Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Sunday, September 28, 2014

MAYORITAS LANSIA (70,83%)

Dalam hal program Jagongan Iman Kelompok Bantul menjadi yang keempat dilayani oleh Rama Bambang. Ini adalah program untuk mendampingi kaum tua menjadi Kaum Tua Pewarta. Pertemuan pertama Kelompok Bantul terjadi pada hari Selasa 23 September 2014 di rumah Bapak Karyadi. Dalam hal peserta kelompok, di bandingkan dengan kelompok-kelompok lain (Ngireng-ireng, Imogiri, dan Murangan Timur), di adalam kelompok yang pesertanya mayoritas terdiri dari kaum lanjut usia (70,83%). Mereka terdiri dari beberapa kelompok usia:
  • 40-50 tahun: 1 orang (ibu)
  • 50-60 tahun: 6 orang (4 ibu dan 2 bapak)
  • 60-70 tahun: 9 orang (7 ibu dan 2 bapak)
  • 70-80 tahun: 6 orang (4 ibu dan 2 bapak)
  • di atas 80 tahun: 2 orang (ibu).
Kelompok Bantul dalam pertemuan ini membicarakan pokok iman dari Syahadad Katolik "Aku percaya akan Allah Bapa yang Mahakuasa pencipta langit dan bumi". Pada langkah pertama para peserta mengadakan omong-omong dengan teman-teman duduk dekatnya tentang soal "Untuk hidup sehari-hari dalam keluarga dan bertetangga, pokok iman itu memberikan pegangan apa?" Ketika hasil omong-omong kecil dengan teman dekat disampaikan, muncullah beberapa prinsip iman untuk hidup harian:
  • Mengucapkan "sapaan" bila berjumpa dengan tetangga.
  • Menjalani "keteladanan" di hadapan anak/cucu.
  • Peduli "menolong" yang lemah.
  • Kritis dalam pergaulan sehingga tidak mudah ikut arus buruk dan dapat mendukung yang baik serta berani menunjukkan kebenaran.
  • Teguh dalam menghadapi tantangan.
  • Berani menunjukkan jati diri dengan berdoa Katolik bila makan bersama orang umum.
Rama Bambang kemudian membacakan Katekismus Gereja Katolik dengan memberikan penjelasan pada no. 239 dan dikaitkan dengan yang diketemukan dari pembicaraan.
239   Kalau bahasa iman menamakan Allah itu "Bapa", maka ia menunjukkan terutama kepada dua aspek: bahwa Allah adalah awal mula segala sesuatu dan otoritas yang mulia dan sekaligus kebaikan dan kepedulian yang penuh kasih akan semua anak-Nya. Kebaikan Allah sebagai orang-tua ini dapat dinyatakan juga dalam gambar keibuan, yang lebih menekankan imanensi Allah, hubungan mesra antara Allah dan ciptaan-Nya. Dengan demikian bahasa iman menimba dari pengalaman manusia dengan orang-tuanya, yang baginya boleh dikatakan wakil-wakil Allah yang pertama. Tetapi sebagaimana pengalaman menunjukkan, orang-tua manusiawi itu dapat juga membuat kesalahan dan dengan demikian menodai citra kebapaan dan keibuan. Karena itu perlu diperingatkan bahwa Allah melampaui perbedaan jenis kelamin pada manusia. Ia bukan pria, bukan juga wanita; Ia adalah Allah. Ia juga melebihi kebapaan dan keibuan manusiawi, walaupun Ia adalah awal dan ukurannya. Tidak ada seorang bapa seperti Allah.

0 comments:

Post a Comment