Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Wednesday, September 11, 2013

ORANG LAIN AKAN MENUNTUN KAMU



Tulisan ini adalah renungan Henri Nouwen dalam Jesus A Gospel yang diterjemahkan oleh Mgr. Ignatus Suharyo (Nouwen Henri. Jesus A Gospel. Yogyakarta, Kanisius, 2012:169-170.
Barangkali tulisan ini dapat menjadi referensi bagi kaum tua yangpernah atau kini masih menjadi menjadi tokoh atau pemimpin.

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki." (Yoh. 21:18)

Menerima Tingkatan-Tingkatan Baru Kerentanan dan Ketidakpastian

Ini adalah kata-kata yang membuat saya bisa berpindah dari Harvard ke L’Arche[1]. Kata-kata itu menyentuh langsung inti kepemimpinan Kristiani dan diucapkan untuk memberikan kepada kita lagi dan lagi, jalan-jalan baru untuk meninggalkan kekuasaan dan mengikuti jalan Yesus yang sederhana. Dunia berkata, “Ketika engkau masih muda, engkau tergantung dan tidak bisa pergi ke tempat yang kaukehendaki. Tetapi ketika engkau menjadi tua, engkau akan bisa mengambil keputusanmu sendiri, pergi ke mana kaukehendaki dan mengontrol tujuanmu sendiri.” Namun, Yesus mempunyai pandangan lain mengenai kematangan: kematangan adalah kemampuan dan kerelaan untuk dibawa ke tempat yang sebenarnya tidak Anda kehendaki.

Segera sesudah Petrus diberi tugas untuk menjadi gembala bagi domba-domba-Nya[2], Yesus menghadapkan dia pada kebenaran yang berat, yaitu bahwa pelayanan-pemimpin adalah pemimpin yang rela dibawa ke tempat-tempat yang tidak dikenal, tidak dikehendaki, dan yang menyakitkan. Jalan seorang pemimpin Kristiani bukanlah jalan bergerak naik sebagaimana yang ditempuh dan dibayar mahal oleh dunia, melainkan jalan bergerak turun yang akan berakhir di salib. Ini mungkin kedengarannya pahit atau terkesan menyiksa diri. Namun, bagi mereka yang sudah mendengar pesan kasih yang pertama dan mengatakan “ya” kepadanya, jalan bergerak turun yang telah ditempuh oleh Yesus adalah jalan kegembiraan dan damai dari Allah, kegembiraan dan damai yang bukan dari dunia ini.

Di sini kita menyentuh ciri yang paling penting dari kepemimpinan Kristiani masa depan. Bukan kepemimpinan kekuasaan dan kontrol, melainkan kepemimpinan yang rendah hati dan tanpa kekuasaan. Di dalam kepemimpinan itu, Yesus Kristus, Hamba Allah yang menderita, menjadi nyata. Jelas saya tidak berbicara mengenai kepemimpinan yang secara psikologis lemah, dalam arti pemimpin Kristiani sekadar menjadi korban pasif dari manipulasi lingkungannya. Bukan. Saya berbicara mengenai kepemimpinan di mana kekuasaan ditinggalkan dan kasih ditempatkan di depan. Itulah kepemimpinan rohani yang sejati. Sikap rendah hati dan sikap meninggalkan kekuasaan dalam hidup rohani tidak menunjuk pada orang-orang yang tidak mempunyai pendapat dan yang membiarkan semua orang mengambil keputusan bagi mereka. Sikap-sikap itu menunjuk pada orang-orang yang begitu mencintai Yesus sehingga mereka siap mengikuti Dia ke mana pun Dia menuntun mereka, sambil terus percaya bahwa bersama Dia, mereka akan menemukan hidup dan menemukannya secara berlimpah-limpah.


[1] (Catatan Blog Domus) Henri Nouwen pada mulanya adalah dosen di Harvard dan pada suatu saat pindah ke L’Arche di sebuah rumah hidup bersama para cacad ganda.
[2] (Catatan Blog Domus) Lihat  Yohanes 21:15-17. Yesus, yang menemui para murid sesudah kebangkitan-Nya, bertanya tiga kali kepada Simon Petrus apakah dia mencintaiNya. Setiap kali Simon Petrus menjawab “ya”, Yesus memberi tugas kepemimpinan dengan mengatakan “Gembalakanlah domba-domba-Ku”.

1 comments:

Noni Setiawati said...

Sugeng Enjang Romo.. berkah dalem.. semangattttttttt

Post a Comment