Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Wednesday, September 12, 2018

Dorongan Membaca??


Pagi itu, Rabu 12 September 2018, Rm. Yadi sudah siap di mejanya ketika Rm. Bambang masuk kamar makan. Ada sesuatu yang dibawa oleh Rm. Bambang yang kemudian dimasukkan di laci mejanya. Rm. Yadi mengucapkan doa pembuka makan sesudah Rm. Harto dan Rm. Tri Hartono masuk dan siap di tempatnya. Sementara itu Rm. Ria menyusul masuk. Makan pagipun berjalan seperti biasa, yaitu Rm. Bambang selesai lebih cepat dari pada para rama lain. Ketika Rm. Yadi sudah selesai dan ambil posisi seperti mengawasi Rm. Harto dan Rm. Tri Hartono kalau-kalau sudah menyelesaikan makan sehingga dia akan mengucapkan doa penutup, Rm. Bambang mengambil salah satu yang disimpan dilacinya. "Ngga, bagian njenengan" (Ini bagian Anda) Rm. Bambang berkata kepada Rm. Yadi sambil memberikan satu buku ukuran 23X17cm setebal 560 halaman. Wajah Rm. Yadi tampak ceria terhias senyum ketika menerima buku yang berjudul Gembala Sejarah Catatan Kehidupan Yohanes Maria Trilaksyanta Pujasumarta.

"Buka apa kuwi?" (Buku apakah itu?) Rm. Ria bertanya dan kemudian Rm. Bambang menunjukkan satu eksemplar lain sambil berkata "Mbiyen kowe ta sing njaluk?" (Bukankah dulu kamu yang meminta?). Beberapa hari sebelumnya Rm. Bambang memang sengaja membawa salah satu eksemplar dan dibaca di kamar makan seusai makan pagi. Hal itu dilakukan agar muncul dorongan dari rama-rama Domus untuk minta. Rm. Bambang melakukan hal ini karena mengetahui bahwa terhadap dua buku yang sudah dibagikan ada yang belum membaca satupun. Padahal ini menjadi salah satu program Rm. Bambang untuk mendorong para rama tua Domus Pacis Puren terus membaca buku untuk memperlambat kepikunan. Rm. Ria yang melihatnya mengucapkan pertanyaan tentang buku yang dibaca. Rm. Bambang menunjukkan sampul luar yang bertuliskan judul buku. "Sing nulis Widyawan Widhiasta, ponakane Monsinyur Pujasumarta. Widyawan ki biyen frater Kentungan lan lulus teologi" (Penulisnya adalah Widyawan Widhiasta, kemenakan almarhum Mgr. Pujasumarta. Widyawan dulu pernah menjadi frater Seminari Tinggi Kentungan dan lulus teologi).

Rm. Ria kemudian menyatakan keinginannya untuk memiliki. "Liyane pengin ora?" (Bagaimana dengan yang lain? Ingin tidak?) tanya Rm. Bambang kepada yang lain pada waktu itu. Tentu saja semua menyatakan keinginannya untuk memiliki. Dan Rm. Bambangpun berkata "Ning diwaca lho" (Tetapi dibaca, lho). Dan pagi itu, Rabu 12 September 2018, buku dibagikan. "Kuwi pancen tertulis dicetak lan diterbitke Kanisius. Ning nek tuku ternyata harus berhubungan ke keluargane Monsinyur Puja. Ketoke kudu ijin Rm. Ismartono. Aku njaluk tulung Mas Widyawan. Lan sawise kirim dhuwit terus entuk kiriman bukune" (Buku itu memang tertulis sebagai dicetak dan diterbitkan oleh Kanisius. Tetapi ternyata kalau mau beli haruslewat keluarga Mgr.Puja. Tampaknya harus dikonsultasikan untuk mendapat ijin beli dari Rm. Ismartono. Saya minta tolong kepada Mas Widyawan. Sesudah mengirimkan uang buku segera dikirimkan). Semua rama segera minta tolong untuk membuka plastik pembungkus buku dan mulai membuka-buka. Kepada Rm. Harto yang terlihat asyik mengelus-elusnya Rm. Bambang berkata "Diwaos, nggih" (Dibaca, ya).

0 comments:

Post a Comment