Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Sunday, May 28, 2017

Lamunan Pekan Paskah VII

Senin, 29 Mei 2017

Yohanes 16:29-33      

16:29 Kata murid-murid-Nya: "Lihat, sekarang Engkau terus terang berkata-kata dan Engkau tidak memakai kiasan.
16:30 Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepada-Mu. Karena itu kami percaya, bahwa Engkau datang dari Allah."
16:31 Jawab Yesus kepada mereka: "Percayakah kamu sekarang?
16:32 Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku.
16:33 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, tantangan hidup memang dapat membuat susah. Dengan kesusahan dan penderitaan orang dapat mengalami kefrustrasian.
  • Tampaknya, orang yang mengalami frustrasi dapat kehilangan kekuatan menjalani kehidupan. Dia dapat merasa selalu teraniaya dalam keadaan apapun.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa beraul akrab dengan kedalaman batin, semenderita dan seteraniaya apapun oleh lingkungan yang dikuasai oleh nafsu-nafsu dan keserakahan duniawi, kalau orang menjalani hidup berdasarkan pada amanat nurani dia akan tetap mengalami hati yang tergenang limpahan damai sejahtera karena yakin ada daya tak kasat mata yang mengalahkan aura kejahatan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang selalu ceria sekalipun hidup sengsara.
Ah, yang menghadirkan kedamaian itu ya yang menyenangkan.

Dalam Yesus Kristus Aku Tak Pernah Sendirian

diambil dari email group 28 Mei 2017

Senin, 29 Mei 2017
Pekan Paskah VII
Refleksi harianku dalam doa berdasarkan Yohanes 16:29-33

Dalam amanat perpisahan-Nya Yesus berkata, "Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia."

Tuhan Yesus Kristus terkasih, dalam Injil hari ini Engkau bersabda bahwa Engkau tak pernah seorang diri. BapaMu selalu menyertai Engkau. Persatuan kasih yang mendasar dalam hidupMu dengan BapaMu merupakan kekuatan yang memampukan Dikau maju terus memanggul salib. Engkau tetap tenang di tengah badai dan menanggung penderitaan yang tak dapat terbayangkan selama sengsara dan wafatMu.

Tuhan Yesus Kristus terkasih, Engkau juga bersabda bahwa aku akan beroleh damai sejahtera meski aku akan mengalami kesulitan di dunia ini. Aku percaya padaMu dan semua yang Kau wahyukan demi keselamatanku. Aku berharap padaMu oleh sebab kerahimanMu yang selalu tercurah.

Tuhan Yesus Kristus terkasih, dalam Adorasi Ekaristi Abadi, Engkau menyinari jalan bagiku di tengah perjuangan dan pencobaan dalam hidupku. Wajar bagiku bahwa aku merasa sendiri saat menderita dan berjuang, sendiri dalam derita dan kehampaan hidup. Namun Allah tetap bersamaku; Engkau juga menyertaiku. Aku tak pernah sendirian. Dalam namaMu aku juga berdoa bagi mereka yang sedang berjuang dalam iman mereka kini dan selamanya. Amin.

Girlan Ungaran, 28/5/2017

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶
Aloys budi purnomo Pr

Sent from my heart of abudhenkpr
"abdi Dalem palawija"
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan
Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang
__._,_.___

Posted by: Aloysius Budi Purnomo <aloybudipurnomopr@gmail.com>

Saturday, May 27, 2017

Lamunan Pekan Paskah VII


Minggu, 28 Mei 2017

Yohanes 17:1-11        

17:1. Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata: "Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau.
17:2 Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya.
17:3 Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.
17:4 Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.
17:5 Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.
17:6. Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu.
17:7 Sekarang mereka tahu, bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari pada-Mu.
17:8 Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.
17:9 Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu
17:10 dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka.
17:11. Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, sudah menjadi pandangan umum bahwa yang yunior harus menghormati yang senior. Apalagi seorang anak terhadap orang tua, karena orang tua telah amat banyak jasanya terhadap anak dari masa janin hingga dewasa. 
  • Tampaknya, hormat anak terhadap orang tua juga didukung dalam hidup keagamaan “hormatilah ibu bapamu”. Bahkan dalam budaya Jawa ada kewajiban anak terhadap orang tua untuk mikul dhuwur mendhem jero (menjunjung tinggi atau memuliakan dan bila orang tua ada salah dan kekurangan disimpan jangan sampai ketauan orang lain).
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekuat apapun perintah bahkan tradisi seorang anak harus menghargai dan menjunjung tinggi orang tua, hal ini amat sulit terjadi apabila seorang anak tidak mengalami sikap dan tindakan orang tua yang memuliakan menomorsatukannya. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan selalu berjuang menghargai dan memuliakan yang lebih muda.

Ah, dalam kebersamaan hormat selalu dari yang yunior terhadap yang senior.

Wow, Yesus Kristus Lebih Dahulu Mendoakan Kita!

diambil dari email group unio-kas 27 Mei 2017

Minggu, 28 Mei 2017
Minggu Paskah VII
Refleksi harianku dalam doa berdasarkan Yohanes 17:1-11a

Dalam perjamuan malam terakhir Yesus menengadah ke langit dan berdoa, "Bapa, Aku berdoa untuk mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu, dan segala milik-Mu adalah milik-Ku, dan milik-Ku adalah milik-Mu, dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka."

Tuhan Yesus Kristus terkasih, Injil hari ini dengan jelas mewartakan doaMu. Engkau berdoa dengan berkata, "Bapa, Aku berdoa untuk mereka". Engkau berdoa untuk para muridMu dan bagiku juga. Terima kasih Engkau berdoa untukku dan membiarkanku hidup dalam persekutuan dengan hidup IlahiMu. Semoga Aku tak pernah terpisah dariMu. Bantulah aku bekerja untuk persatuan dalam GerejaMu. 

Tuhan Yesus Kristus terkasih, Engkau menghendaki kesatuan persatuan bagi umatMu. Engkau berkenan berbagi kasih yang selalu ada antara Dikau dan BapaMu. Berlawanan dengan kehendakMu, orang berdosa di dunia ini tak lagi melihat diri mereka sebagai saudara dan saudari, tetapi sebagai musuh dan saingan. Engkau menyatakan DiriMu dalam dunia ini sebagai satu-satunya jalan menuju Bapa dan yang diutus untuk mempersatukan semua orang dalam satu misteri keselamatan.

Tuhan Yesus Kristus terkasih, doaMu adalah untuk semua orang agar bersatu dengan Dikau tanpa memandang ras, jenis kelamin, usia, suku bangs, latar belakang sosial, politik maupun kemampuan. Perhatian yang utama dariMu adalah kerukunan bukan perpecahan. Perpecahan dapat menghancurkan persatuan. Engkau tahu dalam masyarakatku banyak perpecahan. Dalam Adorasi Ekaristi Abadi ini aku berdoa agar Engkau membantuku mengatasi semua perpecahan. Semoga damai sejatiMu selalu hadir bersama kami kini dan selamanya. Amin.

Girlan Ungaran, 26/5/2017

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶
Aloys budi purnomo Pr

Sent from my heart of abudhenkpr
"abdi Dalem palawija"
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan
Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang
__._,_.___

Posted by: Aloysius Budi Purnomo <aloybudipurnomopr@gmail.com>

Friday, May 26, 2017

Mengetahui Sejarah dan Fungsi Skapulir

diambil dari http://www.mirifica.net By Kevin Sanly Putera on KATEKESE


SKAPULIR adalah benda berbahan kain (biasanya wol) yang digunakan pada bahu. Pasalnya, kata skapulir berasal dari kata Latin scapula, yang artinya bahu. Bentuknya pun beraneka ragam dan warna. Skapulir merupakan tanda yang mengungkapkan komitmen sang pemakai kepada kehidupan kontemplatif.

Dasar biblis skapulir? 2 Raja 2:2-18 salah satunya. Kisah tentang Nabi Elia dan Elisa. Elisa mewarisi mantol Elia setelah ia terangkat ke surga.

Salah satu skapulir yang sudah disetujui Gereja Katolik adalah skapulir coklat Sta. Perawan Maria menampakkan diri kepada St. Simon Stock yang digunakan Ordo Karmelit. Sejarah Ordo Karmelit sendiri berasal dari Gunung Karmel, tempat Nabi Elia dan pewahyuan kuasa Allah terhadap penyembah Baal (1 Raja 18:20-46). Selain itu, orang-orang zaman dulu yang membaca Kitab Suci ingin hidup seperti para nabi dan menanggapi panggilan menjadi pertapa di Gunung #Karmel. Itulah asal usul Ordo Karmelit.

Skapulir yang satu ini terdiri dari dua potongan kain coklat persegi yang dihubungkan dengan dua tali sehingga ketika dipakai, satu kain akan ada di dada dan satunya di punggung.

Di tahun 1251, seorang Karmelit bernama Santo Simon Stock (Ia dijuluki ‘stock’ karena tinggal dalam rongga sebatang pohon) menyaksikan penampakkan Maria. Bunda Maria memberikan habit (pakaian khusus rahib) sebagai tanda cinta istimewa dan janji perlindungan seorang ibu bagi umat Putranya.

Dasar devosi skapulir ini adalah bahwa Maria dengan semangat dan spiritualitas keibuannya, akan mencintai setiap kita sama seperti yang Ia lakukan kepada Yesus, sekarang dan waktu kita mati.

Skapulir adalah tanda konsekrasi total diri kita (usaha penyucian diri kita supaya serupa dengan Maria -karena skapulir coklat berdevosi kepada Maria), sehingga patutnya kita terus diingatkan untuk hidup dengan kualitas hidup Maria. Doa rutin pemakai skapulir ini kepada Bunda Maria adalah: “Pakai aku hari ini”. Seperti yang Pius XII juga katakan, sebagai seorang pencinta berat skapulir, “Tentunya Bunda kita yang terlembut tidak akan menunda -bahkan secepat mungkin- membukakan gerbang kerajaan surga bagi anak-anaknya.”

Dalam penampakan tersebut, Maria mengatakan bahwa orang yang meninggal dengan mengenakan skapulir ini tidak akan pernah disiksa oleh api yang kekal.

St. Yohanes Paulus II mengatakan bahwa skapulir itu ampuh karena ia merupakan suatu habit, baik dalam arti yang sesungguhnya (jubah) ataupun sebagai habitus (pola hidup) beriman.

Sta. Theresia dari Lisieux berkata, “Betapa bahagianya saya bahwa Anda mengenakan skapulir suci! Itulah tanda pasti dari nasib Anda!”

Pustaka:
Hahn, Scott. 2011. 40 Signs of Life. Malang: Dioma Publishing
Catatan “The Brown Scapular of Our Blessed Lady of Mount Carmel”

Kredit Foto: catholiccompany.com

Injil Minggu Paskah VII/A 1 JUN 14, Hari Komunikasi Sedunia (Yoh 17:1-11A)

diambil dari http://www.mirifica.net/2014/05/27 by A. Gianto on Jendela Alkitab, Mingguan, PEKAN KOMSOS.
Sekalipun ini tulisan tahun 2014, Blog Domus memanfaatkannya untuk renungan Minggu Paskah VII/A tahun 2017 
 

Rekan-rekan yang budiman!

Pada hari Minggu Paskah VII tahun A ini dibacakan bagian awal doa Yesus bagi para murid (Yoh 17:1-11a; bagian akhir doa Yesus, ay. 20-26, dibacakan pada hari Minggu Paskah VIItahun C). Hari-hari ini saya menanyakan beberapa pokok dalam ay. 1-11a kepada yang tahu menahu tentang perkara itu. Khusus saya tanyakan arti “memuliakan” (ay. 1,4,5,10). Tentunya yang dirujuk ialah peristiwa salib dan kebangkitan, pokok yang sudah lama digeluti oleh para teolog. Tapi seluk beluknya belum sepenuhnya jelas. Berikut ini saya teruskan jawabannya apa adanya. Beliau tidak berkeberatan suratnya ikut dibaca rekan-rekan.

Minggu 1 Juni 2014 ini juga ditetapkan sebagai liturgi perayaan hari Komunikasi sedunia. Memang komunikasi itu lahir dari keakraban antara mereka yang saling berkomunasi. Doa Yesus dalam Injil Yohanes tadi mengungkapkan keakraban batin antara Yesus dengan Bapa. Dan para murid diajak belajar dari doa itu agar dapat mengakrabi Yang Ilahi sendiri sehingga orang berani ikut menyapa-Nya “Bapa”.

Akan ditambahkan beberapa catatan mengenai bacaan pertama (Kis 1:12-14) pada akhir surat-menyurat ini.
Selamat mengikuti!

A. Gianto
================

Gus yang baik!

Dalam bab 17 itu kucatat doa Yesus kepada Bapanya pada malam sebelum ia berpisah dengan para murid. Mereka ini tentunya ikut mendengar isi doa Yesus. Oleh sebab itu, mereka dapat juga merasakan keakraban yang ada di antara Yesus dengan Yang Mahakuasa yang sudah beberapa lamanya diperkenalkannya sebagai Bapa itu. Bagi para murid, ikut merasakan betapa dekatnya Yesus dengan Bapanya itu termasuk khasiat langsung doa itu. Yesus mengajarkannya bukan dengan serangkai penjelasan melainkan dengan doa dan mengikutsertakan mereka dalam pengalamannya sendiri. Ia berani meminta agar Bapanya memperhatikan dan memberikan hal-hal yang paling dibutuhkan.

Sebelum menjawab pertanyaanmu mengenai apa artinya “memuliakan”, marilah sebentar kita ingat hal yang tentunya tak amat asing lagi, yakni kemiripan doa Yesus di sini dengan doa Bapa Kami yang kalian kenal dari Luc dan Matt. Dalam Yoh 17:1-2 Yesus mengutarakan permohonan agar Bapa memuliakan dirinya supaya nanti ia juga dapat memuliakan Bapanya. Permintaan itu mengingatkan pada kata-kata “Bapa Kami yang ada di surga, dimuliakanlah (harfiahnya “dikuduskanlah” Luk 11:2 dan Mat 6:9) namaMu, datanglah kerajaanMu.”

Kemudian dalam ay. 4-5 Yesus mempersembahkan semua yang dilakukannya sebagai pemenuhan tugas yang diberikan Bapa sendiri kepadanya sejak dulu. Kalian akan ingat ungkapan “jadilah kehendakMu di atas bumi seperti di dalam surga.” Selanjutnya dari ay. 6-11 kita tahu Yesus membuat kita mengenal Bapa yang berfirman kepada kita semua lewat Yesus sendiri. Jelas yang dibawakan Yesus itulah rezeki hari demi hari yang membuat kita tetap hidup. Erat kaitannya dengan permohonan “berilah kami rezeki pada hari ini.” Kita ini kan hidup dari firmannya (Ul 4, Mat 4:4). Dalam ay. 15 yang tak ikut kalian bacakan, Yesus berkata, “…supaya Engkau (Bapa) melindungi mereka (para murid) dari yang jahat.” Doa ini amat mirip dengan “Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat” yang mengakhiri doa Bapa Kami. Jadi dalam saat-saat terakhir bersama murid-muridnya itu Yesus mengucapkan doa dengan sikap batin yang sudah sejak lama diajarkannya kepada murid-muridnya.

Boleh jadi rekan-rekanmu akan terbantu bila Yoh 17 diterangkan dengan rujukan kepada doa Bapa Kami seperti tadi. Sikap batin seperti itu dapat membuat kalian semakin meresapi arti “memuliakan” tadi. Bila berguna, pahami gagasan “memuliakan” dalam teks Injil Yohanes sebagai  “Bapa membiarkan Putra menunjukkan kebesaran dirinya” sehingga nanti Putra dapat “menunjukkan kemuliaan Bapa”. Kucoba jelaskan berikut ini.

Yesus memohon agar Bapanya tetap mendampinginya pada hari-hari terakhirnya. Kami tahu Yesus minta kekuatan agar tak mundur menghadapi penolakan dari pihak orang-orang yang didatanginya. Ia mohon agar tidak dibiarkan sendirian ketika diperlakukan dengan buruk, dipersalahkan, dan bahkan sampai dihukum mati. Perhatian Bapa di dalam penderitaan yang mesti dilalui sampai akhir itulah yang diminta Yesus ketika ia berdoa agar Bapa memuliakan Putra. Ada satu hal yang perlu kutekankan. Permohonan Yesus agar disertai Bapa itu tidak dimaksud untuk meminta Bapa menyingkirkan penderitaan dari dirinya. Ia bahkan sudah berniat menjalani apa saja hingga selesai. Mengapa?

Kudalami perkara itu cukup lama. Satu ketika aku menduga bahwa Yesus yakin Bapanya di surga itu bisa tiba-tiba menyuruh malaikat-malaikat datang menolong Putra terkasih-Nya yang mendapat perlakuan buruk di dunia ini. Inilah yang digelisahkan Yesus. Ia khawatir Bapanya tak bisa menerima perlakuan tadi dan mengirim balatentara surga meremukkan lawan-lawan. Gus, mungkin tak pernah kau berpikir ke situ. Tapi itulah kiranya yang membuat Yesus memohon kepada Bapa agar dibiarkan menjalani semua itu sampai tuntas, sampai “sudah terlaksana” di kayu salib (Yoh 19:30). Yesus ingin agar dapat menunjukkan kepada dunia betapa Yang Ilahi tak segan mendekati dunia yang telah menyingkirinya.

Ia bahkan minta kepada Yang Mahakuasa agar membiarkannya mengalami jerih payah mempersaksikan hal ini. Inilah maksud Yesus ketika memohon kepada Bapa supaya Bapa “memuliakan” Putra, membiarkan Putra memperlihatkan kebesaran dirinya dalam penderitaan nanti. Ini semua perlu terjadi agar dunia tertebus dari kekuatan-kekuatan jahat. Yah, penebusan dunia itu kan yang sejak awal dimaui Yang Mahakuasa sendiri. Yesus mau memperlihatkan kepada dunia yang masih ada di bawah kuasa gelap bahwa Yang Mahakuasa tidak mundur dan melupakannya, tapi malah mendatanginya dan membawanya kembali di jalan benar menuju terang yang memberi hidup, dengan pengorbanan apapun. Begitulah pemahamanku mengenai permintaan Yesus agar Bapa memuliakan Putra.

Dengan cara tadi barulah kebesaran Bapa bisa ditunjukkan oleh Putra. Begitulah akan kelihatan bahwa Yang Mahakuasa itu bukan yang mau menang sendiri. Bila begitu dengan mudah semuanya bisa dijalankan. Tapi kerugiannya besar. Ia tidak akan tampil sebagai pribadi matang yang bisa menerima diri bahwa tidak sendirian lagi, dan menerima bahwa kebersamaan itu memiliki nilai tersendiri, sekalipun dapat menyakitkan. Rasa pilu melihat karya besarnya kini merosot ditanggungnya pula, juga kemarahan ditahanNya. Inilah kasih sayang yang menjadi inti kebesaran Yang Ilahi. Bila Ia tiba-tiba memasuki kembali jagat ini dan menatanya seperti dimauinya, maka manusia tidak ada harganya lagi. Sekedar barang mainan. Tapi bukan itulah maksudNya ketika Ia menciptakan kita. Bukankah Ia menjadikan manusia sebagai gambar dan rupa diriNya sehingga bisa menjadi “penerus”-nya di dunia ciptaan ini? Dan Putra yang diutusNya ke dunia itu, Putra terkasihnya itu, dialah yang bakal memungkinkan dunia melihat kebesaran Bapa yang demikian tadi.
Mudah-mudahan catatan di atas berguna. Jangan ragu-ragu bertanya lebih jauh. Bagiku juga hingga hari ini tetap ada sisi-sisi baru yang muncul.

Hans
================

Oom Hans yang baik!

Terima kasih buat masukan yang membuka pikiran itu. Ada pertanyaan lagi. Dalam ay. 3 tertulis kata-kata Yesus: “Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” Heran, kok Yesus menyebut diri sebagai Yesus Kristus. Jangan-jangan ay. 3 itu Oom karang sendiri dengan maksud memberi catatan kaki pada ungkapan “hidup abadi” yang disebut Yesus dalam ay. 2?

Teriring salam, juga buat Oma Miryam, apa beliau senang bulan lalu sering dikirimi karangan bunga rosario ;-)?

Gus
================

Gus yang baik!

Memang Yoh 17:3 itu kumaksud untuk menjelaskan bagaimana orang bisa memperoleh hidup kekal yang disebut Yesus dalam ayat sebelumnya. Bukankah itu pertanyaan yang memenuhi batin orang banyak? Ingat pertanyaan orang kepada Yesus bagaimana caranya mencapai hidup kekal (Mrk 10:17, lihat juga Mat 19:16 Luk 18:18). Di situ Yesus mengajak orang yang amat teguh beragama itu untuk melangkah lebih jauh ke dalam kerohanian sejati dan menemukan pengetahuan mengenai inti keilahian sendiri. Dalam kisah yang dilaporkan ketiga rekan penginjil itu Yesus mengajarkan, kalau orang mau sampai tingkat sempurna, tinggalkan apa-apa yang dipunyai dan amalkan bagi orang lain, lalu ikuti dia. Inilah pengetahuan sejati tadi. Nah dalam hubungan itulah Yoh 17:3 menjelaskan bahwa hidup kekal timbul dari kemauan untuk mengenali satu-satunya Allah yang benar dan mengakui Yesus Kristus sebagai utusan-Nya. Jalan ke hidup kekal ialah mengikuti Yesus dengan batin merdeka. Namun, sekali lagi ini bukan pengetahuan di kepala melulu, bukan pula sekadar kemantapan batin semata-mata, melainkan kesatuan diri dengan Yang Ilahi tanpa lebur ke dalamnya, tetapi dalam bimbingan sang Putra. Ini spiritualitas yang mematangkan batin.

Tengok juga Yoh 17:10. Di situ Yesus menegaskan bahwa dirinya sudah dimuliakan di dalam mereka yakni dalam diri murid-murid yang didoakan kepada Bapa itu. Murid-murid menemukan jalan benar sampai ke Bapa lewat Yesus. Ia bisa mengajak orang sungguh mendekat kepada Bapa tanpa luluh tapi malah semakin menemukan diri, seperti ia sendiri.

Ma Mir titip ucapan terima kasih, ia terharu mendapat banyak kiriman bunga rosario bulan ini.

Sampai lain kali,
Hans

TAMBAHAN DARI BACAAAN PERTAMA

Dalam Kis 1:12-14 digambarkan bagaimana setelah menyaksikan kenaikan Yesus para rasul kembali ke kehidupan mereka sehari-hari di Yerusalem.  Ada bersama dengan mereka juga beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus. Marilah kita rasa-rasakan keadaan mereka. Meskipun telah menyaksikan bagaimana Yesus kini terangkat mulia, mereka sendiri sebenarnya sadar masih berada di sini, di dunia. Menarik ditengok bagaimana nama kota Yerusalem di sini, pada ayat 12, dieja dalam teks Yunaninya, yakni Ierousaleem. Bila ditulis demikian maka hendak dikatakan wilayah yang telah menolak Yesus dulu, dan tentunya para rasul juga merasakan penolakan itu. Mereka kini berkumpul – tentu dengan rasa waswas bagaimana nanti bila terus menerus dimusuhi, bahkan bisa jadi dihabisi oleh pihak-pihak yang mau menumpas kelompok Yesus ini.

Penulisan nama kota Yerusalem dalam karya Injil Lukas dan Kisah amat berperan. Disebutkan  dalam Kis 1:3, Yesus yang telah bangkit mendatangi para rasul berulang-ulang selama 40 hari. Kemudian pada Kis 1:4 diceritakan bahwa ketika ia makan bersama mereka, ia pun melarang mereka meninggalkan Yerusalem – di sini dieja dalam satu bentuk Hierosolyma – untuk menantikan dipenuhinya janji Bapa tentang datangnya Roh Kudus bagi mereka. Bila dieja demikian, hendak ditampilkan wahana Yesus mendapatkan kemuliaan. Pada kesempatan itulah para rasul diminta agar tidak meninggalkan wahana seperti ini. Nanti ketika mereka melihat bagaimana Yesus diangkat ke surga, mereka diberitahu olehnya, Kis 1:8, bahwa mereka akan menerima kekuatan, yakni bila Roh Kudus turun ke atas mereka. Dan mereka akan menjadi saksi-saksinya di Yerusalem – dieja Ierousaleem – dalam arti lingkungan yang serba memusuhi.

Nanti pada hari Roh Kudus turun ke atas para rasul, disebutkan dalam Kis 2:5 bahwa di Yerusalem – Ierousaleem – ada banyak orang Yahudi yang saleh yang berdatangan dari pelbagai penjuru bumi. Maksudnya, meski saleh mereka ini masih ada dalam pihak yang menolak. Kesalehan mereka bisa pula membuat mereka sendiri jauh bahkan menolak yang benar. Nanti dalam awal khotbah Petrus, Kis 2:14, mereka akan disapa demikian, dan sebentar kemudian mereka jadi sadar dan memilih ikut Yesus. Dan ini terjadi dalam kuasa Roh Kudus.  Inilah konteks bacaan pertama hari Minggu ini.

Kelompok para rasul dan para perempuan yang dibicarakan dalam bacaan pertama kali ini mengujudkan komunitas orang-orang yang berada dalam wahana yang menerima Yesus yang bangkit. Mereka akan dikuatkan oleh Roh Kudus untuk tidak mundur hidup di lingkungan yang tidak selalu menerima dan bahkan memusuhi. Inilah warta bab-bab pertama dalam Kisah Para Rasul.

Salam hangat,
A. Gianto

Lamunan Pekan Paskah VI

Sabtu, 27 Mei 2017

Yohanes 16:23b-28   

16:23b. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku.
16:24 Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.
16:25 Semuanya ini Kukatakan kepadamu dengan kiasan. Akan tiba saatnya Aku tidak lagi berkata-kata kepadamu dengan kiasan, tetapi terus terang memberitakan Bapa kepadamu.
16:26 Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku. Dan tidak Aku katakan kepadamu, bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa,
16:27 sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya, bahwa Aku datang dari Allah.
16:28. Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, di dalam hidup beragama orang memang biasa mengajukan doa permohonan. Orang sadar bahwa dalam hal-hal tertentu membutuhkan pertolongan tak kasat mata karena dalam kewajaran biasa ada kesulitan.
  • Tampaknya, dalam doa permohonan orang memiliki keinginan. Keinginan ini terjadi karena dorongan panca indera.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, sebanyak apapun kebutuhan bahkan keinginan yang untuk dipenuhi, itu semua akan terpenuhi kalau menjadi permohonan sejati di dalam doa karena tidak didasarkan pada kemauan panca indera tetapi pada dengung kehendak nurani sehingga selalu demi kebaikan bersama siapapun. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan melandaskan segala hidup dan kebutuhannya pada campur tangan hadirat Tuhan.
Ah, pada jaman kini orang harus mandiri sehingga doa permohonan hanyalah memupuk semangat peminta-minta.