Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Saturday, October 1, 2016

Sabda Hidup


Minggu, 02 Oktober 2016
Hari Minggu Biasa XXVII
warna liturgi Hijau 
Bacaan
Hab. 1:2-3; 2:2-4; Mzm. 95:1-2,6-7,8-9; 2Tim. 1:6-8,13-14; Luk. 17:5-10. BcO Sir. 1:1-20

Lukas 17:5-10: 
5 Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: "Tambahkanlah iman kami!" 6 Jawab Tuhan: "Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu." 7 "Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! 8 Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. 9 Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? 10 Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan."

Renungan:
Kadang-kadang orang bangga karena tugas yang diberikan kepadanya berhasil. Ia akan bergembira kala pemimpinnya memuji keberhasilannya dan berterima kasih kepadanya. Tidak jarang yang merasa jengkel bahkan marah kala tidak ada pujian dan terima kasih dari bosnya.
Yesus menunjukkan bahwa kita ini adalah seorang hamba. Seorang hamba jarang mendapatkan ucapan terima kasih dari tuannya. "Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?" (Luk 17:9). Walau berhasil dalam tugasnya seorang hamba hanya bisa mengatakan, "Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan" (Luk 17:10).
Kiranya kita mesti terus melakukan apa yang mesti kita lakukan. Kita mesti serius menjalankan yang semestinya kita jalankan sampai berhasil dengan baik. Pujian dan ucapan terima kasih dari pemimpin tidak perlu kita harapkan apalagi tunggu-tunggu. Kalau tidak ada kita tidak mengeluh. Kalau ada kita anggap sebagai bonus.

Kontemplasi:
Bayangkan dirimu telah bekerja keras menjalankan tugasmu. Selesai melakukan itu anda menghadap bos dan menyampaikan laporan kepadanya.

Refleksi:
Bagaimana bertahan dalam ketekunan menjalankan tugas dengan baik walau tidak pernah mendapatkan pujian atau terima kasih?

Doa:
Tuhan semoga aku selalu mampu melakukan apa yang mesti kulakukan walau tak ada pujian dan ucapan terima kasih. Amin.

Perutusan:
Aku akan melakukan apa yang mesti kulakukan.-nasp-

Friday, September 30, 2016

Rm.Tri Hartono Ngandika (1-10-2016)


Kami ini adalah hamba yang tidak berguna. Bagi kami orang tua atau sakit-sakitan, merasa sebagai hamba yang tidak berguna adalah wajar. Pengakuan jujur dan tulus atas ketidak mampuan dirinya dan mengandalkan kekuatan rahmat Allah, adalah suatu kerendahan hati sebagai pangkal iman.

Ulasan Eksegetis Injil Minggu Biasa XXVII/ C

diambil dari http://www.mirifica.net/2016/09/29 by on Jendela Alkitab, Mingguan


TENTANG IMAN DAN BERIMAN

Luk 17:5-10 memuat dua pokok pembicaraan. Yang pertama, ayat 5-6, menyebutkan permintaan para murid agar iman mereka ditambah serta reaksi Yesus terhadap permintaan ini. Yang kedua, ayat 7-10, berisi ajaran agar murid-murid bersikap sebagai hamba yang tak mengenal istirahat dan tidak memikirkan jasa sendiri. Untuk mengerti hubungan di antara kedua bagian itu dan maksud seluruh petikan, marilah kita lihat konteksnya, yaitu beberapa nasihat dalam Luk 17:1-4 yang mendahului petikan ini. Dalam ayat 1 ditampilkan perkataan Yesus bahwa mustahil tidak akan ada hal yang membuat orang berbuat salah. Pandangan Guru itu kini amat realistis. Ia dapat memahami bila orang jatuh ke dalam dosa. Inilah sisi lain pengajarannya yang di sana sini sering terdengar keras dan banyak tuntutannya. Tapi dalam ayat berikutnya ia bersikap tegas terhadap orang yang menyebabkan sesama jatuh ke dalam dosa, terutama yang lemah: “Lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke laut daripada menyebabkan orang-orang kecil ini berbuat dosa!” Selanjutnya dalam ayat 3-4 diberikan nasihat agar para murid menegur orang yang bersalah dan bila menyesal, hendaknya ia dimaafkan sepenuhnya. Tentu saja untuk menerima semua ajaran ini para murid merasa butuh memiliki pegangan yang kuat, paling tidak untuk menaklukkan diri. Untuk itu mereka meminta tambahan iman seperti terungkap dalam ayat 5 yang menjadi awal petikan yang dibacakan hari ini.

MENGAPA MINTA TAMBAHAN IMAN?

Para rasul mohon agar iman mereka ditambah. Jawaban Yesus dalam ayat 6 terasa tidak langsung menanggapi permintaan itu. Ia malah membuat perbandingan. Dikatakannya, jika iman mereka itu besarnya hanya seperti biji sesawi saja – jadi amat kecil – niscaya mereka sudah akan mampu mengerjakan hal-hal yang luar biasa seperti menyuruh pohon ara tercabut dan pindah ke dasar lautan. Apa maksudnya? Acap kali kata-kata Yesus ini dimengerti sebagai gambaran betapa besarnya daya iman. Tidak disangkal bahwa iman memiliki kekuatan luar biasa. Tetapi itukah yang hendak disampaikannya? Bila dipikirkan, akan terasa aneh bahwa Yesus berbicara demikian. Rasul-rasul kan sudah tahu betapa besarnya daya iman. Kita pun tahu. Justru karena itulah mereka minta imannya ditambah. Apa perlunya mereka diberi tahu mengenai besarnya kekuatan iman?

Pembicaraan para rasul dengan Yesus sebaiknya dimengerti dalam rangka pembicaraan antara guru dan murid pada zaman itu. Dalam menanggapi masalah yang diajukan murid, seorang guru akan mencerahkan persoalannya terlebih dahulu sebelum memberi jawaban. Yesus sebenarnya mau mengatakan, “Kalian ini punya anggapan bahwa iman berurusan dengan kemampuan melakukan hal-hal yang menakjubkan. Kalau hanya itu, tak perlu menginginkan iman yang besar. Yang besarnya cuma seukuran biji sesawi pun sudah bisa menjalankan yang mustahil.…” Dengan lain kata Yesus mengajak murid-murid makin menyadari bahwa iman itu terutama bukan kesaktian yang bisa dipakai menjalankan hal-hal yang spektakuler. Iman jangan pula dilihat sebagai semata-mata sebagai kekuatan batin untuk menundukkan diri sendiri. Tersirat anjuran agar tidak melihat iman dengan ukuran-ukuran itu.

Kembali ke konteks yang terdapat dalam Luk 17:1-4. Peringatan agar jangan menyebabkan orang jatuh ke dalam dosa dan ajakan agar mengampuni setulus-tulusnya memang terasa gampang tapi sulit dijalankan. Maka para murid berpikir, untuk itu perlu iman besar. Tetapi jawaban Yesus menyangkal penalaran seperti itu. Lalu pengertian Yesus mengenai iman?

BERIMAN?

Jelas bukan menyandarkan diri pada kesaktian atau jimat. Bukan pula kebesaran hati untuk mengampuni atau kewaspadaan untuk tidak membuat orang berdosa. Lalu bagaimana penjelasannya? Jawaban hanya bisa kita temukan bila kita ingat perjalanan Yesus dari awal hingga akhir. Paling tidak begitulah cara Injil Lukas menyampaikannya. Yesus sendiri menemukan imannya dengan berada tetap pada perjalanannya hingga sampai ke tujuan perjalanan itu. Kunci untuk memahaminya terletak pada penampakan di gunung. Di situ Musa dan Elia berbicara dengan Yesus mengenai “tujuan perjalanan”-nya (Yunaninya “exodos”; Luk 9:31) yang akan digenapinya di Yerusalem. Kemudian ketika ia bergulat dengan dirinya sendiri di Getsemani ia meminta agar piala itu diambil darinya. Dengan kata lain, ia sampai meminta agar ia tak usah terus hingga ke akhir perjalanan dan melewati penderitaan ditolak orang-orang yang didatanginya, dihukum, dan mati disalib. Namun terlebih dahulu ia mengatakan, asal semua itu kehendak Bapanya, bukan kehendaknya (Luk 22:42). Kedua peristiwa itu membantu kita mengerti apa iman itu dalam kehidupan Yesus, yakni menuruti kehendak Bapanya sampai akhir, menaruh kehendak Bapa di atas segala sesuatu. Dan dengan itu ia memperoleh kekuatan untuk berjalan terus sampai akhir. Nanti pada saat ia menghembuskan nafas terakhir, ia berseru menyerahkan nyawanya kepada Bapanya (Luk 23:46). Inilah kenyataan orang beriman yang sejati. Bukan barang spektakuler dalam pandangan orang banyak. Malah bagi orang-orang yang lewat di hadapan salib, nasibnya itu mengenaskan belaka. Tetapi di situlah iman hidup. Di situlah kesetiaan mengikuti kehendak Yang Mahakuasa yang dipanggil Bapa itu menunjukkan kekuatan yang sesungguhnya.

Yesus mengamalkan seluruh hidupnya untuk membuat manusia tidak gampang dibawahkan ke kedosaan, juga yang paling lemah sekalipun tidak gampang menyerah kepada kedosaan. Sampai akhir hayatnya ia menunjukkan apa itu pengampunan Allah terhadap manusia. Inilah sumber kekuatannya. Begitulah ia juga membaharui kemanusiaan menjadi yang tahan banting dosa dan kuat mengampuni. Dalam bahasa sekarang, tahan menghadapi pelbagai kontradiksi dalam hidup ini dan sedia mengupayakan rekonsiliasi. Jika para murid meminta tambahan iman yang begini ini maka mereka ada di jalan yang benar, ada di jalan yang sedang ditempuh Yesus sendiri. Ini juga pengajaran bagi kita.

PELAYANAN IMAN

Dalam bagian kedua petikan ini, yaitu Luk 17:7-10 Yesus memberi petunjuk kepada murid-muridnya agar hidup sebagai hamba yang selalu siap menjalankan tugas yang diberikan tuannya. Yesus sendiri menjalani hidup yang sepenuhnya mengiakan yang dikehendaki Bapanya tadi. Ia seperti seorang hamba yang siap menjalankan perintah tuannya. Tidak ada istirahat, bahkan setelah menyelesaikan sebuah tugas. Setelah selesai membajak ia disuruh menyediakan makanan bagi tuannya. Baru sesudah itu ia sendiri dapat makan dan minum (ayat 7-8). Hamba itu juga tak usah mengharapkan ucapan terima kasih karena telah menjalankan tugasnya. Sebaliknya ia harus merasa dirinya tak pantas. Semua yang dilakukannya hanya demi tugas (ayat 8-10).

Yesus mengajak para rasul berpikir mengenai apa itu pelayanan iman. Pelayanan ini tidak ada selesainya dan si pelayan sendiri akhirnya mesti mengaku sebagai “orang tak berguna” (ayat 10). Jelas mengapa dalam menanggapi permintaan para rasul agar iman mereka ditambah, Yesus mengetengahkan bahwa yang penting bukanlah berusaha memperoleh sukses dengan kekuatan yang ada pada mereka, tetapi sebaiknya menjadi pelayan yang membaktikan diri sepenuhnya kepada tugas mereka. Ajakan Yesus ini ajakan untuk tetap hidup dalam dunia nyata dan bukan dunia idam-idaman yang spektakuler. Diterapkan dalam hidup paroki, maka pelayanan pastoral yang dijiwai dengan ajakan ini ialah pelayanan yang memperhatikan kenyataan-kenyataan yang dialami umat setempat. Yang Mahakuasa berbicara lewat isyarat-isyarat zaman. Menjalankan tugas pelayanan juga berarti menemukan secara kreatif jalan-jalan baru yang makin dapat membuat pelayanan makin hidup dan makin peka menanggapi tanda-tanda yang datang dari atas sana. Kepekaan inilah kekuatan iman yang sebenarnya. Kekuatan ini jugalah yang membuat orang tetap berada pada jalan yang sama dengan jalan yang ditempuh Yesus, pada “exodos”-nya. Di sini dipakai gambaran Perjanjian Lama, yaitu keluar dari perbudakan di Mesir agar dapat mengabdi Allah dengan merdeka. Exodos Yesus itu bertujuan membawa manusia keluar dari kekuatan-kekuatan yang mengurungnya sehingga manusia makin dapat menjadi gambar dan rupa Tuhan yang sungguh.

Salam hangat,
A. Gianto

gambar: http://www.faithengineeringinc.com dan http://www.commdiginews.com

Sabda Hidup


Sabtu, 01 Oktober 2016
Pesta St. Teresia dr Kanak-kanak Yesus
warna liturgi Putih 
Bacaan
Ayb. 42:1-3,5-6,12-17; Mzm. 119:66,71,75,91,125,130; Luk. 10:17-24. atau: Yes. 66:10-14b atau 1Kor. 12:31 – 13:13; Mat. 18:1-4. BcO 2Taw. 29:1-2; 30:1-16a

Lukas 10:17-24: 
17 Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata: "Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu." 18 Lalu kata Yesus kepada mereka: "Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. 19 Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. 20 Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga." 21 Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. 22 Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorangpun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu." 23 Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya tersendiri dan berkata: "Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. 24 Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya."

Renungan:
Seorang guru akan bergembira kala anak asuhnya memenangkan sebuah lomba. Mereka juga bergembira kala anak didiknya lulus 100%. Kisah keberhasilan ini akan menandai keceriaan hidupnya. Wajah mereka cerah bercahaya. Doa mereka berisi syukur atas semua rahmat tersebut. Sukacita mewarnai hari-harinya.
Yesus pun bergembira karena para murid yang diutus menyertakan nama-Nya dan berhasil melaksanakan tugas dengan baik. "Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu" (Luk 10:21).
Keberhasilan seseorang bergema pada orang-orang di sekitarnya, terutama mereka yang berkaitan langsung. Keberhasilan ini bisa menjadi salah satu bentuk warta kabar gembira. Rasanya layak kita pun mempersembahkan keberhasilan-keberhasilan harian kita kepada orang-orang di sekitar kita. Kita berbagi kisah gembira kepada mereka.

Kontemplasi:
Bayangkan dirimu berbagi satu dua kisah keberhasilanmu kepada orang tua dan lingkungan sekitarmu.

Refleksi:
Persembahan kebahagiaan apa yang kaubagikan kepada orang-orang di sekitarmu?

Doa:
Tuhan Engkau memberi kekuatan pada kami untuk meraih keberhasilan dalam hidup ini. Semoga kami pun bisa berbagi kisah tersebut dan menguatkan perjuangan sesama kami. Amin.

Perutusan:
Aku akan berbagi kisah keberhasilanku hari ini. -nasp-

Lamunan Pesta

Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus, Perawan dan Pujangga Gereja
Sabtu, 1 Oktober 2016

Matius 18:1-4

18:1. Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?"
18:2 Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka
18:3 lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
18:4 Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, orang akan merasa bangga karena termasuk golongan orang-orang besar. Dia akan merasa memiliki status khusus dan terhormat di tengah masyarakat.
  • Tampaknya, dengan menjadi orang besar seseorang dapat dipandang sebagai yang bercakrawala luas. Dia akan bahagia karena dapat memberikan pengetahuan kepada banyak orang lain.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sehebat apapun seseorang menjadi golongan orang besar, dia tak akan mengalami kebahagiaan sebesar dan sedalam golongan orang-orang kecil yang meskipun sadar akan kerendahan statusnya tetapi mampu memiliki imajinasi indah sehingga menjadi orang yang mudah ikhlas sekalipun menjadi permainan orang-orang gedhe. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan menemukan kebahagiaan sejati justru dalam model anak-anak kecil.
Ah, bagaimanapun juga kebahagiaan anak tergantung pada orang tuanya.

Thursday, September 29, 2016

Kekurangan Jadi Modal Pelayanan


Di antara para rama penghuni Domus Pacis sering muncul kelakar di depan para pengunjung atau di depan umat lain. Salah satu ungkapan yang biasa membuat suasana penuh tawa adalah "Domus Pacis adalah tempat khusus bagi para rama yang sudah kedaluwarsa atau expired." Ungkapan expired selalu didasarkan pada kenyataan bahwa para rama itu sudah tidak mendapatkan tugas karya resmi dari Keuskupan. Terhadap ungkapan itu tak jarang muncul komentar "Ya tidak gitu, rama. Rama kan masih dapat melayani." Hal ini memang tidak salah. Dari 6 orang yang sudah tua dan atau difabel ada 4 orang yang masih dapat diminta melayani secara terbatas terutama dalam pelayanan misa. Mereka adalah Rm. Joko, Rm. Yadi, Rm. Harto dan Rm. Bambang. Rm. Harto melanjalani pelayanan konsultasi dan doa, tetapi dalam hal misa beliau hanya menjadi peserta. Rm. Bambang, selain dalam pelayanan misa, juga melayani pendampingan bagi kaum tua/lansia. Memang, yang kadang-kadang masih pergi luar Yogya untuk pelayanan adalah Rm. Bambang. Yang terakhir terjadi pada hari Minggu 25 September 2016 di Paroki Banyumanik.

Pada hari itu Rm. Bambang sudah bangun pada jam 02.00 untuk mengirimkan renungan di Blog Domus. Sesudah mandi dan berpakaian dia menyiapkan diri di kanopi depan pada jam 03.15. Mas Handoko, salah satu relawan Domus, datang pada jam 03.20. Pada jam 03.30 dengan mobil Ayla yang dikendarai oleh Mas Handoko, Rm. Bambang meninggalkan Domus Pacis. Sesudah mampir Sleman, karena Bu Rini juga ikut, mobil langsung menuju Banyumanik, Semarang. Karena berhenti untuk makan bubur ayam, rombongan kecil ini sampai di kompleks gedung Gereja Banyumanik pada jam 06.30. Rm. Bambang diminta untuk memimpin misa umat Paroki Banyumanik yang secara khusus menghadirkan banyak kaum difabel dari Semarang bahkan sampai Girisonta yang terdiri dari orang-orang tuna netra (buta), tuna daksa (cacad tubuh), tuna rungu (tuli bisu) dan autis. Dari para petugas misa, yang dimulai pada jam 07.00, lektor dijalani oleh 2 orang dari tuna rungu. Bahwa Rm. Bambang sudah jauh hari sebelumnya diminta untuk memimpin misa tersebut, hal ini barangkali didasarkan pada realita Rm. Bambang yang juga termasuk golongan kaum difabel karena kepincangan kaki kirinya dan kini sudah banyak menggunakan kursi roda. Dalam misa ini, Rm. Bambang didampingi oleh Rm. Supriyanto (Pastor Kepala) dan Rm. Pranowo (Pastor Pembantu).

Barangkali karena terkesan dari susana misa yang tampaknya amat segar dan menggembirakan, sesudah misa banyak dari peserta difabel terutama yang tuna rungu dan autis minta foto bersama Rm.Bambang. Sebenarnya Rm. Bambang diminta untuk ikut temu gembira dengan kaum difabel yang disiapkan dalam acara khusus sesudah misa. Tetapi karena pada sore hari sudah ada janjian acara di Yogya, Rm. Bambang harus langsung meninggalkan Banyumanik. Ternyata acara ini diselenggarakan secara khusus oleh Serikat Santo Vinsensius (SSV) Banyumanik. Kegiatan SSV ini dilakukan bekerjasama dengan KSD (Komunitas Sahabat Difabel) Banyumanik. Dalam peristiwa ini banyak karya kaum difabel yang dipasarkan di samping gedung Gereja.

Lamunan Peringatan Wajib

Santo Hieronimus, Imam dan Pujangga Gereja
Jumat, 30 September 2016

Lukas 10:13-16

10:13 "Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung.
10:14 Akan tetapi pada waktu penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu.
10:15 Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati!
10:16 Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, di dalam hidup beragama salah satu hal yang termasuk amat penting adalah pertobatan. Sikap tobat dituntut agar orang selalu hidup suci.
  • Tampaknya, ada pandangan umum bahwa pertobatan berkaitan dengan sikap menolak yang jahat. Dengan bertobat orang ingat akan dosa-dosanya dan bersedia untuk tidak lagi melakukan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul dekat dengan kedalaman batin, pertobatan sejati tidak terutama berkaitan dengan perilaku berjuang untuk tidak lagi berbuat keliru bahkan dosa tetapi terutama merupakan sikap hati bersedia mendengarkan berbagai cakrawala yang tidak cocok dengan kebiasaan diri sehingga menjadi jalan tol untuk menggapai kebahagiaan sejati. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan terbiasa tidak terbelenggu dengan pola piker, rasa dan kehendak diri sehingga mudah menerima kebaikan di luar cakrawalanya.
Ah, identitas diri itu penting sehingga orang harus mempertahankan kekhasannya.