Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Sunday, December 16, 2018

Syukur Ada Kevikepan Kategorial



Ketika Datang

Ini terjadi pada hari Rabu 12 Desember 2018. Pada jam 08.00 lebih saya sudah tiba di gedung Gereja Santo Antonius dari Padua Kotabaru. Banyak umat sudah tiba lebih dahulu. Ternyata pada umumnya mereka datang berkelompok-kelompok paroki asal se Keuskupan Agung Semarang (KAS). Setiap kelompok selalu ada beberapa anak dan atau remaja yang cacad atau memiliki kelainan. Saya yang duduk di kursi roda dan didorong menuju sakristi selalu tersendat karena tercegat orang-orang yang menyalami dan harus secara khusus menyalami para cacad yang ada di antara mereka. Ketika tiba di sakristi tak ada seorang ramapun dan baru beberapa petugas panitia. Setelah melihat jam baru pada angka 08.15, saya kembali masuk gedung Gereja dan berkeliling menyalami sebanyak mungkin para cacad dan tentu saja termasuk pengantarnya. Oh, ya, saya memang sudah mengenakan jubah begitu keluar dari mobil. Tampaknya mereka amat senang saya salami secara khusus dengan setiap kali bertanya “Siapa namamu? ..... Kamu dari mana? .....” Banyak di antara mereka yang tidak dapat menjawab dengan jelas bahkan tidak sedikit yang tak mampu berbicara sehingga yang menjawab adalah orang tua atau famili atau pendampingnya. Barangkali mereka juga terkesan salah satu yang cacad adalah seorang imam (itu perasakan saya, lhoooo).

Ketika Perayaan Liturgi

Pada hari itu di Kotabaru memang ada peristiwa khusus, yaitu penerimaan Sakramen Inisiasi (Baptis, Krisma, dan Komuni Pertama) untuk Umat Berkebutuhan Khusus. Ketika menyiapkan diri di sakristi, beberapa imam siap ikut menjadi selebran dengan Mgr. Robertus Rubiatmoko sebagai selebran utama. Termasuk saya ada 7 imam selebran. Selain Rm. Dwi Harsanto (Vikep Kategorial KAS) dan Rm. Maradio (Vikep DIY), saya hanya tahu nama satu rama,yaitu Rm. Mahar SY. Yang lain tampak sudah bersikap akrab dengan saya sehingga terasa sungkan untuk bertanya nama. Sebelum semua imam mengenakan stola dan casula, ada pengantar dari seorang anggota panitia. Dia menjelaskan peta Umat Berkebutuhan Khusus (UBK), demikian istilah untuk para cacad atau difabel, yang akan menerima pelayanan Sakramen Inisiasi. Mereka terdiri dari beberapa golongan tuna (kekurangan atau cacad): tuna netra (buta), tuna rungu (tuli-bisu), tuna daksa (cacad tubuh), tuna grahita (cacad mental), dan tuna laras (sulit menyesuaikan diri). Mereka ada yang menerima pembaptisan langsung penguatan dan komuni pertama. Ada yang akan menerima komuni pertama, dan ada yang penguatan. Sekalipun tertulis dalam buku panduan liturgi jumlah mereka ada 243, tetapi ada tambahan 5 orang sehingga kesemuanya ada 248 orang.

Prosesi masuk gedung Gereja

Sebetulnya petugas akan membawa saya langsung ke panti imam. Tetapi, karena ada 4 orang yang disiapkan untuk menaikkan dan menurunkan saya dengan kursi roda, saya minta untuk mengikuti prosesi bersama para misdinar dan imam lainnya termasuk Uskup. Begitu masuk gedung Gereja dari pintu belakang menuju altar, hati saya sungguh berbunga-bunga. Saya langsung melihat Mas Kus dan Mbak Didik, istrinya, berada di bagian belakang. Ternyata keluarga ini mengantar Elo, anaknya yang termasuk berkebutuhan khusus. Mereka kasih dag dengan melambaikan tangan kanannya. Dan sambil maju menuju panti imam saya menyalami mereka yang saya lewati berdiri di kanan kiri. Saya melihat wajah mereka yang cacad dan para pendampingnya tampak berseri-seri. Seusai Uskup mendupai semua imam naik ke panti imam termasuk saya yang dengan kursi roda diangkat empat orang.

Bacaan Pertama

Ternyata petugas lektor berasal dari salah satu anak tuna yang akan ikut menerima sakramen inisiasi. Tiba-tiba ada layar terbuka di dalam benak saya. Di situ terputar rekaman film tahun 1967. Ada misa yang dipimpin oleh Bapak Justinus Kardinal Darmojuwana di Kapel Sanata Dharma, Mrican. Tampaknya itu Misa Minggu Biasa. Saya berdiri dari bangku dan berjalan pincang menuju mimbar dan kemudian membacakan Kitab Suci. Sebagai pembaca Kitab Suci saya agak dipaksa oleh Ketua Kring (kini Lingkungan) Ambarrukmo. Sebenarnya saya telah menolak ketika tugas itu dilontarkan dalam Sembahyangan Kring. Kepada Pak Ketua Kring saya dengan jujur berkata “Kula pincang, pak. Kula isin yèn kedah mlampah teng ngajeng umat” (Saya pincang, pak. Saya malu kalau harus berjalan di muka umat). Pak Kring diam sejenak dan kemudian berkata “Iya, bener. Ning maca ki ora nganggo sikil. Nganggo tutuk. Lan suaramu sero lan las-lasan” (Betul. Tetapi membaca itu tidak pakai kaki, namun pakai mulut. Padahal suaramu keras dan terdengar jelas). Maklumlah pada waktu itu belum ada kebiasaan gedung Gereja memakai sound system. Dan ini adalah peristiwa yang tampaknya membuat almarhum Bapak Kardinal mulai tahu saya.

Khotbah uskup

Mgr. Rubi menyapa mereka yang berkebutuhan khusus dengan sebutan “Adik-adik”. Tentu ini sesuai usulan yang memberi pengantar di sakristi. Pada waktu itu Mgr. Rubi bertanya “Aku kudu nyebut apa?” (Sebutan apa yang harus kukatakan?) untuk para tuna yang akan menerima Sakramen Inisiasi. Waktu itu ada jawaban langsung “Adik-adik”. Tampaknya sebutan ini membuat suasana bagian khotbah menjadi bersahabat. Isi khotbah secara keseluruhan menempatkan semua yang berkebutuhan khusus sebagai yang spesial. Ini tentu sesuai dengan tema yang tertulis dalam buku panduan “Everyone Is Special”. Entah bagaimana saya tidak memperhatikan isi detail khotbah Mgr. Rubi. Tetapi setiap kali beliau menyebut kata “Yesus” ada sesuatu yang menyentuh kecacadan saya. Saya mulai mengalami ketidaknormalankaki kiri, katanya, mulai berumur 1 tahun. Sebelum itu, katanya, saya sudah mulai mampu berjalan. Sakit panas membuat saya mendapatkan suntikan, yang kata almarhum Dokter Supranjono pada tahun 1975 berisi obat kedaluwarsa. Saya mulai dapat berjalan dengan pincang pada umur 5 tahun. Dan mulai umur 57 tahun saya mulai kesulitan untuk berjalan tanpa harus dibantu dengan krug (tongkat penyangga) dan kemudian sejak 60 tahun saya lebih banyak dengan kursi roda hingga kini.

Berkaitan tersentuhnya saya dengan kata “Yesus” yang berkali-kali muncul dalam khotbah Mgr. Rubi, hal ini mengingatkan saya yang baru ketika berumur 16 tahun pada Malam Paskah tanggal 25 Maret 1967 menerima Sakramen Permandian oleh Rm. Prajasuta SY di Baciro. Saat itu saya duduk di kelas I SMA. Ingatan kekatolikan menjadi seperti tombol monitor yang membuka youtube imajiner peristiwa tahun 1977. Pada tahun itu saya, yang sudah menjadi calon imam dan sedang TOP di Seminari Mertoyudan, pada waktu libur  menyertai teman-teman muda cacad tubuh ikut Konggres Nasional Bhakti Nurani di Bandung. Bhakti Nurani adalah nama organisasi salah satu angkatan muda cacad tubuh (tuna daksa) dimana saya ikut aktif sejak tahun 1974. Pada waktu acara diskusi panel saya terlibat perbedaan pendapat dengan salah satu panelis tidak cacad yang mengatakan bahwa “Adik-adik itu sama dengan kami. Semua orang punya cacad”. Di dalam pembicaraan saya ngotot “Bagaimanapun juga kami adalah orang-orang cacad”. Ketika beliau berkata “Kami juga punya kecacadan dalam hal lain. Jangan minder”, saya bilang “Saya tidak minder. Tetapi saya harus menerima kenyataan diri saya. Saya harus maju dan berkembang sesuai dengan keadaan cacad saya”. Sebetulnya perbedaan pendapat ini sudah kerap muncul di antara saya dan para aktivis dan penggerak Bhakti Nurani. Di dalam organisasi ada perjuangan yang dirumuskan dengan kata-kata sekitar persamaan antara kaum cacad dengan masyarakat umum.

Layar youtube kemudian membawa ke gambar ketika pada malam hari saya duduk-duduk santai bersama teman-teman termasuk yang dari Bandung. Dalam duduk-duduk itu ada yang bertanya “Mas, apakah kamu tidak memiliki rasa malu dan takut untuk tampil di kalangan umum yang tidak cacad?” Pada waktu itu saya berceritera bahwa saya juga mengalami rasa malu yang mendalam dan takut berjumpa dengan umum. Ada dua hal yang menyebabkannya. Pertama, saya pincang. Pada waktu kecil saya kerap diejek oleh teman-teman karena kaki kiri saya. Kerap terjadi mereka membunyikan suara musik dengan mulutnya ketika saya berjalan di depannya. Hingga remaja kalau saya akan melakukan hal yang sedikit pakai tenaga, misalnya mengangkat kursi, ada saja kaum dewasa yang melarang. Kalau saya nekad tak jarang ada suara “Ora ngrumangsani sikile dheglog” (Tidak tahu diri kalau berjalan saja tidak imbang). Pengalaman kedua adalah latabelakang keluarga. Saya tidak lahir dalam keluarga Katolik (walau dikemudian hari bapak saya membangun keluarga Katolik dengan ibu tiri terakhir). Saya lahir ketika bapak ibu sudah bercerai. Ketika mulai tidak dapat jalan sesudah kena suntikan karena sakit panas, saya hidup bersama bapak. Satu hal yang membuat saya malu dan takut berjumpa orang lain adalah bapak saya yang kawin cerai. Saya mengalami ibu tiri sampai tiga kali. Dalam hal ini tidak jarang ada yang bertanya “Jan-jané ibumu dhéwé ki endi?” (Siapa yang sebetulnya jadi ibu kandungmu?). Sesudah saya mensharingkan pengalaman malu dan takut berjumpa dengan orang umum, ada teman cacad dari Bandung bertanya “Tetapi mengapa Mas Bambang sekarang enak saja berhadapan dengan siapa saja. Apakah ada resep untuk menghilangkannya?” Terhadap pertanyaan ini saya terdiam. Ketika ada desakan untuk menjawab saya berkata “Ini rahasia hati saya”. Karena terus saja didesak, akhirnya saya berkata “Baik akan saya katakan. Tetapi tidak boleh didebat. SAYA JADI BERANI SESUDAH IKUT YESUS.”

Penerimaan Sakramen Baptis dan Krisma

Ketika penerimaan sakramen terjadi, saya hanya mampu terpesona melihat banyak anak dan remaja dari berbagai macam tuna mendapatkan pelayanan penuh kesabaran dari Bapak Uskup dibantu oleh beberapa rama. Saya juga amat kagum terhadap Rm. Dwi Harsanto yang membuka pintu kaum cacad mendapatkan fasilitas dengan semacam dispensasi liturgis. Mgr. Rubi dan Rm. Santo bukanlah bagian kaum tuna tetapi dapat menjadi seperti Yesus dan murid-Nya yang merayakan Sakramen Inisiasi dalam nuansa ketunaan. Kadang-kadang ada layar benak yang menayangkan diri saya ketika menjadi pengurus Bhakti Nurani hingga sekitar tahun 1983 karena ketika menjadi imam di Paroki Salam sudah terlibat penuh dalam Komisi Karya Misioner KAS. Kadang-kadang muncul pula ketika saya sering ikut dalam pertemuan-pertemuan kaum tuna rungu. Tetapi semua adalah kelompok gerakan. Kadang-kadang teman-teman Bhakti Nurani termasuk yang tidak Katolik ikut misa kalau ada acara misa di teman Katolik. Memang ada juga pertemuan menyambut tahbisan saya di tahun 1981. Dengan teman-teman tuna rungu juga ada pertemuan-pertemuan dengan misa. Tetapi semua adalah gerakan teritorial. Tidak seperti yang saya ikuti di gedung Gereja Kotabaru. Ini adalah pastoral resmi. Ini adalah kebijakan hirarkis. Ini adalah putusan apostolik karena Uskup adalah pengganti dan penerus tugas rasuli. Ini adalah model resmi pastoral baru paling tidak di Indonesia. ADA KEVIKEPAN KATEGORIAL KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG.  

Ketika di Rumah

Setelah berada kembali di rumah, yaitu Domus Pacis Puren, hingga membuat tulisan ini, saya sungguh masih diwarnai peristiwa Perayaan Ekaristi Penerimaan Sakramen Inisiasi Umat Berkebutuhan Khusus. Terus terang ketika masuk gedung Gereja Kotabaru rasanya seperti Simeon atau Hana yang masuk Bait Allah seperti dikisahkan dalam Lukas 2:25-38. Rm. Santo dengan undangan tertulis yang meminta saya ikut jadi salah satu selebran terasa seperti penampakan Roh Kudus yang membawa Simeon masuk Bait Allah. Di situ saya seperti ikut menyambut dan menatang Yesus kecil yang tampak dalam diri anak-anak tuna. Dan seperti Hana saya “mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang” (Luk 2:38). Hati saya memang diwarnai kegembiraan. Saya memang berbicara tentang peristiwa itu pertama-tama di depan rama-rama Domus Pacis Puren pada waktu makan. Saya tidak berbicara langsung tentang banyak hal. Yang saya ceritera hanya sedikit pada waktu makan. Tetapi nuansa kisahnya sungguh menggairahkan paling tidak dalam hati saya. Saya masih banyak menyimpan kisah Kotabaru, dan ini saya sampaikan secara bertahap kalau ada kesempatan pas. Mudah-mudahan dengan kisah-kisah ini kami para rama yang sudah meninggalkan arena resmi berpastoral dapat menghayati makna kata-kata Simeon:
“Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu” (Luk 2:29-32).

Puren, 14 Desember 2018

4 comments:

Unknown said...

Romo Bambang, matur nuwun, sudah kersa rawuh! Saya juga nyalami Romo sehabis foto bersama, tapi kelihatannya romo sdh kesupen sama saya ya? Saya mengantar mbakyu ipar yg berkebutuhan khusus juga. Mugi awet sehat, Romo!

Widi Astuti said...

Atas nama panitia Everyone Is Special kami haturkan limpah terima kasih kepada Romo. Terima kasih sudah berkenan hadir dan memberi kegembiraan luar biasa pada perayaan ekaristi penerimaan sakramen inisiasi UBK 2018. We love you romo prikitieww...ha.ha.ha..

Yohanes Dwi Harsanto said...

Wah Romo Bambang bikin terharu... Ndherek bingah Romo. Maturnuwun sharing dan refleksi nya. Ditunggu edisi selanjutnya dan ditunggu buku nya.

Vita said...

Romo2 yg Hebatttt...membuahkan banyak nilai2 yg patut kami teladani. Saya sebagai umat Katolik turut bangga membaca tulisan Romo Bambang dan karya dari Romo Santo dan Romo2 yg mendukung terlaksananya sakramen inisiasi oleh Bapa Uskup Romo Ruby utk saudara2 yg berkebutuhan khusus. Terus berkarya Romo...sehat selalu, Berkah Dalem

Post a Comment