Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Wednesday, February 20, 2019

Lamunan Pekan Biasa VI

Kamis, 21 Februari 2019

Markus 8:27-33

8:27. Kemudian Yesus beserta murid-murid-Nya berangkat ke kampung-kampung di sekitar Kaisarea Filipi. Di tengah jalan Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Kata orang, siapakah Aku ini?"
8:28 Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan: seorang dari para nabi."
8:29 Ia bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Petrus: "Engkau adalah Mesias!"
8:30 Lalu Yesus melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapapun tentang Dia.
8:31 Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.
8:32 Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia.
8:33 Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: "Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, masih ada gambaran bahwa yang tidak beragama disebut kaum kafir. Bahkan ada yang fanatik dengan agamanya sendiri sehingga yang disebut kafir adalah juga yang tidak masuk golongan agamanya.
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa kaum kafir menolak atau tidak mengakui adanya Tuhan. Mereka adalah golongan ateis yang menentang Tuhan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun para agamawan kerap digambarkan sebagai pembela Tuhan, kalau dalam praktek terlalu terpancang pernik-pernik keagamaan dan tak peduli pada kemanusiaan, mereka justru jadi penentang Tuhan yang paling utama. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati agamawan sejati akan menghayati keagamaannya dalam realita kongkret perkembangan situasi hidup dan budaya setempat.
Ah, yang kokoh kuat membela Tuhan adalah agamawan.

0 comments:

Post a Comment