Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Sunday, February 18, 2018

Mengasihi Yang Hina, Mengasihi Tuhan Sendiri


Senin, 19 Feb. 2018
Pekan Prapaskah I
Refleksi harianku berdasarkan Mat 25:31-46

Semua agama mengajarkan kasih sayang kepada sesama, terutama mereka yang paling hina di antara kita. Ternyata, saat kita mampu dan mau mengasihi yang hina, tindakan itu juga merupakan cara kita mengasihi Tuhan sendiri! Seperti apa dan bagaimana mungkin?

Itulah kenyataannya. Tak mengherankan kita menemukan suatu firman yang mengajarkan kepada kita, bahwa bila kita mengasihi sesama kita yang paling hina sekalipun, kasih itu tertuju kepada Tuhan sendiri yang hadir dalam diri mereka.

"Sesungguhnya, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku!" Begitulah Tuhan berfirman kepada orang-orang yang memberi makanan kepada yang lapar, memberikan minuman kepada yang haus, memberikan tumpangan kepada orang asing, memberikan pakaian kepada yang telanjang, merawat yang sakit dan mengunjungi mereka yang berada dalam penjara. Semua tindakan itu adalah tindakan kasih kepada Tuhan sendiri.

Sebaliknya, segala sesuatu yang tidak kita lakukan untuk mereka yang paling hina di antara kita, hal itu juga tidak kita lakukan bagi Tuhan. Karenanya, marilah, kita saling belajar untuk berbuat baik satu terhadap yang lain, sebab sekecil apa pun perbuatan baik kita kepada sesama kita, terutama mereka yang paling hina sekalipun, itu kita lakukan untuk Tuhan.

Semoga kita dikuatkan untuk selalu berbuat baik kepada siapa pun yang ada di sekitar kita, terutama mereka yang paling hina sekalipun. Semoga kebaikan-kebaikan itu pun menjadi tanda kasih di antara kita, dan terlebih lagi menjadi tanda kasih bagi Tuhan, apa pun agama dan kepercayaan kita.

Selamat mengasihi sesama yang paling hina. Semoga kasih itu berkenan di hadirat Tuhan dan membuahkan keselamatan dalam kehidupan kita, di mana pun berada; apa pun agama dan kepercayaan kita. Tuhan memberkati.***

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊ ·̵̭̌·̵̭̌«̶
Aloys budi purnomo Pr

Sent from my heart of abudhenkpr
"abdi Dalem palawija"
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan;
Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang;
Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang.

Percikan Nas Senin, 19 Februari 2018

Kondradus dr Piacensza
warna liturgi Ungu

Bacaan-bacaan:
Im. 19:1-2,11-18; Mzm. 19:8,9,10,15; Mat. 25:31-46. BcO Kel. 6:2-13.
Senin, 19 Februari 2018Nas Injil:
31 “Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. 32 Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, 33 dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. 34 Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. 35 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; 36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. 37 Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? 38 Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? 39 Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? 40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. 41 Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. 42 Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; 43 ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. 44 Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? 45 Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. 46 Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.”
Percikan Nas
Sering kita ketemu orang-orang yang baik hati. Mereka telah banyak membantu. Banyak tempat dia bantu. Suatu kali orang itu ke suatu tempat dan orang-orang di tempat itu pun berterima kasih kepadanya karena bantuan-bantuannya sungguh bisa dirasakan oleh warga di situ. Orang itu pun bingung bantuan apa yang telah ia berikan pada mereka kok sampai orang-orang begitu berterima kasih kepadanya. Ia pun sudah lupa kalau pernah membantu warga di situ.
Sebaliknya ada pula orang yang selalu mengingat apa yang telah ia berikan. Bahkan ada juga barang yang didapat karena jabatannya pun dianggap dari dirinya. Setiap kali datang selalu mengatakan ini dulu yang beli saya, ini yang mengadakan saya. Saya, saya dan saya.
Dua sikap yang bertolak belakang ini akan membangun tanggapan kita yang khas pula. Sikap-sikap itu sering muncul tanpa disadari. Tuhan pun mengingatkan kita atas sikap-sikap yang biasa kita lakukan dan tidak sadari. Mereka yang biasa berbuat baik akan menjadikan perbuatan baik itu sebagai kebiasaannya. Mereka yang biasa abai pun menjadikan pengabaiannya sebagai kebiasaan. Anda biasa berbuat kebaikan atau biasa mengabaikan kebaikan?
Doa:
Tuhan jadikanlah kebaikan sebagai kebiasaanku. Semoga aku jadi orang yang peduli, bukan orang yang abai pada mereka yang membutuhkan. Amin.
(goeng)

Lamunan Pekan I Prapaskah

Senin, 19 Februari 2018

Matius 25:31-46

25:31. "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya.
25:32 Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing,
25:33 dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya.
25:34 Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.
25:35 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;
25:36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.
25:37 Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?
25:38 Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?
25:39 Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?
25:40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.
25:41 Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.
25:42 Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum;
25:43 ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.
25:44 Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau?
25:45 Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.
25:46 Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, orang-orang di dunia dibedakan menurut kebangsaannya. Ras dan suku juga menghadirkan perbedaan perilaku.
  • Tampaknya, ada pula agama-agama dan tata kepercayaan yang membuat orang juga mengalami perbedaan satu sama lain. Di dalam hidup kenegaraan pandangan politik juga membuat adanya perbedaan golongan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, sekalipun di dunia ini orang mengalami amat sangat banyak aneka perbedaan, di hadapan yang ilahi orang hanya akan dibedakan dalam dua golongan, yaitu kaum yang memiliki kebiasaan peka terbuka pada kebersamaan hingga secara alami mudah peduli pada yang papa dan menderita, dan kaum yang rakus hanya memikirkan kepentingan diri sehingga tak peka pada yang butuh perhatian. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan selalu membangun dan mengembangkan sikap dan perilaku yang didasari oleh kemudahan alami tersentuh akan kebutuhan kaum papa dan menderita.
Ah, orang harus menanggung nasibnya sendiri-sendiri.

Saturday, February 17, 2018

Mens Sana in Corpore Sano?


Sebenarnya kelompok Umat Lingkungan Yohanes Don Bosco, Paroki Bintaran, menginginkan berkunjung di Domus Pacis pada tanggal 4 Februari 2018. Akan tetapi kemudian mundur seminggu sesudahnya karena di hari itu Lingkungan Yohanes de Britto dari Paroki yang sama sudah melakukan perjanjian berkunjung lebih dahulu. Kunjungan Lingkungan Don Bosco pada Minggu 11 Februari 2018, sebagaimana de Britto, juga untuk merayakan Hari Pelindung Lingkungan. Untuk makan siang Don Bosco minta pesan dari Domus Pacis yang dilayani oleh para relawan. Tetapi untuk snak mereka sudah membawa sendiri dan hanya minta dibuatkan teh dari Domus. Maka pada hari yang ditentukan sudah ada beberapa ibu yang datang pada jam 08.00 pagi untuk menyiapkan sajian snak. Keseluruhan anggota yang berjumlah 71 orang sudah masuk Domus pada sekitar jam 09.00. Mereka langsung menikmati sajian teh dan beberapa menu snak yang disajikan.

"Nyuwun pangapunten, rama. Kala wau rama ngendika supados jujur kemawon ngungkapaken menapa ingkang muncul ing raos lan pikiran rikala mlebet ing Domus Pacis" (Maaf, rama. Tadi rama mengatakan agar kami jujur mengungkapkan apa yang muncul dalam perasaan dan pikiran ketika masuk di Domus Pacis) kata salah satu bapak dalam pertemuan omong-omong di ruang aula dalam. Rm. Bambang memang meminta apa saja yang akan ditanyakan sesuai yang terasa dan terpikir secara blak-blakan. Yang dikatakan oleh bapak itu menyusul beberapa pertanyaan mengenai jumlah rama-rama dan beberapa keadaan Domus Pacis. Sesudah mengucapkan kata-kata tersebut, bapak itu meneruskan "Sepisan malih nyuwun pangapunten, rama. Kula kepikir kawontenanipun para rama ingkang fisikipun difabel lan kagungan sawetawis gerah. Kathah ingkang sampun ngagem kursi rodha. Kula lajeng mikir bab kesucian" (Sekali lagi mohon maaf, rama. Saya berpikir tentang keadaan para rama dalam kondisi difabel dan memiliki beberapa penyakit. Banyak yang sudah berkursi roda. Kemudian saya menghubungkan dengan kesucian). Mendengar kata-kata ini Rm. Bambang langsung menyahut "Kamangka wonten unen-unen MENS SANA IN CORPORE SANO, jiwa yang sehat ada dalam tubuh yang sehat" (Padahal ada ungkapan MENS SANA IN CORPORE SANO, jiwa yang sehat ada dalam tubuh yang sehat). Bapa itu menanggapi "Mekaten, rama. Kados pundi njih menika?"(Betul, rama. Lalu bagaimana?).

Ternyata soal "Mens Sana in Corpore Sano" menjadi pembicaraan hangat. Para rama memberikan jawaban berkaitan dengan kondisi fisik buruk bukan halangan untuk menghayati hubungan batin dengan Tuhan. Bahkan dalam kenyataan banyak yang kondisi fit tetapi bertindak bertentangan dengan kebaikan bahkan terlibat dalam kejahatan seperti yang terjadi pada para koruptor. Rm. Bambang memberikan cakrawala pandangan umum bahwa yang suci pasti sehat sebagaimana terjadi dalam Perjanjian Lama dan gambaran umum. Tetapi dalam Perjanjian Baru Yesus sungguh dekat pada yang papa dan menderita dan mengutamakan yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel. Acara pertemuan di tempat pertemuan ini di teruskan dengan Misa Kudus di Kapel yang dipimpin oleh Rm. Bambang. Sebagaimana terjadi pada Minggu sebelumnya dengan Lingkungan Yohanes de Britto, para peserta kunjungan ini sudah mempersiapkan acara liturgi dengan bagus. Rm. Bambang mengurai kisah Yohanes Don Bosco dengan menekankan hikmah gerakan "Ora et Labora" di kalangan kaum muda. Makan siang yang disajikan oleh para relawan Domus menjadi penutup kunjungan.

Percikan Nas Minggu, 18 Februari 2018

HARI MINGGU PRAPASKAH I
warna liturgi Ungu

Minggu, 18Februari 2018


Bacaan-bacaan:
Kej. 9:8-15; Mzm. 25:4b-5ab,6-7bc,8-9; 1Ptr. 3:18-22; Mrk. 1:12-15. BcO Kel. 5:1-6:1.
Nas Injil:
12 Segera sesudah itu Roh memimpin Dia ke padang gurun. 13 Di padang gurun itu Ia tinggal empat puluh hari lamanya, dicobai oleh Iblis. Ia berada di sana di antara binatang-binatang liar dan malaikat-malaikat melayani Dia. 14 Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, 15 kata-Nya: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”
Percikan Nas
Saya tertarik dengan kalimat ini, “Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah” (Mrk 1:14). Kalimat ini mengisyaratkan dua hal bagi saya. Pertama Yesus tidak bertubrukan dengan Yohanes. Ia hadir setelah Yohanes ditangkap. Kedua karya penyelamatan mesti terus berlangsung. Setelah Yohanes ditangkap Yesus langsung ke Galilea untuk memberitakan Injil.
Kadang dalam kehidupan kita ada orang yang mempunyai sinar yang sama kuat dengan kita. Tanpa disadari kita pun lalu berkompetisi dengan orang tersebut. Kiranya sikap Yesus bisa menjadi pembelajaran bagi kita. Sangat dimungkinkan untuk mengembangkan sinar kita tanpa harus bertubrukan dengan mereka yang mempunyai sinar yang sama. Yang utama bahwa sinar kebaikan harus terus memancar. Kala yang satu meredup maka yang lain segera mau mengisi. Dengan begitu kegelapan tidak akan sempat berkuasa.
Bagaimana anda memancarkan sinar anda? Apa yang akan anda lakukan kala melihat sinar yang lain meredup?
Doa:
Tuhan semoga aku selalu mempunyai daya untuk menyalakan sinar cahaya-Mu. Semoga aku mampu berbagi dengan sesamaku untuk bisa memperluas sinar terang-Mu. Amin.
(goeng)

Lamunan Pekan I Prapaskah

Minggu, 18 Februari 2018

Markus 1:12-15

1:12 Segera sesudah itu Roh memimpin Dia ke padang gurun.
1:13 Di padang gurun itu Ia tinggal empat puluh hari lamanya, dicobai oleh Iblis. Ia berada di sana di antara binatang-binatang liar dan malaikat-malaikat melayani Dia.
1:14. Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah,
1:15 kata-Nya: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!"

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, di dalam hidup beragama ada bulan tertentu yang dijadikan masa puasa. Agama mengatur pelaksanaan untuk pantang dan matiraga.
  • Tampaknya, di dalam hidup beragama ada berbagai kegiatan diadakan untuk pelaksanaan bulan puasa. Biasanya dalam masa puasa ada kegiatan-kegiatan memperbanyak doa, memperdalam keagamaan, mengurangi makan minum, dan berdana.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, segiat apapun orang menjalani apa yang diperintahkan oleh agama dalam masa puasa, orang belum sungguh menjalani puasa sejati kalau yang dilakukan tidak menjadi sarana pelatihan dan pengembangan serta pembaruan diri untuk kewaspadaan mengawasi keinginan-keinginan mana yang berasal dari nafsu yang merusak dan mana yang berasal dari daya yang menjaga keluhuran hidup. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan mengasah diri untuk biasa memiliki kesadaran batin.
Ah, yang namanya puasa itu ya tidak makan dan tidak minum.

Friday, February 16, 2018

Minggu Prapaskah I/B 18 Feb 2018 (Mrk 1:12-15 & 1Ptr 3:18-22)

diambil dari http://www.unio-indonesia.org/content ditulis oleh admin pada Sel, 13/02/2018 - 14:20

KEKUATAN ROH DAN KERAJAAN ALLAH
Rekan-rekan yang budiman!
Pada hari Minggu I/B Masa Prapaskah dibacakan Mrk 1:12-15. Dengan singkat dan padat diceritakan dua hal: pertama, Yesus dicobai di padang gurun, dan kedua, bagaimana ia mengumumkan sudah datangnya Kerajaan Allah. Kedua peristiwa ini mendasari kegiatan Yesus di masyarakat. Ia akan memilih murid-murid pertama dan bersama-sama mereka ia akan melayani orang-orang di Galilea. Ia juga akan berjalan ke Yerusalem tempat peristiwa Paskah nanti terjadi.
SINGKAT PADAT
Injil Markus memang lebih singkat daripada kedua Injil Sinoptik lainnya, yakni Matius dan Lukas. Kedua Injil ini memang disusun berdasarkan tulisan Markus dilengkapi dengan tradisi mengenai kata-kata Yesus (disebut para ahli sebagai “Q”, dari kata Jerman Quelle, artinya sumber) dan bahan-bahan khusus kalangan Matius dan Lukas sendiri. Markus sendiri menceritakan peristiwa-peristiwa secara singkat mengingat pendengar/pembacanya ketika itu masih cukup akrab dengan seluk-beluk yang tersedia secara lisan. Markus kerap hanya memberi “garis besar” saja. Kedua Injil lain kemudian menyertakan beberapa unsur peristiwa sebagaimana diingat dalam komunitas masing-masing. Namun demikian, dalam menyampaikan Injilnya, Markus dengan sengaja memadatkan kisah-kisah yang waktu itu masih cukup dikenal. Pemadatan ini justru membuat peristiwa yang bersangkutan semakin menonjol. Kedua peristiwa yang diperdengarkan hari ini hasil pemadatan seperti itu. Pembaca dan pendengar diajak mengembangkan sendiri unsur-unsur yang melatarbelakangi peristiwa tadi sesuai dengan pengetahuan dan perkembangan iman mereka.
Titik pusat pengisahan petikan hari ini sebenarnya bukan percobaan yang dialami Yesus, melainkan kesertaan Roh, terbangunnya kembali manusia utuh dalam Kerajaan Allah dan sikap yang perlu dibangun dalam menerimanya.
DIPIMPIN ROH
Diceritakan sebelumnya bahwa Roh turun ke atas Yesus dalam ujud merpati, lambang kedamaian. Kekuatan ini jugalah yang menaunginya ketika menghadapi Iblis di padang gurun. Roh ini kekuatan yang tak ada taranya, tapi tak bisa dipegang seperti jimat. Kekuatan ilahi tidak bisa dikuasai orang yang bersangkutan. Sebaliknya, yang bersangkutanlah yang dikuasai kekuatan itu. Orang yang disertainya ialah orang yang membiarkan kehadiran ilahi bekerja dalam dirinya di dunia ini seleluasa-leluasanya.
Dikatakan, Yesus ada bersama binatang-binatang liar. Bukan perkara lumrah. Sebagai akibat kejatuhan manusia, binatang liar tidak bisa lagi berada bersamanya dengan damai seperti di Firdaus dahulu. Seperti diutarakan Yes 11:6-9, rukunnya kembali binatang liar dengan manusia melambangkan terbangunnya kembali Firdaus. Bila dikatakan Yesus berada bersama binatang-binatang liar, jelas hendak dikatakan bahwa pada dirinya kini terwujudlah kembali manusia yang utuh seperti di Firdaus tadi. Juga ditegaskan, dialah yang merujukkan kembali pihak-pihak yang saling memusuhi. Ia membangun kembali dunia seperti dicitrakan Yesaya tadi.
Juga disebutkan bahwa para malaikat “melayani” Yesus. Mereka menyediakan semua yang dibutuhkannya selama ia berada di tempat yang penuh godaan itu. Yesus memang akan melihat dua macam daya yang menarik ke jurusan yang bertentangan. Yang satu mendekatkannya ke pada Allah, yang lain, kekuatan Iblis, menjauhkannya. Pilihannya akan membuat ia menjadi utusan Allah atau utusan kekuatan jahat. Malaikat pun tak segan mendekat padanya. Inilah yang terjadi di padang gurun.
KERAJAAN ALLAH
Pembicaraan mengenai Kerajaan Allah sebaiknya didasarkan pada gagasan orang biasa pada waktu itu dan bukan pada pelbagai anggapan dari zaman kita ini. Dengan demikian akan lebih mudah diselami maksud pewartaan bahwa “Kerajaan Allah sudah datang”.
Bagi orang-orang pada zaman Yesus, ungkapan Kerajaan Allah (Matius menyebutnya Kerajaan Surga) cukup mudah dimengerti. Sudah sejak lama mereka mengharapkan Allah mengerjakan hal yang istimewa bagi umat-Nya. Mereka percaya bahwa mereka menjadi umat Allah berkat kebaikanNya yang membawa mereka keluar dari tempat perbudakan di Mesir ke tanah yang dijanjikan kepada leluhur mereka dan menjadikan mereka jalan bagi bangsa-bangsa lain untuk mengenal kebesaran Allah mereka. Itulah ajaran iman turun-temurun mereka. Mereka merasa aman karena dipimpin dengan kuasa Allah mereka sendiri. Ada kebanggaan bahwa mereka dirajai Allah. Itulah gagasan paling awal mengenai “Kerajaan Allah”. Tetapi dalam sejarah umat Israel, beberapa kali terjadi krisis. Kebesaran mereka runtuh. Mereka tak mendapati diri dirajai Allah, tapi diperintah bangsa lain yang tak mengenal kepercayaan mereka.
Namun demikian, pengalaman buruk tadi juga membangun kesadaran baru. Pertama, tergugah harapan bahwa Allah akan bertindak seperti dahulu lagi. Mereka tetap yakin Dia akan membawa keluar umatNya dari penindasan. Kerajaan Allah akan terbangun kembali. Memang belum jelas kapan terjadi, tapi pasti akan terwujud. Akan datang orang yang ditugasi Allah membangun kembali kejayaan mereka. Inilah harapan mereka. Kedua, seperti dicanangkan para nabi, mereka perlu menginsyafi bahwa malapetaka politik yang mereka alami itu akibat ketaksetiaan mereka sendiri terhadap Allah. Mereka diajak memeriksa diri apa cukup sepadan dengan kebaikan yang telah diterima dariNya.
Ketika Yesus menyerukan bahwa “saatnya sudah genap, Kerajaan Allah sudah dekat”, orang-orang langsung menangkap hubungan dengan pengalaman mereka sendiri. Mereka sudah lama mengharap-harapkan kapan waktu itu tiba. Kehadiran kembali Allah kini diwartakan bukan lagi barang yang jauh. Itulah yang dimaksud dengan Kerajaan Allah sudah dekat. Juga bagian kedua pewartaan Yesus, yakni mengenai bertobat dan percaya, tidak sulit mereka tangkap. Orang diajak melihat kenyataan baru tadi dengan pikiran terbuka, memandang jauh ke depan, tidak hanya yang di sini dan kini melulu. Inilah yang dimaksud dengan “bertobat”. Bukan pertama-tama dimaksud sikap menyesali kekeliruan dan dosa, melainkan keterbukaan ingin melihat yang lebih luas, bersedia memikirkan ada yang lebih jauh daripada yang kini sedang terjadi. Inilah pertobatan yang diserukan Yesus. Baru bila memiliki wawasan luas, dapatlah orang dikatakan “percaya kepada Injil”. Maksudnya, mempercayai bahwa kini ada yang membuat batin mereka lega, “plong”, bisa bebas dari kegelisahan akan masa depan yang tak menentu.
PENERAPAN
Sebetulnya apa yang terjadi? Yesus mengajak orang menekuni kepercayaan yang sudah mereka punyai. Masa depan diserahkan kembali kepada pelaku-pelakunya sendiri, yakni kaum beriman sendiri, kita-kita ini sendiri.
Apa yang dapat dipetik dari Injil hari ini bagi? Intinya kita digairahkan agar semakin mendengarkan dan mempercayai warta gembira dan melihat jauh ke masa depan dengan mantap. Ada beberapa catatan. Tidak banyak berguna bila kita merasa perlu “menjadi” seperti Yesus di padang gurun! Markus menyampaikan kisah Yesus digoda itu untuk membantu kita mulai mengenal siapa Yesus itu, bukan untuk memberi pesan-pesan moralistis kepada kita.
Kita juga boleh terus terang mengakui, kita tidak sekuat Yesus dalam menghadapi percobaan. Namun demikian, godaan-godaan yang kita jumpai juga tidak seganas yang dialaminya. Rupanya kekuatan menghadapi cobaan itu seukuran dengan beratnya cobaan itu sendiri. Semakin besar godaan, semakin kuat daya perlawanan yang tersedia. Perkaranya sebetulnya diserahkan kepada pilihan kita masing-masing: berpegang pada kekuatan ilahi atau mau menghadapi sendiri dan tentu kalah. Ini yang bisa kita tarik keluar dari kisah itu.
Memilih hidup bagi Allah menjadi awal perjalanan yang panjang bagi Yesus. Juga bagi para pengikutnya. Yesus nanti akan memperkenalkan siapa Allah itu kepada orang banyak. Kita tidak usah merasa ditugasi sama seperti Yesus. Bagian kita ialah menerima pewartaannya mengenai Allah. Bukan dengan mengatakan “ya” dan “betul begitu” belaka, tetapi dengan berupaya ikut memungkinkannya menjadi kenyataan. Bisa dikatakan, warta mengenai Kerajaan Allah tak akan membekas bila tidak disertai kesediaan untuk memberinya ujud yang nyata dalam masyarakat, juga yang belum pernah terbayangkan.
Pernyataan bahwa Kerajaan Allah “sudah dekat” masih juga memiliki arti bagi zaman ini. Orang zaman ini pun boleh merasa diajak berkreasi ikut menjadikan gagasan Kerajaan Allah itu sebuah kenyataan yang dialami “sudah dekat”. Kita boleh mengupayakan keadaan yang membuat orang lega, bebas dari waswas yang mengekang batin. Tanpa keikutsertaan membangun wahana itu, nanti hanya akan ada impian yang tak terwujud. Karena itu juga dirasa perlu “menerjemahkan” gagasan Kerajaan Allah itu dalam langkah-langkah mengembangkan wahana kehidupan yang makin layak. Inilah bentuk nyata dari pertobatan yang diserukan Yesus. Bisa dalam kehidupan orang perorangan, bisa dalam kehidupan bersama. Bentuknya bisa bermacam-macam. Itulah kekuatan warta ini: mengembangkan potensi penerima warta sendiri, bukan hanya memberi.
Boleh jadi, langkah berguna untuk menerapkan warta Injil hari ini ialah mulai dengan membuat kajian mengenai kehadiran komunitas orang percaya di lingkungan yang nyata, di dalam keadaan multikultural dewasa ini. Baik disimak sejauh mana masyarakat kurang memungkinkan tiap orang memiliki akses yang sama ke kebaikan yang dimaui oleh Allah sendiri. Ini bentuk nyata dari “melihat jauh ke depan” (dalam bahasa Injil “Bertobatlah!”) dan mengusahakan agar Injil menjadi bagian kehidupan (“Percayalah kepada Injil!”).
DARI SURAT PETRUS
Gagasan di atas juga terungkap dalam petikan surat Petrus yang dibacakan kali ini (1Ptr3:18-22). Ditegaskan di situ bagaimana Kristus yang telah dimulyakan setelah kematiannya bukan hanya tinggal diam. Kini, dalam Roh, ia membawa orang mendekat kepada Yang Mahakuasa sendiri. Kristus digambarkan sebagai yang mengajak siapa saja yang berjauhan dengan kehadiran ilahi untuk datang mendekat. Kehadirannya menjadi pewartaan keselamatan yang telah datang. Tinggal diterima kekuatannya.
Salam hangat,
A. Gianto