Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Saturday, February 16, 2019

Lamunan Pekan Biasa VI

Minggu, 17 Februari 2019

Lukas 6:17.20-26

6:17 Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon.
6:20. Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata: "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.
6:21 Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.
6:22 Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat.
6:23 Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.
6:24 Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu.
6:25 Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis.
6:26 Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, dengan berbuat baik orang juga dapat berharap berhubungan baik dengan siapapun. Dengan berbuat baik orang dapat berpikir mendapatkan balasan baik dari orang lain.
  • Tampaknya, orang dapat merasa prihatin kalau sudah berbuat baik masih mendapatkan reaksi negatif. Bahkan orang dapat sakit hati kalau dengan kebaikannya malah dibenci oleh orang-orang yang tidak suka padanya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, kalau mengalami celaan dan penghinaan serta fitnah dari kebaikan yang dijalani dengan ketulusan hati, orang justru akan mengalami kebahagiaan karena disadarkan tidak masuk golongan kaum tak taat pada nurani. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan sadar risiko ikut melakukan kebaikan demi kebaikan umum.
Ah, ngapain harus berbuat baik kalau ternyata mengakibatkan muncul banyak celaan?

Santo Onesimus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits3492 Diterbitkan27 Juli 2013 Diperbaharui16 Agustus 2014

  • Perayaan
    16 Februari
  • Lahir
    Hidup abad pertama
  • Wafat
    Tahun 90 di Roma | Martir
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation

Pencuri yang berdosa ini sangat beruntung ditobatkan oleh Santo Paulus. Rasul agung ini bahkan menyebut Onesimus sebagai : "Buah hatiku"
Onesimus hidup pada abad pertama. Ia adalah seorang hamba yang merampok majikannya lalu melarikan diri ke Roma. Di Roma ia bertemu dengan St. Paulus yang dipenjarakan karena imannya. Paulus menerima Onesimus dengan kelembutan serta kasih sayang seorang ayah. Paulus membantu menyadarkan pemuda tersebut bahwa ia telah berbuat salah dengan mencuri. Lebih dari itu, ia membimbing Onesimus untuk percaya dan menerima iman Kristiani.
Setelah Onesimus menjadi seorang Kristen, Paulus mengirimkannya kembali kepada tuannya, Filemon, yang adalah sahabat Paulus. Tetapi, Paulus tidak mengirim hamba itu kembali seorang diri dan tak berdaya. Ia “mempersenjatai” Onesimus dengan sepucuk surat yang singkat tapi tegas.
Paulus berharap agar suratnya dapat menyelesaikan semua masalah Onesimus, sahabat barunya. Kepada Filemon, Paulus menulis:
......... Aku, Paulus, yang sudah menjadi tua, lagi pula sekarang dipenjarakan karena Kristus Yesus, mengajukan permintaan kepadamu mengenai anakku yang kudapat selagi aku dalam penjara, yakni Onesimus. Dahulu memang dia tidak berguna bagimu, tetapi sekarang sangat berguna baik bagimu maupun bagiku. Dia kusuruh kembali kepadamu - dia, yaitu buah hatiku --. (Fil 1:9-12)
Surat yang menyentuh tersebut dapat ditemukan dalam Kitab Suci Perjanjian Baru. Filemon menerima surat dan nasehat Paulus. Ketika Onesimus kembali kepada tuannya, ia dibebaskan. Kemudian, Onesimus kembali kepada St. Paulus dan menjadi penolongnya yang setia.    
St. Paulus mengangkat Onesimus menjadi imam dan kemudian uskup. Orang kudus yang dulunya hamba ini membaktikan seluruh sisa hidupnya untuk mewartakan Kabar Gembira yang telah mengubah hidupnya selamanya. Menurut tradisi, pada masa penganiayaan, Onesimus dibelenggu dan dibawa ke Roma lalu dianiaya hingga tewas.

Tak Perlu Memburu Harta Dunia, Tuhan Menjamin Hidup Kita!


Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Bagaimana bisa kita merasa berkekurangan padahal berkat berlimpah selalu disediakan bagi kita? Inilah inspirasi dan motivasi hidup beriman yang bisa kita hayati dalam membangun iman, harapan dan kasih kepada Tuhan. 

Sebagaiamana diwartakan dalam Bacaan Liturgi 16 Februari 2019 Hari Biasa, Pekan Biasa V Bacaan Injil
Markus 8:1-10, Tuhan selalu baik dan peduli kepada kita. Tak perlu kita khawatir. Beginilah kisah selengkapnya.

"Pada waktu itu ada pula orang banyak di situ yang besar jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-muridNya dan berkata: "HatiKu tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh." Murid-muridNya menjawab: "Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?" Yesus bertanya kepada mereka: "Berapa roti ada padamu?" Jawab mereka: "Tujuh." Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-muridNya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak. Mereka juga mempunyai beberapa ikan, dan sesudah mengucap berkat atasnya, Ia menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan. Dan mereka makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak tujuh bakul. Mereka itu ada kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pulang. Ia segera naik ke perahu dengan murid-muridNya dan bertolak ke daerah Dalmanuta."  (Markus 8:1-10)

Inilah inspirasi yang bisa kita timba. Pertama, Yesus menawarkan kepenuhan hidup dan cinta kasih, kebaikan dan rahmat, bagi semua yang mengikuti-Nya. Dia tidak akan membiarkan kita menderita kekurangan dalam kehidupan ini bila kita dapat memanfaatkan sumber kelimpahan yang sejati melalui iman, harapan, dan cinta. 

Kedua, mereka yang mencari diri sendiri dengan mencari harta kekayaan, barang-barang materi dan duniawi akan selalu kekurangan dan akan selalu merasakan ancaman kehilangan apa yang mereka miliki. Sebaliknya, mereka yang mencari Tuhan dan anugerah-Nya yang tidak terbatas tidak akan pernah takut ketika mereka kehilangan barang duniawi mereka. 

Itulah sebabnya Yesus mengatakan bahwa kepada siapa pun yang memiliki iman, harapan, cinta, rahmat, karunia kehidupan rohani, mereka akan diberi lebih banyak, dan dari orang yang tidak memiliki semua itu, bahkan apa pun yang tampaknya ia memiliki (harta benda yang ada di sini hari ini dan pergi besok, selalu membusuk dan berakhir) akan diambil dari padanya (bdk. Lukas 8:18).

Nah, bagaimana menurut UCers Sahabat Peradaban Kasih? Semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

JoharT Wurlirang, 16/2/2019 »̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶
Sumber: reffleksi pribadi terinspirasi Markus 8:1-10

Aloys budi purnomo Pr

Sent from my heart of abudhenkpr
"abdi Dalem palawija"
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan;
Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang;
Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang.

Friday, February 15, 2019

Percikan Nas Sabtu, 16 Februari 2019

Simon dari Cascia
warna liturgi Hijau

Bacaan-bacaan: 
Kej. 3:9-24; Mzm. 90:2,3-4, 5-6,12-13; Mrk. 8:1-10. BcO 1Kor. 6:1-11.

Nas Injil: 
1 Pada waktu itu ada pula orang banyak di situ yang besar jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: 2 "Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. 3 Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh." 4 Murid-murid-Nya menjawab: "Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?" 5 Yesus bertanya kepada mereka: "Berapa roti ada padamu?" Jawab mereka: "Tujuh." 6 Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak. 7 Mereka juga mempunyai beberapa ikan, dan sesudah mengucap berkat atasnya, Ia menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan. 8 Dan mereka makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak tujuh bakul. 9 Mereka itu ada kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pulang. 10 Ia segera naik ke perahu dengan murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta.

Percikan Nas:
Suatu kali ibuku cerita bahwa ia kehabisan uang. Padahal saat itu dia habis terima pensiun. Dari ngobrol itu terungkap bahwa uang pensiunnya untuk banyak hal, termasuk sebagian besar untuk membantu tetangga yang baru melahirkan keluar dari rumah sakit. Ia memberikan miliknya tanpa berpikir bagaimana untuk kebutuhannya. Kebetulan di dompet saya ada sedikit uang lalu kukasihkan padanya. Aku pun bilang: ya besok lagi mesti dihitung untuk kebutuhannya. Ia menjawab: ya kasihan kalau sampai ditahan di rumah sakit. Aku hanya terdiam dengar jawabannya.
Yesus tidak tega melihat orang yang telah mengikutinya berhari-hari dan belum makan. Jika mereka disuruh pulang tanpa makan bisa jadi ada yang pingsan karena rumahnya jauh. Ia pun ingin memberi mereka makan. Ia tidak mau membiarkan mereka mengalami kekurangan makan.
Sering kita menghadapi situasi seperti itu. Tidak tega melihat orang mengalami kesulitan. Kita pun tidak berpikir panjang merogoh kocek kita untuk membantunya. Ketika berbuat begitu ada saja pengalaman kemurahan Tuhan yang kita terima. Tuhan pun selalu menyediakan segala sesuatu yang kita butuhkan. Ia melimpahkan berkat kepada mereka yang murah hati.

Doa:
Tuhan hati-Mu sungguh menggerakkan hatiku untuk berbuat sebagaimana yang Engkau buat. Kami percaya Engkau akan selalu mencukupi kebutuhan kami. Cukupilah pula mereka yang kekurangan. Amin.

Mencukupi
(goeng).

Injil Minggu Biasa VI/C 17 Feb 2019 ( Luk 6:17.20-26)

diambil dari https://unio-indonesia.org/2019/02/14; ilustrasi dari album Blog Domus


DI TEMPAT YANG DATAR
Rekan-rekan yang baik!
Bacaan Injil bagi Minggu Biasa VI tahun C tanggal 11 Februari 2007 ini ialah Luk 6:17.20-26. Petikan ini bersisi sabda bahagia dan peringatan-peringatan yang menyertainya versi menurut tradisi Lukas. Ada beberapa perbedaan tekanan serta ungkapan bila dibandingkan dengan sabda bahagia menurut Matius (Mat 5:1-12 dibacakan pada hari Minggu Biasa IV/A – lihat pula ulasan ybs.). Marilah kita simak beberapa kekhususan teks Lukas.
“Di TEMPAT YANG DATAR” (Luk 6:17)
Diceritakan Yesus bersama dengan keduabelas muridnya turun dan bertemu dengan sejumlah besar murid-muridnya dan orang-orang lain di “tempat yang datar”. Tempat ini disebut untuk mengingatkan orang kepada bagian Injil Lukas yang mengutip Yes 40:3-5 (Luk 3:4-6) tentang tanah yang tinggi rendah yang akan diratakan dan jalan yang berkelok-kelok yang akan diluruskan … sehingga orang-orang melihat Tuhan. Di tempat datar inilah orang-orang mendapati Yesus. Ke sanalah mereka berdatangan dari “Yudea dan Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon” (Luk 6:17). Kedua daerah yang disebut terakhir ini bukan wilayah Israel dulu. Tetapi Yesus mengumpulkan yang umat baru ke tempat datar – tempat Tuhan kelihatan itu – itu. Dan semua orang dapat memandanginya, bukan hanya mereka yang termasuk umat Israel dulu.
Seruan Yes 40:3-5 itu dikutip dalam Luk 3:4-6 yang menjelaskan pewartaan “tobat untuk pengampunan dosa” oleh Yohanes Pembaptis. Bertobat berarti upaya menanggalkan pikiran-pikiran yang mengekang batin (=”tanah tinggi rendah dan jalan berkelok-kelok”) dan membiarkan diri dipimpin menuju Tuhan sendiri di jalan batin yang lurus (lihat ulasan Injil Minggu Adven II/C 9 Desember 2018). Dalam Luk 6:20-26 ditampilkan gambaran mengenai kenyataan hidup dalam umat yang baru itu dengan memakai empat sabda bahagia (ayat 20-23) dan empat peringatan untuk mewaspadai diri (ayat 24-26).
WACANA DESKRIPTIF, BUKAN PRESKRIPTIF
Orang dapat menggambarkan suatu hal sebagaimana adanya. Bisa pula orang mengatakan apa yang mesti dijalankan. Sabda bahagia dalam Injil menggambarkan apa yang terjadi dalam kalangan orang-orang yang hidup mengikuti Yesus, bukan mengajarkan hal-hal yang mesti dilakukan. Dengan perkataan lain, sabda bahagia itu ungkapan yang sifatnya deskriptif, bukan preskriptif. Mungkin ada yang berkeberatan, sabda bahagia dan peringatan-peringatan itu kan pengajaran yang mesti kita ikuti agar masuk Kerajaan Allah? Bukan! Keliru bila kita pandang sabda bahagia dan peringatan sebagai resep hidup bahagia, hidup kristen yang baik-baik aman adem ayem, ikut ajaran agama saja supaya semua tenang, kalau menderita ya menderita tapi nanti beres.
Injil Lukas mau berbicara kepada orang yang miskin, yakni orang yang kekurangan material, orang yang tak bisa mencukupi kebutuhan hidup, paling-paling pas-pasan saja. Tetapi Injil juga berbicara kepada orang kaya, yakni orang yang berkelebihan, orang yang tak merasakan kekurangan. Kepada yang miskin dikatakan bahwa mereka tak dilupakan Kerajaan Allah, mereka itu malah boleh merasa empunya Kerajaan Allah. Kepada orang kaya tidak dikatakan kalian tak memiliki Kerajaan Allah. Namun kehidupan mereka itu kiranya tak ada artinya (“celakalah….”) bila mereka sudah puas dan merasa aman dengan kelimpahan mereka. Wartanya apa? Yesus tidak menjajakan kemiskinan sebagai keutamaan dan mencerca kekayaan sebagai sumber laknat. Seandainya begitu, wartanya akan segera menjadi busuk, tak berbeda dengan retorika orang-orang yang membuat orang miskin sebagai komoditi dagang politik dan yang menjadi parasit orang berduit dan memperoleh ketenaran sebagai pembela kaum miskin dengan gampang. Warta sabda bahagia itu, sebagaimana lazimnya warta gembira, membuat orang bisa berharap akan merdeka sekalipun masih terbelit kemiskinan atau terjerat ikatan-ikatan kekayaan. Penjelasannya begini. Kemiskinan yang membuat orang makin melarat atau kekayaan yang membuat orang lupa daratan menjadi karikatur martabat manusia yang tak lucu, malahan membuat orang pilu. Tuhan yang Maha Rahim tak tahan melihat manusia ciptaanNya merosot. Maka Kerajaan Allah yang diwartakan utusanNya yang utama itu – Anak Manusia – dimaksud untuk membangun wahana di mana manusia bisa menata kembali martabatnya yang utuh, tidak lusuh karena kemelaratan atau busuk tertimbun kekayaan.
DIALOG PERSIAPAN HOMILI
TIN: Yesus itu pembela orang miskin, dia ini menjalankan option for the poor sebelum ungkapan itu diperdengarkan.
GUS: Setuju. Cuma bagi Yesus, gagasan membela kaum miskin itu rada berbeda dari yang biasa kita mengerti pada zaman ini.
TIN: Penjelasannya?
GUS: Ia mau membela mereka dari pendapat bahwa kemelaratan itu akibat dosa, baik dosa sendiri atau dosa orang tua. Ia juga tidak menerima begitu saja pendapat bahwa kekayaan itu ganjaran bagi kelakuan lurus.
TIN: Lho, penjelasan anda ini bisa bertentangan dengan praktek Yesus. Kan ia pernah menyembuhkan orang dengan mengatakan dosamu diampuni. Bukankah ini mencerminkan gagasan Yesus bahwa kesakitan itu akibat dosa?
GUS: Nanti dulu! Benar Yesus mengampuni dan orang itu sembuh, tapi dosa yang diampuni itu ialah dosa berpegang pada pendapat bahwa penyakitnya akibat kesalahan orang tua atau dirinya sendiri.
TIN: O gitu. Kembali ke sabda bahagia Yesus yang dilaporkan Lukas. Kalau mengikuti penjelasan anda, maka orang miskin tak perlu lagi merasa tersisih dari Kerajaan Allah.
GUS: Ya begitulah. Itulah maksud perkataan “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang punya Kerajaan Allah” (Luk 5:20)
TIN: Bila ayat tadi dilihat bersama dengan ayat peringatan (ayat 24) “tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburan”, orang dapat berpikir bahwa orang kaya itu terkutuk justru karena kaya.
GUS: Tidak benar. Sabda bahagia bahwa orang miskin memiliki Kerajaan Allah itu bukan pernyataan eksklusif, jadi jangan dimengerti bahwa hanya mereka sajalah yang empunya. Di situ ditegaskan bahwa mereka de facto memiliki Kerajaan Allah. Ini warta gembiranya. Dan warta gembira tak butuh menjadi eksklusif.
TIN: Lalu?
GUS: Seperti disinggung di muka, ada gagasan bahwa kekayaan itu ganjaran dari kebaikan dan orang merasa tidak butuh apa lagi. Ini kekeliruannya. Sama kelirunya dengan pendapat bahwa kemelaratan itu akibat dosa. Dalam ayat 24 disebutkan alasan mengapa orang kaya celaka, yakni “telah memperoleh penghiburan”, tidak dikatakan bahwa mereka tak bakal memasuki Kerajaan Allah.
TIN: Jadi bila orang tidak terikat pada pikiran bahwa kekayaannya itu penghiburan tok – jadi eksklusif – melainkan pemberian yang dapat diamalkan maka orang yang bersangkutan juga memiliki Kerajaan Allah?
GUS: Jelas. Dan nanti dalam menggambarkan kehidupan Gereja perdana Lukas justru menggarisbawahi pengamalan milik bagi kepentingan bersama (Kis 2:44-45).
TIN: Bagaimana penjelasan ketiga sabda bahagia dan peringatan lainnya yang dibacakan hari Minggu ini?
GUS: Baiklah kita berpikir mengenai orang yang kini lapar dan menangis tapi yang nanti akan kenyang dan tertawa dalam Luk 6:21. Di situ tidak diajarkan agar kita menyukai kesedihan karena nanti akan tertawa. Bukan! Kita diajak berkepala dingin: hidup ini bukannya hanya bermuka satu. Kalau sekarang kebetulan sedang tipis rezeki, ya tak usah putus asa, nanti ada saatnya tertawa. Jadi sabda bahagia itu membawa kembali kita ke kenyataan. Hidup ini bukannya gelap melulu, bukannya pula gebyar melulu. Ayat 21 itu perlu dibaca bersama dengan ayat 25 yang mengatakan celakalah orang yang sekarang kenyang dan tertawa, karena nanti akan lapar dan berduka cita. Kedua ayat itu menaruh orang kembali ke dalam kenyataan hidup yang penuh variasi ini.
TIN: Jadi juga ayat 22-23 tentang pengucilan, pencercaan, penolakan akibat kesetiaan orang akan iman perlu dibaca bersama dengan ayat 26 yang membicarakan orang yang merasa keyakinan agamanya benar melulu? Maka dalam hal hidup beragama orang tak sepatutnya gampang merasa gagah bila dimartir atau merasa benar kalau dipuji-puji saleh. Begitu kan?
GUS: Lha anda melihat sendiri, wartanya masih cocok bagi zaman ini juga.
TIN: Omong-omong, apa cara menafsirkan Injil hari ini juga dapat dipakai menjelaskan bacaan pertama?
GUS: Tafsir ungkapan “terkutuklah…” dan “terberkatilah…” dalam bacaan pertama, Yer 17:5-8 pada dasarnya sama. Orang yang mengandalkan upaya manusia melulu disebut “terkutuk” karena pasti tak berhasil dan malah bangkrut. Tetapi orang yang mengandalkan Tuhan ialah orang yang “terberkati” karena upayanya akan subur dan berbuah. Dalam pasangan itu hendak disodorkan dua sikap dasar yang saling bertolak belakang. Sekaligus orang diajak berpikir, kehidupan yang nyata berada di antara kedua-duanya. Dan pasang surut hidup dapat dijelaskan dari situ. Orang yang percaya akan menerima kenyataan ini dengan terbuka. Dan maju terus.
Salam hangat,
A. Gianto

Lamunan Pekan Biasa V

Sabtu, 16 Februari 2019

Markus 8:1-10

8:1. Pada waktu itu ada pula orang banyak di situ yang besar jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata:
8:2 "Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan.
8:3 Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh."
8:4 Murid-murid-Nya menjawab: "Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?"
8:5 Yesus bertanya kepada mereka: "Berapa roti ada padamu?" Jawab mereka: "Tujuh."
8:6 Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak.
8:7 Mereka juga mempunyai beberapa ikan, dan sesudah mengucap berkat atasnya, Ia menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan.
8:8 Dan mereka makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak tujuh bakul.
8:9 Mereka itu ada kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pulang.
8:10. Ia segera naik ke perahu dengan murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa yang bisa memuaskan diri dalam hal-hal duniawi adalah orang-orang kaya. Mereka memiliki banyak uang untuk membeli apapun yang dibutuhkan dan diingini.
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa kaum miskin akan sulit untuk mengalami kepuasan akan hal-hal duniawi. Dengan segala kekurangannya untuk memenuhi makan minum sehari-hari dapat amat sulit mendapatkannya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun amat kekurangan untuk memenuhi kebutuhan dasar , orang miskin pun dapat mengalami kepuasan akan hal-hal duniawi kalau mampu mesyukuri keterbatasan apapun yang ada dalam dirinya. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati sekalipun miskin orang dapat mengalami kepuasan hidup duniawi bahkan mampu berbagi kebahagiaan bagi banyak orang.
Ah, orang akan sengsara kalau mengalami kekurangan.

Percikan Nas Jumat, 15 Februari 2019

Klaudius de La Colombiere
warna liturgi Hijau

Bacaan-bacaan: 
Kej. 3:1-8; Mzm. 32:1-2,5,6,7; Mrk. 7:31-37. BcO 1Kor. 5:1-13.

Nas Injil: 
31 Kemudian Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis. 32 Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu. 33 Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. 34 Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya: Terbukalah! 35 Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. 36 Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapapun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya. 37 Mereka takjub dan tercengang dan berkata: "Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata."

Percikan Nas:
Seorang guru mempunyai aneka macam cara untuk menghadapi muridnya. Ada yang dengan cara tegas, kadang terasa keras. Ada juga yang lembut dan halus. Ada pula yang tampil berwibawa. Semua itu memang tergantung karakter gurunya atau juga pilihan yang dibuat untuk menghadapi siswa. Semua itu dilakukan agar siswa bisa semakin mampu mencapai tujuan yang ingin diraih.
Tuhan pun mempunyai aneka cara untuk menyembuhkan orang. Pada orang yang bisu tuli sebagaimana injil ini Ia pun mempunyai cara yang unik (Lih. Mrk 7:33-34). Tindakan-tindakan khas ini membuat mereka yang sakit jadi sembuh, yang melihat jadi terpesona. Yang bisu tuli pun mendengar dan bisa berbicara.
Mungkin masing-masing dari kita pun mempunyai cara-cara yang khas untuk menyikapi orang lain. Aneka cara itu baik-baik saja asal kita mempunyai tujuan yang baik. Dengan sikap dan cara kita, kita berharap bisa menghadirkan sesuatu yang semakin baik.

Doa:
Tuhan semoga aku menemukan cara yang tepat dalam bergaul. Semoga kehadiranku menunjukkan kehadiran-Mu dalam mengarahkan hidup yang semakin baik. Amin.

Cara khas
(goeng).