Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Tuesday, June 30, 2020

Dari Terbitan Buku


Ini tentang buku yang ditulis oleh Rm. Bambang. Judulnya adalah Domus Pacis Puren di Mata Hatiku Catatan dari Rumah Tua. Buku ukuran 13X18,5 CM setebal 376 halaman ini setelah terbit diterima oleh Rm. Bambang pada Sabtu siang 13 Juni 2020. Dia menetapkan harga per eksemplar Rp. 75.000,00 kalau harus memakai jasa pengiriman. Kalau ambil langsung di Domus Pacis Puren harganya menjadi Rp. 50.000,00 karena tanpa ongkos kirim. Untuk yang minta dikirim Rm. Bambang mensyaratkan agar mentransfer uang ke rekening: TAHAPAN BCA, KCP Gejayan, no. 4565146662 a.n. Petrus Noegroho Agoeng SW dan mengirimkan gambar bukti transfer ke WA no. 087834991969. Hingga saat ini simpanan uang internal Komunitas Rama Domus memang memakai nama Rm. Agoeng. 

Sejak Sabtu 13 Juni 2020 itulah Rm. Bambang langsung mensosialisasi buku tersebut lewat media sosial FB dan WA. Di dalam sosialisasi itu dia juga mengatakan bahwa dengan buku itu memang dikandung maksud untuk mencari dana ekstra kebutuhan Domus Pacis Puren. Ternyata sosialisasi itu mendapatkan dari banyak pihak. Dari 103 orang yang menghubungi Rm. Bambang, 67 orang atau 65% lebih menggunakan transfer rekening bank. Banyak peminta buku lewat kiriman pos tidak dikenal oleh Rm. Bambang. Ternyata tidak sedikit kenalan Rm. Bambang membagikan sosialisasi itu kepada teman-teman jaringannya. Dari yang datang lansung dan minta dikirim, tidak sedikit yang minta beberapa bahkan banyak eksemplar. Bahkan ada yang mengorganisasi kelompok untuk menyumbang Domus Pacis Puren dengan membeli buku tersebut. Hingga akhir Juni 2020 Rm. Bambang melepas 468 eksemplar. Dari uang masuk dia dapat berbagi kepada para rama Domus yang biasa makan bersama dan juga kepada semua tenaga yang melayani para rama. Dia juga dapat memasukkan dana untuk tambahan pemasukan harian Domus di bulan Juli 2020.

Lamunan Pekan Biasa XIII

Rabu, 1 Juli 2020 

Matius 8:28-34                              

28. Setibanya di seberang, yaitu di daerah orang Gadara, datanglah dari pekuburan dua orang yang kerasukan setan menemui Yesus. Mereka sangat berbahaya, sehingga tidak seorangpun yang berani melalui jalan itu. 29 Dan mereka itupun berteriak, katanya: "Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?" 30 Tidak jauh dari mereka itu sejumlah besar babi sedang mencari makan. 31 Maka setan-setan itu meminta kepada-Nya, katanya: "Jika Engkau mengusir kami, suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi itu." 32 Yesus berkata kepada mereka: "Pergilah!" Lalu keluarlah mereka dan masuk ke dalam babi-babi itu. Maka terjunlah seluruh kawanan babi itu dari tepi jurang ke dalam danau dan mati di dalam air. 33 Maka larilah penjaga-penjaga babi itu dan setibanya di kota, diceriterakannyalah segala sesuatu, juga tentang orang-orang yang kerasukan setan itu. 34 Maka keluarlah seluruh kota mendapatkan Yesus dan setelah mereka berjumpa dengan Dia, merekapun mendesak, supaya Ia meninggalkan daerah mereka.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, orang bekerja untuk mendapatkan hasil demi memenuhi kebutuhan hidup. Bagaimanapun juga orang akan tenang kalau sudah punya uang.
  • Tampaknya, demi kelangsungan hidup ke depan orang juga akan berupaya memiliki tabungan. Bagaimanapun juga dengan harta dan kekayaan orang akan memiliki jaminan dalam perjalanan hidup.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, sekalipun uang dan kekayaan dapat membuat tenang, orang akan ikhlas membiarkan semuanya hilang demi bebasnya hidup dari segala keburukan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan mengutamakan kesehatan jiwani dan badani dibadingkan dengan penumpukan harta dan kekayaan.

Ah, bagaimanapun juga orang akan tenang dengan adanya simpanan kekayaan.

Santo Theobaldus dari Provins

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 3661 Diterbitkan: 03 Juni 2014 Diperbaharui: 15 Februari 2017

  • Perayaan
    30 Juni
  •  
  • Lahir
    Tahun 1017
  •  
  • Kota asal
    Provins, Brie, Perancis
  •  
  • Wilayah karya
    Vicenza - Italia
  •  
  • Wafat
    30 Juni 1066 di Salanigo Vicenza Italia - Oleh sebab alamiah
  •  
  • Kanonisasi
    Tahun 1073 oleh Paus Alexander II

Santo Theobaldus dari Provins adalah seorang pertapa suci dari Perancis. Ia lahir di kota Provins Perancis dalam sebuah keluarga bangsawan tinggi Kerajaan.  Ayahnya Arnoul, adalah seorang Pangeran Palatine dari Champagne.

Sebagai seorang pemuda, ia sangat senang membaca kisah kehidupan para pertapa suci seperti santo Yohanes Pembabtis, Santo Paulus pertapa, Santo Anthonius Agung, dan Santo Arsenius. Ia juga sering mengunjungi seorang rahib pertapa bernama Burchard, yang tinggal di sebuah pulau kecil di tengah-tengah Sungai Seine.

Bacaan-bacaan ini dan teladan dari Burchad menumbuhkan benih panggilan Allah dalam hatinya untuk menjalani hidup seperti para pertapa kudus tersebut. Ia sungguh mengagumi cara hidup asketis dan mati-raga dari para pertapa dalam perjuangan mereka untuk meraih kesempurnaan hidup Kristiani.

Hasratnya bernyala-nyala untuk menjadi seorang pertapa membuat pemuda bangsawan ini menolak untuk menikah atau berkarir di bidang Militer.  Ketika pecah perang antara sepupunya Pangeran Blois, Odo II dan Raja Conrad II (Conrad the Salic) karena memperebutkan  mahkota Kerajaan Burgundi, Theobaldus menolak untuk memimpin pasukan dalam pertempuran untuk membantu sepupunya itu. Ia malah berusaha meyakinkan ayah dan keluarganya untuk membiarkannya pergi dan menjadi seorang pertapa.

Karena keinginannya tidak kunjung direstui oleh ayahnya, pada tahun 1054 Theobaldus memutuskan untuk meninggalkan rumah dengan diam-diam.  Bersama seorang teman bernama Walter, mereka pergi untuk menjadi pertapa di daerah Suxy di Distrik Chiny. Kemudian mereka melakukan perjalanan ke Pettingen, di mana dua orang pemuda bangsawan ini mengasah kerendahan hati mereka dengan bekerja sebagai kuli kasar, sambil terus menjalani hidup bermati-raga dan doa secara diam-diam.

Theobaldus dan Walter kemudian menjadi peziarah melalui rute ziarah Santo Yakobus (The Way of St. James) dan setelah itu mereka kembali ke keuskupan Trier. Mereka lalu melanjutkan perziarahan mereka ke Roma dan berencana untuk pergi ke Tanah Suci Yerusalem melalui Venecia. Namun, Walter jatuh sakit dekat di kota Salanigo di Vicenza. Karena itu mereka memutuskan untuk menetap di sana. Tidak lama kemudian Walter wafat. Pertapa suci ini pergi ke surga dengan senyum kebahagiaan di wajahnya.

Theobaldus tetap tinggal di Salanigo dan melanjutkan hidupnya sebagai seorang pertapa. Ketika orang-orang mengetahui akan kesucian hidup Theobaldus, banyak orang datang untuk menjadi muridnya. Merasa terganggu dengan kedatangan banyak orang, Theobaldus lalu berusaha mencari tempat yang lebih sepi untuk dapat mengasingkan diri dan menjalani hidup bermati-raga dengan lebih keras. Namun tetap saja ia diikuti oleh orang-orang yang tertarik untuk mendapat bimbingannya.  

Keharuman namanya dan kesucian hidupnya membuat suatu hari Uskup Vicenza memutuskan untuk mengunjungi pertapaannya.  Sang uskup kemudian mentahbiskan Theobaldus sebagai seorang imam.  Kepada Uskup, Theobaldus kemudian menceriterakan tentang latar belakang keluarganya dan tak lama kemudian kedua orang tuanya datang berkunjung ke pertapaan. Ibunya, Gisela, lalu memutuskan untuk mengikuti jejak Theobaldus dan menjadi seorang pertapa wanita di dekat pertapaan anaknya.  

Theobaldus tutup usia pada tanggal 30 Juni 1066. Sesaat sebelum kematiannya ia memutuskan menjadi seorang biarawan Benediktin Kamaldoli (OSB Cam). Karena itu setelah kematiannya, para pengikutnya pun bergabung dengan Konggregasi yang didirikan oleh santo Romualdus tersebut.

Santo Theobaldus dikanonisasi oleh Paus Alexander II pada tahun 1073.

Monday, June 29, 2020

Lamunan Pekan Biasa XIII

Selasa, 30 Juni 202 

Matius 8:23-27                              

23. Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nyapun mengikuti-Nya. 24 Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur. 25 Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: "Tuhan, tolonglah, kita binasa." 26 Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?" Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali. 27 Dan heranlah orang-orang itu, katanya: "Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?"

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, ancaman sekecil apapun memang dapat membuat gelisah yang terancam. Hatinya dapat diliputi oleh rasa was-was.
  • Tampaknya, terhadap ancaman akan keselematan hidup orang dapat mengalami ketakutan. Dia dapat sungguh kebingungan dan cari pertolongan kesana kemari.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul dekat dengan kedalaman batin, sekalipun hidupnya sangat terancam oleh bahaya besar, kalau terbiasa berada dalam topangan nurani orang akan tetap memiliki ketenenangan menghadapinya. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan tetap memiliki keteduhan sikap berhadapan dengan tantangan dan ancaman apapun.

Ah, kalau memang terancam orang normalpasti mengalami kebingungan.

Santo Paus Petrus Rasul

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 19416 Diterbitkan: 01 September 2013 Diperbaharui: 13 Oktober 2019

  • Perayaan
    29 Juni
    22 Februari (Pesta Tahta St.Petrus)
  •  
  • Lahir
    Hidup abad pertama
  •  
  • Kota asal
    Galilea - Israel
  •  
  • Wilayah karya
    Yerusalem, Asia Kecil, Roma
  •  
  • Wafat
    Sekitar Tahun 67 - Martir. Disalibkan secara terbalik, Kepala dibawah dan kaki diatas
  •  
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation

Petrus adalah pemimpin para rasul dan Paus kita yang pertama. Nama asli rasul besar ini adalah Simon, tetapi Yesus mengubahnya menjadi Petrus, yang artinya batu karang, yang mengisyaratkan bahwa Yesus meletakkan landasan gereja-Nya di atas Petrus. “Engkaulah Petrus,” kata Yesus, “Dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku.” 

Petrus adalah seorang sederhana yang giat bekerja. Ia murah hati, jujur, polos seperti anak kecil dan amat dekat dengan Yesus.   Namun, Petrus juga seorang yang penakut. Beberapa kali Injil mencatat sifat Petrus yang satu ini. Ketika melihat Yesus berjalan diatas air Petrus dengan penuh iman berseru :

..... "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air. Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. --Mat 14:28

Namun ketika merasakan dinginnya tiupan angin yang menerpa wajahnya, dan melihat gelombang disekelilingnya; Petrus mulai takut.  Imannya yang tadi bernyala-nyala seketika padam.

...... Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!"  --Mat 14:30

Dan atas sikap penakut dan kurang percayanya itu Petrus mendapat sebuah teguran dari Yesus.

..... "Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" --Mat 14:31

Ketika Yesus ditangkap, sekali lagi Petrus ketakutan. Saat itulah ia berbuat dosa dengan menyangkal Kristus sebanyak tiga kali. Petrus kemudian menyesali perbuatannya dengan sepenuh hati. Ia menangisi penyangkalannya sepanjang hidupnya. Yesus mengampuni Petrus.

Sesudah kebangkitan-Nya, Yesus bertanya tiga kali kepada Petrus, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus, “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Sesungguhnya, Yesus memang tahu! Petrus benar. Dengan lembut Yesus berkata, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Yesus mengatakan kepada Petrus untuk mengurus Gereja-Nya, sebab Ia akan naik ke surga. Yesus menetapkan Petrus sebagai pemimpin para pengikut-Nya.

Pada hari Pentakosta Petrus dan para rasul lainnya menjadi penuh dengan kuasa Roh Kudus. Mereka berkata-kata dalam bahasa roh sehingga membingungkan orang-orang yang melihat mereka.  Maka bangkitlah Petrus dan menyampaikan kotbahnya yang pertama setelah kebangkitan Yesus. Para pendengarnya begitu terkesima dengan kata-kata nelayan dari Galilea  ini; yang penuh dengan hikmat dan kuasa. Dalam hari itu juga mereka memberikan diri untuk dibabtis. Jumlah orang yang dibabtis pada hari itu sungguh luar biasa; tiga ribu orang. (Kis 2 : 14 - 41)

Di kemudian hari Petrus pergi mewartakan kabar gembira hingga ke kota Roma, kota terbesar dan juga ibukota dari Kerajaan Romawi. Petrus tinggal disana dan mempertobatkan banyak orang. Ketika penganiayaan yang kejam terhadap orang-orang Kristen dimulai, umat memohon pada Petrus untuk meninggalkan Roma dan menyelamatkan diri. Dan sekali lagi Petrus ketakutan.

Menurut tradisi, ia memang sedang dalam perjalanan meninggalkan kota Roma ketika ia berjumpa dengan Yesus di tengah jalan.  Petrus bertanya kepada-Nya, "Domine, Quo vadis..? (Tuhan, hendak ke manakah Engkau pergi?)” Yesus menatapnya dan menjawab, “Aku hendak ke Roma untuk disalibkan lagi..”   Dan Petrus yang malang seketika jatuh tersungkur di kaki Yesus dan menangis tersedu-sedu.  Sama seperti saat ia menangisi penyangkalannya di Yerusalem puluhan tahun yang lalu, Petrus kini kembali harus menyesali rasa takutnya. Dengan berderai airmata ia berbalik dan kembali ke kota Roma.

Kembali ke Roma, Paus kita yang pertama ini segera ditangkap dan dijatuhi hukuman mati.  Karena ia seorang Yahudi dan bukan warga negara Romawi, sama seperti Yesus, ia dapat disalibkan. Petrus kini sudah menguasai rasa takutnya. Kali ini Ia tidak lagi menyangkal Kristus. Ia tidak lagi melarikan diri dan siap untuk wafat sebagai saksi Kristus.  Petrus minta agar ia disalibkan dengan kepalanya di bawah, sebab ia merasa tidak layak menderita seperti Yesus. Para prajurit Romawi tidak merasa aneh akan permintaannya, sebab para budak disalibkan dengan cara demikian.

St. Petrus wafat sebagai martir di Bukit Vatikan sekitar tahun 67. Pada abad keempat, Kaisar Konstantinus membangun sebuah gereja besar di atas tempat sakral tersebut. Penemuan-penemuan kepurbakalaan baru-baru ini menegaskan kisah sejarah tersebut.

Sunday, June 28, 2020

Syukuran 80 Tahun Keuskupan di Domus


Bagaimanapun juga menjadi kaum tua usia 65 tahun keatas dipandang sebagai kelompok rentan apalagi di masa pandemicovid-19. Misa di masa pandemi Covid-19 akan dibuka kesempatannya mulai dengan 18 Juli 2020 di Keuskupan Agung Semarang. Kaum usia 65 tahun keatas bersama kanak-kanak hingga 10 tahun atau yang belum Komuni tidak boleh mengikutinya. Bagaimanapun juga kaum lansia untuk pengembalaan Gereja zaman kini di Keuskupan Agung Semarang tidak masuk dalam perhatian khusus. Keuskupan akan memfokuskan diri pada anak, remaja, dan kaum muda terutama yang berusia antara 10-35 tahun. Mereka adalah calon-calon pemegang utama kehidupan Gereja di tahun 2040 ketika Keuskupan Agung Semarang berusia 100 tahun. 


Meskipun demikian Rm. Bambang mengharapkan agar para rama tua yang ada di Domus Pacis Puren merasakan kegembiraan khusus pada masa ulang tahun ke 80 Keuskupan Agung Semarang. Keuskupan mengadakan Misa khusus live streaming yang dipimpin oleh Bapak Uskup pada jam 08.00 pagi hari Minggu 28 Juni 2020. Mas Handoko sudah mempersiapkan peralatan di kapel sejak Sabtu malam sebelumnya. Ruang pertemuan dalam bangunan induk pada Sabtu malam juga sudah ditata meja dan kursinya. Pada pagi hari Bu Rini dan kemudian disusul oleh Bu Titik Waluyanti membawa aneka snak. Kebetulan pada Sabtu 27 Juni 2020 ada 2 orang warga Katolik Pringgolayan memberikan beberapa macam camilan.  Bu Rini membawa face shield untuk dipakaikan kepada masing-masing rama yang ikut misa (Rm. Ria, Rm.Harto, Rm Tri Hartono, Rm. Jaya, Rm. Suntara, Rm. Yadi, dan Rm. Bambang). Acara ikut misa streaming pun terjadi dari jam 08.00 hingga jam 09.15.

"Kita istirahat sekitar 15 menit. Nanti kita kumpul duduk-duduk santai di ruang pertemuan. Kita akan menikmati aneka macam snak. Saya juga akan bercerita tentang kisah Gereja Semarang pada awal hingga menjadi keuskupan pada tahun 1940. Kebetulan saya menyimpan bahan yang saya bawa dari Museum Misi Muntilan." Ini adalah kata-kata Rm. Bambang sesudah Misa selesai. Ketika berada di ruang pertemuan semua mendapati paling tidak 6 macam snak. Minuman memang hanya teh dan coca-cola/fanta. Para rama, karyawan Domus yang ada di hari Minggu, Mas Handoko, Bu Rini, Bu Titik Waluyanti, dan Bu Riwi asyik menikmati snak. Kemudian Rm. Bambang menampilkan tayangan power ponit untuk mendukung ceritanya. Setiap kali muncul pertanyaan-pertanyaan spontan. Penceritaan memang memakai bahasa Jawa seperti omong-omong personal. Pertemuan omong-omong sambil menikmati snak selesai pada jam 11.25. Para rama kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat barang sejenak. Ketika kembali lagi di kamar makan, semua menghadapi hidang lauk pauk yang terasa amat meriah. Selain berasal dari relawan masak sesuai giliran, ada menu-menu yang didatangkan khusus dari rumah makan. Santapan khusus ini juga terjadi di makan malam. Bu Rini mengurus pengadaan gudeg di samping lauk pauk giliran tanggal 28 sore. Semua ini terjadi dengan harapan agar para rama tua sungguh merasakan hari syukur ulang tahun ke 80 Keuskupan Agung Semarang.

Lamunan Hari Raya

Santo Petrus dan Santo Paulus, Rasul

Senin, 29 Juni 2020 

Matius 16:13-19                            

13. Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?" 14 Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi." 15 Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" 16 Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" 17 Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. 18 Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. 19 Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, orang dapat merasa bahagia kalau memiliki keberhasilan hidup. Dia dapat sukses dalam kerja dan studi.
  • Tampaknya, orang juga dapat merasa bahagia kalau memiliki prestasi. Dia mengalami keunggulan tertentu yang mengatasi orang-orang sekitarnya atau bidang hidupnya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa,  bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun memiliki banyak kesuksesan dan prestasi, orang belum tentu sungguh bahagia bila hidupnya tidak menjadi bagian fondasi bangunan kebersamaan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang terpanggil menjadi bagian dasar kehidupan bersama sesuai dengan karunia yang dimiliki.

Ah, pada jaman kini orang harus menanggung hidupnya sendiri-sendiri.

Beato Sabas Ji Hwang

diambil dari katakombe.org/para-kudus  Hits: 1633 Diterbitkan: 19 Januari 2019 Diperbaharui:02 Februari 2019

  • Perayaan
    28 Juni
    20 September (Pesta Para Martir Korea)
  •  
  • Lahir
    Tahun 1767
  •  
  • Kota asal
    Seoul Korea Selatan
  •  
  • Wafat
    28 June 1795, di Seoul Korea Selatan | Martir.
    Dipukuli sampai tewas dengan tubuh hancur dan tulang-tulangnya remuk
  •  
  • Venerasi
    7 Februari 2014 oleh Paus Fransiskus (decree on martyrdom)
  •  
  • Beatifikasi
    15 Agustus 2014 oleh Paus Fransiskus

Ji Hwang (atau Ji Hong) lahir pada tahun 1767 dari keluarga musisi di istana kerajaan. Ketika para missionaris mulai mewartakan Injil di Korea, Ji Hwang dengan sukarela mulai mempelajari iman Kristiani dan pada akhirnya ia memberikan dirinya untuk dibabtis sebagai anggota Gereja Kudus dengan nama babtis: Sabas (atau “Saba” dalam Ejaan Korea).

Sabas adalah seorang yang jujur dan rajin, yang mengabdikan hidupnya untuk melayani Tuhan dan Gereja-NYA. Ia bahkan bertekad untuk mempersembahkan hidupnya bagi Tuhan. Demi imannya akan Yesus Kristus, Sabas tidak pernah merasa takut menghadapi ancaman kemiskinan atau penderitaan.

Sejak tahun 1789, para pemimpin umat Katolik di Korea telah melakukan berbagai upaya untuk mendatangkan imam ke Korea. Pada masa itu, umat Katolik di Korea diperkirakan berjumlah sekitar empat ribu orang dengan tidak memiliki seorang imam pun selama puluhan tahun. Upaya pertama dilakukan pada tahun 1791 dengan mengirimkan utusan ke Beijing untuk meminta uskup Beijing mengirimkan imam bagi umat Katolik Korea. Upaya ini mengalami kegagalan karena penganiayaan yang terjadi pada akhir tahun itu. Pada Tahun 1793, umat Katolik Korea kembali berupaya mengirim utusan ke Beijing yang membawa permohonan umat Katolik Korea pada Uskup Beijing agar mengirimkan seorang imam bagi mereka. Paulus Yun Yu-il (yang pernah tinggal di Beijing), Sabas Ji dan Yohanes Pak terpilih sebagai utusan umat Katolik Korea untuk berangkat ke Beijing.

Para utusan ini berangkat secara rahasia dengan berjalan kaki menempuh jarak lebih dari 1200 KM dari Seoul Korea ke Beijing China. Mereka bersama-sama tiba di perbatasan Utara Korea – China. Untuk alasan yang tidak diketahui, Paulus Yun tetap tinggal di perbatasan sementara Sabas Ji Hwang dan Yohanes Pak menyeberangi Sungai Amnok dan meneruskan perjalanan ke Beijing. Ketika mereka tiba di Beijing, bapa Uskup Alexandre de Gouvea (Uskup Beijing sejak tahun 1782 sampai tahun 1808) sangat terkesan dengan kesalehan hidup dua katekis dari Seoul Korea ini. Dalam catatannya dan bapa uskup menulis tentang Sabas Ji-Hwang : 

Walau jumlah imam Beijing masih sangat terbatas, namun bapa uskup bersedia membantu umat Korea dan mengutus seorang imam terbaiknya, Yakobus Zhou Wen-Mo untuk menjadi missionaris di semenanjung Korea. Sabas Ji-Hwang dan Pater Yakobus Zhou lalu mengatur waktu dan rute perjalanan dari Beijing menuju perbatasan. Mereka akan menempuh rute perjalanan yang berbeda menuju perbatasan karena adanya pengawasan yang sangat ketat bagi orang asing yang ingin memasuki wilayah Korea.

Setelah bertemu kembali di perbatasan, mereka harus berpisah lagi sambil menunggu datangnya musim dingin (Sungai Yalu akan membeku di musim dingin. Hal ini memungkinkan mereka untuk menyelundupkan pater Yakobus ke wilayah Korea secara diam-diam tanpa melewati pos pemeriksaan). Sabas Ji Hwang dan Yohanes Pak kembali ke Seoul sedangkan pater Yakobus Zhou mengisi waktunya dengan melayani umat Katolik di wilayah Liao-dong selama beberapa bulan.

Pada tengah malam tanggal 24 Desember (3 Desember pada penanggalan Lunar), Sabas Ji dan Yohanes Pak berhasil menyelundupkan pater Yakobus Zhou ke wilayah Korea lewat sungai Yalu yang tengah membeku. Mereka lalu melanjutkan perjalanan dan tiba di Seoul dua belas hari kemudian.

Di Kota Seoul, Pater Zhou tinggal di rumah Matias Choe In-gil, di wilayah Gyedong (Sekarang Gye-dong, Jongno-gu, Seoul). Dia mulai belajar bahasa Korea dan merayakan misa perdananya bersama umat Katolik Korea pada hari Minggu Paskah tahun 1795. Setelah beberapa waktu, keberadaannya diketahui oleh polisi Kerajaan dan mereka berupaya untuk menangkapnya. Dalam sebuah penggrebekkan Pater Yakobus Zhou berhasil meloloskan diri dan bersembunyi di rumah Kolumbanus Kang Wan-suk. Namun, Matias Choe In-gil (pemilik rumah), Paulus Yun Yu-il dan Sabas Ji-Hwang semuanya di tangkap.

Sabas Ji dan para sahabatnya dibawa ke Kantor Polisi dan harus menjalani hukuman berat. Mereka disiksa berulang-ulang agar menunjukkan keberadaan pater Yakobus Zhou, namun mereka semua menolak untuk mengkhianatinya. Walaupun mereka terus disiksa, namun kebahagiaan surgawi memenuhi hati mereka. Para penganiaya kemudian menyadari bahwa Sabas Ji tidak akan mengkhianati pater Yakobus Zhou. Mereka lalu memukuli katekis ini sampai tubuhnya hancur dan tulang-tulangnya remuk. Sabas Ji-Hwang tewas sebagai martir Kristus yang jaya pada tanggal 28 Juni 1795 dalam usia 28 tahun.

Uskup Alexandre Gouvea, yang mendengar kisah kemartiran mereka melalui seorang utusan, menulis tentang kepahlawanan Sabas Ji dan para sahabatnya :

Saturday, June 27, 2020

Lamunan Pekan Biasa XIII

Minggu, 28 Juni 2020

Matius 10:37-42                            

37 Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. 38 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. 39 Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. 40 Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. 41 Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. 42 Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, orang dapat mengatakan bahwa keluarga adalah harta yang paling berharga. Orang dapat bekerja keras demi kehidupan keluarga.
  • Tampaknya, orang dapat mengatakan bahwa keluarga adalah basis kehidupan. Orang harus berjuang untuk setia satu sama lain di dalam keluarga.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sesetia apapun terhadap keluarga sehingga bekerja keras demi kesejahteraannya, bila orang tidak melandaskan hidup pada kata nurani, keluarga justru dapat jadi sebab kebusukan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan siaga mengalami konflik hidup termasuk dengan orang serumah.

Ah, benar atau salah keluarga harus selalu dibela.

Santo Sirilus dari Alexandria

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 5806 Diterbitkan: 01 September 2013 Diperbaharui: 20 Oktober 2019

  • Perayaan
    27 Juni
  •  
  • Lahir
    tahun 370
  •  
  • Kota asal
    Alexandria - Mesir
  •  
  • Wafat
    tahun 444 - Sebab alamiah
  •  
  • Venerasi
    -
  •  
  • Beatifikasi
    -
  •  
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation

Sirilus dilahirkan di Alexandria Mesir pada tahun 370. Pamannya adalah patriark atau uskup agung Aleksandria bernama Teofilus. Pamannya seorang yang baik, tetapi terkadang cepat marah dan keras kepala. Patriark Teofilus adalah salah seorang yang bertanggung-jawab atas pembuangan pertama St. Yohanes Krisostomus pada tahun 403. Tetapi kaisar membawa kembali Patriark Yohanes ke Konstantinopel setelah terjadi huru-hara dan gempa bumi di kota itu.  Tampaknya Sirilus juga ikut terpengaruh oleh prasangka buruk pamannya terhadap Patriark Yohanes. Karena itu Sirilus juga mendukung pengucilan terhadap Patriark Yohanes Krisostomus.

Ketika pamannya wafat pada tahun 412, Sirilus diangkat menggantikannya. Ia mempunyai cinta yang berkobar-kobar kepada Gereja dan kepada Yesus. Ia tidak mencari pujian orang ataupun kedudukan karena ia seorang yang jujur, suka berterus terang dan tegas. Sikapnya ini membuat banyak orang tidak menyukainya. Namun Ia tidak peduli. Dengan gagah berani ia tetap mewartakan dan mempertahankan iman Gereja dari ajaran-ajaran sesat. Namun, seperti pamannya Teofilus, Patriark Sirilus juga adalah seorang yang keras kepala. 

Perangainya ini pastilah membuatnya menderita. Walau demikian, umat Kristiani patut berterima kasih kepadanya atas banyak kecakapannya yang mengagumkan. Sebagai misal, ia dengan tidak gentar membela Gereja dan membela apa yang ia yakini kebenarannya. St. Sirilus adalah wakil Paus Santo Selestinus I dalam Konsili Efesus pada tahun 431. Konsili ini merupakan sidang resmi Gereja yang melibatkan lebih dari dua ratus uskup yang ada waktu itu. Mereka memeriksa ajaran sesat Nestorian yang diajarkan oleh Patriark Nestorius. Hasil Konsili menerangkan dengan jelas bahwa Nestorius salah dalam beberapa kebenaran penting yang kita yakini. Paus memberinya waktu sepuluh hari untuk berjanji bahwa ia tidak akan mewartakan ajaran-ajarannya sendiri yang salah. Tetapi Nestorius tidak mau. Konsili menjelaskan kepada umat Allah bahwa kita tidak dapat menerima ajaran-ajaran sesat. Para uskup begitu jelas menerangkan hingga ajaran-ajaran sesat ini tidak pernah lagi menjadi ancaman besar bagi Gereja.

Gereja sangat berterima kasih kepada Patriark Alexandria Sirilus yang telah memimpin jalannya Konsili. Pada akhirnya Nestorius dengan diam-diam pulang kembali ke biaranya dan tidak lagi membingungkan umat.  Sirilus kembali juga ke keuskupan agungnya dan bekerja keras demi Gereja hingga ia wafat pada tahun 444. Paus Leo XIII memaklumkan St. Sirilus sebagai Pujangga Gereja pada tahun 1883.

Friday, June 26, 2020

Minggu Biasa XIII th A 28 Jun 2020 (Mat 10:37-42)

diambil dari https://unio-indonesia.org/2020/06/24; ilustrasi dari koleksi Blog Domus


MENGIKUTI YESUS? FORGET ABOUT IT, BILA…

Injil Minggu Biasa XIII tahun A ini, Mat 10:37-42, keras bunyinya. Mereka yang mengasihi anggota keluarga lebih daripada Yesus dikatakan tak layak baginya. Juga yang tak sanggup memikul salib disebut tak layak baginya. Yang mau mempertahankan nyawa bahkan akan kehilangan, sedangkan yang kehilangan nyawa karena dia akan memperolehnya. Begitulah ay. 37-39. Apakah semua tuntutan tadi sepadan? Selanjutnya dalam ay. 40-42 ditegaskan, barangsiapa menerima utusan Yesus menerima dia sendiri. Sama halnya dengan orang yang menerima nabi akan mendapat imbalan seperti yang didapat sang nabi sendiri, begitu juga menerima orang benar membuat yang bersangkutan ikut menjadi orang benar. Kebaikan sekecil apapun kepada para murid Yesus, ibarat memberi air sejuk secangkir saja, akan mendatangkan imbalan.

APA YANG DIBAWAKAN YESUS

Ajaran kristiani biasa diperkenalkan sebagai ajaran yang penuh pengertian akan sisi-sisi manusiawi. Tetapi dalam bacaan kali ini Yesus menyuarakan pelbagai tuntutan yang berat. Beberapa ayat sebelum petikan hari ini Yesus malah menyatakan meleset sangkaan orang bahwa ia datang membawa damai. Ia datang membawa pedang (Mat 10:34). Bagaimana penjelasan kata-kata keras Yesus ini?

Dalam masyarakat Yahudi waktu itu ada harapan akan datangnya seorang Mesias yang membawakan damai, kemakmuran, kejayaan, kebesaran. Bila dipandang dalam konteks ini kata-kata Yesus tadi menjadi lebih mudah dimengerti. Ia menyatakan diri bukan Mesias seperti yang mereka pikirkan. Ada latar lain yang dapat menjelaskan kata-kata keras Yesus ini. Dulu kala di zaman para nabi menjelang keruntuhan Yerusalem ada sekelompok orang yang menyebut diri nabi dan menenteramkan orang banyak dengan mengatakan akan datang damai yang bakal membuat keadaan politik kalang kabut masa itu berubah. Para nabi “damai” ini meninabobokan hati nurani orang dengan gagasan-gagasan mereka sendiri . Mereka ini nabi palsu. Yeremia menelanjangi mereka (Yer 23:9-40; lihat ay. 17). Memang akibatnya ia dimusuhi. Justru karena berusaha membuat pikiran orang melihat kenyataan bobrok dalam masyarakat mereka. Yesus juga berlaku seperti Yeremia. Karena itu juga dimusuhi, bahkan juga oleh orang-orang yang dekat.

Pedang bisa memilah-milah dan kehadiran Yesus memang memotong yang busuk dari yang masih bisa diselamatkan. Murid diajak melihat kenyataan yang memang tidak mengenakkan ini. Tapi keberanian melihat yang busuk dan berusaha melepaskan termasuk sikap iman yang diminta dari para pengikut Yesus. Kehadirannya juga bisa memisahkan orang dengan sanak keluarga terdekat (Mat 10:35-37). Itulah konteks petikan hari ini.

LAYAK BAGI YESUS?

Ketiga ayat pertama dalam petikan hari ini, yakni Mat 10:37-39, jelas ditujukan kepada para rasul, yakni mereka yang dipilih Yesus untuk menjalankan perutusannya. Tetapi semangat serta isinya diperuntukkan bagi siapa saja yang hendak menjadi murid. Nanti dalam Mat 16:24-26 perihal memikul salib dan membiarkan diri kehilangan nyawa demi Yesus diajarkan kepada para murid pada umumnya, bukan hanya kepada para rasul yang duabelas tadi saja. Begitu pula dalam Mrk 8:34-36. Pembicaraan mengenai pertentangan dengan sanak keluarga, memikul salib, merelakan nyawa sendiri juga didapati dalam Luk 12:51-53 dan 14:26-27 dan di situ jelas ditujukan kepada para murid pada umumnya.

Serangkai tuntutan tinggi yang diperdengarkan Injil hari ini lebih cocok bila dimengerti sebagai gambaran mengenai yang nyata-nyata terjadi dalam kehidupan para murid pada waktu itu, bukan sebagai pengarahan, norma, atau patokan untuk menjadi murid.

Bukan tanpa maksud bila Mat 16:24-26 dan Mrk 8:34-36 tadi disampaikan setelah pemberitahuan yang pertama akan penderitaan Yesus, yakni bahwa ia akan ditentang para pemimpin Yahudi dan tokoh masyarakat, sampai dibunuh, tetapi ia akan dibangkitkan pada hari ketiga, lihat Mat 16:21 Mrk 8:31. Pemberitahuan ini diberikan sesudah pengakuan Petrus bahwa Yesus itu Mesias. Jadi semakin dekat murid mengenal siapa Yesus itu, semakin mereka diharapkan bersedia mengutamakan dia.

MEMIKUL SALIB DAN MENGIKUTINYA

Hidup Yesus itu hidup yang dibaktikan kepada kehendak yang mengutusnya ke dunia. Yesus dapat menghadirkan keilahian karena meluangkan diri untuk itu dengan menjalankan “kenosis”- pengosongan diri. Begitulah disebut dalam sebuah madah awal yang disampaikan dalam surat kepada orang Filipi 2:6-9: “Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, ia justru telah mengosongkan dirinya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia ia telah merendahkan dirinya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan dia…” tentunya bukan asal membuat diri kosong, melainkan meluangkan diri agar dipenuhi keilahian. Oleh karena itulah Yesus Kristus dapat menunjukkan gambar dari Allah yang tak terlihat.

Namun demikian, kita sering kurang menyadari bahwa kenosis seperti itu hanya dapat dilakukan oleh Yesus karena hanya dia sajalah yang dipilih untuk itu. Hanya dialah satu-satunya yang ditunjuk oleh Yang Mahakuasa seperti terungkap pada saat ia dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Ada suara dari langit yang menegaskan bahwa dia itu anakNya yang terkasih, kepadanyalah Tuhan berkenan (Mrk 1:11; Mat 3:17; Luk 3:22). Artinya, hidupnya menjadi kenampakan Yang Ilahi. Penegasan yang sama dijumpai dalam penampakan kemuliaan Yesus di gunung. Dalam peristiwa ini suara dari langit menambahkan seruan agar orang mendengarkan dia (Mrk 9:7; Mat 17:17; Luk 9:35). Tidak mudah menerapkan peluangan diri dalam ujud kenosis begitu saja kepada orang lain. Yang diminta dari orang banyak ialah kesadaran mengenai apa yang terjadi pada Yesus dan apa yang dilakukannya.

Maka dari itu orang yang ingin meniru-niru Yesus sulit berhasil. Paling-paling hanya akan sampai pada salib yang menyakitkan belaka. Lebih buruk lagi, mereka malah akan memaksa-maksakan salib tiruan yang bukan salibnya Yesus. Cara yang paling menjamin agar berada pada jalan yang benar ialah mengikuti Yesus sendiri. Bila kita berpikir demikian, tak usah salib dicari-cari. Salib sudah ditemukan Yesus dan orang tinggal ikut memanggulnya. Ikut meringankan salib Yesus. Itulah bagian para murid. Nanti dalam Mat 11:28-30 ada ajakan bagi orang yang merasa berbeban berat agar menggantikannya dengan beban yang diberikan Yesus – bebannya itu ringan dan melegakan! Salib yang benar ini membuat orang menjadi rekan seperjalanan Yesus. Dalam artian itulah Yesus berkata: “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut aku, ia tak layak mengikut aku.” (Mat 10:38 lihat juga Mrk 8:34; 10:21; Mat 16:24; Luk 9:23; 14:27). Dalam semua ayat itu, “memikul salib” tak bisa dipisahkan dari “mengikut aku”. Bila dipisahkan, beban yang dipikul orang bisa-bisa bukan lagi salib yang membawa ke “keselamatan”, tapi berhenti pada penderitaan yang tanpa ujung pangkal.

IMBALAN

Ditandaskan pula bahwa mereka yang berusaha menyelamatkan diri (= “nyawanya”) malah tidak akan menemukan diri (= “kehilangan nyawanya”), tetapi sebaliknya mereka yang menemukan diri dalam Yesus (=“kehilangan nyawanya karena aku”) akan menemukan keselamatan (= “menyelamatkan nyawanya”). Di sini terungkap salah satu pokok spiritualitas kristiani. Hidup sebagai orang kristen baru ada artinya bila membuat diri menjadi kenampakan Yesus yang dengan salibnya telah menampakkan keilahiannya. Tak disangkal adanya pelbagai tarikan menjauhinya. Ada pula ikatan-ikatan yang menyulitkan. Menjadi murid ialah upaya memerdekakan batin. Itulah imbalan yang dapat diharapkan. Kemerdekaan batin membuat para murid dapat memperkenalkan siapa yang mengutus mereka dengan cara yang amat transparan tanpa menghapus kepribadian sendiri.

Ajaran kristiani mengajak orang mendekati kehadiran ilahi dan membiarkan diri menjadi tempat bagiNya. Ingin menjadi murid Yesus? Forget about it bila tetap bermaksud menampilkan diri sendiri beserta ikatan-ikatan yang membuat orang yang dilayani kurang bisa menerima imbalan yang dijanjikan ay. 40-42 tadi. Injil hari ini dapat dipakai Gereja untuk berkaca dan melihat di mana sedang berada.

Salam hangat,

A. Gianto

Lamunan Pekan Biasa XII

Sabtu, 27 Juni 2020

Matius 8:5-17                                

5. Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya: 6 "Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita." 7 Yesus berkata kepadanya: "Aku akan datang menyembuhkannya." 8 Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. 9 Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya." 10 Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel. 11 Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga, 12 sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi." 13 Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: "Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya." Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya. 14. Setibanya di rumah Petrus, Yesuspun melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. 15 Maka dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Iapun bangunlah dan melayani Dia. 16 Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit. 17 Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, ada gambaran bahwa untuk dikabulkan dalam doa permohonan orang harus hidup dekat dengan Tuhan. Untuk dekat dengan Tuhan orang berjuang berperilaku layak.
  • Tampaknya, untuk berperilaku layak di hadapan Tuhan orang akan tekun menghayati agama. Dengan tekun beragama bila mengajukan doa permohonan orang mudah dikabulkan oleh Tuhan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun sudah merasa layak karena tekun beragama, di dalam kesejatian doa permohonan orang justru tetap memiliki kesadaran akan ketidaklayakan bila berhadapan dengan Tuhan. Di dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan amat layak di mata Tuhan karena memiliki kesadaran tak memiliki kelayakan berhadapan dengan-Nya.

Ah, yang tak layak hidupnya akan mendapatkan siksa dari Tuhan.

Santo Pelagius

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 4109 Diterbitkan: 31 Agustus 2013 Diperbaharui: 19 Juni 2016

  • Perayaan
    26 Juni
  •  
  • Lahir
    Sekitar tahun 912
  •  
  • Kota asal
    di Asturias, Spanyol
  •  
  • Wafat
    Disiksa sampai mati di tahun 925
  •  
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation

Bocah martir dari Spanyol ini hidup pada masa ketika bangsa Moor berkuasa atas sebagian tanah airnya. Bangsa Moor memusuhi umat Kristiani Spanyol. Pelagius baru berusia sepuluh tahun ketika pamannya harus meninggalkannya sebagai tawanan bangsa Moor di kota Cordova. Ia tidak akan dibebaskan sebelum pamannya menyerahkan apa yang dikehendaki bangsa Moor.

Tiga tahun berlalu dan remaja belia Kristen ini masih seorang tawanan. Sekarang, ia telah menjadi seorang remaja tigabelas tahun yang tampan penuh semangat hidup. Walau banyak teman tawanan lainnya adalah orang-orang dewasa yang bertabiat buruk, Pelagius tidak meniru tabiat mereka. Meski muda, ia memiliki kehendak yang kuat dan tahu bagaimana memelihara diri sebagai seorang pengikut Kristus yang baik.

Penguasa bangsa Moor mendengar juga berita-berita baik mengenai Pelagius. Ia memanggil remaja itu. Pelagius memang tampan dan tahu sopan santun. Penguasa Moor jatuh hati dan hendak membebaskannya dari penjara. Bagaimanapun, ia hanyalah seorang anak. Kepada Pelagius ditawarkan kebebasan, juga pakaian-pakaian indah untuk dikenakannya. Dan bukan hanya itu saja, kepadanya juga akan dihadiahkan kuda-kuda gagah dan sejumlah uang. Semua itu akan menjadi miliknya jika ia bersedia mengingkari imanmnya dan menjadi seorang Muslim seperti para penawannya.

“Semua yang kalian sebut itu tak ada artinya bagiku,” kata anak itu tegas. “Aku seorang Kristiani sejak dahulu. Aku seorang Kristiani sekarang. Aku akan tetap menjadi seorang Kristiani.” Penguasa itu terperanjat. Ia mengubah taktiknya. Bukannya janji-janji, sekarang ia melontarkan ancaman-ancaman, tetapi semuanya sia-sia belaka. Dengan murka, ia lalu memerintahkan agar Pelagius dipenggal.

Pelagius yang saat itu masih berusia tigabelas tahun, wafat sebagai martir Kristus pada tahun 925.

Setiap Martir Adalah Persembahan Bagi Gereja