tuhan yang telah kita terima? Berapa yang merasuk dan tumbuh subur dalam hidup kita? Sabda itu akan subur kala kita pun ladang yang baik dan mau merawatnya. Jangan biarkan kesuburan itu menjadi kering dan mati.
Doa:
Tuhan Engkau selalu memberi yang terbaik bagi hidup kami. Semoga kami mampu menjaga dan merawat dengan baik anugerah-Mu itu sehingga bisa bertumbuh dan berbuah dengan baik. Amin.
Ladang yang baik
(goeng).
warna liturgi Hijau
Bacaan-bacaan:
Ibr. 10: 11-18; Mzm. 110:1,2,3,4; Mrk. 4:1-20. BcO Rm. 9:19-33.
Nas Injil:
1 Pada suatu kali Yesus mulai pula mengajar di tepi danau. Maka datanglah orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh lalu duduk di situ, sedangkan semua orang banyak itu di darat, di tepi danau itu. 2 Dan Ia mengajarkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Dalam ajaran-Nya itu Ia berkata kepada mereka: 3 "Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. 4 Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. 5 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. 6 Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. 7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah. 8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat." 9 Dan kata-Nya: "Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!" 10 Ketika Ia sendirian, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid itu menanyakan Dia tentang perumpamaan itu. 11 Jawab-Nya: "Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, 12 supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun." 13 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain? 14 Penabur itu menaburkan firman. 15 Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka. 16 Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, 17 tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad. 18 Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, 19 lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. 20 Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat."
Percikan Nas:
Beberapa hari yang lalu sepulang dari bepergian saya melihat pohon belimbing di pot daunnya bewarna kuning-kuning. Saya segera melihat tanah di pot. Tanahnya kering sekali. Saya menduga sudah beberapa hari tidak disiram. Ia kekeringan dan daunnya pun menguning. Air menjadi salah satu kebutuhan utama tanaman di pot.
Hari ini Tuhan Yesus menampilkan perumpamaan tentang benih yang ditabur. Ada berbagai media yang menerima benih tersebut. Benih pun tumbuh dan berbuah banyak kala ditabur di tanah yang subur. Ada yang berbuah 30x, 60x dan 100x lipat.
Tuhan mengibaratkan sabda itu seperti benih yang ditabur, bisa juga tanaman yang ditanam. Ketika ia mendapat tempat yang subur dan dirawat dengan baik maka ia pun akan tumbuh dan berbuah. Berapa banyak sabda Tuhan yang telah kita terima? Berapa yang merasuk dan tumbuh subur dalam hidup kita? Sabda itu akan subur kala kita pun ladang yang baik dan mau merawatnya. Jangan biarkan kesuburan itu menjadi kering dan mati.
Doa:
Tuhan Engkau selalu memberi yang terbaik bagi hidup kami. Semoga kami mampu menjaga dan merawat dengan baik anugerah-Mu itu sehingga bisa bertumbuh dan berbuah dengan baik. Amin.
Ladang yang baik
(goeng).
Lamunan Pekan Biasa III
Rabu, 30 Januari
2019
4:1.
Pada suatu kali Yesus mulai pula mengajar di tepi danau. Maka datanglah orang
banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke sebuah
perahu yang sedang berlabuh lalu duduk di situ, sedangkan semua orang banyak
itu di darat, di tepi danau itu.
Markus 4:1-20
4:1.
Pada suatu kali Yesus mulai pula mengajar di tepi danau. Maka datanglah orang
banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke sebuah
perahu yang sedang berlabuh lalu duduk di situ, sedangkan semua orang banyak
itu di darat, di tepi danau itu.
4:2
Dan Ia mengajarkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Dalam ajaran-Nya
itu Ia berkata kepada mereka:
4:3
"Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur.
4:4
Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah
burung dan memakannya sampai habis.
4:5
Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu
benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis.
4:6
Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak
berakar.
4:7
Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan
menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah.
4:8
Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah,
hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada
yang seratus kali lipat."
4:9 Dan kata-Nya: "Siapa mempunyai telinga untuk mendengar,
hendaklah ia mendengar!"
4:10 Ketika Ia sendirian, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas
murid itu menanyakan Dia tentang perumpamaan itu.
4:11
Jawab-Nya: "Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada
orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan,
4:12
supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka
tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun."
4:13
Lalu Ia berkata kepada mereka: "Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini?
Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain?
4:14
Penabur itu menaburkan firman.
4:15
Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka
yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru
ditaburkan di dalam mereka.
4:16
Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang
yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira,
4:17
tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang
penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad.
4:18
Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar
firman itu,
4:19
lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan
hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.
4:20 Dan akhirnya yang ditaburkan di
tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu
berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan
ada yang seratus kali lipat."
Butir-butir Permenungan
- Tampaknya, ada gambaran bahwa orang yang sungguh mendengarkan sebuah pengajaran akan memahami yang dibicarakan oleh pembicara. Dia akan mampu mengingat paling tidak pokok-pokok materinya.
- Tampaknya, ada gambaran bahwa pendengar pengajaran yang baik akan menjaga pemahaman akan materinya. Dia akan memiliki catatan pribadi.
- Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, sekalipun mengingat semua isi pembicaraan bahkan punya catatan lengkap, itu belum tentu menunjukkan seseorang menjadi pendengar baik akan sebuah pengajaran kalau tidak membuatnya menemukan dan mengungkapkan pertanyaan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang yang sungguh mendengarkan pembicaraan akan mengolah pokok yang ditangkap dalam hati dan menemukan hal-hal yang belum jelas di dalamnya.
Ah, pendengar baik akan hapal semua yang dibicarakan.
Santo Gildas
diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 2751 Diterbitkan: 25 Juli 2013 Diperbaharui: 31 Mei 2014
- Sumber : Katakombe.Org
- Perayaan29 Januari
- LahirTahun 516
- Kota asalClydeside, Scotlandia
- Wilayah karyaInggris, Perancis
- WafatSekitar tahun 570 di Houat, Brittany (Sekarang wilayah Perancis)
- KanonisasiPre-Congregation Sumber : Katakombe.Org
Santo Gildas dilahirkan sekitar tahun 516 di Clydeside, Scotlandia dalam keluarga bangsawan. Sebagai seorang pemuda ia bertekad untuk mempraktekkan gaya hidup mengurbankan diri. Ia melakukan ini guna membantu dirinya sendiri semakin dekat pada Tuhan. Gildas bersungguh-sungguh dengan komitmen Kristianinya. Ia merasa bertanggung jawab untuk berdoa dan berkurban demi silih atas dosa-dosa yang dilakukan orang sejamannya.
Ia menulis khotbah-khotbah berusaha meyakinkan orang untuk meninggalkan kejahatan. Ia mendorong mereka untuk menghentikan hidup penuh skandal. Sebab Gildas begitu peduli, tulisan-tulisannya terkadang terasa terlalu kritis. Sesungguhnya, ia tidak bermaksud mengutuk siapapun. Ia memohon orang untuk berbalik kepada Tuhan.
Gildas adalah seorang rohaniwan yang mengamalkan hidup seorang pertapa. Ia tidak memilih hidup doa yang hening sebab ia hendak melarikan diri dari dunia sekelilingnya. Ia memilih gaya hidupnya demi membantu diri bertumbuh semakin dekat pada Tuhan. Ia lebih sadar dari orang kebanyakan mengenai hal-hal yang sangat keliru dalam masyarakat. Sayangnya, banyak orang tidak cukup sadar akan Tuhan dan hukum-Nya. Mereka bahkan tidak menyadari kejahatan yang tengah membinasakan mereka. Itulah sebabnya mengapa sebagian orang dalam Gereja - para imam, uskup, dan kaum awam baik laki-laki maupun perempuan - pergi kepada Gildas mohon nasehat mengenai hal-hal rohani yang mendalam.
Menjelang akhir hidupnya, Gildas mengamalkan hidup bertapa di sebuah pulau kecil di Brittany. Meski ia menginginkan kesendirian guna mempersiapkan jiwanya menyongsong maut, para murid mengikutinya juga ke sana. St Gildas menyambut mereka sebagai suatu pertanda bahwa Tuhan menghendakinya untuk membagikan karunia-karunia rohaninya kepada yang lain. Gildas adalah bagaikan “nurani” masyarakat. Terkadang, kita tak suka mendengar mengenai dosa, tetapi dosa itu nyata. Terkadang kita juga dicobai untuk melakukan yang salah atau menjadi lalai. Pada saat itulah kita dapat memanjatkan sebuah doa singkat kepada St Gildas. Kita memohon bantuannya untuk memperolehkan bagi kita kekuatan niat untuk melakukan hal yang benar.
Gildas adalah seorang rohaniwan yang mengamalkan hidup seorang pertapa. Ia tidak memilih hidup doa yang hening sebab ia hendak melarikan diri dari dunia sekelilingnya. Ia memilih gaya hidupnya demi membantu diri bertumbuh semakin dekat pada Tuhan. Ia lebih sadar dari orang kebanyakan mengenai hal-hal yang sangat keliru dalam masyarakat. Sayangnya, banyak orang tidak cukup sadar akan Tuhan dan hukum-Nya. Mereka bahkan tidak menyadari kejahatan yang tengah membinasakan mereka. Itulah sebabnya mengapa sebagian orang dalam Gereja - para imam, uskup, dan kaum awam baik laki-laki maupun perempuan - pergi kepada Gildas mohon nasehat mengenai hal-hal rohani yang mendalam.
Menjelang akhir hidupnya, Gildas mengamalkan hidup bertapa di sebuah pulau kecil di Brittany. Meski ia menginginkan kesendirian guna mempersiapkan jiwanya menyongsong maut, para murid mengikutinya juga ke sana. St Gildas menyambut mereka sebagai suatu pertanda bahwa Tuhan menghendakinya untuk membagikan karunia-karunia rohaninya kepada yang lain. Gildas adalah bagaikan “nurani” masyarakat. Terkadang, kita tak suka mendengar mengenai dosa, tetapi dosa itu nyata. Terkadang kita juga dicobai untuk melakukan yang salah atau menjadi lalai. Pada saat itulah kita dapat memanjatkan sebuah doa singkat kepada St Gildas. Kita memohon bantuannya untuk memperolehkan bagi kita kekuatan niat untuk melakukan hal yang benar.
Sumber : Katakombe.Org
Subscribe to:
Posts (Atom)







