Apakah makna Paskah bagi kaum tua terutama yang sudah
masuk golongan lanjut usia?
Pertanyaan ini muncul dalam benak Rama Bambang. Kebetulan selama Tri Hari
Suci Rama Bambang berada di Paroki Kelor sebagai tamu bersama dua rama tamu
lain, yaitu Rama Hari Kustana, Pr. dan Rama Suhardiyanto, SJ. Rama Suhardiyanto
kini berusia 66 tahun. Beliau adalah pensiunan karyawan Pusat Kateketik
(PUSKAT) Pradnyawidya, Kotabaru, dan juga pensiunan dosen Universitas Sanata
Dharma (USD). Kini Rama Suhardiyanto menjadi Pimpinan Komunitas Rumah Serikat
Yesus ATMI (Akademi Teknik Mesin Indonesia) Sala dan membantu pengembangan
karya kateketik di PUSKAT. Rama Hari Kustana adalah dosen Kitab Suci Fakultas
Teologi USD dan menjadi staf Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta. Rama Bambang
melontarkan pertanyaan itu sesudah makan pagi di Kelor pada Sabtu 19 April 2014.
Inspirasi dari Yesus di Kayu Salib
Kehendak Allah ini secara kongkret adalah kenyataan yang dihadapi dan
dialami. Orang-orang yang sudah lanjut usia bagaimanapun sudah tidak mampu
menjalani kerjaan-kerjaan masa dulu sesuai dengan tuntutan masa kini. Apalagi
kalau sudah muncul generasi sesudahnya, kaum tua harus mampu untuk lepas dari
yang dulu biasa dilakukan. Masa pensiun atau pergantian jabatan/kepengurusan
adalah pertanda kehendak ilahi untuk berhenti dari yang biasanya dilakukan.
Barangkali akan muncul penderitaan paling tidak secara batin. Tetapi ini adalah
jalan salib yang buahnya adalah kemuliaan seperti dalam peristiwa kebangkitan
Tuhan Yesus. Orang sungguh dimuliakan dan dihormati kalau mampu mati atau
berhenti dari yang dulu dan mau berjuang menghayati realitas masa kini.
Barangkali ada kaum tua yang masih bisa bersaing dengan kaum muda dalam pekerjaan
tertentu. Tetapi keberanian untuk menyerahkan pada yang muda, walau mungkin
masih kalah mutu dibandingkan pekerjaan kaum tua, adalah tanda adanya
perjuangan untuk menyerahkan diri pada kehendak Allah.
Inspirasi dari Dua Imam
Dari sharing itu ternyata muncul dua hal inspiratif. Pertama, orang tidak perlu susah dan mempertahankan jabatan yang sudah diembannya. Tak sedikit rama, suster, bruder yang sulit untuk pensiun bahkan dipindahkan pun tidak mudah karena mau bertahan pada statusnya. Di paroki-paroki tidak jarang muncul soal karena orang-orang dengan berbagai alasan sulit melepaskan jabatan yang menurut pedoman sudah harus berhenti seperti menjadi prodiakon paroki dan kepengurusan lainnya. Dalam hal ini pengalaman Rama Suhardiyanto amat inspiratif. Karena Rama Suprihadi, Pr. yang jadi pastor pembantu Paroki Kelor ikut mendengarkan omong-omong pagi itu, hal ini menjadi inspirasi untuk memberdayakan orang-orang potensial yang pernah menjadi fungsionaris tertentu di paroki. Barangkali Tim Kerja Paroki, misalnya Prodiakon Paroki dan Pengembangan Umat Lingkungan, dapat beranggotakan mantan prodiakon paroki dan mantan ketua atau pengurus aktif umat Lingkungan. Kedua, pengalaman Rama Bambang dapat menjadi inspirasi bahwa dengan meninggalkan program dan kegiatan yang biasa dijalani, orang akan menemukan cakrawala baru dan dengan kemampuan yang dimiliki akan dapat membuat program kegiatan alternatif.
0 comments:
Post a Comment