Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Tuesday, January 30, 2018

PERAYAAN SEJATI


Ini adalah sebuah sharing. Saya baru saja mengalami hari lahir di kala usia 67 tahun. Sebagai salah satu penghuni rumah tua, yang bernama Wisma Domus Pacis Puren, saya ikut menyepakati bahwa Komunitas Rama Domus Pacis tidak merayakan ulang tahun kelahiran. Yang dirayakan adalah ulang tahun imamat. Alasan yang bernuansa kelakar adalah agar “Jumah tahun tampak muda”. Lain halnya kalau yang dirayakan adalah hari lahir. Usia 60 sudah masuk golongan lanjut usia. Tetapi pada hemat saya alasan pokok adalah beaya. Sebagai kelompok rama-rama yang sudah tidak memiliki dinas resmi dan tidak memimpin jemaat, pemasukan untuk kas tentu sudah terbatas. Meskipun demikian, adanya perayaan ulang tahun tahbisan sejak Desember 2011 sudah menjadi hal yang sangat istimewa. Ini adalah inisiatif para penghuni sendiri dan tidak menjadi program Pengurus Domus Pacis sehingga di luar anggaran keuangan yang berasal dari Keuskupan.

Kebiasaan Perayaan Hari Lahir

Pada jaman kini perayaan hari lahir sudah menjadi jamak terjadi. Untuk anak-anak sekolah bentuk perayaan dapat terjadi yang bagi kaum tua bernuansa aneh seperti lempar-lemparan telur mentah atau dijepurkan di kolam atau diguyur limpah air. Kumpul-kumpul bareng dengan macam-macam sajian kuliner bukan hal asing. Kaum usia 80an keatas bahkan yang sudah renta pun kerap dijadikan alasan penyelenggaraan kumpul bareng makan-makan. Untuk kaum kaya apalagi yang berlimpah harta kekayaan, restoran besar atau hotel dapat menjadi area perayaan hari lahir.

Kebiasaan merayakan hari lahir juga terjadi di kebanyakan kalangan rama dan biarawan-biarawati. Seandainya tak ada pesta kuliner khusus, paling tidak biasanya ada doa khusus dalam misa. Untuk para rama dan biarawan-biarawati yang memiliki banyak relasi, perjumpaan makan minum tak jarang terjadi. Apalagi untuk rama yang berada di dalam karya paroki, sesederhana apapun makan minum yang melibatkan banyak orang juga dapat menjadi kebiasaan.

Perayaan Kebahagiaan

Bagi saya yang menarik adalah kalau muncul ungkapan “Mengapa ulang tahun saja harus dirayakan?” Ketertarikan saya berkaitan dengan realita orang-orang yang omong begitu sejauh saya mengerti. Menurut perasaan saya, beberapa orang yang saya kenal omong seperti itu adalah sosok yang tidak mudah bergaul, tidak mudah puas dengan keadaan, tidak begitu senang dan mungkin rela ada orang lain menikmati ucapan dan pesta ulang tahun orang lain. Tetapi ternyata orang-orang demikian senang sekali di kala hari lahir ada yang memberi sajian kuliner dan mendapatkan salam dan ucapan.

Ketika saya memikirkan hal tersebut muncul ucapan dalam benak “Bukankah semua itu terarah pada yang namanya KEBAHAGIAAN?” Sesederhana apapun bentuk yang ada, perayaan amat berkaitan dengan peristiwa yang dipandang membahagiakan. Orang yang merayakan hari lahir dipandang sebagai berada dalam situasi bahagia. Orang yang memberikan ucapan dan atau kado dipandang ikut berpartisipasi dalam kebahagiaan. Sementara itu yang tidak suka biasanya orang yang mungkin iri lihat orang lain bahagia. Kalau diam-diam ketika ulang tahun menikmati ucapan dan pemberian, bagi saya itu adalah orang yang mau sukanya sendiri dan suka berharap orang lain ikut kemauannya sendiri.


Karena perayaan amat berkaitan dengan peristiwa yang membahagiakan, bagi saya yang paling menentukan adalah nuansa relung hati. Segala bentuk perayaan termasuk kalau ada sajian kuliner hanyalah upaya-upaya lahiriah untuk mengkondisikan nuansa bahagia. Kalau perayaan itu dilakukan oleh yang berulang tahun, itu diharapkan menjadi tanda dan sarana yang mengungkapkan kebahagiaan. Yang yang menentukan adalah sikap batin seseorang apakah dia biasa menyadari apapun yang terjadi dalam relung hati atau tidak. Bagi yang percaya bahwa di dalam relung hati bersemayam roh atau daya ilahi, kebiasaan omong-omong dengan kedalaman batin tentu membuatnya mudah ceria bahagia dalam keadaan apapun.

Perayaan di Kesunyian

Pengalaman Domus Pacis dapat menyajikan kondisi sunyi ketika ada penghuninya berada dalam saat hari lahir. Memang ada rama yang sehari-hari mendapatkan banyak tamu yang berkonsultasi dan atau meminta doa khusus. Ketika berulang tahun rama ini akan mendapatkan acara khusus dari para klien termasuk pesta kuliner yang tak dialami oleh para rama lain. Saya termasuk yang mengalami kesunyian. Memang di sore hari ada suami istri datang memberikan ucapan dan oleh-oleh. Tetapi seharian, kecuali ketika saat makan, saya hanya berada dalam kamar. Dari para rama serumah hanya dua orang yang mengulurkan tangan memberi salam. Meskipun demikian saya merasa bahagia karena para karyawan diam-diam secara perorangan masuk kamar dengan wajah berseri memberi salam dan ucapan bersahabat “Sugeng ulang taun nggih”. Kebetulan saya bukan termasuk rama yang memiliki kebiasaan pesta ulang tahun. Ketika berdinas, karya-karya saya hingga masuk Domus Pacis didominasi oleh hidup kelembagaan bukan paroki. Orang-orang dekat pun biasa tidak ingat hari lahir saya. Kebetulan saya termasuk orang tempo dulu yang berpola tradisional. Perayaan hari lahir dilakukan 35 hari sekali dan selesai ketika saya memulai masa sekolah.

Tetapi kesunyian Domus, yang menjauhkan saya dari hubungan lahiriah berdekatan dengan jemaat dan membuat saya 92% berada dalam kesendirian di kamar, ternyata tidak membuat saya tidak bergairah mengalami hari lahir. Hal ini terjadi karena ketika membuka laptop, saya menemukan ucapan-ucapan dan gambar-gambar untuk ulang tahun saya yang ke 67. Itu saya ketemukan di FB dan group-group atau perorangan dalam WA. Bagi saya kiriman lebih dari 250 orang adalah jumlah amat besar. Yang mengherankan adalah bahwa pada umumnya ucapan-ucapan itu justru dimulai dari sosok yang berada di area jauh sekali dari Domus Pacis seperti Bali dan Jakarta.

Satu hal yang harus saya catat adalah ucapan sosok dekat yang berkata “Rama lebih senang ada orang-orang datang memberi ucapan selamat atau orang yang sehari-hari memberi perhatian?” Kata-kata itu berkaitan dengan saat ketika saya berceritera ketika salah satu rama Domus ulang tahun dan ada orang-orang datang membuat acara doa dan makan bersama. Tentu saja saya tertawa mendapat pertanyaan orang dekat itu. Hal itu tentu dilandasi oleh kenyataan bahwa ceria bahagia adalah soal relung hati dan bukan peristiwa lahiriah. Bagi saya kemudahan mengalami gembira dan kedekatan dengan para karyawan dan orang-orang yang biasa membantu Domus adalah anugerah atau rahmat besar mengungguli segalanya. Selain dari pada itu, ada satu anugerah lain yang boleh saya nikmati, yaitu kebisaan menggunakan alat digital dengan internet sekalipun terbatas. Saya menggunakannya terutama untuk pelayanan renungan dan sharing makna hidup dalam peristiwa Domus serta pastoral untuk kaum tua. Nah, ketika berada di hari lahir ucapan-ucapan yang datang adalah yang memiliki relasi dekat di dunia maya yang berapapun kadarnya masuk dalam pembaca pewartaan iman saya. Dengan demikian ucapan-ucapan untuk ulang tahun saya itu dalam kesunyian saya menjadi perayaan iman sebagaimana keterlibatan para relawan-relawati Domus Pacis dalam acara-acara yang terjadi di Domus.


Puren, 31 Januari 2018

0 comments:

Post a Comment