Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Sunday, December 31, 2017

PT Taman Wisata Candi


Sebenarnya kunjungan pada Selasa 19 Desember 2017 ada dalam kerangka nuansa formal. Beberapa hari sebelumnya ada 3 orang utusan diantar seorang frater dari Kentungan datang di kamar Rm. Bambang. Salah satu bertanya "Kebutuhan pokok apa yang diharapkan oleh para rama di sini" dan Rm. Bambang menjawab "Untuk kebutuhan pokok kami sudah terpenuhi bahkan dapat dikatakan lebih dari cukup." Pembicaraan sempat terhenti karena para utusan terdiam tampak kebingungan. Rm. Bambang kemudian menambahkan kata-kata "Panjenengan pirsa piyambak, ta. Griya ngriki sae sanget. Saben rama pikantuk kamar ingkang ukuranipun ageng. Tetedhan mboten kekirangan. Rasukan, clana luar dalam lan paling dalam kathah salinipun" (Anda bisa melihat sendiri. Rumah ini bagus sekali, kan? Setiap rama mendapatkan kamar berukuran luas. Makanan tidak kurang. Baju, celana luar dalam dan paling dalam banyak reservenya) yang membuat para tamu tertegun. "Bukankah yang namanya kebutuhan pokok adalah sandang, pakan, papan?" Rm. Bambang menambah kata-kata dan kemudian mengakhiri "Pun nate mireng rama kesrakat napa?" (Apakah Anda pernah mendengar ada rama amat menderita karena kemiskinan). Mendengar kata-kata itu mereka jadi tertawa dan salah satu lalu berkata "Bukan itu, rama." Akhirnya disepakati beberapa hal yang biasa dibutuhkan dan belum mendapatkan perhatian khusus seperti pempers untuk beberapa rama, diterjen, cairan untuk mengepel ubin, dan pemanas lauk (karena yang lama sudah rusak).

Para utusan itu datang sebagai wakil umat Kristiani di PT Taman Wisata Candi yang membawahi Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Candi Ratu Boko. Dua belas orang menjadi wakil dari warga Kristiani yang berkarya dalam institusi itu. Salah seorang diantarnya adalah Pak Ricky yang menjabat sebagai direktur. Salah seorang membuka pertemuan kunjungan sebagai MC. Kemudian Pak Ricky memberikan sambutan. Dalam sambutannya Pak Ricky menyampaikan sentuhan kasih Tuhan yang membuat para warga Kristiani PT Taman Wisata juga tergerak untuk peduli kasih. Di akhir sambutan beliau kemudian memberikan sumbangan uang pribadi untuk Domus Pacis yang diterima oleh Rm. Bambang. Sebagai wakil panitia Natal, rombongan juga membawa berbagai bingkisan sebagaimana telah dibicarakan oleh utusan yang beberapa hari sebelumnya datang di kamar Rm. Bambang. Sebagai simbol, salah seorang menyerahkan dos yang berisi pemanas elektrik yang diterima oleh Rm. Yadi. Adapun bingkisan-bingkisan lainnya diletakkan di depan kamar Rm. Tri Wahyono.

Lamunan Hari Raya

Santa Maria Bunda Allah
Hari Perdamaian Sedunia
Senin, 1 Januari 2018

Lukas 2:16-21

2:16 Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan.
2:17 Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu.
2:18 Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka.
2:19 Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.
2:20 Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.
2:21. Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, orang yang dapat menjadi tokoh di tengah masyarakat adalah yang masuk dalam jajaran orang-orang penting. Orang-orang penting ini berada dalam golongan sosial terpandang karena statusnya dalam struktur masyarakat.
  • Tampaknya, orang-orang umum yang tak memiliki status sosial tak akan masuk dalam golongan orang penting. Mereka tak memiliki pengaruh apapun dalam kehidupan masyarakat.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun di dalam adat dan struktur sosial tidak masuk golongan yang dapat berperan apapun, kalau biasa mengolah segala peristiwa yang dihadapi menjadi dialog batin dengan relung hati orang akan menjadi sosok yang melahirkan lingkungan yang memiliki keluhuran hidup. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang biasa olah batin sehingga dapat ikut mengejawantahkan aura Tuhan di tengah dunia.
Ah, mana bisa orang biasa punya peran sosial?

Nasihat Relasi Anak dan Bapak


Minggu, 31 Desember 2017
Pesta Keluarga Kudus Nazareth: Yesus, Maria dan Yosef
Refleksi harianku ku dalam doa betdasarkan Sirakh 3:2-6,12-14

Tuhan Yesus Kristus, bacaan pertama hari ini dari Kitab Putra Sirakh 3:2-6,12-14 menyentuh hatiku. Dikatakan, "memang Tuhan telah memuliakan bapa pada anak-anaknya, dan hak ibu atas para anaknya diteguhkan-Nya. Barangsiapa menghormati bapanya memulihkan dosa, dan siapa memuliakan ibunya serupa dengan orang yang mengumpulkan harta. Barangsiapa menghormati bapanya, ia sendiri akan mendapat kesukaan pada anak-anaknya pula, dan apabila bersembahyang, niscaya doanya dikabulkan. Barangsiapa memuliakan bapanya akan panjang umurnya, dan orang yang taat kepada Tuhan menenangkan ibunya. Anakku, tolonglah bapamu pada masa tuanya, jangan menyakiti hatinya di masa hidupnya. Pun pula kalau akalnya sudah berkurang hendaklah kaumaafkan, jangan menistakannya sewaktu engkau masih berdaya. Kebaikan yang ditunjukkan kepada bapa tidak sampai terlupa, melainkan dibilang sebagai pemulihan segala dosamu."

Nasihat yang diangkat GerejaMu sebagai bagian dari FirmanMu sendiri dalam Kitab Suci hari membuncahkan syukur dalam hatiku. Dalam liburan Natal 2017 ini, aku boleh leluasa dan mengalami perjumpaan dan kebersamaan dengan ayahku yang mendekati usia 75 tahun. Ibu sudah Kau jemput pulang ke rumah Bapa di surga. Ayah bersama adik bungsuku di rumah. 

Menjelang Natal tahun lalu, 2016, ayahku menerima anugerah sakit. Dalam waktu berdekatan, ayah harus menjalani operasi hernia dan prostat. Bahkan untuk operasi prostat harus dijalani sampai tiga kali. Saat itu, kami hampir putus asa. Namun, Engkau menolong kami melalui Dokter Benny dan RS Keluarga Sehat di Pati, menyelamatkan ayah dari keadaannya. 

Sebagai imamMu, saya hanya bisa berdoa dan mengurapkan Sakramen Minyak Suci kala itu. Dan karena keadaannya menjadi lebih buruk, hingga harus menjalani prostat beberapa kali operasi lagi, maka ayah pun meminta pengurapan suci lagi. Syukur kepada Allah, saat itu Romo Bagus SJ yang bertugas di Baturetno berkenan memberikan pelayanan mengurapkan Sakramen Minyak Suci kepada ayah di rumah. Hatiku pun tenang. Waktu itu, libur Natalku hanya sebentar, sehari semalam saja.

Kini, tahun 2017 ini, di libur Natalku, hampir seminggu aku bisa bersama ayahku. Kami mengobrol, sharing, jajan di warung, kontrol tensi bersama di balai kesehatan, berdoa bersama dan masih banyak hal lain kami lakukan. Ayahku lebih sehat dari tahun lalu. Syukur kepada Allah. Itulah sebabnya, nasihat dan FirmanMu dalam bacaan pertama hari ini sangat menyentuh hatiku.

Aku juga mohon ampun, sebab dalam perjalanan mau Natalan di Kabupaten Wonogiri, 28 Desember yang lalu, aku mengalami hal tidak enak dengan ayahku. Masalahnya, aku ngebut saat menyetir mobil, karena mengejar waktu tempuh dari desa ke Pendopo Kabupaten Wonigiri. Waktu 1 jam yang tersedia ternyata tidak cukup. Padahal saya sudah ngebut. Nah saat ngebut itulah, ayah yang duduk di sampingku memberi kode dengan desis-desis dari bibir dan lidahnya yang terdengar seperti bunyi rem angin itu. Saya pun matur kepada ayah saya, "Bapak ndak usah beri tanda itu ya... Maaf, konsentrasi saya malah terganggu..."

Mendengar itu, ayah saya langsung diam lalu memejamkan mata dan tidur. Entah tidur beneran, entah tidur-tiduran. Di sini, saat saya membaca bacaan pertama hari ini, saya merasa bersalah. Ampunilah aku. Berkatilah ayahku dan adik-adikku.

Terima kasih Tuhan atas keluarga kami. Berkatilah keluarga-keluarga di mana pun berada, agar meneladan keluargaMu yang kudus di Nazareth: Engkau bersama Ibu Maria dan Santo Yosef. Kuduskanlah keluarga-keluarga seperti keluargaMu, kini dan selamanya. Amin.

Selamat Pesta Keluarga bersama Keluarga Kudus Nazareth, 31 Desember 2017.

Pastoran Johar Wurlirang, 31/12/2017

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶
Aloys budi purnomo Pr

Sent from my heart of abudhenkpr
"abdi Dalem palawija"
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan;
Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang;
Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang.

Saturday, December 30, 2017

Ulasan Eksegetis HR Bunda Allah 1 Jan 2018 (Luk 2:16-21 & Bil 6:22-27)

diambil dari http://www.mirifica.net by A. GIANTO   




Hari Raya Bunda Allah – HARI PERDAMAIAN SEDUNIA –


Rekan-rekan yang budiman, Selamat Tahun Baru!
Hari pertama di tahun baru 2018 ini bertepatan dengan perayaan Maria Bunda Allah. Di kalangan umat pada abad-abad awal, Maria mulai mendapat gelar “Theotokos”, artinya “yang membuat keilahian lahir” – alih bahasa ini lebih menunjukkan makna ungkapan itu daripada “Bunda Allah”, yang dalam bahasa biasa dapat menimbulkan kesan maksudnya ialah “ibunya si Anu” dengan kelanjutan pada debat salah arah mengenai apa benar Allah kok diperanakkan dan sebagainya.
Penghargaan terhadap Maria sebagai yang membuat keilahian lahir dan menjadi nyata kemudian resmi diterima dalam Konsili Ekumenis di Efesus th. 431. Dengan demikian resmi diakui Gereja bahwa Maria memungkinkan umat manusia mengalami keilahian sebagai berkat. Inilah sumber kekuatan bagi usaha orang-orang yang berkehendak baik untuk mewujudkan kedamaian. Awal tahun ini juga bertepatan dengan Hari Perdamaian Sedunia.
Bacaan pertama pada perayaan ini (Bil 6:22-27) mengantar kita masuk untuk mengalami wajah Tuhan yang bersinar memandangi kita sehingga tahun ini dapat menjadi tahun damai, tahun ber-berkat”! Injilnya ialah Luk 2:16-21 yang sudah sebagian besar diulas bagi Injil Misa Fajar Hari Natal yang lalu, yakni Luk 2:15-20.
MARIA DAN KITA
Dia yang lahir dan baru saja dirayakan Natal ini disebut  sang Imanuel, artinya, “Tuhan beserta kita”. Yang Ilahi tidak membiarkan umat manusia sendirian. Dan Maria sang Theotokos “yang membuat keilahian lahir” itu menjadi saksi bahwa memang benar demikian. Kepada seorang perempuan muda di Nazaret dulu disampaikan ajakan untuk ikut serta membuat kebesaran ilahi jadi nyata. Dulu Maria serta-merta menyahut “terjadilah perkataan-Mu” kepada Gabriel. Untung tawaran bukannya datang kepada kita dibawakan oleh malaikat yang menuntut jawaban saat itu juga. Namun ajakan yang sama kini masih ditawarkan bagi semua orang yang berkemauan baik.  Ada dua belas bulan ke depan untuk mengemasnya. Waktu yang biasanya di pihak lawan kita kini bisa menjadi berkat.
Dalam Luk 2:21 yang termasuk petikan hari ini disebutkan bahwa setelah genap 8 hari, bayi itu akan disunatkan dan demikian ditandai secara resmi sebagai anggota umat Tuhan. Juga hari itu hari menyatakan secara resmi namanya, yakni Yesus. Nama ini menandaskan bahwa Tuhan itu pemberi keselamatan. Nama itu sebelumnya sudah disampaikan malaikat ketika mengunjungi Maria (Luk 1:31) sebelum ia mengandung. Demikianlah Tuhan Penyelamat membiarkan diri dibesarkan oleh manusia agar makin dikenali. Merayakan keibuan Maria dalam pengertian itu sebenarnya bukan hanya menghormati pribadinya belaka, melainkan merayakan keberanian Tuhan membiarkan diri dikenal oleh manusia, semampu kita. Itulah berkat yang tersedia bagi kemanusiaan.
TIGA PASANG BERKAT
Dari bacaan Kitab Bilangan kita dapati tiga rumusan berkat yang difirmankan Tuhan Umat Perjanjian Lama kepada Musa agar disampaikan kepada para imam keturunan Harun. Menurut Kel 28:1-43; terutama ay. 41, Harun dan keturunannya diresmikan sebagai pemegang jabatan imam. Kata-kata berkat itu sendiri termaktub dalam Bil 6:24-26. Seperti dijanjikan Tuhan, bila kata-kata itu diucapkan, Dia sendirilah yang akan memberkati. Masing-masing ayat 22-26 itu terdiri dari dua bagian yang saling menjelaskan (ay. 24: memberkati – menjagai; ay. 25: menyinarkan wajah – menyayangi; ay. 26: memandangi – menaruh kedamaian). Selain itu, seluruh rumus berkat diungkapkan dalam tiga ucapan berkat. Pengulangan tiga kali, entah dari segi bunyi (“kudus, kudus, kuduslah Tuhan” [Yes 6:3]), entah dari segi makna (seperti di sini) mengundang sikap hormat dan khidmat akan kehadiran Yang Ilahi dalam keagungannya (Bandingkan dengan ulasan mengenai silsilah Yesus [Mat 1:1-17] yang terdiri  dari 3 kali 2 kali 7 keturunan dalam uraian bagi Injil Misa Vespertina Natal).
“SEMOGA TUHAN MEMBERKATIMU DAN MENJAGAIMU”
“Memberkati” dan “menjagai”. Ungkapan kedua menegaskan yang pertama. Jadi memberkati berarti menjagai, melindungi dari kekuatan-kekuatan jahat. Lawan memberkati ialah mengutuk dan kutukan terbesar ialah membiarkan orang menjadi mangsa daya-daya maut. Dalam kesadaran orang dulu, kekuatan-kekuatan jahat tak perlu didatangkan atau diguna-gunakan. Daya-daya hitam itu sudah ada di sekeliling dan selalu mengancam. Namun demikian, mereka tak bisa menembus garis lingkaran berkat yang ditoreh oleh Tuhan dengan sabda-Nya. Dalam arti ini, kawasan berkat ialah ruang hidup bagi ciptaan, bagi kita. Tak mungkin ada yang bisa hidup di luar ruang itu. Ada cerita menarik. Seorang ahli tenung digdaya dari Aram, Balaam namanya, didatangkan oleh Balak, raja Moab, untuk menyihir kalang-kabut orang-orang Israel yang berjalan lewat di situ (lihat Bil 22-24). Namun demikian, Balaam menyadari bahwa ilmu tenungnya tak berguna karena Tuhan tidak membiarkan orang Israel berjalan di luar ber­kat-Nya (Bil 23:8-9). Tuhan memberkati mereka dan Balaam mengakui tidak mampu membalikkannya (Bil 23:20). Malahan Balaam akhirnya ikut memberkati (Bil 24:1-9) dan bahkan sampai tiga kali (Bil 24:10)!
Kita merayakan Tahun Baru dan mengharapkan berkat Tuhan. Apa yang boleh diharapkan? Kita mohon agar Ia melindungi kita dari kekuatan-kekuatan jahat yang akan menghalang kita dalam perjalanan 12 bulan mendatang ini. Kita minta ruang hidup yang leluasa. Yang biasa menjalankan kekuatan-kekuatan jahat akan menjadi seperti dukun tenung Balaam: tidak lagi berbahaya. Malah kekuatannya akan beralih menjadi berkat. Ini kehebatan Tuhan yang menjagai orang-orang-Nya. Ia tak perlu memusnahkan lawan-lawan. Akan ada rekonsiliasi – rujuk kembali – dan mereka malah akan mengiringi perjalanan dalam waktu.
“SEMOGA TUHAN MENYINARKAN WAJAHNYA KEPADAMU DAN MENYAYANGIMU”
Dalam ayat 25 ini, “menyinarkan wajah” dijelaskan sebagai “menyayangi”. Orang Perjanjian Lama yang memikirkan wajah Tuhan yang bersinar kepadanya juga ingat lawan katanya, yakni wajah yang garang. Namun demikian, wajah garang tidak dipakai untuk menggambarkan Tuhan, sekalipun Ia sedang marah. Ungkapan ber-“wajah garang” biasa dikenakan kepada penguasa yang lalim, kepada para musuh, kepada sisi gelap kemanusiaan. Wajah garang membuat orang jeri tapi sebenarnya tidak bersimaharajalela terus-menerus. Waktunya sudah bisa dihitung. Ini jelas misalnya dalam penglihatan yang diperoleh Daniel, lihat Dan 8:23 dst.
Satu hal lagi dapat dicamkan. Manusia bisa juga bersinar wajahnya, mirip Tuhan, namun ia juga bisa berwajah garang. Hidup manusia itu kancah perbenturan antara terangnya wajah Tuhan dengan garangnya daya-daya jahat. Ini perkara teologis yang siang malam mengusik benak orang-orang pandai dalam Perjanjian Lama. Kohelet, sang Pengkhotbah, memecahkannya dengan pertolongan hikmat. Dalam Pengkotbah 8:1, dikatakannya bahwa hikmat kebijaksanaan membuat wajah orang menjadi bersinar dan mengubah kegarangan wajahnya. Teologi kebijaksanaan ini menjelaskan berkat dalam Bil 6:25 tadi. Dengan hikmat kebijaksanaan, orang dapat mencerminkan Tuhan, menghadirkan Dia yang sayang akan orang-orang-Nya. Juga dalam merayakan Tahun Baru kita boleh minta agar Tuhan menyinarkan wajah-Nya kepada kita semua. Saat ini juga kita dapat memohon hikmat kebijaksanaan yang membuat kita dapat menghadirkan terang wajahnya di muka bumi, di dalam kurun waktu, di dalam kehidupan kita, agar yang garang-garang itu berubah menjadi terang. Dunia ini telah menerima terang kehadiran Tuhan, jangan kita pikir kegarangan bisa mengelabukannya.
“SEMOGA TUHAN MEMANDANGIMU DAN MENARUH KEDAMAIAN PADAMU”
Dalam ayat 26, “mengangkat wajah bagimu” yang artinya memperlakukan secara istimewa karena berharga ditegaskan lebih lanjut dalam bagian kedua sebagai “menaruh kedamaian”. Dalam alam pikiran Perjanjian Lama, tiadanya syalom, kedamaian, dialami sebagai kegelisahan yang menyesakkan dan yang akhirnya bisa mematikan. Memang tak bisa begitu saja kedamaian diiming-imingkan (Menurut Nabi Yeremia, orang yang latah bernubuat tentang damai tanpa isi sebetulnya nabi palsu; Yer 6:14; 8:11; 28:9). Perjanjian Lama melihat kedamaian sebagai buah dari tse­daqah, yakni kesetimpalan antara kenyataan dan yang disabdakan Tuhan. Wujudnya ada macam-macam, yang terutama ialah “adil” (tsadiq), “benar/lurus” (yasyar), “tak bercela” (tam), “bijaksana” (khakam). Tiap wujud itu tak terbatas pada urusan orang-perorangan, tetapi menyangkut hidup bersama juga. Keadaan yang paling mencekik kehidupan bukanlah peperangan atau paceklik, melainkan tiadanya “kesetimpalan” dalam pelbagai wujudnya tadi. Keselamatan terjadi bukan dengan meneriakkan syalom-syalom seperti nabi palsu, melainkan dengan menjadikan tsedaqah sebuah kenyataan sehingga manusia dan jagat semakin setimpal kembali dengan yang dikehendaki Tuhan. Dalam Perjanjian Baru, terutama Paulus, gagasan tsedaqah (Yunaninya “dikaiosyne”) muncul kembali untuk menerangkan keselamatan sebagai karya penebusan Kristus yang “meluruskan kembali” (Yunaninya “dikaioun”, Latinnya “iusti­ficare”) manusia dan jagat sehingga rujuk kembali dengan Tuhan. Maksudnya, dalam Kristus manusia dan jagat memperoleh kembali keadaannya semula yang tidak perot, yang tidak mengerikan, yang tidak menggelar kekerasan. Bila ini terlaksana, barulah orang bisa berbicara mengenai syalom, kedamaian. Ucapan berkat dalam Bil 6:26 “menaruh kedamaian” mengandaikan manusia bisa apik kembali, bisa lurus dan tak bercela, setimpal dengan yang dimaksud Tuhan. Bagaimana? Bila manusia dan jagat dipandangi terus-menerus oleh Tuhan seperti terungkap dalam bagian pertama ayat itu. Inilah yang bisa kita minta untuk tahun mendatang ini. Wajah kemanusiaan dan jagat ini akhir-akhir ini penyok sana sini, perot, timpang. Kita minta agar Tuhan memandangi itu semua. Kita tanya Dia, tahankah Kau memandang ini semua? Katanya sayang manusia. Sekarang pandangilah! Angkat wajah-Mu, jangan sembunyikan! Luruskan kembali keapikan ciptaanmu! Tak usah sungkan bilang begitu kepada-Nya.
Semoga sukses di tahun ini,
A. Gianto

Lamunan Pesta

Keluarga Kudus
Oktaf Natal
Minggu, 31 Desember 2017

Lukas 2:22-40

2:22 Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan,
2:23 seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah",
2:24 dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.
2:25. Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya,
2:26 dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan.
2:27 Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat,
2:28 ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya:
2:29 "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu,
2:30 sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu,
2:31 yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa,
2:32 yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel."
2:33 Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia.
2:34 Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan
2:35 --dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri--,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."
2:36 Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya,
2:37 dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa.
2:38 Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.
2:39 Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea.
2:40 Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya. 

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, ada pandangan umum bahwa hidup beragama merupakan hak asasi manusia. Setiap orang punya hak untuk memilih dan menghayati agamanya.
  • Tampaknya, ada pandangan bahwa orang tak boleh menentukan hidup keagamaan orang lain.  Setiap orang bebas memeluk dan menjalani agamanya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun setiap orang bebas menghayati kehidupan rohani dengan bebas memilih dan menjalani agamanya sehingga dalam hal keagamaan ada kebebasan dan tak boleh ada paksaan, terhadap bayi dan kanak-kanak setiap orang tua atau keluarga memiliki kewajiban membimbing dan mendampinginya agar mesra dengan yang ilahi lewat tatacara keagamaan yang dihayati. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang berkewajiban mendidik religiusitas anak asuhannya lewat agama yang dianutnya.
Ah, dalam keagamaan seorang anak harus dibiarkan saja menuju masa dewasa untuk memilih sendiri.

Friday, December 29, 2017

Mengasihi Yesus dan Bapa dalam Roh


Sabtu, 30 Desember 2017
Oktaf Natal
Refleksi dan doaku

Tuhan Yesus Kristus, aku datang padaMu seperti Hanna menghayati relasi dengan Dikau. Bantulah aku cara bersaksi yang lebih baik lagi. Hanna berdoa dan bersaksi tentang Dikau ( Luk 2:36-40). Demikian juga St. Yohanes bersaksi bahwa Engkau mengampuni dosa kami dan mengajak kami mengasihi Bapa dan Dikau dalam Roh Kudus agar kami melakukan kehendak Allah yang tetap hidup selama-lamanya (1Yoh 2:12-17).
 
Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorak. Kubawa persembahan  masuk ke pelataran-Mu, Kusujud menyembah kepadaMu dengan berhiaskan hormat dan cinta, gemetar daku di hadapan-Mu kini dan selamanya (bdk. Mzm 96:7-8a.8b-9).

Ruang Romo Pupay, 30/12/2017

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊ ·̵̭̌·̵̭̌«̶
Aloys budi purnomo Pr

Sent from my heart of abudhenkpr
"abdi Dalem palawija"
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan;
Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang;
Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang.

Ulasan Eksegetis Minggu 31 Des 17; Keluarga Kudus Th B (Luk 2:22-40)

diambil dari http://www.mirifica.net by A. GIANTO  


KELUARGA KUDUS DAN YERUSALEM SEJATI
Rekan-rekan yang budiman!
Pada Pesta Keluarga Kudus kali ini dibacakan Luk 2:22-40. Di situ diberitakan bagaimana Yesus yang masih orok dibawa ke Bait Allah di Yerusalem untuk dipersembahkan kepada Tuhan menurut hukum Musa seperti termaktub dalam Kel 13:2,12 (juga lihat Im 12:6-8). Di tempat suci itu juga datang Simeon, orang yang hidupnya lurus dan saleh, dan batinnya sangat merindukan mengalami kehadiran ilahi. Ia orang yang dinaungi Roh Kudus yang menguatkannya dengan pengharapan bahwa ia tidak akan meninggal sebelum melihat Sang Terurapi datang. Ketika mendapati orang tua Yesus membawanya ke Bait, Simeon pun menyambutnya lalu mengucapkan pujian bagi Allah. Diberkatinyalah anak itu lalu ia pun bernubuat bahwa anak tadi akan menentukan jatuh serta bangunnya banyak orang di Israel dan menjadi tanda perbantahan – supaya menjadi nyata isi pikiran orang banyak. Dalam kaitan ini juga dikatakan oleh Simeon bahwa batin Maria – “jiwamu sendiri” – akan ditembus pedang. Apa artinya akan kita dekati. Di Bait Allah ada pula ketika itu seorang perempuan nabi yang besar ibadahnya, tekun puasa dan doanya. Namanya Hana. Ia juga mengucap pujian kepada Allah serta menegaskan bahwa anak yang dipersembahkan ke Bait Allah ini ialah yang dinanti-nantikan orang banyak bagi merdekanya Yerusalem. Itulah kejadian-kejadian luar biasa yang diceritakan Lukas mengenai keluarga kudus yang kemudian pulang dan hidup di Nazaret seperti orang biasa. Apa yang dapat dipetik dari peristiwa ini?
SIMEON DAN HANA
Injil Lukas menampilkan kejadian-kejadian setelah kelahiran Yesus lewat orang-orang yang berjumpa dengan keluarga kecil yang masih ada di dekat Yerusalem. Kini dua tokoh ditampilkan, Simeon dan Hana. Mereka berdua mendapatkan pengalaman yang luar biasa: menyaksikan bagaimana Yang Maha Kuasa kini memenuhi harapan orang-orang yang dekat pada-Nya.
Dalam Injil Lukas, Simeon mewakili orang-orang saleh yang pada zaman itu menantikan kedatangan seorang Mesias yang akan mengawali zaman baru. Walaupun mereka orang-orang yang teguh beriman, tetap batin mereka digundahkan dengan pertanyaan kapankah Yang Maha Kuasa akan sungguh mengirim orang yang ditugasi-Nya membawa umat di jalan yang benar. Orang-orang seperti inilah yang dibimbing oleh kebijaksanaan dan kekuatan ilahi – dalam bahasa Lukas ialah Roh Kudus (ay. 25-26) – sampai sungguh mendapati yang mereka dambakan. Mereka ini orang-orang Perjanjian Lama yang beruntung menemukan jawaban bagi harapan mereka. Kidung Simeon (ay. 29-32) berisi pujian yang juga meringkaskan pengalaman seperti ini. Kelegaan batin kini melapangkan penglihatan orang-orang seperti Simeon. Ia dapat melihat datangnya penyelamatan yang disediakan bagi siapa saja, bukan hanya bagi umat terpilih.
Para pembaca Injil Lukas dahulu segera akan menangkap warta bagian itu, yakni imbauan untuk ikut serta dalam pengalaman Simeon dan berbagi warisan iman dengan siapa saja dengan cara yang leluasa dan batin yang merdeka.
Orang yang kedua yang ditampilkan Lukas ialah Hana. Perempuan saleh ini ialah orang yang berhasil ikut serta dalam pengalaman Simeon tadi. Hana menjumpai Yesus yang sedang dipersembahkan ke Bait Allah dan yang ditegaskan oleh Simeon sebagai pemenuhan harapan orang banyak. Hana ikut paham dan lebih dari sekadar bergembira, ia pun “berbicara tenang anak itu – yakni Yesus – kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem” (ay. 38).
KEHADIRAN ILAHI DI “YERUSALEM”
Dikatakan pada pembukaan petikan kali ini, ay. 22, bahwa Yesus dibawa ke Yerusalem untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Nama kota itu di situ dieja oleh Lukas sebagai “Hierosolyma”, yakni kota suci sejauh menerima kehadiran ilahi dengan tulus dan bakal berlangsung terus dalam batin orang-orang yang mengenali-Nya. Ketika menampilkan tokoh Simeon dalam ay. 25, Lukas menyebut “Adalah di Yerusalem seorang yang bernama…”. Di sini nama kota itu dieja sebagai “Ierousaleem”. Dalam Injil Lukas, bila ditulis demikian, kota itu ditampilkan sebagai pusat ibadat, tapi sebetulnya tidak lagi menjadi tempat kehadiran-Nya yang jelas dan nyata. Tempat seperti ini akan ditinggalkan dan akan digantikan dengan tempat ibadah batin yang sungguh yang dikenali oleh keluarga kudus tadi, yakni Hierosolyma. Mengapa Simeon diperkenalkan sebagai orang yang berada di Ierousaleem, yang bukan tempat hadirnya Yang Ilahi yang sesungguhnya? Justru inilah maksud Lukas. Ada orang-orang seperti Simeon yang hidup dalam adat agama yang tidak memberi ketenteraman yang sungguh, tetapi orang-orang seperti dia masih berkepekaan mengenali kembali di mana sesungguhnya Tuhan. Dan baiklah kita ikuti cara Lukas menguraikan perkara pelik tapi nyata ini. Simeon kemudian menyambut Yesus yang masih orok yang dibawa orang tuanya ke Hierosolyma – ke Yerusalem yang sesungguhnya. Boleh dikatakan, berkat kepekaan keluarga kudus akan kehadiran ilahi inilah maka Simeon sampai juga ke Hierosolyma meski masih ada di Ierousaleem! Inilah karya penyelamatan yang hebat yang terjadi lewat keluarga kudus itu. Oleh karena itu segera Simeon kini mendapati diri melihat kenyataan baru dan memuji kebesaran ilahi. Sudah cukup baginya, kini ia ikut dalam Hierosolyma yang didatangi keluarga kudus.
Begitu pula Hana, setelah ia juga mengenali Yesus, dikatakan Lukas bahwa Hana pun mengucap syukur dan berbicara tentang Yesus kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem (ay. 38). Di situ nama kota itu tertulis sebagai Ierousaleem. Jelas hendak dikatakan, di situ banyak orang yang menantikan kehadiran Tuhan yang makin terasa jauh, tapi pada saat itu justru ada orang seperti Hana yang telah melihat di mana sesungguhnya Ia hadir, bukan lagi di Ierousaleem, melainkan di Hierosolyma, dan kini Hana berbagi pengalaman batin dengan orang-orang itu. Inilah kelepasan – penyelamatan- yang sungguh, yang meluas lewat orang-orang yang memang telah mengalaminya!
KEHADIRAN YANG MEMILAH-MILAH
Kebesaran ilahi tidak pilih-pilih, tetapi memilah-milah. Ketika mengucapkan berkat bagi Yesus, Simeon juga mengatakan kepada Maria bahwa anak ini akan menentukan jatuh dan bangkitnya banyak orang di Israel dan menjadi tanda perbantahan agar menjadi nyata pikiran hati banyak orang (ay. 34-35). Kini saatnya, seperti digambarkan di atas, mana Ierosaleem, mana Hierosolyma, meski di luar tampak sama, tapi keduanya amat berbeda. Kini akan jelas siapa yang menerima penyelamatan, siapa yang menjauh dan belum dapat mendekat ke sana. Yesus memang menjadi tanda kehadiran ilahi yang menimbulkan perbantahan, dari saat itu hingga sekarang juga. Namun ia makin dikenal orang-orang yang peka yang makin berada di Hierosolyma – di wahana batin yang leluasa.
Dalam hubungan ini Simeon juga mengatakan kepada Maria bahwa “pedang akan menembus jiwamu sendiri”. Kerap pernyataan ini dimengerti sebagai nubuat bahwa Maria akan mengalami penderitaan, seperti nanti ketika menyaksikan kesengsaraan dan wafat Yesus. Meski menarik, penjelasan seperti ini meleset dan tidak banyak faedahnya. Memang tak bisa disangkal nanti Maria ikut menderita, tapi ibu mana yang tidak? Dan kenyataan ini bila dikatakan malah tidak membuat perkataan itu berbobot. Maksud kata-kata Simeon lain. Pedang ialah lambang ketajaman. Dan ketajaman yang dimaksud ialah ketajaman Sabda Ilahi sendiri. Maria. Dari ay. 33 jelas bahwa Yusuf dan Maria tidak langsung memahami ungkapan kegembiraan Simeon dalam ay. 29-32 (Kidung Benediktus). Mereka heran akan segala yang dikatakan tentang Yesus yang mereka bawa ke Bait Allah. Kata-kata Simeon kepada Maria mengenai pedang tadi sebetulnya menjadi penegasan bahwa nanti semuanya akan jelas karena tajamnya Sabda akan menembus ketidakpahaman yang masih ada dalam diri Maria. Dan demikian ia akan makin dekat dan bersatu dengan kenyataan Sabda tadi. Akan jelas pula bagi banyak orang mana yang sesungguhnya mana yang semu. Orang akan mengalami seperti yang dialami Simeon, dan Hana.
MENERAPKAN WARTA?
Dalam kehidupan beragama ada banyak sisi. Ada sisi yang menarik, ada sisi yang menyeramkan. Kehadiran ilahi pun kerap digambarkan dalam dua kutub itu. Tapi kenyataan tidak selesai di situ saja. Ada orang-orang yang dapat dan berani melangkah mengarah lebih jauh dan berhasil menemukan inti apa itu percaya, apa itu dekat dengan Penyelamat, tapi juga menyadari masih ada di sini, masih berpijak di bumi dengan pelbagai kenyataan yang bisa membingungkan dan mengecewakan. Lukas akan mengatakan ada orang-orang yang di Ierousaleem yang berani mengarahkan diri ke Hierosolyma. Bukan itu saja, Lukas menampilkan tokoh-tokoh nyata. Pertama, keluarga kudus sendiri yang mengarah ke Hierosolyma untuk menjalankan ketetapan hukum Musa. Mereka digambarkan sebagai yang tetap dalam jalur “agama” tetapi berhasil menemukan inti kerohanian yang membimbing batin mereka. Begitu pula Simeon, demikian juga Hana. Kisah ini ditampilkan Injil sebagai ajakan untuk bernalar bagi banyak orang, juga pada zaman ini. Manakah arah-arah yang sungguh memberikan ketenteraman batin dalam beragama, manakah kecenderungan-kecenderungan dalam agama yang sebaiknya dimurnikan.
Juga diwartakan dalam Injil kali ini, orang tidak hanya didorong untuk mencari jalan orang yang benar, tetapi ditegaskan pula, seperti pada Simeon, Roh Kudus menaungi dan menguatkan. Ini sisi warta yang bisa semakin didalami. Naungan serta kekuatan rohani inilah yang patut dibiarkan leluasa membawa orang ke sana!
Tambahan. Bacaan kedua (Ibr 11:8. 11-12. 17-19) berisi pujian bagi iman Abraham, bapa semua kaum beriman dari pelbagai agama dan kepercayaan. Iman membawanya menemukan tempat yang sejati, memberi keturunan besar dan menjadi kekuatan batin. Keteguhan seperti ini rahasianya: membiarkan diri leluasa dibimbing Tuhan!
Salam hangat,
A. Gianto

Lamunan Oktaf Natal

Hari Keenam
Sabtu, 30 Desember 2017

Lukas 2:36-40

2:36 Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya,
2:37 dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa.
2:38 Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.
2:39 Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea.
2:40 Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa orang yang rajin menjalani aturan-aturan keagamaan adalah orang yang akrab dengan yang ilahi. Orang akan menempatkan agama sebagai pusat hidupnya.
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa orang yang akrab dengan yang ilahi akan rajin berada di tempat ibadat. Makin kerap pergi ke rumah ibadat makin dekat dia dengan yang ilahi.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, serajin apapun pergi ke rumah ibadat dan setaat apapun dalam menjalani perintah-perintah agama, hal itu belum menunjukkan kedekatan orang dengan yang ilahi yang sejatinya menjadi daya yang membuat orang selalu dekat dengan keluarga serumah dan orang-orang sekitarnya lewat perwujudan hidup baik dan luhur sehingga hidup keagamaan adalah momen khusus penyadaran diri yang menghadirkan peneguhan atau peneguran atau inspirasi baru bagi hidup duniawi sehari-hari. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan selalu aktif dalam kehidupan harian dan refleksif dalam momen keagamaan.
Ah, ikut Tuhan itu yang dengan doa dan ibadat.

Thursday, December 28, 2017

Lingkungan Semen


Sekalipun secara resmi sudah menjadi penghuni Domus Pacis, Rm. Yadi memang cukup lama biasa ikut membantu pelayanan misa di Paroki Salam. Bahkan beliaupun pernah biasa tidur dan tinggal di pastorannya. Sedang Rm. Bambang pernah bertugas di paroki ini selama 5 tahun 6 bulan. Maka, terutama di kalangan kaum lansia dan tua, wajarlah kalau ada sementara umat Salam yang masih merasakan hubungan batin dengan kedua rama itu. Hal ini tampak dengan kadang-kadang terjadinya kunjungan baik dari beberapa orang maupun kelompok umat paroki Salam. Apalagi kini kunjungan ke rama-rama tua Domus Pacis makin menjadi acara banyak umat Paroki dan kelompok kategorial bahkan institusi negara.

Ketika berita ini ditulis, kunjungan terakhir datang dari Lingkungan Semen. Mereka datang pada hari Minggu 17 Desember 2017 pada sekitar jam 10.30. Kegembiraan berjumpa dengan rama-rama Domus Pacis dibuka dengan lagu Mangga-mangga Sami Ndherek Gusti yang diiringi oleh Rm. Bambang dengan keyboard. Dengan lagu itu Rm. Bambang berkali-kali mengubah kata "Sami Ndherek Gusti" dengan kata-kata lain disertai gerakan-gerakan yang membuat ceria sambil tergelak tawa seperti anak-anak. Memang, sebagaimana diketahui ketika mereka berpamitan untuk meninggalkan Domus, mereka juga masih akan berkunjung ke Pajangan, Paroki Bantul, dimana ada patung wajah Yesus. Tetapi kunjungan di Domus bukan sekedar mampir. Mereka berada di Domus sampai hampir jam 12.00 dengan membawa sajian banyak macam snak dan oleh-oleh sembako serta limpah lauk-pauk siap santap. Omong-omong tanya jawab dengan para rama berjalan dengan penuh kegembiraan dan canda tawa.

Terbuka bagi Roh Kudus


Jumat, 29 Desember 2017
Oktaf Natal
Refleksiku dalam doa berdasarkan Lukas 2:22-35

Tuhan Yesus Kristus terkasih, kuserahkan hidupku padaMu di hadiratMu yang penuh kasih. Engkau membarui hidupku, menyegarkan jiwaku dan memenuhiku dengan kasihMu. Di sini aku siap bersamaMu saja di saat indah di ruang hidup, hati dan jiwaku.  

Buatlah aku seperti Simeon, menjadi manusia dalam Roh Kudus seperti kubaca dalam Injil hari ini. Simeon adalah sosok yang taat pada Roh Kudus. Roh Kudus ada padanya sebab telah dinyatakan padanya oleh Roh Kudus bahwa ia tak akan mati sebelum melihat Mesias. Simeon selalu bercakap dengan Roh Kudus dan mendengarkan inspirasinya. Semoga Roh Kudus selaku membimbing hidupku dan mengingatkanku akan banyak hal yang Kau kerjakan dan sabdakan sebagai bimbinganMu padaku untuk sampai pada Rumah Bapa kini dan selamanya. Amin.

Belikrejo, Gambiranom, 28/12/2017

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊ ·̵̭̌·̵̭̌«̶
Aloys budi purnomo Pr

Sent from my heart of abudhenkpr
"abdi Dalem palawija"
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan;
Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang;
Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang.

Lamunan Oktaf Natal

Hari Kelima
Jumat, 29 Desember 2017

Lukas 2:22-35

2:22 Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan,
2:23 seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah",
2:24 dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.
2:25. Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya,
2:26 dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan.
2:27 Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat,
2:28 ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya:
2:29 "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu,
2:30 sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu,
2:31 yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa,
2:32 yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel."
2:33 Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia.
2:34 Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan
2:35 --dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri--,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, di dalam hidup beragama yang disebut kesalehan banyak dikaitkan dengan perilaku dalam menjalani tata aturan agama. Orang saleh akan disiplin menjalani apa saja yang diperintahkan dalam agama.
  • Tampaknya, orang juga disebut saleh terutama dikaitkan dengan perilaku ketika berdoa. Ungkapan-ungkapan jasmaniah orang saleh dalam berdoa akan tertata halus.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sehalus apapun gerak-gerik tubuh dalam berdoa dan sedisiplin apapun dalam menjalani segala tatanan hidup beragama, semua itu belum membuat seseorang menghayati kesalehan yang sejatinya adalah sikap batin yang menjadikan orang selalu berharap terjadinya kebaikan dalam hidup bersama. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan menjadi saleh karena jiwanya selalu merindukan kehidupan masyarakat yang dikuasai oleh kedamaian dan kesejahteraan.
Ah, orang saleh itu ya orang yang rajin beribadat.

Wednesday, December 27, 2017

Lamunan Pesta

Hari Keempat Oktaf Natal
Kanak-kanak Suci, Martir
Kamis, 28 Desember 2017

Matius 2:13-18

2:13. Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia."
2:14 Maka Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir,
2:15 dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku."
2:16. Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu.
2:17 Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia:
2:18 "Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, marah adalah hal biasa dalam diri seseorang. Orang dapat marah karena kehendak atau pemikirannya tak cocok dengan kenyataan yang terjadi.
  • Tampaknya, yang namanya marah dapat menjadi baik kalau itu dalam rangka pengembangan hidup bersama. Rasa marah juga dapat menjadi sifat bawaan seseorang.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, sekalipun rasa marah dapat dimaklumi sebagai bagian kehidupan wajar seseorang, dalam diri orang yang sungguh jahat kemarahan menjadi hal yang amat sangat berbahaya karena dapat mengakibatkan tindakan amat brutal yang dapat menutup tampil dan berperannya generasi mendatang. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan mengelola rasa marah yang muncul dalam dirinya agar tak membahayakan maju dan berkembangnya hidup bersama.
Ah, kalau dirugikan ya harus marah.

Kemartiran Kanak-Kanak Suci


Kamis, 28 Desember 2017
Pesta Kemartiran Kanak-Kanak Suci 
Refleksi harianku dalam doa berdasarkan Mat 2:13-18

Tuhan Yesus Kristus terkasih, aku ingin menangis bersama para wanita dalam Injil hari ini yang anak-anaknya dirampas dalam keadaan tak mampu membela diri. Kejahatan manusia merangsek begitu dalam hingga menggunakan kekuasaan untuk menghabisi hidup sesama!

Bagiku itu amat menyedihkan melihat bagaimana anak-anak itu dirampas dari ibunya dan dibunuh. Hatiku terkoyak melihat bagaimana hari ini pun banyak anak tak pernah diberi kesempatan mengalami kasih ibunya karena kejahatan aborsi. Biarlah hidupku menjadi saksi atas kasih yang tak cinta diri. Biarkan daku menjadi seperti Dikau kini dan selamanya. Amin.

Belikrejo, Gambiranom, 27/12/2017

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊ ·̵̭̌·̵̭̌«̶
Aloys budi purnomo Pr

Sent from my heart of abudhenkpr
"abdi Dalem palawija"
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan;
Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang;
Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang.