Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Sunday, January 21, 2018

Mengikuti Yesus Kristus


Minggu, 21 January 2018
Minggu Biasa III
Hari ke-4 Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan Umat Kristiani
Refleksi harianku dalam doa berdasarkan Mark 1:14-20 

Tuhan Yesus Kristus terkasih, Injil hari ini mencatat bahwa Engkau datang ke Galilea mewartakan Injil Allah: Waktunya telah genap. Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah, dan percayalah kepada Injil. Maka Engkau memanggil para muridMu yang pertama untuk mengikuti Dikau dan mereka meninggalkam jala dan segera mengikuti Dikau.

Tolong anugerahi kami rahmatMu agar aku boleh mengikuti Dikau dengan setia. Inti Kristianitas adalah mengikuti Dikau. Engkaulah yang berinisiatif untuk memanggilku padaMu dan mengikuti Dikau lebih dekat lagi. Semoga aku hidup dalam harmoni dengan sesama kini dan selamanya. Amin.

Girlan Ungaran, 21/1/2018

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊ ·̵̭̌·̵̭̌«̶
Aloys budi purnomo Pr

Sent from my heart of abudhenkpr
"abdi Dalem palawija"
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan;
Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang;
Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang.

Saturday, January 20, 2018

Motor Roda 3


Siang itu, Jumat 19 Januari 2018, Pak Tukiran tampak sibuk mengurus motor roda 3 milik Rm. Tri Wahyono yang sudah dipakai oleh Rm. Yadi. Dia membawa motor itu ke bengkel untuk dikembalikan menjadi roda 2. Ketika makan malam Rm. Bambang bertanya kepada Rm. Yadi "Wau kula nyriyosi Pak Tukiran yen ngge ragat nyuwun Rm. Yadi. Pun matur dereng?" (Tadi saya bilang ke Pak Tukiran untuk pembeayaan minta uang dari Rm. Yadi. Apakah sudah mengatakan?). "Empun" (Sudah) jawab Rm. Yadi. Motor itu oleh Rm. Bambang akan disediakan untuk keperluan Domus Pacis kalau sewaktu-waktu dibutuhkan oleh karyawan.


Kejadian itu berawal ketika dalam makan pagi hari itu Rm. Yadi bertanya kepada Rm. Bambang "Le ndandakke motor telas pinten?" (Berapa besar beaya untuk memodifikasi motor). Pertanyaan ini berkaitan dengan motor baru, Honda Vario 150, dari Rm. Bambang yang dikerjakan di Sala untuk dijadikan motor matic roda 3. Sesudah Rm. Bambang mengatakan besarnya beaya, Rm. Yadi meneruskan "Sikil kula sakniki mboten kiat ngge presneling" (Kaki saya sekarang sudah tidak kuat untuk mengganti presneling). "Kersa ngangge motor kula napa. Ning pun tau kula ngge dhawah saengga slebore dados awon" (Apakah mau memakai motor saya. Tetapi sudah pernah saya pakai terjatuh sehingga slebor jadi tak baik) Rm. Bambang menawarkan Honda Bebek Revo Matic yang sudah dimodifikasi jadi roda 3 sejak tahun 2011. Ternyata Rm. Yadi mau menerima. Karena Rm. Bambang sudah berencana mengembalikan Revo Matic ke roda 2, maka sebagai gantinya Rm. Yadi menyerahkan yang dulu merupakan inventaris Rm. Tri Wahyono. Sedang Rm. Bambang pada siang itu sudah menikmati motor roda 3 baru.

Lamunan Pekan Biasa III

Minggu, 21 Januari 2018

Markus 1:14-20

1:14. Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah,
1:15 kata-Nya: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!"
1:16 Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan.
1:17 Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia."
1:18 Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia.
1:19 Dan setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, dilihat-Nya Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu.
1:20 Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia.

Butir-butir Permenungan
  • Katanya, di dalam agama Katolik Roma ada perintah mengaku dosa paling tidak setahun sekali. Ini dapat diketemukan dalam paparan Lima Perintah Gereja.
  • Katanya, di dalam tradisi Katolik dulu ada banyak warganya yang mengaku dosa di hadapan imam seminggu sekali. Pada masa kini ada banyak gerakan mengaku dosa menjelang Perayaan Paskah dan Perayaan Natal.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, serajin apapun seseorang mengaku dosa baik dalam tatacara keagamaan maupun dalam omongan personal dengan yang disalahi, hal itu belum menjamin adanya pertobatan sejati apabila tidak dilandasi kebiasaan hati mempercayakan diri hidup dalam tuntunan kuasa nurani yang berbuah menjadi sikap dan tindakan berjuang membahagiakan orang lain yang ditemui. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang menyadari bahwa agama adalah tanda dan sarana untuk penyadaran akan pentingnya ungkapan dan pewujudan kemesraan hubungan dengan Tuhan dan sesama.
Ah, orang Katolik sudah beriman kalau menyadari diri sebagai pendosa dan mengaku dosa pada imam.

Friday, January 19, 2018

Kegilaan Yesus dan Hanya Bagi Yesus


Sabtu, 20 Januari 2018 
Pekan Biasa II
Hari ke-3 Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan Umat Kristiani
Refleksi harianku dalam doa berdasarkan Markus 3:20-21

Tuhan Yesus Kristus terkasih, Engkau datang bersama para muridMu di rumahMu. Lagi orang banyak berkumpul, hingga makan pun Engkau tak sempat. Saat keluarga kerabatMu mendengar semua ini mereka berusaha menahanMu sebab mereka berkata bahwa Engkau tidak waras lagi!

Tak ada satu pun yang lebih penting dari pada mengenyangkan jiwa sesamaMu dengan pancaran kasihMu hingga Engkau tak peduli akan diriMu sendiri. Bahkan Engkau menawarkan hidupMu pada salib di Kalvari.

Bantulah aku mengikuti teladanMu, dijerat oleh kegilaan cinta, kegilaan cinta padaMu. Bantulah aku mengasihiMu dengan kegilaan dalam pelayanan kepada saudari-saudaraku sebagai imamMu kini dan selamanya. Amin.

Johar Wurlirang, 19/1/2018

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊ ·̵̭̌·̵̭̌«̶
Aloys budi purnomo Pr

Sent from my heart of abudhenkpr
"abdi Dalem palawija"
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan;
Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang;
Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang.

Injil Minggu III/B tgl 21 Jan 2018 (Mrk 1:14-15)

diambil dari http://www.unio-indonesia.org ditulis oleh admin pada Rab, 17/01/2018 - 21:50



INI WAKTUNYA! YA INILAH SAATNYA!
Hari Minggu (Minggu Biasa III/B) ini kita dengar bagaimana Yesus mulai tampil di muka umum. Dua hal dilakukannya, yang pertama ialah mengumumkan Injil (Mrk 1:14-15) dan yang kedua, memanggil para murid yang pertama (1:16-20). Peristiwa ini terjadi di dekat Danau Galilea, di wilayah utara Tanah Suci. Kegiatan ini mengawali perjalanannya membawakan Kabar Gembira dalam ujud pengajaran dan macam-macam penyembuhan dari Galilea menuju ke selatan, sampai ke Yerusalem.
AJAKAN UNTUK MENDENGARKAN
Setelah dibaptis, Yesus dipimpin Roh ke padang gurun (Mrk 1:12-13). Di sana selama 40 hari (Mrk 1:12-13) ia mengalami kehadiran Roh, tapi juga menghadapi kekuatan Iblis. Ia terpisah dari jangkauan sesama (“hidup bersama dengan binatang liar”) namun juga disertai para malaikat. Begitulah cara Injil menampilkan Yesus sebagai manusia yang integritasnya teruji, sebagai manusia yang betul-betul dekat pada keilahian sehingga kekuatan yang jahat tidak dapat menguasainya. Orang seperti inilah yang tampil di masyarakat dan membawakan Kabar Gembira. Ia sendiri sudah mengalaminya dan karenanya dapat mewartakannya.
Disebutkan pada awal Injil hari ini bahwa Yohanes Pembaptis ditangkap. Orang banyak tak lagi dapat datang menyatakan tobat seperti dulu. Tetapi kini ada tokoh yang lebih besar yang telah diberitakan sang Pembaptis sendiri. Dia sudah hadir dan mengabarkan bahwa “genaplah waktunya, Kerajaan Allah sudah dekat”. Sekaligus ia mengajak orang-orang menumbuhkan sikap yang paling cocok menanggapi kenyataan baru ini, yakni “bertobat dan percaya kepada Injil”.
Orang Yahudi dulu membayangkan bahwa sejak awal Yang Maha Kuasa sudah menentukan kurun waktu sebelum datang zaman baru yang ditandai dengan kehadiran-Nya di dalam kehidupan orang-orang-Nya. Kurun waktu ini kini dinyatakan telah genap, telah terpenuhi. Masa menunggu sudah selesai. Zaman baru yang tadi dinanti-nantikan dan diungkapkan dengan gagasan “Kerajaan Allah” sudah ada di tengah-tengah manusia. Kini ada seorang manusia yang membiarkan diri sepenuhnya dijadikan tempat berdiam bagi-Nya. Di dalam diri orang inilah dapat dikatakan “Allah meraja”. Jadi dalam paruh pertama pewartaan Yesus tadi hendak dikatakan ada orang yang benar-benar dapat menghadirkan kebesaran Allah di tengah-tengah manusia.
Semakin dipikirkan, semakin jelas bahwa yang dibicarakan ialah diri Yesus sendiri. Dialah ujud nyata Kerajaan Allah yang sudah dekat itu. Beberapa waktu sebelumnya, pada saat pembaptisannya, ia dinyatakan sebagai orang yang amat dekat pada Yang Maha Kuasa dan ditandai oleh Roh. Kesungguhannya juga telah teruji. Ia dapat mengenali gerak kekuatan-kekuatan yang jahat dan yang baik. Pernyataan “Kerajaan Allah sudah dekat” itu pernyataan iman yang amat berani tanpa melebih-lebihkan, tetapi juga tanpa menutup-nutupi kebesaran dia yang mewartakannya. Pendengar di zaman apapun akan merasa dihadapkan pada kenyataan baru. Dan tak bisa lagi diam saja. Menganggapnya sepi sama saja dengan menolak dan tidak mempercayai kebenarannya. Mulai mencoba memahami berarti menerimanya dan mengarahkan diri pada kehadiran Allah dalam ujud orang yang ini. Itulah inti dari “bertobat”. Pergantian haluan hidup hanyalah kelanjutan dari arah baru ini. Dan baru demikian orang bisa diajak mempercayai Injil, yakni Kabar Gembira. Manakah inti Kabar Gembira yang dibawakannya?
Menurut Injil Yohanes, satu ketika Yesus mengajak dua orang yang mau mengenalnya agar datang dan melihat sendiri (Yoh 1: 38-39). Begitu pula dalam Injil Markus (juga Matius dan Lukas), Yesus mengajak orang-orang menemukan apa Kerajaan Allah itu bagi mereka sendiri serta menjadi bagian darinya. Seperti ia sendiri. Inilah Kabar Gembira yang dibawakannya. Suatu warta yang memungkinkan kemanusiaan berkembang seutuh-utuhnya, tapi juga arah yang memungkinkan Allah bisa hadir sedekat-dekatnya. Bukan lagi warta harus begini harus begitu, tak boleh ini itu, melainkan warta yang membuat orang menemukan diri dalam Allah.
Bagaimana kenyataannya di dalam hidup sehari-hari? Dalam bagian kedua bacaan Injil hari ini (ay. 16-20) ditunjukkan bagaimana Yesus mengajak orang-orang tertentu untuk menghidupi Kabar Gembira tadi. Bersama mereka nanti Yesus akan membawakan apa itu kehadiran Kerajaan Allah kepada orang banyak, apa itu kenyataan hidup yang membuat Allah dapat dirasakan hadir oleh orang banyak. Pengajaran, penyembuhan, pengusiran kekuatan roh jahat, semua inilah tanda-tanda hadirnya Allah di tengah kemanusiaan. Itulah ujud nyata Kerajaan-Nya yang dialami orang-orang pada waktu itu dan diceritakan kembali bagi generasi-generasi berikutnya.
WILAYAH GALILEA
Menurut Mrk 1:14 dan 16 Yesus mulai tampil di wilayah Galilea, di tempat-tempat di dekat danau, terutama di kota Kapernaum. Sudah pada zaman Perjanjian Lama, wilayah utara ini berbeda dengan Yudea di selatan, baik alamnya maupun kehidupan sosialnya. Di utara tanahnya lebih subur. Perekonomiannya lebih maju. Orang-orangnya lebih berpikir independen. Tetapi sering mereka dipandang kurang taat beragama oleh elit politik-religius di Yerusalem, yakni ahli Taurat, para imam, kaum Farisi. Memang di wilayah utara juga ada cukup banyak orang yang asalnya dari Yudea. Mereka pindah ke utara untuk mendapatkan nafkah lebih besar dan mencari peluang yang lebih luas. Keluarga Yesus kiranya juga dari Yudea. Karena itulah Yusuf dan Maria datang ke sana dari Nazaret di Galilea untuk menyensuskan diri seperti diceritakan Lukas (Luk 2:1-5).
Macam-macam prasangka, lebih-lebih di bidang hidup keagamaan, lebih terasa di Yerusalem dan Yudea pada umumnya. Di utara orang biasa berhubungan dengan budaya lain. Di wilayah yang memiliki kebiasaan berpikir lebih luas itulah Yesus mulai mewartakan sesuatu yang baru. Ia didengarkan. Lihat misalnya kekaguman orang di Kapernaum mendengarkan uraiannya yang segar mengenai Taurat (Mrk 1:21-22; Luk 4:31-32). Mereka tertarik. Tidak pasif saja dan kemudian melupakannya. Tentu saja mereka tidak selalu menyambutnya dengan terbuka. Di Nazaret sendiri ia bahkan pernah ditolak (Mrk 6:1-6a Mat 13:53-58 Luk 4:16-30).
Di wilayah Galilea sudah beberapa puluh tahun sebelumnya berkembang satu sektor perekonomian baru, yakni eksploitasi ikan dari danau. Pasar-pasar ikan di tepi danau bertumbuh dan akhirnya menjadi tempat hunian dan kota yang ramai. Kapernaum ialah salah satu dari kota-kota itu. Begitu juga Magdala, Betsaida, dan wilayah Genesaret di tepi danau Tiberias. Nanti Yesus akan mondar-mandir di antara kota-kota itu ikut perahu para nelayan. Dalam ukuran zaman itu para nelayan ialah orang-orang yang maju dalam bisnis. Salah satu usahawan seperti itu ialah Zebedeus, ayah Yakobus dan Yohanes. Juga Simon Petrus dan Andreas adalah pebisnis ikan yang mapan. Memang kebanyakan masih dilakukan sendiri, dari menjala, menyortir, kemudian membawanya ke pasar. Umumnya orang-orang itu lincah berusaha. Inilah orang-orang yang dijumpai Yesus dan yang kemudian menjadi pengikutnya. Bahkan dari antara mereka ada yang menjadi murid-muridnya yang pertama. Yesus melihat kemungkinan-kemungkinan yang ada. Ia tidak menunggu orang datang kepadanya. Ia mendatangi para nelayan itu, menyertai mereka. Begitulah ia makin didengar orang.
MENJADI MURID
Dalam petikan Injil ini juga diceritakan Yesus memilih murid sebagai rekan sekerja. Simon Petrus dan Andreas dipanggil ketika mereka tengah menangani pekerjaan mereka menjala ikan. Mereka serta-merta meninggalkan jala mereka untuk mengikuti Yesus. Juga Yakobus dan Yohanes segera meninggalkan perahu serta ayah mereka yang kiranya pemilik perusahaan ikan yang sukses tadi. Orang-orang ini melihat kenyataan “Kerajaan Allah” dalam diri orang yang mengajak mereka ikut. Dan mereka tidak ingin kehilangan dia. Mereka pun mengikutinya dan berpindah gaya hidup. Itulah “bertobat” bagi mereka. Dan itu juga kenyataan “percaya kepada Injil”. Terlihat kini Kerajaan Allah mulai hidup dalam diri orang-orang di sekitar Yesus juga.
Mereka yang dipanggil itu akan dijadikan penjala manusia (Mrk 1:17=Mat 4:19). Sering diartikan mencari pengikut sebanyak-banyaknya, seperti mendulang lubuk misi! Tafsiran seperti itu tidak klop, baik dulu maupun sekarang, bahkan bisa memerosotkan panggilan yang digambarkan Injil. Dalam Luk 5:10 “penjala manusia” dirumuskan sebagai “anthroopous (esee) zoogroon”, artinya yang menangkap manusia untuk membawanya ke kehidupan. Begitulah penjelasan yang berasal dari zaman itu sendiri. Tanggung jawab para murid bukan menangkapi, tetapi mendukung, menuntun, memelihara, menguatkan orang agar bisa hidup terus, membuat orang menemukan jalan sendiri. Dan bukan hanya dalam kehidupan rohani belaka.
Bagi zaman kini pun ajakan untuk membawa orang-orang ke kehidupan tetap aktual. Juga dalam mengusahakan masyarakat yang lebih memungkinkan hidup pantas bagi semua. Juga dalam mengajak semua orang yang berkemauan baik untuk bersama-sama membangun masyarakat yang bertumpu pada keadaban, bukan merusaknya.
DARI BACAAN KEDUA (1Kor 7:29-31)
Pada zaman itu umat Korintus hidup di tengah-tengah masyarakat luas dengan pelbagai tawaran cara hidup metropolitan. Ada kalangan yang mengikuti cara hidup bebas, apa saja sah. Bukannya mereka ini selalu amoral. Dalam paham etika yang menekankan kemerdekaan manusia sebagai diri rasional, pandangan ini bisa membuat tindak tanduk manusia dewasa lebih otentik, lebih mandiri, dan bernilai. Tetapi bila tidak berpegangan dan bernalar memang bisa merosot dan apa saja dihalalkan dan amoralitas mudah terjadi. Ada pula kalangan lain yang amat ketat mengikuti hukum-hukum kelakuan baik dan agama. Mereka ini bisa menjurus ke puritanisme dan intoleran. Khusus pada masa itu ada aliran pemikiran religius yang beranggapan apa-apa yang badaniah itu termasuk yang kotor. Mereka ini bahkan berpendapat bahwa perkawinan termasuk kelakuan seperti itu. Pendapat seperti ini agak bergema dalam surat Paulus kepada orang Korintus, lihat misalnya 1Kor 7:1-16 yang berisi nasihat-nasihat keras dalam hidup suami-istri. Masalahnya, bagaimana sikap yang benar dan perilaku yang pantas bagi para pengikut Kristus di Korintus waktu itu.
Khusus dalam bagian yang dibacakan kali ini Paulus menanggapi persoalan di atas dengan mengutarakan satu pegangan, yakni menyadari kini saatnya sudah tiba bagi tiap orang untuk betul-betul memegang yang bakal memberi kehidupan. Waktunya sudah terasa singkat! (1Kor 7:29) Tak ada lagi kesempatan untuk enak-enak mencoba yang ini atau yang itu. Jalani terus serta tekuni pilihan serta kehidupan yang nyata-nyata sedang dijalani ketika mereka menjadi pengikut Kristus. Dapat diperkirakan, mereka ini asalnya dari kalangan yang bersikap ketat dalam moralitas serta condong beranggapan bahwa barang-barang duniawi berlawanan dengan kehidupan batin. Kepada mereka ini dinasihatkan Paulus agar tidak berpindah-pindah cara hidup, maksudnya, agar tidak semakin mengetatkan dan semakin menjauhi kehidupan badaniah. Sudah cukup. Tekuni saja.
Pembaca kini bisa bertanya, lho kalau begitu tak usah bertobat? Ah, tak usah kita pegang anggapan kaku mengenai apa itu bertobat. Bagi umat Korintus waktu itu, ujud pertobatan yang paling cocok ialah tidak melebih-lebihkan perilaku asketik menjauhi apa-apa yang badaniah. Sudah cukup kesadaran bahwa barang-barang duniawi serta kelakuan badaniah itu tak usah menentukan segalanya. Dinasihatkan Paulus, yang telah beristri hendaklah berkelakuan seolah-olah sudah tidak beristri. Bukan agar menjauhi istri, ini justru yang hendak dicegah Paulus. Orang di Korintus ada yang tergoda untuk berlebihan bermatiraga sehingga sang istri pun dijauhi. Maka nasihat Paulus, cukup, anggap saja seolah-olah sudah menjauhi istri, dan terus hidup biasa – maksudnya sebagai suami istri. Begitu pula orang yang “menangis”, maksudnya ada dalam kesusahan. Di Korintus ada kecenderungan untuk melebih-lebihkan penderitaan. Cukup, anggap saja tidak dalam penderitaan sehingga tak usah menambah-nambah rasa susah. Yang gembira begitu pula diajak agar tidak beranggapan ini buruk – anggap saja tidak sedang gembira. Titik. Begitu seterusnya. Ini bukan ironi. Nasihat-nasihat ini cocok buat orang di Korintus. Juga menunjukkan ketrampilan pastoral Paulus. Satu hal perlu dipegang: waktunya singkat, jadi jangan aneh-aneh. Yang penting ialah integritas. Inilah juga yang diserukan dalam ajakan bertobat dan percaya akan Kabar Gembira serta mengikuti Yesus. Ini juga kenyataan apa itu “terjala bagi kehidupan” seperti diuraikan di muka.
Salam hangat
A. Gianto

Tubuhmu adalah Bait Roh Kudus

TANGAN KANAN-MU, TUHAN, 
MULIA KARENA KEKUASAAN-MU
(Keluaran 15:1-21))

Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan Umat Kristiani 18-25 Januari 2018 
HARI 3 - 20 Januari 2018
Tubuhmu adalah Bait Roh Kudus

Keluaran 3: 4-10  Tuhan membebaskan orang-orang yang berada dalam perbudakan manusia
Mazmur 24: 1-6 Tuhan, kami adalah orang-orang yang mencari wajah-Mu
1 Korintus 6: 9-20 Karena itu muliakanlah Allah di dalam tubuhmu
Matius 18: 1-7 Celakalah orang yang olehnya batu sandungan itu ada!

Bersama banyak komunitas lain, gereja mengalami keresahan mengenai pornografi, terutama melalui internet. Pornografi memiliki konsekuensi merusak martabat manusia, terutama bagi anak-anak dan remaja. Seperti perbudakan, ini mengkomoditi manusia, menjerat orang-orang yang kecanduan dan merusak hubungan cinta yang sehat.

Refleksi: Kitab Keluaran menunjukkan kepedulian Tuhan terhadap orang-orang yang diperbudak. Wahyu Tuhan kepada Musa di semak yang terbakar adalah pernyataan kuat kehendakNya untuk membebaskan umatNya. Tuhan melihat kesengsaraan mereka, mendengar teriakan mereka dan datang untuk membebaskan mereka. Tuhan pun masih mendengar teriakan orang-orang yang mengalami perbudakan hari ini, dan keinginan untuk membebaskan mereka. Sementara seksualitas adalah anugerah Tuhan untuk hubungan manusia, penyalahgunaan pemberian ini melalui pornografi memperbudak dan merendahkan nilai keduanya yaitu mereka yang memproduksi dan mereka yang mengkonsumsinya. Tuhan tidak tahan terhadap penderitaan mereka dan kita dipanggil untuk prihatin akan hal tersebut dan berjuang mengatasinya. Apakah kita sudah menjawab panggilan itu?

Doa: Bapa Surgawi, baharuilah jiwa-raga kami, bersihkan hati dan pikiran kami agar kami dapat memuliakan nama-Mu. Semoga Gereja-Mu semakin dikuduskan, melalui Yesus Kristus Sang Putera, yang hidup dan memerintah bersamaMu, dalam kesatuan dengan Roh Kudus, kini dan sepanjang masa. Amin.

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶
Aloys budi purnomo Pr

Sent from my heart of abudhenkpr
"abdi Dalem palawija"
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan;
Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang;
Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang.

Lamunan Pekan Biasa II

Sabtu, 20 Januari 2018

Markus 3:20-21

3:20 Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makanpun mereka tidak dapat.
3:21 Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa orang disebut normal kalau dapat hidup selaras dengan tatacara atau kebiasaan umum. Dia dapat mengatur waktu kapan harus kerja, kapan harus istirahat, kapan harus ini dan itu sehingga hidupnya tak akan tersedut hanya dalam satu hal.
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa orang dapat disebut normal kalau dapat mengikuti jalan pikiran umum. Pikirannya akan sambung dengan pikiran umum.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, walaupun hidupnya tercurah demi kebutuhan dan kebaikan umum sehingga tenaga dan pikiran hanya demi banyak orang, orang akan siap mendapatkan cap tidak normal bahkan gila karena apapun yang dijalankan dan diomongan selalu terjadi sebagai wujud dan ungkapan ketaatan pada amanat nurani yang dapat berbeda dan bahkan berlawanan dengan perasaan dan pemikiran umum. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan siap dicap tidak normal karena ketaatannya pada nurani dapat membuat hidup tidak selaras dengan kebiasaan umum.
Ah, yang normal itu ya yang dapat menyelaraskan hidup dengan kebiasaan umum.