Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Saturday, May 26, 2018

Percikan Nas Minggu, 27 Mei 2018

Percikan Nas
Minggu, 27 Mei 2018

Minggu, 27 Mei 2018

HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS
warna liturgi Putih
Bacaan-bacaan:
Ul. 4:32-34,39-40; Mzm. 33:4-5,6,9,18-19,20,22; Rm. 8:14-17; Mat. 28:16-20. BcO Ef 1:1-14 atau 1Kor 2:1-16.
Nas Injil:
16 Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. 17 Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. 18 Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. 19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
Percikan Nas
Hari ini kita merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Sering kita mengalami kesulitan untuk memahami ini. Saya dalam kesempatan ini pun tidak akan omong diskursus tersebut dalam tulisan singkat ini. Aku hanya ingin berbagi penghayatan dan rasaku dalam mengimani Tritunggal Mahakudus.
Pertama hal yang sangat terasa dalam mengimani Tritunggal adalah rasa dicintai Allah yang tak berbatas waktu dan ruang. Allah mencipta kita. Allah menebus kita. Allah pula yang selalu menuntun kita untuk sampai pada kebenaran sejati. Allah terus berada bersama kita dalam sejarah hidup kita. Yesus pun mengatakan, “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28:20).
Tuhan kita Tritunggal Mahakudus adalah Tuhan yang sangat mencintai kita dan bertanggungjawab. Rasanya sungguh bersyukur selalu disertai Tuhan sepanjang sejarah hidup kita. Kala kita disertai orang tua pun hati ini begitu bergembira apalagi selalu disertai Tuhan. Maka di hari Tritunggal Mahakudus ini kita layak bersyukur karena Tuhan sangat mencintai kita. Mari kita rasakan cinta Tuhan tersebut. Kalau kita mampu merasakan cinta Tuhan hidup kita pun akan subur. Cinta itu akan menyuburkan hidup kita.
Doa:
Tuhan terima kasih cinta-Mu. Engkau tidak tidak pernah meninggalkan kami menjadi yatim piatu. Semoga kami pun mampu menangkap cinta-Mu dengan baik supaya hidup kami menjadi subur. Amin.

Tritunggal Mahakudus.
(goeng).

Lamunan Hari Raya

Tritunggal Mahakudus
Minggu, 27 Mei 2018

Matius 28:16-20

28:16. Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka.
28:17 Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.
28:18 Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.
28:19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
28:20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, setiap agama dan atau kepercayaan dapat menghadirkan pengajaran tentang yang ilahi. Bahkan dalam agama-agama besar ada rumusan-rumusan baku yang secara umum disebut dogma.
  • Tampaknya, sekalipun ada bermacam-macam agama dan atau kepercayaan, secara umum ada keyakinan bahwa Tuhan yang disembah oleh semua agama dan atau kepercayaan adalah Tuhan yang sama. Kemudian dalam Pancasila muncullah rumusan Ketuhanan yang Mahaesa.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, sekalipun sembahan semua agama dan atau kepercayaan sama, kesejatian Tuhan adalah misteri sehingga bila semua penghayat mau sungguh saling jumpa dalam sikap bersaudara orang akan mampu menerima adanya aneka isi penghayatan dan pemahaman akan keesaanTuhan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan menyadari bahwa keesaan Tuhan bukanlah hitungan matematik tetapi jaringan persekutuan yang beraneka.
Ah, tidak tahu tentang Tuhan tidak masalah, karena yang pokok menjalani agama.

Friday, May 25, 2018

Minggu 27 Mei 2018:Tritunggal Mahakudus (Mat 28:16-20 & Rom 8:14-17)

diambil dari http://www.unio-indonesia.org Ditulis oleh admin pada Sel, 22/05/2018 - 07:11


Rekan-rekan yang budiman!
Seperti diperintahkan sang Guru, para murid kini berkumpul di Galilea. Yesus sendiri telah mendahului mereka. Begitulah, seperti disampaikan Matius pada akhir Injil pada Hari Raya Tritunggal Mahakudus tahun ini (Mat 28:16-20), di Galilea, di sebuah bukit yang ditunjukkan sang Guru, mereka melihat Yesus dan mengenali kebesarannya, dan mereka sujud kepadanya. Kepada mereka ia menegaskan bahwa semua kuasa di surga dan di bumi telah diberikan kepadanya (ay. 18); sehingga tak perlu lagi ada keraguan (terungkap pada akhir ay. 17). Para murid diminta memperlakukan semua bangsa sebagai muridnya dan membaptis mereka dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus (ay. 19-20a). Ia juga berjanji menyertai mereka hingga akhir zaman (ay. 20b).
Injil Matius menampilkan Yesus sebagai tokoh Musa yang membawakan hukum-hukum dari Allah sendiri kepada umat. Tetapi berbeda dengan Musa, Yesus mengajar di sebuah bukit yang dapat didekati orang banyak, tidak dari puncak gunung yang tak terjangkau, yang diliputi awan-awan tebal. Bukit tempat Yesus mengajar menampilkan suasana lega, tidak mencekam. Para murid dapat memandanginya, tidak seperti Musa dulu yang wajahnya sedemikian menyilaukan. Tempat pemberian hukum sudah bukan lagi di wilayah yang terpisah dari masyarakat luas dan kehidupan sehari-hari. Bukan lagi di padang gurun, bukan lagi di puncak Sinai, tak lagi terpusatkan di Yerusalem dan Bait Allah. Hukum baru ini tersedia bagi siapa saja. Injil mengutarakannya dengan “Galilea”, yakni wilayah persimpangan tempat macam-macam orang bisa bertemu. Yang disampaikan bukan lagi seperangkat aturan dan hukum, melainkan ajaran kehidupan, kesahajaan, serta keluguan batin, karena Kerajaan Allah berdiam dalam kesahajaan dan keluguan seperti itu. Kini pada akhir Injil Matius, para murid diminta agar membuat ajaran tadi lebih dikenal lebih banyak orang lagi. Akan kita dalami hal ini lebih lanjut nanti.
KUASA DI SURGA DAN DI BUMI
Gambaran ini bukan barang baru. Sudah dikenal dari kitab Daniel 7:14. Dalam penglihatan Daniel, tampillah sosok yang seperti manusia datang menghadap Yang Lanjut Usia untuk memperoleh kuasa daripada-Nya. Dan kekuasaan ini tak akan ada selesainya. Bagaimana menafsirkan gambaran ini? Sering sosok itu diterapkan kepada seorang Mesias yang akan datang. Pendapat ini tidak banyak berguna. Hanya membuai harapan. Juga sering dipandang sebagai kejayaan kaum beriman. Tetapi pemahaman ini juga tidak banyak membantu. Malah kurang cocok dengan kehidupan beragama yang sejati yang tidak mencari kejayaan, melainkan terarah pada sikap bersujud. Penglihatan Daniel tadi sebetulnya menggambarkan kemanusiaan yang baru. Yakni kemanusiaan yang selalu mengarah kepada Yang Ilahi. Kemanusiaan yang berkembang dalam hubungan dengan dia yang memberi kuasa atas jagat ini. Itulah yang telah diperoleh kembali oleh Yesus dengan salib dan kebangkitannya. Dan itulah yang kini dibagikan kepada umat manusia.
Yesus membuat kemanusiaan baru dalam penglihatan Daniel tadi menjadi kenyataan. Di dalam dirinya Yang Ilahi dapat tampil dengan leluasa, bukan hanya di surga, tapi juga di bumi. Juga tidak ada lagi tempat di surga atau di bumi yang menjadi terlarang bagi kemanusiaan karena semuanya diciptakan bagi kemanusiaan baru ini. Bukan berarti ruang leluasa itu dapat dipakai begitu saja. Keleluasaan membawa serta tanggung jawab menjaga kelestarian. Justru kemanusiaan yang terbuka ini ialah yang ikut mengembangkan jagat sehingga menjadi tempat Yang Ilahi dimuliakan.
SIAPA SAJA SEBAGAI SESAMA MURID
Kata-kata Yesus dalam ay. 19 itu tidak perlu ditafsirkan sebagai perintah untuk “mempertobatkan” semua bangsa menjadi muridnya. Dengan bahasa yang lebih mudah dipahami, perintah itu dapat dirumuskan demikian: “Kalian akan pergi ke mana-mana dan menjumpai macam-macam orang; perlakukanlah mereka itu sebagai muridku!” Jadi tekanan bukan pada membuat bangsa-bangsa menjadi murid Yesus dengan menurunkan ilmu atau pengetahuan atau kebiasaan-kebiasaan. Yang diminta Yesus ialah agar para murid tadi menganggap siapa saja yang akan mereka jumpai nanti sebagai sesama murid. Pernyataan ini amat berani. Di situ terungkap kepercayaan yang amat besar akan kemanusiaan. Bagaimana penjelasannya?
Wafat dan kebangkitan Yesus telah mengubah jagat ini secara menyeluruh sehingga siapa saja, pernah ketemu atau tidak dengannya, pernah mendengar atau belum tentangnya, pada dasarnya sudah menjadi ciptaan baru, menjadi kemanusiaan baru. Dalam bahasa Injil – mereka sudah menjadi murid Yesus sendiri. Dan murid-murid yang mengikutinya dari tempat ke tempat dulu diminta menganggap semua orang yang mereka jumpai nanti sebagai sesama murid. Tak ada ruang lagi bagi mereka untuk berbangga-bangga. Mereka tidak lebih dekat, tidak lebih baik, tidak lebih memiliki ajaran benar. Semua orang ialah muridnya dan para murid pertama justru diminta memperlakukan mereka seperti diri mereka sendiri. Dan yang memang merasa dekat hendaknya memperlakukan orang lain yang belum pernah mendengar tentang Yesus sebagai yang sama-sama telah mendapat pengajaran batin dari Yesus sendiri! Tentu saja janganlah kita mengerti hal ini sebagai gagasan sama rata sama rasa yang akan membuat pengajaran ini sebuah karikatur belaka.
Apakah tafsiran ini tidak berseberangan dengan ciri misioner Gereja? Samasekali tidak. Pemahaman ini justru menunjukkan betapa luhurnya pengutusan para murid. Mereka diminta memperlakukan semua orang sebagai sesama, bahkan sesama murid. Mereka dapat saling belajar tentang kekayaan masing-masing. Baru demikian komunitas para pengikut Yesus akan memenuhi keinginannya. Inilah yang membuat iman tidak berlawanan dengan kebudayaan. Bahkan iman berkembang dengan kebudayaan. Bila begitu kemanusiaan dapat menjadi juga kemanusiaan yang dapat didiami keilahian seperti dalam kehidupan Yesus sendiri.
Pengutusan tidak perlu diartikan sebagai penugasan membagi-bagikan kebenaran kepada mereka yang dianggap berada dalam ketidaktahuan. Sebaliknyalah, para murid itu baru boleh disebut menjadi utusan yang sungguh bila membiarkan diri diperkaya oleh “para bangsa” – oleh orang-orang yang mereka datangi. Para murid diutus ke mana-mana dan di semua tempat itulah mereka akan menemukan orang-orang lain yang memiliki pelbagai pengalaman mengenai Yang Ilahi.
Dalam Injil hari ini hal itu dikatakan dengan “Baptislah mereka dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus!” Artinya, mengajak orang mengenal adanya pengasal hidup (Bapa), dan yang menjalankannya sebaik-baiknya (Putra), serta yang melangsungkan dan menjaganya (Roh Kudus). Mengantar orang ke dalam hidup komunitas Gereja – membaptis – ialah sebuah cara untuk menandai niat untuk mendalami serta menghayati perintah tadi. Ada pelbagai cara lain dalam hidup bersama sebagai murid Yesus. Kehidupan Gereja pada abad-abad pertama justru menunjukkan kenyataan ini. Orang dari kalangan Yahudi diajak terbuka menerima orang dari kalangan Yunani. Inilah kekayaan pengutusan para murid.
RAGU-RAGU?
Dalam ay. 17b disebutkan ada beberapa orang yang ragu-ragu. Maksudnya, tidak begitu yakin bahwa yang mereka dapati dan mereka lihat di gunung di Galilea itu ialah Yesus yang sudah bangkit. Dalam hati kecil mereka bertanya, betulkah demikian? Kok sesederhana ini, kok tidak menggetarkan, kok tidak membuat orang takluk langsung. Dan juga, kok tidak memberi kemuliaan besar kepada mereka yang telah setia mengikutinya dari tempat ke tempat? Terhadap keraguan ini Yesus hanyalah memberi penegasan iman: yang dibawakannya ke dunia ini ialah kemanusiaan yang tertebus, kemanusiaan baru, yang terbuka bagi keilahian. Dan itulah kuasa atas surga dan bumi. Menjadi muridnya berarti ambil bagian dalam kemanusiaan yang tertebus ini. Bila demikian para murid boleh yakin akan tetap disertai guru mereka hingga akhir zaman, hingga saat kemanusiaan yang tertebus itu menjadi kenyataan di bumi dan di surga seutuhnya. Kata-kata ini menjadi bekal hidup bagi siapa saja yang mau mengikuti Yesus. Juga bagi kita sekarang.
DARI BACAAN KEDUA: PENGARAHAN PAULUS (Rom 8:14-17)
Paulus dalam petikan surat Roma yang dibacakan kali ini menegaskan bahwa siapa saja- semua orang – yang dipimpin Roh Allah ialah “anak Allah”, artinya, sudah amat dekat dengan-Nya. Inilah kekuatan Roh-Nya. Penegasan ini menggemakan iman akan karya ilahi dalam tiap orang seperti tertera dalam Mat 28:19 yang dikupas di atas, yakni menganggap siapa saja sebagai sesama murid. Bukan untuk ditobatkan, melainkan untuk diajak berbagi keyakinan akan karya ilahi dalam diri masing-masing.
Pandangan seperti ini bisa terasa terlalu optimis dan bisa jadi rada naif dalam dunia yang terbagi-bagi dalam agama. Tetapi yang diarah Paulus bukan sekadar keagamaan melainkan kerohanian mempercayai kehadiran ilahi di dalam diri siapa saja.
PAHAM TRITUNGGAL
Dalam menjelaskan iman akan Tritunggal, dapat membantu bila diperlihatkan juga pendapat mana yang tidak cocok dengan penghayatan iman yang nyata dalam Gereja. Yang bukan ajaran iman ialah gagasan “tri-teisme”, yakni adanya tiga sesembahan. Ada dua pendapat lain yang tidak amat kentara ketidaksesuaiannya dengan penghayatan iman yang benar. Yang pertama mengatakan bahwa Putra dan Roh Kudus itu diciptakan oleh Bapa, atau semacam perpanjangan dari Allah yang satu – pendapat ini biasanya disebut “subordinasionisme” karena mem-bawah-kan kedua pribadi pada salah satu. Ada pula penjelasan yang mengatakan bahwa Tritunggal hanyalah sekadar tiga cara ("modus") Allah tampil bagi manusia dan bukan sungguh pribadi ilahi. Pendapat lazim disebut “modalisme”. Termasuk di sini pendapat bahwa ketiganya hanya kiasan mengenai sifat-sifat ilahi belaka. Iman yang benar tidak berdasarkan gagasan-gagasan tadi.
Pengertian akanTritunggal yang sesuai dengan ajaran iman ialah yang menerima keilahian sebagai yang mengasalkan kehidupan. Inilah Sang Bapa. Kehidupan yang diberikan Bapa ini terlaksana sepenuhnya dalam Sang Putera. Oleh karena itu Dia menjadi jalan yang benar yang menghidupkan. Dan kekuatan yang membuat kehidupan ini betul-betul ada serta terpelihara ialah Roh Kudus.
Salam hangat,
A. Gianto

Tinggalkan Prosedur Menghalangi Menghambat


Sabtu, 26 Mei 208
Pekan Biasa VII
Reflekai harian dan doaku berdasarkan  Markus 10:13-16

Sahabatku terkasih. Injil hari ini mestinya membuat kita yang sering terjebak pada prinsip prosedur yang motifnya menghalangi inisiatif dan kreativitas menjadi sadar dan malu! Minimal mikir!

Lihat! Yesus selalu menabrak prosedur hukum Sabat atas dasar prioritas keselamatan manusia. Kini Yesus menegor para murid yang sok jagoan kaku menghalangi anak-anak yang mau datang berjumpa Yesus. "Biarkan anak-anak ini datang padaku. Jangan halangi mereka!" 

Tuhan, mungkin saya sering bersikap proseduran tapi menghambat dan menghalangi inisiatif demi kebaikan yang lebih luas. Semoga aku mampu dan mau mengembangkan hidupku bukan sebagai menara gading zona nyaman profit oriented melainkan sebagai yang terbuka, menerima siapa saja dan bekerja dengan siapa saja kini dan sepanjang masa. Amin.

Tinjomoyo, 26/5/2018

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶
Aloys budi purnomo Pr

Sent from my heart of abudhenkpr
"abdi Dalem palawija"
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan;
Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang;
Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang.

Percikan Nas Sabtu, 26 Mei 2018

Peringatan Wajib St. Filipus Neri
warna liturgi Putih

Sabtu, 26 Mei 2018


Bacaan-bacaan:
Yak. 5:13-20; Mzm. 141:1-2,3,8; Mrk. 10:13-16; BcO 2Kor. 6:1-7:1.
Nas Injil:
13 Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. 14 Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. 15 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” 16 Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka.
Percikan Nas
Suatu kali saya disambati, “Rama, kami merasa perlu memberikan pendampingan bagi anak-anak pada saat ekaristi supaya mereka tidak ribut dan lari ke sana kemari.” “Terus mau digimanakan?” tanya saya. “Mereka kami ajak bernyanyi dan bermain di ruangan lain,” jawab mereka. “Kenapa pilihannya itu, bukan mengajari mereka supaya bisa ikut ekaristi dengan baik?” tanya saya.
Kadang karena keributan kita pingin memisahkan anak-anak dari Ekaristi. Maksud hati baik yaitu mendampingi anak-anak. Namun kenapa harus mengambil waktu kala Ekaristi? Bukankah di situ kita mempunyai kesempatan memperkenalkan anak-anak dengan Ekaristi dan mengajari mereka sikap yang benar dalam berekaristi. Masa kanak-kanak adalah masa yang istimewa bagi pembentukan anak-anak. Kalau mereka dipisahkan dari Ekaristi secara utuh apakah kita tidak mendidik anak-anak untuk merasa tidak masalah tidak ikut Ekaristi secara utuh?
Tuhan Yesus menerima anak-anak apa adanya. Ia memeluk mereka dengan penuh kasih. Menyambut mereka dengan kasih sama dengan menyambut Dia. Maka marilah kita dekatkan anak-anak kita dengan Tuhan. Salah satu pendekatan utama mereka kepada Yesus adalah Ekaristi. Kita ajari mereka untuk berekaristi dengan segala perjuangan yang perlu kita buat. Jangan biarkan mereka jauh dari keutuhan Ekaristi sumber dan puncak hidup kita sebagai orang Katolik.
Doa:
Tuhan anugerahkanlah ketekunan dalam diriku untuk mendidik anak-anakku berekaristi. Semoga mereka pun bisa semakin dekat dengan-Mu karena merayakan Ekaristi kudus-Mu. Amin.
Anak dan Ekaristi.
(goeng).

Lamunan Peringatan Wajib

Santo Filipus Neri, Imam
Sabtu, 26 Mei 2018

Markus 10:13-16

10:13. Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu.
10:14 Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.
10:15 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya."
10:16 Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, acara-acara umum keagamaan seperti liturgi dan pendalaman iman adalah forum untuk kaum dewasa. Kehadiran anak-anak dapat mengganggu ketertiban karena mereka memiliki dunia lain.
  • Tampaknya, layaklah kalau anak-anak tidak diperbolehkan untuk berada bersama kaum dewasa untuk menjaga kekhusukan ibadat dan atau fokus pembicaraan. Apabila banyak anak yang hadir, layak pula kalau dicarikan pendamping khusus untuk membuatkan anak acara tersendiri.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, semengacau apapun anak-anak dalam acara-acara keagamaan kaum dewasa, kehadiran mereka justru menjadi keteladanan sikap keterbukaan mau berada di dalam suasana yang tidak dipahami karena kesejatian hidup adalah kesediaan berada dalam aneka misteri kehidupan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang sadar bahwa anak-anak justru jadi guru untuk terbuka pada aneka kehidupan yang tidak atau belum dipahami.
Ah, yang namanya dewasa adalah tahu segalanya dan anak harus banyak diberi tahu.

Thursday, May 24, 2018

Sakramen Perminyakan / Sakramen Pengurapan orang sakit

diambil dari https://www.facebook.com/notes/iman-katolik 10 Mei 2009 pukul 21:40

Banyak umat merasa ngeri bila mendengar kata 'sakramen perminyakan'. Bahkan bila anggota keluarganya mau menerima sakramen ini justru mereka yang merasa cemas dan khawatir. Hal ini disebabkan oleh salah pengertian bahwa sakramen ini adalah 'sakramen penghabisan' yang diberikan hanya pada mereka yang menjelang ajal. Sebenarnya bagaimanakah pemahaman yang benar tentang sakramen ini?

Sakramen perminyakan disebut juga sakramen pengurapan orang sakit. Penerimanya adalah para penderita sakit serius; bukan hanya mereka yang menjelang ajal. Termasuk di sini adalah mereka yang sakit berat, yang akan operasi besar dan orang lanjut usia yang kekuatannya melemah (KGK 1515).

Sakramen perminyakan berhubungan dengan penyakit; bukan dengan akhir hidup manusia. Kenapa orang yang sakit (serius) perlu menerima sakramen perminyakan? Sebab pengalaman sakit menjadi pergumulan orang beriman. Orang yang sakit dihadapkan pada suatu krisis. Memang dengan sakit dia bisa mencari dan kembali pada Allah (bertobat), menjadi lebih matang, melihat apa yang paling penting untuk hidup abadinya.

Tetapi penyakit tak jarang menyebabkan rasa takut, sikap menutup diri, rasa putus asa bahkan memberontak pada Allah (KGK 1501, Katekismus Gereja Katolik). Dalam situasi krisis seperti itulah orang beriman perlu didampingi, didoakan, dan dikuatkan lewat sakramen ini.

Tanda Kehadiran Kerajaan Allah

Selama hidupNya, Tuhan Yesus mewartakan datangnya Kerajaan Allah. Hal itu ditandai dengan pengusiran roh-roh jahat dan pengampunan dosa (Mark 2:5-12). Dalam pandangan alkitab penyakit selalu dihubungkan dengan dosa. Karena itu Yesus juga menyembuhkan banyak orang sakit, bahkan mengikutsertakan para murid untuk mengolesi orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka (Mark 6:7-13). Penyembuhan orang sakit ditandai dengan penumpangan tangan (Luk 4:40), pengurapan dengan minyak (lambang penyembuhan), dan kontak jasmaniah (Yoh 9:6).

Apa yang diperbuat Yesus itu kemudian diteruskan oleh Gereja Perdana seperti yang diberitakan oleh Rasul Yakobus:
'Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat supaya mereka mendoakan mereka serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa maka dosanya itu akan diampuni' (Yak 5:14-15).

Sakramen perminyakan dewasa ini

Dari teks di atas kemudian Gereja mengajarkan (salah satu sumber iman Katolik kita) hal-hal sebagai berikut:
  • Penerimanya adalah orang sakit serius; bukan hanya mereka yang menjelang ajal (SC 73, Sacrosanctum Concilium, Konstitusi tentang Liturgi Suci).
  • Penatua jemaat artinya uskup dan imam. Hanya mereka yang boleh menerimakan sakramen ini sebab dalam sakramen ini ada unsur pengampunan dosa.
  • Minyak yang dipakai ialah Oleum Infirmorum (OI), yang diberkati Uskup dalam misa Krisma. Dalam keadaan darurat, imam boleh memberkati sendiri minyak nabati (dari tumbuh-tumbuhan).
  • Imam menumpangkan tangan lalu mengurapi dahi dan kedua telapak tangan si sakit dengan minyak Ol, sambil berdoa, 'Semoga karena pengurapan suci ini, Allah yang maharahim menolong saudara dengan rahmat Roh Kudus. Semoga Tuhan membebaskan saudara dari dosa dan membangunkan saudara di dalam rahmatNya.' 
  • Upacara ini bisa dilakukan di rumah, di rumah sakit atau di gereja. Bisa juga diterimakan secara bersama-sama dengan ritus sakramen Tobat - sakramen Perminyakan - sakramen Ekaristi.
  • Yang boleh menerima adalah mereka yang sudah dibaptis secara Katolik dan dapat menggunakan akal budinya. Kalau tidak sadar, sebelumnya dia pernah memintanya atau diandaikan memintanya bila dia sadar.

Buah-Buah Sakramen Perminyakan


Dalam KGK 1520 sakramen ini menanugerahkan rahmat Roh Kudus sehingga:
  • Si sakit mendapat kekuatan, ketenangan, dan kebesaran hati dalam mengatasi kesulitan karena sakitnya.
  • Si sakit membarui iman dan harapan kepada Allah dan menguatkannya melawan godaan setan, godaan untuk berkecil hati dan rasa takut akan kematian.
  • Bantuan Tuhan membawa si sakit pada kesembuhan jiwa tetapi juga menuju kesembuhan badan; kalau itu sesuai dengan kehendak Allah. (banyak orang mengalami anugerah istimeiva ini)
  • Jika ia berbuat dosa maka dosanya akan diampuni (Yak 5:15)

Nah, kalau rahmatNya sedemikian melimpah kenapa kita masih takut menerimanya? Sampaikan juga informasi ini pada mereka yang belum mengetahuinya.