Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Thursday, April 20, 2017

Sabda Hidup



Jumat, 21 April 2017
HARI JUMAT DALAM OKTAF PASKAH
warna liturgi Putih 
Bacaan
Kis. 4:1-12; Mzm. 118:1-2,4,22-24,25-27a; Yoh. 21:1-14..BcO 1Ptr 3:18-4:11

Yohanes 21:1-14:
1Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut. 2Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain. 3Kata Simon Petrus kepada mereka: "Aku pergi menangkap ikan." Kata mereka kepadanya: "Kami pergi juga dengan engkau." Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. 4Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. 5Kata Yesus kepada mereka: "Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?" Jawab mereka: "Tidak ada." 6Maka kata Yesus kepada mereka: "Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh." Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan. 7Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus: "Itu Tuhan." Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau. 8Murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira dua ratus hasta saja dan mereka menghela jala yang penuh ikan itu. 9Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti. 10Kata Yesus kepada mereka: "Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu." 11Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak. 12Kata Yesus kepada mereka: "Marilah dan sarapanlah." Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya: "Siapakah Engkau?" Sebab mereka tahu, bahwa Ia adalah Tuhan. 13Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu. 14Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati.

Renungan:
Peristiwa besar seringkali membuat seseorang panik dan bertindak lucu. Ketika orang besar tiba-tiba datang ke rumah kita mungkin kita pun salah tingkah bagaimana mau menyambutnya. Kita kebas-kebas kursi dari debu, menata taplak meja, mempersilakan sang tamu duduk, lalu bingung mencari dan menyiapkan hidangan. Sering sangat lucu kala kita menyaksikannya.
Petrus pun demikian. Ketika diberi tahu bahwa yang menyuruh menebarkan jala adalah Tuhan ia segera berpakaian dan masuk ke danau. Aneh kan, masuk ke danau kok malah berpakaian dulu. Saya merasa Petrus pun panik didatangi Tuhan. Ia merasa tidak layak bertelanjang menemui Tuhan. Maka mesti harus mencebur ke danau ia pun berpakaian dulu.
Ada banyak peristiwa tak terduga pernah dan akan menghampiri kita. Sering kita pun berlaku aneh dan lucu ketika menjumpai itu.Okelah, itu semua pengalaman manusiawi kita. Yang penting kita bisa mensyukuri peristiwa-peristiwa penting tang telah kita lalui. Kita lihat kehadiran Tuhan dalam peristiwa-peristiwa tersebut.

Kontemplasi:
Bayangkan kisah dalam Injil Yoh 21:1-14. Bandingkan dengan pengalamanmu.


Refleksi:
Bagaimana menemukan kehadiran Tuhan dalam peristiwa-peristiwa hidupmu?

Doa:
Tuhan terima kasih atas kehadiran-Mu dalam peristiwa-peristiwa hidupku. Semoga aku semakin semangat dalam memperjuangkan hidupku. Amin.

Perutusan:
Aku bersyukur atas kehadiran Tuhan dalam hidupku. -nasp-

Lamunan Oktaf Paskah

Jumat, 21 April 2017

Yohanes 21:1-14

21:1. Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut.
21:2 Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain.
21:3 Kata Simon Petrus kepada mereka: "Aku pergi menangkap ikan." Kata mereka kepadanya: "Kami pergi juga dengan engkau." Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa.
21:4 Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus.
21:5 Kata Yesus kepada mereka: "Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?" Jawab mereka: "Tidak ada."
21:6 Maka kata Yesus kepada mereka: "Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh." Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan.
21:7 Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus: "Itu Tuhan." Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau.
21:8 Murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira dua ratus hasta saja dan mereka menghela jala yang penuh ikan itu.
21:9 Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti.
21:10 Kata Yesus kepada mereka: "Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu."
21:11 Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak.
21:12 Kata Yesus kepada mereka: "Marilah dan sarapanlah." Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya: "Siapakah Engkau?" Sebab mereka tahu, bahwa Ia adalah Tuhan.
21:13 Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu.
21:14 Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, orang akan amat bergembira karena kerja yang hasilnya amat baik. Dia dapat merasa berprestasi dan bersyukur atas rahmat Tuhan.
  • Tampaknya, kalau mengalami hambatan bahkan kegagalan dalam kerja, orang dapat berdoa mohon penyertaan khusus dari Tuhan. Dia dapat mengajukan permohonan agar Tuhan mengabulkan yang diinginkannya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul dekat dengan kedalaman batin, dalam keadaan apapun orang akan selalu mengalami kehadiran Tuhan yang sejatinya selalu campur tangan lewat segala peristiwa kehidupan baik yang biasa harian maupun  yang luar biasa sehingga orang selalu memiliki kesegaran jiwa dan kejadian burukpun menjadi saat hadirnya cakrawala baru. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan relung hati orang akan menyadari bahwa dalam hal-hal kecilpun Tuhan melakukan hal besar.
Ah, pokoknya segala kesuksesan hanya ada pada orang yang memang berbakat dan bekerja keras.

Wednesday, April 19, 2017

Ada Berkat Jadi Anggota CU?


Ini adalah kedua kalinya ada misa di kapel baru Domus Pacis yang pemberkatannya masih menunggu jadinya altar dan tabernakel. Pertana kali terjadi pada tanggal 21 Maret 2017 ketika Domus menjadi giliran tuan rumah untuk pertemuan Paguyuban Komunitas Religius Paroki Pringwulung. Sedang yang kedua terlaksana pada Senin jam 07.00 malam pada 17 April 2017. Sekalipun sederhana dalam penyelenggaraan, tetapi kapel penuh dengan peserta misa yang berjumlah sekitar 70 orang. Umat yang hadir terutama berasal dari Lingkungan Fransiskus Asisi, karena Komunitas Rama Domus Pacis juga menjadi bagiannya. Beberapa relawan-relawati juga tampak. Selain itu ternyata hadir pula umat dari Jombor Lor, Paroki Mlati. Rm. Subiyanto dari Pastoran juga hadir ikut menjadi peserta. Rm. Joko ikut duduk bersama umat yang tak kebagian tempat di dalam kapel. Sementara itu, kecuali Rm. Tri Wahyono yang berada di kamar didampingi oleh pramurukti, semua rama Domus bersama-sama ikut menjadi selebran dengan mengenakan stola. Rm. Agoeng menjadi selebran utama. Rm. Harto dan Rm. Bambang di sebelah kanan Rm. Agoeng. Sedang Rm. Yadi, Rm. Gito, dan Rm. Tri Hartono berada di kirinya. Bu Santi dari tetangga Lingkungan menjadi pengiring dengan keyboard.

Itulah misa khusus untuk memperingati tujuh hari wafat Ibu Maria Magdalena Rubinem, ibunda Rm. Bambang. Dalam misa peringatan itu Rm. Bambang menyampaikan sharing sekitar beberapa hari sebelum Bu Rubinem wafat hingga wafat sampai pada penguburan. Dia sungguh mengalami amat banyak pertolongan dari berbagai pihak. Ada relawan Domus yang sudah menyiapkan kamar di rumahnya untuk menampung Bu Rubinem sesudah keluar dari rumah sakit, karena pada usia 91 tahun baru saja mengalami dua kali operasi tulang sehingga harus mendapatkan pendampingan khusus. Tetapi ketika masih berusaha untuk mencari tenaga penunggu, Bu Rubinem sudah dipanggil Tuhan. Segera sesaat kabar wafatnya diterima, datang empat orang relawan langsung menggadakan pembicaraan di kamar Rm. Bambang di dini hari. Tempat pemakaman milik Universitas Atmajaya Yogyakarta langsung siap, karena salah satu relawan sudah memesan sebelumnya. Konsumsi, bus untuk pelayat, pengusung jenasah untuk naik dataran tinggi makam dari PUKY, dan masih amat banyak lain tersedia dan berjalan dengan amat sangat lancar. Rm. Bambang memandang semua ini muncul karena iman umat yang mengasihi Kristus sehingga menjadi kekuatan pertolongan Roh Kudus yang tak membiarkan siapapun mengalami seperti yatim piatu (bdk Yoh 14:15-18). Rm. Agoeng meneguhkan bahwa yang mengalami kekuatan iman umat itu tak hanya Rm. Bambang tetapi juga Domus Pacis secara keseluruhan.

Seusai misa semua menikmati teh atau air mineral serta beberapa macam snak. Sedang nasi goreng dalam kemasan kotak plastik dibawa pulang. Ketika para tamu berpamitan dan bersalaman untuk meninggalkan Domus Pacis, ada ibu yang didampingi beberapa orang rombongannya berkata kepada Rm. Bambang "Rama, benjang kawandasa dintenan ibu, Lingkungan Jombor badhe ngawontenaken pengetan. Nyuwun Rama Bambang ingkang misa" (Rama, untuk peringatan 40 hari ibu, Lingkungan Jombor Utara akan menyelenggarakannya dan meminta Rama untuk memimpin misa). Rm. Bambang mengiyakan. Ternyata ibu itu masih meneruskan "Rama, Bu Rubinem menika dados anggota CU. Sanadyan lajeng mboten nerasaken, nanging menika wonten sawetawis arta kangge ibu" (Rama, Bu Rubinem itu adalah anggota Credit Union. Walau kemudian terhenti karena tidak membayar iuran, tetapi ini ada sejumlah uang untuk beliau). Rm. Bambang diminta untuk menandatangani kuitansi dan mendapatkan uang dalam amplop dengan kop KSP CU DHARMA BAKTI. Ketika menerima amplop Rm. Bambang teringat kata-kata Mas Handiko "Tiyang seda menika sampun mbekta ragad piyambak" (Orang meninggal itu sudah membawa beaya sendiri) karena membayangkan peringatan-peringatan untuk arwah Bu Rubinem selanjutnya. Ternyata ibu dari CU itu masih berkata "Benjang badhe wonten petugas sowan panjenengan lan Rama Yadi. Rama Yadi rumiyin sampun nate makarya ing Mlati. Panjenengan kekalih badhe dipun dadosaken anggota nanging ingkang tanggel jawab setoran-setoran saking CU. Rama kekalih cekap maringi ngampil KTP" (Besok akan ada petugas menghadap Anda dan Rm. Yadi. Rm.Yadi pernah berkarya di Mlati. Anda berdoa akan dimasukkan menjadi anggota tetapi untuk tanggung jawab setoran ada di tangan CU. Rama berdua cukup memberi pinjaman Kartu Tanda Penduduk).

Lamunan Oktaf Paskah

Kamis, 20 April 2017

Lukas 24:35-48

24:35 Lalu kedua orang itupun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.
24:36. Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: "Damai sejahtera bagi kamu!"
24:37 Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu.
24:38 Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu?
24:39 Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku."
24:40 Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka.
24:41 Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka: "Adakah padamu makanan di sini?"
24:42 Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng.
24:43 Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka.
24:44 Ia berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur."
24:45 Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci.
24:46 Kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga,
24:47 dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.
24:48 Kamu adalah saksi dari semuanya ini.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, ada anggapan bahwa orang disebut serius olah rohani karena rajin menjalankan agama. Dia akan rajin menjalankan ibadat.
  • Tampaknya, keseriusan dalam hidup rohani juga ada yang menghubungkan dengan kerajinan orang mendalami ajaran-ajaran agama. Dengan pengetahuannya orang sungguh memiliki landasan kuat dalam kesetiaan menjalankan tatanan keagamaan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, seserius apapun dalam menjalankan ibadat dan setekun apapun dalam usaha mengkaji ajaran-ajaran keagamaan, orang belum sungguh mengolah hidup rohani kalau belum membawanya sebagai cahaya hati dalam merasakan segala kejadian. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang sungguh serius dalam olah rohani karena menjadi saksi berjumpanya kehidupan kongkret dengan aura mendalam di balik seluk beluk keagamaan.
Ah, orang yang amat serius dalam hidup rohani pasti akan jadi pengajar agama.

Sabda Hidup



Kamis, 20 April 2017
HARI KAMIS DALAM OKTAF PASKAH
warna liturgi Putih 
Bacaan
Kis. 3:11-26; Mzm. 8:2a,5,6-7,8-9; Luk. 24:35-48. BcO 1Ptr 3:1-17

Lukas 24:35-48:
35Lalu kedua orang itupunmenceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. 36Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: "Damai sejahtera bagi kamu!" 37Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. 38Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? 39Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku." 40Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka. 41Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka: "Adakah padamu makanan di sini?" 42Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng. 43Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka. 44Ia berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur." 45Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. 46Kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, 47dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. 48Kamu adalah saksi dari semuanya ini.

Renungan:
Untuk memastikan identitas seseorang biasanya orang memakai tanda-tanda yang melekat pada orang tersebut. Salah satu tanda yang diingat teman-teman saya di SD dan SMP adalah tahi lalat di dagu kiri. Tapi sekarang jarang keliatan karena tertutup jenggot hehehe. Ada pula orang yang dikenali dari bentuk giginya. Masih banyak cara lain untuk mengenali temannya.
Yesus telah bangkit. Kala disalib tangan dan kakinya berlobang. Maka kala Ia hadir di hadapan para murid Ia menunjukkan lobang-lobang tersebut sebagai penanda diri-Nya. Murid-murid pun percaya. Untuk menambah keyakinan mereka Ia pun meminta makanan dan memakan di depan mereka.
Kita pun juga bisa mengenali hidup beriman kita. Ada banyak tanda yang menghantar kita berjumpa dengan Yesus. Namun seringkali tanda itu tertutup kala kita lagi marah atau kecewa atau sedih. Maka cobalah untuk selalu membuka diri agar dapat melihat tanda-tanda dari Tuhan. Dengan begitu kita tidak akan gampang lari walau ada kecewa di hati.

Kontemplasi:
Pejamkan matamu sejenak. Temukan tanda-tanda yang membuatmu bertahan walau ada kecewa di hatimu.

Refleksi:
Apa yang membuatmu bertahan dalam iman akan Tuhan?

Doa:
Tuhan kuatkanlah keyakinanku kepadamu. Semoga aku tetap percaya kepada-Mu walau ada kekecewaan, kesedihan yang melingkupiku. Amin.

Perutusan:
Aku akan menemukan tanda yang meneguhkan keyakinanku pada Tuhan. -nasp-

Tuesday, April 18, 2017

Bersih-bersih Kolam


Ketika Rm. Bambang membuka WA pada Selasa 18 April 2017 sekitar jam 09.55, dia melihat Rm. Agoeng mengirim gambar dengan tulisan "Bersih2 kolam koi 180417". Rm. Bambang memang mendengar suara lantai digosok-gosok. Dia keluar dan melihat Pak Heru dan Mas Abas ada dalam bak kolam yang sudah tiada air. "Nek ngono lehku keturon apese luwih setengah jam"(Kalau begitu aku telah tertidur lebih dari setengah jam) kata Rm. Bambang dalam hati, karena dalam gambar yang dikirim oleh Rm. Agoeng masih tampak banyak ikan. "Pun pinten sasi nggih dereng nate dikuras tuntas?"(Sudah berapa bulan kolam ini tidak dikuras secara tuntas?) tanya Rm. Bambang kepada Rm. Agoeng yang menanggapi pertanyaan itu "Sing marahi kenthel regete niku sebab banyu pisanan saking lepen" (Penyebab kotoran kenthal adalah karena air pertama mengambil dari sungai). Memang, kolam, yang dikhususkan untuk ikan koi di dalam kompleks bangunan induk Domus Pacis, berasal dari air Sungai Gajah Wong yang dinaikkan dengan mesin diesel. Hari ini kolam dengan bak besar dan beberapa bak kecil untuk filter sungguh-sungguh dibersihkan.

Sabda Hidup



Rabu, 19 April 2017
HARI RABU DALAM OKTAF PASKAH
warna liturgi Putih 
Bacaan:
Kis. 3:1-10; Mzm. 105:1-2,3-4,6-7,8-9; Luk. 24:13-35
BcO 1Ptr 2:11-25

Lukas 24:13-35:
13Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, 14dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. 15Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. 16Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. 17Yesus berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?" Maka berhentilah mereka dengan muka muram. 18Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?" 19Kata-Nya kepada mereka: "Apakah itu?" Jawab mereka: "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. 20Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. 21Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. 22Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, 23dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup. 24Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat."25Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!26Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?"27Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.28Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya.29Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka.30Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka.31Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka.32Kata mereka seorang kepada yang lain: "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?"33Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka.34Kata mereka itu: "Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon."35Lalu kedua orang itupunmenceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.

Renungan:
Bercakap-cakap merupakan kebiasaan manusia pada umumnya. Di manapun dia bertemu percakapan akan selalu datang dan menghiasi perjumpaan tersebut. Percakapan ini menjadi semakin seru kala ada peristiwa besar yang dialami. Banyak akan terhenti berganti dengan percakapan tersebut.
Dua orang murid ke Emaus pun demikian. Mereka hendak pulang ke rumahnya. Namun mereka diliputi oleh suasana tanda tanya hilangnya Yesus. Hati yang gundah karena kematian-Nya diperparah dengan berita Yesus hilang. Kepedihan hati itu yang menjadi bahan percakapan.
Percakapan dua murid itu menghantar pada perjumpaan dengan Yesus. Yesus membuka kebuntuan mereka. Kiranya dalam percakapan kita tidak lupa menyertakan Tuhan Yesus. Ia akan menuntun kita ke jalan terang dan membebaskan kita dari belenggu buntu. Hadirkan Tuhan dalam setiap percakapanmu.

Kontemplasi:
Bayangkan kisah dalam Injil Luk 24:13-35. Bandingkan dengan pengalamanmu.

Refleksi:
Apakah aku selalu menghadirkan Tuhan dalam percakapanku?

Doa:
Tuhan hadirlah dalam percakapanku. Hiasilah percakapanku dengan warna kasih-Mu. Amin.

Perutusan:
Aku akan menghadirkan Tuhan dalam percakapanku. Amin.