Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Thursday, February 28, 2013

DINAMIKA RAMA HARTA


Sering kali dikatakan bahwa kalau orang sudah tua dan atau sakit-sakitan, orang sudah tak dapat dituntut untuk berkembang secara dinamis. Orang hanya akan tergantung dan hanya minta pelayanan. Tetapi keterbukaan hati sesuai dengan situasi hidup tak akan menghambat pengembangan diri seseorang. Rama Harta dari Domus Pacis dapat menjadi contoh.

http://2.bp.blogspot.com/-7tu2CmK_lr8/US630OHD-CI/AAAAAAAAACE/Qc28w5ZcfMk/s200/_MG_3891.JPG 

Rama Fransiscus Sales Suharta Widada, Pr. Inilah nama beliau. Dari segi lama tahbisan, beliau termasuk senior karena sudah beberapa tahun lalu merayakan Pesta Perak. Memang, Rama Harta belum termasuk rama pensiun karena usia belum 65 tahun. Tetapi kondisi beliau membuatnya tidak bisa menanggung beban pastoral resmi dari Keuskupan Agung Semarang. Maka beliau termasuk penghuni Domus Pacis Puren. Bahkan kini ke sana-sini termasuk di rumah beliau biasa ada di kursi roda. Makan pun ada yang menyuapi.

Pada tahun pertama tinggal di Domus, walau harus dijemput dan dituntun, Rama Harta biasa ikut kumpulan rutin Lingkungan Puren. Dari sinilah beliau mampu menghimpun warga untuk membentuk Presidium Legio Maria yang kemudian juga diikuti oleh umat lain di Paroki Pringwulung. Kehadiran beliau di Domus juga membuat Domus banyak dikunjungi orang baik Katolik maupun beriman lain untuk berkonsultasi dan atau minta doa intensi khusus. Dari sinilah beliau menghimpun umat untuk mendirikan Persekutuan Doa Karismatik. Mulai dengan tahun 2012 persekutuan ini berpindah tempat karena peserta berasal dari lokasi yang jauh dari Domus Pacis. Ternyata kondisi fisik lemah dengan volume bicara yang terkesan "bisik-bisik" tidak menghalangi Rama Harta masih melakukan partisipasi karya pastoral. Tak sedikit orang termasuk remaja yang tertarik menjadi Katolik karena melihat Rama Harta dan kemudian menjadi katekumen beliau hingga dipermandikan.

Dulu, ketika model kehidupan rama-rama Domus masih terpisah di kamar masing-masing dan tidak ada makan bersama, Rama Hartalah yang memiliki makanan dan fasilitas paling banyak. Dalam pendalaman iman prapaskah 27 Februari 2013 saya mengatakan pada beliau "Dulu rama-rama Domus mencap Rama Harta sebagai sosok yang pelit." Dengan berkembangnya kehidupan Komunitas Rama Domus Pacis, peran Rama Harta ternyata amat signifikan. Perhatian beliau dalam perawatan dan pengembangan gedung Domus tak dapat dikatakan kecil. Perkembangan karya pastoral Pendampingan Iman Kaum Tua (PIKATU) juga besar. Walau dengan suara terbata-bata dan lemah, Rama Harta dalam sharing termasuk menarik perhatian rombongan-rombongan pengunjung Domus. Rama Harta termasuk dapat mendatangkan dana besar untuk kepentingan Domus. Sekarang beliau kerap menyajikan snak dan lauk yang diperolah dari tamunya. Ini amat bermakna untuk tambahan konsumsi para rama Domus. Kepada para karyawan pun kini beliau termasuk murah hati. Beliau pun mampu mengikuti putusan dan kesepakatan komunitas. Tamu-tamu yang dulu berdatangan tanpa memperhitungan saat dari pagi sebelum makan pagi hingga lebih dari jam 11 malam, kini dapat diatur dengan jam tamu. Beliau jadi rajin mengikuti acara Domus Pacis baik di dalam maupun keluar rumah. Beliau yang dulu selalu takut bepergian bareng karena keringat mudah membuat pakaian basah dan takut jatuh, kini selalu bersemangat pergi bersama. Bahkan bila kami belum atau lupa menentukan bulan depan akan ke mana (karena Komunitas Rama Domus memiliki acara rutin kunjungan pastoran sebulan sekali), Rama Harta selalu mengingatkan dengan bertanya "Besok kemana kunjungannya?" Ternyata KONDISI TUA DAN FISIK LEMAH TAK MENGHALANGI PRIBADI TETAP DINAMIS.

0 comments:

Post a Comment