Pada pagi sekitar jam 06.20 Jumat 5 Maret 2015 Rama Bambang membuka pintu kamarnya sesudah selesai mandi dan berpakaian. "SMS-ku wis diwaca?" (Apakah SMS-ku sudah dibaca?) kata-kata Bu Ratmi, yang duduk di teras kamar Rama Bambang, langsung menyerbu. Sebenarnya Rama agak terkejut tidak mengira Bu Ratmi sudah menunggu. "Wela, durung je" (Belum) jawab Rama Bambang yang langsung disambung oleh Bu Ratmi "Ooo, durung dibukak" (Ooo, belum dibuka). Kemudian Bu Ratmi berceritera kalau pagi itu sesudah Misa berjumpa dengan saudara lama, yaitu Bu Yayik yang dikatakan dari Jakarta. Bu Ratmi bercerita padanya kalau sekarang ikut jadi relawati di Domus Pacis. Ketika tahu bahwa Domus Pacis adalah rumah para rama tua, Bu Yayik ingin memberi oleh-oleh sesuatu. Tetapi Bu Ratmi bilang "Mentahan wae" (Beri saja yang mentah). Kata mentahan dalam pembicaraan orang Jawa berarti "uang". Maka pagi itu Bu Ratmi memberikan sejumlah uang untuk menyumbang Komunitas Rama Domus Pacis. Uang itu oleh Rama Bambang diserahkan kepada Rama Yadi, bendahara Komunitas, ketika makan pagi. Karena diberi nomor HP Bu Yayik, Rama Bambang pagi itu langsung mengirim SMS terima kasih.
Dua peristiwa kecil itu membuat Rama Bambang teringat peristiwa pada tanggal Minggu 22 Februari 2015. Sekitar 30 orang katekis dari Paroki Purbowardayan, Sala, datang jam 13.00 lebih. Yang menyambut hanya Rama Harto dan Rama Bambang karena yang lain sudah di kamar dan tampaknya sudah tertidur. Suasana memang meriah dengan nyanyi-nyanyi seperti pertemuan Pendampingan Iman Anak (PIA). "Kami baru saja rekoleksi dengan Rama Toto di ruang Paroki Pringwulung. Tetapi kami sudah sepakat mampir ke rama-rama Domus Pacis" salah satu menyampaikan kata-kata. Kedatangan rombongan ini hanya terjadi sekitar 20 menit. Ketiga kejadian ini membuat Rama Bambang menyadari bahwa Domus Pacis memang sudah menjadi salah satu daya tarik yang membuat warga dan komunitas Katolik ingin berkunjung, sekalipun hanya mampir.
0 comments:
Post a Comment