Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Sunday, July 21, 2019

Santo Simeon Salus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 2038 Diterbitkan: 21 Juli 2017 Diperbaharui: 18 Februari 2018
ilustrasi dari koleksi Blog Domus

  • Perayaan
    21 Juli
  • Lahir
    Hidup pada abad ke-6
  • Kota asal
    Edesa - Mesopotamia (sekarang Şanlıurfa - Turki)
  • Wilayah karya
    Emessa (sekarang Homs - Suriah)
  • Wafat
    Tahun 570 M - Sebab alamiah
  • Beatifikasi
    -
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation Sumber : Katakombe.Org

Santo Simeon Salus dikenal juga sebagai Santo Simeon si Bodoh suci dan Santo Simeon si Gila karena sering berkelakuan seperti orang gila. Ia hidup pada abad ke-6 dan diyakini berasal dari Edessa, Mesopotamia. Pada usia 20 tahun, Simeon bersama sahabatnya Santo Yohanes dari Edessa, memutuskan untuk meninggalkan kehidupan duniawi dan menjadi pertapa di biara Abba Gerasimus di Syria. Simeon dan John kemudian menghabiskan waktu selama hampir 30 tahun di padang pasir dekat Laut Mati demi menjalani latihan spiritual dan pola hidup asketis yang ketat.
Legenda menuturkan, Santo Simeon Salus kemudian diutus Tuhan untuk mewartakan Injil di kota Emesa. Orang kudus yang rendah hati ini memohon pada Tuhan agar bila ia berkarya di Emesa, ia ingin agar para penduduknya tidak mengenali dan menghormatinya. Simeon lalu memasuki kota Emesa dengan bertingkah-laku seperti orang gila dengan menyeret bangkai seekor anjing. Orang-orang segera menyorakinya sebagai orang gila, anak-anak mencemooh serta melemparinya dengan batu. Simeon menerima semua hinaan, pelecehan dan kekerasan fisik, dengan kesabaran dan kesadaran yang tak tergoyahkan.
Dibalik tingkah-lakunya yang aneh, Santo Simeon berkarya memberitakan Injil sambil mengerjakan banyak mujizat. Ia menyembuhkan orang sakit dengan kekuatan doa-nya. Ia juga menggandakan makanan demi memberi makan para gelandangan. Banyak mujizat yang dikerjakannya secara diam-diam dan baru terungkap setelah kematiannya. Simeon berhasil membawa banyak orang Emesa ke dalam iman Kristiani dan menyelamatkan banyak jiwa dari jerat-jerat dosa.
Santo Simeon the Holy Fool dilukiskan dalam catatan uskup Leontios dari Neapolis, yang secara simbolis membandingkan hidupnya dengan kehidupan Yesus, yang diteladani Simeon dengan caranya sendiri.  Leontios menulis :
Santo Simeon Salus tutup usia sekitar tahun 570 M dan dimakamkan di pekuburan orang miskin tempat para gelandangan dan fakir miskin dimakamkan. Menurut legenda, saat tubuh Orang Suci ini diusung ke liang lahat, umat di seluruh penjuru kota Emessa sayup-sayup mendengar lantunan kidung rohani yang menakjubkan yang dinyanyikan oleh para malaikat di surga.
 Sumber : Katakombe.Org

Saturday, July 20, 2019

Lamunan Pekan Biasa XVI

Minggu, 21 Juli 2019

Lukas 10:38-42

10:38. Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya.
10:39 Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya,
10:40 sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku."
10:41 Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,
10:42 tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, dalam kehidupan di dunia orang selalu dihadapkan oleh banyak hal. Banyak hal memintanya untuk ditangani.
  • Tampaknya, orang akan dianggap hebat kalau mampu menghadapi banyak permasalahan. Banyak perkara dapat ditangani sekaligus.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun memiliki kemampuan menangani banyak hal dan perkara di dalam hidupnya, kalau tidak melewati proses berdasarkan sikap batin yang mendorong untuk berfokus dengan membuat prioritas penanganan, orang dapat jatuh dalam kefrustrasian. Dalam yang ilahi karena kamesraannya dengan gema relung hati orang akan memiliki ketenangan batin dalam menghadapai berbagai kesibukan dan perkara dalam kehidupan hariannya.
Ah, orang pasti akan kuatir kalau berhadapan dengan banyak perkara.

Santo Yusuf Barsabas

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 2790 Diterbitkan: 06 September 2013 Diperbaharui: 13 Juni 2014
ilustrasi  dari koleksi Blog Domus

  • Perayaan
    20 Juli
  • Lahir
    Hidup pada abad pertama
  • Kota asal
    Israel
  • Wafat
    Menurut tradisi ia menjadi Martir di Eleutheropolis
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation Sumber : Katakombe.Org

Yusuf Barsabas namanya tercantum dalam Kitab Kisah Para Rasul. Setelah kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga, St. Petrus menghendaki agar posisi Yudas Iskariot  digantikan oleh orang lain. Petrus meminta komunitas Jemaat untuk mengusulkan seseorang. Ia menghendaki seorang yang senantiasa bersama-sama dengan para murid, dari pembaptisan Yesus oleh Yohanes sampai hari Yesus wafat dan terangkat ke sorga.
Umat Kristiani perdana mengusulkan dua orang; keduanya pantas menduduki jabatan rasul. Yang seorang adalah Yusuf yang disebut Barsabas, dan yang lain adalah Matias. “Salah seorang dari kedua orang ini akan menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan Yesus,” demikian kata Petrus.
Komunitas itu pun berdoa. “Ya Tuhan,” kata mereka, “Engkaulah yang mengenal hati semua orang, tunjukkanlah kiranya siapa yang Engkau pilih dari kedua orang ini, untuk menerima jabatan pelayanan, yaitu kerasulan yang ditinggalkan Yudas.” Kemudian mereka membuang undi.  Yang terpilih adalah Matias. Ia ditambahkan kepada bilangan kesebelas rasul. Tak banyak yang diketahui orang baik mengenai Matias maupun Yusuf Barsabas. Penulis Gereja awali, Eusebius, memasukkan Yusuf sebagai salah seorang dari ketujuhpuluh dua murid.
Segera para murid menyebar dan pergi ke berbagai tempat. Hal ini perlu guna menghindari penganiayaan. Diyakini bahwa Yusuf Barsabas mewartakan Injil ke banyak tempat. Ia mengerahkan segenap kekuatan demi mewartakan Kabar Gembira. Tak banyak lagi yang diketahui. Sesungguhnya, bahkan tak didapati catatan mengenai kematiannya.
Sebuah tradisi yang kurang kuat menyatakan bahwa Yusuf Barsabas berkarya dan menjadi uskup di Eleutheropolis, di mana dia mati syahid dan dihormati sebagai "Santo Yustus dari Eleuteropolis".
 Sumber : Katakombe.Org

Friday, July 19, 2019

Minggu Biasa XVI th C tgl. 21 Jul 2019 (Luk 10:38-42)

diambil dari https://unio-indonesia.org/2019/07/14; ilustrasi dari koleksi Blog Domus


MARTA DA MARIA
Rekan-rekan yang baik!
Kisah dua perempuan bersaudara dalam Luk 10:38-42 yang dibacakan pada hari Minggu Biasa XVI tahun C ini acap kali dipandang sebagai anjuran agar orang memilih bersikap seperti Maria yang duduk bersimpuh mendengarkan Tuhan dan jangan seperti Marta, saudaranya, yang tenggelam dalam kesibukan pelayanan belaka. Tetapi dalam teks Injil Lukas itu tidak kita jumpai Yesus yang memuji-muji Maria, tidak pula ada celaan terang-terangan atau halus terhadap sikap Marta. Yesus bertamu untuk menerima kebaikan mereka dan ia menukarnya dengan Kabar Gembira, bukan sindiran atau ajaran-ajaran yang kerap dititipkan atau dipaksa-paksakan ke dalam Injil.
DI RUMAH MARTA
Cerita ini terjadi di rumah “seorang perempuan yang bernama Marta” (ayat 38). Tokoh ini kiranya memang seorang perempuan terpandang yang tinggal di sebuah suburbia. Terjemahan “desa” dapat memberi kesan keliru. Dari Yoh 11:1 kita tahu rumah Marta itu di Betania, semacam pemukiman yang berkembang dalam hubungan dengan sebuah kota tua, yakni Yerusalem. Di Betania itu juga nanti Yesus dielu-elukan sebagai raja (Luk 19:29, Mrk 11:1). Mereka yang tinggal di tempat seperti itu biasanya orang yang cukup berada. Gagasan “suburbia” lebih cocok, seperti “Kebayoran Baru”-nya Jakarta atau “Candi Baru”-nya Semarang atau “BSD”. Begitulah bisa sekadar kita bayangkan kedudukan sosial Marta dan Maria.
Di beberapa tempat lain dalam Injil disebutkan Yesus mengajar dari kota ke kota dan dari “desa ke desa”. Sebetulnya yang dimaksud ialah dari kota dan wilayah suburbianya. Memang Gereja pertama berkembang di kalangan itu. Di tanah Palestina dulu tak ada banyak hunian yang mirip desa yang biasa kita bayangkan, yaitu pemukiman yang terpisah dari dunia perkotaan. Di sana sini di padang gurun memang ada hunian kaum Badui, tetapi mereka tidak menetap di satu tempat melainkan berpindah-pindah secara musiman. Di wilayah padang gurun memang ada pertapaan dan orang perkotaan sekali-sekali datang untuk “nyepi” atau minta berkah orang suci seperti Yohanes Pembaptis. Di mana orang “miskin” tinggal? Tempat mereka meneduh biasanya di luar pintu gerbang kota, tetapi tidak di suburbia kota itu. Mereka biasa meminta sedekah di jalanan dari mereka yang keluar masuk kota. Bersama dengan penderita kusta, orang buta, orang miskin tinggal di luar kedua wilayah hunian itu. Mereka betul-betul kaum marginal, tak masuk hitungan. Para murid dari generasi kedua yang memang orang kota dan suburbia makin peka akan keadaan mereka yang terpinggir ini dan berbuat banyak untuk mengentas mereka dari kemelaratan. Dalam hal ini terasa paling jelas kesadaran kalangan murid yang dikenal Lukas.
Marta dikenang para murid generasi kedua sebagai perempuan terpandang yang rumahnya pernah menjadi tempat singgah Yesus bersama murid-muridnya dalam perjalanan menuju Yerusalem. Memang tak sedikit perempuan yang “melayani rombongan Yesus dengan harta mereka” (Luk 8:3 lihat juga Luk 4:39; Mrk 15:40-41). Dan kedua bersaudara ini termasuk kelompok penunjang seperti itu. (Maria saudara Marta itu bukan Maria Magdalena.) Di rumah itu Yesus tidak hanya singgah, ia juga sempat mengajar. Di situ ia diterima baik, tidak seperti di sebuah tempat di Samaria yang diceritakan sebelumnya dalam Luk 9:53-56.
DUA CARA MENERIMA KEDATANGAN YESUS
Tentu saja Marta bangga rumahnya disinggahi. Ia berusaha sebaik-baiknya melayani tetamunya. Terutama tamu yang satu ini. Tidak heran, ibu rumah tangga ini mulai sibuk menyiapkan ruang, perhelatan, apa saja yang pantas bagi kesempatan ini. Ia tidak ingin nanti dibicarakan orang bahwa jamuannya tak semeriah Bu Anu…. Kita bayangkan Marta ke sana ke mari mencicipi ini itu, menyuruh si ini si itu, agak mengomel kok begini begitu, ia pegang komando sore itu… Lha di mana Maria? Tuh, malah “duduk dekat kaki Yesus” ikut-ikutan mendengarkan uraian ilmu ketuhanan yang sedang dibeberkan Yesus kepada para bapak terhormat di ruang tamu! Bagaimana si Maria ini, pikir Marta. Di zaman itu memang tak biasa perempuan diterima menjadi murid ahli agama. Yesus ini nyleneh. Kok tidak merasa kurang enak kuliahnya ikut dihadiri perempuan. Marta makin kesal. Dan pada ayat 40 rasa jengkelnya itu sempat mendarat pada Yesus, “Tuhan, kok diam saja melihat saudaraku ini membiarkan aku sendirian keteteran melayani!” Tipe Marta itu masih dapat dilihat di sekitar kita, perempuan baik hati dan cekatan, meski ceplas-ceplos dan rada intimidating. Maria lain. Siapa yang lebih menerima Kabar Gembira? Tak perlu tergesa-gesa kita jawab.
Tentang Maria tidak banyak kata ditulis. Namun ia menjadi perhatian semua pihak: Marta yang kesal terhadapnya, Yesus yang akan mengatakan sesuatu tentangnya, dan orang banyak, dan homilist hari ini juga. Jangan lupa, juga perhatian Lukas penginjil! Maria perempuan yang berani dalam caranya sendiri, tak kalah dari Marta, ia nekat mendengarkan kuliah Yesus. Ia tak membiarkan diri dibatasi rambu-rambu tingkah laku bagi kaum perempuan waktu itu. Tapi ia tidak mencari-cari pembenaran teoretis. Mungkin juga bukan soal baginya. Tak terpikir olehnya teori emansipasi, apalagi wacana seputar konstruksi sosial gender. Perangainya tidak konfrontatif. Sekarang ia sedang asyik mendengarkan perkataan Yesus – “duduk dekat kaki Tuhan”, seperti dibisikkan Lukas kepada pembacanya dalam ayat 39. Langsung sesudahnya, Lukas menulis “sedangkan Marta sibuk sekali melayani”. Sikap mendengarkan ditaruh Lukas berjajar dengan kesibukan melayani. Ini bukan penilaian. Bukan juga untuk membuat kita memilih. Ia mengajak kita mengamat-amati serta menikmati peristiwa manusiawi itu dan belajar mengenal kemanusiaan sendiri.
MELACAK KISRUHNYA TEKS
Bukan maksud Lukas memperlawankan kerohanian kontemplatif dan spiritualitas aktif. Tidak juga seperti Yesuit yang getol menyarankan sintesis antara keduanya dalam ujud “contemplatio in actione”.  Lukas lebih apa adanya, lebih lugu. Tapi juga lebih lembut. Ia memperlihatkan, di dalam perjalanan ke salib, ke Yerusalem ini, ada orang-orang yang menyambutnya secara khusus tapi dengan cara mereka masing-masing.
Pada akhir episode itu Yesus mengatakan Maria sudah memilih “bagian terbaik” yang tak akan diambil darinya. Apa itu? Mendengarkan Tuhan? Agar supaya tidak terlalu cepat meloncat ke tafsiran seperti itu, baiklah diketahui bahwa paling sedikit ada lima versi teks pada ayat yang memuat “bagian terbaik” tadi. Ini menunjukkan saratnya upaya penafsiran dari zaman dulu: (1) Marta, Marta, Maria telah memilih bagian terbaik… (2) Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal, Maria telah memilih bagian terbaik…. (3) Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal; tapi hanya beberapa saja yang perlu; Maria telah memilih bagian terbaik…. (4) Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal; tapi hanya satu saja yang perlu; Maria telah memilih bagian terbaik…. (5) Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal; tapi hanya beberapa saja yang perlu atau malah hanya satu saja; Maria telah memilih bagian terbaik….
Jelas (5) itu hasil gabungan (3) dan (4), dan masing-masing dari (3) dan (4) itu berisi tafsiran tentang apa yang dimaksud dengan tak usah banyak repot dalam (2). Teks (1) boleh jadi telah kehilangan “engkau khawatir…dengan banyak hal” yang memuat amatan Yesus mengenai Marta. Mana yang benar? Teks Lembaga Alkitab Indonesia, memilih (4), mengikuti pemakaian teks utama dalam liturgi. Tradisi ini memang sepatutnya dihargai. Mari kita coba mengerti alam pikiran pengarangnya sendiri.
“MEMILIH YANG TERBAIK”
Luc kemarin datang ngobrol. Beberapa minggu ini memang ia tak kelihatan. Maklum baru saja ia kembali dari menengok kampung halamannya. Dibawanya oleh-oleh sebesek kunafa, penganan nyamikan Timur Tengah bermadu, kenyal-kenyal kemripik berisi kacang pistacchio gepuk. Di sore musim panas itu kami mulai bicara ke sana ke mari mengenai orang-orang zaman dulu, termasuk kedua bersaudara Marta dan Maria.
GUS: Marta masuk lagi ke ruang tamu, bangga, membawa penampan dengan tambahan kunafa dan heran melihat minumannya kok ternyata belum dihidangkan. Tadi Maria kan sudah dipesan menyuguhkan teh, lha nyatanya tetap duduk terpaku di bagian depan kumpulan itu. Maka Marta minta Yesus membangunkan Maria dari lamunannya supaya mengambilkan minuman. Marta sendiri masih akan menyiapkan tumpeng kus-kus.
LUC: Imaginatif! Apa akan terbit di jurnal penulisan kreatif?
GUS: [Dapat angin.] Mengenai “satu saja yang perlu” yang dikatakan Yesus, gimana juntrungnya? Apa maksudnya satu macam saja suguhannya sudah cukup, tak usah banyak-banyak. Kunafa cukup, tak usah tambah kueh amandel baklava. Atau Yesus sebenarnya mau bilang, ala kadarnya saja, tak usah macam-macam?
LUC: [Kelihatan geli, lalu menambah.] Maria memang barusan memberi Yesus seiris kunafa yang betul-betul dipilihnya sebagai potongan “yang terbaik”. Kubayangkan Yesus memaksudkan, “Sudahlah, Marta, kan Maria memilihkan [sepotong kunafa] yang terbaik yang kau suguhkan tadi dan memberikan padaku dengan senyum. Kunafa buatanmu rasanya jadi tambah manis! Sudah kucicipi, takkan diambil orang lain – tuh piringnya masih dipegangkan Maria!”
Luc meraih cangkir dan menghirup teh hibiscus hangat kegemarannya, lalu mendesis puas. Terhenyak saya oleh humornya yang enteng tapi padat berisi itu. Eksegese kunafa! “Yang terbaik” itu memang hasil olahan Marta tapi dipilih dan disampaikan oleh Maria. Dan tanpa memandang perangai masing-masing, Yesus menerima kebaikan mereka berdua. Kunafa atau apa saya “yang satu yang perlu” (ayat 42) itu sekadar tanda mereka bertiga saling memperkenalkan diri masing-masing. Yesus tidak minta agar lebih didengarkan. Ia sudah senang rombongannya diterima dengan ramah. Pemberian apa saja dapat membuatnya puas.
Sampai larut malam kami ngobrol. Setelah mengantar Luc sampai ke gerbang, terlintaslah di benak saya, malam itu, di Betania Yesus dan murid-muridnya sempat mendapatkan tempat menaruh kepala untuk beristirahat, hal yang sebenarnya sudah tak mereka harapkan lagi (lihat Luk 9:58; Mat 8:20). Kebaikan dua perempuan bersaudara itu membuat orang yang berjalan menuju ke Yerusalem itu bisa sekadar menarik nafas. Satu saja yang perlu, yang terbaik, kunafa hasil jerih payah Marta yang dihidangkan oleh Maria dengan senyum.
Salam hangat,
A. Gianto

Lamunan Pekan Biasa XV

Sabtu, 20 Juli 2019

Matius 12:14-21

12:14. Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan bersekongkol untuk membunuh Dia.
12:15 Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana. (12-15b) Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya.
12:16 Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia,
12:17 supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya:
12:18 "Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa.
12:19 Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan.
12:20 Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang.
12:21 Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, sekalipun hidupnya sudah diserahkan sebagai perjuangan kebenaran, orang tetap saja ada yang memusuhi. Bahkan yang terjadi adalah bahwa makin giat memperjuangkan kebenaran makin kuatlah musuh penentangnya.
  • Tampaknya, untuk mempertahankan diri dalam perjuangannya, dia akan ke mana-mana menyerukan kebenaran yang diperjuangkan. Dia akan berjuang pula untuk membantah semua yang dikatakan oleh kaum pemusuhnya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun selalu mendapatkan penentangan dengan kata-kata kebencian dan fitnah serta berita-berita hoax, seorang pejuang kebenaran sejati tidak akan emosional mengumbar omongan ke sana-sini untuk melancarkan bantahan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan tampil tenang sebagai pejuang kebenaran sejati sekalipun mendapatkan berbagai tantangan.
Ah, pada jaman kini yang pokok bukan fakta benar atau salah tetapi opini benar atau salah.

Santa Aurea

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 6370 Diterbitkan: 19 Februari 2017 Diperbaharui: 19 Februari 2017
ilustrasi dari koleksi Blog Domus

  • Perayaan
    19 Juli
  • Lahir
    Hidup pada abad ke-9
  • Kota asal
    Cordoba - Spanyol
  • Wafat
    Martir
    Dipenggal pada tahun 856 atas kejahatan : menjadi seorang Kristen
  • Venerasi
    -
  • Beatifikasi
    -
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation Sumber : Katakombe.Org

Santa Aurea hidup di Cordoba Spanyol pada abad ke-9 disaat kerajaan di semenanjung Iberia itu berada dibawah penjajahan bangsa Moor. Ia dilahirkan dalam keluarga Muslim namun kemudian dibaptis menjadi seorang Kristen. Ini adalah sebuah keputusan yang sangat berani. Karena menurut hukum yang berlaku di Cordoba pada saat itu, berpindah keyakinan dari Islam ke Kristen adalah kejahatan dengan ancaman hukuman mati.
Sesudah suaminya meninggal, Aurea memutuskan untuk masuk biara dan menjadi biarawati. Akan tetapi salah seorang anggota keluarganya melaporkan hal ini kepada para pejabat di Cordoba. Aurea lalu diangkap dan dipenggal. Mayatnya lalu dicampakkan ke sungai Guadalquivir.
 Sumber : Katakombe.Org

Thursday, July 18, 2019

Percikan Nas Jumat, 19 Juli 2019

Hari Biasa
warna liturgi Hijau

Bacaan-bacaan: 
Kel. 11:10-12:14; Mzm. 116:12-13,15-16bc,17-18; Mat. 12:1-8.
BcO 2Sam. 11:1-17,26-27.

Bacaan Injil: 
1 Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. 2 Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya: "Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat." 3 Tetapi jawab Yesus kepada mereka: "Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, 4 bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam? 5 Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah? 6 Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah. 7 Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. 8 Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat."

Memetik Inspirasi: 
Dulu kala terjadi bencana, kami memberikan bantuan susu bayi. Alasannya banyak ibu yang stress karena gempa. Hal itu membuat air susu mereka tidak keluar, atau kalau keluar membuat bayi malah diare. Maka kami berikan bantuan tersebut. Tindakan kami itu mendapat teguran salah satu funding dari Inggris karena dipandang melanggar aturan international. Tapi kami tetep teguh memberikan bantuan karena pertimbangan kemanusiaan daripada aturan.
Para murid Tuhan lapar. Mereka memetik gandum dan memakannya. Kebetulan hari itu hari sabat, di mana orang tidak boleh bekerja. Yesus membela para murid dan memberi contoh tindakan Daud kala berada dalam situasi yang mirip dengan yang dihadapi para murid.
Pada masa-masa tertentu karena pertimbangan kemanusiaan kita perlu melakukan sesuatu yang kemungkinan melanggar aturan. Harkat hidup manusia kiranya jauh lebih bernilai dari sekedar aturan dan kesepakatan. Mendahulukan pembelaan hidup manusia kiranya menjadi prioritas pertama hidup kita.

Refleksi: 
Apa yang akan kaulakukan bila tindakan baikmu mungkin menabrak aturan atau kesepakatan?

Doa: 
Bapa, Putera-Mu mengedepankan rasa kemanusiaan. Semoga kami pun berani memberikan diri demi kemanusiaan walau mungkin mesti melanggar aturan/kesepakatan. Amin.

Kemanusiaan sebagai prioritas
MoGoeng
Wates