Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Sunday, May 28, 2017

Lamunan Pekan Paskah VII

Senin, 29 Mei 2017

Yohanes 16:29-33      

16:29 Kata murid-murid-Nya: "Lihat, sekarang Engkau terus terang berkata-kata dan Engkau tidak memakai kiasan.
16:30 Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepada-Mu. Karena itu kami percaya, bahwa Engkau datang dari Allah."
16:31 Jawab Yesus kepada mereka: "Percayakah kamu sekarang?
16:32 Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku.
16:33 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, tantangan hidup memang dapat membuat susah. Dengan kesusahan dan penderitaan orang dapat mengalami kefrustrasian.
  • Tampaknya, orang yang mengalami frustrasi dapat kehilangan kekuatan menjalani kehidupan. Dia dapat merasa selalu teraniaya dalam keadaan apapun.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa beraul akrab dengan kedalaman batin, semenderita dan seteraniaya apapun oleh lingkungan yang dikuasai oleh nafsu-nafsu dan keserakahan duniawi, kalau orang menjalani hidup berdasarkan pada amanat nurani dia akan tetap mengalami hati yang tergenang limpahan damai sejahtera karena yakin ada daya tak kasat mata yang mengalahkan aura kejahatan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang selalu ceria sekalipun hidup sengsara.
Ah, yang menghadirkan kedamaian itu ya yang menyenangkan.

Dalam Yesus Kristus Aku Tak Pernah Sendirian

diambil dari email group 28 Mei 2017

Senin, 29 Mei 2017
Pekan Paskah VII
Refleksi harianku dalam doa berdasarkan Yohanes 16:29-33

Dalam amanat perpisahan-Nya Yesus berkata, "Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia."

Tuhan Yesus Kristus terkasih, dalam Injil hari ini Engkau bersabda bahwa Engkau tak pernah seorang diri. BapaMu selalu menyertai Engkau. Persatuan kasih yang mendasar dalam hidupMu dengan BapaMu merupakan kekuatan yang memampukan Dikau maju terus memanggul salib. Engkau tetap tenang di tengah badai dan menanggung penderitaan yang tak dapat terbayangkan selama sengsara dan wafatMu.

Tuhan Yesus Kristus terkasih, Engkau juga bersabda bahwa aku akan beroleh damai sejahtera meski aku akan mengalami kesulitan di dunia ini. Aku percaya padaMu dan semua yang Kau wahyukan demi keselamatanku. Aku berharap padaMu oleh sebab kerahimanMu yang selalu tercurah.

Tuhan Yesus Kristus terkasih, dalam Adorasi Ekaristi Abadi, Engkau menyinari jalan bagiku di tengah perjuangan dan pencobaan dalam hidupku. Wajar bagiku bahwa aku merasa sendiri saat menderita dan berjuang, sendiri dalam derita dan kehampaan hidup. Namun Allah tetap bersamaku; Engkau juga menyertaiku. Aku tak pernah sendirian. Dalam namaMu aku juga berdoa bagi mereka yang sedang berjuang dalam iman mereka kini dan selamanya. Amin.

Girlan Ungaran, 28/5/2017

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶
Aloys budi purnomo Pr

Sent from my heart of abudhenkpr
"abdi Dalem palawija"
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan
Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang
__._,_.___

Posted by: Aloysius Budi Purnomo <aloybudipurnomopr@gmail.com>

Saturday, May 27, 2017

Lamunan Pekan Paskah VII


Minggu, 28 Mei 2017

Yohanes 17:1-11        

17:1. Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata: "Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau.
17:2 Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya.
17:3 Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.
17:4 Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.
17:5 Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.
17:6. Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu.
17:7 Sekarang mereka tahu, bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari pada-Mu.
17:8 Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.
17:9 Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu
17:10 dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka.
17:11. Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, sudah menjadi pandangan umum bahwa yang yunior harus menghormati yang senior. Apalagi seorang anak terhadap orang tua, karena orang tua telah amat banyak jasanya terhadap anak dari masa janin hingga dewasa. 
  • Tampaknya, hormat anak terhadap orang tua juga didukung dalam hidup keagamaan “hormatilah ibu bapamu”. Bahkan dalam budaya Jawa ada kewajiban anak terhadap orang tua untuk mikul dhuwur mendhem jero (menjunjung tinggi atau memuliakan dan bila orang tua ada salah dan kekurangan disimpan jangan sampai ketauan orang lain).
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekuat apapun perintah bahkan tradisi seorang anak harus menghargai dan menjunjung tinggi orang tua, hal ini amat sulit terjadi apabila seorang anak tidak mengalami sikap dan tindakan orang tua yang memuliakan menomorsatukannya. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan selalu berjuang menghargai dan memuliakan yang lebih muda.

Ah, dalam kebersamaan hormat selalu dari yang yunior terhadap yang senior.

Wow, Yesus Kristus Lebih Dahulu Mendoakan Kita!

diambil dari email group unio-kas 27 Mei 2017

Minggu, 28 Mei 2017
Minggu Paskah VII
Refleksi harianku dalam doa berdasarkan Yohanes 17:1-11a

Dalam perjamuan malam terakhir Yesus menengadah ke langit dan berdoa, "Bapa, Aku berdoa untuk mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu, dan segala milik-Mu adalah milik-Ku, dan milik-Ku adalah milik-Mu, dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka."

Tuhan Yesus Kristus terkasih, Injil hari ini dengan jelas mewartakan doaMu. Engkau berdoa dengan berkata, "Bapa, Aku berdoa untuk mereka". Engkau berdoa untuk para muridMu dan bagiku juga. Terima kasih Engkau berdoa untukku dan membiarkanku hidup dalam persekutuan dengan hidup IlahiMu. Semoga Aku tak pernah terpisah dariMu. Bantulah aku bekerja untuk persatuan dalam GerejaMu. 

Tuhan Yesus Kristus terkasih, Engkau menghendaki kesatuan persatuan bagi umatMu. Engkau berkenan berbagi kasih yang selalu ada antara Dikau dan BapaMu. Berlawanan dengan kehendakMu, orang berdosa di dunia ini tak lagi melihat diri mereka sebagai saudara dan saudari, tetapi sebagai musuh dan saingan. Engkau menyatakan DiriMu dalam dunia ini sebagai satu-satunya jalan menuju Bapa dan yang diutus untuk mempersatukan semua orang dalam satu misteri keselamatan.

Tuhan Yesus Kristus terkasih, doaMu adalah untuk semua orang agar bersatu dengan Dikau tanpa memandang ras, jenis kelamin, usia, suku bangs, latar belakang sosial, politik maupun kemampuan. Perhatian yang utama dariMu adalah kerukunan bukan perpecahan. Perpecahan dapat menghancurkan persatuan. Engkau tahu dalam masyarakatku banyak perpecahan. Dalam Adorasi Ekaristi Abadi ini aku berdoa agar Engkau membantuku mengatasi semua perpecahan. Semoga damai sejatiMu selalu hadir bersama kami kini dan selamanya. Amin.

Girlan Ungaran, 26/5/2017

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶
Aloys budi purnomo Pr

Sent from my heart of abudhenkpr
"abdi Dalem palawija"
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan
Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang
__._,_.___

Posted by: Aloysius Budi Purnomo <aloybudipurnomopr@gmail.com>

Friday, May 26, 2017

Mengetahui Sejarah dan Fungsi Skapulir

diambil dari http://www.mirifica.net By Kevin Sanly Putera on KATEKESE


SKAPULIR adalah benda berbahan kain (biasanya wol) yang digunakan pada bahu. Pasalnya, kata skapulir berasal dari kata Latin scapula, yang artinya bahu. Bentuknya pun beraneka ragam dan warna. Skapulir merupakan tanda yang mengungkapkan komitmen sang pemakai kepada kehidupan kontemplatif.

Dasar biblis skapulir? 2 Raja 2:2-18 salah satunya. Kisah tentang Nabi Elia dan Elisa. Elisa mewarisi mantol Elia setelah ia terangkat ke surga.

Salah satu skapulir yang sudah disetujui Gereja Katolik adalah skapulir coklat Sta. Perawan Maria menampakkan diri kepada St. Simon Stock yang digunakan Ordo Karmelit. Sejarah Ordo Karmelit sendiri berasal dari Gunung Karmel, tempat Nabi Elia dan pewahyuan kuasa Allah terhadap penyembah Baal (1 Raja 18:20-46). Selain itu, orang-orang zaman dulu yang membaca Kitab Suci ingin hidup seperti para nabi dan menanggapi panggilan menjadi pertapa di Gunung #Karmel. Itulah asal usul Ordo Karmelit.

Skapulir yang satu ini terdiri dari dua potongan kain coklat persegi yang dihubungkan dengan dua tali sehingga ketika dipakai, satu kain akan ada di dada dan satunya di punggung.

Di tahun 1251, seorang Karmelit bernama Santo Simon Stock (Ia dijuluki ‘stock’ karena tinggal dalam rongga sebatang pohon) menyaksikan penampakkan Maria. Bunda Maria memberikan habit (pakaian khusus rahib) sebagai tanda cinta istimewa dan janji perlindungan seorang ibu bagi umat Putranya.

Dasar devosi skapulir ini adalah bahwa Maria dengan semangat dan spiritualitas keibuannya, akan mencintai setiap kita sama seperti yang Ia lakukan kepada Yesus, sekarang dan waktu kita mati.

Skapulir adalah tanda konsekrasi total diri kita (usaha penyucian diri kita supaya serupa dengan Maria -karena skapulir coklat berdevosi kepada Maria), sehingga patutnya kita terus diingatkan untuk hidup dengan kualitas hidup Maria. Doa rutin pemakai skapulir ini kepada Bunda Maria adalah: “Pakai aku hari ini”. Seperti yang Pius XII juga katakan, sebagai seorang pencinta berat skapulir, “Tentunya Bunda kita yang terlembut tidak akan menunda -bahkan secepat mungkin- membukakan gerbang kerajaan surga bagi anak-anaknya.”

Dalam penampakan tersebut, Maria mengatakan bahwa orang yang meninggal dengan mengenakan skapulir ini tidak akan pernah disiksa oleh api yang kekal.

St. Yohanes Paulus II mengatakan bahwa skapulir itu ampuh karena ia merupakan suatu habit, baik dalam arti yang sesungguhnya (jubah) ataupun sebagai habitus (pola hidup) beriman.

Sta. Theresia dari Lisieux berkata, “Betapa bahagianya saya bahwa Anda mengenakan skapulir suci! Itulah tanda pasti dari nasib Anda!”

Pustaka:
Hahn, Scott. 2011. 40 Signs of Life. Malang: Dioma Publishing
Catatan “The Brown Scapular of Our Blessed Lady of Mount Carmel”

Kredit Foto: catholiccompany.com

Injil Minggu Paskah VII/A 1 JUN 14, Hari Komunikasi Sedunia (Yoh 17:1-11A)

diambil dari http://www.mirifica.net/2014/05/27 by A. Gianto on Jendela Alkitab, Mingguan, PEKAN KOMSOS.
Sekalipun ini tulisan tahun 2014, Blog Domus memanfaatkannya untuk renungan Minggu Paskah VII/A tahun 2017 
 

Rekan-rekan yang budiman!

Pada hari Minggu Paskah VII tahun A ini dibacakan bagian awal doa Yesus bagi para murid (Yoh 17:1-11a; bagian akhir doa Yesus, ay. 20-26, dibacakan pada hari Minggu Paskah VIItahun C). Hari-hari ini saya menanyakan beberapa pokok dalam ay. 1-11a kepada yang tahu menahu tentang perkara itu. Khusus saya tanyakan arti “memuliakan” (ay. 1,4,5,10). Tentunya yang dirujuk ialah peristiwa salib dan kebangkitan, pokok yang sudah lama digeluti oleh para teolog. Tapi seluk beluknya belum sepenuhnya jelas. Berikut ini saya teruskan jawabannya apa adanya. Beliau tidak berkeberatan suratnya ikut dibaca rekan-rekan.

Minggu 1 Juni 2014 ini juga ditetapkan sebagai liturgi perayaan hari Komunikasi sedunia. Memang komunikasi itu lahir dari keakraban antara mereka yang saling berkomunasi. Doa Yesus dalam Injil Yohanes tadi mengungkapkan keakraban batin antara Yesus dengan Bapa. Dan para murid diajak belajar dari doa itu agar dapat mengakrabi Yang Ilahi sendiri sehingga orang berani ikut menyapa-Nya “Bapa”.

Akan ditambahkan beberapa catatan mengenai bacaan pertama (Kis 1:12-14) pada akhir surat-menyurat ini.
Selamat mengikuti!

A. Gianto
================

Gus yang baik!

Dalam bab 17 itu kucatat doa Yesus kepada Bapanya pada malam sebelum ia berpisah dengan para murid. Mereka ini tentunya ikut mendengar isi doa Yesus. Oleh sebab itu, mereka dapat juga merasakan keakraban yang ada di antara Yesus dengan Yang Mahakuasa yang sudah beberapa lamanya diperkenalkannya sebagai Bapa itu. Bagi para murid, ikut merasakan betapa dekatnya Yesus dengan Bapanya itu termasuk khasiat langsung doa itu. Yesus mengajarkannya bukan dengan serangkai penjelasan melainkan dengan doa dan mengikutsertakan mereka dalam pengalamannya sendiri. Ia berani meminta agar Bapanya memperhatikan dan memberikan hal-hal yang paling dibutuhkan.

Sebelum menjawab pertanyaanmu mengenai apa artinya “memuliakan”, marilah sebentar kita ingat hal yang tentunya tak amat asing lagi, yakni kemiripan doa Yesus di sini dengan doa Bapa Kami yang kalian kenal dari Luc dan Matt. Dalam Yoh 17:1-2 Yesus mengutarakan permohonan agar Bapa memuliakan dirinya supaya nanti ia juga dapat memuliakan Bapanya. Permintaan itu mengingatkan pada kata-kata “Bapa Kami yang ada di surga, dimuliakanlah (harfiahnya “dikuduskanlah” Luk 11:2 dan Mat 6:9) namaMu, datanglah kerajaanMu.”

Kemudian dalam ay. 4-5 Yesus mempersembahkan semua yang dilakukannya sebagai pemenuhan tugas yang diberikan Bapa sendiri kepadanya sejak dulu. Kalian akan ingat ungkapan “jadilah kehendakMu di atas bumi seperti di dalam surga.” Selanjutnya dari ay. 6-11 kita tahu Yesus membuat kita mengenal Bapa yang berfirman kepada kita semua lewat Yesus sendiri. Jelas yang dibawakan Yesus itulah rezeki hari demi hari yang membuat kita tetap hidup. Erat kaitannya dengan permohonan “berilah kami rezeki pada hari ini.” Kita ini kan hidup dari firmannya (Ul 4, Mat 4:4). Dalam ay. 15 yang tak ikut kalian bacakan, Yesus berkata, “…supaya Engkau (Bapa) melindungi mereka (para murid) dari yang jahat.” Doa ini amat mirip dengan “Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat” yang mengakhiri doa Bapa Kami. Jadi dalam saat-saat terakhir bersama murid-muridnya itu Yesus mengucapkan doa dengan sikap batin yang sudah sejak lama diajarkannya kepada murid-muridnya.

Boleh jadi rekan-rekanmu akan terbantu bila Yoh 17 diterangkan dengan rujukan kepada doa Bapa Kami seperti tadi. Sikap batin seperti itu dapat membuat kalian semakin meresapi arti “memuliakan” tadi. Bila berguna, pahami gagasan “memuliakan” dalam teks Injil Yohanes sebagai  “Bapa membiarkan Putra menunjukkan kebesaran dirinya” sehingga nanti Putra dapat “menunjukkan kemuliaan Bapa”. Kucoba jelaskan berikut ini.

Yesus memohon agar Bapanya tetap mendampinginya pada hari-hari terakhirnya. Kami tahu Yesus minta kekuatan agar tak mundur menghadapi penolakan dari pihak orang-orang yang didatanginya. Ia mohon agar tidak dibiarkan sendirian ketika diperlakukan dengan buruk, dipersalahkan, dan bahkan sampai dihukum mati. Perhatian Bapa di dalam penderitaan yang mesti dilalui sampai akhir itulah yang diminta Yesus ketika ia berdoa agar Bapa memuliakan Putra. Ada satu hal yang perlu kutekankan. Permohonan Yesus agar disertai Bapa itu tidak dimaksud untuk meminta Bapa menyingkirkan penderitaan dari dirinya. Ia bahkan sudah berniat menjalani apa saja hingga selesai. Mengapa?

Kudalami perkara itu cukup lama. Satu ketika aku menduga bahwa Yesus yakin Bapanya di surga itu bisa tiba-tiba menyuruh malaikat-malaikat datang menolong Putra terkasih-Nya yang mendapat perlakuan buruk di dunia ini. Inilah yang digelisahkan Yesus. Ia khawatir Bapanya tak bisa menerima perlakuan tadi dan mengirim balatentara surga meremukkan lawan-lawan. Gus, mungkin tak pernah kau berpikir ke situ. Tapi itulah kiranya yang membuat Yesus memohon kepada Bapa agar dibiarkan menjalani semua itu sampai tuntas, sampai “sudah terlaksana” di kayu salib (Yoh 19:30). Yesus ingin agar dapat menunjukkan kepada dunia betapa Yang Ilahi tak segan mendekati dunia yang telah menyingkirinya.

Ia bahkan minta kepada Yang Mahakuasa agar membiarkannya mengalami jerih payah mempersaksikan hal ini. Inilah maksud Yesus ketika memohon kepada Bapa supaya Bapa “memuliakan” Putra, membiarkan Putra memperlihatkan kebesaran dirinya dalam penderitaan nanti. Ini semua perlu terjadi agar dunia tertebus dari kekuatan-kekuatan jahat. Yah, penebusan dunia itu kan yang sejak awal dimaui Yang Mahakuasa sendiri. Yesus mau memperlihatkan kepada dunia yang masih ada di bawah kuasa gelap bahwa Yang Mahakuasa tidak mundur dan melupakannya, tapi malah mendatanginya dan membawanya kembali di jalan benar menuju terang yang memberi hidup, dengan pengorbanan apapun. Begitulah pemahamanku mengenai permintaan Yesus agar Bapa memuliakan Putra.

Dengan cara tadi barulah kebesaran Bapa bisa ditunjukkan oleh Putra. Begitulah akan kelihatan bahwa Yang Mahakuasa itu bukan yang mau menang sendiri. Bila begitu dengan mudah semuanya bisa dijalankan. Tapi kerugiannya besar. Ia tidak akan tampil sebagai pribadi matang yang bisa menerima diri bahwa tidak sendirian lagi, dan menerima bahwa kebersamaan itu memiliki nilai tersendiri, sekalipun dapat menyakitkan. Rasa pilu melihat karya besarnya kini merosot ditanggungnya pula, juga kemarahan ditahanNya. Inilah kasih sayang yang menjadi inti kebesaran Yang Ilahi. Bila Ia tiba-tiba memasuki kembali jagat ini dan menatanya seperti dimauinya, maka manusia tidak ada harganya lagi. Sekedar barang mainan. Tapi bukan itulah maksudNya ketika Ia menciptakan kita. Bukankah Ia menjadikan manusia sebagai gambar dan rupa diriNya sehingga bisa menjadi “penerus”-nya di dunia ciptaan ini? Dan Putra yang diutusNya ke dunia itu, Putra terkasihnya itu, dialah yang bakal memungkinkan dunia melihat kebesaran Bapa yang demikian tadi.
Mudah-mudahan catatan di atas berguna. Jangan ragu-ragu bertanya lebih jauh. Bagiku juga hingga hari ini tetap ada sisi-sisi baru yang muncul.

Hans
================

Oom Hans yang baik!

Terima kasih buat masukan yang membuka pikiran itu. Ada pertanyaan lagi. Dalam ay. 3 tertulis kata-kata Yesus: “Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” Heran, kok Yesus menyebut diri sebagai Yesus Kristus. Jangan-jangan ay. 3 itu Oom karang sendiri dengan maksud memberi catatan kaki pada ungkapan “hidup abadi” yang disebut Yesus dalam ay. 2?

Teriring salam, juga buat Oma Miryam, apa beliau senang bulan lalu sering dikirimi karangan bunga rosario ;-)?

Gus
================

Gus yang baik!

Memang Yoh 17:3 itu kumaksud untuk menjelaskan bagaimana orang bisa memperoleh hidup kekal yang disebut Yesus dalam ayat sebelumnya. Bukankah itu pertanyaan yang memenuhi batin orang banyak? Ingat pertanyaan orang kepada Yesus bagaimana caranya mencapai hidup kekal (Mrk 10:17, lihat juga Mat 19:16 Luk 18:18). Di situ Yesus mengajak orang yang amat teguh beragama itu untuk melangkah lebih jauh ke dalam kerohanian sejati dan menemukan pengetahuan mengenai inti keilahian sendiri. Dalam kisah yang dilaporkan ketiga rekan penginjil itu Yesus mengajarkan, kalau orang mau sampai tingkat sempurna, tinggalkan apa-apa yang dipunyai dan amalkan bagi orang lain, lalu ikuti dia. Inilah pengetahuan sejati tadi. Nah dalam hubungan itulah Yoh 17:3 menjelaskan bahwa hidup kekal timbul dari kemauan untuk mengenali satu-satunya Allah yang benar dan mengakui Yesus Kristus sebagai utusan-Nya. Jalan ke hidup kekal ialah mengikuti Yesus dengan batin merdeka. Namun, sekali lagi ini bukan pengetahuan di kepala melulu, bukan pula sekadar kemantapan batin semata-mata, melainkan kesatuan diri dengan Yang Ilahi tanpa lebur ke dalamnya, tetapi dalam bimbingan sang Putra. Ini spiritualitas yang mematangkan batin.

Tengok juga Yoh 17:10. Di situ Yesus menegaskan bahwa dirinya sudah dimuliakan di dalam mereka yakni dalam diri murid-murid yang didoakan kepada Bapa itu. Murid-murid menemukan jalan benar sampai ke Bapa lewat Yesus. Ia bisa mengajak orang sungguh mendekat kepada Bapa tanpa luluh tapi malah semakin menemukan diri, seperti ia sendiri.

Ma Mir titip ucapan terima kasih, ia terharu mendapat banyak kiriman bunga rosario bulan ini.

Sampai lain kali,
Hans

TAMBAHAN DARI BACAAAN PERTAMA

Dalam Kis 1:12-14 digambarkan bagaimana setelah menyaksikan kenaikan Yesus para rasul kembali ke kehidupan mereka sehari-hari di Yerusalem.  Ada bersama dengan mereka juga beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus. Marilah kita rasa-rasakan keadaan mereka. Meskipun telah menyaksikan bagaimana Yesus kini terangkat mulia, mereka sendiri sebenarnya sadar masih berada di sini, di dunia. Menarik ditengok bagaimana nama kota Yerusalem di sini, pada ayat 12, dieja dalam teks Yunaninya, yakni Ierousaleem. Bila ditulis demikian maka hendak dikatakan wilayah yang telah menolak Yesus dulu, dan tentunya para rasul juga merasakan penolakan itu. Mereka kini berkumpul – tentu dengan rasa waswas bagaimana nanti bila terus menerus dimusuhi, bahkan bisa jadi dihabisi oleh pihak-pihak yang mau menumpas kelompok Yesus ini.

Penulisan nama kota Yerusalem dalam karya Injil Lukas dan Kisah amat berperan. Disebutkan  dalam Kis 1:3, Yesus yang telah bangkit mendatangi para rasul berulang-ulang selama 40 hari. Kemudian pada Kis 1:4 diceritakan bahwa ketika ia makan bersama mereka, ia pun melarang mereka meninggalkan Yerusalem – di sini dieja dalam satu bentuk Hierosolyma – untuk menantikan dipenuhinya janji Bapa tentang datangnya Roh Kudus bagi mereka. Bila dieja demikian, hendak ditampilkan wahana Yesus mendapatkan kemuliaan. Pada kesempatan itulah para rasul diminta agar tidak meninggalkan wahana seperti ini. Nanti ketika mereka melihat bagaimana Yesus diangkat ke surga, mereka diberitahu olehnya, Kis 1:8, bahwa mereka akan menerima kekuatan, yakni bila Roh Kudus turun ke atas mereka. Dan mereka akan menjadi saksi-saksinya di Yerusalem – dieja Ierousaleem – dalam arti lingkungan yang serba memusuhi.

Nanti pada hari Roh Kudus turun ke atas para rasul, disebutkan dalam Kis 2:5 bahwa di Yerusalem – Ierousaleem – ada banyak orang Yahudi yang saleh yang berdatangan dari pelbagai penjuru bumi. Maksudnya, meski saleh mereka ini masih ada dalam pihak yang menolak. Kesalehan mereka bisa pula membuat mereka sendiri jauh bahkan menolak yang benar. Nanti dalam awal khotbah Petrus, Kis 2:14, mereka akan disapa demikian, dan sebentar kemudian mereka jadi sadar dan memilih ikut Yesus. Dan ini terjadi dalam kuasa Roh Kudus.  Inilah konteks bacaan pertama hari Minggu ini.

Kelompok para rasul dan para perempuan yang dibicarakan dalam bacaan pertama kali ini mengujudkan komunitas orang-orang yang berada dalam wahana yang menerima Yesus yang bangkit. Mereka akan dikuatkan oleh Roh Kudus untuk tidak mundur hidup di lingkungan yang tidak selalu menerima dan bahkan memusuhi. Inilah warta bab-bab pertama dalam Kisah Para Rasul.

Salam hangat,
A. Gianto

Lamunan Pekan Paskah VI

Sabtu, 27 Mei 2017

Yohanes 16:23b-28   

16:23b. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku.
16:24 Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.
16:25 Semuanya ini Kukatakan kepadamu dengan kiasan. Akan tiba saatnya Aku tidak lagi berkata-kata kepadamu dengan kiasan, tetapi terus terang memberitakan Bapa kepadamu.
16:26 Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku. Dan tidak Aku katakan kepadamu, bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa,
16:27 sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya, bahwa Aku datang dari Allah.
16:28. Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, di dalam hidup beragama orang memang biasa mengajukan doa permohonan. Orang sadar bahwa dalam hal-hal tertentu membutuhkan pertolongan tak kasat mata karena dalam kewajaran biasa ada kesulitan.
  • Tampaknya, dalam doa permohonan orang memiliki keinginan. Keinginan ini terjadi karena dorongan panca indera.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, sebanyak apapun kebutuhan bahkan keinginan yang untuk dipenuhi, itu semua akan terpenuhi kalau menjadi permohonan sejati di dalam doa karena tidak didasarkan pada kemauan panca indera tetapi pada dengung kehendak nurani sehingga selalu demi kebaikan bersama siapapun. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan melandaskan segala hidup dan kebutuhannya pada campur tangan hadirat Tuhan.
Ah, pada jaman kini orang harus mandiri sehingga doa permohonan hanyalah memupuk semangat peminta-minta.

Allah Bapa Mengasihi Kita dalam Yesus Kristus

diambil dari email group unio-kas 26 Mei 2017

Sabtu, 27 Mei 2017
Pekan Paskah VI
Refleksi harianku dalam doa berdasarkan Yohanes 16:23b-28

Dalam amanat perpisahan-Nya Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya bahwa Aku datang dari Allah."

Tuhan Yesus Kristus terkasih, dalam Injil hari ini Engkau meyakinkanku untuk percaya kepada BapaMu. Apa pun yang kuminta kepada Bapa dalam namaMu Ia akan memberiku sebab Bapa sendiri mengasihiku. Bapa mengasihiku bila aku mengasihiMu dan percaya bahwa Engkau datang dari Allah, Bapa.

Tuhan Yesus Kristus terkasih, Engkau mengajarkan padaku untuk minta kepada Bapa dalam namaMu dan Ia akan menganugerahkannya padaku. Engkau, sebagai sungguh Allah dan sungguh manusia, menjadi jembatan antara bahasa manusiawiku dan Allah, yang Kau kenal dengan mesra. Inilah pengharapan terbesarku.

Tuhan Yesus Kristus terkasih, Engkau mengingatkanku akan kasih Bapa. Sungguh, aku percaya bahwa tak seorangpun pernah melihat Allah Bapa selain Engkau. Bahkan, Allah telah lebih dahulu mengasihiku. Dalam Dikau, kasih Allah telah nyata dalam hidupku. Ia menjadi nampak saat mengutusMu, PutraNya ke dunia, hingga aku boleh hidup dalam Dikau (bdk. 1Yoh 4:9). Allah Bapa datang padaku, Ia mencariku untuk memenangkan hatiku, juga dalam Adorasi Ekaristi Abadi. Di sana, Engkau telah menyatakan kasih Bapa yang hadir dekat untuk semua orang dengan pemberian diri dan hidupMu secara utuh. Bantulah aku agar tak pernah meragukan kasihMu padaku. Bantulah aku menjawab kasihMu melalui Adorasi Abadi dan mewujudkan tindakan kasih kini dan selamanya. Amin.

Girlan Ungaran, 26/5/2017

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶
Aloys budi purnomo Pr

Sent from my heart of abudhenkpr
"abdi Dalem palawija"
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan
Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang
__._,_.___

Posted by: Aloysius Budi Purnomo <aloybudipurnomopr@gmail.com>

Thursday, May 25, 2017

Jadi Tempat Inspratif Sukacita di Hari Tua


"Sasampunipun sawetawis wonten Domus Pacis, panjenengan kagungan perkawis napa sing mlebet ing pemikiran dan pengin dipun mangertosi?" (Sesudah beberapa saat di Domus Pacis, Anda punya hal-hal apa di dalam pemikiran dan ingin ditanyakan?) kata Rm. Bambang kepada para tamu sesudah nyanyi bersama penuh kegembiraan dan sambutan dari wakil tamu dan Rm. Hadi, Minister Domus Pacis. Para tamu yang berjumlah 24 orang ini adalah kelompok kerja PSE (Pengembangan Sosial Ekonomi) Paroki Mlati yang berkunjung di Domus pada Minggu 21 Mei 2017. Mereka masuk gedung induk Domus Pacis ketika hampir jam 10.00 dan langsung diajak duduk di ruang pertemuan dalam. Memang beberapa ibu sudah masuk lebih dahulu untuk menata konsumsi makan siang yang mereka bawa. Dari Domus mereka hanya meminjam gelas, piring dan sendok makan. Di dalam ruang pertemuan para rama Domus yang menyambut adalah Rm. Gito, Rm. . Harto, Rm. Tri Hartono, Rm. Yadi dan Rm. Bambang. Rm. Tri Wahyono berada di luar ruangan.

Terhadap lontaran pertanyaan dari Rm. Bambang tersebut, ternyata muncul pertanyaan-pertanyaan yang pada umumnya bercorak seperti dari rombongan-rombongan yang pernah datang untuk omong-omong seperti kelopok PSE Mlati. Berkaitan dengan sajian makan Rm. Bambang memberikan sedikit sejarah sajian masakan di Domus Pacis. Tetapi pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut pengalaman pribadi, setiap rama, kecuali Rm. Tri Wahyono, mendapatkan kesempatan untuk menjawab. Salah satu pertanyaan yang biasa muncul sebagai hal yang sama intinya adalah "Apa yang menjadi kegiatan para rama sehari-hari?" dan "Bagaimana para rama mengatasi kejenuhan berada di rumah tua?" Dari dua pertanyaan ini ternyata pengalaman yang berkaitan dengan kejenuhan menghadirkan pengalaman-pengalaman lucu dari rama-rama yang membuat suasana ceria penuh tawa. Dari sini Rm. Bambang menekankan bahwa di kalangan para rama Domus Pacis terbangun sikap dan perilaku yang tidak menolak bahkan menerima sebagai kewajaran terhadap kondisi buruk dari masing-masing rama. Maka omongan antar rama yang bernuansa tidak umum justru jadi bahan canda ria penuh kegembiraan.

"Maaf, saya mau mengungkapkan perasaan saya" seorang bapak berkata setelah angkat tangan tanda minta kesempatan. Beliau mengatakan bahwa pada umumnya kunjungan ke panti "jompo" dimaksudkan untuk menghibur kaum tua yang ada di situ. "Banyak di antara kami juga berpikir bahwa rumah tua adalah tempat orang merana, kesepian, dan hidup diliputi kejenuhan" bapak itu melanjutkan. Dan di akhir ungkapannya beliau berkata "Tetapi di sini kita justru terhibur oleh para rama dengan segala ceritera tadi. Ini harus disebar luaskan bahwa di Domus Pacis orang dapat menemukan kegembiraan dan hiburan sehingga mendapatkan inspirasi bagaimana menemukan sukacita di hari tua."

Lamunan Peringatan Wajib

Santo Filipus Neri, Imam
Jumat, 26 Mei 2017

Yohanes 16:20-23a

16:20 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.
16:21 Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia.
16:22 Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu.
16:23a. Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, di dalam kehidupan kongkret orang yang amat berpegang pada kebaikan dan kebenaran justru bisa mendapatkan banyak permusuhan. Orang benar dapat mengalami penderitaan justru karena kebaikan dan kebenarannya.
  • Tampaknya, di dunia ini iklim jahat dapat memiliki pengaruh kuat. Kegembiraan dan sukacita kaum jahat dapat hingar bingar karena susah derita orang yang hidup teguh dalam kebaikan dan kebenaran.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, segala susah derita seberat apapun akibat sikap teguh berpegang pada hidup baik dan benar di tengah arus hidup umum yang jahat, itu semua menjadi proses lahirnya realita sukacita sejati karena ada perjuangan demi kebaikan umum. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan tahan derita karena ini memang pasangan perjuangan demi sukacita bersama siapapun.
Ah, segala derita ya harus dihindari.

Dalam Yesus Kristus Dukacita Akan Berubah Menjadi Sukacita

diambil dari email group unio-kas 25 Mei 2017

Jumat, 26 Mei 2017
Pekan Paskah VI
PW S. Filipus Neri, Imam
Refleksi harianku dalam doa berdasarkan Yohanes 16:20-23a

Dalam amanat perpisahan-Nya Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. Hatimu akan bergembira, dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu."

Tuhan Yesus Kristus terkasih, sebagaimana Kau janjikan dalam Injil hari ini, bahwa dukacitaku akan berubah menjadi sukacita; berilah aku damai sejati dan sukacita batin di tengah pencobaan hidup ini. Engkau tak menjanjikan para muridMu bahwa dengan mengikutiMu mereka akan bebas dari dukacita. 

Tuhan Yesus Kristus terkasih, sistem nilaiMu sama sekali berlawanan dengan cara pandang dunia. Para muridMu heran dan takut oleh penyalibanMu, namun kematianMu tidak menjadi adegan akhir. Sesudah peristiwa dramatis Kalvari datanglah sukacita Kebangkitan, hidup dan kemuliaan baru. Aku pun bisa mengalami hal serupa dalam doaku. Pergantian antara kekeringan dan konsolasi merupakan bagian esensial dari pedagogiMu dalam hidupku. Kadang terasa Engkau hadir di sisiku dan di saat lain Engkau terasa asing bagiku. 

Tuhan Yesus Kristus terkasih, saat Engkau dekat denganku aku mengalamai sukacita besar. Aku tahu bahwa Engkau selalu bersamaku dalam Adorasi Ekaristi Abadi. Bantulah aku mengasah imanku dan mampu menguatkan iman saudara-saudariku yang membutuhkanku untuk menunjukkan kepada mereka kasihMu selama-lamanya. Amin.

Girlan Ungaran, 25/5/2017

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶
Aloys budi purnomo Pr

Sent from my heart of abudhenkpr
"abdi Dalem palawija"
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan
Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang
__._,_.___

Posted by: Aloysius Budi Purnomo <aloybudipurnomopr@gmail.com>

Wednesday, May 24, 2017

Rm. Tri Hartono Ngandika (25-5-2017)


Yesus bersabda: "Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir jaman".

Keyakinan akan disertai Tuhan Yesus sampai akhir jaman, merupakan jaminan yang amat menggembirakan dan meneguhkan bagi kami khususnya kaum lansia dan atau sakit-sakitan. Sebab penyertaan Tuhan pasti memberi kegembiraan, keteguhan dan kekuatan di kala kami mengalami kerapuhan. Terimakasih Tuhan.

Rm. Joko Pindah


Peristiwa yang ditulis ini memang terasa mendadak bagi para rama Domus Pacis. "Nggon SK per 1 Mei pancen pindah Bantul. Ning aku nampa layange lagi tanggal 5" (Di dalam Surat Keputusan memang tertulis pindah di Paroki Bantul pada tanggal 1 Mei 2017. Tetapi aku baru menerima suratnya pada tanggal 5 Mei 2017) kata Rm. Hadiyanto yang menjadi Minister Domus Pacis. Rm. Agoeng, yang menjadi anggota pengurus Domus, pada Selasa 16 Mei 2017 bertanya kepada Rm. Bambang "Rm. Joko wingi pun pindah, ta?" (Kemarin Rm. Joko sudah pindah, ya?). Kemudian di hari berikutnya Rm. Agoeng berkata di kamar makan pada santap pagi "Lawange kamar Rm. Joko kuncen" (Kamar Rm. Joko masih terkunci). Perkataan Rm. Agoeng yang sebenarnya bernada tanya ini kemudian disampaikan oleh Rm. Bambang kepada Rm. Hadiyanto. Ternyata Rm. Hadi pada hari Senin 15 Mei menerima SMS dari Rm. Joko sesudah berada di Bantul. "Seminggu iki kuncine dititipke Tari" (Untuk seminggu ini kunci dititipkan pada Tari, salah satu karyawan Domus). Rm. Bambang hanya berpikir bahwa mungkin masih ada barang-barang Rm. Joko yang belum terbawa pindah.

Keuskupan Agoeng Semarang (KAS) ternyata memutuskan untuk menugaskan Rm. Joko menjadi pastor pembantu di Paroki Bantul. Itu dinyatakan dalam SK-KAS. Dalam SK Rm. Joko memulai menjadi penghuni pastoran Paroki Bantul sejak tanggal 1 Mei 2017. Bahwa hari perpindahan adalah Senin 15 Mei 2017, hal ini pertama-tama justru diketahui oleh para karyawan. Kemudian salah satu karyawan memberikan informasi kepada Rm. Bambang yang meneruskan ke para rama yang biasa ikut makan bersama. Rm. Agoeng pada waktu itu sedang pergi. Ketika berangkat ke Bantul pada 15 Mei, ada cukup banyak warga paroki yang diminta oleh Rm. Hardiyanto untuk mengantar. Dari Domus Pacis Rm. Harto di dampingi oleh Mas Abas ikut mengantar dengan mengendarai mobil Domus bersama beberapa warga Lingkungan Puren termasuk Mbak Yanti karyawan Domus yang dikendarai oleh Mas Heru yang mengajak Yahya anaknya. Mbak Tari ikut salah satu mobil umat Paroki. Rm. Bambang juga ikut mengantar dengan mengendarai mobil ayla membawa Mbak Tri, pramurukti, dan Bu Rini. Sambutan dari pihak Paroki Bantul cukup meriah. Selain dengan snak dan makan malam, sambutan-sambutan dan pentas PIA Brosot membawa suasana semarak. Rm. Bambang diminta oleh pengacara untuk mewakili Domus Pacis menyerahkan Rm. Joko yang diterima oleh Rm. Toto sebagai Pastor Kepala Paroki Bantul.

4 Alasan Yesus Tinggal 40 Hari di Bumi Sebelum Naik ke Surga, Nomer 4 Sangat Mengharukan

diambil dari http://kabarsurgawi.blogspot.com/2017/02/4

Salah satu sejarah pelayanan Yesus yang paling signifikan adalah 40 hari setelah kebangkitan-Nya dari kematian. Dia melakukan perjalanan dan berbicara ke banyak orang di daerah-daerah yang pernah dilayaniNya. Dan ribuan orang menyaksikan pemulihan di tubuh-Nya.

Selama 40 hari Yesus menunjukkan kepada dunia bahwa Ia hidup kembali. Meski hal itu adalah bagian dari mujizat Ilahi, masih banyak pula orang-orang yang memperdebatkan kebenaran itu. Jika Dia sendiri sudah mengetahui hal itu akan terjadi, lalu mengapa Dia harus tinggal selama itu di bumi sebelum terangkat ke surga?

1. Membuktikan bahwa Yesus benar-benar bangkit dari kematian

Satu alasan mengapa Yesus masih tetap tinggal di dunia selama lebih dari satu bulan setelah kebangkitan-Nya adalah untuk mendemonstrasikan kepada para pengikut-Nya bahwa Dia benar-benar hidup.

Para pengikut tahu bahwa penguasa Roma telah membunuh Yesus, dan bahkan tubuh-Nya telah diturunkan dari salib dan dibaringkan di dalam kubur. Dan ketika itu terjadi, mereka dipenuhi dengan keputusasaan dan ketakutan; banyak dari mereka yang kemudian bersembunyi. Padahal mereka benar-benar percaya bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan, dan saat mengetahui Yesus sudah mati mereka menjadi hilang harapan. Mereka lupa akan janji Yesus bahwa Dia akan bangkit dari kubur.

Dan ketika Yesus menampakkan diri di antara mereka setelah kebangkitan itu, hidup mereka berubah. Mujizat terbesar dalam sejarah dunia baru saja terjadi: Yesus Kristus bangkit! Selama 40 hari itu, Ia menampakkan diri kepada sebagian besar murid-murid-Nya untuk membuktikan bahwa Ia telah bangkit dari kematian oleh karena kuasa Allah.

Lebih dari dua dekade berikutnya, Rasul Paulus menulis bahwa, “... Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa diantaranya sudah meninggal (1 Korintus 15: 6)”.

2. Mengingatkan murid-murid tentang misi yang akan mereka kerjakan

Yesus telah mengajar murid-murid-Nya selama tiga tahun. Tetapi dimasa yang singkat itu, Yesus harus mengulang kembali pengajaran yang Dia sampaikan itu kepada mereka dan menjelaskan tentang nubuat kebangkitan yang tertulis dalam Perjanjian Lama (Lukas 24: 27).

Dia juga mengajak mereka untuk segera menjalankan misi pekerjaan-Nya. Tetapi sebelum mereka terburu-buru melakukan hal itu, Yesus mengingatkan untuk menunggu tercurahnya kuasa Roh kudus (Kisah Para Rasul 1: 4). Kehadiran Roh Kudus menjadi penggenapan janji Allah bahwa setelah Yesus terangkat ke surga Dia akan menghadirkan seorang penolong. Mereka harus dipenuhi Roh kudus sebelum memulai pelayanan mereka di seluruh dunia (Lukas 3: 21).

Yesus mengingatkan para murid-murid-Nya untuk pergi melayani, memuridkan kembali, membaptis mereka dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus (Kisah 2: 38; 22: 16; Efesus 4: 5; Kolose 2: 12), dan mengajar mereka melakukan kehendak Allah.

3. Mengajarkan tentang pentingnya tiga unsur utama dalam pelayanan para murid

Sebelum terangkat ke surga, Yesus mengajarkan para murid tentang tiga unsur penting yang harus mereka terapkan dalam pelayanannya, yaitu pentingnya komunitas dan kepemimpinan (1 Korintus 12: 27), akan muncul penulis-penulis Injil yang dipenuhi Roh Kudus untuk menuliskan Perjanjian Baru sebagai pelengkap kitab Perjanjian Lama yang telah ada, serta pentingnya Perjamuan Kudus (Lukas 24: 1-35).

4. Menyadarkan para murid bahwa Yesus tetap setia meskipun mereka tidak setia

Saat masa-masa penderitaan Yesus, banyak murid yang kemudian menyangkali Dia. Mereka semua lari dan takut. Tak seorang pun yang setia menunggui Yesus saat Dia disalibkan, kecuali kaum perempuan. Dan ketika Yesus menampakkan diri-Nya setelah kebangkitan, Dia ingin menyatakan bahwa Dia telah mengampuni mereka. Mereka merasa malu dan takut atas tindakan pengecut mereka, namun Yesus justru mengampuni dosa mereka. Di saat Yesus bertemu Simon Petrus, tidak kebetulan bahwa Yesus juga menanyakan pertanyaan yang sama kepada dia sebanyak tiga kali (Yohanes 21: 1-19).

Yesus masih tinggal di bumi selama 40 hari untuk mengajar murid-murid-Nya dan mempersiapkan mereka untuk tugas memberitakan tentang Kristus ke seluruh dunia. Selain itu, Yesus juga melakukan banyak hal-hal lainnya selama kesempatan itu. Yohanes 21: 25 menyatakan, “Masih banyak hal-hal lain yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus dituliskan itu.”

Sumber : http://www.jawaban.com

Lamunan Hari Raya

Kenaikan Tuhan
Kamis, 25 Mei 2017

Matius 28:16-20        

28:16. Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka.
28:17 Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.
28:18 Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.
28:19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
28:20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, di dalam agama ada amanat mewartakan ajaran. Para pengikut mendapatkan kewajiban untuk menyebarluaskan ajaran-ajaran yang ada dalam agamanya.
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa tujuan penyebarluasan itu adalah agama yang diikuti semakin besar. Semakin banyak orang menjadi anggota agamanya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sebanyak apapun jumlah orang berhasil dijadikan pengikut agamanya karena penyebarluasan ajaran yang dilakukan, orang belum menjadi petugas agama sejati kalau yang diwartakan tidak membuahkan iklim hubungan saling peduli berlandaskan amanat nurani dalam pergaulan hidup bersama siapapun. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan menyadari hidup keagamaan sebagai penghayatan budaya kasih.
Ah, penyebarluasan ajaran dalam agama adalah untuk memperkuat agama.

Jangan Ragu Menyembah Yesus Kristus dalam Adorasi Ekaristi Abadi

diambil dari email group unio-kas 24 Mei 2017

Kamis, 25 Mei 2017
Hari Raya Kenaikan Tuhan
Refleksi harianku dalam doa berdasarkan Mateus 28:16-20

Sesudah Yesus bangkit dari antara orang mati, kesebelas murid berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika melihat Dia, mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Yesus mendekati mereka dan berkata, "Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

Tuhan Yesus Kristus terkasih, seperti diwartakan dalam Injil hari ini, aku percaya bahwa Engkau memiliki kuasa melakukan segala sesuatu, bahkan kuasa mengubah hatiku yang membatu menjadi hati yang mengasihiMu tanpa syarat. Juga aku percaya bahwa Engkau selalu besertaku. Bantulah aku taat pada perintahMu mewartakan kasih kerahimanMu.

Tuhan Yesus Kristus terkasih, mengikutiMu juga merupakan tantangan dalam hidupku sekarang ini. Kadang aku melihat Engkau berkarya dengan jelas dalam hidupku, pada kesempatan lain aku ragu-ragu, seperti para muridMu. Namun Engkau mendekati mereka di saat mereka ragu. Engkau meneguhkan mereka dengan bersabda, "Lihat, aku menyertai kamu sampai akhir zaman."

Tuhan Yesus Kristus terkasih, Engkau berkenan berbagi kuasa denganku, dan Engkau melakukan itu melalui Sakramen-Sakramen, mulai dari Baptis dan dilanjutkan dengan Sakramen Tobat dan Ekaristi. Bahkan Engkau selalu besertaku dalam Adorasi Ekaristi Abadi. Bantulah aku berpegang teguh pada jalanku padaMu, Tuhan, hingga aku aku menjadi alat setia kerahiman dan kasihMu.  Terima kasih Engkau mengijinkan aku terlibat dalam hidup dan perutusanMu. Engkaulah kekuatan dalam kelemahanku dan cahaya dalam kegelapanku. Bantulah aku membangun kasih melalui segala perkataan baik tentang dan kepada sesama kini dan selamanya. Amin.

Girlan Ungaran, 24/5/2017

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊ ·̵̭̌·̵̭̌«̶
Aloys budi purnomo Pr

Sent from my heart of abudhenkpr
"abdi Dalem palawija"
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan
Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang
__._,_.___

Posted by: Aloysius Budi Purnomo <aloybudipurnomopr@gmail.com>