Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Tuesday, November 4, 2014

POST-POWER SINDROME

Lukman Nur Hakim
dari bu-luk.blogspot.com Kamis 24 Maret 2011
ilustrasi dari koleksi Blog Domus
 
Bekerja adalah suatu keharusan untuk memenuhi kebutuhan dan kesenangan hidup. Bekerja juga merupakan rangkaian ibadah untuk mengabdi kepada Tuhan. Bekerja dengan dilandasi skill maka akan menemukan banyak kemudahan. Bekerja dengan rasa kecintaan pada bidang yang digelutinya akan mendatangkan kesuksesan dan kenyamanan sehingga orang dengan mudah dipromosikan, memiliki komunikasi sosial yang terbuka, dan mendapatkan kedudukan di tengah masyarakat. Tetapi dengan bekerja dapat pula membawa pada masalah besar ketika terjadi pemberhentian di tengah-tengah kenikmatan bekerja. Sedangkan tidak bekerja karena pensiun, tidak menjabat lagi pada umumnya ditanggapi oleh banyak orang dengan perasaan  negatif dan cenderung secara mental belum siap menerima perubahan itu. Mereka benar-benar mengalami shock (kejutan mental hebat) karena dianggap sebagai kejadian  yang merugikan, menimbulkan aib/kenistaan, dan dianggap sebagai hal yang memalukan yang dapat mengakibatkan degradasi sosial. Realita di lapangan menunjukkan bahwa orang-orang yang dikenakan PHK ataupun para pensiunan cenderung mengalami penyakit mental yang akhirnya berdampak pada psikis mereka.

Di sisi lain, menganggur dapat menimbulkan perasaan-perasaan   inferior   (minder, rendah   diri),   rasa   tidak berguna, tidak dipakai lagi, dan tidak dibutuhkan; juga menimbulkan banyak frustrasi. Bagi orang-orang yang sudah pensiun (mantan pegawai, purnawirawan) yang sudah dirumahkan, segala fasilitas jabatan, kemudahan birokrasi, pujian,  serta kemewahan yang biasa diterima sewaktu masih menjabat dahulu semuanya sudah habis. Perasaan kehilangan semua fasilitas dan keenakan yang pernah didapatkan dirasakan sebagai beban mental yang berat membebani psikis. Secara umum orang belum bisa menerima perubahan dari yang dulu menjadi (pejabat yang disegani) dan sekarang tidak menjadi (bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa).

Manusia yang bermental lemah dan belum siap secara psikis menghadapi masa pensiun akan mengalami pukulan batin apalagi apabila terjadi pencopotan jabatan yang tidak terhormat maka akan tercabik-cabiklah mentalnya di seluruh masa hidupnya. Pada awalnya bermunculanlah gejala psikis seperti perasaan sedih, takut, cemas. rasa inferior/rendah diri, tidak berguna, putus asa, bingung, yang semuanya jelas mengganggu fungsi-fungsi kejiwaan dan organiknya. Maka tidak lama kemudian semua simptom itu akan berkembang menjadi satu kumpulan penyakit dan kerusakan-kerusakan fungsional. Orang tersebut akan mengalami sakit secara berkepanjangan dengan macam-macam komplikasi;   yaitu  menderita   penyakit   post-power   syndrome (sindrom purna-kuasa atau sindrom pensiun).

Siapa pun harus mengenali penyakit mental ini agar kita bisa menghindarinya. Syndrome/sindrom adalah sekumpulan kompleks gejala penyakit (symptoms) yang saling berkaitan berupa reaksi somatis (tubuh) dalam bentuk tanda-tanda penyakit, luka-luka, atau kerusakan-kerusakan. Post-Power Syndrome adalah reaksi somati­sasi dalam bentuk sekumpulan simptom penyakit, luka-luka, dan kerusakan-kerusakan fungsi-fungsi jasmani dan mental yang progresif, karena orang yang bersangkutan sudah tidak bekerja pensiun. tidak menjabat, atau tidak berkuasa lagi. Simptom-simptom penyakit ini pada intinya disebabkan oleh banyaknya stress (ketegangan, tekanan batin), rasa kekecewaan, kecemasan dan ketakutan, yang mengganggu fungsi-fungsi organik dan psikis, sehingga mengakibatkan macam-macam penyakit, luka-luka dan kerusakan yang progresif (terus berkembang/meluas). Sindrom purna kuasa tersebut banyak diidap oleh para pensiunan,  Kemudian mereka tidak mampu melakukan adaptasi yang sehat terhadap tuntutan kondisi hidup baru.

Gejala psikis dan fisik yang sering tampil antara lain ialah: layu, sayu, lemas, apatis, depresif, semuanya "serba-salah"; tidak pernah merasa puas, dan berputus asa. Atau tanda-tanda sebaliknya, yaitu menjadi mudah ribut, tidak toleran, cepat tersinggung, gelisah, agresif, dan suka menyerang baik dengan kata-kata atau ucapan-ucapan maupun dengan benda-benda, dan lain-lain. Bahkan tidak jarang menjadi beringas, setengah sadar. Kondisi   psikis sedemikian ini jika tidak bisa dikendalikan oleh si pelaku sendiri, bahkan juga tidak bisa diperingan dengan bantuan medis dan psikiatris, maka menjadi semakin gawat, dan pasti akan memperpendek umur penderitanya.

Perasaan-perasaan negatif. terutama keengganan me­nerima situasi baru dengan kebesaran jiwa, pasti menimbul-kan banyak stress, keresahan batin, konflik-konflik jiwani, ketakutan. kecemasan, rasa inferior, apatis, melankholis dan depresi, serta macam-macam ketidakpuasan lainnya. Jika semua itu berlangsung berlarut-larut, kronis berkepanjangan. maka jelas akan menyebabkan proses dementia (kemunduran mental) yang pesat. dengan menyandang kerusakan-kerusakan pada fungsi-fungsi organis (alat/ bagian tubuh) dan fungsi-fungsi kejiwaan yang saling berkaitan. dan kita kenal sebagai gejala post-power syndrome.

Tentunya bagi mental sakit ini telah ada solusinya. Namun terkadang manusia tidak menyadarinya ketika dia masih asyik masyuk bekerja. Persiapan mental untuk dapat menerima apapun yang akan terjadi merupakan cara merawat mental agar tetap sehat. Islam telah  mengajarkan dan mengingatkan manusia tentang takdir ”Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran” (QS. Qomar 49). Sayid Sabiq mengartikan takdir adalah suatu peraturan yang telah dibuat oleh Allah SWT  untuk segala yang ada  di alam semesta ini. Imam Nawami menambahkan takdir itu sendiri telah ditulis sejak sebelum manusia dilahirkan. Allah mengetahui apa saja yang akan terjadi sesuai dengan waktu yang telah ditetap atau digariskan-Nya. Dalam falsafah Jawa ”nrima ing pandum” akan membuat manusia menjadi nyaman dan tidak mudah putus asa.

Mengatasi Post-Power Syndrome

Terapi untuk meringankan gejala-gejala sindrom pensiun dan untuk memperoleh kembali kesehatan jasmani serta kesejahteraan jiwa mengarah pada integrasi struktur kepribadian, menurut Kartini Kartono (2000) dalam bukunya  Hygiene Mental disarankan  melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

(1) Mau menerima semua kondisi baru. yaitu masa pensiun/ purnakarya tersebut dengan perasaan rela, ikhlas, lega, bahagia, karena semua tugas-tugas pokok selaku manusia dan pejabat sudah selesai. Maka kini tiba saatnya pribadi yang bersangkutan belajar menyesuaikan diri lebih baik lagi terhadap tuntutan situasi-kondisi baru yang masih penuh tantangan, yang harus dijawab dan dijalani.

(2) Masa purnakarya ini diantisipasikan sebagai pengalaman baru, atau sebagai satu periode hidup baru, yang mungkin masih akan memberikan kesan-kesan indah dan menakjubkan di masa mendatang. Pribadi yang bersangkutan harus bisa menerima, bahwa masa lampau memang sudah lewat, dan harus dilupakan atau dilepaskan dengan perasaan tulus ikhlas. Dan tidak mengharapkan pengulangan kembali pengalaman lama dengan rasa kerinduan mitis (mitos) atau secara sentimentil.

(3) Segala kebahagiaan, dan puncak kehidupan yang sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa, juga semua ujian dan derita-nestapa sudah dilalui dengan hati pasrah. Namun perjalanan hidup seterusnya masih harus dilanjutkan dengan ketabahan dan rasa tawakal. Sebab pada masa usia tua ini masih saja ada misi-misi hidup yang harus diselesaikan sampai tuntas; di samping harus memberikan kebaikan dan kecintaan kepada lingkungan sekitar.  

(4) Peristiwa kepurnakaryaan supaya diterima dengan kemantapan hati sebagai anugerah Ilahi, dan sebagai kebahagiaan yang diberikan oleh lingkungan masyarakat manusia sebagai edisi hidup baru yang harus diisi dengan darmabakti dan kebaikan. Memang tidak banyak yang bisa dilakukan oleh para mantan pada sisa hidupnya yang sudah "senja". Tetapi setidak-tidaknya seperti keindahan panorama senja yang masih memberikan kecemerlangan mistis yang gilang-gemilang, memberikan kebaikan kepada anak-cucu, generasi penerus serta masyarakat pada umumnya.  

(5) Sebaiknya  tidak melakukan pembandingan dengan siapa atau apapun juga; sebab usaha sedemikian itu akan sia-sia, dan menjadikan hatinya "nelangsa", serta meratap sedih, ngresula/kecewa. Ada kalanya bisa memacu diri-nya untuk berbuat "ngaya" di luar batas kemampuan sendiri dan tidak wajar. Setiap relasi sosial yang baru di masa sekarang, sudah tidak lagi dibebani oleh ikatan dan kekecewaan macam apapun. Hidup ini dihadapi dengan hati tulus, polos, sabar, narima, jernih.

(6) Membebaskan diri dari nafsu-nafsu, ambisi-ambisi, keinginan berkuasaan atau nafsu untuk memiliki. Apa yang didambakan dalam sisa hidup sekarang ialah: tenang, damai dan sejuk di hati. Kalbunya sudah mantap, tidak terbelah oleh macam-macam kontradiksi, ambisi, dan fikiran khayali. Sebab sekarang sudah menjadi pribadi yang mampu menyambut akhir hayat dengan senyum dan kemantapan.

Bagi jiwa-jiwa yang menerima, maka segala apa pun yang kan terjadi di depannya akan mampu dihadapi dengan besar hati. Karena dari setiap kejadian pasti ada hikmah yang menyertainya. Setiap kita hendaknya sadar bahwa dimensi kesehatan bukan hanya jasmaniah saja, tetapi rohani (mentalitas) juga memegang peranan penting (important role) dalam menentukan kesehatan seseorang. Awali segala sesuatu dengan pikiran positif (positive thingking/huznudzon) sehingga mental-mental positif dalam diri kita akan tumbuh dengan subur. Mari kita wujudkan cita-cita Indonesia Sehat dimulai dari diri kita masing-masing, keluarga dan lingkungan sekitar kita.

Staff Pengajar UPS
Ketua Lakpesdam NU Brebes

0 comments:

Post a Comment