Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Wednesday, August 16, 2017

Ungkapan Persahabatan Dua Tokoh Agama

diambil dari http://www.hidupkatolik.com/2017/08/15



HIDUPKATOLIK.COM-DALAM rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-72, Kodam IV/Diponegoro menggelar Tausiyah kebangsaan di Bundaran Tugu Muda, Semarang, Senin, 14/8 malam. Momen ini menjadi momen kebersamaan karena menghadirkan berbagai unsur kalangan baik tokoh agama, TNI/Polri dan tokoh masyarakat. Selain itu, sedikitnya 20 ribu warga Kota Semarang dan sekitarnya juga menyemut di Bundaran Tugu Muda Semarang ini. Tahun ini tema “Indonesia Kerja Bersama” menjadi pesan utama Tausiyah Kebangsaan ini.

Pada kesempatan ini hadir pula Ketua MUI Jawa Tengah Habib Lutfi Bin Yahya dari Pekalongan sekaligus sebagai pemandu acara besama Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono serta Romo Aloysius Budi Purnomo.

Pemandangan yang berbeda ketika Ketua Komisi Antarumat Beragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang Romo Budi berpelukan dengan Habib Lutfi bin Ali bin Yahya, Rais Aam Idarah Aliyah Jam’iyah Ahlith Tharoqah Al Mu’tabarah An Nahdliyah (JATMAN). Menjadi momen penting ketika dua tokoh lintas agama ini berkelakar sebagai sahabat.

Menurut Romo Budi, Habib Lutfi adalah sahabat. Ia menghormati pribadi Habib Lutfi karena keteladan yang dipancarkan dari kepribadiannya. “Siapa yang tidak mengenal Maulana Al Habib Muhammad Luthfi bin Ali Bin Yahya yang lahir di Kota Pekalongan, 10 November 1947, kata Pastor Budi, hari kelahirannya pun bertepatan dengan Hari Pahlawan.”

Tak hanya berpelukan, kedua tokoh agama ini tampak cipika cipiki. Bahkan saking takzimnya, Pastor Budi juga mencium tangan Habib Lutfi. “Ini kanca kuna (ini teman lama). Sahabat lamaku!” cetus Habib Lutfi disaksikan Wakil Ketua DPRD Jateng Sukirman.

Pastor Budi yang juga kepala Campus Ministry Unika Soegijapranata itu mengaku merasa adem dan ayem setiap kali berjumpa Abah Lutfi, panggilan akrab Habib Lutfi, dalam berbagai kesempatan.
Sementara itu Habib Lutfi juga memuji figur Romo Budi. “Romo Budi adalah sosok yang saya banggakan. Saya senang musiknya, saksofonnya dan improvisasinya yang luar biasa. itulah Romo Budi kita….” ungkap Habib Lutfi disambut dengan tepuk tangan para hadirin. Keakraban keduanya pun kembali terlihat setelah acara tausiyah kebangsaan usai, dan ini adalah pemandangan yang amat langka. Sesudah menikmati nasi kebuli, keduanya menggelar “konser” musik bareng.

Yusti H. Wuarmanuk

Lamunan Hari Raya

Kemerdekaan Republik Indonesia
Kamis, 17 Agustus 2017

Matius 22:15-21

22:15. Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan.
22:16 Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka.
22:17 Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?"
22:18 Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?
22:19 Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu." Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya.
22:20 Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?"
22:21 Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, terhadap yang berseberangan apalagi yang selalu memusuhi, orang memang harus selalu bersikap hati-hati. Sekalipun dengan kata-kata manis musuh dapat selalu berusaha untuk mencelakakan.
  • Tampaknya, untuk menghadapan omongan bahkan perdebatan dengan musuh ada pendapat bahwa orang harus punya banyak dan luas pandangan. Bacaan-bacaan akan memperkayanya sehingga sulit untuk dikalahkan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sebanyak dan seluas apapun teori dan pandangan dimiliki, hal itu tidak akan menjadi landasan pembicaraan dengan orang-orang yang berseberangan dan bermusuhan bahkan dengan teman-teman sendiri, karena landasan utama untuk mendapatkan kebenaran dan wawasan sejati adalah fakta yang dihadapi bersama. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan selalu hidup berdasarkan pada dan bertolak dari kenyataan yang dihadapi.
Ah, hanya yang menguasai banyak teori dan pendapat ahli yang sungguh hebat.

Tuesday, August 15, 2017

Cara Tetap Bahagia di Hari Tua

diambil dari https://www.jw.org/id/publikasi/majalah


BAGAIMANA perasaan Anda saat membayangkan diri Anda menjadi tua? Banyak orang khawatir, gelisah, dan bahkan takut. Semua perasaan itu timbul karena usia tua biasanya dihubungkan dengan hal-hal yang tidak menyenangkan seperti penuaan fisik, tubuh yang lemah, pikun, dan penyakit kronis.

Tapi faktanya, proses penuaan setiap orang berbeda. Beberapa masih relatif sehat secara fisik dan mental saat lansia. Kemajuan dalam bidang kesehatan juga memungkinkan pengobatan atau perawatan atas penyakit kronis. Hasilnya, di beberapa negara semakin banyak orang yang berumur panjang dan lebih sehat.

Tapi, entah mengalami problem pada usia tua atau tidak, kebanyakan orang ingin hidup bahagia saat mereka tua nanti. Bagaimana caranya? Ini ada hubungannya dengan sikap, kemauan, dan kemampuan untuk menyesuaikan diri saat memasuki usia tua. Maka, mari kita bahas beberapa prinsip Alkitab yang sederhana dan praktis.

HENDAKLAH BERSAHAJA: ”Hikmat ada pada orang-orang yang bersahaja.” (Amsal 11:2)  

Dalam hal ini, ”orang-orang yang bersahaja” bisa memaksudkan orang tua yang menyadari dan menerima fakta bahwa mereka sudah lanjut usia. Mereka tidak berusaha menyangkal fakta itu. Charles, umur 93, dari Brasil berkata, ”Kalau kita sudah lama hidup, ya pasti tambah tua. Kita tidak bisa jadi muda lagi.”

Tapi, sikap bersahaja itu bukan berarti pasrah, seperti berpikir ”yah, saya sudah tua, sudah tidak berguna lagi”. Sikap itu bisa mengurangi semangat hidup kita. Amsal 24:10 berkata, ”Apakah engkau kecil hati pada hari kesesakan? Kekuatanmu akan kurang.” Sebaliknya, orang yang bersahaja bertindak bijaksana dan berusaha melakukan yang terbaik dalam setiap situasi.

Corrado, umur 77, dari Italia berkata, ”Sewaktu kita tambah tua, kita harus sesuaikan kebiasaan kita dengan kesanggupan kita.” Memang, kita harus membuat perubahan saat mulai memasuki usia tua. Corrado dan istrinya bisa berbagi tugas rumah tangga dengan seimbang, sehingga jadwal mereka cukup masuk akal dan mereka tidak kelelahan. Marian, umur 81, dari Brasil juga memiliki pandangan yang  bersahaja. Dia berkata, ”Saya belajar untuk membuat jadwal sesuai kesanggupan. Saya biasanya beristirahat sejenak setelah melakukan suatu kegiatan. Kadang saya duduk atau berbaring untuk membaca atau mendengarkan musik. Saya sadar kalau saya sudah tidak bisa aktif lagi seperti dulu.”



Pria lansia sedang memasang dasi



Hendaklah seimbang
HENDAKLAH SEIMBANG: ”Wanita-wanita berdandan dengan pakaian yang ditata dengan baik, dengan kesahajaan.” (1 Timotius 2:9)  

Kata-kata ”pakaian yang ditata dengan baik” memaksudkan keseimbangan dan selera yang bagus. Barbara, umur 74, dari Kanada berkata, ”Saya berusaha tampil rapi dan bersih. Saya tidak mau kelihatan lusuh karena berpikir ’saya sudah tua, jadi saya boleh pakai apa saja.’” Fern, umur 91, dari Brasil berkata, ”Kadang-kadang, saya beli baju baru supaya senang.” Bagaimana dengan pria yang sudah lansia? Antônio, umur 73, dari Brasil berkata, ”Saya berusaha tampil rapi, dan memakai baju yang bersih dan enak dilihat.” Dan mengenai kebersihan, dia berkata, ”Saya mandi dan bercukur setiap hari.”

Di sisi lain, jangan sampai kita jadi terlalu khawatir soal penampilan sampai-sampai tidak ’berpikiran sehat’. Bok-im, umur 69, dari Korea Selatan memiliki pandangan yang benar soal pakaian. Dia berkata, ”Saya sadar kalau sekarang saya tidak cocok lagi pakai baju yang saya pakai saat saya muda dulu.”



Pria lansia senang memainkan piano untuk istrinya



Hendaklah positif
HENDAKLAH POSITIF: ”Seluruh hari-hari orang yang menderita adalah buruk; tetapi orang yang gembira hati berpesta senantiasa.” (Amsal 15:15

Saat kita semakin tua, kita mungkin merasa sedih jika mengingat masa muda dan hal-hal yang bisa kita lakukan dulu. Ini memang wajar. Tapi, jangan sampai keadaan itu membuat Anda patah semangat. Kalau terus-terusan memikirkan masa lalu, kehidupan kita bisa tampak suram dan jadi tidak bersemangat melakukan apa pun. Joseph, umur 79, dari Kanada berkata, ”Saya berusaha menikmati hal-hal yang bisa saya lakukan dan tidak menangisi hal-hal yang sudah tidak sanggup lagi saya lakukan.”

Membaca dan belajar juga bisa membuat Anda merasa lebih bahagia dan lebih bersikap terbuka. Maka, sebisa mungkin, carilah kesempatan untuk belajar hal baru. Ernesto, umur 74, dari Filipina sering pergi ke perpustakaan dan membaca buku-buku yang menarik. Ia berkata, ”Saya masih suka dengan serunya petualangan, karena saya bisa membayangkan perjalanan menarik melalui apa yang saya baca.” Bahkan, Lennart, umur 75, dari Swedia tidak takut untuk belajar bahasa baru.



Wanita lansia memberikan hadiah kepada temannya



Hendaklah murah hati
HENDAKLAH MURAH HATI: ”Praktekkanlah hal memberi, dan kamu akan diberi.” (Lukas 6:38)  

Hendaklah menyediakan waktu dan suka memberi. Ini akan membuat Anda merasa puas dan bahagia. Hosa, umur 85, dari Brasil berusaha membantu orang lain walaupun memiliki keterbatasan fisik. Dia berkata, ”Saya menelepon teman yang sakit atau sedih dan menulis surat untuk mereka. Kadang saya memberi mereka hadiah. Saya juga senang memasak atau membuat makanan kecil untuk mereka yang sakit.”

Kalau kita murah hati, orang lain juga akan bersikap murah hati terhadap kita. Jan, umur 66, dari Swedia berkata, ”Ketika kita menunjukkan kebaikan, orang lain juga akan menunjukkan kebaikan dan kasih kepada kita.” Memang, orang yang murah hati membuat suasana jadi akrab dan orang lain pun jadi senang.

HENDAKLAH RAMAH: ”Orang yang mengasingkan diri akan mencari keinginannya yang mementingkan diri; terhadap semua hikmat yang praktis ia akan meledak.” (Amsal 18:1)  

Kadang, ada saatnya kita ingin sendirian. Tapi jangan sampai kita mengasingkan diri. Innocent, umur 72, dari Nigeria, senang berkumpul dengan teman-temannya. ”Saya senang bergaul dengan siapa saja, tua ataupun muda.” Börje, umur 85, dari Swedia berkata, ”Saya berusaha untuk bergaul dengan orang-orang yang masih muda. Semangat mereka buat saya merasa muda lagi.” Sesekali Anda bisa mengundang teman-teman. Hansik, umur 72, dari Korea Selatan berkata, ”Saya dan istri senang mengundang teman-teman yang tua ataupun muda untuk bergaul dan makan malam bersama.”



Orang-orang dari berbagai usia sedang bergaul dan menikmati makanan



Hendaklah ramah
Orang yang ramah senang berkomunikasi. Komunikasi berarti kita tidak hanya berbicara, tapi juga mau mendengarkan. Tunjukkan perhatian kepada orang lain. Helena, umur 71, dari Mozambik berkata, ”Saya ramah dan memperlakukan orang lain dengan respek. Saya mendengarkan orang lain supaya mengerti perasaan dan sifat mereka.” José, umur 73, dari Brasil berkata, ”Orang-orang senang kalau didengar. Mereka senang dengan orang yang memperlihatkan empati, minat, suka memuji dengan tulus, dan punya rasa humor.”

Saat berbicara, ingatlah agar kata-kata kita ”dibumbui dengan garam”. (Kolose 4:6) Berpikirlah dulu sebelum berbicara dan kata-kata kita hendaknya memberi pengaruh baik bagi orang lain.

HENDAKLAH BERSYUKUR: ”Nyatakanlah rasa syukurmu.” (Kolose 3:15) Ketika kita dibantu, tunjukkan penghargaan. Pernyataan terima kasih menciptakan hubungan baik. Marie-Paule, umur 74, dari Kanada berkata, ”Saya dan suami baru saja pindah dari rumah ke apartemen. Ada banyak teman-teman yang bantu kami. Kami sangat bersyukur. Kami mengirim kartu ucapan terima kasih untuk mereka semua dan mengundang beberapa untuk makan malam bersama.” Jae-won, umur 76, dari Korea Selatan, bersyukur karena selalu diantar ke Balai Kerajaan. Dia berkata, ”Saya sangat bersyukur atas bantuan ini dan saya selalu menawarkan uang bensin. Kadang-kadang, saya juga menyiapkan hadiah dengan ucapan terima kasih.”

Di atas segalanya, bersyukurlah atas kehidupan. Raja Salomo yang bijak mengingatkan kita, ”Anjing yang hidup lebih baik keadaannya daripada singa yang mati.” (Pengkhotbah 9:4) Ya, sikap yang benar dan kemauan untuk menyesuaikan diri bisa membuat kita tetap bahagia di hari tua.



Wanita lansia menulis surat



Hendaklah bersyukur

Saling Menolong Bertumbuh dalam Kasih

diambil dari email group Uni-kas Rabu 16 Agustus 2017

Rabu, 16 Agustus 2017
Pekan Biasa XIX
Refleksi harianku dalam doa berdasarkan Matthew 18:15-20

Sekali peristiwa Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Sebab di mana ada dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, Aku hadir di tengah-tengah mereka."

Tuhan Yesus Kristus terkasih, bantulah aku menjadi sarana damaiMu. Aku percaya bahwa dalam Dikau Allah adalah lebih rahim dan berkuasa tanpa batas dibandingkan kedosaanku. Saat dosa bertambah banyak rahmatMu berlimpah (Roma 5:20).

Tuhan Yesus Kristus terkasih, anugerahilah aku kasih untuk dengan kerahiman saling mengoreksi. Itulah tugas penuh karya kasih. Motivasiku harus untuk membantu sesama secara benar bukan untuk menghancurkan.

Tuhan Yesus Kristus terkasih, dalam Adorasi Ekaristi Abadi, aku mohon padaMu ajarilah aku mengampuni dan berdoa untuk mereka yang bersalah padaku. Berilah aku juga kerendahan hati untuk mau dikoreksi. Bantulah aku saling membantu kini dan selamanya. Amin.

Girlan Ungaran, 15/8/2017

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶
Aloys budi purnomo Pr

Sent from my heart of abudhenkpr
"abdi Dalem palawija"
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan
Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang

Lamunan Pekan Biasa XIX

Rabu, 16 Agustus 2017

Matius 18:15-20

18:15. "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.
18:16 Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.
18:17 Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.
18:18 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.
18:19 Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.
18:20 Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, orang dapat yakin bahwa hidup keagamaan terutama berkaitan dengan tatanan-tatanan yang ada di dalamnya. Dalam agama ada tatanan peribadatan dan berbagai perilaku.
  • Tampaknya, orang yang sungguh menghayati hidup beragama akan mentaati tatanan-tatanan yang ada. Segala hidup hariannya dilandaskan pada ketaatan dalam hidup beragama.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, setaat apapun seseorang menjalani tata aturan agama, dia belum tentu menghayati kesejatian hidup beragama kalau tidak dilandasi keterbukaan untuk menjalin hubungan personal yang tidak eksklusif  baik dalam kebersamaan perorangan maupun kelompok kecil yang sesungguhnya membuat orang berada secara langsung dengan daya ilahi. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang yakin bahwa kesediaan hidup bersama yang menghangatkan hubungan personal tanpa pandang bulu membuat orang sungguh menghayati Tuhan.
Ah, beragama sejati itu yang menjalani apa yang diperintahkan dan dilarang oleh tatanan agama.

Monday, August 14, 2017

Wisata Kuliner


Bagaimanapun yang namanya kaum usia lanjut dan atau difabel adalah orang-orang yang sudah berada dalam kondisi fisik yang tak mudah untuk bermobilisasi. Untuk yang sudah mengalami kesulitan berjalan, kursi roda menjadi hal yang amat membantu. Di Domus Pacis ketujuh rama penghuni sudah diwarnai oleh penggunaan kursi roda dalam hidup hariannya. Peristiwa misa harian dan makan bersama tiga kali sehari menjadi acara rutin parade berkursi roda. Hal ini tentu sungguh membuat kesulitan kalau harus pergi bersama misalnya untuk melayat atau menghadiri hajatan imamat.


Meskipun demikian, untuk para rama Domus pergi bersama tetap dimungkinkan. Selain karyawan, para rama Domus Pacis boleh mengalami keberadaan relawan relawati yang bersedia membantu keperluan dan acara Domus seperti Novena Domus, penyediaan masakan, pengadaan fasilitas-fasilitas lain. Lebih dari 90 orang terlibat yadi relawan Domus. Hal ini termasuk kalau harus pergi bersama seperti yang terjadi pada Sabtu 12 Agustus 2017. Pada bulan Juli Rm. Bambang menerima sejumlah uang yang berasal dari tamu perorangan dengan pesan "Kangge jajan nggih, rama" (Untuk jajan ya, rama). Sebenarnya Rm. Bambang berpikir barangkali itu untuknya pribadi. Tetapi karena jumlah uang bisa untuk orang serumah, maka pada waktu makan bersama Rm. Bambang berkata "Aku entuk sumbangan nggo jajan. Yok kapan jajan bareng" (Aku mendapat uang sumbangan untuk jajan. Kapan kita jajan bersama). Dari pembicaraan bersama ditetapkanlah tanggal 12 Agustus 2017 sebagai hari pelaksanaan. Sayang, pada waktu pelaksanaan Rm. Agoeng tak dapat ikut karena harus pulang ke Klaten untuk menunggu ayahnya yang sakit. Pada hari itu ada tiga mobil membawa tujuh rama disertai oleh 2 orang karyawan (Pak Tukiran dan Mas Abas), 2 orang pramurukti (Mbak Tri dan Mas Win), dan 4 orang relawan (Mas Handoko, Mas Ega, Bu Rini dan Bu Riwi). Mereka berangkat dari Domus Pacis pada jam 14.15. Jajan bersama terjadi di Rumah Makan Muara Kapuas di Kamdanen. Bagi Domus Pacis ini sudah merupakan wisata kuliner istimewa yang terjadi paling kerap terjadi enam bulan sekali.

Yesus Kristus Aku MengasihiMu

diambil dari email group Unio-kas

Selasa, 15 Agustus 2017
Pekan Biasa XIX
Refleksi harianku dalam doa berdasarkan Mat 18:1-5.10.12-14

Sekali peristiwa datanglah murid-murid dan bertanya kepada Yesus, "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?" Maka Yesus memanggil seorang anak kecil, dan menempatkannya di tengah tengah mereka, lalu berkata, "Aku berkata kepadamu: Sungguh, jika kalian tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Bapamu yang di surga tidak menghendaki seorang pun dari anak-anak ini hilang."

Tuhan Yesus Kristus terkasih, Engkau bersabda padaku dengan amat jelas bahwa setiap hidup itu berharga di mataMu. Setiap pribadi yang kujumpai amat berharga dan tak tergantikan.

Tuhan Yesus Kristus bantulah aku menunjukkan keramahan kepada yang tertolak. Aku ingin melakukan segala sesuatu bagi mereka. Betapa agung namaMu, Tuhan, mengatasi segala bumi. Dalam Adorasi Ekaristi Abadi aku berdoa mohon kerendahan hati kini dan selamanya. Amin.

Wisma Perdamaian Semarang, 14/8/2017

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊ ·̵̭̌·̵̭̌«̶
Aloys budi purnomo Pr

Sent from my heart of abudhenkpr
"abdi Dalem palawija"
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan;
Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang;
Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang.

Lamunan Pekan Biasa XIX

Selasa, 15 Agustus 2017

Matius 18:1-5.10.12-14

18:1. Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?"
18:2 Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka
18:3 lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
18:4 Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.
18:5 Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku." 
18:10 Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga.
18:12 "Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu?
18:13 Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat.
18:14 Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak-anak ini hilang."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, ada gambaran umum bahwa seorang anak agar memiliki sikap mulia harus dididik dalam hidup beragama. Ini adalah tugas orang tua dan kaum tua pada umumnya.
  • Tampaknya, pendidikan anak agar berkembang dalam hidup ber-Tuhan bukan terutama dengan kata-kata tetapi dari keteladanan. Keteladanan hidup orang tua dan kaum tua akan menjadi guru besar bagi anak untuk sungguh ber-Tuhan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sesaleh dan setekun serta sekonsekuen apapun orang tua dan kaum tua serta kaum dewasa dalam hidup beragama, mereka akan sungguh-sungguh menghayati kesejatian hidup beragama justru kalau mampu berlajar dari anak-anak yang sebenarnya memiliki sikap alami yang penuh ternaungi oleh nuansa ilahi. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan memandang anak kecil pada umumnya sebagai guru besar dan menjalani hidup beriman.
Ah, untuk menjadi baik seorang anak justru harus taat kepada orang tua dalam segalanya.

Sunday, August 13, 2017

Lamunan Pesta

Santo Laurensius, Diakon dan Martir
Kamis, 10 Agustus 2017

Yohanes 12:24-26

12:24 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.
12:25 Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.
12:26 Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, dalam perjuangan hidup orang mempertahankan eksistensi di kancah dunia. Orang-orang baik ingin selalu ikut berperan demi kebaikan banyak orang.
  • Tampaknya, agar mampu berperan orang dapat berjuang untuk mendapatkan status atau jabatan dalam hidup bersama. Dalam hal ini orang dapat beranggapan memiliki kualitas diri kalau mampu menduduki statusnya selama mungkin.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, selama apapun bahkan seumur hidup seseorang bertahan dalam status atau jabatan atau peran tertentu, hal ini tidak menjamin eksistensinya karena keberadaan sejati orang adalah kemampuan untuk menjadi bahan tanaman kebaikan hidup yang punya saat menghilang tetapi menghasilkan bentuk-bentuk kebaikan baru dalam siapapun yang berperan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan mampu dengan tenang berhenti bahkan hilang dari percaturan lingkungan berperannya.
Ah, untuk meraih banyak penghasilan orang harus mempertahankan status andalannya.
@ Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. (Yoh 12:24)
@ ..... bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, selama apapun bahkan seumur hidup seseorang bertahan dalam status atau jabatan atau peran tertentu, hal ini tidak menjamin eksistensinya karena keberadaan sejati orang adalah kemampuan untuk menjadi bahan tanaman kebaikan hidup yang punya saat menghilang tetapi menghasilkan bentuk-bentuk kebaikan baru dalam siapapun yang berperan.
Selengkapnya lihat "Lamunan Pesta" Kamis 10-8-2017 dalam RENUNGAN HARIAN www.domuspacispuren.blogspot.com

Kemenakan Rm. Gito


Ini terjadi pada hari Selasa 1 Agustus 2017. Ketika itu Rm. Rio, Rm. Tri Hartono, Rm. Harto, Rm. Yadi, dan Rm. Bambang sedang makan siang. "Rama Gito tindak, pa?" (Apakah Rm. Gito sedang pergi?) tanya Rm. Bambang yang dijawab oleh Mas Abas yang sedang menyuapi Rm. Harto "Wonten tamu" (Sedang mendapatkan tamu). Ternyata beberapa saat sesudah jawaban Mas Abas, Rm. Gito yang duduk di kursi roda masuk kamar makan didorong oleh seseorang yang masih tampak muda. Pendorong itu kemudian menyalami setiap rama yang sudah mendahului duduk makan. "Kemenakan saya" Rm. Gito memperkenalkan orang itu. Beliau adalah seorang imam dari Ordo Salib Suci yang bernama Rm. Adi, OSC. Beliau berkarya menjadi pastor paroki di Karawaci, Tangerang. "Mangga sisan dhahar" (Mari sekalian gabung makan) ajak Rm. Bambang. Atas ajakan itu Rm. Adi tampak menolak karena ada yang lain menunggu di luar. "Pinten ingkang sareng rama?" (Berapa orang bersama rama?) tanya Rm. Bambang yang dijawab oleh Rm. Adi "Setunggal" (Satu). Rm. Bambang langsung berkata "O, namung setunggal, ta? Dipun ajak sisan" (O, hanya satu, kan? Sekalian saja diajak). Tenyata satu yang lain itu juga seorang kemenakan lain dari Rm. Gito dan sepupu Rm. Adi. Dia adalah Mas Dovi dan tinggal di Bumijo Lor, Yogyakarta.

Tuesday, August 8, 2017

Selamat Tinggal Generasi Milenial, Selamat Datang Generasi Z

diambil dari https://tirto.id

Reporter: Aulia Adam
Dalam dekade terakhir, generasi Z terus diteliti, mulai dari preferensi politik, ekonomi, hingga gaya hidupnya.
 
tirto.id - Telinga Anda mungkin akrab dengan istilah Generasi Milenial. Meski tak terlalu paham artinya, istilah itu nyatanya sudah masuk dalam percakapan sehari-hari.

Sebagai gambaran singkat, Generasi Milenial, yang juga punya nama lain Generasi Y, adalah kelompok manusia yang lahir di atas tahun 1980-an hingga 1997. Mereka disebut milenial karena satu-satunya generasi yang pernah melewati milenium kedua sejak teori generasi ini diembuskan pertama kali oleh Karl Mannheim pada 1923.

Dalam esai berjudul "The Problem of Generation," sosiolog Mannheim mengenalkan teorinya tentang generasi. Menurutnya, manusia-manusia di dunia ini akan saling memengaruhi dan membentuk karakter yang sama karena melewati masa sosio-sejarah yang sama. Maksudnya, manusia-manusia zaman Perang Dunia II dan manusia pasca-PD II pasti memiliki karakter yang berbeda, meski saling memengaruhi.

Berdasarkan teori itu, para sosiolog—yang bias Amerika Serikat—membagi manusia menjadi sejumlah generasi: Generasi Era Depresi, Generasi Perang Dunia II, Generasi Pasca-PD II, Generasi Baby Boomer I, Generasi Baby Boomer II, Generasi X, Generasi Y alias Milenial, lalu Generasi Z.

Pembagian ini biasanya berdasarkan rentang tahun kelahiran. Namun, rentang tahun didefinisikan berbeda-beda menurut sejumlah pakar, tapi tak terlalu jauh.

Definisi rentang umur Generasi Z, misalnya. Ia bermacam-macam.

Pada 2012, ketika jurnalis Bruce Horovitz mengenalkan Generasi Z, rentang umur yang digunakan masih belum jelas. Tapi istilah itu mulai sering dipakai usai presentasi dari agen pemasaran Sparks and Honey viral pada 2014. Di sana, rentang umur yang dipakai mendeskripsikan Generasi Z adalah anak-anak yang lahir 1995 hingga 2014.

Badan statistik Kanada menghitung Generasi Z mulai dari anak-anak yang lahir pada 1993 sampai 2011. McCrindle Research Centre di Australia menyebut Generasi Z sebagai orang-orang yang lahir pada 1995 sampai 2009. MTV lain lagi: mendefinisikan generasi itu sebagai orang-orang yang lahir selepas Desember 2000.

Terlepas perbedaan tahun tersebut, mereka semua sepakat kalau Generasi Z adalah orang-orang yang lahir di generasi internet—generasi yang sudah menikmati keajaiban teknologi usai kelahiran internet.

Bagaimana Generasi Z di Indonesia?

Internet hadir di Indonesia pada 1990. Baru pada 1994, Indonet hadir sebagai Penyelenggara Jasa Internet komersial perdana di negeri ini. Jadi, mari kita anggap Generasi Z Indonesia adalah mereka yang lahir pada pertengahan 1990-an sampai medio 2000-an.

Jika Generasi Z pertama adalah mereka yang lahir pada 1995, artinya orang yang paling tua dari Generasi Z Indonesia sudah berumur 21 tahun: mereka sudah beranjak dewasa, sudah ikut pemilu, mencari atau sudah punya pekerjaan, dan hal-hal lain yang bisa memengaruhi ekonomi, politik, dan kehidupan sosial dunia kini.

Pada dekade terakhir, Generasi Z terus diteliti. Dari preferensi politik, ekonomi, hingga gaya hidup. Sebab, di dunia ini, belum pernah ada generasi yang sejak lahir sudah akrab dengan teknologi—seperti mereka.

Menurut Hellen Katherina dari Nielsen Indonesia, Generasi Z adalah masa depan.

“Karena itu penting bagi para pelaku industri untuk memahami perilaku dan kebiasaan mereka,” ungkapnya.

share infografik

Sejauh ini, Generasi Z dikenal sebagai karakter yang lebih tidak fokus dari milenial, tapi lebih serba-bisa; lebih individual, lebih global, berpikiran lebih terbuka, lebih cepat terjun ke dunia kerja, lebih wirausahawan, dan tentu saja lebih ramah teknologi.

Kedekatan generasi ini dengan teknologi sekaligus membuktikan masa depan sektor tersebut akan semakin cerah di tangan mereka. Dari segi ekonomi, menurut survei Nielsen, Generasi Z sudah memengaruhi perputaran ekonomi dunia sebagai 62 persen konsumen pembeli produk elektronik. Ini dipengaruhi oleh kehidupan mereka yang sudah serba terkoneksi dengan internet.

Menyadari potensi tersebut, Connor Blakley, pemuda 17 tahun dari Amerika Serikat, mendapuk dirinya sebagai konsultan khusus Generasi Z, yang secara profesional siap membantu perusahaan-perusahaan untuk mengenali para konsumen terbesarnya ini.

“Generasi Z adalah generasi paling berpengaruh, unik, dan beragam dari yang pernah ada,” kata Blakley dalam wawancaranya dengan Forbes.

“Kami jenis jenama konsumen yang belum pernah ditemui (produsen) sebelumnya. Aku sadar, sebagai salah satu dari generasi ini, aku bisa memanfaatkanmu dan pengalamanku untuk membantu perusahaan-perusahaan melihat bagaimana konsumen muda mereka tak sekadar dari data yang ada.”

Lalu, apa yang harus dilihat perusahaan-perusahaan yang dijalankan oleh milenial itu?

“Pertama adalah intuitif digital,” ungkap Blakley. “Kami adalah generasi pertama yang Facetime dengan kawan kami, menelepon ibu kami dan memesan piza di saat bersamaan,” tambahnya.

Menurut Blakley, kebanyakan perusahaan kini masih sering menyamakan Generasi Z dan Generasi milenial. Ini kemudian menjebak para produsen gagal menangguk untung lebih banyak dari generasi masa depan tersebut.

Bagi Blakley, generasinya sudah jauh lebih beragam daripada milenial, bahkan di saat bersamaan lebih tidak peduli pada perbedaan tersebut. Sehingga promosi-promosi standar khas milenial dan cenderung seragam menjadi tidak laku untuk mereka.

“Mereka (perusahaan-perusahaan) harus meloncat keluar dari ‘normal’,” kata Blakley.

Blakley bisa jadi benar bahwa kita tak bisa terus menyamakan Generasi milenial dengan Generasi Z. Kebanyakan dari generasi milenial adalah orang-orang yang setengah-setengah: setengah menikmati era sebelum internet, dan era sesudahnya. Bagi mereka, Wallstreet, Bioskop, Yahoo, Vinyl, dan barang lain yang khas generasi 90-an masih menarik. Sementara bagi Generasi Z, Netflix, Virtual Reality, dan Video Games jauh lebih menarik.

Dunia, mau tak mau, memang harus bersiap memasuki masa baru: saat milenial menua dan generasi Z mulai dewasa.

Baca juga artikel terkait GENERASI MILENIAL atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - aad/nqm)

Kasih dan Belarasa Yesus

diambil dari email group Unio-kas

Rabu, 09 Agustus 2017
Pekan Biasa XVIII
Refleksi harianku dalam doaku berdasarkan Mat 15:21-28

Datanglah seorang wanita Kanaan dari daerah itu dan berseru, "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud. Anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita." Bersabdalah Yesus kepadanya, "Hai ibu, besar imanmu! Terjadilah bagimu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh.

Tuhan Yesus Kristus terkasih, penuhilah hatiku dengan rasa syukur dan iman bahkan kendati orang yang kukasihi menderita. Sungguh Tuhan, penderitaan orang lain menggerakkan belarasaku pada mereka.

Tuhan Yesus Kristus terkasih, saat mereka yang kukasihi menderita, aku membutuhkan kebijaksanaan yang sama untuk mencari Dikau (seperti perempuan dalam Injil hari ini). Aku sungguh memahami cinta saat cinta itu melibatkan orang-orang yang kukenal dan kukasihi.

Tuhan Yesus Kristus terkasih, dalam Adorasi Ekaristi Abadi aku menyerahkan hidupku dalam belas kasih kerahimanMu. Di sana aku memujiMu dan bersyukur padaMu. Berilah aku rasa syukur, iman dan kepercayaan untuk menerima salibku dan memuliakan kasihMu yang kreatif bagiku kini dan selamanya. Amin.

Sanggar Seni Gedongsongo, 8/8/2017

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶
Aloys budi purnomo Pr


Sent from my heart of abudhenkpr
"abdi Dalem palawija"
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan;
Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang;
Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang.

Lamunan Pekan Biasa XVIII

Rabu, 9 Agustus 2017

Matius 15:21-28

15:21. Lalu Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon.
15:22 Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.”
15:23 Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: “Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak.”
15:24 Jawab Yesus: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.”
15:25 Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: “Tuhan, tolonglah aku.”
15:26 Tetapi Yesus menjawab: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.”
15:27 Kata perempuan itu: “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.”
15:28 Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu juga anaknya sembuh.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa yang berbeda golongan akan mudah bersaing. Masing-masing golongan memiliki kepentingan sendiri dan dapat saling berebut hal untuk memenuhi kepentingannya.
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa antar golongan yang bermusuhan tak akan dapat saling dirukunkan. Antar warga masing-masing golongan dapat berjuang untuk saling menjatuhkan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun berada dalam golongan-golongan yang berbeda dan bahkan bermusuhan, kalau hidup seseorang menyatu dengan relung nurani yang terejawantah dalam perilaku yang membawa kebaikan umum, dia dapat jadi naungan hidup bagi orang-orang golongan lain termasuk yang bermusuhan dengan golongannya. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang yakin bahwa di antara kaum yang dipandang buruk bahkan sesat tetap ada orang-orang yang memiliki nurani luhur.
Ah, yang namanya musuh ya harus disingkirkan.

Monday, August 7, 2017

Rm. Gito Sulit Tidur?


"Mau bengi bali seka misa neng Kricak, medhun seka mobil jemputan lan mbukak lawang, kursi rodhaku ora ana je" (Sepulang dari misa di Kricak, tadi malam begitu turun dari mobil jemputan dan membuka pintu, ternyata kursi rodaku tidak ada). Itu adalah kata-kata Rm. Bambang ketika makan pagi hari Sabtu 5 Agustus 2017 bersama Rm. Rio, Rm. Gito, Rm. Tri Hartono, Rm. Harto, dan Rm. Yadi. Ketika Rm. Rio bertanya "Ilang?" (Apakah hilang?), Rm. Bambang menjawab "Sekilas aku ya mikir ngono. Ning aku terus njaluk tulung pengantarku ngunekke bel tamu. Abas terus teka. Aku takon 'Kursi rodhaku kok ora ana?' Abas terus mlebu lan bali nyurung kursi rodhaku karo muni 'Teng kamare Rama Gito'" (Sekilas saya juga berpikir begitu. Tetapi saya minta tolong pengantarku untuk membunyikan bel kamar tamu. Abas datang. Aku bertanya 'Kursi rodaku kok tidak ada?' Abas terus masuk dan kembali mendorong kursi rodaku sambil berkata 'Di kamar Rama Gito'). Mendengar kata-kata Rm. Bambang semua, termasuk Rm. Gito, tertawa geli. Bahkan Rm. Rio menambah kata-kata "Thekku ya wis tahu dijupuk" (Milikku juga pernah diambil).


Di antara delapan orang rama yang ada di Domus Pacis, Rm. Gito memang yang tertuwa. Usianya 85 tahun lebih. Beliau tampak tidak betah berada di dalam kamar. TV dan radio tidak dapat menarik hatinya. Keinginannya adalah pergi keluar, kunjungan-kunjungan, atau ke tempat-tempat tertentu. Untung saja Rm. Hadi, Minister Domus Pacis, seakan-akan "hampir setiap hari" membawa Rm. Gito dalam kesempatan pergi baik untuk menjalani tugas pastoral, kebutuhan pribadi, ataupun memang untuk memenuhi keinginan Rm. Gito. Maka kerap terjadi Rm. Gito tidak ikut makan bersama para rama Domus. Yang membuat para rama Domus tertawa-tawa adalah setiap kali Rm. Gito ikut di kamar makan Rm. Bambang biasa bertanya "Wingi (atau Wau) piknik teng pundi? Le jajan teng pundi?" Kemarin (atau Tadi) pergi piknik kemana? Jajan makan dimana?). Rm. Gito kemudian berceritera dengan semangat. Tetapi kalau tidak pergi, beliau akan banyak berjalan dengan mendorong kursi rodanya dengan bertanya "Mana ...." lalu menyebut yang tidak tampak. Kalau itu terjadi di kamar makan dan menanyakan rama tertentu, yang selalu menjawab Rm. Bambang "Sek brevir" (Baru doa brevir) dan rama-rama lain tertawa. Akhirnya Rm. Gito setiap bertanya dimana rama tertentu, beliau menjawab sendiri "Sek brevir" sambil tertawa diikuti tawa rama-rama lain. Satu hal yang kerap dikeluhkan adalah "Kula kok mboten saget tilem nggih?" (Mengapa saya sulit tidur?) padahal kalau berbaring tidur kata karyawan juga bisa mendengkur. Hal ini yang membuat Rm. Bambang pernah berkata "Wau kula tiliki ning njenengan sare. Niku mung ngimpi ora isa sare" (Tadi saya jenguk di kamar tetapi Anda tidur. Itu artinya mimpi tak dapat tidur). Padahal di Domus Pacis Rm. Bambang belum pernah melihat Rm. Gito tidur.

Menikmati Kehadiran Allah

diambil dari email group Unio-kas 7 Agustus 2017

Selasa, 08 Agustus 2017
Pekan Biasa XVIII
PW S. Dominikus, Imam
Refleksi harianku dalam doa berdasarkan Mat 14:22-36

Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-muridNya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Dan setelah orang banyak itu disuruhNya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. (Mat 14:22-23)

Tuhan Yesus Kristus terkasih, Engkau menyuruh orang banyak pulang dan Engkai sendiri naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Engkau meninggalkan kenyamanan bersama orang lain dan bersatu hanya bersama Allah.

Tuhan Yesus Kristus terkasih, berada dalam keheningan tanpa sesama bisa membuat orang mengalami kesendirian dan kekosongan. Semoga adorasiku membawaku melangkah dari zona nyaman.

Tuhan Yesus Kristus terkasih, derita karena keheningan dapat berubah menjadi sukacita dan damai. Bantulah aku tinggal bersamaMu dan Allah dan belajar menikmati kehadiranMu dalam Adorasi Ekaristi Abadi kini dan selamanya. Amin.

Kerkof Muntilan, 7/8/2017

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶
Aloys budi purnomo Pr

Sent from my heart of abudhenkpr
"abdi Dalem palawija"
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan;
Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang;
Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang.

Lamunan Peringatan Wajib

Santo Dominikus, Imam
Selasa, 8 Agustus 2017

Matius 14:22-36

14:22. Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang.
14:23 Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ.
14:24 Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal.
14:25 Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air.
14:26 Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: “Itu hantu!”, lalu berteriak-teriak karena takut.
14:27 Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”
14:28 Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.”
14:29 Kata Yesus: “Datanglah!” Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.
14:30 Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!”
14:31 Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”
14:32 Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah.
14:33 Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”
14:34. Setibanya di seberang mereka mendarat di Genesaret.
14:35 Ketika Yesus dikenal oleh orang-orang di tempat itu, mereka memberitahukannya ke seluruh daerah itu. Maka semua orang yang sakit dibawa kepada-Nya.
14:36 Mereka memohon supaya diperkenankan menjamah jumbai jubah-Nya. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, untuk menjadi benar, baik, dan luhur orang biasa mengkaitkannya dengan kehidupan beragama. Kalau tertib menjalani tata aturan keagamaan orang dapat memandang diri sudah benar, baik, dan luhur.
  • Tampaknya, dengan tertib beragama seperti itu orang dapat yakin akan selalu mendapatkan kebahagiaan. Dia akan selalu mudah terhindar dari segala mara bahaya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang menyandarkan hidup pada kedalaman batin, untuk mengalami damai sejahtera sejati sebenarnya orang tidak hanya selalu bergelut dengan hidup keagamaan bahkan tekun menjalani laku tapa dan matiraga, karena dengan memiliki kebiasaan bersentuhan saja dengan yang bertahta dalam nurani orang terjamin menemukan ketenangan hidup yang menghadirkan kesegaran jiwa dan raga. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan yakin bahwa sentuhan kecil saja dengan Tuhan dalam hati hal ini sudah menjamin kesegaran jiwa raga.
Ah, yang namanya bahaya memang selalu akan menakutkan.