Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Saturday, November 30, 2019

Ayat Diet



Pada umumnya orang akan maklum bahwa penyakit dapat bersahabat dengan kaum lansia. Bahkan ada penyakit-penyakit yang dianggap sebagai bagian degeneratif bagi lansia seperti kolesterol, asam urat, dan gula darah. Kaum lansia pun tidak akan heran dan merasa wajar kalau mengalami penyakit yang disebut degeneratif. Tetapi, sekalipun mengatakan “Sudah lansia, kok. Biasa aja kena diabet dan kolesterol”, tidak sedikit yang mengalami perasaan berat untuk menjalani yang disebut diet.

Soalnya Sudah Terlanjur Biasa

Diet adalah tindakan tidak menyantap yang menjadi musuh bagi penyakit yang diderita. Dari pengalaman saya, hal itu akan enak saja kalau itu bukan menjadi kebiasaan. Sebagai orang yang menderita hipertensi sejak usia 21 tahun, saya diminta untuk mengurangi daging bahkan menjauhi jeroan. Di hadapan dokter saya dengan tegas dan mantap bilang “Ya, siap laksanakan”. Tentu saja itu bukan soal bagi saya. Dalam sejarah hidup saya baru bisa menyantap daging ayam ketika usia sudah tigapuluhan tahun. Pada masa puasa Katolik saya justru makan daging ayam sehari dua kali. Bagi saya ini adalah perjuangan berat karena yang namanya daging dan segala organ binatang adalah hal yang amat jauh dari selera lidah. Tetapi masa puasa adalah masa menjalani mati raga. Tujuan utama mati raga masa puasa adalah untuk membuat makin mesra dengan Tuhan dan makin enak bergaul dengan siapapun. Di dalam pergaulan terutama dalam bertamu, saya merasa kerap membuat kecewa tuan rumah. Saya selalu tidak menyantap lauk daging dalam jamuan makan. Dengan demikian kalau dokter hanya minta untuk mengurangi makan daging, tidak makan pun tidak soal bagi saya.

Yang menjadi soal adalah kalau diet itu berkaitan dengan santapan yang menjadi kebiasaan. Saya mengalaminya ketika dalam tubuh saya positif terkena penyakit gula darah. Ketika dokter bertanya “Sering makan gudeg?”, saya jawab “Ya”. “Sekarang jangan” dokter omong dengan enteng tetapi membuat rasa dalam dada seperti tersayat karena gudeg sungguh menjadi firdaus bagi lidah saya. “Bakmi?” “Ya”. Bakmipun dinyatakan sebagai iblis, padahal itu sahabat karib yang selalu siap jadi penghibur harian. Sesudah itu dokter memberikan ukuran-ukuran nasi yang harus disantap. Padahal untuk saya nasi goreng menjadi favorit yang sepiring penuh pun belum memberi kepuasan. Dengan demikian saya sungguh mengalami diet karena saya harus menjauhi menu atau berbagai menu yang sudah menjadi kebiasaan santapan. Dan itu menjadi amat berat karena menyangkut menu-menu yang menjadi favorit bahkan persediaan harian. Tanpa itu rasanya belum makan. Sekalipun sudah ikut makan dalam sebuah pesta dan bahkan pesta prasmanan dan menyantap tidak sedikit, ketika pulang melihat warung bakmi dan nasi goreng saya mudah berhenti jajan mengikuti ajakan lidah berjumpa dengan pasangan tercintanya. Di sinilah saya menjadi bagian dari kaum diet yang punya kata mutiara “Aduuuuh ..... nasib orang yang harus diet”.

Untung Ada Lentera Iman

Kebetulan saya memiliki kebiasaan membawa apapun, baik-jelek mulia-memalukan, menjadi omongan dalam hati dengan Tuhan. Dari omongan beraroma keluhan muncul cahaya kecil yang mengingatkan saya pada kata-kata Kitab Suci.

Lukas 9:23

Jujur saja, bagi saya untuk makan dengan berbagai aturan sungguh menjadi hal yang ribet. Maka, ketika dokter menjelaskan ukuran gram dan ini itu untuk nasi dan lain-lainnya, saya berkata “Apa untuk orang diabet tidak ada menu yang bebas saya makan tanpa memikirkan aturan?” Dokter meminta saya untuk menghubungi bagian gizi. Dari bagian gizi saya mendapatkan leaflet yang berisi berbagai macam menu yang bisa dimakan dan yang berbahaya bagi orang diabet. Ternyata yang menjadi larangan amat sedikit dibandingkan yang bebas bisa disantap. Saya menemukan untuk yang kena gula darah ada banyak macam sayuran dan buah yang bebas disantap. Saya berpikir asal banyak menyantapnya pastilah sudah membuat kenyang. Namun ada hal yang berkaitan dengan diri saya dalam hal makan. Sejauh ini saya tidak doyan sayuran dan buah-buahan. Dalam hal buah saya hanya doyan pisang ambon yang kata ahli gizi mengandung kadar gula cukup tinggi.

Ketika saya merasa amat enggan untuk memulai makan sayur, tiba-tiba saya teringat kata-kata Yesus “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Luk 9:23) Dengan mengingat ayat ini saya menyadari bahwa makan sayur dan buah adalah jalan salib riil. Tetapi ini untuk ikut Yesus. Yesus menjalani salib sampai wafat, dan itu adalah jalan mengalami kemuliaan kebangkitan. Maka nekadlah saya menyantap sayuran tiga kali sehari. Lauknya biasa.  Meskipun dengan pelan, tetapi saya berjuang untuk sampai terasa kenyang. Enam hari badan saya terasa lemas. Tetapi pada hari ketujuh ada kesegaran mulai menyusup tubuh. Dan ..... tak terasa saya mengalami kesegaran. Itu menjadi kebiasaan baru dalam hidup saya. Sayuran adalah santapan harian. Nasi hanya masuk dalam mulut sebulan sekali atau dua kali. Dalam bulan-bulan berikut saya merasa jauh lebih segar dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya. Inikah anugrah kebangkitan?

Kejadian 2:16-17

Padahari Kamis tanggal 28 November 2019 saya mendapatkan tamu. Dari omong tentang diet berkaitan dengan penyakit yang diderita, dia mengatakan kerap gagal menjalaninya. Saya mencoba men-sharing-kan pengalaman saya dengan terang Lukas 9:23. Tetapi dia tetap berkata bahwa itu hanya dilakukan oleh orang-orang khusus. Untuk kebanyakan orang diet hanya terjadi pada saat perasaan sakit datang. Tetapi ketika merasakan enak, diet berhenti dan kembali makan yang seharusnya menjadi pantangan.

Saya bertanya kepada tamu itu “Soalnya kamu mau ikut Tuhan tidak?” yang langsung dijawab “Ya jelas”. “Kalau mau ikut Tuhan ya harus berani tidak ikut bujukan setan yang hanya akan menjerumuskan pada yang salah” kata saya. Tiba-tiba pikiran saya melayang ke peristiwa ketika Tuhan menciptakan manusia. Di dalam Kitab Suci dikatakan TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,  tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati." (Kejadian 2:16-17) Ternyata yang menjadi larangan itu sedikit sekali dibandingkan dengan yang bebas untuk disantap. Setiap diet selalu hanya untuk menu tertentu. Yang boleh dimakan masih jauh berlipat banyak. Saya juga mengatakan bahwa kita adalah manusia dan bukan binatang. Binatang selalu hanya bisa makan makanan tertentu dan berkemampuan tertentu. Manusia bisa belajar dan berlatih banyak hal termasuk dalam makan. Dengan diet kita mendapatkan kesempatan untuk menjadi manusia baru dengan kebiasaan baru. Yang mengancam kebaruan demi damai sejatera adalah setan yang menggunakan pucuk lidah untuk selera tertentu. Untuk ikut Tuhan kita harus memaksa pucuk lidah kita taat pada kehendak-Nya dalam perkembangan situasi hidup kita yang kena penyakit tertentu.

Puren, 30 November 2019

Lamunan Pekan Adven I

Minggu, 1 Desember 2019

Matius 24:37-44

24:37 "Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.
24:38 Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera,
24:39 dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.
24:40 Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan;
24:41 kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.
24:42 Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.
24:43 Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar.
24:44 Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga."

Butir-butir Permenungan
  • Katanya, tak ada orang yang tak tahu bahwa kematian adalah salah satu kepastian yang masuk dalam pengalaman siapapun. Semua orang mau tidak mau akan meninggalkan dunia berpisah dengan orang-orang dekat.
  • Katanya, walau ada kepastian kematian orang tetap berusaha untuk menangkalnya. Dalam keadaan sakit yang amat berat pun orang mencari jalan untuk menghindarinya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun kematian merupakan hal paling berat untuk dihadapi, orang menyadari bahwa untuk kesiagaan menghayatinya cukuplah menyediakan sekecil apapun ruang dalam hati untuk menerima apabila hadir. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan selalu siap sedia menerima apapun dalam hidup termasuk saat meninggalkan dunia fana.
Ah, kematian adalah musuh sejati manusia.

Santo Andreas Rasul

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 13996 Diterbitkan: 10 Augustus 2013 Diperbaharui: 09 Oktober 2019

  • Perayaan
    30 November
  •  
  • Lahir
    Hidup abad pertama
  •  
  • Wilayah karya
    Yerusalem, Yunani
  •  
  • Kota asal
    Bethsaida, Galilea
  •  
  • Wafat
    Martir; disalibkan pada Saltire (salib berbentuk X) di Patras Yunani
  •  
  • Beatifikasi
    -
  •  
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation

Santo Andreas berasal dari Betsaida di Galilea, tanah Israel. Ia bersama saudaranya Simon Petrus adalah teman sekota kelahiran dengan seorang murid Yesus yang lain yaitu Filipus. Andreas dan Petrus hidup dengan bekerja sebagai nelayan penjala ikan di danau Galilea. Mereka tinggal serumah, bersama-sama dengan ibu mertua Petrus, di kota Kapernaum.
Awalnya Andreas adalah murid Yohanes Pembaptis. Tetapi, ketika Yohanes menunjuk kepada Yesus dan berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah,” Andreas mengerti bahwa Yesus lebih besar daripada Yohanes. Pada saat itu juga ia meninggalkan Yohanes untuk mengikuti Yesus.
Yesus tahu bahwa Andreas mengikuti-Nya dari belakang. Yesus berbalik dan bertanya, “Apakah yang kamu cari?”. Andreas menjawab bahwa ia ingin tahu di manakah Yesus tinggal. Yesus menjawab, “Marilah dan kamu akan melihatnya.” Belum lama Andreas tinggal bersama Yesus, ketika ia menyadari bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh Mesias. Sejak saat itu, ia memutuskan untuk mengikuti Yesus.
Andreas jugalah yang memperkenalkan Petrus kepada Yesus. Setelah bertemu dengan Yesus ia memberitahukan kepada Simon, saudaranya : "Kami telah menemukan Mesias". Andreas membawa Simon kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: "Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus)."  
Andreas dipilih Yesus menjadi salah seorang dari 12 rasul-Nya yang utama, seperti yang dicatat di semua Injil dan Kisah Para Rasul.  Andreas selalu berada disisi Yesus dalam semua perjalananNya.
Dalam peristiwa mujizat pemberian makan lebih dari 5000 orang, Andreas mempunyai peranan dalam memperkenalkan anak yang membawa 5 roti jelai dan 2 ikan kepada Yesus dengan kata-kata:
"Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini...?"


Setelah Yesus naik ke surga, Andreas ada di antara rasul-rasul lainnya di ruang atas untuk menantikan turunnya Roh Kudus yang dijanjikan Yesus. Konon, ia kemudian mewartakan Injil di Scytia dan Yunani, dan kemudian menurut tradisi (yang agak diragukan), ia pergi ke Byzantium, di mana ia mengangkat Stachys menjadi Uskup setempat.
Menurut tradisi Andreas wafat sebagai martir di Patras, Acaia, (Yunani). Ia digantung pada sebuah saltire (salib yang berbentuk huruf "X" ) selama 2 hari, dan selama itu ia terus berkotbah kepada khalayak yang datang menyaksikannya. Ia tidak dipakukan melainkan diikat saja pada salib itu, sehingga lebih lama ia menderita sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Salib berbentuk X ini kemudian dinamakan orang "Salib Santo Andreas".
St.Hieronimus menulis bahwa Relikwi Santo Andreas diambil dari Patras dan dibawa ke Konstantinopel atas perintah kaisar Konstantius II sekitar Tahun 357.  Relikwi ini kemudian disimpan di Gereja Para Rasul Kudus di Konstantinopel. Pada tahun 1461 sebagian relikwi santo Andreas diberikan kepada Paus Pius II.  Relikwi ini kemudian ditempatkan dalam salah satu dari empat pilar tengah Basilika Santo Petrus di Vatikan.
Pada saat kejatuhan kota Konstantinopel, relikwi Santo Andreas dan Santo Petrus yang disimpan dikota itu diselamatkan ke kota Amalfi Italia, oleh Kardinal Petrus dari Capua. Disana sebuah Khatedral yang indah kemudian dibangun untuk menyimpan relik tersebut. Khatedral ini diberi nama Duomo (khatedral) di Sant' Andrea, Amalfi, Italia.
Pada September 1964, Paus Paulus VI, sebagai itikad baik terhadap Gereja Ortodoks Yunani, memerintahkan agar semua relikwi dan peninggalan St. Andreas yang berada di Vatican dikirim kembali ke Patras. Pada tanggal 24 September 1964 Kardinal Augustin Bea bersama dengan banyak kardinal lainnya menghantarkan relikwi St. Andreas kepada Patriark (Uskup) Konstantinus di Patras. 
Pada tanggal 19 Januari 1980 Salib St. Andreas yang diambil dari Patras Yunani pada masa Perang Salib oleh Duke of Burgundy juga dikembalikan ke Patras setelah selama beberapa abad Relikwi tersebut disimpan di gereja St. Victor di Marseilles Perancis. Relikwi tersebut diserahkan kepada Patriark Patras Nikodemus oleh delegasi Gereja Katolik yang dipimpin oleh Kardinal Roger Etchegaray.  Semua Relikwi yang dikembalikan tersebut termasuk juga sisa-sisa salib X tempat rasul ini menjadi martir, kini disimpan di Gereja St. Andreas Patras; di sebuah Altar khusus dan dihormati dalam sebuah upacara khusus setiap 30 November hari pestanya.
Santo Andreas juga dihormati sebagai Santo Pelindung untuk Negara Scotlandia. Bendera Negara Scotlandia adalah gambar dari salib Santo Andreas. Kisahnya : Suatu ketika Raja Scotlandia Angus Mac Fergus menghadapi serbuan dari bala tentara musuh yang sangat besar. Ia kemudian berdoa memohon bimbingan Tuhan. Secara ajaib ia melihat sebuah awan putih berbentuk Saltire (salib berbentuk X lambang Santo Andreas) melayang di langit biru di atas kepalanya. Raja Angus kemudian berdevosi pada Santo Andreas dan memenangkan perang yang sangat menentukan masa depan kerajaannya. Sejak saat itu ia memutuskan bahwa Santo Andreas akan menjadi santo pelindung bagi Scotlandia. Menyusul kemenangan Robert Bruce pada Pertempuran Bannockburn pada tahun 1314, Deklarasi Arbroath dengan resmi menyatakan bahwa Santo Andreas adalah Santo pelindung Skotlandia. Di kemudian hari gambar Saltire diresmikan menjadi bendera nasional Negara Skotlandia pada tahun 1385.

Friday, November 29, 2019

Minggu Adven I thn. A tgl. 1 Des 2019 (Mat. 24:37-44)

diambil dari https://unio-indonesia.org/2019/11/29; ilustrasi dari koleksi Blog Domus


MEMPERBAHARUI WAJAH KEMANUSIAAN
Masa Adven tahun A ini diawali dengan mendengarkan ajakan berjaga-jaga menunggu kedatangan “Anak Manusia” pada akhir zaman (Mat 24:37-44). Peristiwa penyelamatan sudah mulai dan akan terwujud sepenuhnya kelak. Orang diajak menyadari kenyataan ini. Apa maksudnya?
KEMANUSIAAN YANG BARU
Ungkapan “Anak Manusia” dalam pembicaraan mengenai akhir zaman dalam Injil Matius (juga dalam Injil Markus dan Lukas) menggemakan Dan 7:13, yakni Anak Manusia yang datang menghadap Yang Mahakuasa untuk memperoleh anugerah atas seluruh alam semesta. Dalam Kitab Daniel, Anak Manusia ini baru tampil setelah kekuatan-kekuatan jahat yang mengungkung alam semesta punah. Begitulah, zaman yang dikuasai kekuatan edan itu digantikan dengan zaman Anak Manusia. Siapakah Anak Manusia ini? Bila dibaca dengan cermat, sosok Anak Manusia dalam Kitab Daniel menggambarkan kemanusiaan baru yang sepenuhnya ada di hadirat ilahi dan bebas dari pengaruh yang jahat. Bila Yesus digambarkan sebagai Anak Manusia dalam artian ini, maka ia datang dengan kuasa dari Allah sendiri. Orang bisa tak peduli dan mendiamkannya saja. Tapi akan tiba saatnya nanti mereka yang menganggapnya sepele akan merasa ketinggalan kesempatan.
Oleh karena itu, amat tepatlah mengawali masa Adven ini dengan berusaha menyadari bahwa Yang Mahakuasa itu sungguh hadir walau tidak selalu kelihatan jelas. Bukan kehadiran yang diam dan jauh, melainkan yang bergerak mendekat. Pada saat Ia tiba, dunia ini akan terpilah-pilah dengan sendirinya. Akan jelas siapa-siapa yang berpihak kepadanya, akan jelas pula siapa yang tidak peduli akan kehadirannya yang kini masih terselubung itu. Masa ini juga masa untuk berupaya memahami kemanusiaan baru yang diperkenalkan Yesus serta mengupayakan agar hidup masyarakat terarah ke sana. Dalam Injil Matius, kemanusiaan baru itu ditampilkan sebagai kenyataan Kerajaan Surga.
TAK ADA YANG TAHU KAPAN
Pengalaman kerap kali membuat orang berpikir bahwa dunia dan masyarakat ini berjalan menurut hukum-hukum alam dan kesetujuan-kesetujuan dalam masyarakat. Kita kerap berwacana mengenai kenyataan sosial agama dan kepercayaan, kenyataan sosial pengetahuan, hukum-hukum alam evolusi manusia, tata jagat. Dan memang perkembangan teknologi dan hidup masyarakat mengikuti dua macam kaidah tadi. Tentu saja tidak disangkal bisa terjadi hal tak disangka-sangka, seperti bencana alam atau kerusuhan. Tapi kejadian ini malah membuat orang semakin yakin bahwa mekanisme hukum-hukum alam dan kehidupan sosial perlu semakin dikenali. Perubahan tidak begitu saja terjadi. Ada sebab dan akibatnya. Semakin dimengerti perubahan itu, semakin gampang dibuat perencanaan, perhitungan dan prediksi. Kehidupan sehari-hari praktis berdasarkan pendirian ini. 
Apa warta Yesus? Wartanya menyangkut kenyataan yang tidak sepenuhnya termasuk dunia ini. Kerajaan Surga yang diwartakannya sudah ada tapi tak diketahui kapan terwujud utuh. Tak ada yang tahu kapan. Artinya, Kerajaan Surga tidak mengikuti mekanisme hukum alam dan kaidah-kaidah perkembangan masyarakat walaupun berinteraksi dengannya dalam cara-cara yang tidak bakal sepenuhnya dapat dijelaskan. Tidak banyak artinya berusaha mendeskripsikan “realitas sosial” Kerajaan Surga dan apa “struktur”-nya, meskipun dapat dikatakan bila Kerajaan ini sungguh ada, ada pula dampak sosialnya. Para teolog dan ahli ilmu sosial dapat bekerja sama mendalami masalah ini.
Tak ada yang tahu kapan kemanusiaan baru itu terwujud sepenuhnya kecuali Bapa sendiri, bahkan Anak Manusia yang akan datang itu tidak tahu saatnya (Mat 24:36). Oleh karena itu, dinasihatkan dalam petikan hari ini agar orang selalu siap (Mat 24:42-44). Dipakai panggilan “Bapa” dan bukan sebutan yang lain bagi Allah Yang Mahakuasa justru karena sebutan itu dapat membuat orang merasa dekat pada kerahiman dan belas kasihnya tanpa mengecilkan kewibawaannya. Hendak diungkapkan bahwa saat yang amat menentukan itu bergantung pada wibawa yang dapat dialami sebagai yang rahim dan yang penuh belas kasih, bukan penghakiman yang semata-mata menentukan ganjaran atau hukuman. 
KESEHARIAN YANG MENGECOH
Dalam petikan ini dibicarakan tentang Nuh dan orang-orang pada zamannya (ay. 38-39). Nuh dikasihi Allah dan Nuh berusaha membalasnya dengan menurutinya. Atas suruhan-Nya ia membangun Bahtera, kawasan khusus yang terlindung dari kekuatan-kekuatan penghancur yang akan segera datang. Dan jalan terbaik untuk selamat ialah membiarkan diri dibimbing Allah sendiri. Jalan paling mudah menjauhkan diri ialah menganggap sepi kasih Allah itu dan sibuk dengan urusan sendiri.
Orang-orang pada zaman Nuh merasa sudah aman. Tak butuh apa-apa lagi. Mereka melihat yang dikerjakan Nuh, tetapi tidak peduli dan malah menganggapnya mengerjakan yang aneh-aneh saja! Kan tak akan terjadi apa-apa yang luar biasa! Semua bisa diperhitungkan, pikir orang-orang itu. Memang tak satu tindakan pun yang disebutkan termasuk tindakan buruk: makan minum, kawin dan mengawinkan. Semua ini kegiatan sehari-hari yang melangsungkan kehidupan manusia. Tetapi orang mudah melupakan bahwa ada yang tak termasuk keseharian. Gerak gerik Yang Ilahi yang tak dapat seluruhnya diperhitungkan. Ia tetap ada dalam wilayah yang keramat yang tak tunduk pada hukum-hukum di dunia ini.
Bagaimana dengan gerak gerik kemanusiaan? Disebutkan dalam Mat 24:40-41, ada dua lelaki yang menggarap tanah, ada dua perempuan yang menggiling gandum. Bekerja di ladang dan menggiling gandum adalah dua kegiatan dari hari ke hari. Tetapi keseharian ini dapat mengecoh. Yang kelihatan biasa-biasa itu tidak akan tetap sama. Walaupun orang-orang itu mengerjakan yang sama persis, dikatakan satu akan diambil, satu akan dibiarkan. Tidak ada ukuran apapun yang menjelaskan, baik ukuran alamiah maupun ukuran kesetujuan-kesetujuan. Sering kesamaan luar membuat orang berpikir bahwa bagi Yang Keramat juga demikian adanya, sama saja. Tetapi Yesus justru tidak membenarkan anggapan seperti itu. Orang dinasihati agar peduli, hormat, berjaga-jaga akan gerak-gerik Yang Keramat yang tak terduga-duga, dan jangan sekali-kali menyepelekannya atau menganggap semua sudah beres.
INJIL MATIUS
Dalam tahun liturgi A ini perhatian akan dipusatkan pada Injil Matius. Injil ini ditulis berdasarkan Injil Markus dan beberapa bahan baru. Kedua bahan itu disusun kembali oleh Matius dalam bentuk lima kumpulan ajaran Yesus yang diselingi kisah mengenai sang guru dan murid-muridnya. Secara ringkas, susunan Injil Matius demikian:
1-4: Bagian pengantar: silsilah Yesus, kelahirannya, pembaptisan, percobaan di padang gurun, permulaan karyanya.
5-7: Kumpulan ke-I ajaran Yesus: Khotbah di Bukit, ini pegangan dasar bagi mereka yang mau masuk dan hidup dalam Kerajaan Surga.
8-9: Pelbagai penyembuhan.
10: Kumpulan ke-II ajaran Yesus: pegangan bagi mereka yang mewartakan Kerajaan Surga.
11-12: Orang Yahudi menolak Yohanes Pembaptis dan Yesus.
13: Kumpulan ke-III ajaran Yesus: tentang Kerajaan Surga lewat perumpamaan dan penjelasannya. Inilah pusat Injil Matius.
14-17: Beberapa mukjizat, perselisihan dengan orang Farisi. Pengakuan Petrus dan penampakan kemuliaan Yesus.
18: Kumpulan ke-IV ajaran Yesus: sikap-sikap yang diharapkan tumbuh dalam kehidupan bersama para murid.
19-23: Perjalanan Yesus bersama murid-muridnya menuju ke Yerusalem dan perbincangan di Bait Allah.
24-25: Kumpulan ke-V ajaran Yesus: pengajaran di Bukit Zaitun mengenai datangnya Kerajaan Surga pada akhir zaman dan ajakan bersiap-siap.
26-28: Hari-hari terakhir Yesus bersama murid-muridnya, peristiwa-peristiwa dari Getsemani sampai Golgota, wafat dan kebangkitannya, penampakannya di Galilea.
Injil Matius menyoroti Yesus sebagai pribadi yang membawakan Kerajaan Surga lewat tindakan dan ajarannya. Siapa saja yang menerimanya – bukan saja orang Yahudi – akan menjadi bagian dari Israel baru, yakni bangsa terpilih baru, kemanusiaan baru. Mereka inilah yang akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Untuk sementara memang Kerajaan Surga belum kelihatan sepenuhnya, masih terselubung, walau jelas sudah mulai ada. Akan tiba saatnya kewibawaan ilahi menampakkan kuasanya seutuhnya. Saat itulah Kerajaan Surga tersingkap utuh dan orang yang siap akan ikut serta di dalamnya. Warta ini tak perlu membuat orang menjadi waswas dan mulai menghitung-hitung kapan hari akhir itu tiba. Orang dihimbau untuk menyelaraskan diri dengan kehadiran ilahi yang belum sepenuhnya tersingkap itu. Nuh tidak menyingkirinya, ia memasukinya. Itulah Bahteranya.
Salam hangat,
A. Gianto

Lamunan Pesta

Santo Andreas, Rasul
Sabtu, 30 November 2019

Matius 4:18-22

4:18. Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan.
4:19 Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia."
4:20 Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia.
4:21 Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka
4:22 dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, tidak sedikit yang mengidentikan beriman dengan kehidupan keagamaan. Orang beriman terutama rajin menjalani kegiatan-kegiatan agama.
  • Tampaknya, tidak sedikit yang menggambarkan bahwa pewarta iman adalah sosok yang rajin mengajar dan mempromosikan agama. Pada masa kini ada pendidikan khusus untuk menjadi pewarta iman profesional.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun menguasai ilmu ketuhanan sebagai agamawan, orang belum tentu mampu menjadi pewarta sejati hidup beriman kalau tidak menghayati hidup demi kemanusiaan dalam kesibukan hariannya. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang menjadi sosok beriman sejati karena menjadi taat pada nurani yang terwujud dalam perjuangan kemanusiaan lewat kesibukan hariannya.
Ah, pewarta iman itu yang pandai berceramah agama.

Pesan Natal PGI-KWI 2019

PESAN NATAL BERSAMA
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI)
DAN
KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI) TAHUN 2019
===========================================================

HIDUPLAH SEBAGAI SAHABAT BAGI SEMUA ORANG
(bdk. Yohanes 15:14-15)

Dengan penuh sukacita, kita merayakan pesta kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus, Raja Damai, yang datang untuk “merubuhkan tembok pemisah, yakni perseteruan” (Ef 2:14) yang memecah-belah umat manusia. Sambil merayakan Natal, dengan penuh sukacita dan syukur, kita juga mengenangkan 74 tahun kemerdekaan Indonesia sebagai buah dari rahmat Ilahi sebagaimana dikatakan dalam Pembukaan UUD 1945. Sebagai umat Kristen kita percaya bahwa Tuhan Y.M.E. ikut berperan dalam perjuangan bangsa Indonesia merebut kemerdekaannya. Kita juga percaya bahwa sejarah bangsa Indonesia merupakan bagian dari sejarah perjumpaan antara manusia dan pencipta-Nya.

Bangsa Indonesia memiliki sejarah panjang dalam perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Bangsa yang terdiri atas macam-macam suku, budaya serta keyakinan ini telah lama berjuang untuk merebut kemerdekaan dan merajut kehidupan bersama. Berbagai macam ujian harus dilaluinya. Di satu pihak, persatuan bangsa dipersulit oleh penjajahan yang bermaksud melemahkan kita dengan politik memecah-belah dan menguasai, yang dikenal sebagai politik divide et impera. Di lain pihak, di antara para Bapak Bangsa kita sendiri terjadi proses tarik-menarik beraneka ragam gagasan, keyakinan dan kepentingan kelompok. Syukurlah, pada akhirnya semua perbedaan yang ada tidak menghalangi para Bapak Bangsa kita untuk memerdekakan negeri ini dan membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang disatukan oleh prinsip Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda namun tetap satu. Kesamaan cita-cita luhur membuat mereka mampu melampaui sekat-sekat perbedaan yang ada.

Dalam Pembukaan Injil Yohanes dimaklumkan bahwa Allah berkenan masuk ke dalam sejarah manusia dan menjadi bagian darinya. Firman Allah telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita (Yoh 1:14). Kedatangan-Nya bertujuan untuk mengubah manusia dan memberi dia hidup baru. Penjelmaan Allah menjadi manusia merupakan prinsip yang amat hakiki dalam memaknai perjumpaan manusia dengan Tuhan dalam sejarah.

Menurut Injil Yohanes, cinta Allah yang begitu besar telah menggerakkan-Nya untuk memberikan diri-Nya bagi dunia (3:16). Dengan memakai kiasan terang dan gelap yang kontradiktif itu, kedatangan Sang Firman digambarkan sebagai kedatangan Terang Sejati (1:4-5) yang datang untuk menyinari dunia yang ada dalam bayang-bayang kegelapan. Kegelapan itu nyata dalam berbagai wujud, seperti kebencian dan kekerasan. Masa Natal yang agung harus menjadi kesempatan bagi umat Kristen untuk merenungkan bagaimana kita harus menyambut serta menghayati kehadiran Tuhan yang ingin mengubah kegelapan menjadi terang, kebencian menjadi kasih, dan menerima perbedaan dengan sikap saling menghormati.

Ditilik dari segi historis, pesan cinta kasih yang ingin disampaikan oleh Injil Yohanes tampak lebih jelas mengingat pada waktu itu komunitas Kristiani dalam lingkungan Yohanes berada dalam persimpangan jalan untuk berpisah dari Agama Yahudi, rahim yang melahirkannya. Di satu sisi, para pemimpin agama mengucilkan saudara-saudara mereka sendiri yang menjadi pengikut Kristus. Hal itu tersirat dalam kisah penyembuhan orang buta yang dikeluarkan dari sinagoga (9:22). Di sisi lain, ada tanda-tanda yang menyiratkan bahwa dalam komunitas orang Kristen sendiri telah terjadi perselisihan mengenai identitas diri yang membahayakan persatuan mereka.

Di tengah bahaya perpecahan tersebut, umat Kristiani diingatkan pada teladan cinta kasih Yesus, yang menginspirasi mereka untuk saling merendahkan diri dan saling melayani. Menurut Yohanes 13:16-17, Yesus yang adalah Tuhan Guru, rela mencuci kaki para murid-Nya sebagai lambang kerendahan hati dan pelayanan-Nya yang tidak mengenal batas. Injil Yohanes memotret Sang Guru Agung sebagai sosok sahabat yang menyerukan pesan cinta kasih (15:14). Ia memperlakukan mereka yang mempraktikkan cinta kasih sebagai sahabat-sahabat-Nya sendiri. Relasi antara Guru dan murid, antara Tuan dan hamba, yang mengandung jarak dan kesenjangan, diubah menjadi relasi timbal-balik yang mengangkat harkat dan martabat manusia. Dalam relasi semacam itu, terkuak ruang-ruang baru bagi berkembangnya nilai-nilai luhur perdamaian, kerukunan, dan pengertian. Kendati Yesus berbicara kepada para murid-Nya dalam lingkaran yang terbatas pada zaman mereka, namun relasi persahabatan yang diajarkan dan dihidupi-Nya itu bisa memberi inspirasi bagi kita di zaman ini. Apa yang dilakukan Yesus mengilhami kita untuk memperkuat dan merawat persaudaraan, serta persahabatan dalam kehidupan bangsa kita.

Merayakan Natal dalam terang kehadiran Ilahi yang menawarkan persahabatan berlandaskan cinta kasih merupakan panggilan bagi kita untuk keluar dari sekat-sekat suku, budaya, agama, dan lain-lain. Bagi umat Kristiani panggilan tersebut merupakan suatu panggilan untuk menjadi murid sejati, yang mempraktikkan cinta kasih dalam kehidupan sehari-hari bersama keluarga, Gereja, dan masyarakat. Pesan Natal 2019 adalah pesan persahabatan yang membawa kita kembali kepada sejarah bersama bangsa Indonesia, cita-cita bersamanya, dan perjuangan bersama bagi kemanusiaan, bagi Indonesia yang bermartabat.

SELAMAT NATAL 2019 DAN TAHUN BARU 2020
Bandung, 13 November 2019
Atas nama

Persekutuan Gereja-Gereja Di Indonesia (PGI)  Konferensi Waligereja Indonesia (KWI)

Pdt. Dr. Henriette T. Hutabarat-Lebang            Ignatius Kardinal Suharyo
Ketua                                                                       Ketua

Pdt. Gomar Gultom                                               Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC
Sekretaris Umum                                                     Sekretaris Jenderal

—X™

Thursday, November 28, 2019

Beato Dionisius a Nativitate

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 6087 Diterbitkan: 21 Augustus 2014 Diperbaharui: 23 November 2019

  • Perayaan
    29 November
  •  
  • Lahir
    12 Desember 1600
  •  
  • Wilayah karya
    Goa - India, Sumatra - Indonesia
  •  
  • Kota asal
    Honfleur, Perancis
  •  
  • Wafat
    Martir - Kepalanya di pukul dengan Gada hingga pecah lalu lehernya digorok; di Aceh Indonesia pada tanggal 27 November 1638
  •  
  • Beatifikasi
    tanggal 10 Juni 1900 oleh Paus Leo XIII

Nama babtis Beato Dionisius a Nativitate adalah Pierre Berthelot. Ia lahir di kota Honfleur, Perancis pada tanggal 12 Desember 1600. Ayahnya adalah seorang dokter dan nakoda kapal dan Ibunya yang bernama Fleurie Morin adalah seorang aristokrat Prancis yang harum namanya. Semua adiknya : Franscois, Jean, Andre, Geoffin dan Louis menjadi pelaut seperti ayahnya. Pierre sendiri semenjak kecil (12 tahun) telah mengikuti ayahnya mengarungi lautan luas; dan ketika berusia 19 tahun ia sudah menjadi seorang pelaut ulung.
Selain darah pelaut, ia juga mewarisi hidup keagamaan yang kuat dari ayahnya. Ini tercermin di dalam kerendahan hatinya, kekuatan iman, kemurnian dan kesediaan berkorban. Pierre muda bekerja pada perusahaan dagang Prancis. Dalam rangka tugas dagang, ia berlayar sampai ke Banten, Indonesia. Tetapi kapalnya dibakar oleh saudagar-saudagar Belanda dari kongsi dagang VOC. Berkat pengalamannya mengarungi lautan, ia sangat pandai menggambar peta laut dan memberikan petunjuk jalan.
Pierre kemudian bekerja pada angkatan laut Portugis di Goa, India. Namun ia senantiasa tidak puas dengan pekerjaannya itu. Ada keresahan yang senantiasa mengusik hatinya. Ia selalu merenungkan dan mencari arti hidup yang lebih mendalam. Ketika itu ia sudah berusia 35 tahun. Akan tetapi usia tidak menghalangi dorongan hatinya untuk hidup membiara. Ia diterima di biara Karmel. Namanya diubah menjadi Dionisius a Nativitate. Sekalipun ia sudah menjalani hidup membiara, namun ia masih beberapa kali menyumbangkan keahliannya kepada pemerintah, baik dengan menggambar peta maupun dengan mengangkat senjata membuyarkan blokade di Goa yang dilancarkan oleh armada Belanda (1636).
Di biara Karmel itulah, Dionisius bertemu dengan Bruder Redemptus a Cruce, yang bertugas sebagai penjaga pintu biara, koster, penerima tamu dan pengajar anak-anak.
Pada tahun 1638, Wakil Raja Portugis di Goa, Pedro da Silva, bermaksud mengirim misi diplomatik ke Aceh yang baru saja berganti sultan; dari Sultan Iskandar Muda ke Sultan Iskandar Thani. Pedro da Silva ingin menjalin hubungan persahabatan karena hubungannya dengan sultan terdahulu tidak begitu baik. Sebagai seorang bekas pelaut yang sudah pernah datang ke Banten, Dionisius ditunjuk sebagai almosenir, juru bahasa dan pandu laut. Oleh karena itu tahbisan imamatnya dipercepat. Dionisius ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1637 oleh Mgr. Alfonso Mendez. Bruder Redemptus dengan izinan atasannya ikut serta dalam perjalanan dinas itu sebagai pembantu.
Misi ini dipimpin oleh Dom Francisco Sousa de Castro sebagai duta. Para anggota misi yang lainnya adalah : Pater tentara Dionisius, Bruder Redemptus, Don Ludovico da Soza, dua orang biarawan Fransiskan, seorang pribumi dan 60 orang awak kapal. Mereka berlabuh di Ole-Ole (kini: Kotaraja) dan disambut dengan ramah.
Tetapi keramahan orang Aceh ternyata hanyalah tipu muslihat belaka. Orang-orang Belanda telah menghasut Sultan Iskandar Thani dengan menyebarkan isu bahwa bangsa Portugis datang hanya untuk menyebarkan agama Katolik di wilayah Aceh. Karena itu semua anggota misi ini ditangkap, dipenjarakan, dan disiksa agar menyangkal imannya. Selama sebulan mereka meringkuk di dalam penjara dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Beberapa orang dari antara mereka meninggalkan imannya untuk membeli kebebasan mereka.
Dionisius dan Redemptus terus meneguhkan iman saudara-saudaranya dan memberi mereka hiburan. Akhirnya di pesisir pantai tentara sultan mengumumkan bahwa mereka dihukum mati bukan karena berkebangsaan Portugis melainkan karena mereka adalah pemeluk agama KatoIik. Maklumat sultan ini diterjemahkan oleh Pater Dionisius kepada teman-temannya.
Sebelum menyerahkan nyawa ke tangan para algojo, mereka semua berdoa dan Pater Dionisius mengambil salib dan memperlihatkan kepada mereka supaya jangan mundur, melainkan bersedia mengorbankan nyawa demi Kristus Yang Tersalib dan yang telah menebus dosa dunia, dosa mereka. Dionisius memohon ampun kepada Tuhan dan memberikan absolusi terakhir kepada mereka satu per satu. Segera tentara menyeret Dionisius dan dimulailah pembantaian massal.
Setelah teman-temannya dibunuh satu-demi satu, Pater Dionisius masih bersaksi tentang Kristus dengan penuh semangat. Kotbahnya itu justru semakin menambah kebencian rakyat Aceh terhadapnya. Algojo-algojo semakin beringas untuk segera menamatkan riwayat Dionisius. Namun langkah mereka terhenti di hadapan Dionisius. Dengan sekuat tenaga mereka menghunuskan kelewang dan tombak akan tetapi seolah-olah ada kekuatan yang menahan, sehingga tidak ada yang berani. Segera kepala algojo mengirim utusan kepada sultan agar menambah bala bantuan.
Dionisus lalu berdoa kepada Tuhan agar niatnya menjadi martir dikabulkan. Dan permintaannya dikabulkan. Seorang algojo - yang adalah seorang Kristen Malaka yang murtad - mengangkat gada dan mengayunkan dengan keras ke kepala Dionisius, disusul dengan kelewang yang memisahkan kepala Dionisius dari tubuhnya.
Kemartiran Dionisius dengan kawan-kawannya disahkan Tuhan: mayat mereka selama 7 bulan tidak hancur, tetap segar seperti sedang tidur. Menurut saksi mata, jenazah Dionisius sangat merepotkan orang sekitarnya, karena setiap kali dibuang - ke laut dan tengah hutan - senantiasa kembali lagi ke tempat ia dibunuh. Akhirnya jenazahnya dengan hormat dimakamkan di Pulau Dien ('pulau buangan'). Kemudian dipindahkan ke Goa, India.
Pater Dionisius a Nativity dibeatifikasi bersama dengan Bruder Redemptus a Cruce pada tanggal 10 Juni 1900 oleh Paus Leo XIII.

Lamunan Pekan Biasa XXXIV

Jumat, 29 November 2019

Lukas 21:29-33

21:29. Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: "Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja.
21:30 Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat.
21:31 Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah, bahwa Kerajaan Allah sudah dekat.
21:32 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi.
21:33 Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, pada umumnya orang tahu bahwa segala yang duniawi pada saatnya akan rusak bahkan musna. Tak ada barang duniawi yang langgeng keberadaannya.
  • Tampaknya, pada umumnya orang tahu bahwa sepanjang apapun usianya orang akan mengalami kematian. Pada umumnya segagah dan secantik apapun seseorang, sesudah meninggal dunia tubuhnya akan musna menjadi debu.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasanya bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun bumi beserta isinya termasuk seluruh organ tubuh manusia pada umumnya suatu saat musna tak tersisa, tetapi suara-suara yang bergaung di dalam relung hati orang akan tetap abadi. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang melandaskan harapan keabadian pada suara-suara yang muncul dari dalam nurani.
Ah, barangkali karena perkembangan ilmu dan tekhnologi pada suatu saat kematian pun dapat ditangkal.

Wednesday, November 27, 2019

Santo Yoseph Maria Pignatelli

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 3312 Diterbitkan: 06 October 2014 Diperbaharui: 20 November 2019

  • Perayaan
    28 November
  •  
  • Lahir
    27 Desember 1737
  •  
  • Kota asal
    Zaragoza - Spanyol
  •  
  • Wafat
    15 November 1811 di Roma, Italia - Oleh sebab alamiah
  •  
  • Venerasi
    25 Maret 1917 oleh Paus Benediktus XV (decree of heroic virtues)
  •  
  • Beatifikasi
    21 Maret 1933 oleh Paus Pius XI
  •  
  • Kanonisasi
    12 Juni 1954 oleh Paus Pius XII

Santo Yosef Maria Pignatelli SJ, adalah seorang imam Jesuit Spanyol yang memimpin Serikat Jesus saat mengalami pengucilan dan pengasingan. Setelah masa pengucilan berakhir, ia memimpin dan mengawasi proses restorasi dari Serikat yang didirikan oleh Santo Ignasius de Loyola ini. Karena itulah ia dianggap sebagai pendiri kedua dari Serikat Jesus.
Lahir pada tanggal 27 Desember 1737 di Zaragoza, Spanyol. Ibunya adalah seorang wanita bangsawan spanyol bernama Marquesa Fransisca Moncayo dan ayahnya adalah seorang bangsawan Italia bernama Don Antonio di Pignatelli. Sejak kecil ia terlihat mempunyai bakat-bakat ketabahan dan tahan uji yang kemudian terbukti di dalam peristiwa-peristiwa pahit yang dihadapinya. Pada usia 9 tahun ia telah menjadi anak yatim piatu karena kehilangan kedua orang tuanya. Ia masuk biara Serikat Yesus di Tarragona Spanyol pada tanggal 8 Mei 1753 saat ia berusia 15 tahun. Sepuluh tahun kemudian ia ditahbiskan menjadi imam dan ditugaskan berkarya di antara orang-orang miskin di Zaragoza, kota kelahirannya.
Peristiwa pahit yang dihadapinya sebagai seorang imam Yesuit ialah peristiwa pengusiran imam-imam Yesuit dari negeri Spanyol oleh Raja Charles III pada tahun 1767. Bersama rekan-rekan Jesuit nya, Yosef terpaksa menyingkir ke Corsica. Tak lama kemudian di Corsica pun mereka diusir lagi oleh bangsa Prancis yang menguasai daerah itu. Dari Corsica mereka pergi dan tinggal di Ferrara, Italia. Rupanya cobaan belum juga selesai karena suatu sebab, Paus Klemens XIV membubarkan Serikat Jesus dan kemudian mengawamkan semua anggotanya pada bulan Agustus 1773.
Sementara itu selama 20 tahun Yosef sendiri tinggal di Bologna dan dari sana ia menolong dan menguatkan rekan-rekan Jesuitnya yang kurang beruntung di pengasingan. Ia selalu berupaya untuk menguatkan mereka agar tetap hidup kudus dan mempertahankan kaul kesucian mereka. Sementara itu muncullah angin baik di Rusia. Ratu Katerina melarang penyebaran surat yang berisi ancaman penindasan terhadap imam-imam Yesuit di negerinya. Maka di Rusia, Serikat Yesus dapat tetap bertahan hidup dengan aman dan dapat melaksanakan tugas pelayanan dan missionernya dengan baik. Pada tahun 1792 Pangeran dari Parma mengundang 3 orang imam Yesuit dari Italia dan meminta mereka mendirikan serikatnya di sana. Hal ini didukung pula oleh Paus Pius VI yang telah terpilih menggantikan Paus Klemens XIV.
Yosef Pignatelli sendiri bertindak sebagai Superior Serikat Jesus. Maka sejak saat itu Serikat Yesus mulai hidup lagi, dan masuk ke Italia lagi. Sebagai langkah pertama pada tahun 1799, Yosef Pignatelli membuka novisiatnya di Colorno. Lalu pada tahun 1801, ia sendiri menyaksikan peristiwa pengesahan berdirinya kembali Serikat Yesus di Propinsi Rusia oleh Paus Pius VII (1800-1823). Dengan usaha keras ia membangun kembali Serikat Yesus di Kerajaan Napoli pada tahun 1804. Ia sendiri bertindak sebagai Provinsialnya. Sayang bahwa Provinsi Yesuit yang baru ini ditindas kembali oleh pemerintah Prancis hingga tenggelam. Lalu Yosef pergi ke Roma, dan di sana ditunjuk sebagai Provinsial Jesuit untuk seluruh Italia.
Dari sana ia berusaha membaharui Serikat Yesus yang ada di Sardinia dan melindunginya dari jajahan bangsa Prancis. Walaupun Serikat Yesus belum dapat berdiri kokoh secara penuh sampai tahun 1815, saat Serikat Jesus secara resmi dipulihkan kembali oleh Gereja.
Yosef Maria Pignatelli wafat di Roma pada tanggal 11 Nopember 1811. Ia di kanonisasi oleh Paus Pius XII pada tahun 1954.

Lamunan Pekan Biasa XXXIV

Kamis, 28 November 2019

Lukas 21:20-28

21:20. "Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah, bahwa keruntuhannya sudah dekat.
21:21 Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota,
21:22 sebab itulah masa pembalasan di mana akan genap semua yang ada tertulis.
21:23 Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau yang menyusukan bayi pada masa itu! Sebab akan datang kesesakan yang dahsyat atas seluruh negeri dan murka atas bangsa ini,
21:24 dan mereka akan tewas oleh mata pedang dan dibawa sebagai tawanan ke segala bangsa, dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu."
21:25 "Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut.
21:26 Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan goncang.
21:27 Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.
21:28 Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, yang namanya bencana memang dapat membuat kengerian. Orang dapat amat ketakutan misalnya kalau terjadi angin kencang dan puting beliung.
  • Tampaknya, yang namanya kerusuhan juga dapat mengakibatkan berbagai kerusakan. Orang dapat amat ketakutan misalnya kalau terjadi tawuran dan pengrusakan akibat amuk pendukung kesebelasan sepak bola.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun menghadapi berbagai kengerian misalnya karena kerusuhan dan atau bencana, kalau tetap tegak mempertahankan ketenangan hati, orang justru berada dalam lorong yang membawanya ke keselamatan sejati. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang yakin akan hadirat Tuhan yang menyelamatkan dalam keadaan apapun.
Ah, kalau terjadi kerusuhan ya mengungsi saja.

Santo Yakobus Intercisus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 2850 Diterbitkan: 10 Augustus 2013 Diperbaharui: 20 November 2019

  • Perayaan
    27 November
  •  
  • Lahir
    Hidup pada Abad ke-5
  •  
  • Kota asal
    Beth Laphat, Persia (Sekarang Iran)
  •  
  • Wafat
    Tahun 421. Martir | Tubuhnya dimutilasi secara bertahap dan perlahan-lahan menjadi 28 bagian. Penderitaannya berakhir setelah kepalanya dipenggal.
  •  
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation

Yakobus adalah seorang Persia yang hidup pada abad kelima. Raja Yezdigerd I amat sayang kepadanya. Ketika raja mulai melakukan penganiayaan terhadap umat Kristiani, Yakobus tidak punya keberanian untuk mengakui imannya. Ia takut akan kehilangan persahabatan dengan raja. Jadi ia meninggalkan imannya, atau setidak-tidaknya, berpura-pura meninggalkan imannya.
Isteri Yakobus dan ibunya amat kecewa. Ketika raja wafat, mereka menulis sepucuk surat yang tegas kepada Yakobus agar mengubah sikapnya. Surat itu berhasil menggugah hati Yakobus. Selama ini ia bersikap pengecut, tetapi di dalam hatinya, ia masih tetap seorang yang baik. Sekarang, Yakobus mulai menjauhi istana. Secara terus terang ia mempersalahkan dirinya karena telah meninggalkan imannya.
Raja yang baru memanggilnya, tetapi kali ini Yakobus tidak bersembunyi. “Aku seorang Kristen,” demikian katanya. Raja menuduh Yakobus sebagai orang yang tidak tahu berterimakasih atas semua penghargaan yang telah diberikan ayahnya, Raja Yezdigerd I, kepadanya. “Dan di manakah ayahmu sekarang?” jawab Yakobus dengan tenang. Raja yang murka mengancam akan menghukum mati Yakobus dengan kejam. Tetapi Yakobus menjawab, “Biarlah aku mati sebagai orang benar.”
Raja dan majelis kerajaan mengancamnya dengan hukuman siksa dan aniaya hingga tewas kepada Yakobus. Tetapi, kegentaran Yakobus telah lenyap. Katanya, “Kematian ini, yang tampaknya amat mengerikan, tidak ada artinya dibandingkan dengan kehidupan kekal yang akan kuperoleh...?” Kemudian ia berkata kepada para pelaksana hukuman, “Mulailah pekerjaanmu.” Sementara itu ia tetap menyatakan imannya bahwa suatu hari kelak tubuhnya akan bangkit dalam kemuliaan. St. Yakobus Intercisus wafat pada tahun 421.

Setiap Martir Adalah Persembahan Bagi Gereja