Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Saturday, January 31, 2015

KETELADANAN YANG MEMBERI HARAPAN


Dua puluh dua orang (14 ibu dan 8 bapak) berkumpul di rumah Bu Nanik di Imogiri pada Rabu 21 Januari 2015 jam 16.00-18.00. Mereka adalah kelompok yang ikut program Jagongan Iman dari Domus Pacis. Ini adalah pertemuan keenam yang membahas pokok kepercayaan kepada Tuhan Yesus "yang naik ke surga, duduk di sisi kanan Allah Bapa yang mahakuasa". Ketika menggali pemahaman sendiri dari para peserta, mereka berbicara dalam 3 kelompok: kelompok bapak dan 2 kelompok ibu.

Dari ketiga kelompok ternyata muncul pokok makna yang sama, yaitu keteladanan. Kenaikan Yesus ke surga dan duduk di sisi kanan Allah menjadi contoh bagi semua orang bahwa kematian sejatinya adalah jalan mendapatkan kemuliaan surga. Ini memberikan harapan karena Tuhan sudah memberikan tempat mulia. Semuanya terjadi karena hanya Yesus yang menjadi kunci. Hanya yang dari surga dan turun ke dunia yang dapat kembali ke surga. Dengan ini kita diharapkan tetap bersatu dengan Tuhan agar kita juga akan sampai ke Kerajaan sorga. Inilah keyakinan bahwa kelak kitapun akan mulia. Atas keteladan ini bagi kita beriman adalah: punya pengharapan untuk menikmati kemuliaan dan hidup kekal.

Terhadap pembicaraan itu teks Katekismus Gereja Katolik yang dibaca adalah no. 661-664:

661   Langkah terakhir pemuliaan ini berhubungan erat dengan yang pertama, artinya dengan turun-Nya dari surga dalam penjelmaan-Nya menjadi manusia. Dan hanya Dia "yang datang dari Bapa", dapat "kembali kepada Bapa": Kristus. "Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga, selain daripada Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia" (Yoh 3:13). Diserahkan kepada kekuatan kodratinya, kodrat manusiawi tidak dapat masuk ke dalam "rumah Bapa" (Yoh 14:2); ke dalam kehidupan dan kebahagiaan Allah. Hanya Kristus dapat membuka pintu ini untuk manusia: "la memberi harapan kepada anggota-anggota tubuh-Nya, supaya mengikuti Dia ke sana, ke mana Ia mendahului mereka sebagai orang pertama" (MR, Prefasi Kenaikan Tuhan).
662   "Dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku" (Yoh 12:32). Ditinggikan pada salib berarti pula ditinggikan waktu kenaikan ke surga dan peninggian pada salib sekaligus memaklumkan kenaikan ke surga itu. Itulah permulaannya. Yesus Kristus, Imam tunggal perjanjian baru dan abadi, "bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia ... tetapi ke dalam surga sendiri untuk menghadap hadirat Allah guna kepentingan kita" (Ibr 9:24). Dalam surga Kristus melaksanakan imamat-Nya secara terus-menerus. "Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi pengantara mereka" (Ibr 7:25). Sebagai "imam besar untuk hal-hal baik yang akan datang" (Ibr 9:11), Ia adalah pusat dan selebran utama liturgi yang menghormati Bapa di surga'.
663   Sekarang Kristus duduk di sisi kanan Bapa: "Dengan ungkapan `di sisi kanan Bapa' kita mengerti kemuliaan dan kehormatan Allah, di mana Putera Allah yang sehakikat dengan Bapa, hidup sejak kekal dan di mana Ia sekarang, setelah dalam waktu terakhir Ia menjadi daging, juga duduk secara badani, karena daging-Nya turut dimuliakan" (Yohanes dari Damaskus, f. o. 4,2).
664   Duduk di sebelah kanan Bapa berarti awal kekuasaan Mesias. Penglihatan nabi Daniel dipenuhi: "Kepada-Nya diberikan kekuasaan, kemuliaan, dan kekuasaan sebagai raja. Segala bangsa, suku bangsa, dan bahasa mengabdi kepada-Nya. Kekuasaan-Nya kekal dan tidak akan lenyap. Kerajaan-Nya tidak akan musnah" (Dan 7:14). Sejak saat ini para Rasul menjadi saksi-saksi "kekuasaan-Nya", yang "tidak akan berakhir" (Syahadat Nisea-Konstantinopel).

0 comments:

Post a Comment