Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Monday, December 10, 2018

Sederhana Tapi Menggairahkan


"Wingi Bu Didik nginten yen acarane Misa riyin" (Kemarin Bu Didik mengira bahwa ada misa dalam acara) kata Mas Handoko, relawan Domus Pacis Puren yang kerap menjenguk Domus kalau-kalau ada yang perlu bantuan. Mas Handoko mengatakan itu pada Minggu 9 Desember 2018. Yang dibicarakan adalah peristiwa Domus pada Sabtu 8 Desember 2018. Sebenarnya tanda-tanda ada kekhususan sudah mulai terjadi pada Kamis sore 6 Desember 2018. Mas Handoko bersama Mas Ardi, Pak Tukiran, dan Mas Tono mengambil 100 buah kursi dan beberapa hal lain dari Pastoran Pringwulung.  Sebenarnya pada Jumat itu Mas Handoko mulai mengambil cuti 2 hari termasuk Sabtu keesokan harinya.  Maka Mas Handoko sudah mulai memasang kain sejak Jumat pagi dan di sore hari diteruskan oleh Mas Tono. Di siang hari dia menjemput Bu Rini untuk mengambil roti dan keperluan lain. Di sore hari itu pula ada pemasangan tenda dan podium. Pada malam hari kursi-kursi sudah tertata di Ruang Serba Guna. Para karyawan Domus juga terlibat sibuk sampai malam. Bu Rini pada Jumat malam itu menginap tidur bersama pramurukti sambil ikut menunggu Rm. Tri Wahyono.

Kesibukan Domus meningkat pada Sabtu 8 Desember 2018. Para karyawan bersama Mas Handoko, Mbak Sri Handoko, dan Bu Rini serta Bu Mardanu menyiapkan berbagai macam kebutuhan. Bahkan pada jam 02.00 siang datang Mbak Ira dari Jogoyudan dan Mbak Endang dari Cebongan merangkai hiasan bunga. Kedua sosok yang disebut belakang adalah tim kerja Mas Unang seorang ahli tata bunga yang menyumbangkan tenaga untuk membuat hiasan. Pada jam 02.00 siang ini tim catering juga datang menyiapkan diri. Beberapa macam snak tradisional Jawa yang disajikan dalam beberapa nampan bambu tersaji pada jam 05.00 sore bersama 12 buah jumbo isi minuman seperti teh, jahe, serai, kopi serta air putih. Ibu-ibu relawan (Bu Mumun, Bu Tatik, Bu Sri, Bu Dini, Bu Narti, Bu Madi, Bu Ninik) menyusul siap menjadi penerima tamu. Mas Anwar seorang player keyboard juga datang bersama istrinya menyiapkan diri. Mbak Dora, yang akan tampil sebagai bintang nyanyi, juga datang bersama seorang player yang juga membawa keyboard.

Ketika tamu-tamu berdatangan. Mas Stefanus Prigel, yang biasa memakai nama Dalijo sebagai artis serba bisa, tiba bersama istri dan dua anaknya. Luci, yang akan menari, juga siap bersama ibunya. Satu hal yang menjadi keheranan banyak tamu termasuk Mbak Dora adalah bahwa mereka punya perkiraan sama dengan Mbak Didik. Umumnya mengira akan ada misa lebih dahulu. Mungkin termasuk Rm. Edy Purwanto, Vikjen KAS, dan Rm.Dwi Harsanto, Vikep Kategorial KAS. Maklumlah, pada sore hari itu Domus Pacis Puren mengadakan Perayaan Menyambut Ulang Tahun Imamat ke 40 Rm. Yoachim Suyadi dan Rm. Agustinus Tri Hartono. Yang diundang adalah relawan masak, relawan Novena Domus, relawan-relawan Domus yang lain, umat Lingkungan Puren, penduduk RT 1 Puren, Rama dan Dewan Harian Paroki Pringwulung beserta karyawannya, keluarga Rm. Yadi dan Rm. Tri Hartono masing-masing mendapatkan 30 kartu undangan, dan para penyumbang door prize.

Sebelum acara dimulai, Mbak Dora menampilkan 3 lagu yang disusul 1 nyanyian dari Mas Dalijo. Kedua bintang ini kemudian menyampaikan pengantar dengan model guyonan. Acara "resmi" dibuka dengan nyanyi bersama lagu Nata Agung mengiringi hadirnya Rm. Yadi dan Rm. Tri Hartono yang didorong oleh dua orang karyawan Domus. Kedua rama ini didudukkan di podium. Mas Dalijo dan Mbak Dora meminta kedua rama memberikan kata-kata khusus untuk para tamu. Sebenarnya acara-acara yang ditampilkan adalah sederhana. Ada satu tarian, nyanyian-nyanyian termasuk pengisi dari tiga ibu warga Paroki Medari dan Pak Loli serta teman Rm. Bambang mantan alumni SMA, sambutan-sambutan (Rama Paroki, Pak Dukuh Puren, Rama Vikjen, dan Rama Vikep Kategorial), dan undian door prize. Tetapi suasananya penuh sukacita kegembiraan karena kelakar-kelakar Mas Dalijo dan Mbak Dora yang sering disela oleh Rm. Bambang, yang memegang mike sendiri, dari kursi rodanya di samping Rama Vikjen. Bahkan Mas Prabu, putra sulung Mas Dalijo, menyusul ikut tampil jadi MC. Para tamu yang ketika datang sudah menimati snak dan minum, selama acara secara bertahap mendapatkan sajian santap malam yang dilayani oleh para pramusaji.

Ketika acara sudah selesai seusai berkat dari Rama Vikjen, Mas Dalijo berkata "Biasane acara sambutan-sambutan niku njelehi. Ning niki wau jan nyenengke banget" (Biasanya acara sambutan-sambutan itu amat membosankan. Tetapi ini tadi sungguh amat menyenanagkan). Maklum saja Rm. Sapto dan Pak Dukuh sangat menarik dalam kata-katanya. Rama Vikjen menyambut dengan berdialog dengan Rama Yadi dan Rama Tri Hartono serta rama Domus lainnya. Dan dialognya memancing tawa dari para tamu. Kemudian Rm. Dwi Harsanto menyampaikan pidato bagaikan Kirun, pelawak tempo dulu. Bahkan beliau menyanyikan lagu Wahai Kau Burung Dalam Sangkar dengan tampilan yang amat lucu. Undian door prize pun, yang sebenarnya amat banyak, menjadi acara yang membuat para tamu terpingkal-pingkal. MBak Dora, yang ternyata datang bersama ayah dan ibunya dari Wonosari, berkata "Mbokten krasa meh telung jam" (Tidak terasa hampir tiga jam) karena acara yang "resmi" dibuka pada jam 06.00 sore baru selesai lima menit sebelum jam 09.00. Ternyata Rm. Agoen, Rm. Kardi dan beberapa rama lain yang ada di belakang juga hadir.

0 comments:

Post a Comment