diambil dari https://pgi.or.id November 23, 2017
markus
Berita PGI, Utama
Setiap tahun menjelang perayaan Natal, 25 Desember, Persekutuan
Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia
(KWI) mengeluarkan Pesan Natal Bersama kepada umat Kristiani di seluruh
Indonesia.
PGI dan KWI secara bergantian menyusun pesan Natal tersebut, namun temanya ditentukan secara bersama.
Pesan Natal tahun ini, PGI dan KWI mengambil tema “
“Hendaklah Damai Sejahtera Kristus Memerintah Dalam Hatimu!” (Kol. 3:15a)
Berikut teks selengkapnya:
“Hendaklah Damai Sejahtera Kristus Memerintah Dalam Hatimu!”
(Kol. 3:15a)
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Natal adalah perayaan kelahiran Sang Juru Selamat dan Raja Damai.
Perayaan ini mengajak kita untuk menyimak kembali pesan utamanya. Karena
kasih-Nya yang begitu besar kepada manusia, Allah telah mengutus
Putra-Nya ke dunia (bdk. Yoh 3:16). Putra-Nya itu mengosongkan diri
sehabis-habisnya dan menjadi manusia seperti kita (bdk. Flp 2:7). Ia
datang untuk memberi kita hidup yang berkelimpahan (bdk. Yoh 10:10). Ia,
yang adalah Raja Damai dan Imanuel, Allah-beserta-kita, datang untuk
membawa damai sejahtera kepada dunia, seperti yang diwartakan para
malaikat kepada para gembala,“
Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk 2:14).
Bagi kita umat Kristiani, kelahiran Sang Raja Damai merupakan suatu
momentum untuk membaharui hidup pribadi maupun hidup bersama. Sebagai
umat beriman, yang dilahirkan kembali, kita harus membuka diri agar
damai sejahtera Kristus benar-benar memerintah dalam hati kita (bdk. Kol
3:15a). Kita mendambakan damai sejahtera, baik dalam hidup pribadi
maupun dalam hidup bersama. Kita merindukan suatu bumi yang penuh damai
dan umat manusia yang makin bersaudara. Hanya dengan demikian, kita akan
mengalami sukacita sejati.
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Sudah sepatutnya kita semua berusaha menemukan makna dan relevansi
perayaan Natal bagi kita umat Kristiani dan bagi bangsa Indonesia.
Perayaan Natal seharusnya menjadi momentum indah bagi kita untuk
menyadari kembali tugas perutusan serta komitmen kita, sebagai elemen
bangsa dan negara tercinta ini. Kondisi dan situasi bangsa Indonesia
saat ini merupakan tantangan sekaligus panggilan bagi kita untuk
merenungkan dan menarik secara lebih seksama makna dari seruan Santo
Paulus,
“Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu,
karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan
bersyukurlah” (Kol 3:15a).
Kata-kata Paulus ini seharusnya mendorong kita untuk terus-menerus
mengupayakan terwujudnya damai sejahtera, karena hanya dengan demikian
kita memahami makna sejati Natal.
Sebagai anak-anak Allah, sumber damai kita, kita harus mewujudkan
komitmen kristiani kita, yakni menjadi pembawa damai (bdk. Mat 5:9).
Saat ini kita sedang cemas. Persatuan kita sebagai bangsa Indonesia
sedang terancam perpecahan. Keresahan dan kecemasan itu semakin terasa
beberapa tahun belakangan ini. Ada pihak-pihak yang, entah secara
samar-samar atau pun secara terang-terangan, tergoda untuk menempuh
jalan dan cara yang berbeda dengan konsensus dasar kebangsaan kita,
yaitu Pancasila. Hal itu terlihat dalam banyak aksi dan peristiwa: dalam
persaingan politik yang tidak sehat dan yang menghalalkan segala cara,
dalam fanatisme yang sempit, bahkan yang tidak sungkan membawa-bawa
serta agama dan kepercayaan, dan dalam banyak hal lainnya. Dengan
demikian, hasrat bangsa kita untuk menciptakan damai sejahtera menjadi
sulit terwujud.
Cita-cita luhur bangsa Indonesia, sebagaimana diungkapkan dalam
Pembukaan UUD 1945, untuk menciptakan persatuan, keadilan sosial dan
damai sejahtera, bukan saja di antara kita, tetapi juga di dunia, masih
perlu kita perjuangkan terus bersama-sama. Sistem dan mekanisme
demokrasi masih perlu kita tata dan benahi terus agar mampu mewujudkan
secara efektif cita-cita bersama kita. Tentu saja hal ini tidaklah
mudah.
Sebagai elemen bangsa, yang adalah kawanan kecil, kita, umat
Kristiani tidak mampu menyelesaikan semua persoalan yang kita hadapi
hanya dengan mengandalkan kekuatan sendiri. Inilah saatnya bagi kita
untuk membiarkan damai Kristus memerintah dalam hati. Damai Kristus,
yang memerintah dalam hati kita, merupakan kekuatan yang mempersatukan
dan merobohkan tembok pemisah,
“Karena Dialah damai sejahtera kita,
yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok
pemisah, yaitu perseteruan” (Ef 2:14). Hanya dengan damai Kristus
yang menguasai hati kita, kita akan dimampukan untuk membuka diri,
merangkul dan menyambut sesama anak bangsa dan bersama mereka merajut
kesatuan dan melangkah bersama menuju masa depan yang semakin cerah.
Inspirasi dan kekuatan spiritual yang mendorong kita untuk mewujudkan
kesatuan dan untuk sungguh-sungguh melibatkan diri dalam pembangunan
bangsa dan negara Indonesia yang tercinta, kita timba dari kabar
sukacita Yesaya:
“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang
putra telah diberikan kepada kita; lambang pemerintahan ada di atas
bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang
Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan damai
sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam
kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan
dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya”(Yes 9:5-6).
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus
Kita selalu mendambakan damai sejati, yang dilandaskan pada keadilan
dan kebenaran. Isi kabar sukacita Natal adalah kelahiran Sang Messias,
yang akan mengokohkan Kerajaan-Nya, yaitu kerajaan keadilan dan
kebenaran, di mana kita semua adalah warganya. Sebagai warga Kerajaan
itu kita ditantang untuk memperjuangkan kesatuan, persaudaraan,
kebenaran dan keadilan serta damai sejahtera. Memperjuangkan keadilan,
memperkecil jurang kaya dan miskin, memberantas korupsi, merobohkan
tembok pemisah atas nama suku, agama dan ras adalah mandat Injili yang
mesti kita perjuangkan di bumi Indonesia ini.
Ketika kita sendiri berusaha memberikan kesaksian dalam usaha
mewujudkan keadilan, kebenaran, damai sejahtera dan persaudaraan, tentu
kita patut mawas diri. Mungkin kita masih menutup diri dalam kenyamanan
hidup menggereja, sehingga lalai mewujudkan diri sebagai garam dan
terang dunia. Mungkin kita sendiri masih enggan mengulurkan tangan kasih
dan persaudaraan kepada sesama anak bangsa, terutama kepada mereka yang
kecil dan terpinggirkan. Bukankah damai sejahtera hanya dapat terwujud
ketika kita berhasil mengalahkan kepentingan diri demi kebaikan bersama?
Bukankah Raja Damai yang lahir ke dunia menyadarkan kita bagaimana Dia
telah mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba, dan
menjadi sama dengan manusia (Fil 2:7)?
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus
Sebagai warga Kristiani, kita sendiri ditantang untuk tak
henti-hentinya mewujudkan damai sejahtera, kerukunan dan persaudaraan di
antara kita. Karena itu, kita patut bersyukur atas hasil kerja keras
dari Komisi Gereja Lutheran dan Katolik untuk menggalang persatuan.
Selama 500 tahun, kita merajut kerukunan dan kehangatan persaudaraan di
antara kita dengan jatuh bangun. Dari Juru Selamat, yang adalah
Jalan, Kebenaran dan hidup”
(Yoh 14:6), kita belajar untuk merendahkan diri dan membuka diri satu
sama lain. Dalam semangat itulah, kita belajar mengulurkan kebaikan dan
kasih kepada sesama. Kita belajar saling mengampuni dan memaafkan. Jika
ada kasih dan damai dalam hati kita masing-masing, kita akan bersukacita
dan dapat bersama-sama mewujudkan komunitas ekumenis. Dengan bersatu
sebagai umat Kristiani, kesaksian kita tentang kerukunan dan
persaudaraan kepada masyarakat majemuk di negeri ini lebih berarti dan
meyakinkan.
Selain rukun dengan sesama, damai yang dibawa Sang Juru Selamat juga
mengajak kita untuk berdamai dengan segenap ciptaan. Saat ini ciptaan
sedang menjerit karena segala kerusakan yang telah kita timpakan
padanya. Tanpa tanggungjawab kita menggunakan dan menyalah-gunakan
kekayaan yang ditanamkan Allah di dalamnya. Mewujudkan damai sejahtera
dengan alam ciptaan berarti bertanggungjawab memulihkan keutuhannya.
Selain itu, kita wajib mewujudkan keadilan dalam hidup bersama, karena
alam merupakan sumber hidup yang disediakan Tuhan bagi semua manusia,
dan bahwa segala sesuatu bersatu dan tertuju kepada Kristus sebagai
kepala (Kol 1:15-22). Dengan demikian, masih ada banyak yang perlu
kita kerjakan untuk menciptakan kerukunan dan persaudaraan, sementara
dilain pihak kita patut selalu bersyukur karena karya besar Tuhan yang
kita alami bersama.
Semoga perayaan Natal mendorong dan menyemangati kita semua untuk
belajar dan mengembangkan kemampuan menerima perbedaan dan menyukurinya
sebagai kekayaan kehidupan bersama kita di negeri ini. Marilah kita
menghidupi dan mengembangkan damai sejahtera yang merupakan anugerah
dari Allah, dengan jalan merangkul sesama, merawat ciptaan serta
memajukan kerukunan dan persaudaraan di antara kita. Hanya dengan
demikian, kita dapat memberi kesaksian bahwa damai sejahtera Kristus
memerintah dalam hati kita. Selamat Natal, Tuhan memberkati.
SELAMAT NATAL 2017 DAN TAHUN BARU 2018
Jakarta, 22 November 2017
Atas nama
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA KONFERENSI WALIGEREJA
DI INDONESIA (PGI) INDONESIA (KWI)
Pdt. Dr. Henriette T.H-Lebang Mgr. Ignatius Suharyo
Ketua Umum Ketua
Pdt. Gomar Gultom Mgr. Antonius S. Bunjamin, OSC
Sekretaris Umum Sekretaris Jenderal