Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Thursday, November 30, 2017

Dalam Paguyuban Ada Persaudaraan



Sore itu, Jumat 24 November 2017, suasana Domus Pacis terasa cukup ribut. Sekitar jam 16.00 Bu Titik Untung, salah satu relawati dari Ambarrukmo, datang. "Kae takgawakke borjo. Ben didhahar dhisik wong engko mesthi nganti bengi. Nek udane ora deres banget engko aku nusul dhewe" (Saya bawakan bubur kacang hijau. Semua biar mengisi perut lebih dahulu karena nanti pasti sampai malam. Kalau hujan tidak sangat deras aku akan menyusul sendiri) kata Bu Titik kepada Rm. Bambang. Pada saat itu dia, yang sedang menunggu suaminya cuci darah di RS Panti Rapih, menyempatkan diri sebentar ke Domus Pacis. Para rama dan karyawan sudah berkemas bersiap-siap. Hari itu memang hujan turun seharian dari subuh hingga malam hari. Ketika Bu Titik sudah meninggalkan Domus, saat jam melewati angka 16.30 Bu Madi, Bu Mardanu, dan Bu Mumun bersama Pak Frans suaminya tampak masuk Domus. Beberapa saat kemudian Mas Handoko dengan Mbak Sri, istrinya, dan satu anak juga datang.

Pada jam 17.15 para relawan Domus yang nama-namanya telah disebut tadi mulai menyiapkan diri di teras kanopi depan. Mas Handoko sudah memanasi mobil grandmax. Rm. Bambang juga bersiap-siap dengan ayla. Rm. Yadi yang sore itu menjalani terapi rutin di RS Panti Rapih sudah datang dengan mobil taxi. Bu Mumun dan Bu Mardanu bergantian menelpon para relawati dari Ambarrukmo yang belum datang, karena sedianya semua sudah berkumpul pada jam 17.00. Tetapi ternyata lalu lintas baik di jalan besar maupun kecil pada sore itu amat padat dan banyak kemacetan. Meskipun demikian beberapa menit sesudah jam 17.30 rombongan mobil Ambarrukmo sudah siap. Mobil yang dikendarai oleh Bu Dini membawa Bu Tatik Santo, Bu Yanti, Bu Sri, dan Bu Heru. Dalam mobil ayla yang disopiri Rm. Bambang terisi Rm. Yadi, Bu Mumun, Bu Mardanu, dan Bu Sri Handoko serta Ivan anaknya. Kursi roda Rm. Bambang juga masuk di mobil ayla. Sementara itu Mas Handoko yang mengendari grandmax membawa Rm. Ria, Rm. Tri Hartono, Rm. Harto, Bu Madi, Mas Handoko, Pak Frans, Mas Abas dan 2 kursi roda. Pak Tukiran harus berangkat sendiri naik motor. Sementara itu Mas Win, pramurukti khusus untuk Rm. Ria, diminta tidak ikut untuk menjaga Rm. Tri Wahyono.

Pada malam itu rombongan relawan-relawati tersebut, yang biasa melayani acara-acara yang terjadi di Domus Pacis, bersama-sama menuju Dusun Nyamplung yang masuk Lingkungan Banteran, Paroki Mlati. Mereka akan ikut Misa 1000 hari wafat Pak Lastra, om dari Bu Rini salah satu relawati yang amat aktif di Domus Pacis. Ternyata Bu Titik Untung menyusul walau harus bermotor dengan mengenakan mantol melewati hujan. Misa malam itu dipimpin oleh Rm. Tri Margana, Rama Paroki Mlati. Rm. Ria dan Rm. Tri Hartono duduk dekat altar di kanan Rm. Tri Margana. Rm. Harto dan Rm. Bambang berada di kursi roda didepan organ. Sedang Rm. Yadi berada di teras dengan kursi roda di dampingi Pak Tukiran dan Mas Abas. Sedang rombongan relawan Domus yang tadi disebut nama-namanya duduk bersama banyak umat lain. Ternyata kehadiran rama-rama tua dari Domus Pacis ikut menyemarakkan suasana sehingga mewarnai khotbah Rm. Tri Margana. Bu Rini dan Bu Tutik, istri almarhum Pak Lastra, juga tampak amat ceria.

0 comments:

Post a Comment