Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Tuesday, October 23, 2018

Ada Jamuan Bubur


Ini terjadi pada Sabtu 6 Oktober 2018. Ketika menyiapkan Misa Sabtu Imam sekitar jam 05.00 pagi, Rm. Bambang melihat Pak Harjo masuk mengantar pesanan rutin, yaitu bubur beserta lauk pauknya untuk dinikmati oleh para peserta seusai misa. "Tulung, wadhahke bubur salawuhe nggo wong sepuluh. Engko nggo nyuguh tamu" (Tolong, sisihkan bubur dan lauk pauknya untuk 10 orang. Nanti untuk menjamu tamu) kata Rm. Bambang kepada karyawan Domus Pacis Puren. Ketika misa selesai dan umat sekitar 80 orang menuju meja tempat santapan pagi berupa bubur disajikan, Mas Handoko salah satu relawan Domus memberi informasi ke Rm. Bambang "Bubure pun dicawiske teng ruang pertemuan" (Bubur sudah disiapkan di ruang pertemuan).

Pada hari itu memang ada kelompok umat yang akan berkunjung di Domus Pacis Puren. Mereka berasal dari salah satu Lingkungan di Wilayah Ketandan, Paroki Klaten. Ketika datang dan mengadakan pembicaraan dengan Rm. Bambang beberapa hari sebelumnya, mereka bilang akan datang sebanyak 8 orang. Sebenarnya itu adalah keputusan pertemuan Lingkungan, tetapi yang akan datang hanya beberapa orang sebagai wakil umat. Kedatangan beberapa hari sebelum hari kunjungan adalah untuk bertanya tentang beberapa hal yang sebaiknya mereka bawa sesuai dengan kebutuhan Domus Pacis. Pada waktu itu Rm. Bambang bilang "Sing kerep dibutuhke niku pempers. Nek Rm. Harto pun enten sing maringi. Nanging Rm. Yadi, Rm. Tri Wahyono, lan Rm. Gito ugi mbetahaken" (Yang biasa dibutuhkan adalah pempers.  Untuk Rm. Harto memang sudah ada yang memberi. Tetapi Rm. Yadi, Rm. Tri Wahyono, dan Rm. Gito juga membutuhkan). "Sanese?" (Kebutuhan lain?) salah satu dari mereka bertanya yang disahut oleh Rm. Bambang "Krupuk" yang membuat mereka tertawa. Ternyata, ketika datang pada sekitar jam 10.00 Sabtu 6 Oktober 2018 itu, mereka membawa banyak bingkisan termasuk beras dan alat-alat bantu untuk difabel. Dan ketika datang mereka berjumlah 16 orang. Untunglah bubur yang disiapkan masih mencukupi.

0 comments:

Post a Comment