Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Wednesday, May 30, 2018

SAKSI IMAN DERITA KRISTUS

KETIKA LANSIA MENERIMA SAKRAMEN URAPAN ORANG SAKIT

Menakutkan?

Di dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) salah satu dari tujuh Sakramen yang berkaitan dengan kondisi sakit di sebut Sakramen Urapan Orang Sakit. Tetapi banyak umat Katolik menyebutnya Sakramen Perminyakan. Dibandingkan dengan enam sakramen lainnya, Sakramen ini kerap diterima dengan rasa kurang menggembirakan. Orang dapat mengadakan pesta karena menerima Sakramen Permandian, Sakramen Penguatan, Komuni Pertama, apalagi untuk Sakramen Perkawinan dan Sakramen Pentahbisan. Menjelang Paskah dan Natal orang juga dapat berbondong-bondong untuk menerima Sakramen Pengakuan. Namun demikian Sakramen Perminyakan dapat menimbulkan rasa takut. Orang Katolik dapat ketakutan untuk menerimanya karena kekuatiran untuk meninggal dunia. Hal ini dilandasi oleh kebiasaan penerimaan Sakramen ini berkaitan dengan kondisi sakit berat yang menempatkan penderita berada dalam bahaya kematian. Ketakutan ini makin diperparah kalau di dalamnya terselip kepercayaan bahwa dengan menerima Sakramen Perminyakan, di samping kemungkinan orang dapat cepat sembuh dari penyakitnya, orang juga dapat cepat meninggal dunia kalau memang harus wafat.

Yang jelas dalam KGK  1514 dinyatakan bahwa Sakramen Urapan Orang sakit “bukanlah Sakramen bagi mereka yang berada di ambang kematian saja.”  Selain orang yang sakit berat dan yang menghadapi operasi besar, kaum lanjut usia juga termasuk yang dapat menerima. Hal ini didasari oleh alasan bahwa kaum lanjut usia dapat memiliki kondisi kekuatan badan yang mulai melemah (KGK 1515). Tentang kaum lansia bila menerima Sakramen Urapan Orang Sakit inilah yang akan kita bicarakan di sini.

Kan Masih Bisa Aktif?

Barangkali orang lanjut usia memang sudah terjangkit satu atau lebih penyakit bahkan penyakit yang membutuhkan perhatian hingga wafat. Barangkali karena penyakitnya lansia harus menyantap obat atau obat-obat seumur hidup. Hal ini memang membuat kondisi badan melemah tak sekuat sebelum punya penyakit apalagi seperti jaman masih punya kebugaran badan. Tetapi dibandingkan dengan yang boleh menerima Sakramen Urapan Orang Sakit lainnya, yaitu yang menderita sakit berat dan menghadapi operasi besar sehingga tak dapat ke mana-mana, kaum lansia yang diomongkan di sini relatif masih dapat mengalami mobilitas aktif.

Karena masih bisa aktif bahkan untuk kepentingan banyak orang, penghayatan iman lansia yang menerima Sakramen Urapan Orang Sakit selayaknya dicari kekhasannya. Dengan tulisan ini saya akan mencoba menyampaikan yang barangkali dapat menjadi kekhasan. Tentu saja ini adalah renungan saya berdasarkan pengalaman pribadi sebagai sosok yang boleh ikut dalam jajaran kelompok lansia. Lebih dari ini saya juga mengalami beberapa penyakit: hipertensi, kolesterol, trigiserit, asam urat, dan diabetes. Ada obat-obat yang harus saya santap setiap hari yang katanya sampai akhir hayat. Hipertensi saya derita mulai tahun 1972 ketika saya berumur 21 tahun. Kolesterol, trigiserit, dan asam urat sudah menyangkiti saya pada usia 40an hingga 50an tahun. Sedang diabetes diketahui hadir pada Januari 2012 ketika saya hampir 61 tahun. Meskipun demikian, tidak sedikit orang yang berkomentar bahwa saya kelihatan segar. Dan benar, saya memang banyak merasa badan segar dan memang masih bisa ikut melayani umat dengan berbagai keterbatasan saya.

Saksi Iman dalam Kelemahan dan Derita

Satu hal yang harus dicatat adalah bahwa sampai tulisan ini saya buat saya belum pernah menerima Sakramen Urapan Orang Sakit. Tetapi dari merenungkan KGK  1499-1525 dan omong-omong dalam Jagongan Iman dengan kelompok lansia di Pringgolayan dan Gondang, saya memberanikan diri untuk menyampaikan pertimbangan  tentang kekhasan penghayatan lansia kalau menderima Sakramen ini. Apalagi sebagai salah satu imam Gereja Katolik saya merasa ikut mendapatkan amanat Gereja yang berbunyi “Para pastor mempunyai kewajiban untuk mengajarkan umat beriman mengenai daya guna yang menyelamatkan dari Sakramen ini.” (KGK 1516) Dari daya guna inilah saya mau mengetengahkan pertimbangan saya. Daya guna Sakramen ini saya ambil dari buah-buah Perayaan Urapan Orang Sakit (KGK 1520-1523): anugerah khusus Roh Kudus, persatuan dengan sengsara Kristua, rahmat Gerejani, dan persiapan perjalanan terakhir.
  1.  Sadar kurnia. Buah pertama dari Perayaan Urapan Orang sakit dinyatakan sebagai berikut: “Rahmat pertama Sakramen ini ialah kekuatan, ketenangan, dan kebesaran hati untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan satu penyakit berat atau dengan kelemahan karena usia lanjut.” (KGK 1520). Ini semua adalah kekuatan Roh Allah yang membawa orang menuju kesehatan jiwa, dan kalau Allah menghendaki juga menuju pada kesembuhan badan. Dengan pelayanan imam dalam Sakramen ini orang akan mengalami kesehatan jiwa. Hal ini terjadi sebagaimana dikatakan oleh Santo Yakobus “Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni.” (Yak 5:15b) Dengan menerima urapan yang dilandasi doa yang sungguh beriman orang akan mengalami keselamatan dan kebangkitan batin. Dan bila berdosa, dia mengalami pengampunan. Suasana jiwa ceria sungguh dapat membawa suasana badan segar. Ada yang bilang bahwa kesegaran batin adalah obat yang berkekuatan 80% untuk kesehatan badan. Layaklah bila ada ungkapan mens sana in corpore sano (dalam jiwa sehat terdapat badan sehat). Dari buah pertama ini lansia perlu menyadari kurnia atau kurnia-kurnia apa yang sebetulnya ada dalam diri. Ini perlu digali dan atau dikembangkan. Karena itu adalah karunia atau rahmat (yang dalam bahasa Latin gratia yang berarti pemberian cuma-cuma), maka lansia akan memanfaatkannya sebagai ambil bagian demi kebaikan umum karena “tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.” (1 Kor 12:7)
  2.  Ahli menderita. Dengan menerima Sakramen Urapan Orang Sakit orang “menerima kekuatan dan anugerah untuk mempersatukan diri lebih erat dengan sengsara Tuhan” (KGK 1521). Di sini Katekismus juga mengatakan bahwa dengan menerimanya orang beriman seakan-akan “ditahbiskan untuk menghasilkan buah melalui keserupaan dengan sengsara Juru Selamat yang menebus.” (idem) Dengan ini lansia penerima dapat menjalani apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Luk 9:23) Orang ikut menghadirkan makna baru kesengsaraan sebagai keikutsertaan karya penyelamatan Yesus. Bagi orang beriman salib, sebagai tanda kesengsaraan yang menyelamatkan, adalah kebanggaan utama. Dengan demikian kita dapat berkata seperti Santo Paulus “Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.” (Gal 6:14) Dengan kenyataan iman itu lansia penerima Sakramen Urapan Orang sakit sewajarnya akan mampu menghayati keceriaan sebagai semangat hidup sekalipun mengalami derita karena kelemahan badan dan mungkin juga penyakit seumur hidup.
  3.  Rasul sesama penderita. Dengan merujuk ke KGK 1522, di dalam penerimaan Sakramen ini Gereja mendoakan kaum lansia di dalam persekutuan. Tetapi yang juga harus diingat adalah bahwa penerimaan Sakramen Urapan Orang Sakit menjadikan kaum lansia ikut menjadi rasul khusus dalam Gereja. Secara praktis lansia penerima menjadi bagian gerakan Gerejani yang bertugas “menderita dan menyerahkan diri kepada Allah Bapa melalui Kristus” demi pengudusan Gereja dan kesejahteraan semua orang. Tugas itu menjadi amanat bagi lansia penerima Sakramen Urapan Orang Sakit dalam menghayati kelemahan dan derita sakitnya sebagai daya motivasi untuk menjadi pewarta dan saksi karya Kristus bagi orang-orang lain sesama penderita.
  4.  Penghayat keabadian dalam kefanaan. Sakramen Urapan Orang Sakit bagi orang yang mendekati ajal menjadi kekuatan jiwani untuk berhadapan dengan saat akhir hidup di dunia. Hal ini dilandasi bahwa wafat dan kebangkitan Kristus adalah jalan keselamatan yang diyakini sejak penerimaanm Sakramen Pembaptisan. Bagi orang Kristiani  kematian adalah “sebagai pertemuan dengan Kristus dan sebagai langkah masuk ke dalam kehidupan abadi.” (KGK 1020). Bagi para lansia, penerimaan ini membuat kekuatan hati untuk siap sedia kapanpun Allah memanggil. Yang harus dicatat adalah keyakinan bahwa dalam pangkuan Bapa yang ada adalah kebahagiaan kekal. Kesediaan itu dapat dihayati di dalam kehidupan harian yang menampakkan kegembaraan batin sekalipun memiliki penyakit yang bagi banyak orang mengakibatkan kematian.

Puren, 25 Mei 2018

D BAMBANG SUTRISNO, PR.

Catatan:
Tulisan ini dibuat sebagai sajian dalam peristiwa Perayaan Sakramen Urapan Orang Sakit yang diterimakan bagi para lanjut usia di Paroki Pringgolayan, Yogyakarta, pada hari Selasa 29 Mei 2018.

0 comments:

Post a Comment