Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Wednesday, August 26, 2020

Santa Mariam Baouardy

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 5388 Diterbitkan: 13 September 2015 Diperbaharui: 03 Februari 2019

  • Perayaan
    26 Agustus
  •  
  • Lahir
    5 Januari 1846
  •  
  • Kota asal
    Abellin, Galilea, Palestina
  •  
  • Wafat
    26 Agustus 1878 di Betlehem Israel - Sebab alamiah
  •  
  • Venerasi
    27 November 1981 oleh Paus Yohanes Paulus II (decree of heroic virtues)
  •  
  • Beatifikasi
    13 November 1983 oleh Paus Yohanes Paulus II
  •  
  • Kanonisasi
    17 Mei 2015 oleh Paus Fransiskus


Santa Mariam Baouardy adalah seorang biarawati Karmel yang berasal dari keluarga Katolik Melkite Yunani. Ayahnya, Giries (Georgius) Baouardy, berasal dari desa Horfesch di Palestina sedangkan ibunya, Mariam Shahine, berasal dari Tarshiha, Palestina. Kedua desa tersebut didiami oleh orang Druze (Kristen Arab) yang kebanyakan merupakan rakyat jelata yang hidup sederhana.

Kelahiran dan Masa Kecil

Selama masa perkawinannya, pasangan Giries dan Mariam Shahine dikaruniai 12 anak laki-laki, namun tak seorangpun yang tetap hidup saat infansi, sehingga menimbulkan kesedihan yang besar bagi mereka. Mariam yang rajin berdevosi kepada Bunda Maria membujuk suaminya untuk pergi ke Betlehem dan memohon kepada Tuhan melalui Bunda Maria agar dikaruniai seorang anak perempuan. Maka mereka pun melakukan hal itu. Di depan gua tempat Kelahiran Yesus, mereka mengutarakan permintaan mereka dalam doa. Mereka percaya bahwa Allah akan mengabulkan doa dan permohonan mereka itu. Karena iman mereka tersebut, maka pada tanggal 5 Januari 1846, pada malam Epifani, seorang bayi perempuan dilahirkan. Kelahiran bayi perempuan itu membawakan sukacita yang besar bagi pasangan Giries dan Mariam. Ketika si bayi berumur 10 hari, mereka membawanya ke sebuah Gereja lokal Melkite untuk menerima Sakramen Babtis. Bayi itu dipersembahkan di bawah perlindungan Perawan Maria dan diberi nama Mariam Baouardy.

Dua tahun kemudian keluarga tersebut dikaruniai seorang anak laki-laki, yang diberi nama Boulos (Paul). Kebahagiaan semakin mewarnai kehidupan keluarga kecil itu. Namun rupanya kebahagiaan yang mereka rasakan itu hanya berlangsung dalam waktu yang singkat. Kedua orang tua Mariam dan Paul meninggal saat mereka masih sangat kecil dan membutuhkan kasih sayang. Sesaat sebelum meninggal dunia, Giries menatap gambar Santo Yosef dan menyerahkan anak-anaknya kepada perlindungan Santo Yosef dan Bunda Maria. Sepeninggal kedua orang tua mereka, Paul kecil lalu dibawa oleh bibi dari pihak ibu di daerah Tarshiha, sedangkan Mariam diadopsi oleh paman dari pihak ayah di Abellin Galilea.

Pindah ke Galilea

Abellin adalah suatu daerah yang memiliki pemandangan alam yang sangat indah. Dari puncak desa terlihat seluruh bagian atas Galilea. Mariam kecil sangat menyukai pemandangan itu. Ia sering memandang alam sambil mengenang kembali kehidupannya. Dari daerah itu jika memandang ke arah utara, nampak barisan gunung yang tinggi, perbatasan Lebanon. Di Timur Laut terdapat Jebel Shaykh yang megah dan awan menutupinya sepanjang tahun. Di sebelah Timur, gelombang bukit-bukit melandai lembut ke bawah menuju Danau Galilea, yang disebut juga Tiberias; di sebelah Selatan, dataran yang kaya Esdralon membentang sampai ke Gunung Karmel. Di sebelah Barat Laut melalui bukit pasir terdapat Laut Mediterania yang biru berkilauan.

Mariam tinggal bersama keluarga yang menyenangkan, pamannya sangat menyayangi dan memperhatikannya. Ia merasa senang tinggal bersama keluarga pamannya itu. Suatu ketika, Mariam mengalami suatu peristiwa kecil yang membawa kesan tersediri baginya. Peristiwa itu terjadi di tengah-tengah kebun buah pamannya. Di sana ia mempunyai sebuah kandang kecil yang didiami oleh burung-burung kecil, hadiah yang diberikan kepadanya. Suatu hari terdorong oleh perhatian dan kasihnya, ia berniat memandikan mereka, namun karena Mariam kecil belum mengerti cara yang tepat, maka menyebabkan burung-burung itu mati karena basah. Kematian mereka melukai hati kecil gadis kecil itu. Dengan penuh dukacita ia menguburkan mereka, dan saat itu di lubuk hatinya ia mendengar suatu suara yang jelas, “Seperti ini, betapa segala sesuatu berlalu. Jika engkau memberikan hatimu, Aku akan selalu tetap bersamamu.”

Keteguhan Iman Mariam

Saat Mariam berumur delapan tahun pamannya meninggalkan Palestina bersama seluruh keluarga dan menetap di Alexandria, Mesir. Ia tidak lagi melihat Ibillin yang dicintainya itu. Ketika Mariam berumur 13 tahun, ia dijodohkan dengan seorang pemuda, hal ini dilakukan menurut adat istiadat mereka. Pernikahan diatur tanpa persetujuan kedua pengantin. Kebiasaan ini terjadi di kalangan orang-orang Timur Tengah. Mengetahui hal tersebut, Mariam terkejut dan hatinya menjadi sangat sedih. Pada malam sebelum acara pernikahan itu diadakan, ia tidak dapat tidur. Ia tidak siap sama sekali untuk hidup sebagai seorang wanita yang menikah. Malam itu dengan sungguh-sungguh ia berdoa memohon bimbingan dan penghiburan. Kemudian dari kedalaman hatinya ia mendengar kembali suara yang begitu meneduhkan, “Segala sesuatu berlalu! Jika engkau berharap memberikan hatimu kepada-Ku, Aku akan tetap bersamamu.” Mariam mengetahui dengan pasti bahwa ini adalah suara dari kekasih satu-satunya yang ia miliki yaitu Yesus. Malam itu ia lalui dengan doa yang mendalam di depan gambar Perawan Bunda Yesus; kemudian ia mendengar suara, “Mariam, Aku besertamu, ikuti bimbingan yang Kuberikan kepadamu. Aku akan menolongmu.”

Keesokan harinya, ketika Mariam menyatakan keberatannya untuk menikah dan ingin tetap perawan, paman yang mengadopsinya menjadi sangat marah. Ia meledak dalam kemarahan, berteriak, memukul dan menampar Mariam, tetapi tidak ada yang dapat mengubah ketetapan hati Mariam. Maka pamannya terpaksa mempekerjakan ia sebagai pekerja domestik, memberikan tugas-tugas dapur yang paling berat dan menempatkannya pada posisi yang lebih rendah daripada pembantu lainnya.

Mariam tenggelam dalam perasaan kesepian dan kehilangan harapan. Ia minta tolong kepada saudara laki-lakinya Paul. Ia menulis surat kepadanya dan memintanya supaya datang dan melihatnya di Alexandria. Dalam pengasingan oleh keluarga pamannya ini Mariam meminta bantuan kepada seorang pemuda muslim agar mengirim suratnya ke Nazaret. Pemuda itu menganjurkan Mariam mengungkapkan masalah pribadinya. Namun kemudian ia mencoba merayu Mariam untuk meninggalkan imannya. Kata-kata dan tindakannya secara langsung menyerang Kekristenan Mariam. Namun Mariam menolak rayuan pemuda itu dan dengan tegas menyatakan imannya akan Gereja Kristus; “Aku seorang putri Gereja Katolik, dan aku berharap oleh rahmat Allah untuk bertekun sampai mati di dalam kepercayaanku”.

Penolakan Mariam membuat pemuda muslim itu marah. Dengan mata penuh kebencian, ia memukul Mariam hingga roboh. Setelah itu ia mengambil pedang dan menggorok leher gadis itu. Mengira bahwa Mariam sudah mati, ia membuang tubuh berdarah itu di sebuah lorong gelap. Peristiwa mengerikan ini terjadi pada tanggal 8 September 1858.

Apa yang terjadi kemudian yaitu suatu peristiwa aneh dan indah. Mariam merasa ada seorang perempuan berpakaian biru membawanya ke atas dan menjahit luka di lehernya. Pengalaman ini terjadi di suatu gua. Beberapa tahun kemudian, Mariam menceritakan pengalamannya itu kepada salah seorang suster di Marseilles, katanya,

Beberapa tahun kemudian saat dalam keadaan ekstase, pada tanggal 8 September 1874, pada hari peringatan kelahiran Bunda Maria, Mariam mengatakan, “Pada hari yang sama pada tahun 1858, saya ada bersama Bunda Maria dan mengabdikan hidup kepadanya. Seseorang telah berusaha menggorok leher saya, tetapi pada hari berikutnya Bunda Maria merawat saya.”

Menjadi Biarawati Karmel

Sejak hidup terpisah dari pamannya, Mariam tidak pernah lagi melihat pamannya. Ia menyokong hidupnya sendiri dengan bekerja sebagai pembantu rumah tangga pada sebuah keluarga Kristen Arab, Najjar. Selama itu kerinduan Mariam untuk mempersembahkan hidupnya pada Yesus semakin besar. Kemudian atas anjuran Bapa pengakuannya, Mariam bergabung dengan suster-suster St. Yosef. Bersama beberapa postulan dari Lebanon dan Palestina, ia tinggal bersama dengan para suster tersebut. Namun tak lama setelah itu kesehatannya menurun dan kejadian-kejadian mistik mulai dialaminya. Hal itu mengganggu kongregasi di mana ia tinggal. Mereka terkejut melihat gerakan-gerakan dan pancaran mistik yang terjadi. Berdasarkan alasan tersebut, maka Mariam tidak diperkenankan untuk memasuki masa novisiat. Kemudian oleh pembimbing novis di sana, Sr. Veronica, Mariam dimasukkan ke biara Karmel Pau. Mariam memasuki Karmel saat berumur 21 tahun sebagai seorang suster biasa. Ia mengambil nama Suster Maria dari Yesus yang Disalib.

Pengalaman Mistik

Suster Maria dari Yesus yang Disalib, mengucapkan kaul pertamanya pada tanggal 21 November 1871 sebagai Religius Karmel. Sebelum kejadian itu ia menderita kesengsaraan yang hebat. Salah satu yang paling mengerikan yaitu gangguan roh jahat selama 40 hari. Ia bertekun dalam kesederhanaan dan kepercayaan seorang anak kecil kepada Allah Putera dan Bunda-Nya yang Kudus, Maria. Penghargaan atas hal-hal itu mendatangkan hak paling istimewa bagi manusia. Ia menerima anugerah tetap stigmata dari Penyelamat yang disalib, mengalami levitasi, menerima karunia nubuat dan pengetahuan atas hati, dikuasai oleh malaikat baik, dan memiliki muka yang bercahaya. Ia berkata, “Segala sesuatu berlalu di atas bumi. Siapakah kita? Tidak lain selain debu, kehampaan, dan Allah sangat besar, sangat indah, sangat patut dicintai, namun tidak dicintai.”

Devosi Kepada Roh Kudus

Suster Maria dari Yesus yang Disalib berdevosi rutin kepada Roh Kudus, pemilik kebenaran tanpa kesalahan dan penyimpangan. Melalui Patriark Melkite Gregorius II, ia mengirim sebuah pesan kepada Paus Pius IX yang mengatakan bahwa Gereja, bahkan seminari-seminari, mengabaikan devosi sebenarnya kepada Roh Kudus, Sang Penghibur. Doanya kepada Yang Tak Dikenal :

Doa sederhana dari Suster Maria ini menyebar ke seluruh dunia.

Akhir kehidupan

Suatu hari dalam bulan Agustus 1878, ketika sedang melakukan pekerjaannya di biara, Suster Maria mengalami suatu rasa kesakitan yang sangat hebat. Saat itu ia berusia 33 tahun. Ganggren timbul dengan cepat dan menyebar ke bagian pernafasannya. Ia tidak pernah sembuh dari luka tersebut. Ia begitu menderita akibat sakitnya itu, namun ia menerimanya dengan tabah dan tulus hati. Pada tanggal 26 Agustus 1878, Suster Maria kembali mengalami serangan kesulitan pernafasan yang amat hebat dan mengancam hidupnya. Setelah beberapa saat penderitaan yang dialaminya itu, Suster Maria meninggal dunia. Pada saat terakhir hidupnya itu, ia berbisik dengan lirih, “Yesusku, berbelaskasihlah.” Suster Maria menyerahkan dirinya kepada Yesus yang amat dicintainya, ia meninggalkan dunia ini untuk bertemu dan bersatu dengan kekasihnya. Saat itu pukul lima lewat sepuluh menit di pagi hari.

Ketika ia dimakamkan, pada batu nisan makamnya terukir tulisan: “Di sini dalam damai Tuhan beristirahatlah Suster Maria dari Yesus yang Disalib, profesi religius dengan kerudung putih. Suatu jiwa dengan rahmat-rahmat luar biasa. Ia dikenal karena kerendahan hatinya, ketaatannya, dan cintakasihnya. Yesus satu-satunya cinta dalam hatinya memanggil dia untuk diri-Nya dalam usia 33 tahun dan 12 tahun dari hidup religiusnya di Betlehem, 26 Agustus 1878.

Kanonisasi

Saat ini Suster Maria dari Yesus yang Disalib dikenal sebagai “Al Qiddisa” (yang kudus) di Ibillin, Palestina. Ia dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 13 November 1983 dan dikanonisasi pada tanggal 17 Mei 2015 bersama 3 orang kudus lainnya yaitu : Santa Jeanne-Emilie de Villeneuve, Santa Maria Cristina Brando dan Santa Maria Alfonsina Ghattas.

Misa kanonisasinya digelar di lapangan Santo Petrus Vatikan dan dihadiri oleh 2.000 warga Kristen Palestina, termasuk Presiden Palestina Mahmoud Abbas.

0 comments:

Post a Comment