Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Thursday, May 30, 2013

PERHATIAN KHUSUS DAN ISTIMEWA?

Pagi ini, Jumat 31 Mei 2013, ada pertanyaan di meja makan "Piye ya follow up kunjungan Kuria?" (Bagaimana nanti follow up dari kunjungan Kuria). Tampaknya semua akan tergantung dari gerak para pengurus terutama kelanjutan inisiatif Rama Purwatma sebagai Rektor Domus Pacis. Pembicaraan tentang Kuria yang berkunjung di Domus menjadi pembicaraan hangat di meja makan kemarin pagi, Kamis 30 Mei. Kuria Keuskupan Agung Semarang (KAS) adalah Uskup dengan sayap utamanya: Vikaris Jendral (Vikjen), Ekonom, Sekretaris, Pastor Kepala Paroki Katedral dan kini, kata Rama Agoeng, ada juga Vikaris Yudisial. Tetapi tampaknya Vikaris Yudisial hanya datang untuk kepentingan tertentu. Yang biasa berjumpa dalam pertemuan adalah Mgr. Puja (Uskup), Rama Kendar (Vikjen), Rama Giarto (Ekonom), Rama Mulyono (Sekretaris), dan Rama Luhur (Pastor Kepala Katedral). Kelimanya bersama-sama telah mengunjungi Komunitas Rama Domus Pacis pada 29 Mei 2013 jam 17.00-makan malam. Kemarin pagi Rama Bambang bertanya di meja makan "Sakliyane Domus komunitas pundi nggih sing pun tau dirawuhi resmi lengkap sebagai Kuria?" (Selain Domus komunitas mana yang pernah dikunjungi Kuria selengkap itu?). "Ketoke dereng nate wonten, apese kula dereng nate mireng" (Tampaknya belum pernah ada, paling tidak saya belum pernah mendengar) kata Rama Agoeng.

Pada Kamis 29 Mei 2013 para fungsionaris Kuria KAS datang sendiri-sendiri ke Domus dengan kendaraan sendiri-sendiri. Rama Giarto datang dari Semarang dan Rama Mulyono dari Gua Maria Kerep Ambarawa. Yang lain datang dari Sangkal Putung sesudah ikut rekoleksi Rama-rama Praja KAS Selasa-Rabu. Rama Giarto dan Rama Mulyono sempat melihat-lihat lingkungan luar bangunan induk Domus Pacis yang menjadi tempat rama-rama berkamar. Di kamar makan para tamu dari Kuria dan para rama Domus termasuk Rama Harjaya menikmati minum dan snak. Rama Domus lengkap bersama Rama Purwatma (Rektor), Rama Toto (Minister), dan Rama Agoeng (Anggota Pengurus). Kemudian semua duduk berkeliling di kursi yang ada dalam ruang pertemuan. Rama Toto membuka dengan ucapan selamat datang dan doa. Rama Kendar menyampaikan maksud dan tujuan kunjungan Kuria ke Domus. Rama Kendar mengatakan bahwa Kuria sudah mengundang Paskahan di Wisma Uskup bagi para rama usia 65 tahun ke atas bersama Pastor Kepala atau pimpinan komunitasnya. Tetapi masih ada yang perlu dijumpai karena tidak dapat datang ke Wisma Uskup atau karena kondisi fisiknya dan tinggal jauh dari Semarang.

Sesudah kata-kata dari rama Kendar (Vikjen), para rama yang tinggal di Domus Pacis berceritera tentang kehidupannya di Domus. Rama Yadi mengkisahkan situasi Domus dulu sampai perkembangan sekarang. Rama Bambang menambahkan dengan kisah kekuatan atau daya iman hidup berkomunitas yang dapat menanggung berbagai kekurangan dan keterbatasan menjadi kesejahteraan. Daya komunitas mendorong para rama, yang terbatas karena kesempatan berkumpul dan karena kondisi difabel, mampu membuat Domus Pacis terpelihara dan berkembang baik dari segi bangunan, kebersamaan, dan partisipasi pastoralnya. Banyak pemeliharaan dan pengembangan bangunan terjadi justru dari daya terbatas jaringan pastoral yang ada pada beberapa rama. Tenaga karyawan Domus yang mendalam komitmen dan dedikasinya dimulai dengan perekrutan pramurukti yang pada bulan-bulan awal dibeayai oleh iuran uang para rama. Rama Jaka memberikan gambaran honorarium tenaga pramurukti yang ada di Domus. Rama Bambang mengatakan bahwa semua ini karena adanya komposisi ragam para penghuni (total dilayani, terbatas fisik tetapi masih dapat berperan pastoral walau terbatas, terbatas keberadaan bersama karena penugasan resmi dari Keuskupan). Selain aneka penghuni, yang mendukung berkembang dan bermaknanya Domus juga dikarenakan oleh kehadiran rama Agoeng yang punya tugas kelembagaan non paroki tetapi tinggal di Domus seperti Rama Agoeng sekarang. Rama Agoeng juga menambahkan bahwa para rama tua sebenarnya bukan orang sulit. Mereka masih punya "daya" untuk berperan. Ada yang mampu untuk menerima konsultasi dan permintaan doa khusus. Ada yang masih dapat membantu pelayanan ekaristi. Bahkan kini berkembang pendampingan iman kaum tua yang muncul dari kesadaran "sudah tua ya untuk kaum tua". Kesadaran ketuaan dulu diwujudkan dengan membuat newsleter elektrik Domus Voice yang bermetamorfose dalam Blog Domus www.domuspacispuren.blogspot.com. Di sini muncul semboyan "Tua tidak renta, sakit tidak sengsara, mati masuk surga". Yang dibutuhkan adalah mengungkit daya itu dan mengakomodasinya. Kesemuanya dikisahkan ke Kuria KAS dengan harapan agar penanganan Domus Pacis menjadikan tempat ini sebagai salah satu tempat pengembangan pastoral ketuaan. Rama Harta mengungkapkan kegembiraannya berada di Domus Pacis dengan keadaan sekarang, sehingga kekhawatiran Rama Yadi yang beberapa kali kali mengatakan "Iki kabeh ki nganti kapan?" (Semua kebaikan ini sampai kapan?) tidak akan terjadi. Rama Tri Wahyono ikut masuk menambah dengan perkataan-perkataan yang membuat tertawa gembira.

Mgr. Puja menanggapi kisah para rama Domus dengan memberikan beberapa butir catatan. Beberapa hal yang menjadi pembicaraan hangat di meja makan:
  • Adanya kegembiraan karena kekuatan komunitas yang terutama terealisasi di meja makan. Uskup mengatakan bahwa untuk hal seperti ini ada beberapa pastoran yang sungguh mengalami kesulitan karena rama-ramanya tidak mau makan bersama. Di sini rama Domus menambahkan bahwa di Domus kekuatan komunitas dapat hanya terdiri dari beberapa gelintir rama, tetapi dua atau tiga orang (band Mat 18:20) yang berjuang untuk kebaikan semua sudah dapat menjadi kekuatan iman dan membuat semua ikut menikmati. Yang kecil dapat membuat kekuatan bersama hidup bergembira dan dinamis walau mengalami hal-hal buruk.
  • Komposisi macam-macam penghuni dengan adanya fungsionaris non paroki yang tinggal di Domus akan menjadi pertimbangan kalau ada penugasan.
  • Hal-hal praktis seperti pemeliharaan gedung dan makan tidak boleh menjadi urusan dengan penanganan yang bertele-tele.

2 comments:

Riwidwi said...

Semoga semakin menambah semangat dalam pelayanan kepada umat yang membutuhkan

domus pacis said...

Matur nuwun donganipuuun

Post a Comment