Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Saturday, August 31, 2019

Santo Giles

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 3661 Diterbitkan: 16 Agustus 2013 Diperbaharui: 01 Jun 2014
ilustrasi dari koleksi Blog Domus

  • Perayaan
    01 September
  • Kota asal
    Athena Yunani
  • Wilayah karya
    Perancis
  • Wafat
    Antara tahun 710 sampai 724 di Perancis | Oleh sebab alamiah
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation Sumber : Katakombe.Org

Giles dilahirkan di Athena, Yunani. Ketika orangtuanya meninggal dunia, ia mempergunakan banyak warisan yang mereka tinggalkan untuk menolong orang-orang miskin. Sebab itu, dan teristimewa karena Tuhan mengadakan banyak mukjizat dengan perantaraannya, Giles mendapati diri sebagai seorang pemuda yang amat terkenal dan dikagumi.
Giles tidak menghendaki pujian dan kemashyuran ini sama sekali. Maka, agar dapat melayani Tuhan dalam hidup yang tersembunyi, ia meninggalkan Yunani dan berlayar ke Perancis. Di sana, ia hidup seorang diri dalam kegelapan hutan. Ia membuat tempat tinggal dalam sebuah gua di balik semak belukar yang rimbun. Giles hidup tenang di sana, aman dari bahaya besar kepala mendengar dirinya dipuji.

Tetapi, suatu hari seorang raja dan para pengawalnya pergi berburu ke hutan itu. Mereka mengejar kijang yang biasa datang ke gua Giles. Kijang itu lenyap dari pandangan mereka dengan masuk ke dalam gua Giles yang tersembunyi di balik semak belukar yang rimbun. Salah seorang pengawal membidikkan anak panah ke rerimbunan semak, dengan harapan anak panah itu mengenai si kijang. Ketika mereka menyibak semak belukar, mereka mendapati Giles duduk terluka oleh anak panah.

“Siapakah engkau dan apa yang engkau lakukan di sini?” tanya raja. St. Giles menceritakan kisah hidupnya kepada mereka. Setelah mendengarnya, mereka mohon pengampunan. Raja mengutus para tabibnya untuk merawat luka santo kita. Meski Giles memohon agar ditinggalkan seorang diri, raja sungguh merasa kagum kepadanya hingga raja kerap datang menjenguknya. Giles tidak pernah menerima hadiah-hadiah raja. Tetapi, pada akhirnya, ia setuju raja mendirikan sebuah biara besar di sana. Giles menjadi pemimpin biaranya yang pertama.
Biara ini menjadi begitu terkenal hingga seluruh kota datang ke sana. Sebuah kota kecil kemudian tumbuh di sekitar biara, dan setelah kematian Giles; makamnya di biara itu menjadi tempat ziarah. Banyak mukjizat dilaporkan terjadi.  Biara ini di kemudian hari dikelola oleh para Benediktin.
 Sumber : Katakombe.Org

Lamunan Pekan Biasa XXII

Minggu, 1 September 2019

Lukas 14:1.7-14

14:1. Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama.
14:7. Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:
14:8 "Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu,
14:9 supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah.
14:10 Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain.
14:11 Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."
14:12 Dan Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang Dia: "Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya.
14:13 Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta.
14:14 Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, ada keyakinan bahwa manusia itu adalah ciptaan paling luhur di antara segala ciptaan. Manusia adalah gambaran ilahi Sang Pencipta.
  • Tampaknya, sebagai ciptaan manusia adalah makhluk yang paling berharga. Setiap orang perlu sadar akan harga dirinya sehingga harus mempertahankan martabat kemanusiaannya yang sama antar semua orang.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun martabat setiap orang satu sama lain adalah sama, untuk mendapatkan penghargaan sejati orang harus siap menjadi kalah berharga di hadapan orang lain. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan menyadari bahwa semakin mampu bersikap merendah semakin terbukalah datangnya anugrah penghargaan dan penghormatan.
Ah, pada jaman kini orang harus unjuk keunggulan agar laku dalam cari nafkah.

Santo Raimundus Nonnatus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 3534 Diterbitkan: 03 Februari 2017 Diperbaharui: 07 Maret 2017
ilustrasi dari koleksi Blog Domus

  • Perayaan
    31 Agustus
  • Lahir
    Tahun 1204
  • Kota asal
    Portella, Catalonia, Spanyol
  • Wilayah karya
    Afrika Utara, Aljazair, Tunisia
  • Wafat
    31 Agustus 1240 di Cardona, Catalonia Spanyol 
    Sebab Alamiah
  • Beatifikasi
    5 November 1625 oleh Paus Urbanus VIII
  • Kanonisasi
    Tahun 1657 oleh Paus Alexander VII Sumber : Katakombe.Org

Santo Raimundus dijuluki “Nonnatus” (yang berarti : “yang tidak dilahirkan”) karena ia “tidak dilahirkan” secara biasa. Saat ia masih berada dalam kandungan, ibunya sakit keras dan meninggal dunia. Demi menyelamatkan nyawanya, dokter lalu membedah jasad sang ibu dan mengeluarkan bayi Raimundus dari rahimnya.  Karena itulah, ia lalu di sebut Raimundus Nonnatus.
Ayah Raimundus adalah seorang bangsawan di kota Portello Catalonia yang mengabdi pada keluarga Kerajaan Aragon.  Meskipun berdarah bangsawan, namun keluarganya hidup bersahaja dan serba berkekurangan. Sejak muda Raimundus sudah menyatakan keinginannya untuk menjadi seorang biarawan namun ayahnya tidak merestuinya. Ia malah meminta Raimundus untuk mengurus lahan pertanian mereka yang terletak jauh dari Catalonia dengan maksud agar Raimundus dapat melupakan cita–citanya itu. Namun upaya ini tidak berhasil.  Tinggal dalam kedamaian dan keheningan di lahan pertanian justru membuat Raimundus lebih mempunyai waktu untuk berdoa dan bermeditasi. Kerinduannya untuk menjalani hidup sebagai seorang pecinta Tuhan semakin tidak tertahankan. 
Kegigihan Raimundus akhirnya meluluhkan hati sang ayah. Ia diberi restu untuk masuk biara. Setelah mengalami beberapa kali penolakan, Raimundus akhirnya diterima juga pada biara Marcedarian di Barcelona.  Mercedarian adalah sebuah Tarekat yang didirikan oleh Santo Petrus Nolasco pada tahun 1218. Kala itu salah satu karya para biarawan Mercedarian adalah untuk membebaskan para tawanan dan budak Kristen dari tangan para penguasa muslim Moor di Afrika Utara. Raimundus menerima bimbingan dari Santo Petrus Nolasco dan ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1222. 
Segera setelah pentahbisannya, imam muda Raimundus ditugaskan ke Afrika Utara untuk membawa uang tebusan demi membebaskan para tawanan dan budak Kristen. Ia tiba di kota Algiers Aljazair dan berhasil membebaskan 250 tawanan dan budak kristen. Dari Algiers Raimundus menuju Tunisia. Disana ia kembali berupaya membebaskan para tawanan dan budak Kristen yang hidup dalam penindasan dan penyiksaan, namun ia kehabisan uang tebusan. Karena itu ia lalu menawarkan dirinya sebagai sandera demi kebebasan 28 orang budak dan tawanan Kristen.  Tawarannya diterima penguasa Tunisia. Para budak dan tawanan dibebaskan sementara Raimundus dipenjarakan.
Selama 8 bulan dalam penjara, Raimundus harus mengalami segala macam penyiksaan yang biasa diterima para tawanan Kristen.  Namun ia tetap tegar dalam imannya. Ia juga berupaya keras menguatkan iman para tawanan lainnya dengan mewartakan Injil Kristus dan mengajar agama. Kegiatannya membangkitkan amarah kepala penjara. Ia lalu kembali disiksa dengan keji. Menurut legenda, para sipir penjara sampai harus melubangi kedua bibirnya lalu memasang gembok agar ia tidak bisa berbicara dan mengajar agama.  Untunglah biara Mercederian segera mengirimkan uang tebusan bagi Raimundus sehingga ia dapat bebas dan kembali ke Spanyol pada tahun 1239.
Paus Gregorius IX sangat mengagumi ketabahan dan keberanian Raimundus dalam perutusannya di Afrika Utara.  Paus berencana mengangkatnya menjadi seorang Kardinal dan mengundangnya untuk datang ke kota Roma.
Namun Tuhan berkehendak lain. Dalam perjalanan menuju kota Roma, Raimundus jatuh sakit di Castel of Cardona, enam puluh mil dari  Barcelona.  Ia tutup usia pada tanggal 31 Agustus 1240. Menurut tradisi, sejumlah bangsawan, para biarawan Mercederian dan umat kota Cardona kemudian berseteru memperebutkan jenasah Raimundus agar dapat dimakamkan ditempat mereka. Demi menyelesaikan sengketa ini, tubuh pahlawan iman ini lalu ditempatkan diatas sebuah keledai buta, lalu keledai itu dilepas ke jalan.  Sang keledai lalu berjalan menuju sebuah kapela kecil, tempat dimana Raimundus sering berdoa saat masih remaja. Di sanalah ia dimakamkan.  

Friday, August 30, 2019

Minggu Biasa XXII/C 1 Sept 2019 (Luk 14:1.7-14)

diambil dari https://unio-indonesia.org/2019/08/26; ilustrasi dari koleksi Blog Domus 

TEMPAT TERHORMAT…BAGI SIAPA SAJA!
Rekan-rekan yang baik!
Para pengikut Yesus dalam Gereja Perdana makin sadar bahwa mereka diutus bepergian ke pelbagai penjuru dunia menyampaikan Kabar Gembira dengan menyembuhkan orang sakit, mengajar dan meneguhkan iman. Orang cacat, orang buta, janda miskin mereka usahakan agar tidak melulu menjadi penerima sedekah atau orang-orang yang ditolerir keberadaannya, melainkan menjadi bagian dalam kehidupan mereka. Itulah kerasulan murid-murid generasi awal. Sebelumnya tak banyak didengar bahwa iman dapat diwartakan dalam ujud pelayanan bagi kemanusiaan. Para pemimpin mereka memang mendapatkan ilham dari kehidupan dan karya Yesus Sang Mesias sendiri. Dalam mewartakan kedatangan Kerajaan Allah ia menyembuhkan orang, mengusir setan, memperkenalkan kerahiman Tuhan, meninggikan nilai kemanusiaan. Ia juga mengikutsertakan murid-muridnya dalam kegiatannya sehingga mereka menjadi rekan sekerjanya. Bagaimana Injil Minggu Biasa XXI C, yakni Luk 14:1.7-14 dapat membantu kita mendalami kenyataan ini?
MENGHORMATI SANG PENCIPTA
Petikan Injil ini berawal dengan cerita kedatangan Yesus pada suatu hari Sabat untuk makan di rumah seorang Farisi yang terpandang (Luk 14:1). Semua mata diarahkan kepada Yesus dengan penuh perhatian. Mereka mendengar bahwa Yesus pernah menyembuhkan orang pada hari Sabat (Luk 13:10-17). Dalam adat dan agama Yahudi banyak hal yang dikerjakan pada hari biasa tidak boleh dilakukan demi menghormati kekudusan hari itu. Apakah ia akan menjalankan sesuatu yang tak lazim lagi?
Dalam ayat-ayat selanjutnya dikisahkan bagaimana Yesus tanpa ragu-ragu menyembuhkan orang yang sakit busung air yang datang kepadanya. Ketika orang bertanya-tanya apakah tindakan ini bisa dibenarkan, ia menjawab, siapa yang tidak berbuat sesuatu bila anaknya atau lembunya terperosok ke sumur pada hari Sabat (ayat 5). Maksudnya, keadaan yang mendesak bakal mengizinkan orang menjalankan hal yang biasanya tidak boleh dilakukan. Yesus mennghimbau orang memakai akal sehat. Jawaban ini erat hubungannya dengan Luk 13:15. Di situ Yesus mengingatkan, bukankah orang mengeluarkan lembu atau keledainya dari kandang setiap hari, juga pada hari Sabat, agar hewan dapat pergi ke tempat minum? Apalagi kini ada keturunan Abraham yang sudah 18 tahun menderita terikat kuasa Iblis. Kata-kata ini disampaikannya untuk menjawab keberatan kepala rumah ibadat yang melihatnya menyembuhkan pada hari Sabat. Ada enam hari kerja, mengapa Yesus melakukannya justru pada hari Sabat dan di rumah ibadat!
Menyembuhkan orang pada hari Sabat memang bukan hal biasa. Juga dalam masyarakat Yahudi waktu itu orang sakit tidak akan datang mencari tabib pada hari itu. Tetapi mengapa dilarang bila keadaannya mendesak dan bakal memburuk bila tidak dikerjakan? Bentuk-bentuk kerasulan baru biasanya tumbuh dari keadaan mendesak seperti itu. Sering ujud dan cara pelaksanaannya tidak mengikuti pola-pola yang lazim dan tidak langsung dimengerti rekan sekerja. Namun baik diingat bahwa pada hari ketujuh, hari Sabat, Tuhan beristirahat dari karya ciptaanNya dan memberkatinya (Kej 2:2-3). KaryaNya kini dilanjutkan oleh orang-orang yang mengamalkan hidup mereka agar kemanusiaan makin menampilkan wajah dan kemiripanNya. Dalam pandangan ini, kerasulan yang ditekuni para religius akan menjadi ujud nyata berkat Pencipta dan menjadi jalan memuliakan Tuhan. Pada hari istirahatNya itu Tuhan akan dapat memandangi orang-orang yang berkehendak baik menyediakan diri menjadi jalan berkatNya bagi semua yang telah diciptakanNya selama enam hari sebelumnya.
Peristiwa penyembuhan pada hari Sabat di rumah seorang Farisi itu kemudian dikembangkan lebih lanjut dengan ajakan agar orang menaruh diri di tempat yang rendah (Luk 14:7-11) dan seruan untuk tidak melupakan orang-orang yang biasanya tidak dapat ikut serta dalam kegembiraan pesta (Luk 14:12-14). Apa maksud kedua pengajaran itu?
TEMPAT TERHORMAT…BAGI SIAPA SAJA!
Perumpamaan mengenai orang yang menduduki tempat terhormat tapi kemudian diminta pindah ke belakang dan orang yang duduk di belakang tapi dipersilakan maju menunjukkan adanya keinginan orang untuk dianggap orang terpandang. Tetapi apa pokok pengajaran perumpamaan ini? Menaruh diri di tempat yang rendah agar dipersilakan ke tempat yang terhormat kerap kali dimengerti sebagai menjalankan kerendahan hati dan berkelakuan baik-baik. Jadi dimengerti sebagai ajaran agar tidak menonjolkan diri dan alih-alih membiarkan orang lain mencarikan tempat yang lebih layak. Apakah Yesus bermaksud mengajarkan sopan santun sambil mengkritik kebiasaan mereka yang suka mencari tempat yang dianggap tempat terhormat? Atau dia memakai amatan dalam perumpamaan itu untuk mengajarkan suatu hal mengenai Kerajaan Allah?
Memang seorang tamu boleh jadi merasa berhak menduduki tempat yang terpandang. Tetapi hanya tuan rumahlah yang betul-betul tahu mana tempat yang cocok bagi orang yang diundangnya. Lukas menyebut uraian Yesus itu “perumpamaan” (Luk 14:7) justru agar pembaca berusaha mencari hikmatnya dan bukan langsung menerapkan bentuk luarnya pada tingkah laku sopan santun. Diajarkan apa artinya membuat tuan rumah tadi sendiri yang mencarikan tempat, mempersilakan tamunya menduduki tempat yang disediakan baginya.
Kepada siapa pengajaran dalam bentuk perumpaan itu ditujukan? Tentunya kepada para murid. Tetapi tidak berarti bahwa mereka itu orang-orang yang berusaha mencari tempat yang terhormat atau yang pandai memilih tempat rendah agar ditinggikan nanti. Ini bukan alegori, melainkan perumpamaan yang mengajak orang berpikir. Baik diperhatikan dalam kisah itu hanya ada satu saja tempat terhormat. Padahal banyak yang ingin mendapatnya. Orang diminta berlaku rendah hati dan tidak mengingini tempat itu? Meleset! Lebih tepat bila perumpamaan itu dilihat sebagai imbauan kepada para murid agar berusaha menyediakan tempat terhormat sebanyak-banyaknya sehingga makin banyak orang dapat dibawa ke tempat yang terhormat. Tak peduli apa datang duluan atau kemudian, ingin duduk di muka atau memilih ada di belakang dengan harapan nanti dipersilakan ke depan. Cara memahami seperti ini hanya mungkin bila perumpamaan tadi tidak dianggap berbicara mengenai tempat perjamuan yang biasa. Di situ hendak diajarkan perihal Kerajaan Allah. Dalam artian ini para undangan mirip dengan para pekerja kebun anggur yang diupah sama walaupun jumlah jam kerja mereka berlain-lainan seperti diceritakan dalam Mat 20:1-16. Dalam perumpamaan Matius itu upah yang sama bukan ketidakadilan melainkan pemberian dan kemurahan hati pemilik kebun yang ingin agar makin banyak orang menikmati keberuntungan.
Kerasulan zaman ini macam-macam ujudnya, termasuk yang sering disebut karya pelopor seperti misalnya pelayanan kaum pengungsi, pendampingan buruh harian, penampungan dan rehabilitasi bekas penyandang narkoba, gelandangan dan anak jalanan. Pelbagai bentuk kerasulan baru yang dikenal sekarang pada dasarnya bertujuan mengentas orang-orang yang hidup dalam kondisi hidup yang kurang layak akibat macam-macam ketakberuntungan. Keadaan ini membuat mereka kurang dapat ikut menikmati kemurahan Tuhan. Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa para pelayan pastoral yang terjun dalam kerasulan ini diajak ikut menyediakan tempat terhormat sebanyak-banyaknya bagi orang-orang yang mereka layani. Kerasulan pelopor memiliki banyak kemungkinan untuk mewujudkannya.
SUMBER KEBAHAGIAAN
Dalam bagian kedua, yakni Luk 14:12-14, ada pengajaran yang melengkapi bagian pertama tadi. Jika murid-murid dihimbau agar ikut menyediakan tempat terhormat sebanyak-banyaknya sehingga banyak orang nanti dapat ikut menikmatinya, lalu manakah karya yang paling membawa ke tujuan itu? Jawabannya sederhana, yakni “undanglah orang yang tak bakal mampu balas mengundang, yakni orang miskin, cacat, lumpuh dan buta!” Dan kebaikan yang tak langsung bisa berbalas ini dikatakan menjadi sumber kebahagiaan bagi yang mengadakan pesta. Dinasihatkan agar orang mencari balasan yang benar-benar patut diharapkan, yaitu balasan yang diberikan pada hari terakhir oleh Yang Maha Kuasa sendiri. Dengan demikian diajarkan agar orang menjalankan kebaikan kepada kaum lemah dengan dorongan yang amat manusiawi tetapi sekaligus juga amat religius. Manusiawi karena balasan tetap diharapkan dan apa jeleknya mengharapkan balasan yang setimpal? Tetapi juga dorongan itu bersifat religius karena balasan yang bakal diperoleh itu baru sungguh didapat pada hari kebangkitan orang-orang benar kelak. Inilah pengajaran iman bagi mereka yang bekerja bagi orang yang tak bisa membalas budi dengan cara yang sama di dunia ini.
Menjelang zaman kelahiran Yesus, semakin muncul gambaran bahwa pada akhir zaman orang-orang yang baik akan dibangkitkan dan mendapat hidup kekal sebagai balasan setimpal seperti tampak dalam Dan 12:2. Tapi ada juga orang-orang yang akan jatuh ke dalam aib abadi. Bagaimana menghindari malapetaka ini? Dalam warta Injili, ada kesadaran bahwa Yang Maha Kuasa tidak tinggal diam. Ia mengirim utusanNya menyampaikan Kabar Gembira bahwa Kerajaan Allah sudah datang, dalam diri utusan itu sendiri, yakni Yesus Kristus. Dengan mengikutinya orang akan tertuntun masuk ke kelompok mereka yang nanti pada akhir zaman akan dibangkitkan dan mendapat hidup kekal. Mereka yang percaya kepada Kabar Gembira ini diminta agar berani mengikutsertakan orang-orang yang biasanya dianggap tidak masuk hitungan, orang miskin, orang cacat, orang lumpuh dan buta. Datang mendekat ke Kerajaan Allah berarti mulai memperoleh kembali penglihatan, berbagi kekayaan Tuhan, dapat berjalan kembali.
Kemuliaan Tuhan makin tampak nyata bila Ia makin dekat pada manusia dan bukan bila Ia jauh dan tak terjangkau. Pelayan pastoral yang peka akan dapat banyak membuatNya makin dekat kepada kemanusiaan. Kaum religius dapat berbuat banyak. Sebagai orang yang mengajak sesama bergembira datang ke perjamuan dalam Kerajaan Allah, seorang religius juga boleh percaya bahwa kegiatan ini dapat menjadi jaminan bagi kebahagiaan sendiri juga. Untuk itu tak perlu lagi ragu-ragu mengikutsertakan orang-orang yang umumnya dianggap tak pantas, yang tak bisa membalas, yang tidak bisa datang sendiri, tapi membutuhkan dan minta dituntun. Mereka itu disayangi Tuhan dan bila kita mempertemukan mereka kembali denganNya, dapatkah Dia melupakan kebaikan ini?
Salam hangat,
A. Gianto

Lamunan Pekan Biasa XXI

Sabtu, 31 Agustus 2019

Matius 25:14-30

25:14. "Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka.
25:15 Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.
25:16 Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta.
25:17 Hamba yang menerima dua talenta itupun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta.
25:18 Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya.
25:19 Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka.
25:20 Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta.
25:21 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.
25:22 Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta.
25:23 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.
25:24 Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam.
25:25 Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan!
25:26 Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?
25:27 Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya.
25:28 Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu.
25:29 Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.
25:30 Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, orang akan merasa senang kalau punya banyak bakat. Dengan banyak bakat orang banyak kemampuannya.
  • Tampaknya, dengan banyak bakat orang akan banyak mendapatkan sanjungan. Dia akan mudah meraih apapun yang diinginkan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun ada yang berbakat banyak dan sedikit, banyak dan besaran bakat adalah anugrah kehidupan dan kesejatian milik orang adalah takaran daya untuk pengembangan bakatnya secara optimal. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan menyadari bahwa anugrah bakat yang ada padanya akan berkembang atau tidak tergantung pada komitmennya menggunakan daya pribadi.
Ah, asal banyak bakat pasti akan laku kemanapun.

Percikan Nas Jumat, 30 Agustus 2019

Guarinus dan Amadeus, Ghebre Michael, Eustaqio van Lieshot
warna liturgi Hijau

Bacaan-bacaan:
1Tes. 4:1-8; Mzm. 97:1-2b,5-6,10,11-12 ; Mat. 25:1-13.
BcO Ef. 6:10-24.

Bacaan Injil: 
1 "Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. 2 Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. 3 Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, 4 sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka. 5 Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. 6 Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia! 7 Gadis-gadis itupun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. 8 Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. 9 Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. 10 Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. 11 Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! 12 Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu. 13 Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya."

Memetik Inspirasi: 
Suatu kali ada seseorang yang merasa bersalah tidak bisa membantu orang yang meminta tolong kepadanya. Sebenarnya ia mempunyai uang yang diminta itu. Namun uang itu dia butuhkan untuk hidup keluarganya. Kalau uang itu diberikan hidup keluarganya pun jadi terganggu.
Perempuan yang disebut bijaksana oleh Yesus mempunyai cadangan minyak. Namun ketika gadis yang disebut bodoh meminta minyak mereka, mereka menjawab, “Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ” (Mat 25:9).
Kadang tidak mudah menolak. Dan sering ketika menolak kita merasa bersalah. Dari bacaan Injil ini kita dibantu bahwa boleh saja kita menolak. Kalau mengiyakan dan itu malah membuat kita tidak bisa bertahan maka kita pun sebenarnya malah membuat kesalahan. Kita tidak perlu merasa bersalah kala menurut perhitungan kita harus menolak. Rasanya jangan sampai kita selalu iya tapi malah sengsara.

Refleksi: 
Alasan apa yang dipandang layak untuk menolak sesuatu?

Doa:
Tuhan, seperti gadis bijaksana, kami ingin agar kami bisa memperhitungkan kehidupan kami dan cadangannya. Ada banyak hal-hal yang tidak kami duga yang memerlukan kesigapan kami. Semoga kami tidak kehilangan dengan kesempatan yang Kauanugerahkan. Amin.

Menolak
MoGoeng
Wates

Thursday, August 29, 2019

Santo Pammakius

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 3212 Diterbitkan: 26 Agustus 2013 Diperbaharui: 26 Agustus 2016
ilustrasi dari koleksi Blog Domus

  • Perayaan
    30 Agustus
  • Lahir
    Hidup pada Abad ke-4
  • Kota asal
    Roma - Italia
  • Wafat
    tahun 410
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation Sumber : Katakombe.Org

Pammakius adalah seorang awam Kristiani terpandang yang hidup pada abad keempat. Sewaktu ia masih seorang pelajar, ia bersahabat dengan St. Hieronimus. Mereka tetap menjalin persahabatan sepanjang hidup mereka dan terus saling membina hubungan baik. Isteri Pammakius adalah Paulina, puteri kedua dari St. Paula, seorang sahabat dan juga murid dari St. Hieronimus.
Ketika Paulina wafat pada tahun 397, St. Hieronimus dan St. Paulinus dari Nola menulis surat yang amat menyentuh hati penuh simpati, dukungan dan janji doa. Pammakius patah semangat karena kematian isterinya. Ia melewatkan sepanjang sisa hidupnya dengan melayani di rumah singgah yang didirikannya bersama St. Fabiola. Di sana, para peziarah yang datang ke Roma disambut baik dan dibantu. Pammakius dan Fabiola dengan senang hati menerima dan bahkan mengutamakan mereka yang miskin, sakit dan cacat. Pammakius yakin bahwa isterinya yang telah meninggal dunia menyertainya sementara ia melakukan karya-karya belas kasih. Paulina dikenal karena kasihnya kepada mereka yang miskin papa dan menderita. Suaminya percaya bahwa melayani mereka merupakan cara terbaik untuk menyampaikan penghormatan dan kasih kepada isterinya.
St. Pammakius jauh terlebih lemah lembut dalam perkataan dan perbuatan dibandingkan St. Hieronimus yang pemarah. Kerap kali ia menasehati St. Hieronimus agar memperhalus atau memilih kata-kata yang lebih lembut, tetapi St. Hieronimus biasa mengabaikannya. Sebagai contoh, seorang bernama Jovinian mengajarkan suatu kesalahan yang serius. Hieronimus menulis sebuah tulisan yang dengan keras membeberkan kesalahan-kesalahan Jovinian.
Pammakius membaca tulisan itu dan menyampaikan saran-saran baik untuk mengganti kata-kata yang terlalu keras. St. Hieronimus berterima kasih kepada sahabatnya atas perhatiannya, tetapi ia tidak melakukan koreksi. Pammakius juga berusaha menengahi suatu perselisihan antara sahabatnya St. Hieronimus dengan seorang uskup bernama Rufinus. Tetapi tampaknya Pammakius tak dapat menggerakkan Hieronimus untuk bersikap lebih lembut dalam menangani orang atau masalah ini.
St Pammakius wafat pada tahun 410 ketika Raja kaum Visigoth, Alaric, menyerbu dan menguasai Kota Roma. Saat ini rumah santo  Pammakius di Roma telah menjadi Gereja biara Passionis Santo Yohanes dan Paulus. Sumber : Katakombe.Org

Lamunan Pekan Biasa XXI

Jumat, 30 Agustus 2019

Matius 25:1-13

25:1. "Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki.
25:2 Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana.
25:3 Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak,
25:4 sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka.
25:5 Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur.
25:6 Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia!
25:7 Gadis-gadis itupun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka.
25:8 Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam.
25:9 Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ.
25:10 Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup.
25:11 Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu!
25:12 Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.
25:13 Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, orang sehat akan tampak aktif dalam setiap kegiatan. Dia tak kenal lelah melakukan apapun yang menjadi tanggungjawabnya.
  • Tampaknya, orang sehat akan rajin dalam bekerja. Dia akan kerja keras bahkan tak kenal waktu untuk menjalani tugasnya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun kemampuan kerja keras dengan landasan komitmen tingkat tinggi menunjukkan kesehatan seseorang, orang akan sungguh memiliki kesehatan raga dan jiwa kalau selalu sadar bahwa ada hari esok sehingga dia selalu mewaspadai diri agar ada stamina untuk menjaga kebaikan raga jiwa di hidup ke depan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati sekalipun tekun menjalani hari ini di sini orang tetap akan menjaga diri untuk kebaikan ke depan.
Ah, yang pokok hari ini dan disini orang berjuang meraih penghasilan sebesar-besarnya.

Santa Sabina

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 6149 Diterbitkan: 17 Juli 2014 Diperbaharui: 21 Februari 2017
ilustrasi dari koleksi Blog Domus

  • Perayaan
    29 Agustus
  • Lahir
    Hidup pada abad ke-2
  • Kota asal
    Roma Italia
  • Wafat
    Martir - Dipenggal pada tahun 125 di kota Roma
  • Venerasi
    -
  • Beatifikasi
    -
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation Sumber : Katakombe.Org

Santa Sabina adalah seorang martir dari kota Roma yang hidup di awal abad kedua. Ia adalah putri dari Herodes Metallarius, seorang bangsawan Romawi yang kaya raya; dan Istri dari seorang Senator kota Roma bernama Valentinus. Setelah suaminya meninggal, Sabina menerima Yesus dan dibabtis menjadi seorang Kristen atas bimbingan dari seorang pelayannya yang bernama Santa Serapia.
Pada masa itu orang-orang Kristen mengalami penindasan serta penganiayaan yang kejam dari pemerintahan Romawi. Orang Kristen dikejar-kejar, ditangkap dan dipenjarakan. Banyak dari mereka yang dibunuh dan menjadi martir.  Pada tahun 125 Santa Serapia tertangkap dan dihukum mati.  Santa Sabina dengan berani berusaha memperoleh jenazahnya agar dapat dimakamkan dengan layak di pemakaman keluarganya. Namun tindakannya itu membuat ia dikecam sebagai penjahat dan dituduh sebagai seorang Kristen oleh Prefect kota yang bernama Elpidio. Karena itu Santa Sabina juga ditangkap dan dihukum mati.
Di kemudian hari Santa Sabina dan Santa Serapia dihormati sebagai orang kudus oleh umat Kristen di Roma. Pada tahun 430 makam Santa Sabina dipindahkan ke Aventine Hill, di dalam sebuah Basilika yang dibangun khusus untuk dirinya yang berada tepat di situs bekas rumahnya. Saat ini, Basilika yang indah tersebut telah menjadi tempat tujuan wisata rohani yang cukup populer di Italia.

Setiap Martir Adalah Persembahan Bagi Gereja

 Sumber : Katakombe.Org

Wednesday, August 28, 2019

Rm. Tri Hartono Mimpin Misa


Hari itu adalah Rabu 28 Agustus 2019. Pada jam 15.00 Rm. Bambang masuk kapel Domus. Dia menyiapkan buku-buku untuk misa jam 18.00. Microphone juga ditata posisinya untuk pemimpin misa. Tempat duduk imam pemimpin misa juga disiapkan. Kemudian soundsystem dicoba. Sementara itu Bu Rini, relawati Domus Pacis Puren, meminta Mas Ardi membeli bakmi godog untuk tambahan menu makan malam.

Ketika jam menunjuk angka 17.40 Rm. Bambang melihat Rm. Tri Hartono memasuki kapel yang lampu-lampunya sudah dihidupkan. Kamar Rm. Bambang memang persis berhadapan dengan kapel yang dindingnya terbuat dari kaca. Beberapa saat kemudian Rm. Jaya dengan kursi rodanya juga masuk didorong oleh Mas Falah, salah satu pramurukti. Rm. Bambang kemudian juga menyusul masuk kapel dan kemudian menghidupkan soundsystem. Bu Rini juga ikut masuk kapel disusul oleh Rm. Ria dan Rm. Harto yang keduanya juga berkursi roda didorong oleh karyawan. Suster Immaculata, yang berkebangsaan Spanyol, juga datang karena biasa ikut misa harian di Domus yang terjadi pada sore hari.

Sebenarnya itu adalah pemandangan biasa yang terjadi pada misa harian Domus Pacis Puren. Tetapi pada sore itu bagi Domus terjadi hal khusus. Rm. Bambang yang biasa ada di posisi pinggir atau bahkan belakang, sore itu menempati posisi tengah depan altar yang biasa ditempati oleh Rm. Tri Hartono. Ini adalah posisi Rm. Tri Hartono yang setiap misa Komunitas membagikan Komuni. Pada sore itu RM. TRI HARTONO MEMIMPIN MISA. Sebenarnya Rm. Tri Hartono kalau berkata-kata sudah kerap sulit ditangkap oranglain karena volume suaranya yang amat lirih. Tetapi beberapa hari sebelumnya dia berkata kepada Rm. Bambang, yang harus berjuang menangkap maksudnya, di kamar makan "Suk tanggal wolulikur aku takmisa. Nganggo pengeras suara, ya" (Besuk tanggal 28 aku yang memimpin misa. Pakai pengeras suara, ya). Rm. Bambang langsung menjawab "Ya". Bagi Rm. Bambang ini adalah peristiwa khusus. Hari itu adalah hari peringatan SANTO AGUSTINUS, pelindung Rm. Tri Hartono. Maka bagi yang ada pada sore hari itu, semua merasakan gembira bersama Rm. Tri Hartono. Mas Handoko memang datang terlambat. Suster Immaculata dan Mas Handoko serta Bu Rini ikut makan malam. Rm. Bambang berseru "Saiki Rm. Tri Hartono isa melu giliran mimpin misa" (Sekarang Rm. Tri Hartono bisa ikut bergilir memimpin misa).

Lamunan Peringatan Wajib

Wafatnya Santo Yohanes Pembaptis, Martir
Kamis, 29 Agustus 2019

Markus 6:17-29

6:17 Sebab memang Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai isteri.
6:18 Karena Yohanes pernah menegor Herodes: "Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!"
6:19 Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat,
6:20 sebab Herodes segan akan Yohanes karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Tetapi apabila ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia.
6:21 Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada hari ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarnya, perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka di Galilea.
6:22 Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyukakan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu: "Minta dari padaku apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!",
6:23 lalu bersumpah kepadanya: "Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!"
6:24 Anak itu pergi dan menanyakan ibunya: "Apa yang harus kuminta?" Jawabnya: "Kepala Yohanes Pembaptis!"
6:25 Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: "Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam!"
6:26 Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya.
6:27 Raja segera menyuruh seorang pengawal dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes. Orang itu pergi dan memenggal kepala Yohanes di penjara.
6:28 Ia membawa kepala itu di sebuah talam dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya.
6:29 Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, orang dapat merasa bahagia boleh menghayati datangnya hari kelahiran. Pada hari khusus seperti itu orang dapat mengadakan pesta.
  • Tampaknya, dengan mengadakan pesta orang dapat mengundang orang-orang yang dipandang istimewa dalam hidupnya. Ucapan-ucapan selamat dapat berdatangan menambah pijar-pijar keceriaan hati.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, sekalipun orang merasa senang sekali dengan datangnya ucapan dan hadiah pada hari pestanya, orang akan menjaga kesadaran agar tidak terkecoh oleh orang yang menggunakan itu sebagai momen melampiaskan maksud buruknya. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang menyadari bahwa suasana gembira kalau tidak memiliki kewaspadaan diri justru dapat menjadi arena datangnya kekeliruan.
Ah, dalam hidup ini yang paling penting adalah berpikir positif.

Tuesday, August 27, 2019

Santo Agustinus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 32633 Diterbitkan: 26 Agustus 2013 Diperbaharui: 12 Agustus 2017

  • Perayaan
    28 Agustus
  • Lahir
    13 November 354
  • Kota asal
    Tagaste, Numidia, Afrika Utara (Sekarang Aljazair)
  • Wafat
    tanggal 28 Agustus 430 di Hippo Afrika utara |
  • Beatifikasi
    -
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation Sumber : Katakombe.Org

Pujangga Besar Gereja ini  lahir pada tanggal 13 November 354 di Tagaste, Algeria, Afrika Utara dan diberi nama  Aurelius Augustinus.  Ia dibesarkan dan dididik di Karthago, dan dibaptis di Italia. Ibunya, St. Monika, adalah seorang Katolik yang saleh, sementara ayahnya, Patrisius seorang kafir. (Kelak ibunda St. Agustinus juga dinyatakan  sebagai orang kudus dan menjadi pelindung bagi para ibu rumah tangga). Agustinus sendiri memilih menganut aliran Manikeanisme, yaitu aliran yang menolak Allah dan sangat mengagungkan rasionalisme.
Agustinus adalah seorang yang sangat cerdas. Pendidikan dan karier awalnya ditempuhnya dalam bidang filsafat dan retorika, seni persuasi dan bicara di depan publik. Awalnya Ia mengajar di Tagaste dan Karthago, namun ia ingin pergi ke Roma karena ia yakin bahwa di sanalah para ahli retorika yang terbaik dan paling cerdas berlatih.  Karena itu pada usia 29 tahun Agustinus dan Alypius, sahabatnya, pergi ke Roma Italia.  Setelah Beberapa saat tinggal di ibukota kerajaan itu; Agustinus kembali merasa kecewa dengan sekolah-sekolah di Roma, yang dikatakan sangat menyedihkan dan kurang bermutu.  Sahabat-sahabatnya yang mengetahui kecerdasannya segera memperkenalkannya kepada kepala kota Roma, Simakhus, yang saat itu sedang mencari  seorang dosen retorika untuk istana kerajaan di Milano.
Agustinuslah yang kemudian mendapatkan pekerjaan itu dan pindah ke Milan untuk menerima jabatan itu pada akhir tahun 384.  Pada usia 30 tahun karier Agustinus semakin bersinar. Ia dikenal sebagai seorang Professor yang sangat disegani di Milano. Namun demikian, Agustinus merasakan ketegangan dalam kehidupan di istana kerajaan.
Suatu hari ketika ia sedang duduk di keretanya untuk menyampaikan sebuah pidato penting di hadapan kaisar, ia melihat seorang pengemis mabuk yang dilewatinya di jalan ternyata hidupnya begitu bebas dan tidak diliputi kecemasan dibandingkan dirinya. Hal ini membuat ia semakin hari  merasa semakin gelisah. Sama seperti kebanyakan dari kita di jaman sekarang, ia mencari-cari sesuatu dalam berbagai aliran kepercayaan untuk mengisi kekosongan jiwanya. Tanpa kehadiran Tuhan dalam hidupnya, jiwanya itu tetap kosong. Semua buku-buku ilmu pengetahuan yang dibacanya, tapi ia tidak menemukan kebenaran dan ketentraman jiwa.
Sejak awal tak bosan-bosannya ibunya menyarankan kepada Agustinus untuk membaca Kitab Suci di mana dapat ditemukan lebih banyak kebijaksanaan dan kebenaran daripada dalam ilmu pengetahuan. Tetapi, Agustinus meremehkan nasehat ibunya. Kitab Suci dianggapnya terlalu sederhana dan tidak akan menambah pengetahuannya sedikit pun.
Pada usia 31 tahun Agustinus mulai tergerak hatinya untuk kembali kepada Tuhan berkat doa-doa ibunya serta berkat ajaran St. Ambrosius, Uskup kota Milan. Namun demikian ia belum bersedia dibaptis karena belum siap untuk mengubah sikap hidupnya yang bergelimang kemewahan. Suatu hari, ia mendengar tentang dua orang yang serta-merta bertobat setelah membaca riwayat hidup St. Antonius Pertapa.  Agustinus merasa malu.
“Apa ini yang kita lakukan?” teriaknya kepada Alypius. “Orang-orang yang tak terpelajar memilih surga dengan berani. Tetapi kita, dengan segala ilmu pengetahuan kita, demikian pengecut sehingga terus hidup bergelimang dosa!” Dengan hati yang sedih, Agustinus pergi ke taman dan berdoa, “Berapa lama lagi, ya Tuhan? Mengapa aku tidak mengakhiri perbuatan dosaku sekarang?”  Sekonyong-konyong ia mendengar seorang anak menyanyi berulang-ulang, “Ambillah dan bacalah!” Agustinus mengambil Kitab Suci dan membukanya tepat pada ayat, “Marilah kita hidup dengan sopan seperti pada siang hari… kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.” (Roma 13:13-14). Ini dia! Teriak Professor Agustinus  dalam hatinya. Inilah yang kucari.  Sejak saat itu, Agustinus memulai hidup baru.
Pada tanggal 24 April 387 Agustinus dipermandikan oleh Uskup St. Ambrosius. Ia memutuskan untuk mengabdikan diri pada Tuhan dan dengan beberapa teman dan saudara hidup bersama dalam doa dan meditasi. Pada tahun 388, setelah ibunya wafat, Agustinus tiba kembali di Afrika. Ia menjual segala harta miliknya dan membagi-bagikannya kepada mereka yang miskin papa. Ia sendiri mendirikan sebuah komunitas religius. Atas desakan Uskup Valerius dan umat, maka Agustinus bersedia menjadi imam. Empat tahun kemudian Agutinus diangkat menjadi Uskup kota Hippo.
Semasa hidupnya Agustinus adalah seorang pengkhotbah yang ulung (lebih dari 350 khotbahnya yang terlestarikan diyakini otentik), dan dikenang akan perjuangannya melawan ajaran sesat Manikeanisme yang pernah dianutnya. Ia juga merupakan pahlawan iman Gereja melawan bidaah Donatis yang telah banyak meyesatkan umat beriman. Agustinus berusaha sekuat tenaga untuk membendung aliran sesat itu. Dalam sebuah debat terbuka dengan para Donatis, Agustinus mematahkan semua argumen mereka sehingga membuat banyak orang telah disesatkan berbalik  kembali ke pangkuan Gereja Katolik.
Agustinus menulis surat-surat, khotbah-khotbah serta buku-buku dan mendirikan biara di Hippo untuk mendidik biarawan-biarawan agar dapat mewartakan injil ke daerah-daerah lain, bahkan ke luar negeri. Gereja Katolik di Afrika mulai tumbuh dan berkembang pesat.
Di dinding kamarnya, terdapat kalimat berikut yang ditulis dengan huruf-huruf yang besar : “Di sini kami tidak membicarakan yang buruk tentang siapa pun.”  dan “Terlambat aku mencintai-Mu, Tuhan”. Agustinus menghabiskan sisa hidupnya untuk mencintai Tuhan dan membawa orang-orang lain untuk juga mencintai-Nya.
Agustinus wafat pada tanggal 28 Agustus 430 di Hippo dalam usia 76 tahun. Makamnya kini terletak di Basilika Santo Petrus di Roma. Kumpulan surat, khotbah serta tulisan-tulisannya adalah warisan Gereja yang amat berharga. Di antara ratusan buku karangannya, yang paling terkenal ialah   “Pengakuan-Pengakuan” dan “Kota Tuhan”.
 Sumber : Katakombe.Org