Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Monday, November 30, 2020

Lamunan Peringatan Wajib

Beato Dionisius dan Beato Redemptus, Biarawan Martir Indonesia

Selasa, 1 Desember 2020

Lukas 10:21-24

21 Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. 22 Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorangpun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu." 23 Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya tersendiri dan berkata: "Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. 24 Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, orang dapat merasa berpengetahuan karena mengalami pendidikan akademis. Makin tinggi lulusan tingkat akademis dengan titel-titelnya makin dapat merasa luas dan mendalamlah pengetahuannya.
  • Tampaknya, tidak sedikit orang yang juga menganggap orang yang masuk golongan cendekiawan menjadi sumber mendapatkan pengetahuan. Dengan banyak teori dikuasai orang bisa mendapatkan tempat terhormat untuk menghadirkan kebijakan hidup.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, walau tak mengenyam bangku sekolah, kaum kecil akan memiliki pengetahuan sejati karena mengalami dan melihat langsung realita harian yang bisa luput dari penglihatan kaum bijak cendekiawan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati, walau memiliki titel-titel tinggi dari pendidikan akademis, orang sadar bahwa tanpa pengalaman langsung dalam keseharian dari bidang ilmunya, orang justru bisa buta atas hal yang teorinya dikuasai.

Ah, dengan titel tinggi jelas punya pengetahuan handal.

Santo Andreas Rasul

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 10 Agustus 2013 Diperbaharui: 09 Oktober 2019 Hits: 17593

  • Perayaan
    30 November
  •  
  • Lahir
    Hidup abad pertama
  •  
  • Kota asal
    Bethsaida, Galilea
  •  
  • Wilayah karya
    Yerusalem, Yunani
  •  
  • Wafat
  •  
  • Martir; disalibkan pada Saltire (salib berbentuk X) di Patras Yunani
  •  
  • Beatifikasi
    -
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Santo Andreas berasal dari Betsaida di Galilea, tanah Israel. Ia bersama saudaranya Simon Petrus adalah teman sekota kelahiran dengan seorang murid Yesus yang lain yaitu Filipus. Andreas dan Petrus hidup dengan bekerja sebagai nelayan penjala ikan di danau Galilea. Mereka tinggal serumah, bersama-sama dengan ibu mertua Petrus, di kota Kapernaum.

Awalnya Andreas adalah murid Yohanes Pembaptis. Tetapi, ketika Yohanes menunjuk kepada Yesus dan berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah,” Andreas mengerti bahwa Yesus lebih besar daripada Yohanes. Pada saat itu juga ia meninggalkan Yohanes untuk mengikuti Yesus.
Yesus tahu bahwa Andreas mengikuti-Nya dari belakang. Yesus berbalik dan bertanya, “Apakah yang kamu cari?”. Andreas menjawab bahwa ia ingin tahu di manakah Yesus tinggal. Yesus menjawab, “Marilah dan kamu akan melihatnya.” Belum lama Andreas tinggal bersama Yesus, ketika ia menyadari bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh Mesias. Sejak saat itu, ia memutuskan untuk mengikuti Yesus.
Andreas jugalah yang memperkenalkan Petrus kepada Yesus. Setelah bertemu dengan Yesus ia memberitahukan kepada Simon, saudaranya : "Kami telah menemukan Mesias". Andreas membawa Simon kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: "Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus)."  

Andreas dipilih Yesus menjadi salah seorang dari 12 rasul-Nya yang utama, seperti yang dicatat di semua Injil dan Kisah Para Rasul.  Andreas selalu berada disisi Yesus dalam semua perjalananNya.
Dalam peristiwa mujizat pemberian makan lebih dari 5000 orang, Andreas mempunyai peranan dalam memperkenalkan anak yang membawa 5 roti jelai dan 2 ikan kepada Yesus dengan kata-kata:
"Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini...?"

Setelah Yesus naik ke surga, Andreas ada di antara rasul-rasul lainnya di ruang atas untuk menantikan turunnya Roh Kudus yang dijanjikan Yesus. Konon, ia kemudian mewartakan Injil di Scytia dan Yunani, dan kemudian menurut tradisi (yang agak diragukan), ia pergi ke Byzantium, di mana ia mengangkat Stachys menjadi Uskup setempat.

Menurut tradisi Andreas wafat sebagai martir di Patras, Acaia, (Yunani). Ia digantung pada sebuah saltire (salib yang berbentuk huruf "X" ) selama 2 hari, dan selama itu ia terus berkotbah kepada khalayak yang datang menyaksikannya. Ia tidak dipakukan melainkan diikat saja pada salib itu, sehingga lebih lama ia menderita sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Salib berbentuk X ini kemudian dinamakan orang "Salib Santo Andreas".

St. Hieronimus menulis bahwa Relikwi Santo Andreas diambil dari Patras dan dibawa ke Konstantinopel atas perintah kaisar Konstantius II sekitar Tahun 357.  Relikwi ini kemudian disimpan di Gereja Para Rasul Kudus di Konstantinopel. Pada tahun 1461 sebagian relikwi santo Andreas diberikan kepada Paus Pius II.  Relikwi ini kemudian ditempatkan dalam salah satu dari empat pilar tengah Basilika Santo Petrus di Vatikan.

Pada saat kejatuhan kota Konstantinopel, relikwi Santo Andreas dan Santo Petrus yang disimpan di kota itu diselamatkan ke kota Amalfi Italia, oleh Kardinal Petrus dari Capua. Di sana sebuah Khatedral yang indah kemudian dibangun untuk menyimpan relik tersebut. Khatedral ini diberi nama Duomo (khatedral) di Sant'Andrea, Amalfi, Italia.

Pada September 1964, Paus Paulus VI, sebagai itikad baik terhadap Gereja Ortodoks Yunani, memerintahkan agar semua relikwi dan peninggalan St. Andreas yang berada di Vatican dikirim kembali ke Patras. Pada tanggal 24 September 1964 Kardinal Augustin Bea bersama dengan banyak kardinal lainnya menghantarkan relikwi St. Andreas kepada Patriark (Uskup) Konstantinus di Patras. 

Pada tanggal 19 Januari 1980 Salib St. Andreas yang diambil dari Patras Yunani pada masa Perang Salib oleh Duke of Burgundy juga dikembalikan ke Patras setelah selama beberapa abad Relikwi tersebut disimpan di gereja St. Victor di Marseilles Perancis. Relikwi tersebut diserahkan kepada Patriark Patras Nikodemus oleh delegasi Gereja Katolik yang dipimpin oleh Kardinal Roger Etchegaray.  Semua Relikwi yang dikembalikan tersebut termasuk juga sisa-sisa salib X tempat rasul ini menjadi martir, kini disimpan di Gereja St. Andreas Patras; di sebuah Altar khusus dan dihormati dalam sebuah upacara khusus setiap 30 November hari pestanya.

Santo Andreas juga dihormati sebagai Santo Pelindung untuk Negara Scotlandia. Bendera Negara Scotlandia adalah gambar dari salib Santo Andreas. Kisahnya : Suatu ketika Raja Scotlandia Angus MacFergus menghadapi serbuan dari bala tentara musuh yang sangat besar. Ia kemudian berdoa memohon bimbingan Tuhan. Secara ajaib ia melihat sebuah awan putih berbentuk Saltire (salib berbentuk X lambang Santo Andreas) melayang di langit biru di atas kepalanya. Raja Angus kemudian berdevosi pada Santo Andreas dan memenangkan perang yang sangat menentukan masa depan kerajaannya. Sejak saat itu ia memutuskan bahwa Santo Andreas akan menjadi santo pelindung bagi Scotlandia. Menyusul kemenangan Robert Bruce pada Pertempuran Bannockburn pada tahun 1314, Deklarasi Arbroath dengan resmi menyatakan bahwa Santo Andreas adalah Santo pelindung Skotlandia. Di kemudian hari gambar Saltire diresmikan menjadi bendera nasional Negara Skotlandia pada tahun 1385.

Sunday, November 29, 2020

Lamunan Pesta

Santo Andreas, Rasul

Senin, 30 November 2020

Matius 4:18-22

18. Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. 19 Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." 20 Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. 21 Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka 22 dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, ada gambaran bahwa seorang tokoh iman adalah sosok yang memiliki perhatian besar pada hidup beragama. Hidup beriman atau ber-Tuhan amat erat dengan hidup beragama.
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa seorang tokoh iman akan rajin memenuhi segala kegiatan keagamaan seperti berdoa, beribadat, dan aktivitas-aktivitas lainnya. Dia juga akan berjuang untuk membuat banyak orang makin aktif dalam hidup keagamaan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun hidup beragama menyadarkan orang dalam ber-Tuhan, orang baru sungguh hidup dalam topangan amanat ilahi kalau tindakan-tindakannya dilandasi oleh jiwa kemanusiaan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati makin dekat orang dengan Tuhan makin besarlah perhatiannya pada perjuangan kemanusiaan.

Ah, orang yang sungguh ikut Tuhan pasti hebat hidup keagamaannya.

Beato Dionisius a Nativitate

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 21 Agustus 2014 Diperbaharui: 23 November 2019 Hits: 7606

  • Perayaan
    29 November
  •  
  • Lahir
    12 Desember 1600
  •  
  • Kota asal
    Honfleur, Perancis
  •  
  • Wilayah karya
    Goa - India, Sumatra - Indonesia
  •  
  • Wafat
  •  
  • Martir - Kepalanya di pukul dengan Gada hingga pecah lalu lehernya digorok; di Aceh Indonesia pada tanggal 27 November 1638
  •  
  • Beatifikasi
    tanggal 10 Juni 1900 oleh Paus Leo XIII
  •  
  • Kanonisasi

Nama babtis Beato Dionisius a Nativitate adalah Pierre Berthelot. Ia lahir di kota Honfleur, Perancis pada tanggal 12 Desember 1600. Ayahnya adalah seorang dokter dan nakoda kapal dan Ibunya yang bernama Fleurie Morin adalah seorang aristokrat Prancis yang harum namanya. Semua adiknya : Franscois, Jean, Andre, Geoffin dan Louis menjadi pelaut seperti ayahnya. Pierre sendiri semenjak kecil (12 tahun) telah mengikuti ayahnya mengarungi lautan luas; dan ketika berusia 19 tahun ia sudah menjadi seorang pelaut ulung.

Selain darah pelaut, ia juga mewarisi hidup keagamaan yang kuat dari ayahnya. Ini tercermin di dalam kerendahan hatinya, kekuatan iman, kemurnian dan kesediaan berkorban. Pierre muda bekerja pada perusahaan dagang Perancis. Dalam rangka tugas dagang, ia berlayar sampai ke Banten, Indonesia. Tetapi kapalnya dibakar oleh saudagar-saudagar Belanda dari kongsi dagang VOC. Berkat pengalamannya mengarungi lautan, ia sangat pandai menggambar peta laut dan memberikan petunjuk jalan.

Pierre kemudian bekerja pada angkatan laut Portugis di Goa, India. Namun ia senantiasa tidak puas dengan pekerjaannya itu. Ada keresahan yang senantiasa mengusik hatinya. Ia selalu merenungkan dan mencari arti hidup yang lebih mendalam. Ketika itu ia sudah berusia 35 tahun. Akan tetapi usia tidak menghalangi dorongan hatinya untuk hidup membiara. Ia diterima di biara Karmel. Namanya diubah menjadi Dionisius a Nativitate. Sekalipun ia sudah menjalani hidup membiara, namun ia masih beberapa kali menyumbangkan keahliannya kepada pemerintah, baik dengan menggambar peta maupun dengan mengangkat senjata membuyarkan blokade di Goa yang dilancarkan oleh armada Belanda (1636).

Di biara Karmel itulah, Dionisius bertemu dengan Bruder Redemptus a Cruce, yang bertugas sebagai penjaga pintu biara, koster, penerima tamu dan pengajar anak-anak.

Pada tahun 1638, Wakil Raja Portugis di Goa, Pedro da Silva, bermaksud mengirim misi diplomatik ke Aceh yang baru saja berganti sultan; dari Sultan Iskandar Muda ke Sultan Iskandar Thani. Pedro da Silva ingin menjalin hubungan persahabatan karena hubungannya dengan sultan terdahulu tidak begitu baik. Sebagai seorang bekas pelaut yang sudah pernah datang ke Banten, Dionisius ditunjuk sebagai almosenir, juru bahasa dan pandu laut. Oleh karena itu tahbisan imamatnya dipercepat. Dionisius ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1637 oleh Mgr. Alfonso Mendez. Bruder Redemptus dengan izinan atasannya ikut serta dalam perjalanan dinas itu sebagai pembantu.
 
Misi ini dipimpin oleh Dom Francisco Sousa de Castro sebagai duta. Para anggota misi yang lainnya adalah: Pater tentara Dionisius, Bruder Redemptus, Don Ludovico da Soza, dua orang biarawan Fransiskan, seorang pribumi dan 60 orang awak kapal. Mereka berlabuh di Ole-Ole (kini: Kotaraja) dan disambut dengan ramah.
 
Tetapi keramahan orang Aceh ternyata hanyalah tipu muslihat belaka. Orang-orang Belanda telah menghasut Sultan Iskandar Thani dengan menyebarkan isu bahwa bangsa Portugis datang hanya untuk menyebarkan agama Katolik di wilayah Aceh. Karena itu semua anggota misi ini ditangkap, dipenjarakan, dan disiksa agar menyangkal imannya. Selama sebulan mereka meringkuk di dalam penjara dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Beberapa orang dari antara mereka meninggalkan imannya untuk membeli kebebasan mereka.
 
Dionisius dan Redemptus terus meneguhkan iman saudara-saudaranya dan memberi mereka hiburan. Akhirnya di pesisir pantai tentara sultan mengumumkan bahwa mereka dihukum mati bukan karena berkebangsaan Portugis melainkan karena mereka adalah pemeluk agama KatoIik. Maklumat sultan ini diterjemahkan oleh Pater Dionisius kepada teman-temannya.
 
Sebelum menyerahkan nyawa ke tangan para algojo, mereka semua berdoa dan Pater Dionisius mengambil salib dan memperlihatkan kepada mereka supaya jangan mundur, melainkan bersedia mengorbankan nyawa demi Kristus Yang Tersalib dan yang telah menebus dosa dunia, dosa mereka. Dionisius memohon ampun kepada Tuhan dan memberikan absolusi terakhir kepada mereka satu per satu. Segera tentara menyeret Dionisius dan dimulailah pembantaian massal.
 
Setelah teman-temannya dibunuh satu-demi satu, Pater Dionisius masih bersaksi tentang Kristus dengan penuh semangat. Kotbahnya itu justru semakin menambah kebencian rakyat Aceh terhadapnya. Algojo-algojo semakin beringas untuk segera menamatkan riwayat Dionisius. Namun langkah mereka terhenti di hadapan Dionisius. Dengan sekuat tenaga mereka menghunuskan kelewang dan tombak akan tetapi seolah-olah ada kekuatan yang menahan, sehingga tidak ada yang berani. Segera kepala algojo mengirim utusan kepada sultan agar menambah bala bantuan.
 
Dionisus lalu berdoa kepada Tuhan agar niatnya menjadi martir dikabulkan. Dan permintaannya dikabulkan. Seorang algojo - yang adalah seorang Kristen Malaka yang murtad - mengangkat gada dan mengayunkan dengan keras ke kepala Dionisius, disusul dengan kelewang yang memisahkan kepala Dionisius dari tubuhnya.
 
Kemartiran Dionisius dengan kawan-kawannya disahkan Tuhan: mayat mereka selama 7 bulan tidak hancur, tetap segar seperti sedang tidur. Menurut saksi mata, jenazah Dionisius sangat merepotkan orang sekitarnya, karena setiap kali dibuang - ke laut dan tengah hutan - senantiasa kembali lagi ke tempat ia dibunuh. Akhirnya jenazahnya dengan hormat dimakamkan di Pulau Dien ('pulau buangan'). Kemudian dipindahkan ke Goa, India.
 
Pater Dionisius a Nativitate dibeatifikasi bersama dengan Bruder Redemptus a Cruce pada tanggal 10 Juni 1900 oleh Paus Leo XIII.

Setiap Martir Adalah Persembahan Bagi Gereja

Saturday, November 28, 2020

Rm. Yadi Opname

Pada jam 06.26 Minggu 29 November 2020 Rm. Bambang mendapatkan pesan WA dari Rm. Hartanta. Bunyi WA itu adalah "Pagi. Saya baru memgantar rm yadi periksa ke IGD. Tadi malam sampai pagi muntah muntah". Ketika Mas Abas masuk kamarnya pada jam 06.37 Rm. Bambang bertanya "Rama Hartanta le ngeterke Rama Yadi karo sapa?" (Rm. Hartanta mengantar Rm. Yadi dengan siapa?). "Kalih Mas Hari" (Dengan Mas Hari) jawab Mas Abas. 

Pada sekitar jam 09.10 Rm. Hartanta sudah berada kembali di Domus Pacis Puren untuk mandi dan makan pagi. Jam 10.00 beliau harus memimpin pemberkatan jenasah tetangga Katolik karena Rama Paroki baru ada acara. Pada jam 11.00 Rm. Hartanta sudah ada di Domus lagi. Beliau memberi tahu Rm. Bambang bahwa Rm. Yadi harus opname tetapi masih belum mendapatkan kamar. Rm. Yadi juga harus menjalani test untuk menditeksi ada virus covid-19 atau tidak. Ini adalah keharusan yang diterapkan di RS Panti Rapih, kata Rm. Hartanta. Ternyata berita tentang Rm. Yadi sudah sampai Keuskupan sehingga Rm. Rubiyatmoko pada jam 11.00 menulis dalam Grup WA para rama praja Keuskupan Agung Semarang "Para Romo. Berkah Dalem. Mohon doa untuk Rm. Yoakim Suyadi (Domus Pacis) yang harus menjalani perawatan di RSPR. Semoga lekas sembuh. Matur nuwun."

Lamunan Pekan Adven I

Minggu, 29 November 2020

Markus 13:33-37

33 "Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba. 34 Dan halnya sama seperti seorang yang bepergian, yang meninggalkan rumahnya dan menyerahkan tanggung jawab kepada hamba-hambanya, masing-masing dengan tugasnya, dan memerintahkan penunggu pintu supaya berjaga-jaga. 35 Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu pulang, menjelang malam, atau tengah malam, atau larut malam, atau pagi-pagi buta, 36 supaya kalau ia tiba-tiba datang jangan kamu didapatinya sedang tidur. 37 Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang: berjaga-jagalah!"

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, pada umumnya orang tahu dan sadar bahwa kematian adalah realita yang akan dihadapi oleh siapapun. Kematian adalah sebuah kepastian.
  • Tampaknya, pada umumnya orang tahu dan sadar datangnya kematian tidak ada kepastian kapan hari, tanggal, dan jamnya. Di dalam hidup beragama orang akan berjaga-jaga dengan banyak doa, ibadat, dan memperdalam ajaran dan tatanan keagamaan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun amat rajin menjalani hidup keagamaan sebagai kesiagaan akan datangnya kematian, kesiagaan sejati adalah menjaga keceriaan hati agar tidak redup bagai mata yang dikuasai oleh kantuk hingga tertidur. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan selalu menjaga diri agar berhati damai ceria menghadapi realita apapun.

Ah, asal sudah menjalani wajib-wajib agama orang punya tiket masuk surga.

Santa Katarina Laboure

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 21 Agustus 2014 Diperbaharui: 20 November 2019 Hits: 11399

  • Perayaan
    28 November
  •  
  • Lahir
    2 Mei 1806
  •  
  • Kota asal
    Fain-les-Moûtiers, Côte d’Or, Perancis
  •  
  • Wafat
  •  
  • 31 Desember 1876 - Oleh sebab alamiah
    Pada tahun 1933 tubuhnya ditemukan tetap utuh
  •  
  • Venerasi
    19 Juli 1931 oleh Paus Pius XI (decree of heroic virtues)
  •  
  • Beatifikasi
    28 Mei 1933 oleh Paus Pius XI
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • 27 Juli 1947 oleh Paus Pius XII

Nama kecil Santa Katarina Laboure adalah: Zoe Laboure. Ia lahir di desa Fainles Mautiers, Prancis pada tanggal 2 Mei 1806, anak kesembilan dari 11 orang bersaudara.  Ayahnya bernama Pierre Laboure, adalah seorang petani yang sangat bersahaja namun saleh. Ibundanya, Louise Madeleine Gontard, juga adalah seorang katolik yang sangat saleh. Ibunda Santa Katarina meninggal pada tanggal 9 Oktober 1815, ketika ia baru berusia sembilan tahun. Dikisahkan bahwa setelah pemakaman ibunya, Katarina mengambil patung Santa Perawan Maria dan menciumnya seraya berbisik: "Sekarang engkaulah ibuku."  

Setelah kematian ibundanya, Katarina bekerja dan tinggal dirumah bibinya  di Saint-Rémy, sebuah desa yang berjarak sembilan kilometer dari rumah mereka.  Namun karena tertarik dengan kehidupan religius; ia memutuskan untuk  masuk biara Suster “Puteri Kasih” (didirikan oleh Santo Vincentius de Paul) dan diberi nama biara “Katarina”. Ia kemudian menjadi seorang suster yang amat sederhana, saleh, rajin serta penuh pengabdian.

Beberapa hari setelah menjadi postulan di biara Rue de Bac, Paris,  Bunda Maria menampakkan diri kepadanya.  Pada tengah malam tanggal 18/19 Juli 1830, suster Katarina terjaga dari tidurnya karena suatu suara ajaib yang memanggilnya sebanyak tiga kali: "Suster Laboure ... Suster Laboure ... Suster Laboure!" Ia tersentak bangun dan tampaklah di hadapannya seorang anak kecil berusia kira-kira 4 sampai 5 tahun. Anak kecil ini mengajaknya ke kapela biara.  

"Bunda Maria menanti engkau di kapel!" kata anak kecil itu. Dalam sikap ragu-ragu, penuh tanda tanya dan takut, Suster Katarina bersama anak kecil ajaib itu melangkah ke kapel. Herannya, semua pintu kapel terbuka dengan sendirinya, lilin-lilin dan lampu-lampu di dalam kapel itu menyala. Dan benarlah pemberitahuan anak kecil itu! Setelah menunggu setengah jam lamanya, tiba-tiba anak kecil itu berseru: "Lihat, itulah Bunda Maria!" Bunda Maria muncul dan berlutut menyembah Sakramen Mahakudus, lalu duduk di kursi Pastor Kepala. Suster Katarina segera mendekatinya dan meletakkan tangannya di atas pangkuan Bunda Maria. Lebih dari dua jam lamanya Bunda Maria berbicara dengan Katarina perihal tugas perutusannya yang dipercayakan Tuhan kepadanya.

Pada tanggal 27 November 1830, jam setengah enam malam, sekali lagi Bunda Maria menampakkan diri kepadanya dalam rupa sebuah gambar. Bunda Maria tampak sedang berdiri di atas bola bumi dengan berkas-berkas cahaya ajaib memancar dari tangannya. Bola bumi itu dikelilingi tulisan berikut: "Oh Maria yang dikandung tanpa noda dosa, doakanlah kami yang berlindung kepadamu!" Gambar itu lalu membalik dan menampakkan huruf "M"; di atasnya terdapat sebuah hati dan salib yang saling berhubungan. Sementara itu terdengar olehnya suruhan Bunda Maria agar ia segera membuat satu medali yang berbentuk bulat lonjong seperti yang tergambar dalam tanda penampakan itu. Bunda Maria berjanji: "Semua orang yang mengenakan medali ini pada lehernya akan memperoleh karunia khusus." Katarina meneruskan pesan tersebut kepada yang berwajib. Lalu, sesuai suruhan Bunda Maria, dibuatlah medali tersebut dan segera disebarluaskan kepada umat. Banyaklah permohonan yang terkabul karena medali tersebut, misalnya penyembuhan, pertobatan dll. Semuanya itu sungguh-sungguh ajaib, karena semula hal-hal itu memang tak dapat diatasi dengan cara biasa.

Penampakan itu terus berlanjut beberapa kali lagi sampai bulan September 1881. Kemudian Suster Katarina menceritakan penampakan-penampakan itu dengan jelas kepada Pastor Aladel, Bapa Pengakuannya. Setelah diselidiki dengan saksama, pastor itu mohon kepada Uskup Agung de Quelen di Paris untuk memberikan restu dan izin bagi pembuatan medali tersebut. Medali inilah yang sekarang lazim disebut 'Medali Wasiat'. Kata 'wasiat' tidak menunjuk kepada hasil yang diperoleh umat oleh karena memakai medali itu, melainkan menunjuk pada asal dan cara bagaimana medali itu terjadi.

Katarina melanjutkan cara hidupnya dalam kesederhanaan dan kerendahan hati dengan melakukan tugasnya sebagai penjaga pintu dan tukang masak di biara Enghien-Reuilly. Rahasia penampakan Bunda Maria yang dialaminya tidak diketahui oleh rekan-rekannya sebiara. Delapan bulan sebelum kematiannya, barulah ia menceritakan beberapa penampakan yang dialaminya kepada Suster Dufes, Superiornya.

Suster Katarina Laboure meninggal dunia pada tanggal 31 Desember 1876 dalam usia 70 tahun. Pada tahun 1933, demi proses beatifikasinya, makamnya digali kembali dan tubuhnya ditemukan tetap utuh. Saat ini tubuh Santa Katarina yang masih utuh tersebut diletakkan dalam sebuah peti mati kaca di samping altar Kapela Santa Maria dari Medali Ajaib (sering hanya disebut oleh alamatnya, 140 Rue du Bac), Paris;  tempat di mana Bunda Maria pernah menampakkan diri kepadanya.

Santa Katarina Laboure dibeatifikasi pada tanggal 28 Mei 1933 oleh Paus Pius XI dan dikanonisasi oleh Paus Pius XII pada tanggal 27 Juli 1947.

Friday, November 27, 2020

Minggu Adven I/B – 29 Nov 2020 (Mrk 13:33-37 + 1Kor 1:3-9)

 https://unio-indonesia.org/2020/11/24; ilustrasi dari koleksi Blog Domus


KINI DAN DI SINI

Rekan-rekan yang budiman!

Masa Adven menjadi persiapan mendalami makna perayaan tahunan kelahiran sang Penyelamat pada hari Natal. Dia yang lahir dalam kesederhanaan di Betlehem itu sama dengan dia yang akan datang pada akhir zaman dengan segala kemuliaannya nanti. Bacaan Injil Adven I tahun B (Mrk 13:33-37) mengajarkan kewaspadaan agar tidak kehilangan arah ke masa depan ini. Nanti dalam Injil Minggu Adven II dan III, perhatian pada “akhir zaman” berkaitan dengan warta Yohanes Pembaptis. Ia mewartakan baptisan sebagai ungkapan tobat dari pihak manusia; ia juga mempersaksikan baptisan dalam Roh yang dibawakan Yesus. Penekanan pada kesaksian akan karya ilahi ini juga ada dalam Injil Minggu Adven IV yang menampilkan orang-orang yang terdekat dengan Yesus, yakni Maria dan Yusuf. Mereka ini orang-orang pertama yang dengan sederhana dan tulus membiarkan Roh bekerja dalam diri mereka. Dan kita semua, kini dan di sini, dapat ikut menikmati buah keberanian mereka.

WASPADA

Mrk 13:33-37 sebetulnya memuat dua perumpamaan Yesus mengenai kewaspadaan yang diringkas dan disatukan oleh Markus. Yang pertama terdapat dalam ay. 34, “Keadaannya sama seperti seorang yang bepergian, yang meninggalkan rumahnya dan menyerahkan tanggung jawab kepada hamba-hambanya, masing-masing dengan tugasnya, dan memerintahkan penjaga pintu supaya berjaga-jaga.” Pokok perhatian perumpamaan ini terletak pada kesetiaan. Perumpamaan yang kedua tersirat dalam ay. 35: “Maka berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu kapan tuan rumah itu pulang, menjelang malam, atau tengah malam, atau larut malam, atau pagi-pagi buta.” Di sini yang ditonjolkan ialah sikap waspada.

Para pembaca Markus pada zaman dulu mengerti bahwa tuan rumah yang pulang pada malam hari (ay. 35) tidak sama dengan orang yang tadi diceritakan pergi jauh dan mempercayakan miliknya kepada para hambanya (ay. 34). Bukan kebiasaan orang yang merantau untuk kembali pada saat yang tak terduga-duga pada malam hari. Tuan rumah yang disebut dalam ay. 35 itu hanya pergi ke sebuah perjamuan nikah – seperti diberitakan dalam Luk 12:36 – dan akan pulang malam itu juga walau tidak diketahui jam berapa persisnya. Bahwasanya ada dua perumpamaan juga terlihat dari pengolahan terpisah baik di dalam Injil Matius maupun Lukas.

Matius menggarap kembali perumpamaan yang pertama dalam perumpamaan tentang talenta dalam Mat 25:14 dst. Perumpamaan tentang mina dalam Luk 19:11-27 juga ke arah itu walaupun tidak sejelas Matius. Di lain pihak perumpamaan yang kedua dalam Injil Markus tadi lebih terolah dalam Luk 12:36-38. Lukas menaruhnya di dalam rangkaian pengajaran khusus kepada para murid. Mat 24:43b sebenarnya hanya berupa saduran ringkas perumpamaan yang kedua dengan mengalihkan peran hamba-hamba yang mesti berjaga-jaga dengan sikap seorang tuan rumah yang menjaga rumahnya terhadap pencuri yang tak diketahui kapan datangnya.

SETIA DALAM TANGGUNGJAWAB

Seperti dalam perumpamaan pertama, yakni Mrk 13:34, perumpamaan talenta dalam versi Matius mulai pada Mat 25:14 yang menyebutkan bahwa orang yang meninggalkan rumahnya itu mempercayakan miliknya kepada para hambanya. Markus berhenti di sini dan sisanya dikembangkan oleh pendengarnya. Maka seperti ditemukan dalam Matius, masing-masing hamba disebutkan mendapat sesuai dengan kemampuan masing-masing. Dengan kata lain, tanggung jawabnya sebanding dengan besarnya tugas tiap orang. Mereka masing-masing diharapkan akan menjalankan pekerjaan yang diberikan pemilik dengan sebaik-baiknya sehingga urusannya tidak terbengkalai walaupun ia tidak ada di tempat. Memang satu ketika ia akan kembali dan memeriksa jalannya urusan yang dipercayakannya tadi. Akan jelas siapa dari para hamba itu yang sungguh dapat dipercaya dan siapa yang sebenarnya tidak layak diserahi urusan. Kesetiaan digambarkan bukan dengan perasaan atau niatan saja, melainkan dengan usaha dan perbuatan nyata. Mereka yang sungguh setia ialah yang berhasil mengembalikan dua kali lipat, maksudnya, berhasil mengembangkan sama dengan besarnya kepercayaan yang telah diberikan tuannya. Mereka akan dijadikan orang merdeka – bukan lagi hamba – dan tetap boleh tinggal di rumah itu. Itulah cara Matius mengembangkan perumpamaan yang dirumuskan Markus dengan amat singkat dalam Mrk 13:34.

Apa warta Mrk 13:34? Seperti ditafsirkan oleh Matius yang kiranya memakai bahan Markus ini, orang diminta agar berani mengembangkan apa saja yang diberikan kepadanya. Tidak dibenarkan sikap merendah dan tak berani berinisiatif karena takut, seperti hamba yang mendapat satu talenta yang malah menyembunyikannya. Ia tidak dapat mempertanggungjawabkan kepercayaan yang telah diberikan kepadanya. Tenggang waktu menunggu pulangnya sang majikan menjadi kesempatan membangun masa depan tapi bisa juga berarti hilangnya masa depan itu. Membangun masa depan dengan sikap percaya ialah cara menerima kebaikan ilahi yang paling bertanggungjawab. Itulah rahmat dalam kehidupan nyata.

JANGAN LEWATKAN KESEMPATAN EMAS

Mari kita lihat bagaimana Lukas menggarap perumpamaan yang kedua yang termaktub dalam Mrk 13:35. Diceritakan oleh Lukas seorang tuan rumah yang bepergian ke jamuan nikah pada malam hari dan akan pulang malam itu juga. Harapannya, bila pulang ia akan mendapati hamba-hambanya masih bangun. Hamba-hamba yang didapati berjaga ketika tuannya pulang disebut “berbahagia” dalam Luk 12:37. Tuan itu akan meminta mereka duduk dan ia sendiri akan melayani mereka. Ia akan menghidangkan oleh-oleh dan “berkah” yang dibawanya pulang dari pesta tadi. Jelas tuan tadi memikirkan hamba-hambanya. Bagi orang zaman itu, dan boleh juga zaman kita sekarang, keramahan dan sikap tuan rumah tadi mengherankan. Mana ada majikan yang melayani! Memang tak jarang kita pulang larut malam membawa sesuatu bagi mereka yang bekerja kepada kita, tetapi melayani mereka makan…? Pembaca ayat Lukas itu akan bertanya-tanya demikian. Tetapi ini cara Lukas mengatakan bahwa sang tuan rumah kini tidak lagi menganggap mereka hamba. Perlakuannya mengundang mereka duduk dan menghidangkan makanan itu perlakuan kepada anggota keluarga sendiri. Jadi dalam perumpamaan itu hendak dikatakan bahwa mereka yang didapati berjaga-jaga dan membukakan pintu bagi tuan rumah itu kini menjadi anggota keluarga!

Dalam tafsiran Lukas di atas, nasihat berjaga-jaga agar tidak ketiduran dalam Mrk 13:35 tampil sebagai warta gembira. Ujung pangkalnya ialah kebaikan tuan rumah yang kini memperlakukan hamba-hamba sebagai anggota keluarga sendiri. Adakah yang lebih besar yang dapat diinginkan seorang hamba? Adakah hal lebih membuat orang menyesal bila kesempatan ini berlalu begitu saja karena ketiduran? Dan warta ini tidak hanya ditujukan kepada para murid, tetapi juga seperti disebut dalam ay. 37, diajarkan Yesus kepada semua orang.

PENGALAMAN BATIN EMPAT WAKTU

GUS: Mark, biasanya kau hemat kata, tapi dalam ay. 35 kok malah kausebutkan satu demi satu keempat waktu “ronda”: malam hari, tengah malam, larut malam, dan pagi-pagi buta. Luc dan Matt tidak ikut menyebutnya.

MARK: Ehm! [Lalu pandangannya kembali ke masa silam.] Memang itu dariku sendiri. Gus, tahu kan, saat-saat akhir hidup Yesus diingat dalam empat waktu itu: (1) …setelah hari malam, Mrk 14:17, ia mengadakan perjamuan terakhir ..” lalu (2) menjelang tengah malam ia ditangkap di Getsemani dan langsung di sidangkan di Mahkamah Agama Mrk 14:53; setelah itu (3) sebelum ayam berkokok kedua kalinya, Mrk 14:72, Petrus, orang kepercayaannya, menyangkalnya untuk ketiga kalinya; dan akhirnya (4) – pagi-pagi benar – seperti dalam Mrk 15:1, ia dibawa ke hadapan Pilatus untuk diadili dan akhirnya dihukum mati di salib.

GUS: [Dalam hati, “Mark ngelamun nih!”] Maksudmu?

MARK: Ada di antara para pengikut Yesus dulu yang menantikan kedatangannya kembali seperti hamba-hamba menunggu tuannya pulang pesta sambil berharap nanti bisa mendapat berkah, seperti tafsirmu di atas yang mengikuti Luc tadi. [Menatap tajam lalu menghela nafas.] Tapi kerap itu hanya lamunan!

GUS: [Terhenyak, kok ia tahu yang saya katakan dalam hati tadi.] Jadi sebaiknya melakukan “berjaga-jaga” itu dalam ujud ikut menjalani waktu demi waktu malam harinya Yesus dan menarik hikmat dari kisah itu?

MARK: Saat kedatangan itu hanya Bapa-lah yang tahu (Mrk 13:32). Tapi kita bisa mendapatkan kebijaksanaan memahami siapa dia yang bakal datang pada saat yang tak terduga-duga itu.

GUS: Dan kebijaksanaan itu diperoleh bila kita menyertainya pada saat-saat hidupnya paling sulit seperti ketika mesti berpisah dengan yang murid-muridnya, ditolak kaum tua-tua, disangkal orang terdekat, dihukum mati. Begitukah?

MARK: Itulah maksudnya berjaga-jaga empat waktu tadi.

Bincang-bincang ini makin membuat jelas bahwa masa Adven ialah kesempatan berjaga-jaga agar dapat menyertai Yesus dalam empat waktu tadi. Semua ini terjadi padanya karena ia bersedia menjadi silih bagi seluruh umat manusia. Maka memperingati kelahirannya nanti juga berarti merayakan kedatangan penebus. Ketika hendak saya pastikan hal itu dengan Mark, ia sudah pergi. Kini hanya tulisannyalah yang tertinggal di sini.

DARI BACAAN KEDUA: AKALBUDI DAN KEPERCAYAAN (1Kor 1:3-9)

Bacaan kedua dipungut dari bagian surat pertama Paulus kepada umat di Korintus yang mengungkapkan rasa syukur Paulus akan kebaikan Tuhan yang telah dinikmati umat. Ungkapan seperti ini sudah lumrah dalam gaya surat-menyurat antara sesama kaum terpelajar yang sama aliran kepercayaannya. Namun demikian, lebih dari sekadar basa-basi, Paulus bersyukur bahwa umat telah diperkaya dengan anugerah ilahi dalam ujud segala macam “perkataan dan pengetahuan” yang termuat dalam kesaksian tentang Kristus di kalangan umat.

Orang-orang Korintus yang menjadi pengikut Kristus berasal dari kalangan Yahudi tetapi yang juga berlatar pendidikan Yunani. Mereka ini orang-orang yang terbiasa berpikir mandiri. Bahkan seperti kaum intelektual waktu itu mereka amat menekankan penalaran, juga menyangkut kehidupan iman. Paulus melihat sikap intelek ini sebagai anugerah ilahi. Sedikit demi sedikit Paulus mengajak umat di Korintus untuk memakai kemampuan akalbudi mereka untuk menyelami misteri kehadiran Kristus. Dengan demikian pengetahuan serta kebijaksanaan mereka akan mendapatkan dimensi spiritual pula. Inilah kekayaan batin yang dianjurkan Paulus agar dikembangkan dengan baik. Di kalangan umat memang ada kecenderungan untuk terlalu mementingkan penalaran individual mengenai iman dan cara mempersaksikannya. Dalam kaitan ini Paulus nanti akan menekankan kebersamaan dalam kesaksian iman di kalangan umat.

Satu hal yang ditonjolkan dalam bagian ini ialah ajakan agar umat memahami kesetiaan ilahi yang menguatkan mereka sehingga nanti mereka sampai dengan “tanpa cacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus” (ay. 8). Yang dimaksud ialah hari kebesaran Tuhan dinyatakan dan saat itulah akan jelas siapa yang “tanpa cacat”, yang utuh, dan bisa berada bersama-Nya dan siapa yang tidak pantas untuk itu. Mereka yang meluangkan daya akalbudi untuk mengenali kehadiran-Nya ialah yang disebut utuh, tanpa cacat.

Warta ini masih berlaku bagi zaman ini. Kemanusiaan sebenarnya dapat terus berkembang juga seandainya kepercayaan kurang diberi tempat. Namun perkembangan ini bakal tidak menjadi kekayaan batin bila tidak mengembangkan dimensi kepercayaan. Juga kepercayaan yang kurang teruji dalam kejernihan nalar akan kabur nilainya dan akan tampil kasar lagi pula bisa menimbulkan ketegangan. Ajakan Paulus masih berlaku bagi masa kini pula.

Salam hangat,
A. Gianto


Lamunan Pekan Biasa XXXIV

Sabtu, 28 November 2020

Lukas 21:34-36

34 "Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. 35 Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini. 36 Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, orang akan menjaga diri ketika berhadapan dengan bahaya. Itu bisa bahaya bersama dalam masyarakat dan bisa pula bahaya dalam diri sendiri seperti ketika terjangkit penyakit.
  • Tampaknya, dengan menjaga diri orang berharap bisa mendapatkan kondisi enak. Secara bersama mengalami rasa aman dan secara pribadi bisa merasa senang karena dapat menikmati apapun.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, meski rasa enak jadi idaman hidup, orang dapat celaka karena tak menjaga diri kala mengalami yang menyenangkan. Dalam yang ilahikarena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan sadar menjaga diri agar tak hanyut dalam kesenangan ketika mengalami yang dirasa nikmat.

Ah, kalau memang menyenangkan ya nikmati saja sepuasnya.

Santo Virgilius

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 03 Agustus 2016 Diperbaharui: 19 November 2019 Hits: 4370

  • Perayaan
    27 November
  •  
  • Lahir
    Hidup pada abad akhir abad ke-8 (tanggal dan tahun lahir tidak diketahui)
  •  
  • Kota asal
    Irlandia
  •  
  • Wilayah karya
    Austria
  •  
  • Wafat
  •  
  • Tahun 784 di Salzburg, Austria - Sebab alamiah
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Biarawan Benediktin dari Irlandia ini berangkat ziarah ke tanah suci pada tahun 743. Dalam perjalanan pulang, Virgilius memutuskan untuk tidak kembali ke Irlandia dan tinggal di biara Benediktin Santo Petrus di Salzburg Austria.  Di biara ini ia giat membantu karya Santo Rupertus. Setelah Santo Rupertus meninggalkan biara karena terpilih menjadi uskup Salzburg, Virgilius terpilih menggantikannya sebagai menjadi Abbas (kepala biara) di biara tersebut. 

Pada tahun 765 abbas Virgilius terpilih menjadi Uskup Salzburg.  Karyanya sebagai uskup yang paling dikenang adalah usahanya memperbaiki Katedral Salzburg dan perjuangannya untuk mengkristenkan suku-suku di pedalaman Bavaria dengan mengutus para misionaris kepada mereka.

Uskup Virgilius juga adalah seorang astronom dan saintis. Ia pernah dituduh bidaah karena beberapa ide ilmiah yang dicetuskannya. Seperti ketika ia mengajarkan bahwa bumi ini bulat. Karena itu, orang-orang di dua tempat berbeda di muka bumi yang dihubungkan oleh garis tengah bumi berdiri dengan posisi kaki saling berlawanan (Antipodes).  Ajaran ini ditentang oleh banyak orang, bahkan Virgilius sempat dicap bidaah oleh Santo Bonifasius.

Santo Virgilius tutup usia pada tahun 784. Relikwinya di semayamkan dalam sebuah Reliquary bersama dengan relikwi santo Rupertus di Katedral yang didedikasikan untuk mereka berdua;  Katedral Santo Rupertus dan Virgilius di Salzburg Austria atau Katedral Salzburg

Di Katedral ini pula Komposer terkenal Wolfgang Amadeus Mozart dibabtis dengan nama: Johannes Chrysostomus Wolfgangus Theophilus Mozart.

Thursday, November 26, 2020

Lamunan Pekan Biasa XXXIV

Jumat, 27 November 2020

Lukas 21:29-33

29. Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: "Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. 30 Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat. 31 Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah, bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. 32 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi. 33 Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, orang dapat merasa senang dan kerasan dengan situasi dan kondisi baik yang dimiliki. Dia dapat berjuang untuk mempertahankannya.
  • Tampaknya, orang dapat merasa bahagia dengan pertemanan dalam kelompoknya. Dia dapat ikut memperjuangkan pelestarian berbagai pertemuan dan acaranya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun dapat merasa gembira dan bahagia dengan segala kepemilikian dan kelompok-kelompok pertemanan beserta acara-acaranya, orang akan sadar bahwa segala bentuk lahiriah nikmat duniawi biologis jiwani pada saatnya akan menghilang. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang sadar bahwa di dunia ini yang kekal tak akan musnah adalah daya-Nya yang bersemayam dalam lubuk kalbu.

Ah, segala yang baik, menggembirakan, dan membanggakan harus dilestarikan.

Beato Yakobus Alberione

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 31 Oktober 2017 Diperbaharui: 19 November 2019 Hits: 2445

  • Perayaan
    26 November
  •  
  • Lahir
    4 April 1884
  •  
  • Kota asal
    San Lorenzo di Fossano, Cuneo, Italia
  •  
  • Wafat
  •  
  • 26 November 1971 di Roma, Italia
    Sebab alamiah
  •  
  • Venerasi
    25 Juni 1996 oleh Paus Yohanes Paulus II
  •  
  • Beatifikasi
    27 April 2003 oleh Paus Yohanes Paulus II
  •  
  • Kanonisasi

Yakobus (Giacomo) Alberione lahir pada tanggal 4 April 1884, di San Lorenzo, Fossano (Cuneo), Italia. Ia adalah anak keempat dari enam orang bersaudara, putera-putri pasangan petani yang bersahaja, Michael dan Teresa Alberione.  Pada usia enam belas, Yakobus mampu masuk Seminari Alba, atas bantuan finansial dari seorang pamannya yang juga bernama Yakobus. Bersama ayahnya, Yakobus berangkat ke seminari dengan mengendarai gerobak sapi. Kepala Seminari Alba saat itu adalah "Venerabilis" Francesco Chiesa.

Pada malam tanggal 31 Desember 1900, malam peralihan dari abad -19 ke abad- 20, Yakobus berdoa selama lima jam dihadapan Sakramen Mahakudus dan merenungkan masa depan, dan mendapat panggilan Tuhan untuk berkarya bagi masyarakat di milenium baru.

Alberione ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 29 Juni 1907 pada hari Pesta Santo Petrus dan Paulus. Ia kemudian mendapat tugas sebagai pastor paroki di Narzole di sebelah selatan Torino. Ia menjalankan tugas pastoralnya dengan penuh pengabdian sembari melanjutkan studi Teologi.  Studinya selesai pada tahun 1908 dan ia pun menerima gelar doktor dalam bidang Teologi.  Pada tahun itu juga Yakobus Alberione ditunjuk sebagai pembimbing rohani para seminaris di Seminari Alba.

Pada tanggal 20 Agustus 1914 Yakobus Alberione mendirikan kongregasi religiusnya yang pertama yang bernama “Society of Saint Paul”.  Setahun kemudian, tepatnya pada 15 Juni 1915, ia mendirikan Konggregasi Suster “Putri Putri Santo Paulus” bersama Venerabilis  Mother Tecla Merlo.  

Yakobus Alberione total mendirikan sepuluh kongregasi religius, Institusi Rohani, dan Serikat Persaudaraan awam. Kongregasi-kongregasi yang didirikannya berkarya dalam berbagai karya sosial dan menerapkan penggunaan teknologi media modern dan menerbitkan materi-materi rohani untuk menyebarkan firman Tuhan.  

Beberapa Konggregasi dan Institusi yang didirikannya :

The Association of Pauline Cooperators è Didirikan pada tahun 1918.

The Pious Disciples of the Divine Master (PDDM)
Didirikan pada tahun 1924 bersama “Servant of God” Mother Maria Scolastica Rivata, sebuah komunitas Kontemplatif bagian dari Pauline Family yang para anggotanya secara khusus mendedikasikan diri dalam Adorasi kepada Sakramen Mahakudus, dan pelayanan dalam upacara-upacara Liturgi.

The Sisters of Jesus the Good Shepherd (juga dikenal sebagai: The "Pastorelle")
Didirikan pada tahun 1938 dan berkarya dalam berbagai aktivitas Sosial di Paroki dan melayani pendidikan Rohani.

The Sisters of Mary Queen of Apostles
Didirikan pada tahun 1957. Para Suster kongregasi  ini bekerja dan berdoa untuk panggilan dalam Pauline Family” dan Kehidupan Rohani.

The Institute of St. Gabriel the Archangel
Institusi Kerasulan awam untuk Kaum Pria bagian dari The Pauline Family. Didirikan pada tahun 1958.

The Institute of Mary of the Annunciation
Institusi Kerasulan Awam untuk Kaum Pria bagian dari “The Pauline Family”. Didirikan pada tahun 1958

The Institute of Jesus the Priest
Institusi imam-imam Diosesan yang mengadopsi spiritualitas “Pauline” dalam karya kerasulan mereka. Didirikan pada tahun 1959.

The Institute of the Holy Family
Institusi bagi para Keluarga Katolik. Didirikan pada tahun 1960.

Dalam Konsili Vatican II yang berlangsung pada 11 Oktober 1962 sampai 8 Desember 1965, Yakobus Alberione bertugas sebagai “Peritus” (ahli teologi), dan berpartisipasi dalam berbagai sesi tertutup di mana pasal-pasal keputusan Konsili dirumuskan.

Yakobus Alberione tutup usia karena sebab alami pada tanggal 26 November 1971 di Biara Konggregasinya di Roma. Dia menerima kunjungan pribadi dari Paus Paulus VI satu jam sebelum jiwanya yang kudus kembali ke pangkuan Bapa di Surga. Jenasahnya dimakamkan di katakombe Basilika Santa Maria Ratu para Rasul di Roma.

Yakobus Alberione dibeatifikasi oleh Paus Yohannes Paulus II pada tanggal 25 Juni 1996.(qq)