Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Saturday, October 21, 2017

Lamunan Pekan Biasa XXIX

Minggu, 22 Oktober 2017

Matius 22:15-21

22:15. Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan.
22:16 Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka.
22:17 Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?"
22:18 Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?
22:19 Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu." Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya.
22:20 Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?"
22:21 Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, yang namanya musuh biasa melontarkan kata-kata kebencian. Omongan keburukan biasa dilontarkan oleh musuh kepada yang dimusuhi.
  • Tampaknya, sebaik apapun seseorang, dia tak akan mendapatkan komentar positif dari musuhnya. Di hadapan musuh orang baik tetap tampak buruk.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul dekat dengan kedalaman batin, sejelek kata-kata dan ungkapan apapun dilontarkan bahkan fitnah-fitnah disebar luaskan, kalau itu berasal dari musuh-musuh dan para pembencinya, orang baik akan menerimanya sebagai kewajaran dan kewaspadaan yang justu akan terjadi kalau musuh datang dengan sikap bersahabat disertai kata-kata sanjungan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan selalu waspada pada jiwa jahat yang dapat tampil simpatik berselubung tampilan persahabatan.
Ah, penjahat tak mungkin secara publik mengakui kebaikan musuhnya.

Friday, October 20, 2017

Daya Kuasa Roh Kudus

Try the new Yahoo Mail

Ulasan Eksegetis Bacaan K.S Minggu Biasa XXIX/A

diambil dari http://www.mirifica.net by A. Gianto on Jendela Alkitab, Mingguan


Membayar Pajak Kepada Kaisar?

Rekan-rekan yang budiman!

SATU ketika Yesus dimintai pendapat tentang membayar pajak kepada Kaisar: apakah hal ini diperbolehkan (Mat 22:15-21). Bila mengatakan boleh maka ia akan menyalahi rasa kebangsaan. Tetapi bila mengatakan tidak, ia pun akan berhadapan dengan penguasa Romawi yang waktu itu mengatur negeri orang Yahudi.  Para pengikut Yesus kerap dihadapkan ke masalah seperti itu.

Ada dua macam rumusan. Yang pertama terlalu menyederhanakan perkaranya, dan bisanya berbunyi demikian: “Bolehkah mengakui dan hidup menurut kelembagaan duniawi?” Gagasan ini kurang membantu. Kalau bilang “ya” maka bisa dipersoalkan, lho kan orang beriman mesti hidup dari dan bagi Kerajaan Surga seutuhnya. Kalau bilang “tidak”, apa maksudnya akan mengadakan pemerintahan ilahi di muka bumi? Pertanyaan ini sama dengan jerat yang diungkapkan murid-murid kaum Farisi. Untunglah, ada pertanyaan yang lebih cocok dengan inti Injil hari ini: Bagaimana Yesus sang pembawa warta Kerajaan Surga melihat kehidupan di dunia ini? Ia memakai pendekatan frontal? Atau pendekatan kerja sama? Apa yang dapat dipetik dari cara pandangnya?

Sebuah Diskusi

Menurut kebiasaan kaum terpelajar Yahudi pada zaman Yesus, sebelum menanggapi pertanyaan yang rumit, orang berhak mengajukan sebuah pertanyaan guna menjernihkan perkaranya terlebih dahulu. Lihat misalnya pertanyaan dalam Mat 21:23-25 mengenai asal kuasa Yesus. Dalam perbincangan mengenai boleh tidaknya membayar pajak kepada Kaisar, Yesus mengajak lawan bicaranya memasuki persoalan yang sesungguhnya. Demikian maka ia meminta mereka menunjukkan mata uang pembayar pajak dan bertanya gambar siapa tertera di situ. Mereka tidak dapat menyangkal bahwa itu gambar Kaisar. Yesus pun menyudahi pembicaraan dengan mengatakan, “Berikanlah kepada Kaisar yang wajib kalian berikan kepada Kaisar dan kepada Allah yang wajib kalian berikan kepada Allah!” Dengan jawaban ini ia membuat mereka memikirkan sikap mereka sendiri baik terhadap “urusan kaisar” maupun keprihatinan mereka mengenai “urusan Allah” dan sekaligus menghindari jerat yang dipasang lawan-lawannya. Bagaimana penjelasannya?

Perpajakan

Kaum Farisi memang bermaksud menjerat Yesus. Mereka menyuruh murid-murid mereka datang kepadanya bersama dengan para pendukung Herodes. Kedua kelompok ini sebetulnya memiliki pandangan yang bertolak belakang. Orang-orang Farisi secara prinsip tidak mengakui hak pemerintah Romawi memungut pajak yang dikenal sebagai pajak “kensos”, yakni pajak bagi penduduk, praktisnya sama dengan pajak hak milik tanah. Inilah pajak yang dibicarakan dalam petikan ini. Tidak dibicarakan pajak pendapatan. Mereka yang warga Romawi tidak dikenai pajak penduduk, tapi mereka diwajibkan membayar pajak pendapatan kepada pemerintah. Orang Yahudi yang bukan warga Romawi diharuskan membayar pajak penduduk. Maklumlah, seluruh negeri telah diserap ke dalam kedaulatan Romawi. Pemerintah Romawi tidak memungut pajak pendapatan orang Yahudi bukan warga Romawi. Tapi aturan agama juga mewajibkan mereka membayar pajak pendapatan dan hasil bumi yang dikenal dengan nama “persepuluhan” kepada lembaga agama. Disebut pajak Bait Allah. Kepengurusan Bait Allah akan mengatur pemakaian dana tadi bagi pemeliharaan tempat ibadat, menghidupi yatim piatu, janda, kaum terlantar serta keperluan sosial lain. Jadi orang Yahudi yang bukan warga Romawi yang memiliki tanah dan berpendapatan wajib membayar pajak ganda: kepada pemerintah Romawi (pajak tanah), dankepada lembaga agama Yahudi sendiri (pajak persepuluhan).

Masalah

Bagi orang Farisi, membayar pajak penduduk berarti mengakui kekuasaan Romawi atas tanah suci. Padahal dalam keyakinan mereka, tanah itu milik turun temurun yang diberikan Allah, dan tak boleh diganggu gugat, apalagi dipajak. Maka pungutan pajak penduduk dirasakan sebagai perkara yang amat melawan ajaran agama leluhur. Para penarik pajak yang orang Yahudi dipandang sebagai kaum murtad dan melawan inti keyahudian sendiri. Mereka itu dianggap pendosa, sama seperti perempuan yang tidak setia.

Bagaimana sikap para pendukung Herodes? Yang dimaksud ialah Herodes Antipas, penguasa wilayah Galilea di bagian utara tanah suci. Pemerintah Romawi meresmikannya sebagai penguasa “pribumi” dan memberi wewenang dalam urusan sipil dan militer di wilayahnya. Tetapi di Yerusalem dan Yudea wewenang dipegang langsung oleh perwakilan Romawi, waktu itu Ponsius Pilatus. Herodes mengikuti politik Romawi dan merasa berhak menarik pajak penduduk di wilayahnya. Mereka yang disebut kaum pendukung Herodes dalam Mat 21:16 itu sebetulnya bukan mereka yang tinggal di Galilea, melainkan orang Yerusalem dan Yudea pada umumnya yang menginginkan otonomi “pribumi” seperti Herodes di utara. Mereka memperjuangkan pajak penduduk – pajak yang dibicarakan dalam petikan ini – tetapi bukan bagi pemerintah Romawi, melainkan bagi kas kegiatan politik mereka di Yudea dan Yerusalem. Jadi mereka berbeda paham dengan orang Farisi yang menganggap penarikan pajak penduduk dalam bentuk apa saja oleh siapa saja tidak sah dan melawan ajaran agama.

Bila Yesus menyetujui pembayaran pajak penduduk yang diklaim penguasa Romawi, ia akan berhadapan dengan mereka yang bersikap nasionalis dan akan dianggap meremehkan pandangan teologis bahwa tanah suci ialah hak yang langsung diberikan oleh Allah. Dan orang Farisi bisa memakainya untuk mengobarkan rasa tidak suka kepada Yesus. Tetapi bila ia mengatakan jangan, maka ia akan bermusuhan dengan para pendukung Herodes yang dibawa serta orang Farisi dan sekaligus melawan politik Romawi. Jawaban apapun akan membuat Yesus mendapat lawan-lawan baru. Memang itulah yang diinginkan oleh orang Farisi.

Pemecahan Masalah

Ketika mengatakan berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib diberikan kepada Kaisar sebetulnya Yesus mengajak lawan bicaranya memikirkan keadaan mereka sendiri, yakni dibawahkan pada kuasa Romawi. Jelas kaum Farisi dan para pendukung Herodes hendak menyangkalnya, tapi dengan alasan yang berbeda. Kaum Farisi menolak dengan alasan agama, sedangkan kaum pendukung dengan alasan kepentingan politik mereka sendiri. Di sini ada titik temu dengan permasalahan yang kadang-kadang dihadapi para pengikut Yesus di manapun juga seperti disebut pada awal ulasan ini. Bukan dalam arti mengidentifikasi diri dengan pilihan orang-orang yang datang membawa masalah, melainkan belajar dari sikap Yesus dalam menghadapi persoalan tadi. Dengan mengatakan bahwa patutlah diberikan kepada Allah yang wajib diberikan kepada-Nya, Yesus hendak menekankan perlunya integritas batin. Bila kehidupan agama mereka utamakan, hendaklah mereka menjalankannya dengan lurus. Bila mau jujur, mereka mau tak mau akan memeriksa diri adakah mereka sungguh percaya atau sebetulnya mereka menomorsatukan kepentingan sendiri dengan memperalat agama.

Yesus juga membuat mereka yang datang kepadanya berpikir apakah ada pilihan lain selain memberikan kepada Kaisar yang menjadi haknya. Bila ya, coba mana? Ternyata keadaan mereka tak memungkinkan. Mereka tidak mencoba menemukan kemungkinan yang lain. Mereka telah menerima status quo dan tidak mengusahakan perbaikan kecuali dengan mengubahnya menjadi soal teologi. Padahal masalahnya terletak dalam kehidupan sehari-hari. Iman dan hukum agama mereka pakai sebagai dalih dan sebenarnya mereka permiskin. Yesus tidak mengikuti pemikiran yang sempit ini.

Pada akhir petikan disebutkan mereka “heran” mendengar jawaban tadi. Dalam dunia Perjanjian Lama, para musuh umat tak bisa berbuat banyak karena Allah sendiri melindungi umat-Nya dengan tindakan-tindakan ajaib. Para lawan itu tak berdaya dan bungkam mengakui kebesaran-Nya. Inilah makna “heran” tadi. Mereka kini terdiam mengakui kebijaksanaan Yesus dan mundur. Seperti penggoda di padang gurun yang terdiam dan mundur meninggalkannya.

Komunitas Orang Beriman

Ketika merumuskan pertanyaan mereka (Mat 22:16), murid-murid orang Farisi terlebih dahulu menyebut Yesus sebagai “orang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan tidak takut kepada siapa pun juga, sebab tidak mencari muka.” Dalam bahasa sekarang, Yesus itu dikenal sebagai orang yang punya prinsip serta hidup sesuai dengan prinsip tadi secara transparan . Bukannya demi meraih keuntungan dan menjaga kedudukan. Orang yang mencobainya sebetulnya sudah melihat arah pemecahan masalah, yakni sikapnya yang terarah pada kepentingan Allah. Pembicaraan selanjutnya menunjukkan bahwa sikap itu bukan sikap menutup diri terhadap urusan duniawi dan memusuhinya. Malah hidup dengan urusan duniawi itu juga menjadi cara untuk membuat kehidupan rohani lebih berarti. Itulah kebijaksanaan Yesus. Itulah yang dapat dikaji dan diikuti para pengikutnya.

Gagasan pokok yang ditampilkan dalam petikan di atas dapat menjadi arahan bagi Gereja. Apakah Gereja sebagai lembaga rohani yang ada di muka bumi ini menemukan perannya juga? Sebagai kelompok masyarakat agama, Gereja diharapkan dapat berdialog dengan kenyataan yang berubah-ubah dalam masyarakat luas tanpa memaksa-maksakan posisi dan pilihan-pilihan sendiri. Pada saat yang sama disadari juga betapa pentingnya menjalankan perutusannya sebagai komunitas orang-orang yang mau menghadirkan Allah, yang memungkinkan urusan-Nya berjalan sebaik-baiknya di bumi ini. Petikan di atas mengajak orang menumbuhkan kebijaksanaan hidup dan menepati perutusan tadi.

Salam,

Kredit Foto: https://www.google.com/url

Lamunan Pekan Biasa XXVIII

Sabtu, 21 Oktober 2017

Lukas 12:8-12

12:8 Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui dia di depan malaikat-malaikat Allah.
12:9 Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah.
12:10 Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni.
12:11 Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis-majelis atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu kuatir bagaimana dan apa yang harus kamu katakan untuk membela dirimu.
12:12 Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, untuk berbicara secara resmi di hadapan publik orang akan mengadakan persiapan. Dia akan menyiapkan berbagai rujukan agar dapat menguasai bahan.
  • Tampaknya, kalau diminta bicara di hadapan orang lain secara mendadak, orang dapat bingung. Dia juga dapat ketakutan kalau akan dihadapkan dengan berbagai pertanyaan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, setidak siap apapun bahkan setidak paham apapun akan hal yang akan dihadapi untuk berbicara di muka orang lain bahkan orang-orang hebat, orang tidak dikuasai oleh kekuatiran bahkan ketakutan karena hidupnya terbiasa menghadapkan segala yang dilihat dan didengar sebagai sambung pembicaraan dengan relung nurani sehingga yang ada dalam nurani itulah yang berkata-kata. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan selalu menjunjung tinggi kedalaman nurani dan mengandalkannya dalam segala hal yang dihadapi.
Ah, yang pokok ikut arus umum saja agar selamat.


Thursday, October 19, 2017

Jadi Bahan Psikogerontologi


Janjian sudah dibuat ketika empat orang datang ke kamar Rm. Bambang pada Selasa 17 Oktober 2017 sekitar jam 11.00. Rm. Bambang kemudian memberi informasi ke Rm. Rio, Rm. Yadi dan Rm. Harto pada saat makan siang. Dan keesokan harinya, Rabu 18 Oktober 2017 jam 08.00 lebih, datanglah enam orang. Mereka adalah mahasiswa dan mahasiswi Universitas Sanata Dharma jurusan Psikologi. Empat di antaranya adalah perempuan, yaitu Ana, Garnis, Trisna, dan Pande. Sedang yang dua lelaki adalah Nugroho dan Vio. "Kami akan menghadapi rama satu per satu bersama-sama" kata Mas Nugroho. Atas usulan itu Rm. Bambang berkata "Tetapi di kamar Rm. Yadi barang-barangnya ada banyak. Kalau berenam masuk akan tidak enak." Setelah pembicaraan sesaat disepakati: 1) Untuk wawancara dengan Rm. Yadi dan Rm. Rio dilakukan bersamaan waktu dilakukan oleh kelompok dengan anggota tiga orang; 2) Seusai kedua rama itu diteruskan wawancara dengan R. Harto yang dilakukan bersama-sama keenam anggota; 3) Terakhir berenam ke Rm. Bambang. Pada saat Rm. Bambang sedang mengetik, dia mendengar suara Mas Abas, salah satu karyawan Domus Pacis, diwawancarai oleh beberapa mahasiswa tentang pengalamannya bersama para rama tua di Domus.

Ketika jam hampir menunjukkan angka 09.00, keenam mahasiswa masuk kamar Rm. Bambang. "Rama, tadi Rm. Yadi sesudah bicara beberapa saat harus pergi terapi ke rumah sakit. Untuk Rm. Harto, beliau minta dilakukan pada jam setengah sepuluh karena sebelum jam itu suara belum dapat lancar" salah satu mahasiswa berkata dan kemudian meneruskan "Apakah sekarang bisa bicara dengan Rm. Bambang?" Rm. Bambang pun mengiyakan. Maka Rm. Bambang menerima keenam mahasiswa itu menanyakan pengalaman sebagai rama yang hidup di rumah tua sejak pertama kali. Pande, salah satu anggota, pamit mendahului pergi karena ada kuliah. Omong-omong tentang kehidupan ketuaan dapat lancar dan penuh keakraban. Ternyata yang dilakukan oleh para mahasiswa yang datang di Domus Pacis ini berkaitan dengan mata kuliah pilihan yang mereka ambil dalam semester ketujuh. Itu adalah mata kuliah "Psikogerontologi". Karena para mahasiswa menganggap omong-omong sudah mencukupi untuk yang mereka cari, dan karena masih harus masuk kuliah, giliran dengan Rm. Harto dibatalkan. Sebelum pulang mereka menyerahkan parcel buah untuk para rama Domus sebagai tanda terima kasih. Mereka meninggalkan Domus Pacis pada sekitar jam 10.30.

Jangan Takut!

Try the new Yahoo Mail

Lamunan Pekan Biasa XXVIII

Jumat, 20 Oktober 2017

Lukas 12:1-7

12:1. Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi.
12:2 Tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui.
12:3 Karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas atap rumah.
12:4 Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi.
12:5 Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia!
12:6 Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah,
12:7 bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa penggerak kebaikan hidup akan memiliki keprihatinan terhadap banyak orang. Dia bersama orang-orang dekatnya akan memperhatikan kebaikan umum.
  • Tampaknya, seorang penggerak kebaikan umum akan berusaha memahami realitas yang ada di tengah masyarakat luas. Dia bersama orang-orang dekatnya akan berusaha mengembangkan sisi-sisi positif dan akan mencari cara untuk mengatasi sisi-sisi negatif.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, sebaik apapun program dan kegiatan dilakukan untuk perjuangan demi kebaikan umum, hal itu belum sungguh-sungguh menjadi perjuangan kebaikan kalau seorang tokoh pejuang tidak mendahulukan tuntunan dan pemeliharaan jiwa bagi orang-orang dekat atau tim perjuangannya. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati seorang pejuangan kebaikan umum akan sungguh mengutamakan pembinaan kebaikan kelompok kecilnya.
Ah, yang pokok perjuangan itu ya perjuangan yang menghasilkan banyak keuntungan.