Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Sunday, September 2, 2018

NGATI-ATI NGADHEPI BERITA (Waspada Terhadap Hoaks)


Catatan: Yang terpapar di bawah ini berasal dari sajian Rm. Petrus Noegroho Agoeng SW, Pr. untuk para lansia dalam Novena Ekaristi Seminar di Domus Pacis Puren Minggu 2 September 2018. Sajian asli berupa power point. Rm. Bambang menuliskan kembali dengan menghilangkan beberapa gambar yang menyertainya.


Allah Berberita  (dari Alkitab)

  1. Allah selalu hadir dalam sejarah hidup manusia dan member arah menuju damai sejahtera (lih. Ibr 1:1-2)
  2. Allah memilih manusia untuk mengusahakan dan memelihara (lih Kej 2:15)
  3. Allah memberikan pemahaman kehidupan, memberikan pedoman dan kebebasan pada manusia (lihKej 2:16)
  4. Allah menunjukkan akibat yang akan ditanggung manusia bila melanggar (lihKej 2:17)

Kata Gereja  (dari dokumen Konsili Vatikan II Inter Mirifika tentang Komunikasi Sosial)
  • Gereja selayaknya memanfaatkan perkembangan tehnologi komunikasi ini untuk menyiarkan Warta Keselamatan, dan mengajarkannya bagaimana manusia dapat menggunakan media tersebut dengan tepat dalam semangat manusiawi dan kristen (IM art 3)
  • Setiap orang yang memakainya perlu mengetahui norma-norma moral, mempraktekkannya dengan setia dan dengan cermat membina suara hatinya sendiri.  (IM art 4)
  • Masyarakat berhak untuk mendapatkan informasi benar, mengindahkan keadilan dan cinta kasih, lengkap, jujur dan menjaga martabat manusia, juga informasi yang menyangkut kejahatan moral (IM art.5-8)
  • Waspada dan menghindari apa saja yang bisa menimbulkan kerugian rohani dan dapat membahayakan sesama (IM art.9).
  • Orang tua wajib untuk menjaga keluarganya terhadap tayangan maupun terbitan yang bertentangan dengan iman dan tata susila (IM art.10).

Yang Bisa Kita Buat
  • Perlu meningkatkan kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mendekonstruksi pencitraan media.
  • Tujuannya agar sebagai konsumen media (termasuk kakek-nenek) menjadi sadar (melek) tentangcara media dikonstruksi (dibuat) dan diakses.

Manusia Sebagai Makhluk Individu dan Sosial
  • Manusia membutuhkan komunikasi. Yang harus disadari zaman kini adalah era milenial. Di era milenial orang biasa berkomunikasi satu sama lain tidak harus bertemu muka satu sama lain. Bahkan orang dalam komunikasi banyak hanya berjumpa satu sama lain dalam tulisan elektronik.
  • Semua itu terjadi karena adanya perubahan komunikasi manusia. Orang mengalami perubahan hubungan satu sama lain dari model manual ke model digital, yaitu dengan menggunakan alat-alat hasil tekhnologi seperti HP dan internet.
Karakter Dunia Digital
  • Vilatile (cepat berganti dan cepat basi): Lingkungan menuntut agar kita bisa cepat beradaptasi dengan cepat terhadapa perubahan yang tidak terduga.
  • Unceratin (tidak pasti): Lingkungan membutuhkan kita unuk cepat mengambil tindakan dalam situasi yang tidak pasti.
  • Complex: Lingkungan menjadi sangat dinamis dengan dan saling ketergantungan dengan kondisi sekitar.
  • Ambigous (mendua): Kondisi yang sering terjadi di luar kebiasaan kita. Kita harus senantiasa berpikir “outside the box” atau di luar keahlian kita.

Wilayah Hidup Manusia Milenial

•      Yang duluan yang mempengaruhi
•      Yang menarik yang dipilih
•      Yang eksis yang berpeluang
•      Yang dilihat yang ditiru
•      Yang terkenal yang dipercaya
•      Yang dekat yang diikuti
•      Yang sensasional yang disimak
•      Yang dilarang yang dicari
•      Yang disenangi yang diikuti


Interaksi di Media Sosial

  1. Isi Media Sosial menurut data Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan: 90,30% berita bohong, 21,60% Informasi bersifat menghasut, 59% informasi tidak akurat.
  2. Konten negatif ini berdampak pada persepsi masyarakat. Penelitian yang dilakukan LIPI menunjukan 86% mahasiswa dari lima perguruan tinggi ternama di Pulau Jawa menolak ideologi Pancasila.
Tujuan dan Dampak Hoaks

1.      Provokasi dan agitasi negatif.
2.      Menyulut kebencian, kemarahan, dan hasutan kepada orang banyak untuk mengadakan huru-hara, pemberontakan dll.
3.      Membentuk persepsi negatif untuk memanipulasi alam pikiran dan memberikan respon seperti keinginan pembuat berita palsu.
4.      Menimbulkan opini negatif sehingga terjadi disintegrasi bangsa, dll.


Ciri-ciri Hoaks

  1. Menciptakan kecemasan, kebencian, permusuhan, dll. (fear arousing)
  2. Sumber tidak jelas dan tidak ada yang bisa dimintai tanggung jawab atau klarifikasi. (whispered propaganda)
  3. Pesan sepihak, menyerang, dan tidak netral atau berat sebelah (one-sided)
  4. Mencatut nama tokoh berpengaruh atau pakai nama mirip media terkenal. (transfer device)
  5. Memanfaatkan fanatisme atas nama ideologi, agama, suara rakyat. (plain folks)
  6. Judul dan pengantarnya provokatif dan tidak cocok dengan isinya.
  7. Memberi penjulukan. (name calling)
  8. Minta supaya dishare atau diviralkan. (band wagon)
  9. Menggunakan argumen dan data yang sangat teknis supaya Nampak ilmiah dan dipercaya (card stacking)
  10. Artikel yang ditulis biasanya menyembunyikan fakta dan data serta memelintir pernyataan narasumbernya.
  11. Berita ini biasanya ditulis oleh media abal-abal. Media yang tidak jelas alamat dan susunan redaksi.
  12. Manipulasi foto dan keterangannya. Foto-foto yang digunakan biasanya sudah lama dan berasal dari kejadian di tempat lain dan keterangannya juga dimanipulasi. Pelaku juga dapat mengubah latar dan foto sebuah peristiwa dengan mengandalkan kecanggihan piranti pengolah gambar dan keterampilannya.

Bentuk Hoaks

1.      Yang paling sering diterima:
·         Tulisan (62,10%)
·         Gambar (37,50%
·         Video (0,40%)

2.      Saluran penyebaran berita hoaks:
·         Radio (1,20%)
·         E Mail (3,10%)
·         Media cetak (5,00%)
·         Televisi (8,70%)
·         Situs web (34.90%)
·         Aplikasi chatting (whatsapp, line, telegram) (62,80%)
·         Media sosial (facebook, teitter, instagram, path) (92,40%).

Hasil survei daring Mastel yang diikuti oleh 1.116 responden pada tahun 2017 menunjukkan media sosial, aplikasi komunikasi, dan situs menjadi saluran tertinggi penyebaran hoaks dalam bentuk tulisan, gambar, dan video.


Etika di Dunia Digital

ASEAN SOMRI di Filipina pada 22-23 Maret 2017 menyepakati 5 nilai: READI dalam penyebaran informasi:

No.
Nilai Utama
Deskripsi
1
Responsibility (tanggungjawab)
Kita harus berpikir dan bertanggungjawab terhadap konten yang diunggah.
2
Empathy (empati)
Kita harus berpikir dan berempati akan akibat konten yang diunggah terhadap perasaan orang lain.
3
Authenticity (otentik)
Kita harus tetap otentik dan siap berjaga terhadap semua konten yang diunggah.
4
Discernment (kearifan)
Kita harus kritis mengevaluasi informasi/konten online yang diperoleh sebelum mengambil tindakan terhadapnya.
5
Integrity (integritas)
Kita harus melakukan hal yang benar, berani menyuarakan kebenaran, dan melawan perilaku negatif di dunia online.


Upaya: Menciptakan Konten Positif untuk Melawan Konten Negatif dan Hoaks

  1. Melaksanakan literasi media kepada masyarakat agar mereka sadar untuk tidak membuat atau turut menyebarkan hoaks namun menciptakan konten-konten positif (indonesiabaik, kidi).
  2. Aktif melakukan klarifikasi resmi dan counter issue terhadap berita-berita hoaks atau potensi hoaks di berbagai kanal (GPR Widget, FMB9).
  3. Turut mengampanyekan dan menggandeng komunitas untuk melawan hoaks (Siberkreasi, turnbackhoax.id)
  4. Melaporkan materi-materi hoaks ke: aduankonten@mail.kominfo.go.id, aduankonten.id dan http://trustpositif.kominfo.go.id/ agar segera mendapat tindak lanjut.
  5. Hoaks dapat dicek di media mainstream atau di https://hoaxanalyzer.com, www.snopes.com saring sebelum sharing.

Media SaranaPewartaan

  1. Media memang bukanlah pewarta, namun sarana yang dapat “berperan” dalam pewartaan.
  2. Media merupakan representasi kebutuhan khalayak yang terpercaya, adil dan objektif
  3. Efek Media: memberikan pengetahuan, membentuk perilaku dan membangun kebiasaan
  4. Secara diam-diam (kalau perlu terus terang) menggunakan sarana media untuk menyampaikan kabar gembira tentang hidup dan karya Yesus Kristus dalam menghadirkan Kerajaan Allah.

Percikan Nas Senin, 03 September 2018


Senin, 03 September 2018
Peringatan Wajib St. Gregorius Agung
warna liturgi Putih


Bacaan-bacaan:
1Kor. 2:1-5; Mzm. 119:97,98,99,100,101,102; Luk. 4:16-30; BcO 1Tim. 6:1-10.
Nas Injil:
16 Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. 17 Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: 18 “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku 19 untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” 20 Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. 21 Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” 22 Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: “Bukankah Ia ini anak Yusuf?” 23 Maka berkatalah Ia kepada mereka: “Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!” 24 Dan kata-Nya lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. 25 Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. 26 Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. 27 Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorangpun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu.” 28 Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. 29 Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. 30 Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.
Percikan Nas:
Suatu kali saya bertemu dengan seorang anak yang selalu ketakutan kalau ditanya. Begitu ada pertanyaan ditujukan kepadanya keringat dingin langsung keluar dari tubuhnya. Setiap kali ditanya selalu seperti itu. Lalu kuajak anak itu berdoa sejenak dan kemudian membuat tulisan mengapa ia begitu. Dalam suasana damai dan tenang anak itu menulis. Setelah kubaca tulisannya ternyata ia selalu takut menjawab karena kala di rumah kalau menjawab pertanyaan orang tua ia selalu mendapat bentakan dan pukulan. Orang tuanya selalu tidak percaya pada jawaban-jawabannya.
Orang-orang Nasaret kagum ketika Yesus membacakan kutipan dari kitab nabi Yesaya. Mereka heran. Namun kala tahu siapa Yesus itu mereka mulai tidak percaya kepada Yesus. Ketidakpercayaan mereka ini membuat sedikit terjadinya mukjijat di situ.
Ketidakpercayaan memang menghadirkan aura negatif. Membuat seorang anak mengalami ketakutan berkepanjangan. Orang Nasaretpun tidak mengalami rahmat mukjijat Yesus. Ketidakpercayaan menghapus kemungkinan-kemungkinan baik yang akan datang. Ketidakpercayaan malah menghadirkan penolakan. Apakah kita juga akan melepaskan mukjijat Tuhan karena ingin mempertahankan ketidakpercayaan kita?
Doa:
Tuhan, bangunlah kepercayaan dalam diri kami sekalipun terasa tidak mudah. Kami berharap Engkau berkenan menghidupkan kepercayaan kami. Banyak mukjijat-Mu terjadi kala kami percaya. Amin.
Ketidakpercayaan
September adalah Bulan Kitab Suci
“Ayo rajin baca Kitab Suci”
(goeng).

Percikan Nas Minggu, 02 September 2018

Hari Minggu Biasa XXII,
Hari Minggu Kitab Suci Nasional
warna liturgi Hijau

Bacaan-bacaan:
Ul 4:1-2,6-8; Mzm. 15:2-3a,3cd-4ab,5; Yak. 1:17-18,21b-22,27; Mrk. 7:1-8,14-15, 21-23. BcO 1Tim. 5:3-25.

Nas Injil:
1 Pada suatu kali serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. 2 Mereka melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. 3 Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; 4 dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga. 5 Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: "Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?" 6 Jawab-Nya kepada mereka: "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. 7 Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. 8 Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia." 14 Lalu Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata kepada mereka: "Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah. 15 Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya." 21 sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, 22 perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. 23 Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang."

Percikan Nas:
Kadang orang bisa marah karena terpicu oleh omongan orang. Ketika mendengar omongan orang, tanpa konfirmasi, yang mengusik harapan dan kemauannya ia menjadi marah. Omongan itu, meski benar atau tidak, masih bernilai sebagai omongan. Namun omongan itu menjadi jahat dalam rupa amarah orang yang menerimanya.
Tuhan bersabda, “Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya” (Mrk 7:15). Yang keluar dari seseoranglah yang menajiskan bukan yang masuk dalam diri orang. Orang yang menerima segala sesuatu mempunyai kesempatan untuk membatinkan dan mengolahnya. Hasil pembatinan dan pengolahan yang kemudian dikeluarkan itu yang menentukan najis atau tidak.
Kiranya kita sungguh perlu memilih dan memilah apa yang akan kita katakan dan perbuat. Info apapun yang kita terima mesti kita batinkan dalam kebeningan hati. Sikap kita perlu kita tata dengan baik jangan sampai menajiskan diri kita sendiri. Orang tidak akan terlalu melihat apa yang dikatakan orang kepada kita tapi mereka sangat peka dengan kata yang keluar dari mulut kita dan tindakan kita.

Doa:
Bapa semoga kami bisa menjaga dan menata kata dan tindakan saya. Semoga kami tidak menajiskan diri kami karena omongan yang belum jelas yang kami terima. Semoga dari mulutku muncul kata-kata yang bijak dan dari diriku mengalir tindakan yang bermakna. Amin.

Menata kata dan tindakan

September adalah Bulan Kitab Suci
“Ayo rajin baca Kitab Suci"
(goeng).

Lamunan Peringatan Wajib

Santo Gregorius Agung, Paus dan Pujangga Gereja
Senin, 3 September 2018

Lukas 4:16-30

4:16 Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab.
4:17 Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis:
4:18 "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku
4:19 untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang."
4:20 Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya.
4:21 Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya."
4:22 Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: "Bukankah Ia ini anak Yusuf?"
4:23 Maka berkatalah Ia kepada mereka: "Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!"
4:24 Dan kata-Nya lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.
4:25 Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri.
4:26 Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon.
4:27 Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorangpun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu."
4:28 Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu.
4:29 Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu.
4:30 Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, ada gambaran yang mengaitkan kehidupan rohani dengan hidup keagamaan. Dalam gambaran ini agama dianggap selalu berurusan dengan hal-hal rohaniah.
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa orang yang sungguh serius olah rohani akan makin serius menjalani kewajiban-kewajiban agama. Praktek keagamaan dipandang menjadi indikasi kerohanian seseorang.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun amat serius menjalani kewajiban-kewajiban hidup beragama, hal itu tak dapat menjadi indikasi orang memiliki kerohanian mendalam yang sejatinya akan tampak pada sikap dan perilakunya pada kaum papa dan menderita. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang dalam  hidup bersama akan mengutamakan kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel.
Ah, kalau banyak bergaul dengan orang miskin dan tak berstatus ya dapat tekor dong.

Saturday, September 1, 2018

RENUNGAN HARIAN ( MINGGU 2 SEPTEMBER 2018 )

diambil dari https://jennysetyowati.blogspot.com/2018/08 by 

Bacaan Liturgi Minggu 2 September 2018

Bacaan Pertama Ul 4:1-2.6-8Di padang gurun seberang Sungai Yordan Musa berkata kepada bangsanya, "Hai orang Israel, dengarlah ketetapan dan peraturan
yang kuajarkan kepadamu untuk dilakukan, supaya kamu hidup, dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan kepadamu oleh Tuhan, Allah nenek moyangmu. Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu, dan janganlah kamu menguranginya; dengan demikian kamu berpegang pada perintah Tuhan, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu. Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaan dan akal budimu di mata bangsa-bangs. Begitu mendengar segala ketetapan ini mereka akan berkata,
Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi!  Sebab bangsa besar manakah yang mempunyai allah yang demikian dekat kepadanya seperti Tuhan, Allah kita, setiap kali kita berseru kepada-Nya? Dan bangsa besar manakah yang mempunyai ketetapan dan peraturan demikian adil seperti seluruh hukum yang kubentangkan kepadamu pada hari ini?
Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur  Mzm 15:2-3a.3cd-4ab.5Tuhan, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu?*Orang yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya, yang tidak menyebar fitnah dengan lidahnya.
*Orang yang tidak berbuat jahat terhadap teman, dan tidak menimpakan cela kepada tetangganya yang memandang hina orang-orang tercela
tetapi menjunjung tinggi orang-orang yang takwa, yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi.
*Orang yang tidak meminjamkan uang dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian tidak akan goyah selama-lamanya.

Bacaan Kedua  Yak 1:17-18.21b-22.27Saudara-saudaraku yang terkasih, setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang. Pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan pertukaran. Atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya pada tingkat yang tertentu kita menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya. Terimalah dengan lemah lembut
firman yang tertanam dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu. Hendaklah kamu menjadi pelaku firman, dan bukan hanya pendengar! Sebab jika tidak demikian, kamu menipu diri sendiri.
Ibadah sejati dan tak bercela di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka,
dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.
Demikianlah sabda Tuhan.

Bait Pengantar Injil Yak 1:18Atas kehendak-Nya sendiri Bapa telah menjadikan kita berkat firman kebenaran, supaya kita menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya.

Bacaan Injil Mrk 7:1-8.14-15.21-23Pada suatu hari serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat beberapa murid Yesus makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. Sebab orang-orang Farisi -- seperti orang-orang Yahudi lainnya -- tidak makan tanpa membasuh tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang. Dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas tembaga. Karena itu, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada Yesus, "Mengapa murid-murid-Mu tidak mematuhi adat istiadat nenek moyang kita? Mengapa mereka makan dengan tangan najis?" Jawab Yesus kepada mereka,
"Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik!
Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya,  padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.
Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia. " Lalu Yesus memanggil orang banyak dan berkata kepada mereka,  "Dengarlah Aku dan camkanlah ini! Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskan dia! Tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskan dia! Sebab dari dalam hati orang timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang."
Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan.
Seorang ibu muda disebuah desa di pedalaman dengan tekun mengajak anaknya yang berusia empat tahun untuk ke gereja stasi setiap hari Minggu. Mereka harus berjalan kaki sejauh sepuluh kilometer. Anak kecil itu tampaknya tidak lelah karena ibunya selalu tersenyum memandang kepadanya. Inilah yang selalu dirindukan dan menarik hati anak kecil itu, yakni pergi ke gereja tiap hari Minggu bersama ibunya. Padahal ibunya bukanlah seorang ibu yang cantik. Gereja yang dirindukannya setiap hari Minggu juga bukanlah gereja bagus. Gereja itu hanyalah sebuah rumah tua dipinggir hutan yang kemudian dijadikan gereja stasi.
Dalam Injil hari ini Yesus mau mewartakan satu hal penting  mengenai “Allah yang mengasihi”. Inilah hukum dan perintah utama. Orang orang Farisi dan ahli ahli Taurat memanipulasinya dalam peraturan peraturan ibadat yang begitu memberatkan umat beriman. Orang orang Yahudi pada waktu itu dituntut memegang teguh penjabaran dari hukum Taurat. Karena banyaknya aturan keagamaan dan peribadatan yang harus dilakukan, maka umat lupa untuk mengalami  “Allah yang mengasihi”
Sebagai Gereja kita seharusnya hadir seperti seorang ibu yang selalu mendampingi anak anaknya dengan cinta yang tulus dan berkobar kobar. Anak anak  yang lahir dari Gereja yang demikian akan menjadi anak anak yang mencintai Gereja seperti ibu yang selalu tersenyum dengan penuh cinta. Mereka juga makin yakin bahwa Allah bahwa Allah tersenyum bersama mereka sebagai Allah Pengasih, bukan Allah Penghukum. Ketika dewasa, mereka akan melakukan kata kata Beata  Teresa dari Kalkuta , “ Bagikan cinta dimanapun kamu berada,  jangan biarkan seseorang yang datang  padamu pergi tanpa merasa bahagia”

Butir permenungan
Hari ini kita kembali diingatkan bahwa terkadang apa yang kita tampilkan didepan umum berbeda dengan diri kita sebenarnya . Mungkin hal ini membuat kita bosan dengan kitab Suci , kita merasa bahwa apa yang ada didalam Kitab Suci sudah kita ketahui dan tidak ada hal baru. Namun , firman Tuhan bukan soal tahu atau tidak, melainkan apakah kita sudah melakukan atau belum. Inilah yang penting Firman Tuhan bukan sekedar pengetahuan tetapi harus sampai mengubah hati dan perilaku kita. Seseorang pernah mengeluh bosan kalau pengajaran yang diterimanya pengajaran dasar dan itu itu saja. Menurut saya pengajaran dasar itu justru yang paling penting dan membuat kita  bertumbuh. Contoh , apakah kita bosan makan nasi?  Padahal itu yang kita makan setiap hari. Sadar atau tidak , itulah yang membuat tubuh kita bertumbuh. Saya tidak menyatakan bahwa kita tidak memerlukan  makanan lain. Tapi hal dasar yang harus kita konsumsi, lepas dari bosan atau tidak, karena itulah yang menjadi fondasi. Dasar yang tidak kuat akan membuat kita tidak stabil. Kita mau terlihat baik diluar, tapi sebenarnya kita rapuh didalam . Ada yang berkata, kamu menjadi seperti apa yang kamu makan . Bila kamu makan apa yang tidak menunjang pertumbuhan kita, maka kita tidak akan bertumbuh baik. Apa yang saya tampilkan diluar sama dengan apa yang ada didalam diri saya?

Doa.
Ya Tuhan yang mahabaik, berilah kami umat-Mu, semangat untuk berbagi cinta dimanapun kami berada. Amin.

Atas kehendak-Nya sendiri Bapa telah menjadikan kita berkat firman kebenaran, supaya kita menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya.

Lamunan Pekan Biasa XXII

Hari Minggu Pembukaan Bulan Kitab Suci Nasional
Minggu, 2 September 2018

Markus 7:1-8.14-15.21-23

7:1. Pada suatu kali serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus.
7:2 Mereka melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh.
7:3 Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka;
7:4 dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga.
7:5 Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: "Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?"
7:6 Jawab-Nya kepada mereka: "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.
7:7 Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.
7:8 Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia."
7:14 Lalu Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata kepada mereka: "Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah.
7:15 Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya."
7:21 sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan,
7:22 perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.
7:23 Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, di dalam agama-agama ada tata cara ritual. Tata cara itu diyakini sebagai jalan orang berhubungan dengan Tuhan.
  • Tampaknya, di dalam agama-agama ada keyakinan bahwa ketekunan dan kesetiaan menjalani tata cara ritual menjamin orang ada dalam kekudusan ilahi. Kekeliruan bahkan abai dalam menjalani tata cara itu membuat orang jauh dari Tuhan bahkan tersesat dalam hidupnya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun tekun dan setia menjalani tata ritual keagamaan, kalau sikap hidupnya terlalu terpusat pada aturan-aturan lahiriahnya, orang dapat abai pada yang ilahi sehingga dapat jatuh dalam kemunafikan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang menyadari bahwa tata cara ritual keagamaan adalah sarana berhubungan dengan Tuhan yang harus dijalani sesuai dengan perkembangan situasi hidup dan budaya setempat.
Ah, kalau tidak menjalani tata cara yang dulu dijalani oleh pendiri agama, orang sama saja dengan kaum murtad.