Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Tuesday, April 30, 2019

Percikan Nas Rabu, 01 Mei 2019

St. Yusuf Pekerja
warna liturgi Putih

Bacaan-bacaan:
Kis. 5:17-26; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7,8-9; Yoh. 3:16-21. BcO Why. 2:12-29.

Bacaan Injil: 
16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. 17 Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. 18 Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. 19 Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. 20 Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; 21 tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah."

Memetik Inspirasi:
Hari ini tanggal 1 Mei. Bagi para buruh ini disebut hari buruh. Bagi Gereja Katolik merupakan peringatan St. Yusup Pekerja. Pada tanggal ini pula kita memasuki bulan Maria. Aneka kegiatan yang menyangkut buruh, pekerjaan dan devosi kepada bunda Maria pun dilakukan.
Bulan ini pun menjadi kesempatan bagi kita untuk kembali kepada jalan terang Tuhan dalam tuntunan doa dan terang St. Yusup dan Bunda Maria. Masa-masa di mana kita bisa mengambil inspirasi dari cara hidup dua pribadi suci ini. Apa yang bisa kita pelajari dan ambil dari dua pribadi ini?
Pasti ada banyak hal yang bisa kita pelajari dan ambil dari hidup St. Yusup dan bunda Maria. Salah satu yang bisa kutemukan dari kedua pribadi ini adalah kesanggupan yang diperjuangkan sampai akhir. Maria mengatakan “ya" pada pesan yang dibawa oleh Gabriel. Yusup pun mengatakan “ya" kala malaikat datang kepadanya dalam mimpi untuk mengambil Maria sebagai isterinya. Kedua pribadi ini pun memperjuangkan kesanggupannya sampai akhir hidupnya. Mereka bilang “nggih" dan “kepanggih". Mari kita pun berani mmewujunyatakan kesanggupan kita walau harus melalui jalan berat.

Refleksi:
Apakah aku mewujudkan kesanggupanku?

Doa:
Tuhan pada-Mu ada kekuatan. Kami percaya Engkau akan selalu membantu kami untuk mewujudkan apa yang kami sanggupi. Jangan biarkan kami putus asa hanya karena kecewa. Semoga kami mampu mengubah kekecewaan menjadi rahmat yang menggembirakan. Amin.

Nggih Kepanggih
MoGoeng
Wates

Lamunan Pekan Paskah II

Rabu, 1 Mei 2019

Yohanes 3:16-21

3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
3:17 Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.
3:18 Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.
3:19 Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.
3:20 Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak;
3:21 tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, orang merasa bahagia kalau memiliki kekasih. Orang muda akan memiliki hati berbunga-bunga karena memiliki pacar.
  • Tampaknya, orang merasa bahagia kalau memiliki keluarga yang penuh kasih. Orang tua akan merasa senang melihat anak maju dan berkembang.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sebahagia apapun seseorang mengalami suasana saling mengasih, dia baru sungguh menjalani kasih kalau mampu dengan ikhlas kehilangan yang berharga dalam dirinya demi kebaikan dan kebahagiaan yang disayangi. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang mengalami kebahagiaan saling mengasih justru dalam kesediaan saling berkurban.
Ah, yang namanya bahagia itu ya yang selalu terasa enak.

Percikan Nas Selasa, 30 April 2019

Pius V, Benedictus dari Urbino, Maria dari Inkarnasi
warna liturgi Putih

Bacaan-bacaan
Kis. 4:32-37; Mzm. 93:1ab,1c-2,5; Yoh. 3:7-15. BcO Why. 2:1-11.

Bacaan Injil:
7 Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. 8 Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh." 9 Nikodemus menjawab, katanya: "Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?" 10 Jawab Yesus: "Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu? 11 Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami. 12 Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi? 13 Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia. 14 Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, 15 supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.

Memetik Inspirasi:
Saat ini, di negara kita, ada orang yang gembira dan ada pula yang lagi sedih dan kecewa dengan hasil pemilu. Mereka yang menang dan lolos tentu bergembira. Mereka yang gagal kecewa. Sebagian dari yang gagal pun bertingkah aneh bahkan sulit menerima kekalahannya. Ada yang sampai stress, ada yang sampai berkali-kali mendeklarasikan kemenangan, ada yang meminta balik bantuan yang telah diberikan dll. Data-data objektif ditolak demi mempertahankan data impiannya.
Nikodemus kesulitan menerima bahasan duniawi dari Yesus. Tentu ia pun akan lebih kesulitan kalau harus bicara soal-soal rohani. Untuk mampu menangkap hal-hal rohani diperlukan kelahiran baru sehingga orang mampu menerima  dengqn hati terbuka dan jernih.
Pemilu telah selesai. Aneka kemampuan telah dicurahkan. Hasil telah bisa diprediksi. Saat ini yang mesti ada adalah sikap legowo dan bijak dalam diri setiap kontestan untuk menerima kelahiran baru. Amarah, kepedihan dsb tidak akan mampu mengubah hasil yang ada. Keikhlasan akan menolongnya kembali hidup secara baru dan berdaya. Tidak perlu lagi mengingkari data-data objektif yang ada. Menerima, lahir secara baru dan bangkit lagi kiranya menjadi cara terbaik.

Refleksi:
Bagaimana menghidupi secara baru ketika gagal?

Doa
Tuhan rahmat-Mu tak pernah berhenti. Engkau selalu memberikan kekuatan kepada mereka yang tak berdaya. Semoga kegagalan-kegagalan tidak membuat semangat hidup kami kendor. Lahirkan kami secara baru. Amin.

Legowo
MoGoeng
Wates

Monday, April 29, 2019

Santo Paus Pius V

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 4373 Diterbitkan: 01 Desember 2014 Diperbaharui: 04 Desember 2014

  • Perayaan
    30 April
  • Lahir
    17 January 1504
  • Kota asal
    Bosco, Lombardy, Italy
  • Wafat
    1 Mei 1572 di Roma, Italy
    Dimakamkan di the chapel of San Andrea, Saint Peter’s basilica, Vatican City
  • Beatifikasi
    1 Mei 1672 oleh Paus Klemens X
  • Kanonisasi
    22 Mei 1712 oleh Paus Klemens XI Sumber : Katakombe.Org

Paus yang kudus ini dilahirkan di Italia pada tahun 1504. Ia dibaptis dengan nama Antonius Ghislieri. Antonius sungguh ingin menjadi seorang imam, tetapi tampaknya angan-angannya itu tidak akan pernah menjadi kenyataan. Orangtuanya miskin. Mereka tidak punya cukup uang untuk menyekolahkannya.
Suatu hari, dua orang imam Dominikan datang ke rumahnya dan bertemu dengan Antonius. Para imam itu amat suka kepadanya hingga mereka bersedia mengurus pendidikannya. Demikianlah, pada usia empat belas tahun, Antonius bergabung dalam Ordo Dominikan. Ia memilih nama “Mikhael”. Setelah menamatkan studinya, ia ditahbiskan sebagai imam. Kemudian ia ditahbiskan pula sebagai uskup dan kardinal.
Dengan gagah berani ia mempertahankan ajaran-ajaran Gereja dari mereka yang berusaha menentangnya. Ia senantiasa hidup dengan bermatiraga. Ketika usianya enam puluh satu tahun, ia dipilih menjadi paus. Ia memilih nama Paus Pius V. Dulu ia seorang bocah penggembala domba yang miskin. Sekarang ia adalah pemimpin tertinggi Gereja Katolik di seluruh dunia. Walaupun demikian, Paus tetap rendah hati dan sederhana seperti sedia kala. Ia masih mengenakan jubah Dominikan-nya yang putih, jubah tua yang selama ini dikenakannya. Dan tak seorang pun dapat membujuknya untuk menggantinya.
Paus Pius V harus menghadapi banyak tantangan. Ia menimba kekuatan dari salib Yesus. Setiap hari ia merenungkan sengsara dan wafat Kristus. Ia membuka banyak Seminari baru, merevisi brevir, dan buku katekismus baru diterbitkan. Yayasan-yayasan didirikan untuk menyebarkan Iman dan melestarikan ajaran Gereja. Paus Pius V membangun rumah-rumah sakit dan menggunakan kas kepausan untuk merawat orang miskin.

Pertempuran Lepanto - Santa Maria Ratu Rosari
Pada masa itu, Gereja Kristus sedang dilanda ancaman besar dari bangsa muslim Turki yang ingin menguasai Eropa dan memusnahkan Kekristenan. Bapa Suci memberi peringatan kepada para raja dan pangeran di Eropa mengenai situasi bahaya yang sedang mengancam, namun saat itu tak seorang pun yang mempedulikannya.
Ketika Jenderal La Valette yang hebat itu mempertahankan Malta dari serangan bangsa Muslim Moor, tak seorang pun yang membantunya kecuali Paus Pius V yang mengirimkan uang dari Kas Vatikan untuk mempertahankan benteng Kristen yang penting tersebut. Ketika bangsa Turki berhasil dipukul mundur, Raja Turki, Selim II, mempersalahkan Paus dan menyatakan perang terhadap Italia dan mengancam akan menghancurkan setiap kota di Italia.
Menghadapi ancaman demikian, Paus Pius V memerintahkan setiap Gereja di Italia untuk mengadakan devosi selama 40 jam. Raja Selim II menertawakan cara Paus menghadapi ancaman pertempuran seperti itu. Tapi setelah banyak tertawa, 3 hari kemudian Selim II wafat secara mendadak.
Kematian Selim II rupanya tidak menghentikan rencana invasi bangsa Turki ke Italia. Para panglima Turki : Müezzinzade Ali Pasha, Suluc Mehmed Pasha dan Uluç Ali Reis tetap memimpin armada perang dan bergerak menuju Italia. Paus Pius V kembali harus memohon pada para penguasa di Eropa agar bahu-membahu menghadapi ancaman ini. Para penguasa Kristen di Eropa kemudian membentuk sebuah aliansi untuk menghadapi ancaman ini. Armada perang Kristen yang terbentuk dari aliansi ini dipimpin oleh Don Luis de Requesens dan Don Álvaro de Bazán dari Kerajaan Spanyol, dan Gianandrea Doria dari Genoa. Ikut pula seorang pangeran muda dari Austria yang juga adalah adik tiri dari Raja Spanyol; bernama Don John of Austria.
Meskipun Don John belum berpengalaman, namun Paus Pius V mengangkatnya sebagai panglima dari Armada perang Kristen tersebut. Kepadanya Bapa Suci berkata : “Pergilah anakku, karena aku tahu Tuhan akan memberimu kemenangan. Rosario akan menjadi keselamatan bagi kita!”
Bapa Suci kemudian memberkati kapal-kapal dan seluruh armada diserahkan di bawah perlindungan Bunda Maria Ratu Rosario. Semua yang ada di kapal menerima komuni kudus setiap hari dan berdoa rosario berkali-kali dalam sehari.
Pada bulan Oktober 1571 armada perang Turki yang luar biasa besar berlayar menuju Eropa. Sasarannya adalah menaklukkan Italia, menduduki kota Roma dan menghancurkan Kekristenan. Don John dan para komandannya segera menyongsong mereka. Kedua armada perang ini bertemu di suatu wilayah yang disebut Lepanto, dekat Yunani, dan terjadilah pertempuran laut yang sangat dahsyat yang saat ini dikenang dengan nama "Pertempuran Lepanto". Kekuatan kedua belah pihak sangat tidak seimbang dan armada perang Turki jauh lebih unggul. Turki memiliki 251 kapal perang dan 31.490 orang tentara, sedangkan armada Kristen hanya memiliki 212 kapal perang dan 28.500 orang tentara (Sumber : Wikipedia).
Sejak armada Kristen keluar menyongsong musuh, lonceng-lonceng Gereja diseluruh Italia terus menerus dibunyikan pada jam-jam tertentu. Para imam akan mengumpulkan segenap umatnya dan bersama-sama mereka berdoa rosario. Paus Pius V masuk kapel pribadinya dan tetap tinggal di sana sambil terus berdoa rosario.
Dalam peperangan, Don John tetap menyuruh anak buahnya bertempur sambil berdoa rosario. Dan hasilnya sungguh sangat luar biasa. Dari sudut pandang sebagai manusia, kemenangan bagi armada Kristen adalah sesuatu yang mustahil. Namun selama pertempuran berlangsung; Bapa Suci dan semua orang Katholik bersama-sama menggempur surga dengan doa rosario yang tanpa henti. Armada Kristen yang tak berdaya dengan jumlahnya yang jauh lebih kecil, sepertinya akan disapu bersih oleh armada musuh yang jumlahnya jauh lebih besar. Namun tiba-tiba bertiuplah angin dengan kencang dan membawa gelombang laut yang amat besar ke arah armada Turki. Satu demi satu kapal perang Turki pecah dan tenggelam ditelan ombak raksasa yang datang bersama angin kencang tersebut. Ketika para panglima Turki menyadari bahwa armada perang Kristen tengah dilindungi oleh sebuah Kekuatan yang tidak terlihat; mereka kemudian pontang-panting melarikan diri dan meninggalkan armada mereka yang porak-poranda.
Hasil pertempuran Lepanto tercatat; dari pihak Turki 20.000 orang mati, terluka dan tertawan, 137 kapal direbut, 50 kapal tenggelam dan 10.000 orang tawanan Kristen (yang dijadikan para pendayung) dibebaskan. Dari pihak Kristen tercatat 7.500 orang mati dan 17 kapal hilang (Sumber : Wikipedia).
Pertempuran Lepanto yang bersejarah itu terjadi pada siang hari minggu tanggal 7 Oktober. Seharusnya berita kemenangan ini baru sampai di Roma dalam beberapa hari kemudian; tapi pada siang itu juga di Italia, tiba-tiba Paus Pius V mengakhiri doa rosarionya dan keluar dari kapel pribadinya dengan wajah yang penuh syukur. Ia memanggil mereka yang berada di sekitarnya dan berseru : “Cepat kemari! Ini bukan waktunya untuk bekerja. Marilah kita bersyukur kepada Allah Yang Maha Kuasa karena armada laut kita telah memperoleh kemenangan yang besar…!”
Dua minggu kemudian ketika Panglima Don John of Austria tiba di Roma untuk membawa berita gembira tersebut, ia terkejut saat diberitahu bahwa Bapa Suci telah mengumumkan berita kemenangan tersebut pada siang hari tanggal 7 Oktober 1571.  
Sebagai ungkapan terima kasih kepada Bunda Maria, St. Pius V menetapkan Pesta Maria Ratu Rosario yang kita rayakan setiap tanggal 7 Oktober.
Paus Pius V wafat di Roma pada tanggal 1 Mei 1572 dan dinyatakan kudus dua abad kemudian oleh Paus Klemens XI.
 Sumber : Katakombe.Org

Rm. Istoto


Pada sekitar jam 11.00 Sabtu 30 Maret 2019 Rm. Istoto masuk di kamar Rm. Bambang sambil menjinjing tiga tas plastik berisi buah-buahan. Beliau adalah imam yang berkarya di Keuskupan Sorong, Papua. Ketika diajak Rm. Bambang untuk minum dan snak di kamar makan,  Rm. Is berkata "Kula mriki pun gangsal welas taun kepengker" (Saya berkunjung di sini sudah lima belas tahun lalu). Di kamar makan Rm. Istoto dan Rm. Bambang bisa asyik bicara sana-sini. Maklumlah mereka berdua pernah bekerjasama dalam tim panggilan imam, suster, dan bruder di Kevikepan Kedu. Apalagi keduanya memiliki hubungan akrab personal. Ketika Rm. Bambang mencapai 25 tahun imamat Rm. Istoto memainkan wayang kulit diiringi anak-anak SD Kanisius Sengkan.

Omong-omonganpun makin meriah ketika para rama Domus satu per satu masuk kamar makan untuk makan siang. Topik-topik nostalgia amat mewarnai. Apalagi Rm. Istoto mengalami Rm. Ria dan Rm. Harto sebagai guru dan pamong Seminari Mertoyudan ketika beliau jadi seminaris. Pada saat ini beliau berada di Seminari Tinggi Kentungan dalam rangka proses kesehatan. Di balik tampil cerianya Rm. Istoto sebenarnya sedang berada dalam penanganan dokter RS Panti Rapih karena kanker getah bening. Beliau harus menjalani kemoterapi delapan kali. Rm. Is baru dua kali menjalani.

Lamunan Pekan Paskah II

Selasa, 30 April 2019

Yohanes 3:7-15

3:7 Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali.
3:8 Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh."
3:9 Nikodemus menjawab, katanya: "Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?"
3:10 Jawab Yesus: "Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu?
3:11 Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami.
3:12 Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi?
3:13 Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.
3:14 Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,
3:15 supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa hidup dinamis adalah ciri golongan anak, remaja, muda, dan kaum dewasa produktif. Mereka adalah golongan yang masih memiliki otak segar dan stamina kuat untuk belajar dan belajar.
  • Tampaknya, kaum tua apalagi lansia sudah masuk golongan yang selesai dalam hal pemajuan diri. Kaum lansia kerap dimasukkan dalam golongan tradisionalistik yang berorientasi pada masa lampau.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, sekalipun sudah tidak bisa menangkap bahkan mempelajari hal-hal baru yang muncul di era informasi digital, kaum lansia pun harus mempelajari kelansiaannya sehingga jadi lansia dinamis yang beda dengan kelansiaan pendahulunya. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati sekalipun sudah lansia orang tetap akan belajar dan belajar sehingga mampu menghayati kelansiaan sesuai dengan perkembangan situasi hidup dan budayanya. 
Ah, kalau sudah lansia ya sudah mandeg dan selesai perkembangannya.

Sunday, April 28, 2019

Percikan Nas Senin, 29 April 2019

Peringatan Wajib St. Katarina dr Siena
warna liturgi Putih

Bacaan-bacaan:
Kis. 4:23-31; Mzm. 2:1-3,4-6,7-9; Yoh. 3:1-8; BcO Why. 1:1-20.

Bacaan Injil: 
1 Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. 2 Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya." 3 Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." 4 Kata Nikodemus kepada-Nya: "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?" 5 Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. 6 Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh. 7 Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. 8 Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh."

Memetik Inspirasi:
Pada masa tertentu kita bisa dibuat heran terhadap perubahan sikap seseorang. Ada orang yang dulunya “cuwawakan" tiba-tiba berubah menjadi pendiam dan suka mendengarkan. Ada pula yang biasanya tidak peduli dengan keluarga menjadi sangat care dengan keluarganya. Ada pula preman yang tiba-tiba berubah menjadi orang yang sangat religius. Perubahan-perubahan tersebut sangat mengherankan. Kita pun sering tidak tahu mengapa mereka berubah.
Nikodemus bertemu dengan Yesus. Setelah pujian disampaikan Nikodemus, Yesus pun mengajarkan kelahiran baru. Nikodemus sulit mengerti ajaran Yesus ini. Yesus pun menyatakan bahwa “Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh” (Yoh 3:8). Kelahiran baru bisa kita rasakan namun tidak kita ketahui dari mana datangnya dan ke mana perginya.
Banyak perubahan yang mungkin terjadi pada seseorang. Banyak orang yang biasa kita katakan buruk, pada saatnya menjadi baik. Mereka mengalami kelahiran baru. Perubahan itu tidak kita ketahui dari mana datangnya dan ke mana arah perginya. Kita hanya bisa merasakan perubahan tersebut. Tuhan sangat mungkin menghadirkan kelahiran-kelahiran baru tersebut. Maka marilah kita mohon kelahiran-kelahiran baru dan hadirnya banyak orang yang bertobat.

Refleksi:
Siapa yang ingin kaudoakan agar bertobat?

Doa:
Tuhan, sudilah mengubah hati umat-Mu yang keras menjadi lembut, yang brangasan menjadi penuh kasih. Lahirkanlah secara baru kami agar kami pun menjadi pribadi yang murah hati dan penuh belas kasih. Amin.

Lahir baru.
MoGoeng
Wates

Santa Katarina dari Siena

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 14776 Diterbitkan: 11 Agustus 2013 Diperbaharui: 31 Mei 2014

  • Perayaan
    29 April
  • Lahir
    25 March 1347
  • Kota asal
    Siena, Tuscany, Italy
  • Wafat
    29 April 1380 di Roma, Italia | karena penyakit misterius
    Dimakamkan di Gereja Santa Maria Sopra Minerva di Roma Italia
  • Kanonisasi
    Juli 1461 oleh Paus Pius II Sumber : Katakombe.Org

Katarina dilahirkan pada tahun 1347. Santa yang termashyur ini adalah pelindung Italia, tanah airnya. Katarina adalah anak bungsu dalam keluarga yang dikaruniai dua puluh lima anak. Ayah dan ibunya menghendaki agar ia menikah dan hidup bahagia. Tetapi, Katarina hanya ingin menjadi seorang biarawati. Untuk menyatakan tekadnya, ia memotong rambutnya yang panjang dan indah. Ia ingin menjadikan dirinya tidak menarik. Orangtuanya amat jengkel dan seringkali memarahinya. Mereka juga menghukumnya dengan memberinya pekerjaan rumah tangga yang paling berat. Tetapi Katarina pantang menyerah. Pada akhirnya, orangtuanya berhenti menentangnya.
Engkau bagaikan misteri yang dalam sedalam lautan; semakin aku mencari, semakin aku menemukan, dan semakin aku menemukan, semakin aku mencari Engkau. Tetapi, aku tidak akan pernah merasa puas; apa yang aku terima menjadikanku semakin merindukannya. Apabila Engkau mengisi jiwaku, rasa laparku semakin bertambah, menjadikanku semakin kelaparan akan terang-Mu. ~ St. Katarina dari Siena.

St. Katarina seorang yang amat jujur dan terus terang di hadapan Yesus. Suatu ketika ia bertanya kepada-Nya, “Di manakah Engkau, Tuhan, ketika aku mengalami cobaan yang begitu mengerikan?” Yesus menjawab, “Puteri-Ku, Aku ada dalam hatimu. Aku membuatmu menang dengan rahmat-Ku.”
Suatu malam, sebagian besar penduduk Siena ke luar ke jalan-jalan untuk suatu perayaan. Yesus menampakkan diri kepada Katarina yang sedang berdoa seorang diri dalam kamarnya. Bersama Yesus, datang juga Bunda Maria. Bunda Maria memegang tangan Katarina lalu memberikannya kepada Putra-nya. Yesus menyematkan sebentuk cincin di jari tangan Katarina dan ia menjadi pengantin-Nya. Sejak saat itu Katarina mulai menerima penglihatan tentang neraka, api pencucian, dan surga.

Pada masa itu, Gereja mengalami banyak sekali masalah. Banyak pertikaian terjadi di seluruh Italia. Katarina menulis surat-surat kepada para raja dan ratu. Ia bahkan datang menghadap para penguasa agar berdamai dengan paus dan mencegah peperangan. Katarina meminta paus untuk meninggalkan Avignon, Perancis dan kembali ke Roma untuk memimpin Gereja. Ia mengatakan bahwa itulah yang dikehendaki Allah. Bapa Suci mendengarkan nasehat St. Katarina serta melakukan apa yang dikatakannya.

Katarina tidak pernah lupa bahwa Yesus ada dalam hatinya. Melalui dia, Yesus memelihara orang-orang sakit yang dirawatnya. Melalui dia, Yesus menghibur para tahanan yang dikunjunginya di penjara. Santa besar ini wafat di Roma pada tahun 1380. Usianya baru tiga puluh tiga tahun. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Pius II pada tahun 1461. Pada tahun 1970, Paus Paulus VI mengangkatnya sebagai Pujangga Gereja. St. Katarina menerima kehormatan besar ini karena ia melayani Gereja Kristus dengan gagah berani sepanjang masa hidupnya yang singkat.
 Sumber : Katakombe.Org

Lamunan Peringatan Wajib

Santa Katarina dari Siena, Perawan dan Pujangga Gereja
Senin, 29 April 2019

Yohanes 3:1-8

3:1. Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi.
3:2 Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya."
3:3 Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah."
3:4 Kata Nikodemus kepada-Nya: "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?"
3:5 Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.
3:6 Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.
3:7 Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali.
3:8 Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, pada umumnya orang menggambarkan yang ilahi dalam kaitan dengan keabadian. Dan keabadian itu tidak seperti pengalaman kefanaan dalam hidup manusia.
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa keabadian ilahi berlawanan dengan dunia fana yang selalu mengalami perubahan dan pembaruan. Dalam keabadian yang ilahi tak berubah dari dulu, kini, dan selama-lamanya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun yang ilahi amat terkait dengan alam keabadian, bagi yang terbuka kepada Tuhan kesejatian-Nya justru menuntut dinamika hidup pada segala yang baru dan diperbarui. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan menjadi dinamis sehingga mampu mengikuti-Nya dalam perkembangan situasi hidup dan budayanya. 
Ah, yang sungguh baik tak akan mudah berubah-ubah.

Percikan Nas Minggu, 28 April 2019

HARI MINGGU PASKAH II,
Hari Minggu Kerahiman Ilahi
warna liturgi Putih

Bacaan-bacaan:
Kis. 5:12-16; Mzm. 118:2-4,22-24,25-27a; Why. 1:9-11a,12-13,17-19; Yoh. 20:19-31. BcO Kol. 3:1-17.

Bacaan Injil: 
19 Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!" 20 Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. 21 Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu." 22 Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: "Terimalah Roh Kudus. 23 Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada." 24 Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. 25 Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." 26 Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!" 27 Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." 28 Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!" 29 Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." 30 Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, 31 tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.

Memetik Inspirasi:
Dalam banyak kesempatan saya bertemu dengan orang-orang yang selalu memanjatkan syukur atas kerahiman Tuhan. Mereka adalah para donatur (waktu, uang dan tenaga) dalam kehidupan menggereja. Bagi mereka bantuan yang diberikan pada Gereja selalu mendapatkan balasan yang jauh lebih besar dari Tuhan. Maka mereka pun ikhlas sungguh menyumbangkan miliknya.
Hari ini adalah minggu kedua paskah, hari kerahiman Ilahi. Kita diajak oleh Gereja untuk merenungkan dan membatinkan kasih Tuhan. Di Paroki kami hari kerahiman ini dirayakan di wilayah Temon, dekat bandara YIA. Kami juga ingin merasakan kasih Tuhan yang disampaikan melalui St. Faustina kepada umat manusia.
Kerahiman Tuhan juga tampak dalam kehadiran Tuhan yang telah bangkit kepada para murid. Kehadiran-Nya menguatkan kepercayaan para murid.
Maka marilah kita mensyukuri kerahiman Tuhan. Ada banyak rahmat Tuhan dalam hidup kita. Rahmat itu memang diberikan kepada kita, namun kita pun diundang untuk mau berbagi. Semakin kita murah hati, Tuhan pun akan semakin murah hati kepada kita. Salam kerahiman Tuhan.

Refleksi:
Apa efek kerahiman Tuhan bagi hidupmu?

Doa:
Pada hari ini kami hanya bisa memanjatkan syukur kepada-Mu. Engkau yang berkenan hadir pada para rasul, berkenan hadir pula dalam hidup kami. Engkau Maharahim. Semoga kami pun murah hati. Amin.

Maharahim
MoGoeng
Wates

Saturday, April 27, 2019

Lamunan Pekan Paskah II

Minggu Kerahiman Ilahi
Minggu, 28 April 2019

Yohanes 20:19-31

20:19. Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"
20:20 Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.
20:21 Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu."
20:22 Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: "Terimalah Roh Kudus.
20:23 Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada."
20:24 Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ.
20:25 Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya."
20:26. Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"
20:27 Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah."
20:28 Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!"
20:29 Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."
20:30 Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini,
20:31 tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa orang yang sungguh baik akan serius olah rohani. Tanda keseriusan olah rohani akan tampak dalam hidup keagamaannya.
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa makin serius olah rohaninya, orang akan makin serius keagamaannya. Dia makin tertib dan rajin memperhatikan dan menjalani apapun yang berasal dari agama.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun amat taat menjalani segala hal dari agama, hal itu belum tentu menjadi tanda kemendalaman hidup rohani kalau dalam segala sikap dan perilakunya tidak menampakkan jiwa pengampun. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang pertama-tama akan menjadi sosok pengampun.
Ah, kerohanian itu ya jelas identik dengan keagamaan.

Percikan Nas Sabtu, 27 April 2019

HARI SABTU dalam OKTAF PASKAH
warna liturgi Putih

Bacaan-bacaan:
Kis. 4:13-21; Mzm. 118:1,14-15,16ab-18,19-21; Mrk. 16:9-15. BcO 1Ptr. 4:12-5:14.

Bacaan Injil: 
9 Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan. 10 Lalu perempuan itu pergi memberitahukannya kepada mereka yang selalu mengiringi Yesus, dan yang pada waktu itu sedang berkabung dan menangis. 11 Tetapi ketika mereka mendengar, bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya. 12 Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota. 13 Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi kepada merekapun teman-teman itu tidak percaya. 14 Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya. 15 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.

Memetik Inspirasi:
Kadang kita menemui fakta bahwa orang hanya mau mendengarkan kala kita sendiri yang mengatakan. Utusan-utusan yang kita kirim pun tidak didengarkan. Orang lain yang berbicara apa lagi. Mereka hanya mau ketemu langsung dengan yang bersangkutan.
Maria Magdalena dan dua orang murid Emaus yang memberitakan kebangkitan Yesus tidak dipercaya oleh para rasul. Akhirnya Yesus pun datang sendiri, “Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya” (Mrk 16:14).
Ada banyak orang yang menjadi utusan Tuhan ada di sekitar kita. Mereka menyampaikan kabar dan perintah Tuhan ketika mengingatkan kita. Memang mungkin hati kita sering berat menerimanya. Namun rasanya kita jangan mengabaikannya. Jangan sampai hati kita jadi degil dan tidak percaya. Tuhan tidak menyukai mereka yang degil hatinya. Maka mari kita buka hati kita. Kita melihat dengan baik warta yang kita terima. Berani percaya walau pembawa berita (maaf) lebih rendah statusnya daripada kita.

Refleksi:
Bagaimana anda menyikapi warta yang mungkin berat untuk diterima?

Doa:
Tuhan semoga kami mampu untuk percaya. Semoga hati kami tidak degil. Amin.

Degil
MoGoeng
Wates

Santa Gianna Beretta Molla

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 5072 Diterbitkan: 25 Februari 2017 Diperbaharui: 16 April 2017

  • Perayaan
    28 April
  • Lahir
    4 Oktober 1922
  • Kota asal
    Magenta, Milan, Italia
  • Wafat
    28 April 1962 di Rumah Sakit Bersalin Monza, Italia
    Meninggal seminggu setelah melahirkan akibat komplikasi karena menjalani kehamilan beresiko tinggi
  • Venerasi
    6 Juli 1991 oleh Paus Yohanes Paulus II
  • Beatifikasi
    24 April 1994 oleh Paus Yohanes Paulus II
  • Kanonisasi
    16 May 2004 oleh Paus Yohanes Paulus II Sumber : Katakombe.Org

Gianna Francesca Beretta  dilahirkan di Magenta, Milan, Italia pada tanggal 4 Oktober 1922. Ia adalah  anak kesepuluh dari tigabelas bersaudara, putera-puteri pasangan Alberto dan Maria Beretta. Ayah dan ibunya adalah orang katolik yang saleh  dan menjadi anggota Ordo Ketiga Fransiskan (para awam Fransiskan) yang taat. 
Oleh karena latar belakang keluarga serta bimbingan agama yang seksama dari kedua orang tuanya, Gianna telah diperkenankan menerima Komuni  Pertama pada usia lima setengah tahun. Setelah itu ia tidak pernah absen dalam Misa dan menyambut Komuni Kudus  setiap hari.  Dua tahun kemudian ia diperkenankan menerima Sakramen Krisma.
Gianna tidak terlalu cemerlang dalam belajar. Ia harus belajar keras di rumah demi memperbaiki nilai-nilainya yang buruk.  Ia mengalami masa-masa yang sulit di sekolah, tetapi pada akhirnya ia dapat mengatasi kesulitan belajar dengan ketekunannya. Salah seorang guru mengenangnya sebagai : 
Pada tahun  1942, ditengah berkecamuknya perang Dunia ke II, Gianna masuk sekolah kedokteran di Milan.  Namun ia tidak bisa kuliah karena perang telah sampai ke kota Milan.  Bom-bom berjatuhan meratakan segala yang ada dan orang meninggalkan kota itu menuju tempat yang lebih aman. Di masa ini pula ia kehilangan kedua orang tuanya. Ibunya meninggal dunia pada bulan Mei 1942 karena serangan jantung, dan ayahnya ikut meninggal dunia empat bulan kemudian.  Sementara hidup terasa berat dan nyaris tak tertahankan, Gianna selalu mengatasinya dengan cara membenamkan diri dalam doa dan meditasi, serta mencurahkan isi hatinya kepada Yesus.
Saat perang berakhir, ia melanjutkan kuliah di Pavia bersama saudarinya yang bernama Virginia. Kelak Virginia menjadi seorang Dokter dan seorang biarawati Cannosian yang berkarya di India.  Pada tanggal 30 November 1949 Gianna menerima gelar dalam ilmu kedokteran dan bedah dengan nilai mengagumkan.   Dua tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 7 Juli 1952,  ia meraih gelar dokter spesialis anak-anak. Gianna kemudian menggabungkan diri dengan seorang kakaknya, dokter Ferdinando, di sebuah klinik kesehatan pribadi di  Mesero, dekat  kota kelahirannya Magenta.  
Sejak masa kanak-kanak, Gianna menyimpan kekaguman dan kecintaan pada karya misionaris gereja.  Setelah menjadi dokter, ia sangat berharap dapat membantu kakaknya Alberto, seorang imam Capuchin yang  menjadi misionaris di Brasil.  Ia ingin mengamalkan keahlian medisnya dalam pelayanan kesehatan yang amat dibutuhkan di sana.  Namun karena kesehatannya sendiri yang kurang baik;  keinginan dokter Gianna untuk menjadi dokter missionaris  tak bisa terkabulkan.  Ia lalu melanjutkan karya missionarisnya dengan berpraktek di Italia.
Pada tanggal 24 September 1955, Gianna menikah dengan Pietro Molla, seorang insinyur yang bekerja sebagai direktur teknik. Upacara pemberkatan nikah dilangsungkan di Basilika San Martino di Magenta dan dipimpin oleh kakak  Gianna sendiri,  pater Guiseppe Beretta.  Setahun setelah perkawinannya,  Pietro dan Gianna diberkati dengan kelahiran putera pertama mereka, Pierluigi yang lahir pada tanggal 19 November 1956 dan dibaptis beberapa hari sesudahnya oleh pamannya  pater Giuseppe.  Anak kedua mereka lahir pada tanggal 11 Desember 1957, dan dibabtis dengan nama Maria Zita (Mariolina) oleh pater Giuseppe.  Selanjutnya pada tanggal 15 Juli 1959,  Laura, anak mereka yang ketiga dilahirkan. Sebagai ucapan syukur kepada Tuhan, sesudah kelahiran masing-masing anak, Gianna akan mengambil sejumlah besar uang dari tabungannya untuk disumbangkan kepada karya-karya misi.
Pada bulan Juli 1961 Gianna mengandung anaknya yang keempat. Namun di akhir bulan kedua kehamilannya,  ia didiagnosa dokter memiliki fibroma (tumor) di rahimnya. Tumor ini cukup besar hingga mengancam kelangsungan kehamilan dengan menghimpit janin. Ada tiga pilihan dalam kasusnya :
  • Pengangkatan rahim (hysterectomy) guna menyingkirkan tumor. Resikonya rendah; tetapi, berdampak pada kematian janin dan meniadakan kemungkinan kehamilan di masa mendatang. Seturut moralitas Katolik, dalam kasus ini hysterectomy bertujuan menyelamatkan nyawa ibu dengan mengangkat rahim yang terjangkit kanker (dengan dampak yang tak diinginkan kematian bayi yang belum dilahirkan).
  • Menyingkirkan tumor sekaligus mengakhiri kehamilan, sehingga memungkinkan kehamilan di masa mendatang. Pilihan ini, yang menyangkut aborsi langsung, secara moral Katolik tidak dapat diterima.
  • Mengabaikan tumor dan melanjutkan kehamilan dengan penuh resiko.
Gianna tidak pernah memikirkan kemungkinan aborsi. Ia memilih, dengan sukarela dan kemurahan hati yang besar dari pihaknya, untuk melanjutkan kehamilan penuh resiko demi kelangsungan hidup bayinya. Kegagahan yang dilakukan Gianna adalah ia lebih memilih nyawa anaknya walau dalam situasi yang sulit dan tanpa kepastian, pun tanpa peduli resiko bagi dirinya sendiri. (Dengan ultrasonik dan teknologi kedokteran saat ini, lebih banyak informasi dapat diperoleh para dokter dalam bedah modern, tetapi tidak di awal tahun 1960-an).
Sebagai seorang dokter, Gianna tahu benar tingginya resiko yang harus ia hadapi. Kendati ditentang oleh para dokter dan banyak orang,  Gianna berkeras pada pilihannya. Ia mengatakan, “Dokter tidak seharusnya ikut campur. Hak hidup anak sama dengan hak hidup ibu. Dokter tidak dapat memutuskan; adalah dosa membunuh bayi dalam rahim.” 
Kepada suaminya Pietro, Gianna memohon dengan suara tegas;  “Jika engkau harus memilih antara aku dan sang bayi, janganlah ragu; aku mendesak, selamatkan si bayi.” Gianna mempercayakan keselamatan dirinya pada doa dan penyelenggaraan ilahi, “Dengan iman dan pengharapan aku mempercayakan diriku pada Tuhan.... Aku percaya pada Tuhan, ya; tetapi sekarang tergantung padaku untuk menunaikan kewajibanku sebagai seorang ibu. Aku memperbaharui persembahan diriku kepada Tuhan. Aku siap untuk segalanya, demi menyelamatkan bayiku.”
Gianna melewatkan tujuh bulan selanjutnya hingga kelahiran sang bayi dalam kekuatan semangat yang tak tertandingi. Selama itu, ia mohon kepada Tuhan untuk menjaga bayi dalam rahimnya agar tak mengalami kesakitan. Pada hari Jumat Agung tahun 1962, Gianna dibawa masuk RS Bersalin Monza. Keesokan harinya, 21 April 1962, ia melahirkan seorang bayi perempuan melalui operasi caesar. Anak keempatnya ini beberapa hari kemudian dibabtis dengan nama Gianna Emanuella.
Kondisi Gianna semakin memburuk segera sesudah melahirkan. Ia memohon bantuan ibunya untuk tinggal dekatnya dan menolongnya, sebab ia tak dapat menahan rasa sakitnya lagi.  Penderitaannya tampak bagai suatu kurban yang dramatis dan perlahan, yang menyertai kurban Kristus di salib.  Menjelang ajal, ia masih sempat berkata kepada saudarinya,  “Andai saja engkau tahu bagaimana hal-hal dinilai secara berbeda di saat ajal! ... Betapa sia-sia tampaknya hal-hal yang di dunia ini begitu kita pentingkan!”.  Gianna Beretta Molla wafat pada tanggal 28 April 1962 dalam usia 39 tahun. Wajahnya tampak damai tenang, segala tanda kesakitan sama sekali sirna dan ia tampak dipenuhi kebahagiaan.
Pada tanggal 24 April 1994, dalam tahun yang dicanangkan sebagai Tahun Keluarga, Gianna Beretta Molla dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II.  Dalam Misa beatifikasi yang dihadiri oleh suami, saudara-saudari beserta putera-puteri  Gianna ini.  Bapa Suci mengatakan bahwa Gianna adalah teladan segenap ibu,  “Seorang perempuan dengan kasih yang luar biasa, seorang istri dan ibu yang mengagumkan, ia memberi kesaksian dalam hidup sehari-hari akan nilai-nilai Injil. Dengan berpegang pada wanita ini sebagai teladan kesempurnaan Kristiani, kita hendak memuji segenap para ibu keluarga yang penuh semangat, yang memberikan diri sepenuhnya kepada keluarga, yang menanggung derita dalam melahirkan, yang siap sedia bagi segala karya dan segala rupa kurban, agar yang terbaik dari mereka dapat dibagikan kepada sesama.”
Gianna Emanuela yang  saat itu telah menjadi seorang dokter dan pejuang Gerakan Pencinta Kehidupan, menyampaikan kesaksiannya;
Gianna Beretta Molla dikanonisasi oleh paus yang sama pada tanggal 16 Mei 2004. Pestanya dirayakan pada tanggal 28 April.(qq)

Santa Zita

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 4456 Diterbitkan: 11 Agustus 2013 Diperbaharui: 31 Mei 2014

  • Perayaan
    27 April
  • Lahir
    Tahun 1218
  • Kota asal
    Bozzanello, Monte Sagrate, Tuscany, Italy
  • Wafat
    27 April 1272 di Lucca, Italy | Sebab alamiah
  • Beatifikasi
    Tahun 1652 oleh Paus Innosensius X
  • Kanonisasi
    5 September 1696 oleh Paus Innosesius XII Sumber : Katakombe.Org

St. Zita dilahirkan di dusun Monte Sagrati, Italia, pada tahun 1218. Walau berasal dari keluarga yang sangat bersahaja namun kedua orangtuanya sangat saleh dan membesarkan Zita dengan cinta kasih Kristiani.
Merupakan tradisi pada waktu itu bahwa keluarga-keluarga miskin akan mengirimkan anak-anak gadis mereka kepada keluarga-keluarga yang terpercaya, yang mampu mempekerjakan mereka. Para gadis itu akan tinggal dalam keluarga tersebut untuk beberapa waktu lamanya dan dipekerjakan untuk melakukan tugas-tugas rumah tangga. Zita pergi bekerja di rumah keluarga Fatinelli di Lucca ketika usianya dua belas tahun.

Bapak dan Ibu Fatinelli adalah orang yang baik, mereka memiliki beberapa pekerja. Zita senang dapat bekerja dan mengirimkan upahnya kepada orangtuanya. Ia berusaha hidup penuh tanggung jawab. Ia membiasakan diri untuk berdoa di luar jadwal kerjanya. Setiap pagi ia bangun pagi-pagi benar agar dapat ambil bagian dalam perayaan Misa.

Zita seorang pekerja yang rajin. Ia merasa bahwa bekerja adalah bagian dari hidupnya. Tetapi pekerja-pekerja lain iri hati kepadanya. Sedapat mungkin mereka bekerja sedikit saja. Mereka mulai mencari-cari kesalahan Zita serta memusuhinya tanpa sepengetahuan majikan mereka. Zita merasa sedih, tetapi ia berdoa mohon kesabaran. Ia tidak pernah melaporkan mereka. Ia tetap melakukan tugas-tugasnnya sebaik mungkin tanpa peduli pendapat mereka.
Santa Zita selalu berusaha siapa saja yang membutuhkannya semampu yang bisa ia berikan.  Upahnya selama bekerja sebagai pembantu rumah tangga ia habiskan untuk membeli makanan untuk para pengemis dan tuna wisma.  
Seluruh hidupnya ia habiskan dengan bekerja untuk keluarga Fatinelli. Sementara para pekerja lainnya datang dan pergi, ia tetap setia. Ia melayani majikannya dengan cinta kasih. Ia mengasihi mereka seperti ia mengasihi keluarganya sendiri. Dengan teladannya, Zita membantu orang menyadari bahwa bekerja itu menyenangkan apabila dilakukan dengan semangat cinta kasih Kristiani. Zita wafat dengan tenang pada tanggal 27 April 1278 dalam usia enam puluh tahun.
Tubuh St. Zita ditemukan terawetkan pada tahun 1580 dan saat ini disemayamkan di gereja St. Frediano di Lucca, Italia, persis disamping rumah keluarga Fatinelli.
 Sumber : Katakombe.Org