Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Sunday, May 31, 2020

Lamunan Peringatan Wajib

Santa Perawan Maria Bunda Gereja
Senin, 1 Juni 2020

Matius 5:1-12                                

5:1. Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.
5:2 Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:
5:3. "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
5:4 Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
5:5 Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
5:6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
5:7 Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
5:8 Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
5:9 Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
5:10 Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
5:11 Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.
5:12 Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, tak sedikit yang mengaitkan kebahagiaan dengan rasa senang. Dalam mengejar kebahagiaan orang berjuang menyingkiri hal-hal yang membuat atau dikuatirkan menjadi penderitaan.
  • Tampaknya, orang yang merasa jenuh mengalami hidup akan mencari penghiburan. Dia bisa berekreasi untuk meninggalkan hidup harian yang bisa membosankan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun rekreasi dan piknik ke tempat-tempat indah biasa memberikan rasa senang, orang belum tentu mengalami penghiburan sejati yang justru merupakan buah sikap batin ikhlas menghadapi susah derita hidup termasuk dalam keseharian. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung orang justru mengalami penghiburan yang amat mendalam karena kemampuannya bertahan ketika mengalami keadaan apapun yang membuatnya merasakan penderitaan. 
Ah, yang namanya derita itu ya harus dilawan.

Santa Kamilla Battista da Varano

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 5176 Diterbitkan: 16 Mei 2017 Diperbaharui: 16 Oktober 2019

  • Perayaan
    31 Mei
  •  
  • Lahir
    9 April 1458
  •  
  • Kota asal
    Camerino, Macerata, Italia
  •  
  • Wafat
    31 Mei 1524 di Camerino, Macerata, Italia
    Sebab alamiah
  •  
  • Beatifikasi
    7 April 1843 oleh Paus Gregorius XVI (cultus confirmed) 19 Desember 2005 oleh Paus Benediktus XVI (decree of heroic virtues)
  •  
  • Kanonisasi
    17 Oktober 2010 oleh Paus Benediktus XVI

Santa Camilla Battista da Varano lahir pada tanggal 9 April 1458 di Camerino, Macerata, Italia, dalam keluarga aristokrat Italia yang kaya-raya. Ayahnya adalah pangeran Giulio Cesare da Varano, Duke of Camerino dan ibunya juga seorang wanita ningrat bernama Cecchina di Maestro Giacomo. Sebagai seorang puteri bangsawan, Camilla menerima pendidikan dari guru-guru terbaik dimasa itu, dan sangat berbakat dalam Retorika dan Tata-bahasa.
Pada masa Prapaskah 1479 Camilla kembali mendengarkan khotbah yang menggetarkan hati dari seorang biarawan Fransiskan bernama Francesco di Urbino. Kata-kata biarawan yang dijuluki "sangkakala Roh Kudus" ini membuat hatinya bergetar hebat. Setelah rutin mendengarkan khotbah-kotbah dari don Francesco, Camilla mulai mendengar panggilan Tuhan didalam dirinya untuk meninggalkan kehidupan duniawi. Keinginannya menjadi biarawati segera ditentang keras oleh sang ayah yang telah mempersiapkan perjodohannya. Namun Camilla teguh mempertahankan panggilannya dan tetap memutuskan untuk menjadi pengantin Kristus.
Saat berusia 21 tahun, Camilla masuk sebuah biara suster dan mengucapkan kaulnya pada tanggal 24 Maret 1479 bertepatan dengan hari raya Santa Maria menerima kabar gembira dari malaikat Tuhan. Dua tahun pertamanya sebagai seorang biarawati adalah perjuangan pahit melawan godaan dan cobaan yang berat. Selain sikap keluarganya yang tetap menentang pilihan hidupnya, Camilla juga harus menghadapi ejekan dan gosip dari sesama biarawati yang merasa aneh melihat seorang puteri bangsawan meninggalkan kastil yang megah untuk menjadi seorang biarawati miskin.
Pada tanggal 17 April 1479, Camilla pindah ke biara Klaris (OSC = Ordo Santa Clara) di Urbino Italia yang lebih kontemplatif dan memiliki regula (aturan hidup membiara) yang lebih ketat. Dalam biara inilah Camilla mengalami peningkatan kehidupan rohani yang luar biasa. Ia menjadi seorang suster yang sederhana dan penuh disiplin yang selalu hidup dalam doa dan meditasi. Ia akan berdoa sepanjang malam dan mengawali pagi harinya dengan menerima sakramen tobat. Camilla kemudian diberkati Tuhan dengan karunia penglihatan dan kerap menerima penampakkan dari para kudus dan para malaikat. Penampakan-penampakan Ilahi ini membuka pikirannya untuk memahami konsep-konsep teologi yang kelak dituangkan dalam tulisan-tulisannya. Camilla mengintensifkan meditasinya pada sengsara Kristus hingga dapat meresapi dan merasakan penderitaan sang Juru Selamat secara nyata, fisik maupun mental. Pada masa ini ia  menulis buku Ricordi di Gesu”, sebuah panduan meditasi dalam bentuk sebuah surat dari Yesus kepadanya.
Pada tanggal 4 Januari 1484 Camilla da Varano ditunjuk menjadi Abbess (kepala biara susteran) biara Santa Maria Nouva di kota kelahirannya, Camerino. Biara ini terletak dekat istana ayahnya dan baru selesai dipugar sang ayah untuk membuat putrinya berada dekat dengannya. Dengan kekuasaannya, pangeran Guilio Cesare da Varano menekan Vikaris Jenderal Ordo Fransiskan, yang memiliki otoritas atas Ordo Santa Clara, untuk menempatkan suster Camilla di biara yang telah ia pugar tersebut.  Camilla menolak keras pindah ke Camerino karena campur tangan ayahnya. Namun ia pindah juga setelah diingatkan akan kaul ketaatannya.
Di biara Camerino, Camilla da Varano menulis beberapa buku diantaranya: I dolori mentali di Gesu nella sua Passione (Kesedihan Hati Yesus Saat Menderita Sengsara), yang berisikan renungan panjang mengenai Sengsara Yesus. Antara tanggal 27 Februari dan 13 Maret 1491 Camilla menyusun Vita Spirituale (hidup Spiritual), buku Autobiografinya yang adalah sebuah surat yang panjang untuk don Domenico di Leonessa, biarawan Fransiskan yang telah mengilhami tetesan air matanya saat ia berusia 9 tahun. Dalam Vita Spirituale Camilla mengucapkan terima kasih kepada don Domenico dan menceritakan bagaimana ia telah mengilhami perjalanan hidup spiritualnya.
Pada tahun 1505, Paus Julius II mengirim Suster Camilla ke kota Fermo untuk membangun biara Kalaris di kota itu. Ia pergi dan tinggal disana selama dua tahun lalu kembali ke Camerino. Pada 1521 Camilla diutus ke San Severino Marche untuk membimbing sebuah komunitas biarawati yang baru saja mengadopsi Regula Santa Klara.  Disini ia menulis karyanya yang terakhir: Trattato della Purita di cuore yang ia dedikasikan kepada Vikaris Jendral Fransiskan, Giovanni di Fano.
Suster Camilla Battista da Varano tutup usia di biara Klaris di Camerino pada tanggal 31 Maret 1524. Ia dibeatifikasi pada tanggal 7 April 1843 oleh Paus Gregorius XVI dan dikanonisasi pada 17 Oktober 2010, oleh Paus Benediktus XVI.  Tubuhnya yang masih tetap utuh, saat ini disemayamkan di biara Santa Klara, Camerino, Macerata, Italia.

Saturday, May 30, 2020

Lamunan Hari Raya

Pentekosta
Minggu, 31 Mei 2020

Yohanes 20:19-23                         

20:19. Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"
20:20 Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.
20:21 Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu."
20:22 Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: "Terimalah Roh Kudus.
20:23 Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, daya ilahi kerap disebut kekuatan adikodrati. Itu adalah kekuatan  yang mengatasi kodrat manusia.
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa orang yang menerima daya ilahi akan memiliki kekuatan gaib sehingga memberikan kehebatan. Dia memiliki kemampuan bertindak dan atau berbicara di atas kenormalan orang umum.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun memiliki kekuatan gaib di atas manusia normal, orang belum tentu memiliki kesejatian Roh ilahi yang selalu membuat orang terbuka menjadi tanda pengampunan bagi orang lain. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan berada dalam aura kekuatan Roh-Nya yang membuatnya hidup dilandaskan pada kebijakan sikap pengampunan.
Ah, orang yang mendapatkan daya ilahi pasti akan sakti.

Santo Ferdinandus III dari Kastila

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 7494 Diterbitkan: 07 Mei 2014 Diperbaharui: 09 Mei 2017

  • Perayaan
    30 Mei
  •  
  • Lahir
    5 Agustus 1199 di sebuah Biara di Valparaíso (sekarang Provinsi Zamora - Spanyol)
  •  
  • Kota asal
    Castille
  •  
  • Wafat
    30 Mei 1252 di Seville Spanyol - Oleh sebab alamiah
  •  
  • Beatifikasi
    31 Mei 1655 oleh Paus Alexander VII
  •  
  • Kanonisasi
    Tahun 1671 oleh Paus Klemens X

Santo Ferdinandus III dari Kastila adalah seorang pahlawan Gereja dan juga pahlawan Nasional Spanyol. Ia adalah seorang kudus, yang menjalani panggilan hidupnya sebagai seorang Raja dan seorang Katolik dengan sangat luar biasa. Sebagai seorang Katolik;  ia hidup kudus sesuai regula  Ordo Ketiga Fransiskan, dan  ia berjuang keras mempertahankan tegaknya ajaran iman yang benar terhadap rongrongan bidaah Albigensia. Sebagai seorang Raja; Ia berhasil membebaskan rakyatnya dari penjajahan bangsa Moor yang telah belangsung selama lebih dari 700 tahun.  Di Spanyol, ia dikenal sebagai Fernando el Santo,  San Fernando atau San Fernando Rey.  
Ferdinandus adalah putra Raja Alfonso IX dari kerajaan Leon, dan Ratu Berengaria dari Kerajaan Kastilia. Ia lahir di Biara Valparaíso (sekarang Provinsi Zamora - Spanyol) pada tanggal  5 Agustus 1199.  Ketika berumur 18 tahun, ia diangkat menjadi Raja Kastilia menggantikan ibunya; dan ketika ayahnya meninggal dunia pada tahun 1230, Ia juga diangkat menjadi raja Leon. Dengan demikian Ferdinandus menyatukan kedua kerajaan ini dan memerintah sampai hari kematiannya pada tanggal 30 Mei 1252.
Masa pemerintahannya mempunyai arti yang sangat penting bagi sejarah Spanyol dan sejarah Gereja Katolik di Eropa.  Ferdinandus berusaha sekuat tenaga untuk menyebarkan agama Kristen di seluruh kerajaannya dan mengusir pergi penjajah Moor dari seluruh wilayah Spanyol. Satu persatu wilayah yang diduduki para penjajah dibebaskannya. Kota Cazorla dibebaskan Ferdinandus  pada tahun 1231, Kota Úbeda direbut pada tahun 1233. Ibukota kerajaan bangsa Moor; Kordoba di kuasainya pada tahun 1236. Setelah menguasai ibukota Andalusia; Raja Ferdinand dan pasukannya bagai tak terbendung terus bergerak ke arah Selatan untuk merebut kota-kota yang masih dikuasai para penjajah Moor.
Ferdinandus merebut Kota Niebla and Huelva pada tahun 1238. Menyusul Kota Écija dan Lucena pada tahun 1240. Kota Murcia dikuasai pada tahun 1243,  Kota Arjona, Mula dan Lorca pada tahun 1244.  Kota Jaén pada tahun 1246, Kota Alicante pada tahun 1248 dan akhirnya kota terbesar di Andalusia,  Sevilla, dikuasai Ferdinandus pada tahun 1248.  Dengan penaklukan ini, Ferdinandus berhasil membebaskan seluruh Spanyol dari kekuasaan bangsa Moor kecuali Wilayah Granada, yang Sultannya menyatakan takluk sebagai raja bawahan dari Ferdinandus (Granada baru dibebaskan pada tahun 1492  oleh para penerusnya, Raja Ferdinand II dan Ratu Isabella, pasangan Raja-Ratu Katolik yang digelari Los Reyes Católicos).
Ferdinandus berusaha keras memajukan perkembangan agama Kristen diseluruh wilayah kerajaannya. Ia mendirikan banyak biara, merubah mesjid-mesjid yang ditinggalkan para penjajah menjadi Katedral-katedral dan memberikan bantuan keuangan bagi banyak rumah sakit. Pada tahun 1242 Ferdinandus mendirikan sebuah Universitas yang sangat megah, yaitu Universitas Salamanca yang terkenal itu, sebagai pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Ketika ajaran bidaah sesat Albigensia merebak; Raja Ferdinandus dengan gigih melawan mereka.
Ferdinandus tutup usia pada tanggal 30 Mei 1252 dalam usia 52 tahun. Ia dimakamkan dengan mengenakan jubah ordo ketiga Fransiskan di dalam Katedral Santa Maria Sevila (Catedral de Santa María de la Sede de Sevilla). Katedral ini sebelumnya adalah sebuah Mesjid bernama Mesjid Almohad. Nisan dimakamnya ditulis dalam empat bahasa : Ibrani, Latin, Arab dan Kastilia. Banyak mujizat dilaporkan terjadi pada makamnya sehingga banyak orang menganggap dia sebagai orang kudus. Tubuhnya pun secara ajaib tidak mengalami kerusakan (Incorrupt Corpse). Namun Kekudusan raja Ferdinandus baru diakui Gereja hampir lima abad setelah kematiannya, saat ia dikanonisasi oleh Paus Klemens X pada tahun 1671. Saat ini makam dan tubuh Santo Ferdinandus masih dapat dilihat di Katedral Santa Maria Sevila. 

Nemu Berkah

Kasir duduk di dekat setumpuk kertas sampah. Dia tersenyum sumringah.
Kadir, “Kaya wong edan ngguya-ngguyu nang pinggir sampah!”
Kasir, “Yo ben, biarin aja, daripada menangis di tengah pesta.”
Kadir, “Malah ndhagel….”
Kasir, “Suka-suka aku dong. Orang lagi suka mah merdeka.”
Kadir, “Emang kenapa ta dari tadi kamu senyum-senyum terus?”
Kasir, “Tadi itu aku bingung mau jalan-jalan gak punya uang. Daripada bengong aku bersih-bersih. Eee di tumpukan kertas ini aku nemu dhuit. Gusti ki cen elok ya?”
Kadir, “Weeee…. Iso jalan-jalan dong. Ikuuuut. Traktir ya?”
Kasir, “Mau ikut?”
Kadir, “Iya,”
Kasir, “Ehhhhhmmm tampaknya aku gak akan jalan untuk jajan dech.”
Kadir, “Terus?”
Kaair, “Aku mau kulakan saja. Aku nemu berkah. Berkah ini mesti mberkahi.”
Kadir terdiam mendengar kalimat Kasir. Kasir pun meninggalkan Kadir yang masih terbengong.
Tuhan menyediakan berkah bagi hidup kita. Kita pun diajak untuk menjadikan berkah itu sebagai berkah bagi hidup kita. (MoGoeng, 300520)

Friday, May 29, 2020

Minggu Pentakosta th A- 31 Mei 2020 (Yoh 20:19-23 dan Kis 2:1-11)

diambil dari https://unio-indonesia.org/2020/05/27; ilustrasi dari koleksi Blog Domus


HARI RAYA PENTAKOSTA (Yoh 20:19-23 dan Kis 2:1-11)
Rekan-rekan!
Apa hubungan antara Kebangkitan, Kenaikan, dan Pentakosta? Dalam Injil Yohanes, ketiga-tiganya dipadatkan menjadi satu di dalam peristiwa penampakan Yesus yang telah bangkit kepada para murid yang sedang berkumpul (Yoh 20:19-23). Yang mereka lihat sekarang itu sama dengan dia yang telah wafat di kayu salib dan dimakamkan. Dalam hidup setelah kebangkitan, ia berbagi Roh kehidupan dengan para murid. Roh itulah yang menghidupkan semangat baru di antara mereka.
KEBANGKITAN – KENAIKAN – PENTAKOSTA
Pengalaman yang diungkapkan secara padat oleh Yohanes tadi ditampilkan dengan tiga puncak dalam Kisah Para Rasul, yakni Kebangkitan, Kenaikan, dan Pentakosta. Dari Kebangkitan hingga Kenaikan ada selang waktu 40 hari (Kis 1:1-3). Selama itu para murid mengalami pelbagai penampakan Yesus hingga percaya benar bahwa Yesus benar-benar hidup. Tenggang waktu 40 hari itu mematangkan pengalaman dengan Yesus yang telah bangkit itu. Murid-murid kini menyadari bahwa Yesus, seperti terungkap dalam Mat 28:18, telah menerima kuasa di surga dan di bumi. Kesadaran ini mereka alami sebagai Kenaikan Tuhan. Pada saat yang sama para murid merasa mendapat penugasan untuk mengisahkan pengalaman ini kepada siapa saja. Dalam kata-kata Lukas, ini disebut sebagai tugas menjadi saksi-saksinya (Kis 1:8), atau menurut Matius, menjadikan semua bangsa muridnya dan menerima mereka sepenuhnya dalam komunitas mereka lewat pembaptisan (Mat 28:19). Bagaimanapun juga, meskipun sudah ada kesadaran baru ini, mereka belum merasa cukup mampu menjalankan tugas dengan merdeka, tanpa merasa waswas atau rasa tertekan. Kekuatan yang memerdekakan baru mereka peroleh pada hari Pentakosta. Pada hari itulah mereka mendapatkan semangat untuk menceritakan pengalaman mereka kepada orang banyak.
Sekedar latar belakang. Di kalangan umat Perjanjian Lama, Pentakosta (artinya “hari ke-50”) dirayakan 7 minggu setelah panen gandum (Im 23:15-21 dan Ul 16:9-12). Dalam perkembangan selanjutnya, hari “ke-50” ini dihitung mulai dari tanggal 14 Nisan, yaitu hari Paskah Yahudi. Pada hari ke-50 ini kemudian diperingati pula turunnya Taurat kepada Musa. Di kalangan umat Kristen, “hari ke-50” itu dirayakan 7 minggu setelah Kebangkitan Yesus untuk memperingati turunnya Roh Kudus kepada para murid. Jadi perayaan 7 minggu setelah panen dari dunia Perjanjian Lama itu diterapkan oleh Perjanjian Baru kepada panenan rohani yang kini mulai melimpah.
DATANGNYA  ROH KUDUS
Bacaan pertama (Kis 2:1-11) berisi kisah mengenai hari Pentakosta. Suatu saat terdengar suara dari langit, menderu seperti taufan memasuki ruangan para murid berkumpul, dan muncullah lidah-lidah api menghinggapi mereka. Dan mereka mulai berbicara dalam banyak bahasa. Seperti itukah kejadiannya? Lukas sebetulnya hendak menggambarkan pengalaman batin para murid. Saat itu mereka secara bersama-sama merasakan adanya kekuatan yang membuat hati mereka bernyala berkobar-kobar. Kejadian ini sudah sedikit disinggung dalam cerita mengenai dua murid ke Emaus. Suatu ketika mereka saling berkata, “hati kita berkobar-kobar” (Luk 24:32), artinya pikiran (diungkapkan dengan “hati”) mereka tidak lagi memudar, melainkan menyala-nyala. Dan sekarang kejadian ini dialami semua murid yang lain dalam kebersamaan.
Juga orang banyak yang ada di sekitar para murid ikut menyaksikan perubahan ini. Roh Kudus itu kekuatan mempersaksikan. Roh Kudus membuat para murid dimengerti siapa saja, baik yang sama agamanya, maupun yang lain. Tiap orang yang mendengar akan mendapatkan sesuatu. Inilah daya yang dianugerahkan kepada Gereja, ke dalam maupun ke luar. Ke dalam bila memahami apa itu menjadi pengikut dia yang telah bangkit dan mulia itu. Ke luar bila mempersaksikan cara hidup baru ini kepada orang banyak.
Dalam bahasa zaman ini, kekuatan itu terletak dalam kemampuan untuk menerangkan iman kepercayaan dengan cara yang bisa dimengerti oleh orang yang bukan dari kalangan sendiri. Tidak hanya dengan perkataan, melainkan juga dengan sikap hidup dan tindakan. Bagaimana dengan keadaan di Indonesia? Boleh jadi Pentakosta ini menjadi kekuatan baru untuk tetap memilih hidup beradab dan tidak membiarkan masyarakat dihanyutkan kekuatan-kekuatan yang memerosotkan kemanusiaan. Ini pilihan sederhana. Tapi juga pilihan yang membuat Gereja tampil sebagai komunitas orang-orang yang setia pada kemanusiaan dan hormat pada keilahian.
Boleh jadi itulah yang dimaksud Lukas ketika mengatakan para murid mulai berbicara dalam pelbagai bahasa dan para pendengar merasa mendengar dalam bahasa mereka sendiri. Tentunya tidak sama dengan yang dimaksud oleh Markus “bicara dalam bahasa-bahasa baru” (Mrk 16:17) atau yang disebut Paulus sebagai “bahasa lidah” (1Kor 14). Yang terakhir ini biasanya terjadi dengan gumaman yang bukan terarah kepada sesama melainkan kepada Tuhan (1Kor 14:2-4). Dibutuhkan orang yang dapat menjelaskan apa yang sedang terjadi. (1Kor 14:5-19 dan 27). Bahasa lidah ini tanda kehadiran roh bagi orang yang belum beriman (1Kor 14:22), bukan bagi mereka yang sudah mulai beriman
GEREJA PERDANA
Orang-orang yang percaya kepada Yesus dan dibaptis dalam namanya itu hidup dalam lindungan kekuatan yang datang dari atas, dari tempat Yesus kini berada. Itulah kehadiran Roh Kudus. Kekuatan ini memberi kebijaksanaan, membuat budi bening dan menuntun orang di jalan yang benar. Roh Kudus ini jugalah yang memimpin para rasul ke seluruh penjuru dunia. Roh yang sama itulah yang kini ada di tengah-tengah orang-orang yang percaya. Orang tidak lagi perlu merasa terancam daya-daya gelap yang pergi datang begitu saja. Ada arah baru yang tak terpikirkan sebelumnya. Ini membuat alam pikiran orang zaman itu berubah. Terbuka alam baru. Dan ini akan terus berkembang sampai Yesus datang kembali. Inilah gagasan pokok yang disampaikan Lukas dalam Kisah Para Rasul. Para murid generasi pertama itu kemudian menjadi makin peduli akan keadaan orang-orang di semakin mengerti penderitaan orang lain dari kalangan sederhana. Mereka sudah merasa bebas dan bisa berbuat banyak. Mereka itu orang-orang yang peduli akan keadaan di masyarakat luas. Dalam banyak arti mereka itu juga membangun wahana hidup yang memungkinkan orang berkembang sebagai manusia yang utuh. Inilah buah pertama dari hadirnya Roh Kudus.
ROH KUDUS DAN KUASA MENGAMPUNI
Menurut Injil Yohanes, Roh Kudus diterima para murid ketika mereka sedang berkumpul dan sedang gelisah. Dalam keadaan itulah Yesus menampakkan diri dan mengembusi mereka. Ia menghadirkan Roh Kudus di tengah-tengah mereka. Kehadiran Roh di tengah para murid itu bukan berarti mereka kini lebur ke dalam Roh, bukan pula merasuknya Roh ke dalam batin masing-masing murid. Kenyataannya lebih sederhana, lebih apa adanya. Roh Kudus hadir di tengah-tengah kumpulan murid itu. Para murid masih tetap manusia, tidak menjadi “setengah Roh”. Kekuatan yang kemudian membuat mereka berani bersaksi itu bukannya karena mereka kini manusia super yang diisi Roh. Mereka itu kuat karena disertai Roh Kudus, bukan karena dirasukiNya.
Setelah berkata “Terimalah Roh Kudus”, Yesus menambahkan, “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang terap ada, dosanya tetap ada” (Yoh 20:23). Jelas bukan hanya mengampuni kesalahan ini atau itu, hal yang lazim dilakukan dalam hidup sehari-hari, melainkan mengampuni penolakan mendasar terhadap kehadiran Yang Ilahi. Itulah yang dimaksud dengan “dosa”. Tidak menggubris Yang Ilahi. MenganggapNya sepi. Dalam alam pikiran Yohanes, menutup diri ini ialah sikap khas dunia yang memusuhi Yang Ilahi. Maka dari itu dunia tetap dirundung kekuatan yang gelap, dan bahkan menjadi tempat daya-daya yang jahat. Dengan demikian dunia akan lenyap dengan sendirinya karena kini terang sudah datang. Satu-satunya pembebasan dari kuasa gelap ialah menerima terang. Ikut masuk ke dalam Kerajaan Allah, ke dalam wahana ilahi. Dalam pembicaraan dengan Nikodemus ditegaskan oleh Yesus bahwa orang hanya mungkin memasukinya bila lahir kembali dalam Roh, bukan lahir bagi dunia yang menolak kehadiran ilahi (Yoh 3:5-8).
Mendapat kuasa untuk mengampuni dosa atau menyatakannya tetap ada berarti memikul tanggung jawab untuk menentukan apakah penolakan terhadap Tuhan masih bertahan atau sudah mulai lepas. Tanggung jawab ini besar dan berat. Berat karena murid-murid diserahi urusan yang sebetulnya hanya dapat dilakukan Tuhan sendiri, yakni mengampuni dosa. Besar karena kini mereka ikut dalam penyelenggaraan ilahi untuk mengubah jagat ini menjadi terang, menjadi ciptaan yang baru. Dan tanggung jawab seperti ini diserahkan kepada para murid sebagai kesatuan, bukan urusan orang perorangan. Bila Gereja memahami diri sebagai kelanjutan para murid tadi, maka kuasa serta tanggung jawab itu terletak pada kebersamaan, bukan hanya pada pemimpin Gereja saja. Dan sebagai kesatuan, Gereja dapat mengajak orang-orang berkemauan baik mengembangkan kemanusiaan yang beradab. Itulah pelaksanaan dari kuasa mengampuni atau menyatakan dosa tetap ada.
Salam hangat,
A. Gianto

Lamunan Pekan Paskah VII

Sabtu, 30 Mei 2020

Yohanes 21:20-25                         

21:20. Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan yang berkata: "Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?"
21:21 Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus: "Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?"
21:22 Jawab Yesus: "Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku."
21:23 Maka tersebarlah kabar di antara saudara-saudara itu, bahwa murid itu tidak akan mati. Tetapi Yesus tidak mengatakan kepada Petrus, bahwa murid itu tidak akan mati, melainkan: "Jikalau Aku menghendaki supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu."
21:24 Dialah murid, yang memberi kesaksian tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu, bahwa kesaksiannya itu benar.
21:25 Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, ada pandangan bahwa tulisan adalah jendela kehidupan. Orang buta huruf bisa sungguh terhambat untuk memahami yang terjadi dalam perkembangan hidup.
  • Tampaknya, tulisan memang selalu menjadi rekaman baik bercorak realis maupun fiktif. Orang dapat dipandang berjasa dalam kehidupan kalau mampu menghasilkan tulisan bahkan dengan tulisan-tulisannya dapat disebut pujangga.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, sebanyak apapun orang dapat menulis buku-buku tebal, dia akan menyadari yang tertulis hanyalah muatan yang amat kecil dibandingkan dengan kejadian-kejadian yang dialami dalam kehidupan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati semakin berprestasi dalam karya orang akan semakin sadar bahwa yang dilakukan hanyalah sebagian kecil sekali dalam realita kehidupan.
Ah, yang namanya kemampuan menulis akan memasukkan orang dalam golongan intelektual.

Santo Maximinus dari Trier

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 3734 Diterbitkan: 23 Agustus 2013 Diperbaharui: 31 Mei 2014

  • Perayaan
    29 Mei
  •  
  • Lahir
    Hidup diabad ke-4
  •  
  • Kota asal
    Poitiers - Perancis.
  •  
  • Wilayah karya
    Trier, Gaul, Asia Kecil
  •  
  • Wafat
    12 September 349 atau 29 Mei 352 (terdapat beberapa catatan yang beragam)
  •  
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation

Santo Maximinius adalah uskup kota Trier yang hidup di abad keempat. Ia berasal dari keluarga bangsawan Galia. Seorang saudaranya juga menjadi seorang kudus, yaitu Santo Maxentius dari Poitiers.
Sebagai seorang pemuda, ia mendengar mengenai seorang uskup yang kudus di Trier, di Gaul. Ia pergi ke kota Trier dan menjadi murid St. Agritius. Uskup yang kudus ini memastikan bahwa Maximinius mendapatkan pendidikan yang seksama. Setelah beberapa tahun masa belajar dan persiapan, Maximinius ditahbiskan menjadi imam dan kemudian ditahbiskan menjadi uskup. Ia diserahi Keuskupan Trier. Uskup Agritius amat bersukacita. Ia tahu bahwa umatnya akan memiliki seorang uskup yang mengagumkan.
Maximinius hidup pada masa-masa heboh. Ketika St. Atanasius dari Alexandria, Mesir, dibuang ke pengasingan di Trier, St. Maximinus yang menyambutnya. Ia melakukan segala yang dapat dilakukan demi menolong Atanasius dan menjadikan masa pengasingannya sedikit lebih ringan. Seorang uskup lain yang gagah berani pada masa itu, St Paulus, Uskup Konstantinopel, juga dilindungi oleh St. Maximinus dari murka Kaisar Konstantius.
St. Atanasius menulis bahwa Uskup Maximinus seorang yang gagah berani dan kudus. Ia mengatakan bahwa Maximinius bahkan terkenal sebagai seorang pekerja ajaib. Meski diyakini bahwa Uskup Maximinus banyak menulis, namun karya-karyanya telah hilang. Yang tinggal adalah kenangan akan dedikasinya kepada Yesus dan kepada Gereja. Sebab ia seorang yang agung, ia siap sedia berdiri teguh melawan mereka yang menganiaya Gereja. Ia siap sedia pula melindungi para uskup yang gagah berani yang mengalami penganiayaan akibat intrik-intrik politik. Maximinus tak gentar membahayakan diri, meski itu berarti kehilangan kedudukan atau bahkan nyawa, jika perlu.

Thursday, May 28, 2020

Lamunan Pekan Paskah VII

Jumat, 29 Mei 2020

Yohanes 21:15-19                         

21:15. Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."
21:16 Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."
21:17 Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.
21:18 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki."
21:19 Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa untuk menjadi baik orang harus beragama. Agama adalah adalah gudang segala kebaikan.
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa untuk baik orang akan menjalani apapun yang diperintahkan oleh agama. Dia juga akan menjauhkan diri dari apapun yang dilarang agama.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul dekat dengan kedalaman batin, sekalipun taat pada agama dan rajin menjalani segala tata aturannya, orang belum akan sungguh baik kalau setiap kali tidak bertanya pada relung hati apakah dia secara personal mengasih Tuhan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan mendaskan hidup untuk mengasihi Tuhan yang berbuah kebaikan ikut mengurus orang-orang sekitarnya.
Ah, kalau beragama otomatis orang menomorsatukan Tuhan.

Beata Margareta Pole

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 4193 Diterbitkan: 23 Agustus 2013 Diperbaharui: 22 Januari 2019

  • Perayaan
    28 Mei
  •  
  • Lahir
    14 Agustus 1473
  •  
  • Kota asal
    Somerset, Wilshire, Inggris
  •  
  • Wafat
    28 Mei 1541 | Martir; dipenggal kepalanya di Tower Hill, London, England
    Dimakamkan di Saint Peter ad Vincula, Tower of London
  •  
  • Beatifikasi
    29 Desember 1886 oleh Paus Leo XIII
  •  
  • Kanonisasi
    -

Raja Inggris Henry VIII  mengangkat dirinya sendiri sebagai kepala Gereja di Inggris dan melepaskan segala hubungan Gereja Inggris dengan Tahta Suci di Roma. Henry berbuat begitu hanya beberapa saat setelah Paus sebagai Kepala Gereja menolak keinginannya untuk menceraikan Istri sahnya yaitu Ratu Katarina. Henry ingin menceraikan Katarina supaya ia dapat menikahi seorang gundiknya yang juga bekas pelayan isterinya yaitu Anne Boleyn; wanita yang telah membuatnya tergila-gila. 
Raja Henry kemudian menyatakan bahwa Gereja Katolik adalah terlarang di seluruh Inggris. Ia kemudian menguasai Gereja, menghancurkan banyak biara dan mengeksekusi para biarawan serta semua orang yang menentang keinginannya. Beata Margareta Pole adalah salah satu martir dalam Reformasi Anglikan ini.
Margareta Pole dilahirkan pada tahun 1471. Ia adalah kemenakan dua orang raja Inggris, Edward IV dan Richard III. Henry VII mengatur pernikahannya dengan Sir Reginald Pole. Sir Pole adalah seorang prajurit gagah, sahabat keluarga kerajaan.
Pada saat Raja Henry VIII naik tahta, Margareta telah menjadi janda dengan lima orang anak. Raja Henry VIII masih muda dan belum berpengalaman dalam hal mengendalikan kerajaan dan kekuasaan. Ia menyebut Margareta sebagai wanita paling kudus di seluruh Inggris. Ia begitu terkesan pada Margareta hingga ia mengembalikan sebagian harta keluarganya yang hilang di masa lampau. Raja juga memberinya gelar kerajaan.
Raja Henry VIII amat mempercayainya hingga Margareta diberi kepercayaan untuk mendidik Puteri Maria, putri raja dan Ratu Katarina. Tetapi kemudian, Henry VIII berusaha menikahi Anne Boleyn, meskipun ia sudah beristeri. Margareta tidak menyetujui perilaku raja. Karena itu, raja mengusirnya dari istana.
Raja menunjukkan bagaimana ia sangat tidak suka kepadanya. Raja bertambah murka ketika seorang putera Margareta, seorang imam, menulis sebuah artikel panjang menentang tuntutan Henry untuk menjadi kepala gereja Inggris (Putera Margareta itu kelak menjadi Kardinal Reginald Pole yang terkenal). Henry VIII tidak dapat mengendalikan diri lagi. Ia menjadi seorang yang kejam serta penuh rasa dengki. Ia mengancam akan membinasakan seluruh keluarga Margareta.

Henry VIII mengutus orang-orangnya untuk menginterogasi Margareta. Mereka harus dapat membuktikan bahwa Margareta adalah seorang pengkhianat. Mereka menginterogasinya mulai pagi hingga petang. Tetapi, tidak pernah sekali pun Margareta berbuat kesalahan. Tidak ada yang disembunyikan olehnya.
Kemudian Margareta dikenai tahanan rumah di sebuah kastil seorang bangsawan. Lalu, ia dipindahkan ke sebuah menara besar di London. Ia bahkan tidak diadili sebelum dipenjarakan. Selama musim dingin yang panjang, Margareta menderita kedinginan yang hebat. Tidak ada api dan tidak cukup pakaian hangat baginya.

Akhirnya, pada tanggal 28 Mei 1541, Beata Margereta dihantar keluar dari menara menuju tempat pelaksanaan hukuman mati. Ia lelah dan sakit, tetapi ia berdiri tegak dan gagah untuk mati demi imannya. “Aku bukan seorang pengkhianat,” demikian katanya dengan berani. Margareta dipenggal kepalanya. Usianya saat itu tujuh puluh tahun.
Gereja Inggris kemudian disebut Gereja Katolik Anglikan dan sampai hari ini tidak lagi mengakui Paus sebagai Kepala Gereja.

Setiap Martir Adalah Persembahan Bagi Gereja

Wednesday, May 27, 2020

Aja Melik Darbeke Liyan

Kadir dan kasir lagi duduk di cakruk sambil membicarakan situasi yang terjadi.
Kasir, “Dunia kok jadi begini ya Dir?”
Kadir, “Walah lagi santai-santai begini kok ngajak omongan berat ta Sir.”
Kasir, “Tidak saatnya kita omongin enteng Dir, ini saatnya kita berpikir lebih tajam dan mendalam.”
Kadir, “Hmmm gitu ya, trus apa yang akan kaubahas?”
Kasir, “Ini lo, pandemic belum selesai. Amerika dan Cina malah makin panas. Ini tadi malah tambah India karena Cina klaim satu daerah dekat India jadi miliknya.”
Kadir, “Ya gimana ya. Kita kan sudah diajarkan dalam iman kita “aja melik darbeke liyan” (jangan mengingini milik orang lain). Bila itu terjadi pasti membangkitkan perkara.”
Kasir, “Bener juga pendapatmu ya.”
Sambil merenungkan kata-kata Kadir Kasir mencari-cari coklatnya. Ia lalu menoleh ke arah Kadir. Kadir tampak puas memakan coklat.
Kasir, “Itu kan coklatku, kenapa kamu makan?”
Kasir berusaha mengambil coklat itu. Namun Kadir langsung memasukkan semua ke mulutnya. Mengamuklah Kasir ke Kadir.
Setiap orang diberi cukup untuk hidupnya. Mencukupkan diri dengan anugerah yang diterima akan menghantarnya pada kesejahteraan. Merasa iri dan ingin merebut milik orang akan menghancurkannya. (MoGoeng 28052020)

Lamunan Pekan Paskah VII

Kamis, 28 Mei 2020

Yohanes 17:20-26                         

17:20. Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka;
17:21 supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.
17:22 Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu:
17:23 Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.
17:24. Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.
17:25 Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku;
17:26 dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, ada keyakinan bahwa bagi orang baik Tuhan akan menganugerahi iman. Dia akan selalu mengalami berkat-berkat-Nya.
  • Tampaknya, ada keyakinan bahwa orang yang terbuka pada Tuhan akan mengalami cahaya dalam setiap langkahnya. Hidupnya selalu ada dalam terang nurani.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun selalu berusaha mendekat dengan Tuhan dengan membuka hati, orang belum sungguh beriman kalau dalam hidup hariannya tidak menjadikan orang lain juga terketuk hatinya untuk terbuka pada nurani. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan menjadi parit mengalirnya berkat Tuhan bagi orang lain lewat kata dan perbuatannya.
Ah, hubungan dengan Tuhan itu adalah urusan masing-masing orang sehingga tak perlu memperhatikan orang lain.