Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Thursday, October 5, 2017

Devosi Mudah-Meriah

Sharing Rm. Bambang dalam Email Buletin Domus tahun 2012


Pada masa kini dalam hidup Umat Katolik tersaji berbagai macam doa rosario. Hal ini paling tidak dapat diketemukan dalam berbagai terbitan buku panduan rosario dengan aneka judul. Pada umumnya macam-macam doa rosario mendasarkan diri pada model tradisional: Aku Percaya – Kemuliaan – Terpujilah – Bapa kami – Salam Maria Triniter – 5 misteri peristiwa tertentu dengan 50 Salam Maria. Keragaman muncul karena adanya variasi kutipan Kitab Suci dan atau dokumen Gereja serta doa-doanya. Selain yang mendasarkan diri pada 4 peristiwa (gembira, cahaya, sengsara, mulia) kini muncul pula yang menghadirkan tema tertentu misalnya Rosario Pembebasan. Tema-tema tertentu akan diisi dengan kutipan-kutipan dan doa yang mendorong gerakan pemberdayaan, keterlibatan dan pengembangan iman. Semua ini belum termasuk rosario model lain seperti (kalau tidak salah) rosario koronka dan rosario dengan manik-manik 7 (bukan 10) Salam Maria untuk setiap peristiwa. Yang terakhir kabarnya diperoleh dari Yordania.

Yang Saya Pahami

Ketika seseorang membawa rosario dengan manik-manik 7 Salam Maria untuk setiap misteri, dia bertanya “Rama, mengapa ini hanya 7 dan bukan 10?” Saya hanya dapat menjawab “Waduh, saya tidak tahu.” Saya hanya tahu tentang rosario terbatas pada dua hal berikut.

  1.  Untuk menyatu dengan kehidupan umat: Menurut tulisan-tulisan yang pernah saya baca, tradisi rosario dengan 150 Salam Maria terjadi melewati proses sejarah berabad-abad. Ini berakar pada tradisi doa harian 5 kali sehari dalam keagamaan Yahudi. Gereja melanjutkan tradisi ini untuk lima maksud: pagi untuk memperingati Yesus yang bangkit dari kubur; jam 9 mengenang Yesus yang mulai diadili oleh Pilatus; jam 12 mengenang Yesus yang memanggul salib; jam 15 mengenang Yesus yang wafat di salib; malam untuk mengingat sabda Yesus “berjaga-jagalah”. Setiap saat doa orang atau umat mendoakan 1 bab Mazmur. Karena setiap bulan Yahudi terdiri dari 30 hari, maka Kitab Mazmur berisi 150 bab untuk 5 bab sehari. Berkaitan dengan doa-doa dalam Kitab Mazmur saya, ketika masih di Kentungan, pernah bertanya kepada salah satu dosen Perjanjian Lama “Mengapa dalam Mazmur ada permohonan-permohonan yang muncul dari rasa benci sehingga minta Tuhan melakukan balas dendam dan aniaya kepada musuh?” Dari sini saya menemukan pemahaman bahwa Mazmur berisi penghayatan umat yang amat sangat nyata dalam hidup harian. Dalam kenyataan sehari-hari orang memang dapat merasakan senang, bahagia dan kegairahan. Tetapi orang juga dapat mengalami rasa jengkel, benci, geram bahkan dendam kesumat. Ini semua muncul dari pikiran, perasaan dan kehendak alamiah dalam diri seseorang atau dalam kelompok orang bahkan dalam rasa kebangsaan. Keistimewaan Kitab Mazmur adalah bahwa semua hal biasa alamiah itu disampaikan kepada Allah menjadi isi dialogal dalam hubungan hati denganNya. Kebiasaan menyatukan diri dalam RASA UMAT dengan model Mazmur diteruskan dalam kehidupan Gereja Katolik. Yang menjadi soal dalam perkembangan Gereja adalah Umat Katolik pada umumnya tidak tahu bahasa dalam Kitab Suci (Yunani dan Latin). Apalagi pada zaman dahulu kemampuan baca-tulis hanya dimiliki oleh para imam. Situasi inilah yang membuat umat bukan imam disebut awam (yang berarti bodoh) karena tidak dapat membaca dan menulis. Dengan latar belakang seperti ini bagi kaum awam disediakan kebiasaan mendaraskan 150an doa Salam Maria yang dimaksudkan untuk menggantikan 150 bab Mazmur. Dengan demikian yang pokok adalah umat mempersembahkan kenyataan hidup harian (sebagai pribadi atau kelompok atau bangsa) kepada Tuhan dengan mendaraskan 150 kali Salam Maria. 
  2. Untuk pendalaman iman: Bentuk umum rosario dengan 5 kelompok 10an Salam Maria disusun oleh mang menjadi seorang biarawan bernama Dominikus. Ini menjadi populer dalam Gereja mulai tahun 1475. Kemunculan model pengelompokan 10an Salam Maria dilatarbelakangi oleh situasi umat yang amat dangkal bahkan buta dalam pengajaran atau pemahaman iman. Ini memudahkan umat kena arus ajaran atau paham sesat yang bertentangan dengan dasar-dasar ajaran Gereja Katolik. Keadaan umat seperti ini memunculkan gerakan pendalaman akan misteri-misteri iman dalam ajaran Gereja Katolik. Kalau tidak keliru Santo Dominicus memang menjadi tokoh utama. Gerakan ini masuk lewat kebiasaan umat berdoa rosario. Seratus lima puluh Salam Maria dibagi-bagi menjadi 15 kelompok 10an Salam Maria. Setiap 5 kelompok dipakai untuk merenungkan 1 kategori pengajaran yang dibagi dalam 5 hal yang menyangkut misteri iman. Beratus-ratus tahun sejak tahun 1488 umat biasa dihadapkan dengan 3 kategori permenungan ajaran iman yang disebut dengan peristiwa iman yang menyangkut Tuhan Yesus dan Bunda Maria. Tiga peristiwa itu adalah peristiwa gembira, peristiwa sedih dan peristiwa mulia. Di kemudian hari Beato Yohanes Paulus II sebagai Paus menambahkan peristiwa cahaya. Dengan 4 peristiwa itu umat diajak meneladan iman Bunda Maria dalam beriman lewat merenungkan ajaran-ajaran Gereja. Untuk kepentingan pendalaman iman, rosario selalu dibuka dengan: Aku Percaya yang berisi dasar-dasar ajaran Gereja yang beriman kepada Allah Tritunggal Mahakudus; Bapa Kami yang muncul berkali-kali karena segalanya selalu didasari pada ajaran Tuhan Yesus Kristus; Salam Maria Triniter (putri Bapa, bunda Putra, mempelau Roh Kudus) untuk meneladan iman total Bunda Maria. 
Devosi Spontan Sederhana

Secara praktis rosario mendarah-daging dalam kehidupan mayoritas Umat Katolik. Rosario telah menjadi habitus devosional umat. Dengan rosario kebanyakan umat berdevosi pada  Maria sebagai model penghayat utuh iman Gereja secara spontan. Ini adalah devosi yang "mudah dan murah". Mudah karena tidak membutuhkan gerakan khusus yang sistematis dengan strategi khusus untuk mendorong umat melakukannya. Murah karena rosario tidak perlu menjadi program yang menjadi proyek dengan persediaan khusus anggaran keuangan. Barangkali orang tidak mengucapkan kata-kata doa dan renungan rosario tradisional atau kreasi khusus. Ada banyak hal yang mengindikasikan suasana hati umat yang amat lekat dengan rosario seperti: mengkoleksi banyak rosario; berkalung rosario atau menyimpannya dalam saku; membagi-bagikan rosario dalam peringatan arwah. Semua ini dapat menjadi bentuk devosi hati berosario.

Saya sendiri biasa secara spontan berdoa dan atau merenung dan atau kedua-duanya dengan kerangka model rosario. Dalam hening pagi dini hari saya dapat teringat orang-orang dekat dan atau yang minta didoakan dan atau keadaan diri saya baik dalam keadaan senang atau susah. Kalau hati terasa biasa-biasa saja saya kerap membagi semua hal dalam lima tahap dialog dengan Tuhan yang masing-masing ditutup dengan doa 10 Salam Maria, Kemuliaan dan Terpujilah. Bila hati tercekam oleh pesona indah atau keprihatinan khusus, cekaman itu dapat berlangsung lebih dari 1 jam. Ketika cekaman memudar saya menutup dengan 10 Salam Maria, Kemuliaan dan Terpujilah. Hal ini juga dapat terjadi kalau saya merenungkan Kitab Suci atau dokumen Gereja atau tulisan-tulisan. Tidak jarang doa dan renungan datang bersama. Bahkan tayangan televisi pun dapat membawa saya bermenung yang sering saya tutup dengan doa yang sama. Jujur saja, keasyikan berhatiria dengan Allah dalam topangan rosari dapat  membuat saya lalai tidak berdoa brevir (doa wajib harian imam dan anggota biara). Jangan-jangan dalam diri saya rosario juga menjadi sabu-sabu rohani, ya? Ha ha ha .......

0 comments:

Post a Comment