Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Wednesday, September 18, 2013

MENGATUR KOMPAS (Sajian 2)

Kolom "Pastoral Ketuaan" untuk beberapa hari ini akan menyajikan tulisan tentang bagaimana menata hidup batin. Tulisan ini ditulis oleh Henri J.M. Nouwen dalam buku Tarian Kehidupan yang diterjemahkan secara anonim dan tidak dinyatakan dari penerbit dan percetakan apa.


Berpindah ke dalam Ketidak-tahuan

.... Butuh keberanian untuk berpindah dari tempat yang aman ke dalam ketidak-tahuan, bahkan ketika kita tahu tempat yang aman itu menawarkan keamanan yang semu dan ketidak-tahuan menjanjikan keintiman yang menyelamatkan bersama Allah. Kita sangat menyadari bahwa melepaskan yang kita kenal dan menjangkau dengan tangan terbuka ke arah Dia, yang men-transenden ke dalam seluruh jangkauan dan pagutan mental kita, membuat kita sangat rapuh. Pada suatu saat kita merasakan bahwa bertahan dengan ilusi kita sendiri dapat membawa kita ke arah hidup yang bercabang, keberserahan dalam kasih membawa kita kepada salib ....

Jikalau kita dapat melepaskan keterikatan diri kita yang ilusioner dan merentangkan tangan kita kepada Allah maka itulah tanda dari kematangan spiritual. Namun itu akan hanya merupakan ilusi yang lain bila kita percaya bahwa menggapai Allah akan membebaskan kita dari rasa sakit dan penderitaan. Benarlah, seringkali hal itu malahan akan membawa kita ke tempat yang tidak kita inginkan. Tetapi kita tahu bahwa tanpa pergi ke sana maka kita tak akan menemukan hidup kita. "Barangsiapa kehilangan nyawanya ..... Ia akan memperolehnya." (Matius 16:25), kata Yesus yang mengingatkan kita bahwa kasih dimurnikan dalam kesakitan. Karena itu, doa itu jauh dari sesuatu yang manis dan mudah. Sebagai ekspresi dari kasih kita yang terbesar, doa tidak menyingkirkan kesakitan dari kita. Sebaliknya, doa akan membuat kita menderita lebih banyak karena kasih kita akan Allah adalah kasih akan Allah yang menderita, dan masuknya kita ke dalam keintiman Allah adalah masuknya kita ke dalam keintiman di mana seluruh penderitaan manusia dipeluk dalam belarasa ilahi. Sampai suatu tahap di mana doa kita telah menjadi doa hati kita, kita akan mencinta lebih banyak dan menderita lebih banyak, kita akan melihat terang yang lebih bersinar dan kegelapan yang makin pekat, lebih banyak rahmat dan lebih banyak dosa, Allah dan kemanusiaan yang lebih nyata. Sampai ke tahap di mana kita telah turun ke dalam hati kita dan menggapai Allah dari sana, keheningan dapat berbicara kepada keheningan, kedalaman kepada kedalaman dan hati kepada hati. Di sanalah tempat di mana kasih dan kesakitan ditemukan bersama-sama.

dari Reaching Out

2 comments:

Noni Setiawati said...

suka sekali romo... beli bukunya dimana mo.. apikk hehehe... aku suka ketika dikatakan : 'jikalau kita dapat melepaskan keterikatan diri kita yang ilusioner dan merentangkan tangan kita kepada Allah maka itulah tanda dari kematangan spiritual. Namun itu akan hanya merupakan ilusi yang lain bila kita percaya bahwa menggapai Allah akan membebaskan kita dari rasa sakit dan penderitaan. Ijin share ya romo

domus pacis said...

Katanya, di Lembaga Biblika ana. Kalau akan share, pliiiiiiiiis

Post a Comment