Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Wednesday, April 30, 2014

NASIB LANSIA DI INDONESIA

dari http://sosbud.kompasiana.com
30 November 2011

Menurut data WHO usia 60 tahun adalah batasan usia minimal bagi seseorang untuk disebut sebagai seorang yang berusia lanjut (baca: lansia). Bagi  saya pribadi, orang-orang yang sudah masuk dalam tahapan lansia secara sehat dan normal itu merupakan prestasi tersendiri buat mereka karena  mengingat ada begitu banyak faktor yang bisa menghambat seseorang untuk masuk dalam ‘zona’ usia lansia secara sehat dan normal. Sehat dan normal itu dalam arti sehat fisik dan tidak mengalami gangguan dalam pikiran. Saya mengutip sebuah teori perkembangan psikososial dari Eric Erickson, seseorang pada usia lanjut Ego Integrity seharusnya sudah terbentuk. Sebaliknya, bila ia merasa gagal di masa lalu, ia akan merasa kecewa. Kekecewaan inilah yang akan membuat orang tidak siap dengan masa lansianya.


Ada ilmu sosial tentang lansia (age stratification) yang memiliki teori sebagai berikut: setiap tingkatan usia mempunyai peran dan ekspektasi berbeda. Sambil menanggapi setiap perubahan lingkungan, orang harus berubah menuju ke tingkat usia yang lebih lanjut. Bagi orang yang bekerja, ketika sudah berumur 60 tahun biasanya dia diwajibkan untuk pensiun. Ada orang yang menolak pensiun, ada orang yang menyambut baik pensiun. Ada orang yang tidak bahagia pada masa pensiun dan ada yang menikmati masa pensiun.


Sekarang bagaimana dengan lansia yang tinggal di Indonesia dan dikatakan masih kental dengan budaya timur. Bagi masyarakat timur ada pesan tak tertulis yang harus diingat bahwa Lansia harus dihormati karena pengetahuan dan pengalamannya. Lihatlah tokoh-tokoh yang ada di cerita Tiongkok maupun India. Mereka merupakan tokoh berwibawa dan dianggap bijaksana dalam hidup bermasyarakat. Beberapa tokoh nasional di negara ini adalah mereka yang berusia lansia namun memiliki figur yang kuat dalam masyarakat dan dianggap sebagai pemelihara kesatuan.



Ada budaya Jawa bahwa peran lansia dinyatakan dalam 3 ur:

- Tutur : pengetahuan. Orang lansia digambarkan sebagai orang yang penuh dengan pengetahuan dan tahu segala macam asam garam kehidupan

- Wuwur: Uang. Mereka yang sudah lansia tidak lagi memperhitungkan masalah uang. Uang bagi mereka hanya sebagai sarana bukan tujuan yang harus dicari. Aktualisasi diri sebagai lansia yang ari bijaksana itu menjadi harapan mereka

- Sembur: Moral. Dengan banyak kejadian yang telah dialami mereka, banyak cerita moral yang bisa dipetik serta dibagikan kepada kaum muda. Mereka adalah gudang pengalaman moral.



Selain itu norma dan nilai sosial di Indonesia yang memiliki nilai tradisonal kuat masih menempatkan lansia pada kedudukan yang lebih tinggi, sebagai sumber nasehat dan restu, sangat dihormati dalam upacara maupun dalam kehidupan sehari-hari. Namun seiring dengan kemajuan jaman dan teknologi, norma dan nilai ini mulai luntur sehingga orang lansia tidak lagi dianggap sebagai sumber informasi dan rasa hormat terhadap mereka juga semakin terkikis.



Ada lima tipe psikologik lansia yang saya kutip dari pernyataan dr Satya Joewana Sp KJ.

1. Tipe Konstruktif: Tipe ini adalah tipe lansia yang mempunyai integritas baik, dapat menikmati hidup, toleransi tinggi, humoristic, fleksibel dan tahu diri.

2. Tipe Ketergantungan: Diterima dalam masyarakat tetapi pasif, tidak berambisi, masih tahu diri, tak mempunyai inisiatif, senang dengan pensiun, banyak makan dan minum, tak suka kerja, dan senang diajak berlibur

3. Tipe defensif: menolak bantuan, emosional, memegang teguh pada kebiasaannya, kompulsif, takut menjadi tua, dan tak menyukai masa pensiun

4. Tipe bermusuhan: Menganggap orang lain yang menyebabkan kegagalan, banyak mengeluh, agresif, curiga, takut mati, iri pada yang muda, senang mengadu untung pada pekerjaan-pekerjaan.

5. Tipe membenci/menyalahkan diri: Kritis terhadap diri sendiri, tak punya ambisi, penurunan kondisi sosio-ekonomik, perkawinan yang tak bahagia, tetapi menerima terhadap proses menua dan tidak iri terhadap yang muda, dan kematian sebagai kejadian yang membebaskan dari penderitaan.



Bagi sebagian pengamat sosial, lansia adalah golongan minoritas dan rentan mengalami diskriminasi serta kekerasan. Isolasi sosial dan gangguan mental (seperti Dementia atau penyakit Alzheimer’s) merupakan dua faktor yang dapat membuat orang tua lebih rentan terhadap kekerasan. Lansia dianggap terlalu lamban, daya reaksinya lambat, kesigapan bertindak dan cara berpikir menjadi lamban. Inilah yang menyuburkan kesan bahwa lansia adalah beban masyarakat.


Lansia seperti orang dewasa lainnya bila bisa menerima dirinya dengan baik, tahu posisinya dan mampu berkomunikasi dengan lingkungan, akan dapat menjalani kehidupan di usia senja dengan baik. Mereka juga dapat mengaktualisasikan diri dengan menyalurkan bakat dan ide, serta mengamalkan pengalamannya kepada orang lain. Mereka bisa menjadi penasihat handal dalam perusahaan dan walau kekuatan fisik mereka berkurang tapi mereka dewasa dalam berpikir dan bertindak.

Artikel ini tidak bermaksud untuk mengagungkan orang lansia. Tulisan ini hanya ingin mengajak setiap pembaca bahwa lansia juga memiliki peran yang strategis dalam bermasyarakat termasuk dalam keluarga. Sebagai orang yang lebih muda alangkah baiknya kita menghormati mereka sebagai pribadi yang membutuhkan perhatian lebih namun tidak berlebihan. Itu bisa dimulai dari diri kita sendiri. Suatu saat nanti kita akan menjadi sama seperti mereka, menjadi lansia. Tentunya kita menginginkan supaya setiap anak, menantu dan cucu-cucu bisa menghormati dan keberadaan kita sebagai lansia. Peliharalah lansia dengan baik dan biarkan mereka berperan di dalam masyarakat sesuai dengan kemampuan mereka.


Sumber: materi pembelajaran national counseling dan healing conference

0 comments:

Post a Comment