Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Saturday, March 7, 2015

"SU"-LIMA



Tulisan ini disajikan berdasarkan pembicaraan dari bagian seminar 2 jam dalam Novena Ekaristi Seminar tahun 2015 tahap pertama di kompleks Wisma Domus Pacis pada tanggal 1 Maret 2015. Mgr. Yohanes Pujasumarta, Uskup Agung Semarang, memulai pembicaraan yang bertemakan SAYA TUWA SAYA SUMELEH (makin tua makin berserah diri). Kata sumeleh, yang dimaknai sebagai keyakinan berserah diri pada penyertaan Tuhan, di dalam pembicaraan mendapatkan tambahan dari peserta dengan 4 kata lain: sumarah (berserah diri), sumrambah (meluas), aja nesu (jangan marah) dan sumringah (ceria). Dengan “su”-lima (5 macam “su”) ini orang mendapatkan pegangan beriman yang dapat menyingkirkannya dari tindakan amoral yang dalam khasanah orang Jawa disebut “ma”-lima (5 macam “ma”): maling (mencuri), main (berjudi), madat (menghisap candu), minum (minum minuman keras), madon (berzinah). Pembicaraan tentang tema ini muncul dengan kerangka refleksi iman yang mendasarkan diri pada keyakinan pada Allah Tritunggal.

Dalam Allah ada Kesetiaan

Tuhan itu begitu dekat menyertai kita dalam keadaan apapun baik yang menggembirakan maupun yang menyusahkan. Dari sini muncul sikap beriman atau terbuka pada penyertaan-Nya, yaitu dengan su-lima. Ini menjadi landasan orang mengalami damai-sejahtera dalam hidupnya. Beriman berarti menjadikan Allah sebagai dasar hidup. Kalau penyertaan ilahi ini di”amin”i, saya akan merasa “aman”. Dengan kata-kata Ki Hajar Dewantara penyertaan total Allah ini bagi kita adalah “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” (Di depan menjadi teladan, di tengah menjadi motor, di belakang memberdayakan). Kita mempercayakan diri kepada Allah yang setia dalam segala hal sebagaimana dikatakan oleh Santo Paulus: “Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia.” (1 Kor 1:9). Kesetiaan menjadi tanda utama dalam beriman sebagaimana terucap dalam janji perkawinan dan janji tahbisan imamat serta janji baptis yang setiap malam Paskah diperbarui. Mempercayakan diri pada Allah dan melaksanakan kehendak Bapa (bukan kemaunan atau keinginan diriku) menjamin orang mengalami damai-sejahtera sebagaimana kata-kata Yesus “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat 7:21) Inilah yang membuat orang dapat “su”-lima. Di dalam Syahadat Katolik yang panjang kita percaya akan Allah Pencipta “segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan.” Organ tubuh yang tak kelihatan pun ada banyak. Hawa yang kita hirup pun tidak tampak. Maka beriman berarti percaya kepada Allah yang terus bekerja. Kita banyak menghayati segalanya “tanpa pikir”. Kita berpikir karena ada masalah. Dalam hal ini kita dapat teladan dalam kisah Ayub yang sumeleh (mempercayakan diri pada Allah).

Dalam Kristus ada Kekokohan

Sikap su”-lima sungguh mendapatkan kekokohan dalam kesatuan orang dengan Kristus. Di dalam Perayaan Ekaristi kita mendapatkan Kristus yang menyerahkan diri sebagai santapan. Kita barangkali merasa tidak pantas menerimanya.Tetapi ketika akan menerima kita berkata “Ya, Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang padaku. Tetapi berkatalah saja, maka saya akan sembuh”. Tubuh menjadi cara Tuhan berkomunikasi dengan kita. Kesatuan dengan Tuhan juga menjadi penyembuh kekeringan kita entah karena derita raga entah karena derita jiwa. Dengan su”-lima kita dapat bersama Yesus baik dalam kemuliaan seperti di gunung Tabor maupun dalam derita di Golgota. Kita disertai oleh Tuhan baik ketika mengalami hati terhibur serasa bersama Tuhan ataupun mengalami hati kering derita serasa ditinggal Allah. Tuhan selalu menyertai kita sehingga dalam keadaan apapun kita selalu mampu bersyukur karena adanya sikap su”-lima.  

Dalam Roh Kudus ada Perubahan

Di dalam Perayaan Ekaristi peranan Roh Kudus mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Roh Kudus adalah daya ilahi yang membawa perubahan. Secara empiris (dalam pengalaman) bentuknya tetap. Tetapi dalam Roh Kudus yang empiris menjadi ilahi karena ada perubahan substansial. Dalam Roh Kudus kita menjadi anggota-anggota Tubuh Kristus dan menjadi serupa dengan Kristus sehingga dapat menyebut Allah sebagai Bapa. Karena karya Roh Kudus semua orang (lintas bangsa, lintas agama, dan lintas apapun) menjadi satu keluarga. Kalau ulat pun diperhatikan oleh Allah sehingga menjadi kepompong dan akhirnya menjadi kupu-kupu yang indah, apalagi kita anak-anak-Nya. Kita pun dengan daya Roh Kudus dapat su”-lima sehingga mengalami “metaporfosis” atau perubahan hebat. Oleh karena itu dengan olah batin untuk sumeleh (berserah diri), sumarah (berserah diri), sumrambah (meluas), aja nesu (jangan marah) dan sumringah (ceria), kita dapat makin beriman.

0 comments:

Post a Comment