Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Saturday, September 23, 2017

Lamunan Pekan Biasa XXV

Minggu, 24 September 2017

Matius 20:1-16a

20:1. "Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya.
20:2 Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya.
20:3 Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar.
20:4 Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan merekapun pergi.
20:5 Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi.
20:6 Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari?
20:7 Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.
20:8 Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu.
20:9 Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar.
20:10 Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi merekapun menerima masing-masing satu dinar juga.
20:11 Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu,
20:12 katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.
20:13 Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?
20:14 Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu.
20:15 Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?
20:16a Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, pada zaman kini dalam bekerja orang dituntut kompetensi. Orang tidak cukup hanya terdaftar sebagai tenaga kerja tetapi terutama harus menunjukkan kemampuannya dalam bekerja.
  • Tampaknya, selain kemampuan kerja, orang juga harus mampu merebut kesempatan. Persaingan menjadi aroma sosial sehingga orang lemah dengan sedikit kemampuan akan sulit untuk memperoleh kesempatan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sehebat apapun kemampuan dan segesit apapun seseorang dalam meraih kesempatan sehingga selalu unggul dalam upaya bekerja mencari nafkah, dia sadar akan pentingnya pengembangan hati bermurah peduli untuk ikut ambil bagian membantu dan memperjuangkan kaum lemah dan kalah serta terpinggirkan agar tidak tenggelam dalam hidup tanpa kesejahteraan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati selain tertib dan disiplin mengikuti aturan orang juga akan bermurah hati demi membantu kesejahteraan kaum kalah bersaing.
Ah, orang yang kalah bersaing artinya memang tidak mutu dan kalau diperhatikan malah malas untuk mengembangkan diri.

0 comments:

Post a Comment