Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Monday, October 16, 2017

Masih Pengurus Domus Pacis


"Nyuwun dongane kangge bapak nggih" (Minta doa untuk bapak, ya). Demikian kata-kata SMS yang masuk dalam HP Rm. Bambang pada Sabtu 14 Oktober 2017 jam 15.32. SMS itu datang dari Rm. Agoeng yang meninggalkan Domus Pacis pada tanggal 16 September 2017 karena mendapatkan tugas menjadi Pastor Kepala di Paroki Wates. Pak Tukiman, ayah Rm. Agoeng, memang sudah cukup lama menderita sakit dan beberapa kali drop. Usia lebih dari 80 tahun membuat Pak Tukiman mengalami lebih menderita karena sakitnya. Rm. Bambang menanggapi SMS Rm. Agoeng dengan SMS pula "Wonten dalem punapa rumah sakit?" (Di rumah atau rumah sakit?) yang mendapatkan jawaban "Wonten griya" (Di rumah). Rm. Bambang kemudian menjanjikan lewat SMS untuk berkunjung di keesokan harinya. Itulah sebabnya ketika Minggu 15 Oktober 2017 Rm. Bambang diantar oleh Mas Handoko dan Bu Rini pergi ke Klaten menuju rumah Pak Tukiman pada sekitar jam 11.30. Rm. Agoeng juga masih berada di rumah Klaten. Kondisi Pak Tukiman memang sudah amat lemah. Beliau hanya dapat berbaring dan kalau minta duduk harus dilayani dan disangga.

Pada waktu Pak Tukiman tertidur, Rm. Agoeng omong-omong dengan Rm. Bambang, Mas Handoko, dan Bu Rini tentang situasi Rm. Agoeng kini di Wates dan tentu juga tentang Domus Pacis. Ketika berbicara tentang Domus Pacis muncul omongan tentang proses pembuatan Kalender Domus Pacis 2018 yang kini sudah masuk percetaan. "Pinten beaya cetake" (Berapa beaya untuk pencetaan?) tanya Rm. Agoeng. Rm. Bambang memberi tahu jumlah yang dibutuhkan. Rm. Agoeng berkata "Kartu ATM diasta mboten? Yen diasta kula pendhetke" (Membawa kartu ATM tidak? Kalau dibawa, sekarang saya ambilkan) yang langsung dijawab Rm. Bambang "Mboten" (Tidak bawa). "Napa saene njenengan mbikak rekening, terus mangke artane kula pindah teng ngriku" (Apa tidak baik kalau Anda membuka rekening bank dan kemudian uang tambungan saya pindah ke situ) usul Rm. Agoeng karena uang Domus yang dibicarakan berada dalam rekening bank atas nama Rm. Agoeng. Tetapi ternyata Rm. Bambang menjawab "Njenengan tesih Pengurus Domus Pacis ber-SK Keuskupan, ta?" (Bukankah Anda masih Pengurus Domus Pacis dengan SK Keuskupan?) yang membuat semua tertawa.

Perbuatan Kasih Berbagi Alam Membersihkan Hati kita

Try the new Yahoo Mail

Lamunan Peringatan Wajib

Santo Ignasius dari Antiokia, Uskup dan Martir
Selasa, 17 Oktober 2017

Lukas 11: 37-41

11:37. Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Maka masuklah Ia ke rumah itu, lalu duduk makan.
11:38 Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan.
11:39 Tetapi Tuhan berkata kepadanya: "Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan.
11:40 Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam?
11:41 Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, tidak sedikit yang beranggapan bahwa baik buruk seseorang dinilai dari perilakunya. Ada tatanan sosial untuk menilai baik atau buruk omongan dan tindakan seseorang.
  • Tampaknya, agama juga menilai baik buruk umat berdasarkan tatanan perilaku. Ada aturan-aturan upacara untuk menilai apakah orang hormat pada Tuhan atau tidak.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, setaat apapun seseorang pada tatanan hidup bersama untuk berperilaku baik dan benar, semua itu hanya akan menjadi upacara bahkan pencitraan belaka kalau dia tidak menjaga hening bersih hati sehingga segala omongan dan tindakan menjadi ungkapan dan pewujudan kebaikan kalbu. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan menjaga bercahayanya nurani dalam segala omongan dan perbuatannya.
Ah, pada jaman kini yang paling penting adalah kemasan untuk dimaui oleh pasar.

Sunday, October 15, 2017

Pastoral Lansia


Paroki Medari termasuk yang sejak pertama, yaitu tahun 2012, sudah mempunyai rombongan kelompok mengikuti program Pastoral Ketuaan di Domus Pacis. Di Paroki ini ada paguyuban kaum tua bahkan lansia yang bernama Paguyuban Purna Karya. Anggotanya terdiri dari orang-orang pensiunan beserta pasangannya. Karena banyak anggota yang aktif hadir dalam program Novena Seminar Ekaristi di Domus Pacis, hubungan para lansia Medari dengan para rama Domus Pacis juga menjadi cukup dekat. Bahkan, karena beberapa kali juga mengadakan sendiri program penyegaran-penyegaran untuk para lansia yang dapat menghadirkan lebih dari 100 orang, para lansia juga menjadi dekat dengan Rm. Bambang. Rm. Bambang memang juga melayani kelompok-kelompok lansia Lingkungan Murangan Timur dan gabungan Lingkungan Sleman Barat dan Timur dalam program Jagongan Iman.

Situasi hubungan antara Lansia Medari dan Domus Pacis itu memang membuat Rm. Bambang menjadi sering datang untuk melayani misa. Beberapa keluarga lansia atau yang anggotanya ada lansianya sering mengundang Rm. Bambang untuk misa ujub. Yang terakhir terjadi di Tempel pada Jumat 13 Oktober 2017 dalam Misa Ulang Tahun ke 50 Perkawinan Bapak Gerardus Alip Purwopujono dan Ibu Yustina Suratinah. Bapak Alip berusia 76 tahun dan Ibu Alip juga sudah lebih dari 70 tahun. Sebelum misa ada pertemuan rutin Paguyuban Purna Tugas Paroki Medari. Barangkali karena pada hari itu ada Misa Emas Perkawinan, para anggota paguyuban mengenakan baju batik seragam. Selain anggota paguyuban, yang hadir dalam misa adalah umat Lingkungan setempat dan para anak, menantu dan cucu. Karena sudah tiga tahun Pak Alip menderita stroke, beliau kini biasa duduk di kursi roda.

Tanda Terbesar Kasih Kerahiman Allah

Lamunan Pekan Biasa XXVIII

Senin, 16 Oktober 2017

Lukas 11:29-32

11:29. Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus: "Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.
11:30 Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini.
11:31 Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo!
11:32 Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!"

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, di dalam suatu kelompok yang disebut anggota adalah yang biasa terlibat dalam kumpulan. Ada juga kelompok-kelompok yang anggotanya harus terdaftar bahkan mendapatkan kartu anggota.
  • Tampaknya, di dalam agama yang disebut umat adalah yang biasa menjalani ibadat dan atau tradisi lainnya sesuai dengan tatanannya. Bahkan ada agama-agama yang mencatat keanggotaan umat dalam tatanan administratif.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, seketat apapun kelompok-kelompok termasuk agama menata dan menjaga anggota-anggotanya secara administratif organisatoris, hal itu belum menjamin terjadinya keanggotaan sejati yang memiliki perhatian dan tindakan sesuai dengan inti hakiki yang disuarakan oleh kelompok atau agama itu sehingga dapat terjadi yang secara lahiriah berada di luar kelompok atau agama itu justru menghayati keanggotaan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan terbuka pada siapapun yang berkehendak baik sebagai anggota anonim kelompoknya.
Ah, bagaimanapun juga orang luar kelompok bukanlah anggota.

7 Makanan Penangkal Kolesterol yang Baik Dikonsumsi saat Puasa

diambil dari http://rona.metrotvnews.com/kesehatan/GNGL16db Pelangi Karismakristi, Kamis, 22 Jun 2017

 (Foto:Getty Images) 
 
Metrotvnews.com, Jakarta: Saat berbuka puasa di bulan Ramadan, orang pada umumnya mengonsumsi takjil berupa gorengan dan makanan manis. Jika dikonsumsi berlebihan dan tak terkontrol, makanan tersebut dapat memicu meningkatnya kadar kolesterol jahat dalam tubuh.

Kolesterol adalah zat lilin yang ditemukan di sel tubuh manusia. Terlalu banyak kolesterol jahat (HDL) tak baik bagi kesehatan, karena akan memicu timbulnya penyakit kardiovaskuler.
"Kolesterol merupakan penyebab utama penyakit jantung. Di Pakistan, seseorang mendapat serangan jantung ketika kadar kolesterolnya 150 miligram. Sementara, orang Eropa di angka 200 miligram," kata Dr Khawar Abbas dari Tabba Institute of Cardiology.

Guna mencegah kadar kolesterol melonjak, Anda dianjurkan mengonsumsi makanan sehat. Coba modifikasi menu sahur dan berbuka puasa Anda dengan tujuh makanan, berikut ini.

1. Biji ketumbar

Anda bisa mengkonsumsinya dua kali, yakni ketika berbuka dan sahur. Caranya, ambil satu cangkir air dan dua sendok teh bubuk biji ketumbar. Rebus dan saring. Tambahkan gula, kapulaga, dan susu untuk diminum sebagai pengganti teh harian.

2. Cuka sari apel

Cuka sari apel berfungsi untuk menurunkan kadar trigeliserida (kolesterol jahat) dan mengontrol tekanan darah. Anda bisa mengkonsumsinya dengan mencampur satu sendok teh cuka sari apel ke dalam segelas air. Minum 1-2 kali sehari selama bulan Ramadan.

3. Oatmeal

Masukkan oatmeal dalam menu sahur dan berbuka puasa. Oatmeal bermanfaat menurunkan kadar kolesterol. Oat mengandung beta-glucan yang merupakan zat penyerap kolesterol jahat dan mengeluarkannya dari tubuh.

4. Kacang polong

Kacang sangat baik untuk kesehatan jantung. Menurut penelitian, setengah cangkir kacang dapat menurunkan kolesterol hingga delapan persen. Kacang polong mengandung banyak serat, sehingga mampu menyerap kolesterol dari tubuh.

5. Bawang putih

Selain berguna untuk menambah cita rasa masakan, bawang putih juga obat alami untuk menurunkan tekanan darah tinggi, kolesterol, dan mencegah pembekuan darah. Penelitian menunjukkan bahwa bawang putih membantu menjaga agar kolesterol tidak menempel ke dinding arteri.

6. Bayam

Sayuran hijau ini tak hanya terkenal sebagai penambah darah dan sumber zat besi, namun juga membantu menangkal kolesterol. Bayam mengandung pigmen yang disebut lutein dan, membantu menghilangkan kolesterol yang menumpuk dalam arteri.

7.Minyak ikan

Minyak ikan mengandung asam lemak omega 3 yang membantu mengurangi lemak dalam darah, sehingga mencegah penyakit jantung. Guna mendapatkan manfaat maksimal, minumlah sekitar 1-4 gram minyak ikan per hari saat sahur dan berbuka puasa.

Selain tujuh makanan di atas, Anda bisa menurunkan kadar kolesterol jahat dengan cara yang lebih praktis, sudah teruji klinis, dan rasanya pun enak, yakni dengan mengonsumsi Nutrive Benecol pada saat sahur dan berbuka puasa.

Nutrive Benecol telah teruji membantu menurunkan kolesterol 7-10 persen dalam 1-2 minggu, kolesterol jahat (LDL) hingga 15 persen, serta membantu mengurangi risiko penyakit jantung koroner.

Nutrive Benecol punya beberapa varian rasa yang dapat dipilih sesuai selera. Ada empat pilihan rasa yaitu blackcurrant, strawberry, orange, dan lychee.

Kandungan Plant Stanol Ester (PSE) di dalamnya terbukti efektif menurunkan kadar kolesterol. PSE merupakan golongan tumbuhan yang banyak terdapat dalam tanaman, seperti rye, kedelai, sayur-sayuran, minyak sayuran, nasi, buncis, jagung, gandum dan tanaman lainnya.

Dengan sederet kandungan alami tersebut membuat Nutrive Benecol aman diminum oleh orang dengan kolesterol normal, mereka yang ingin berdiet, bahkan penyandang diabetes. Oleh karena itu, Anda tak perlu ragu mengonsumsi Nutrive Benecol setiap hari.

(ROS)

Saturday, October 14, 2017

Perjamun Nikah Surgawi, Berbagi Berkah

Lamunan Pekan Biasa XXVIII

Minggu, 15 Oktober 2017

Matius 22:1-14

22:1. Lalu Yesus berbicara pula dalam perumpamaan kepada mereka:
22:2 "Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya.
22:3 Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang.
22:4 Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini.
22:5 Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya,
22:6 dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya.
22:7 Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka.
22:8 Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu.
22:9 Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu.
22:10 Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu.
22:11 Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta.
22:12 Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja.
22:13 Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.
22:14 Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa di dalam hidup beragama orang-orang bersekutu mengolah kebaikan hidup. Karena yang diolah kebaikan, segala kemungkinan buruk bahkan jahat akan ditangkal.
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa di dalam hidup beragama segala persekutuannya akan menolak hadirnya kaum yang sembarangan hidupnya bahkan yang hidup dalam kelamnya kejahatan. Bahkan anggota yang jatuh dalam kejahatan dapat dikeluarkan dari anggota persekutuan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, segiat dan sedalam apapun persekutuan keagamaan membimbing dan menata para anggota untuk menumbuhkembangkan kebaikan, itu belum menjadi persekutuan yang sungguh menghayati kebaikan dan keluhuran hidup kalau hanya menerima orang-orang yang baik dan pantas hidupnya dan tidak terbuka merangkul kaum buruk, sembarangan, dan bahkan jahat. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan menyadari bahwa penghayatan kebaikan membuat sikap hidup terbuka mengasih tak hanya yang baik tetapi juga yang berseberangan.
Ah, kalau asal menerima siapapun dalam hidup, kita akan rugi besar-besaran.

Friday, October 13, 2017

Ulasan Eksegetis Bacaan K.S Minggu Biasa XXVIII/A

diambil dari http://www.mirifica.net by A. Gianto on Jendela Alkitab, Mingguan


Rekan-rekan yang budiman!

Dalam Mat 22:1-14 yang dibacakan sebagai Injil Minggu Biasa ke 28 tahun A ini disampaikan perumpamaan mengenai siapa yang akhirnya masuk ke dalam Kerajaan Surga dan bagaimana mereka bisa sampai ke sana. Beginilah ceritanya. Ada orang-orang yang sebenarnya sejak awal sudah beruntung karena “diundang ke perjamuan” tapi mereka malah meremehkan ajakan ini. Karena itu keberuntungan yang sebenarnya dapat mereka nikmati jadi beralih kepada orang-orang lain yang tadinya tidak masuk hitungan. Apa artinya semua ini bagi kehidupan kini?

Versi Matius dan Lukas

Selain dalam Mat 22:1-14, perumpamaan tentang undangan yang menolak datang itu didapati juga dalam Luk 14:15-24. Namun ada tiga hal yang khas pada versi Matius yang tidak dijumpai dalam versi Lukas.

1. Dalam Injil Matius, undangannya ialah ke perjamuan makan siang (Yunani “ariston”, Latin “prandium”) bagi pesta nikah seorang anak raja. Lukas menyebutnya perjamuan makan malam (Yunani “deipnon”, Latin “coena”) yang besar yang sudah disanggupi para undangan. Seperti kebiasaan kita, pada zaman itu perhelatan meriah memang biasanya diadakan pada malam hari. Lebih relaks, lebih membangun suasana. Kesempatan seperti itu tidak diadakan siang hari kecuali peristiwanya amat penting dan resmi seperti halnya pesta nikah. Inilah yang lebih ditonjolkan Matius. Perjamuan dalam pesta nikah lebih resmi daripada perjamuan untuk membangun keakraban. Hadirin diajak ikut menjadi saksi peristiwa itu. Apalagi pesta nikah anak raja.

2. Dalam perumpamaan Matius, sang raja sampai dua kali mengundang. Yang kedua kalinya bahkan ada nada memohon. Tetapi orang-orang yang diundang tetap tidak mau datang. Begitulah digarisbawahi dalam Injil Matius penolakan yang makin keras. Ada yang tak peduli, ada yang meremehkan undangan, malah menyiksa dan membunuh suruhan raja. Ini sama dengan memutuskan hubungan. Lukas lain. Ia lebih menekankan dalih para undangan yang sudah bersedia datang ketika diundang tapi kini ingkar.

3. Matius dan Lukas sama-sama mengatakan bahwa akhirnya orang-orang lain yang tadinya tidak diundang kini didatangkan ke perjamuan. Tetapi Matius masih menceritakan bahwa sang raja mendapati orang yang datang tanpa pakaian pesta. Orang itu kemudian tidak diperbolehkan ikut pesta dan dikeluarkan. Lukas tidak menyinggung adanya orang yang tak pantas ikut perjamuan malam. Tetapi ia meneruskan perumpamaan itu dengan menyampaikan pengajaran Yesus mengenai perlunya komitmen utuh dalam mengikutinya.

Matius berbicara kepada umat yang berasal dari lingkungan Yahudi. Bagi mereka “perjamuan nikah” dan datang dengan “pakaian pesta” memiliki arti yang khusus yang tidak segera ditangkap oleh orang dari kalangan lebih luas seperti halnya umat Lukas. Marilah kita lihat dari dekat kedua gambaran yang dipakai Matius.

Perjamuan Nikah

Disebutkan “Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang mengadakan perjamuan nikah untuk anaknya”. Bagi pembaca Matius, “perjamuan nikah” membangkitkan gagasan yang lebih dari pada sekedar hadir dalam resepsi, melainkan mengikuti upacara religius dan berbagi hikmatnya. Dalam kesempatan seperti itu dulu kerap didendangkan lagu-lagu kasih antara mempelai lelaki dan mempelai perempuan. Lagu-lagu itu sering bernada erotik, tapi sekaligus juga amat religius. Salah satu bentuk yang paling dikenal dan sudah menjadi bagian Kitab Suci ialah Kidung Agung. Kedua mempelai saling memuji keelokan masing-masing (Kid 1:9:2:7), saling mengungkapkan rasa rindu terhadap satu sama lain (Kid 3:1-5; 5:2-8), saling mengungkapkan nikmatnya ada berduaan (Kid 7:6-8:4). Di dalam kidung-kidung itu kasih antara kedua mempelai tampil sebagai tempat kehadiran yang ilahi tanpa perlu mengatakannya. Kehadiran-Nya memanusia dalam ujud yang paling bisa dirasakan. Bagi orang Yahudi, ikut serta dalam upacara dan perjamuan nikah dalam arti ini dapat mendekatkan orang pada kemanusiaan dan keilahian sekaligus. Karena itu juga penolakan ikut serta perjamuan lebih daripada sekedar tidak menghadiri pesta.

Menolak ajakan untuk menyaksikan pesta nikah juga membuat pesta menjadi sepi dan hambar. Panggilan pertama tidak dipenuhi. Raja yang sebetulnya penuh wibawa kemudian bersikap menghimbau. Ia merendah. Satu kali tidak digubris, ia berusaha lagi. Malah seakan-akan memohon belas kasihan para undangan: jangan biarkan pesta jadi rusak, hidangan sudah siap, lembu dan ternak piaraan sendiri telah dipotong. Tetapi yang diundang semakin meninggikan diri, dan menjadi takabur, dan akhirnya malah membunuh pesuruh sang raja. Mereka tidak mau diganggu lagi. Mereka memutus hubungan. Terlihat betapa kerasnya penolakan terhadap ajakan untuk ikut serta dalam kesempatan yang sebenarnya bakal membuat siapa saja yang ikut semakin utuh hidupnya, semakin memasuki Kerajaan Surga!

Mereka yang menolak kehilangan dua hal. Pertama rusaklah hubungan dengan raja yang bisa melindungi mereka. Kedua mereka kehilangan kesempatan ikut pesta nikah yang meriah yang memiliki arti khusus tadi. Jadi mereka semakin menjauhkan diri dari kesempatan yang bakal membuat hidup mereka berarti. Mereka menjauh dari Kerajaan Surga. Inilah yang hendak ditunjukkan dalam perumpamaan ini.

Orang-Orang di Persimpangan Jalan

Karena perjamuan nikah telah tersedia tapi yang diundang tak layak datang, maka raja menyuruh hamba-hambanya ke persimpangan jalan, membawa orang-orang yang mereka temui di sana, siapa saja, ke perjamuan nikah tadi. Tak pilih bulu siapa saja didatangkan. Dan pesta itu diselamatkan oleh kehadiran mereka-mereka ini.

Yang dimaksud dengan persimpangan jalan ialah lapangan tempat orang biasanya berkumpul dengan macam-macam maksud: istirahat, menunggu kesempatan kerja, melewatkan waktu, berjualan, membeli. Apa saja. Kegiatan sehari-hari yang bermacam-ragam. Orang-orang yang di situ dengan macam-macam keadaan itulah yang diminta datang ke perjamuan nikah. Di persimpangan jalan…hidup itulah disampaikan ajakannya.

Bagaimana membacanya dengan cara yang lebih cocok bagi zaman ini? Perumpamaan tadi mulai dengan “Kerajaan Surga seumpama..” Jadi dimaksud membantu agar orang menyadari bagaimana cara Yang Mahakuasa mengajak siapa saja ikut masuk ke dalam kehidupan-Nya, ke dalam keakraban dengan-Nya. Dengan mengajak orang ikut serta dalam kegembiraan pesta nikah anaknya, sang raja tadi ingin berbagi kegembiraan. Bahkan boleh dikatakan, kegembiraannya itu baru menjadi nyata bila ikut dirasakan orang lain. Ia berusaha mendatangkan orang-orang untuk ikut. Bahkan ia memohon agar mereka datang. Tetapi permohonan ini dihadapi dengan sikap keras hati dan penolakan. Tidak mau mengambil bagian dalam kehidupan yang sebenarnya tidak dapat sembarangan dibagikan. Penolakan ini makin memisahkan dan menjauhkan mereka satu sama lain. Juga membuat sang raja putus asa dan merasa pestanya bakal rusak. Tetapi ia tidak menyerah. Pestanya itu kemudian dibuka bagi siapa saja yang tadinya tidak termasuk hitungan.

Kerap dijelaskan bahwa para undangan yang menolak datang itu ialah orang Yahudi dan mereka yang didatangkan dari jalanan itu ialah pengikut Yesus. Yang pertama kehilangan Kerajaan Surga, yang kedua memperolehnya. Para hamba yang disuruh mengundang ialah nabi-nabi dan kemudian yang diperlakukan dengan buruk ialah para rasul. Tafsir alegori ini memang sudah ada sejak lama. Dan bahkan sudah mulai pada zaman Injil sendiri ditulis. Namun demikian masih ada keleluasaan untuk memahami perumpamaan ini sebagai perumpamaan untuk membaca kehidupan orang zaman ini, untuk mengartikan pengalaman hidup.

Pakaian Pesta


Pesta nikah itu terlaksana justru karena hadirnya orang-orang jalanan tadi. Kerajaan Surga semakin menjadi kenyataan karena dimasuki, dihuni, dikembangkan. Kepada pembaca diberikan ajakan yang amat kuat. Ayo ikut membuat kehidupan yang nyata ini semakin menjadi ujud dari Kerajaan Surga. Bisakah dibalik sehingga dikatakan agar Kerajaan Surga menjadi bagian dari kehidupan nyata? Orang tergoda mengatakan ya, tapi kiranya tidak pas bila begitu. Seolah-olah kerajaan itu sudah ada dan jadi dan tinggal dimasuki, seperti menaiki kereta yang akan jalan. Yang lebih cocok, tiap orang diminta menemukan wujud Kerajaan Surga baginya. Bahan mentahnya: kehidupan sehari-harinya, kehidupannya di persimpangan jalan. Tapi untuk ke sana orang perlu memakai pakaian pesta.

Dalam alam pikiran Semit, pakaian memberi bentuk kepada orang yang memakainya sehingga dapat dikenali. Tidak mengenakan pakaian pesta berarti datang tanpa sungguh mau mengikuti pesta. Orang baru dapat dikatakan datang ikut perjamuan pesta bila memang mau menghadiri pesta itu, bukan untuk urusan lain. Datang tanpa pakaian yang cocok berarti tidak membiarkan diri dikenal sebagai yang datang untuk itu. Komitmen setengah-setengah ini kurang dapat menjadikan hidup orang menjadi bagian dari hidup dalam Kerajaan Surga. Kebalikannya, datang dengan mengenakan pakaian pesta berarti datang tanpa maksud atau tujuan lain. Yang bersangkutan akan dikenali sebagai orang yang hidupnya sedang berubah dari yang ada di persimpangan jalan menjadi dia yang hidup dalam perjamuan yang makin memanusiakan dan makin mendekatkan ke keilahian.

Salam hangat,

Kredit Foto: http://parrocchiadellassunta.it

Melakukan Sabda Allah Seperti Maria

Try the new Yahoo Mail

Lamunan Pekan Biasa XXVII

Sabtu, 14 Oktober 2017

Lukas 11:27-28

11:27. Ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya: "Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau."
11:28 Tetapi Ia berkata: "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, orang dapat merasakan kebahagiaan karena berada dalam keluarga orang terkenal. Salah satu dari anggota keluarga menjadi sosok populer di tengah masyarakat, orang sudah dapat merasakan bahagia.
  • Tampaknya, terhadap yang memiliki keluarga hebat orang lain pun akan kagum. Orang lain dapat juga memiliki keinginan agar seperti yang dikagumi.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, semengagumkan apapun salah satu anggota keluarganya sehingga seluruh anggota keluarga ikut populer, orang belum tentu sungguh menghayati kebahagiaan yang sejatinya tidak datang pengaruh luar diri tetapi dari dalam diri seseorang karena terbiasa terbuka pada amanat-amanat nurani dan memelihara dalam tindak-tanduknya. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan menyadari bahwa sumber kebahagiaan sejati justru datang dari terjaganya orang dalam kebiasaan berdialog dengan nurani.
Ah, yang membahagiakan itu kalau segala keinginan tersedia.

Thursday, October 12, 2017

Kuasa Kerajaan Allah dalam Hidupku

Lamunan Pekan Biasa XXVII

Jumat, 13 Oktober 2017

Lukas 11:15-26

11:15 Tetapi ada di antara mereka yang berkata: "Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan."
11:16 Ada pula yang meminta suatu tanda dari sorga kepada-Nya, untuk mencobai Dia.
11:17 Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh.
11:18 Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata, bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul.
11:19 Jadi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Sebab itu merekalah yang akan menjadi hakimmu.
11:20 Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.
11:21 Apabila seorang yang kuat dan yang lengkap bersenjata menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya.
11:22 Tetapi jika seorang yang lebih kuat dari padanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata, yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya.
11:23 Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan."
11:24 "Apabila roh jahat keluar dari manusia, iapun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian, dan karena ia tidak mendapatnya, ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu.
11:25 Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu bersih tersapu dan rapih teratur.
11:26 Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya, dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk dari pada keadaannya semula."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, orang yang sungguh baik hidupnya ada dalam naungan jiwa mulia. Hatinya terang bercahaya ilahi.
  • Tampaknya, orang yang sungguh baik noda-noda tersingkir dari dalam hatinya. Hatinya bersih bagaikan rumah indah amat terawat.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sebersih apapun hati seseorang dan sebebas apapun dari noda-noda nafsu egoisme, orang yang sungguh baik akan selalu waspada dan berjaga-jaga karena dalam keadaan hati bersih terawat  pengaruh-pengaruh hidup kelam juga menguat sehingga makin baik dan luhur seseorang kemungkinan makin jahat juga terbuka lebar. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan selalu menjaga diri agar tetap terbuka akan sentuhan usapan-usapan nurani.
Ah, orang baik tak akan tersentuh oleh kejahataan.

Wednesday, October 11, 2017

Rm. Wito



Sebenarnya beliau sudah sering datang dan tidur di kamar yang sudah ditinggalkan oleh Rm. Agoeng pada 16 September 2017. Beliau adalah Rm. Yustinus Slamet Witokaryono, Pr. Beberapa kali sejak minggu terakhir September Rm. Wito sudah menata kamarnya. Sebagai Ketua Komisi Komsos KAS, dalam SK KAS terhitung sejak 15 September 2017, beliau juga ikut kehidupan Komunitas Rama Domus Pacis. Pada tanggal 1 Oktober 2017 ketika Mgr. Rubi datang sebagai pembicara dalam Novena Domus, Rm. Wito diperkenalkan kepada para peserta. Seperti Rm. Agoeng, Rm. Wito pada waktu itu juga menenteng kamera mengambil gambar-gambar.

"Saene nyetak pinten?" (Sebaiknya kita cetak berapa) tanya Rm. Wito, yang kelahiran Gunung Kidul 40 tahun lalu dan ditahbisan sebagai imam pada 29 Juni 2017, kepada Rm. Bambang. Pertanyaan ini berkaitan dengan usaha beliau membuat Kalender Domus Pacis 2018. Berita pembuatan kalender ini sudah beliau unggah di FBnya pada tanggal 9 Oktober 2017 yang menayangkan gambar Rm. Harto disertai kata-kata "Romo-romo sepuh seringkali terlupakan. dalam keheningan, mereka menikmati hari-hari dengan segala aktifitas dan keunikannya. Anda ingin mendukung para romo sepuh menikmati masa tua mereka? nantikan sebentar lagi kalender Domus Pacis." FB ini pada 12 Oktober pagi mendapatkan 178 like dan 19 komentar. Dari komentar-komentar itu didapatkanlah kenalan dan orang dekat Rm. Wito yang bersedia membantu pengedaran kalender.

Allah Bapa Surgawi Yang Murah Hati

Lamunan Pekan Biasa XXVII

Kamis, 12 Oktober 2017

Lukas 11:5-13

11:5 Lalu kata-Nya kepada mereka: "Jika seorang di antara kamu pada tengah malam pergi ke rumah seorang sahabatnya dan berkata kepadanya: Saudara, pinjamkanlah kepadaku tiga roti,
11:6 sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya;
11:7 masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepada saudara.
11:8 Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya.
11:9 Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.
11:10 Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.
11:11 Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan?
11:12 Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking?
11:13 Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, dalam penghayatan hidup beragama pada umumnya orang juga melakukan permohonan dalam doa-doanya. Doa permohonan cukup dominan dibandingkan dengan doa-doa lain.
  • Tampaknya, orang biasa menghaturkan permohonan kepada Tuhan kalau memiliki kebutuhan bahkan keinginan. Untuk menfasilitasi orang-orang yang mencari doa permohonan yang tepat, di dalam agama ada rumus-rumus yang disediakan baik secara lisan tradisional maupun secara tertulis dalam teks-teks.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, sekalipun banyak doa disampaikan oleh umat beragama sebagai permohonan, orang yang sungguh ber-Tuhan menyadari bahwa permohonan sejati dalam doa tidak akan menjadi ungkapan kepentingan egoistis tetapi berisi terutama demi rasa kepedulian terhadap kehidupan pihak lain. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang dalam doa permohonan akan selalu dilandasi oleh sikap peduli akan sesama.
Ah, doa permohonan ya untuk tercapainya sebuah keinginan diri.

Tuesday, October 10, 2017

Tahu Diri


"Jam berapa kami menjemput rama?" tanya salah satu ibu dari Lingkungan Ana, Paroki Bintaran kepada Rm. Bambang. Ketika Rm. Bambang kembali bertanya "Acara mulai jam berapa?", pemudi yang pegang jadual menjawab "Jam 04.00 sore minum dan snak". Ini adalah omong-omong antara wakil panitia rekoleksi umat Lingkungan itu di kamar Rm. Bambang pada Senin 9 Oktober 2017 sekitar jam 14.00. Lingkungan ini akan mengadakan rekoleksi umat di Taman Eden 1, Kaliurang, pada Sabtu Minggu 28-29 Oktober 2017. Rm. Bambang diminta untuk menjadi pembicara pada Sabtu sore sampai malam.
 

Satu hal yang kini sering terjadi pada Rm. Bambang adalah dalam pelayanan sering minta dijemput dan diantar pulang. Ada dua hal yang membuat Rm. Bambang harus tahu diri akan kondisi tubuh yang selain difabel juga harus mengingat kesehatan: 1) Kalau sehari harus pergi dua kali, dia harus menjaga kesegaran badan yang sudah diendoni beberapa penyakit sehingga pelayanan kedua minta diantar-jemput; 2) Kalau tempat cukup jauh dari Domus Pacis dan terjadi sampai malam, dia juga minta diantar-jemput karena kalau terjadi pintu-pintu portal gang-gang menuju Domus Pacis dia tidak harus turun membuka lalu naik mobil untuk masuk dan turun lagi menutup serta naik lagi masuk mobil.

Doa Paling Simpel Namun Terbaik

Try the new Yahoo Mail