Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Sunday, March 15, 2015

MAMPIR DOMUS


Pada pagi sekitar jam 06.20 Jumat 5 Maret 2015 Rama Bambang membuka pintu kamarnya sesudah selesai mandi dan berpakaian. "SMS-ku wis diwaca?" (Apakah SMS-ku sudah dibaca?) kata-kata Bu Ratmi, yang duduk di teras kamar Rama Bambang, langsung menyerbu. Sebenarnya Rama agak terkejut tidak mengira Bu Ratmi sudah menunggu. "Wela, durung je" (Belum) jawab Rama Bambang yang langsung disambung oleh Bu Ratmi "Ooo, durung dibukak" (Ooo, belum dibuka). Kemudian Bu Ratmi berceritera kalau pagi itu sesudah Misa berjumpa dengan saudara lama, yaitu Bu Yayik yang dikatakan dari Jakarta. Bu Ratmi bercerita padanya kalau sekarang ikut jadi relawati di Domus Pacis. Ketika tahu bahwa Domus Pacis adalah rumah para rama tua, Bu Yayik ingin memberi oleh-oleh sesuatu. Tetapi Bu Ratmi bilang "Mentahan wae" (Beri saja yang mentah). Kata mentahan dalam pembicaraan orang Jawa berarti "uang". Maka pagi itu Bu Ratmi memberikan sejumlah uang untuk menyumbang Komunitas Rama Domus Pacis. Uang itu oleh Rama Bambang diserahkan kepada Rama Yadi, bendahara Komunitas, ketika makan pagi. Karena diberi nomor HP Bu Yayik, Rama Bambang pagi itu langsung mengirim SMS terima kasih.

Ketika para rama Domus sedang makan malam yang disertai suara hujan lebat Selasa 10 Maret 2015, Bu Ninik datang. "Rama, kalau malam ini ada yang ingin berkunjung bisa tidak?" kata Bu Ninik yang juga menjadi salah satu relawati Domus Pacis. Pada waktu itu yang sedang makan malam adalah Rama Yadi, Rama Tri Wahyono, Rama Harto, Rama Agoeng, Rama Hantoro, dan Rama Bambang. "Ya, ra papa, ta" (Ya tidak apa-apa) kata Rama Bambang yang disambung oleh Rama Agoeng "Masuk saja ke sini". Kemudian Bu Ninik keluar menjemput yang dikatakan ingin berkunjung. Ada 1 bapak dan 2 ibu. Mereka adalah Pak Bambang dan Bu Heni yang berasal dari Magelang serta Bu Shanti dari Kelapa Gading, Jakarta. "Saya pernah kunjungan ke sini bersama FKPPKM" kata Pak Bambang. Rama Bambang menanggapi "Kalau begitu yang ikut menyumbang bangunan serbaguna Domus". Ternyata mereka datang untuk kepentingan Paroki Pringwulung. Tetapi sesudah selesai mereka tertarik mampir berkunjung ke rama-rama Domus Pacis.

Dua peristiwa kecil itu membuat Rama Bambang teringat peristiwa pada tanggal Minggu 22 Februari 2015. Sekitar 30 orang katekis dari Paroki Purbowardayan, Sala, datang jam 13.00 lebih. Yang menyambut hanya Rama Harto dan Rama Bambang karena yang lain sudah di kamar dan tampaknya sudah tertidur. Suasana memang meriah dengan nyanyi-nyanyi seperti pertemuan Pendampingan Iman Anak (PIA). "Kami baru saja rekoleksi dengan Rama Toto di ruang Paroki Pringwulung. Tetapi kami sudah sepakat mampir ke rama-rama Domus Pacis" salah satu menyampaikan kata-kata. Kedatangan rombongan ini hanya terjadi sekitar 20 menit. Ketiga kejadian ini membuat Rama Bambang menyadari bahwa Domus Pacis memang sudah menjadi salah satu daya tarik yang membuat warga dan komunitas Katolik ingin berkunjung, sekalipun hanya mampir.

0 comments:

Post a Comment