Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Tuesday, June 30, 2015

WONG TUWA MIGUNANI (Tua Bermakna)



Pembicaraan bagaimana orang tetap bermakna sekalipun sudah termasuk golongan lansia terjadi dalam tema WONG TUWA MIGUNANI (Tua Bermakna). Hal ini dilatarbelakangi oleh adanya salah satu masalah yang sering muncul di kalangan lansia yang kalau dirumuskan berkisar pada kata-kata “Karena sudah berhenti dari berbagai aktivitas masa lalu, seperti karena pensiun atau karena sakit, orang dapat merasa sudah tak terpakai.  Bahkan muncul perasaan ‘habis manis sepah dibuang’”.  Tema ini dibicarakan dalam Novena Seminar Ekaristi pada hari Minggu tanggal 7 Juni 2015 di Domus Pacis. Pada kesempatan ini Rama Rosarius Sato Nugroho hadir menyampaikan wawasannya.

Beberapa Pengalaman

Sebagai pembicara Rama Sapto menyampaikan pengalaman yang beliau ketemukan dalam diri bapak dan ibunya. Si bapak ketika masa persiapan pensiun sudah bebas tidak melakukan pekerjaan sebagai guru. Tetapi yang terjadi beliau pada sore hari selalu menghadirkan para murid untuk memberikan pelajaran tambahan. Rama Sapto menilai sang bapat tidak ingin kehilangan ritme hidup sebagai guru. Selain itu sebenarnya sang bapak ingin memelihara sapi. Namun anak-anaknya tidak menyetujui karena dipandang terlalu berat untuk kondisi fisiknya. Ketika menyatakan ganti keinginan yaitu memelihara kambing, inipun ditolak oleh para anak. Akhirnya anak-anak menyetujui ketika yang diminta adalah memelihara kelinci. Hal ini dilakukan hingga masuk dalam kondisi sakit. Rama Sapto juga menceriterakan pengalamannya dengan sang ibu. Ibu beliau adalah seorang ibu rumah tangga yang menderita stroke ketika sudah hidup menjanda. Sang ibu kerap rèwèl (berulah) minta apa-apa dilayani dan diutamakan. Tampaknya sang ibu mudah cemburu pada cucu-cucu dalam hal mendapatkan perhatian. Apabila ditemani, sang ibu berceritera macam-macam tak ada selesainya.
Sharing pengalaman pun juga datang dari peserta. Pak Jono menyampaikan pengalamannya dalam berprinsip ora arep njaluk utawa ngrepotké anak (tidak akan minta dari anak dan membuat repotnya). Pak Jono juga suka memperhatikan ibu-ibu yang suka masak dengan membantu memperbaiki alat-alat masak. Hal ini dilakukan secara gratis dan tak mau dibayar karena beliau sudah punya uang pensiun. Di sini muncul prinsip pengin tetulung, ora arep njaluk tulung (ingin menolong dan tak mau ditolong). Sementara itu Pak Andreas selalu berusaha untuk berguna bagi anak dan tetangga. Meskipun demikian ada yang membawa hasil dan ada yang tidak.

Kebutuhan Dihargai Keberadaannya

Apa yang dilakukan oleh kaum lansia, sebagaimana dicontohkan dalam pengalaman di atas, tak lain dan tak bukan adalah ungkapan kebutuhan diri untuk diakui eksistensi atau keberadaannya. Kaum lansia dapat merasa disisihkan atau tidak mendapatkan tempat bahkan merasa “habis manis sepah dibuang” karena kondisi fisik, intelektual, dan jiwaninya. Dengan demikian apapun yang dilakukan, baik yang membuat orang lain kagum ataupun membuat orang lain jengkel, kesemuanya adalah untuk menunjukkan dorongan hati menuntut dihargai keberadaannya.

Keberadaan Yang Bermakna

Terhadap apapun yang dilakukan oleh kaum lansia untuk menunjukkan keberadaannya, bagi orang lain hal itu akan diterima apabila ungkapan dan wujudnya migunani (berharga dan bermakna). Ungkapan dan wujud ini memiliki makna apabila menghadirkan wawasan inspiratif dalam kebersamaan.

a.      Belajar dari Kitab Suci

Bagi pengikut Kristus makna hidup harus mendapatkan landasan rohani dari Kitab Suci. Untuk menemukan makna hidup kaum lansia dapat belajar dari tokoh-tokoh iman yang dikisahkan dalam Kitab Suci. Di sini beberapa tokoh dapat jadi teladan pokok makna iman yang dihayati: 1) Abraham: sekalipun sudah usia 75 tahun taat mengikuti panggilan untuk menjalani hidup baru meninggalkan tanah kelahirannya, dan sekalipun sudah seperti mustahil tetap percaya bahwa akan terlaksana janji anak di masa tuanya; 2) Elisabet: juga mengandung di masa tuanya, tetapi bersedia menerima perbedaan dengan memberi nama anak Yohanes yang tidak masuk dalam khasanah nama keluarganya; 3) Simeon dan Hana: menjadi saksi kanak-kanak Yesus dengan menghormat dan siap mengundurkan diri demi kaum yang muda.

b.      Jadi Saksi Iman

Dengan belajar dari Kitab Suci kaum lansia juga terpanggil untuk menjadi saksi iman. Tugas mewartakan Injil sebagai kabar sukacita juga berlaku untuk kaum lansia. Dengan demikian migunani atau berguna harus diletakkan dalam kerangka kesaksian iman. Inilah yang menjamin keberadaan kaum lansia. Kehadiran lansia yang diwarnai relung hati ceria akan menjadi ceritera sukacita bagi banyak orang dan yang berceritera pun berkisah dengan sukacita.

c.       Caranya

Ketika berbicara tentang hal praktis Rama Sapto menyampaikan cara lansia untuk hadir sebagai saksi iman: 1) Dari dirinya dapat menghadirkan kata-kata bijak yang muncul dari kematangan hidup rohani; 2) Menghadirkan sikap iman yang tegas dan benar; 3) Bersikap ekaristis karena ketekunannya menghayati kehidupan batin yang diwarnai kebiasaan sambung hati dengan Tuhan.

0 comments:

Post a Comment