Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Saturday, August 5, 2017

Ketuaan Adalah Kesiagaan Jadi Sendiri



"Saya juga mempunyai ibu yang sudah tua. Dia ada bersama dengan adik saya. Hati saya sering merasa bahwa saya belum membalas jasa ibu saya yang membesarkan saya. Saya kerap merasa inggiiiiin sekali berbuat sesuatu untuk ibu" kata seorang ibu muda mensharingkan pengalamannya. Rm. Bambang bertanya "Apakah tidak terpikir mengajak ibu menjadi serumah dengan Anda?" yang dijawab "Sudah, rama. Tetapi baru beberapa hari beliu sudah minta kembali ke keluarga adik". Ketika Rm. Bambang kembali bertanya "Lho, kok mung sedhelet?" (Kena apa hanya sebentar), ibu itu menjawab "Ribut terus dengan saya karena selalu membuat jengkel" dan banyak orang yang berkunjung di Domus Pacis hari Minggu 30 Juli 2017 itu tertawa. Ini adalah acara wawan hati umat Wilayah 3 dan 4 Paroki Medari dengan para rama Domus Pacis.

Wawan hati itu dibuka oleh Rm. Bambang dengan pertanyaan "Bagaimana sebaiknya: Orang sudah sudah masuk dalam usia lanjut berada bersama anak/cucu atau masuk di rumah tua?" Sebelum pertanyaan dilontarkan, Rm. Bambang mengetengahkan kisah suami-istri yang mengkhawatirkan dirinya kelak bila sudah usia lanjut. Anaknya sudah meninggalkan rumah hidup bekerja dan bersama keluarganya. Suami istri itu  sungguh amat khawatir akan masa depannya karena tampaknya sang menantu tak dapat cocok dengan mertua. "Apakah kami harus masuk panti wreda? Kan memalukan?" Sharing ibu muda pada permulaan tulisan ini ternyata menjadi hal senada yang dialami oleh beberapa peserta lain yang menyampaikan sharing. Bahkan seorang ibu yang sudah masuk lansia juga berceritera tentang anak-anaknya yang selalu melarang ini dan itu. Seorang bapak tua berkata "Untuk saya, masuk rumah tua adalah pilihan terakhir" dan diamini oleh kebanyakan peserta.

Sesudah itu Rm. Bambang meminta para rama Domus menyampaikan sharingnya. Yang memberikan sharing adalah Rm. Tri Hartono, Rm. Harto, Rm. Gito, Rm. Yadi, dan Rm. Rio. Rm. Tri Hartono dan Rm. Harto menyampaikan rasa senang berada di Domus Pacis. Rm. Yadi berbicara tentang "Ada senang dan tak senangnya". Pengalaman Rm. Yadi terutama dikaitkan dengan urusan makan sehari-hari sebelum dan sesudah ada relawan-relawati yang menopang konsumsi Domus. Rm. Gito dalam kisahnya lebih diwarnai oleh kondisi yang sudah tak dapat berfungsi seperti sebelum di Domus. Sedang Rm. Rio mengatakan bahwa di Domus beliau hanya sementara. Rm. Rio ingin bekerja di tengah umt seperti sebelum berada di Domus. Di tahap akhir Rm. Bambang memberikan input bahwa seseorang semakin tua bagaimanapun juga harus semakin siap untuk BERADA DALAM KESENDIRIAN. Baik berada di tengah anak-cucu maupun di rumah tua, orang akan banyak ada dalam kesendirian. Sekalipun berada bersama anak-cucu, bagaimanapun mereka amat diwarnai oleh keadaan zaman yang menuntut mereka berada dalam kesibukan-kesibukannya. Kalau berada di rumah tua, kebersamaan dengan penghuni dan karyawan hanya terjadi pada saat-saat tertentu seperti dalam makan bersama. Kemudian Rm. Bambang mensharingkan pengalamannya dalam kesendirian. Dia belajar untuk menyenangi acara televisi dan radio. Menulis pun menjadi hal yang menjadi perjuangan untuk menjadi acara harian.

0 comments:

Post a Comment